Friday, October 18, 2019

Ku Ngai Ko Selayar Island, Pantai Tosca Memesona di Ujung Selatan Sulawesi

Friday, October 18, 2019 4 Comments



"Kak Sat, rencana ke Latimojong-nya ditunda aja, mending ke Selayar yuk!", ujar Rafdy via DM Instagram.

Hmmm. Selayar. Menarik!

"Mau sama siapa aja? Aku cuma punya 4 hari free nih sebelum terbang ke Jogja. Memangnya cukup waktunya?", jawab saya.

"Iya cukup kok, coba aku tanya teman-teman dulu siapa yang mau ikut ya!", jawab Rafdy lagi.

Begitulah percakapan awal kami tentang rencana eksplorasi Kepulauan Selayar, yang sudah lama ada di daftar bucket list saya. Mungkin beberapa dari kalian lebih familiar dengan nama Takabonerate ya? Atau bahkan belum pernah mendengar dua-duanya?

Oke, semoga artikel yang ini membuat kalian tergoda untuk berkunjung ke Kepulauan Selayar ya!

Akhirnya kami sepakat berangkat ke Selayar berempat saja; Rafdy, Alam, Erwin dan tentu saja saya. Dengan adanya 4 supir alias semuanya bisa menyetir, tidak perlu khawatir untuk road trip yang agak jauh karena bisa gantian kan.

Kami berangkat meninggalkan Makassar menuju Selayar tepat jam 12 malam. Alasannya? Supaya tidak terkena macet di jalan dan memang karena kami baru pulang dari acara Festival Pesona Lokal Makassar yang baru selesai pukul 11 malam.

Untuk menuju Selayar dari Makassar sebenarnya ada dua jalur, udara dan darat+laut.  Ya, ada bandara kok di Selayar dan ada dua maskapai yang melayani rute Makassar - Selayar (bisa dari Jakarta juga) yaitu Lion Air dan Transnusa. Namun kami memilih untuk menyetir dengan mobilnya Alam dilanjutkan menyeberang dengan kapal ferry. Selain bisa membawa barang lebih banyak, juga akan mempermudah kami untuk berkeliling pulau Selayar dan tidak mengeluarkan biaya ekstra untuk sewa mobil / motor lagi di sana.

Untuk menyeberang ke Selayar, kita harus menuju ke Pelabuhan Bira dulu. Dari Makassar, waktu tempuhnya sekitar 4-5 jam saat malam hari dan bisa lebih dari itu saat siang hari. Kami sempat mampir ke rumah teman baik kami, Dian, di Bulukumba, namun saya hampir tidak ingat apa-apa karena saya berjalan sambil tidur sepertinya. Hahaha.

Pelabuhan Pamatata, Selayar


Begitu tiba di Pelabuhan Bira, ternyata kami dapat antrian mobil nomor 24. Waaaaaa! Kapal masih berangkat 3 jam lagi (jam 9 pagi) tapi kok antriannya sudah panjang sekali. Ternyata memang ada banyak mobil, bus dan truk yang menyeberang dan bahkan mereka sudah menginap dari malam sebelumnya.

Jadwal kapal penyeberangan Bira - Selayar ada dua yaitu pukul 9 pagi dan 2 siang dan waktu penyeberangannya sekitar 2 jam. Kami berencana untuk naik kapal pagi agar bisa langsung eksplor Selayar di hari itu juga dan nggak kesorean.

Namun melihat nomor antrian kami dan banyaknya mobil yang sudah antri semalaman, kami tidak yakin bisa dapat giliran menyeberang pagi.

Harap harap cemas pun sirna ketika nomor antrian kami dipanggil lewat toa. 2 nomor di depan kami ternyata tidak muncul ketika dipanggil dan kami masuk ke kapal pagi sebagai mobil terakhir, penutup! Beruntung sekali ya! Hahahahaha.

Saking lelahnya karena kurang tidur dari Makassar, kami ketiduran dengan kepala tertelungkup di meja atas kapal dan terbangun saat klakson kapal berbunyi 3 kali, pertanda kapal akan segera sandar di Selayar. 

Walau masih setengah mengantuk, saya mencoba berdiri dan begitu melihat warna lautnya langsung segar dan menjerit dalam hati. 

"Waaaaaaaa bagus sekali warna biru lautnyaaaaaa!"




Cuaca di Selayar sedang cerah-cerahnya seolah-olah menyambut kedatangan kami dengan gembira. Pelabuhan Pamatata sudah penuh dengan mobil yang akan menjemput penumpang dan mengantar ke Benteng, Ibukota Kabupaten Selayar yang bisa dicapai dengan kendaraan bermotor selama 1 jam.

Sampai di Benteng, kami bertemu dengan teman-teman di Selayar; Bayu dan Amal yang juga menemani kami eksplor Selayar. 

Nah, eksplor apa saja yang enak di Selayar ya?


Ini dia...

Di hari pertama saat baru tiba, kami memang hanya bersantai di Benteng, makan, ngobrol dan santai-santai di tepi pantai sambil makan pisang goreng dan "Saraba" (bandrek telur). 



Di hari kedua kami island hopping ke beberapa pulau di sekitaran Selayar. Iya, Selayar ini memang terdiri dari gugusan pulau dan tidak bisa dikunjungi semuanya dalam satu hari. Jadilah Bayu menyusunkan itinerary dan merekomendasikan untuk pergi ke Pantai Balojaha, Goa Balojaha / Liang Bodong, Pantai Liang Kareta, Pantai Liang Tarusu saja di hari pertama dan butuh waktu seharian di sana. 

Begitu kami bertolak dengan kapal klotok / jukung dari Pelabuhan Padang, wuwuwuwu biru lautnya menggoda sekali. 





Sampai di Pantai Balojaha, kami harus berjalan sekitar 15 menit ke bagian dalam pulau untuk melihat Liang Bodong, goa dengan air jernih yang dingin. Kami pun berenang gembira di Liang Bodong, senang karena tidak ada orang lain selain kami waktu itu. Puas-puasin deh! 


Dari Liang Balojaha, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Liang Kareta dan Liang Tarusu. Sama-sama cantik pantainya, enak untuk berjemur dan berenang santai karena lautnya tenang sekali.



Sore harinya, sepulang dari island hopping, kami menanti senja di Sunari Resort yang bisa ditempuh 20 menit dari pusat Benteng. Ada ayunan  besar yang memang diinginkan Rafdy untuk menjadi spot foto dan kami memang tidak menyesal karena senja dan ayunan di pulau kelapa membuat hari itu ditutup sempurna.




Di hari ketiga kami island hopping ke sisi lain Pulau Selayar yaitu Pulau Bahuluang, Makam Karang, Liang Lipang. Jaraknya memang cukup jauh dari Benteng karena kita harus berkendara sekitar 1,5 jam dulu ke sisi pantai tempat kita akan dijemput kapal dan bertolak ke Bahuluang. Usahakan berangkat dari jam 7 pagi agar tidak terlalu kesiangan dan pulangnya tidak kesorean karena air pantai yang surut jauh akan menyulitkan kapal untuk sandar dan ingat perjalanan daratnya masih cukup jauh untuk pulang ke Benteng. 





Di hari keempat kami sudah harus menyeberang ke Bira dan melanjutkan perjalanan ke Makassar jadi saya cuma sempatin mampir ke Pasar lokal dan ke Kampung Tua Bitombang (nanti ada artikel sendiri ya untuk ini). Kami putuskan begitu agar tidak was-was tidak kebagian slot kapal ferry dan saya tidak ketinggalan pesawat ke Jogja. Hahahaha.

Inginnya sih berlama-lama di Selayar karena sebenarnya ada banyak sekali destinasi cantik luar biasa yang belum kami datangi. Apalagi kemarin cuaca sedang bagus-bagusnya, cerah biru dan visibility laut juga bagus betul!

Masih ada Pulau Palossi, Tinabo, Takabonerate dan banyak lagi! sebenarnya yang ingin kami kunjungi. Namun karena waktunya tidak cukup jadi ya harus legowo buat menjadwalkan ulang hahaha.

Oh iya, untuk penginapan, kami berempat menginap di "Rumah Teman", bukan rumah teman ya. Hahahaha.

Memang nama homestay-nya "Rumah Teman" dan kami suka sekali dengan penginapan ini karena kayak di rumah sendiri, kamarnya cukup besar, bersih dan wangi sekali, sudah termasuk makan pagi dan harganya hanya Rp 200.000 per malam atau jadinya Rp 100.000 per orang. Super good deal kan?



Untuk makanan, satu orang merogoh kocek kurang lebih Rp 35.000 per sekali makan dan itu enak binggow! Favorit kami sih Nasi Santan dan Ikan Kerapu Goreng di RM Nasi Santan Agus, yang lokasinya tepat di depan homestay kami. Cuma beberapa langkah saja sudah sampai.

Overall, perjalanan kami di di Selayar sangat-sangat menyenangkan. Bulan terbaik untuk berkunjung sebenarnya di bulan April - September. Jadi kami bisa bilang kami sedang beruntung sekali karena Oktober biasanya sudah mulai masuk musim hujan. Oh iya ada Festival Takabonerate di Kepulauan Selayar yang diadakannya tanggal 24-28 Oktober 2019 ini lho.

Mana tahu kalian mau datang ya boleh banget karena pasti bisa dapat seremonial tarian daerah dan bisa selebrasi meriah bersama masyarakat lokal. Tapi kalau mau menjadwalkan kunjungannya tahun depan juga monggo!

Saranku sih 5 hari ya minimal kalau mau eksplorasi banyak tempat di Selayar. Kalau mau lama ya boleh juga, sebulan gitu, hahahaha.

Untuk gambaran biaya kemarin pengeluaran kami :


Biaya menyeberang pakai ferry dengan mobil : Rp 475.000 per mobil, per sekali nyeberang (Sudah termasuk dengan penumpangnya). Jadi PP Rp 950.000.

Biaya bahan bakar Makassar - Selayar - Makassar : Rp 500.000 karena tiga kali isi.

Biaya akomodasi : Rp 200.000 per malam, dengan maksimal 2 orang per kamar.

Biaya Island Hopping : Untuk sewa kapal harganya berkisar Rp 350.000 sampai Rp 1.5 juta tergantung Jenis kapalnya dan destinasinya mau ke mana saja.

Biaya makan : Sekitar Rp 35.000 per orang per sekali makan. Ada banyak sekali tempat makan di Selayar yang bisa kamu pilih dengan menu utamanya tentu saja seafood! Wow segar sekali semua hidangan lautnyaaaaaa.

Kalau mau naik pesawat, Tiket PP Jakarta - Selayar itu sekitar 3,7 - 4.5 juta rupiah dan pastinya harganya berubah-ubah tergantung musimnya. Silakan dicari tiketnya di Traveloka ya!

Jadi, sudah lengkap ya info yang kalian butuhkan? Mau ke Selayar? Langsunggggggggg cus aja (nabung dulu tapi ya) dan silakan menikmati keindahan pulau paling paling selatannya Sulawesi Selatan ini.


Cheers,



Saturday, October 5, 2019

Bagaimana Cara Menjadi Traveler yang Nggak Gampang Sakit

Saturday, October 05, 2019 2 Comments




Selama hampir 11 tahun ngeblog dan wara-wiri traveling, salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapat adalah:

"Kok lo jarang sakit sih Sat padahal jalan mulu, bentar-bentar loncat sana loncat sini?"

Kalau dipikir-pikir iya juga ya. Sudah beberapa tahun ini saya jarang sekali sakit. Paling cuma kelelahan terus dibawa tidur. Saya tahu bahwa bekerja sebagai Travel Content Creator itu harus punya stamina yang baik karena pekerjaan ini sangat mengandalkan fisik. Harus tahan panas dan kuat dingin.

Tapi, terkena sakit yang agak parah juga pernah kok. 

Masih terekam jelas di ingatan saya, 5 tahun lalu terbaring di rumah sakit setelah demam beberapa hari. Tetap "keukeuh" bilang ke diri sendiri itu cuma demam biasa, satu teman menyeret saya ke Rumah Sakit untuk diperiksa dokter.

"Lo emang bebal ye kalau disuruh merhatiin kesehatan, disuruh ke dokter saja susah", omelnya sambil membonceng saya di belakang motor ke rumah sakit. Saya hanya diam saja tak membantah sambil menggigil meriang.

Setelah selesai cek darah, diketahui saya terkena demam tifoid (tipes) dan harus opname karena saya sudah membiarkannya berhari-hari dan menjadi agak parah.

Kondisinya waktu itu saya baru saja pulang roadtrip dari Flores, naik motor sendirian, makan sesuka hati, nggak peduli sama sekali soal bagaimana makanan itu dimasak. Toh, sudah biasa jajan kaki lima, ngapain peduli? Dari dulu sehat-sehat aja dan nggak pernah sakit.

Dan...

Dor! 

Kena juga akhirnya, hahahahaha...

Syukurlah setelah opname 4 hari, saya sudah diizinkan pulang, lengkap dengan resep obat yang harus dihabiskan dan wejangan dokter untuk tidak sering-sering makan di kaki lima.

"Hati-hati ya Satya, kalau sudah sekali kena tipes, dia bisa kambuh lagi kalau kepancing dengan makanan yang kurang bersih. Jadi jangan sepele", ujar dokter saya waktu itu.

Akhirnya dikurangilah makan gorengan dan mie ayam gerobakan di tepi jalan. Tapi kalau lagi kepengen ya dimakan juga hahahaha. 

Ya soalnya susah untuk saya mengontrol makanan yang dimakan harus bersih dan sehat karena seringnya bepergian. Kadang kalau sempat ya masak sendiri tapi tetap saja lebih sering beli makanan yang sudah jadi.

Masak sendiri paling sering ya kalau pas naik gunung.


Pun nggak lengkap kan rasanya kalau traveling ke suatu tempat tapi nggak nyobain kuliner lokalnya?

Masalahnya, kita juga harus waspada dengan penyakit-penyakit yang mengintai kita saat traveling, khususnya pas wisata kuliner. Kita biasanya pengen nyoba semuanya, apalagi yang street food karena Katanya yang punya rasa otentik itu ya yang di tepi-tepi jalan.

Mana bisa aku menahan godaan jajanan di Food Street Market!


Siapalah yang bisa menolak kelezatan sup ikan ini ya kan?

Makanya waktu traveling ke India kemarin saya sebenarnya ketar-ketir ketika mau mencoba makanan di pinggir jalan. 'Gol Gappa' adalah penganan favorit saya yang dijajakan di setiap sudut. Enak banget! Jadilah ketagihan makan makanan itu sambil berbisik ke diri sendiri, jangan sampai sakit ya, tipes kamu jangan kambuh ya.



Biasanya penyakit yang sering menghampiri kita saat traveling adalah Hepatitis A dan Demam Tifoid karena kedua penyakit ini ditularkan lewat makanan atau peralatan makanan yang kurang bersih. Kita yang sering traveling ini beresiko 19 kali lebih besar untuk tertular.

Eh, nggak cuma lewat makanan atau peralatan makan saja sebenarnya, Kita bisa tertular lewat makanan mentah / kurang matang, es batu, makanan matang yang sudah terkontaminasi, tidak cuci tangan sebelum makan, saat sikat gigi (kalau pakai sikat gigi orang lain) dan saat pakai toilet umum.

Jika kita terkena kedua penyakit tadi, Hepatitis A dan demam tifoid, dan tidak segera ditangani medis segera, bisa berakibat fatal untuk kita seperti infeksi hati atau usus bocor.

Bagaimana kita tahu kalau kita terkena Hepatitis A dan demam tifoid ini?

  • Gejala penyakit hepatitis A adalah demam, lesu, mual, hilang nafsu makan, kulit dan mata berwarna kuning, sakit perut, muntah, tinja dan urin berwarna gelap.
  • Faktor yang berpengaruh terhadap keparahan penyakit ini adalah usia. Dimana semakin tua umur seseorang, semakin berat gejalanya.
  • Hepatitis A biasanya berlangsung selama 3-6 minggu dan masa penyembuhan secara klinis dan biokimiawi memerlukan waktu selama 6 bulan.

Untuk demam tifoid, biasanya gejalanya adalah:

  • Suhu tubuh perlahan tinggi setiap harinya (step ladder) terutama menjelang sore dan sulit turun walau sudah diberikan penurun panas serta adanya bercak merah sehingga dibutuhkan pemeriksaan lab untuk memastikan (nah ini yang terjadi sama aku kemarin)
  • Gejala umumnya adalah demam tinggi, sakit kepala, mual, sakit perut, hilang nafsu makan, sembelit atau diare.
  • Gejala muntah dan tidak mau minum malah bisa menyebabkan dehidrasi yang berakibat pada penurunan kesadaran dan gejala yang lebih berat. 
  • Di akhir minggu kedua atau awal minggu ketiga sering kali muncul komplikasi seperti peritonitis dan perdarahan pada saluran cerna, bahkan bisa terjadi kebocoran usus.


Saya memang sudah terkena demam tifoid dan baru sekali saja. Semoga tidak kambuh lagi ya dan tidak sampai terjangkit Hepatitis A dari aktivitas saya yang selalu bepergian.

Nah, kalau di atas tadi sudah membahas gejalanya, mari kita obrolin cara pencegahannya. Ini dia beberapa yang bisa kita lakukan.


  • Mencuci tangan sebelum makan. Cuci tangan yang baik dan benar adalah yang durasinya 40 detik dan melakukan 7 gerakan.
  • Tidak mengonsumsi makanan sembarangan (nah ini dia yang agak susah ya).
  • Merebus air hingga mendidih dan makanan dimasak matang sempurna.




Selain cara-cara di atas, salah satu cara pencegahan yang ampuh adalah dengan vaksinasi. Kita bisa mendapatkan vaksin Hepatitis A dan demam tifoid di rumah sakit besar. Baiknya dilakukan 2 minggu sebelum traveling atau wisata kuliner agar vaksinnya bisa bekerja dengan sempurna.

Vaksin ini diberikan lewat suntikan dan menimbulkan kekebalan dalam darah untuk melindungi kita dari resiko penyakit Hepatitis A dan demam tifoid, mencegah penyebaran penyakit dan meningkatkan antibodi tubuh. Vaksin adalah langkah awal untuk pencegahan terhadap penyakit-penyakit tersebut dan melindungi kita hingga puluhan tahun. Vaksin Hepatitis A bisa bertahan hingga 30 tahun dan vaksin demam tifoid bertahan hingga 2 tahun.

Begitu dapat informasi itu, saya langsung mengontak rumah sakit di dekat tempat tinggal untuk membuat janji vaksinasi. Kabar terbarunya saat ini mereka sedang mengusahakan untuk mendatangkan stok vaksin. Semoga bulan ini sudah bisa vaksin yah dan nanti dikabarin. 

Biar jadi traveler yang nggak gampang sakit ya memang harus kembali lagi ke kebiasaan hidup sehat dan vaksin sebagai tindakan preventif. Amit-amitttt ya terkena demam tifoid lagi atau Hepatitis A. Ya nggak cuma dua penyakit itu saja karena masih banyak penyakit lainnya dan semoga kita terhindar dari semuanya ya.

Mungkin ada dari teman-teman yang belum mengerti betul manfaat dari vaksin ini, mungkin bisa baca-baca informasinya di akun IG @kenapaharusvaksin yaaaa...


Cheers,





Follow Us @satyawinnie