Thursday, January 10, 2019

# Abroad # India

Satu Hari di City Palace Jaipur, Albert Hall dan Nahargarh Fort



“Tuktuk saya parkir di depan City Palace ini ya. Sampai jumpa 1,5 jam lagi” ujar supir tuktuk yang kami sewa seharian untuk berkeliling Jaipur.  Untuk satu hari penuh, kami sepakat di harga Rs 700 atau sekitar Rp 140.000. Harganya okelah untuk dibagi berdua ya. Daripada capek-capek negosiasi lagi dengan supir tuktuk yang kurang fasih berbahasa Inggris, kami iyakan tawarannya (meski pada akhirnya menyesal. Kenapa? Karena di akhir dimintain extra jadi Rs 1300 dan mau nggak mau harus bayar).





Rencananya hari itu kami akan berkeliling ke beberapa tempat yang menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya di Jaipur, diantaranya City Palace, Albert Hall, Amer Fort & Nahargarh Fort. Ternyata setelah ditilik lagi, terlalu ambisius untuk mendatangi semua tempat itu dalam satu hari karena lokasinya agak jauh (Amer Fort & Nahargarh Fort lokasinya jauh dari pusat kota) dan nantinya malah tidak menikmati sama sekali. Akhirnya Amer Fort kami jadwalkan keesokan harinya saja dan memutuskan hari itu hanya berkunjung ke City Palace, Albert Hall & Nahargarh Fort.

Di setiap objek wisata tentunya kita harus beli tiket dulu sebelum masuk. Sebenarnya ada tiket terusan yang dijual online di website ini tetapi setiap masuk ke bagian payment dan saya masukkan nomor kartu kredit saya selalu gagal. Sampai minta tolong ke teman di Indonesia untuk booking-in dengan kartu kredit dia juga sama tetap tidak bisa. Ternyata memang ada aturan sendiri di India soal pembayaran via kartu kredit internasional ini. Katanya hanya kartu kredit yang dikeluarkan di India yang bisa dipakai di website itu. Ya… nasib, jadinya harus beli tiket on the spot.

Tiket objek wisata di India itu relatif mahal buat wisatawan asing apalagi kalau belinya satuan bukan tiket terusan. Di City Palace, wisatawan lokal hanya membayar Rs 100 dan wisatawan asing Rs 500. Lumayan juga ya kalau dirupiahkan, sekitar Rp 100.000 dan hanya untuk melihat eksterior City Palace. Kalau mau masuk ke bagian museumnya dan lihat interior istana harus bayar Rp 100.000 lagi. Hiks. Agak berat juga ya berdua harus bayar empat ratus ribu cuma buat satu tempat. Kami urungkanlah niat untuk masuk ke museumnya dan hanya melihat-lihat bagian luar saja.




Sebenarnya ingin sekali datang ke City Palace saat pagi dan masih sepi namun tentu itu mustahil malihhh… Istananya saja baru buka jam 9.30 dan itu sudah ramai sekali. Dari yang saya amati, orang India agaknya memang suka jalan-jalan baik itu di hari biasa maupun di akhir pekan. Wisatawan lokalnya banyak sekali dibanding wisatawan asing. Jadi sewaktu kami di sana, agak susah untuk mendapatkan spot yang kosong untuk ambil foto dan video. Saat ada area sepi langsung jeprat-jepret rekam secepat kilat. Dua jam ternyata tidak cukup di sana teman-teman. Hahahaha…

Lho memang tempatnya sebesar apa sih sampai dua jam tidak cukup berkeliling?

Sebenarnya bukan alasan luas atau besar bangunannya, melainkan detilnya. Duh Gusti, detil-detil bangunan di City Palace Jaipur itu benar-benar cantik sekali. Tak bosan-bosan saya melihatnya sambil berpikir betapa telatennya para seniman mengukir dan mewarnai pahatan di dinding-dinding istana itu di zaman dulu. 3 tahun waktu yang dibutuhkan untuk membangun istana ini (1729-1732) di bawah pemerintahan Maharaja Sawai Jai Singh II. 

Kompleks istana dibuat sedemikian rupa dan terdiri dari beberapa bangunan ; Diwan I Khas, Diwan I Aam, Chandra Mahal, Mubarak Mahal, Mukut Mahal, Maharani’s Palace, Bhaggi Khana & Shri Govind Dev Ji Temple. Desain dan arsitektur bangunan ini dikerjakan oleh Vidhyadhar Bhattacharya yang berasal dari Bengali.




Yang paling membuat saya menarik adalah pintu empat musim yang ada di City Palace yang juga dipersembahkan untuk empat dewa dewi. Leheriya Gate untuk Spring (musim semi) persembahan untuk Ganesha, Lotus Gate untuk Summer (musim panas) persembahan untuk Dewa Siwa, Peacock Gate untuk Autumn (musim gugur) persembahan untuk Dewa Wisnu, dan Rose Gate untuk Winter (musim dingin) persembahan untuk Dewi Devi. 












Nah karena saya berkunjung ke City Palace, tempat yang spesial di hati saya ini, tentu saja saya ingin memakai sari yang spesial juga. Sejujurnya itu sari sutra yang saya belikan untuk Mama, tetapi saya pakai duluan. Hahaha. Ada banyak sekali toko yang menjual sari di Jaipur. Kami diantarkan ke pabrik pembuatan sari oleh supir tuktuk dan ternyata itu tempat sari yang cukup mahal. Hiks. Harga termurahnya sekitar Rp 400.000 dan harga tertingginya bisa lebih dari belasan juta rupiah. Akhirnya saya pilih yang termurah saja. Belakangan saya baru tahu ada lagi yang lebih murah, harganya sekitar Rp 150.000-250.000. Tapi ya sudah terlanjur beli, pakai sajalah apa yang ada. 







Mungkin terlihatnya norak atau ikut-ikutan trend memakai sari di India dan berfoto ala-ala wanita lokal. But hey, saya menyukainya, jadi tak mau peduli dengan apa kata orang. Hehehehehehe. Dari pertama kali menonton Bollywood saat saya berumur 8 tahun, memakai sari saat berjalan-jalan India sudah menjadi impian saya. Ketika benar terwujud, rasanya sungguh menyenangkan sampai ingin menari-nari di jalan. 

Selain itu, karena mengenakan sari, semua orang lokal mengajak selfie. Semua umur, dari anak kecil sampai orang tua ngajakin foto bareng. Sampai bingung awalnya tapi sadar juga ujung-ujungnya di Negara kita semua orang lokal senang minta selfie bareng wisatawan asing kan? Atau sebenarnya mereka senang foto dengan perempuan aneh? Hahahaha… entahlah.

Saat berkeliling di City Palace, saking banyaknya orang, saya senang memperhatikan apa saja yang mereka lakukan, ada yang tiap sudut foto (tentu saja kami juga), ada kios-kios kecil yang menjual souvenir di bagian dalam City Palace dan beberapa orang berbelanja di sana. 

Ada juga Puppet Show yang sudah jarang sekali ditemui. Mereka menyajikan tontonan teater boneka dengan iringan musik accordion. Ada kotak diletakkan di depan mereka mana tahu penonton berbaik hati memasukkan beberapa rupee ke dalamnya kan. Yang bikin seru itu mereka juga bikin efek-efek suara ular dan anak-anak menjerit saat menontonnya. Kalau saya mealah tertawa terbahak-bahak. Goyangan pinggul bonekanya bisa pas begitu juga. Memanglah kalau urusan tarian dan pertunjukan seni, India adalah salah satu yang terbaik. Betul kan? 

Lucunya, ada beberapa petugas penjaga dengan sorban dan kumisnya yang otentik mungkin sedikit bosan dengan pekerjaannya dan menawarkan untuk mengambil foto kami. Awalnya kami tersenyum dan menolak halus namun bapaknya terus memaksa dan akhirnya saya menyerahkan kamera ke tangannya. Hasilnya? Ya jangan ditanya, blur semua. Hahahaha. 




Tidak terasa sudah 2 jam lebih saya dan Yusni menghabiskan waktu di City Palace ini. Kami harus bergegas ke tempat berikutnya, Albert Hall dan mengejar sunset di Nahargarh Fort. Sayangnya kami hanya lewat sebentar saja di Albert Hall, tidak sempat masuk ke dalamnya karena kami ingin tiba di Nahargarh Fort tepat waktu. Saya tahu kelakuan saya kalau sudah masuk museum, akan lama sekali selesai tur museumnya karena melihat, membaca, menikmati satu-satu, tiap sudut museum, dua jam pasti tidak cukup. Jadi meluncurlah kami ke Nahargarh dengan tuktuk yang masih setia menunggu di parkiran. 






Setelah selintas melihat Albert Hall dari halaman belakang, kami lanjutkan perjalanan menuju Nahargarh Fort yang bisa dicapai kurang lebih 30 - 45 menit berkendara. Memang lokasinya agak jauh di pinggiran kota dan terletak di perbukitan tinggi. Katanya bisa melihat view Jaipur dari atas sana dan paling bagus dikunjungi saat sunrise dan sunset. Tapi bentengnya juga baru buka jam 10 pagi, jadi kalau mau menikmati matahari pagi bisa tapi dari bagian luar bentengnya.

Juga kalau kalian mau ke Nahargarh untuk mengejar sunrise, supirnya minta extra charge karena mereka harus bangun dan bekerja dari subuh. Sedangkan orang India tidak terbiasa bekerja dari pagi-pagi sekali. Toko saja tidak ada yang buka pagi gengs...



Jalan menuju ke Nahargarh Fort ini menanjak dan berliku-liku melewati pegunungan dan kadang ada tuktuk yang mogok karena mesinnya tidak sanggup naik. Tuktuk yang kami tumpangi syukurnya baik-baik saja dan bang supirnya lihai.  Namun di tengah perjalanan kami menjumpai dua gadis asal Inggris yang tuktuknya rusak dan lalu kami tawarkan untuk naik ke Fort bersama-sama. Ya susah pasti mencari tuktuk pengganti di jalanan kosong sepi begitu. Akhirnya kami berempat duduk berpangku-pangkuan agar muat. Saya bongsor, mereka berdua lebih besar dan bongsor lagi. Kasihan juga Yusni kejepit hahahaha...

Kami tiba sudah hampir pukul setengah lima sore dan membayar tiket masuk Rs 200 (sekitar Rp 40.000). Menjelang matahari terbenam, akan lebih banyak wisatawan yang datang ke benteng yang arti namanya adalah "tiger". 

"Dulu di sekitar benteng ini ada banyak sekali harimau, karena itulah benteng ini dinamakan Nahargarh atau tiger. Sampai sekarang, saya mesih percaya meraka ada", ujar Bang Siraj, driver tuktuk kami. 








Saat kami tiba di sini, terlihat banyak sekali petugas yang sedang memarahi beberapa wisatawan asing yang memanjat dinding benteng Nahargarh. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Bapak petugas, beliau menjelaskan larangan untuk memanjat dinding. Memang cukup tinggi dindingnya dan tidak ada tangganya. Jadi yang memanjat biasanya memang sudah lihai seperti Spiderman memanjat dinding rata. Katanya kalau tidak ada petugas ya manjat aja silakan tapi saya dan Yusni tidak mau. Ya buat apa juga.

Kita duduk-duduk saja menikmati matahari tenggelam dan ketika matahari sudah balik ke peraduan, kami juga berjalan ke pintu gerbang karena sudah janji akan turun jam 18.30. Daaaan dua gadis asing tadı masih menumpang. Kami pergi ke tempat tuktuknya mogok dan ternyata tuktuknya sudah hilang, mereka ditinggal supirnya. Kasihan juga. Hal-hal ini lumrah terjadi kalau plesiran ke India, jadi ya slap-siap saja ya.

Setelah sehalian jalan, kami kembali ke hostel kami di Jaipur, Chillout Hostel dan memutuskan makan malam di sana saja. Sebenarnya bisa kok dalam satu hari lebih dari 4 tempat tapi pasti nggak menikmati, pulang ke penginapan keburu capek.


Okay, masih ada beberapa tempat yang mau saya ceritakan, setelah ini ya...


Cheers,




6 comments:

  1. Sebenarnya bapak-bapak petugas itu niatnya memotret tiga cewek di belakangmu.
    Hahahahhah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya Bapak nya pengen fotoin menara jam di belakangnya itu. Hahaha... Kocaknya Bapak itu tetap memaksa ngambil banyak foto dan kayak nggak mau ngebalikin kameraku gitu... Ya Pak okeelah asal bapak senang hahahaha xD

      Delete
  2. 🤩🤩🤩🤩🤩🤩 Waaaaaw, bagus bangeeeeeet!!!
    Ya ampun, bikin aku takjub luar biasaaaaaa!!!!
    haelah si bapak.... nawarin motoin tapi hasilnya blur..
    tapi hasilnya jadi kesannya kayak si bapak fokusnya
    ke bangunan di belakangnya... pikirnya si bapak...
    ini foto nanti akan diperlihatkan ke teman-teman
    di negaranya... yang penting jadi diliatin bangunannya...
    hahhahah
    *🙄apasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha panjang sekali komentarmu Ran. Terima kasih ya sudah mau mampir dan baca blogku. Iyaaaa tapi Bapaknya lucu sih jadi gimana gitu aku anggap cerita menarik pas ke City Palace, takkan terlupa hehehe...

      Delete
  3. Kak winnie... salam kenal. Duh jadi pengen banget ke India gara2 kak winnie. Tp sumpah sulit banget dapet temen traveling yg cocok dan mau ke India. Pasti jawabnya ngapain sih ke India. Kumuh bgt. Mau solo traveling tp takut kalo kena pelecehan juga. Jd galau akutuh... 😭

    ReplyDelete
  4. Wahhh makasih udah share pengalamannya, jadi penasaranpengen ngerasain itu tempat2 yang bagusnya. Secara orang2 Kita pasti bilangnya India kumuh bin jorok, lah ini bagus banget malah..

    ReplyDelete

Apa yang terpikir di benakmu setelah membaca tulisan ini? Share dong :)

Follow Us @satyawinnie