Friday, January 18, 2019

Menikmati Agra yang Tak Hanya Taj Mahal

Friday, January 18, 2019 5 Comments


Hampir semua orang di dunia pasti memasukkan Agra di dalam daftar tempat yang harus dikunjungi ketika plesiran ke India. Setiap hari ada ribuan orang yang datang untuk melihat salah satu World 7 Wonders ini. Ya termasuk saya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di India. 

Beberapa teman yang sudah pernah ke India sebenarnya menyarankan untuk tidak berlama lama di Agra karena katanya tidak banyak yang bisa dilihat. Saya akhirnya memutuskan hanya akan tinggal dan mengeksplorasi Agra selama 3 hari 2 malam. Sepertinya  cukup.



Untuk Taj Mahal sendiri nanti akan saya ceritakan khusus di satu artikel ya karena tak mungkin destinasi yang satu itu tidak ditulis. Di sini saya hanya menuliskan soal hal-hal yang saya lihat di Agra, sesuatu yang mungkin kamu juga belum pernah lihat. Ya sebenarnya hanya kehidupan sehari-hari mereka yang mungkin tidak terlalu menarik bagi sebagian orang tapi tetap menarik buat saya dan mau saya bagikan ke kalian.

First impression saya tentang Agra sebenarnya membuat saya cukup terkejut. Sebagai destinasi kelas dunia, kotanya kurang rapi dan agak kumuh (ini opini saya pribadi ya) padahal pendapatan daerahnya tinggi sekali. Kenapa tidak dipakai dananya sebagian untuk menata kotanya agar lebih cantik, secantik taman-taman di Taj Mahal? Taj Mahal bagaikan satu-satunya oase di tengah gurun kering. Iya oase untuk mata kita. Ya pantas katanya kalau ke Agra tidak usah berlama-lama. 

Bahkan di beberapa sudut-sudut kota Agra saya melihat banyak sekali tunawisma dan tidur hanya beralaskan kardus. Katanya banyak gelandangan dan pengemis yang datang dari seluruh penjuru Negeri hanya untuk mengemis di Agra karena mereka tahu banyak wisatawan asing yang datang ke sana. Ya kurang lebih seperti yang terjadi di Jakarta dan Pemerintah di sana memang tidak bisa berbuat banyak. Agak sia-sia usaha memulangkan mereka ke kampungnya karena nanti pasti akan kembali lagi.



Jika ke Agra (atau kemana pun) mampirlah ke pasar lokal setempat karena di sanalah kau bisa melihat jantung kota dan melihat kehidupan masyarakat di luar destinasi wisata. Pasar di sana kadang lebih sering disebut "Bazaar" dan dari beberapa bazaar kami  hanya sempat menyambangi satu namanya "Sadar Bazaar" yang tidak jauh lokasinya dari Taj Mahal. Meski pun tempat ini populer, sebenarnya pasar ini pasar biasa saja, bukan pasar yang dikhususkan untuk turis dan menjual banyak pernak-pernik untuk jadi oleh-oleh. Tapi justru di situ daya tariknya untuk saya pribadi. Saya memang senang memerhatikan orang lalu lalang di pasar dan menangkap ekspresi mereka. Di sisi lain kita bisa mencoba makanan khas lokal sana yang mungkin kamu belum pernah tahu.

Meski saya tidak bisa berbahasa Hindi, saya ingin sekali merasakan melebur di kehidupan mereka. Menatap raut wajah mereka ketika sedang berinteraksi satu sama lain.

Ada satu bapak yang terus mengucap syukur ketika menerima uang dari pembeli. Ada Ibu yang dengan wajah masam berjalan tergopoh-gopoh membawa barang belanjaanya. Ada pria-pria yang asyik duduk di tepi jalan sambil menatap handphone atau bercengkerama. Di Trip Advisor bilang tempat ini biasa saja tapi buat saya pribadi, tempat ini sangat-sangat menyenangkan.



Di pasar ini ada banyak macam barang yang diperdagangkan seperti "Kohlapuri Chappals" atau sepatu, chaats, puri-puri, food stall dan es krim seharga 20 rupee atau 4000 perak rupiah saja. Banyak yang jualan sari juga dan beberapa miniatur Taj Mahal. Hati-hati juga banyak yang menjebak ingin mengantarkan berkeliling tetapi ujung-ujungnya malah ke toko kain dan mereka dengan sedikit memaksa kita untuk membeli.

Sambil menikmati dua scoop es krim "madhu", saya berjalan menyusuri Sadar Baazar yang tak seberapa luas. Sore-sore enak juga berkeliling di pasar, tak terlalu ramai. Namun waktu terbaik ke sini sebenarnya malam hari kalau baca buku panduan wisata Agra. Kenapa? Karena di sini juga jadi pusat jajanan kaki lima yang bukanya sore ke malam hari saja.


Sepatu buatan lokal yang menarik sekali sebenarnya. Warna-warni dan murah pula. Sayang tidak ada ruang tersisa di tas saya.

Eks Krim-nya dua scoop harganya empat ribu perak saja. Itu terbuat dari apa ya kok bisa murah banget. Hahahahaha...

Saya ingat ada abang becak menawari kami naik becak dayungnya dan mengantarkan ke satu tempat menarik katanya. Biaya naik becaknya hanya 20 rupee (4000 perak) dan saya tentu kasihan dan memberikan lebih pada akhirnya. 

Tapi tempat yang dia bilang menarik itu adalah toko kain sari. Yaaa.... ya nggak apa-apalah. Kami hanya senyum dan mengucapkan terima kasih sambil berlalu. Untuk apa marah-marah sama tukang becaknya. Toh dia hanya berusaha untuk cari uang, untuk isi perut. 




Favorit saya ketika berkeliling Sadar Bazaar adalah "Gol Gappa" di Agra Chaat House (Pride of Agra). Makanan ini adalah snack favorit di sana yang terbuat dari kentang tumbuk yang dimasukkan ke dalam roti sus kering lalu disiram kuah hijau pedas. Rasanya agak asam namun lezat di lidah saya. Yusni mencoba satu Gol Gappa dan katanya cukup. Hahahaha. Sedangkan saya maunya makan lagi dan lagi. Habisnya harganya cuma 10 rupee atau 2000 perak saja untuk 3 potongnya. Mungkin saya makan sekitar 10 biji dan itu sudah kenyang banget.

Ini dia "Gol Gappa". Kalau mau jajan ini jangan lihat cara dia menuangkan kuahnya ya hahahaa....



Awalnya saya juga ingin mencoba es serut yang dijual di depan pedagang "Gol Gappa" itu. Tapi niat itu saya urungkan ketika saya melihat ada seorang laki-laki membawa es balok yang dibalut karung goni kotor dan lalu diputar-putar sebelum dipecah dan diserut. Meski saya suka makanan jalanan tapi kok melihat proses es serut ini saya jadi agak mual jijik sendiri. Itu es serutnya kotor sekali dan dijamin akan bikin sakit perut kalau dimakan. 



Kami pun berjalan-jalan lagi dan menjumpai toko buku tua yang sudah ada sejak 1946 dan berisikan banyak buku-buku tebal berbahasa Hindi yang tentu tidak saya mengerti. Tetapi saya tetap senang melihat-lihat toko buku itu, meski tak membeli satu. Tidak beli karena saya sudah beli di tempat lain. Hehehehe...

Ini dia toko buku tua yang saya maksud. Meski tidak berniat membeli, kalian bisa masuk ke dalam untuk melihat-lihat...


Oh iya kalian harus tahu satu fakta bahwa di India, harga buku itu murah murah banget kalau dibandingkan di negara kita, terutama buku terjemahan Inggris. Saya sempat membeli buku di bandara Delhi dan mendapati harga bukunya murah banget. Di India memang banyak buku bajakan terutama di stasiun atau toko buku di pasar. Tahu dari mana itu palsu? Ya yang sering baca buku pasti bisa membedakan mana buku asli mana buku palsu dari kertas dan baunya.

Tapi toko buku yang saya datangi di bandara itu WHSmith yang tentu saja tidak pernah menjual buku palsu. Saking tidak percaya dengan label harga yang tertera di buku, saya bertanya kepada kasir langsung dan mereka bilang memang harganya segitu, tidak sedang diskon.

Saya pun terperangah. Buku yang biasanya di Indonesia kisaran harganya Rp 300.000, di India cuma 400 rupee atau Rp 80.000. Ya kan murah banget ya. Rasa-rasanya ingin memborong semua buku yang ada di sana tapi sadar bawaan hanya ransel dan sudah penuh barang, diurungkanlah niat itu. Saya hanya beli 5 buku saja selama di India (ya itu juga sudah banyak kan ya). Tapi ya itu juga setelah proses pilah pilih yang lama sekali.


Eh si Abang lihat kamera langsung senyum sumringah Bang? Hehehehe...


Oh iya, di Sadar Bazaar juga pasti lumrah kamu melihat sapi berkeliaran bebas dan hampir seluruh negara bagian India seperti itu. Tapi kemarin itu aneh aja melihat sapi hampir masuk ke stall ice cream dan menunjukkan pantatnya yang besar ke arah kita, yang ingin membeli. Lucu saja menurut saya. Kalau kalian di situ, apakah akan tetap membeli es krimnya? Hahahaha...

Oke, itu cerita soal keliling kota Agra. Di post berikutnya aku akan bercerita soal Taj Mahal ya, lengkap dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Penasaran kan?


Cheers,





Saturday, January 12, 2019

Pelecehan Seksual yang Saya Alami di Agra, India

Saturday, January 12, 2019 32 Comments


Kalian tahu? Menulis artikel yang ini berat sekali rasanya.

Saya sebenarnya tidak suka mengingat-ngingat hari itu.

Saya masih ingat amarah dalam diri yang memuncak ketika dilecehkan di stasiun Agra.

Saya masih ingat betapa saya kesal kepada si pelaku.

Saya masih ingat betapa saya tidak nafsu untuk melakukan apa pun sehari setelah kejadian itu berlangsung. 

Saya berantakan. 

Kekecewaan itu sempat saya ungkapkan via Instagram Story dan banyak teman-teman menanyakan detil kronologi kejadian yang saya alami. Saya berjanji akan menuliskan lengkapnya di artikel blog saja. Ya blog ini.

Butuh waktu agak lama hingga saya memutuskan untuk menuliskan artikel ini. Sebenarnya pelecehan seksual kepada wanita bisa terjadi di negara mana pun, di mana pun. Di Indonesia, tanah air sendiri, saya juga pernah dilecehkan dan sebenarnya lebih parah dari yang saya alami di India. Jadi saya tidak mengatakan bahwa India berbahaya untuk pelancong wanita dan tidak usah pergi ke sana. Tidak seperti itu. Bepergian ke mana pun kita harus waspada karena "kucing garong" selalu ada. Saya pun sebenarnya tidak setuju ketika ada yang bilang bahwa pelecehan seksual  itu terjadi karena perempuan memakai pakaian terbuka dan mengundang fantasi lelaki.

Hey! Saya dilecehkan ketika saya memakai celana panjang gombrong, jaket lengan panjang tanpa memperlihatkan lekuk tubuh, apakah itu terbuka? Kurang tertutup apa lagi? Apakah saya mengundang?

Kalau lelaki itu pikirannya kotor dan niatnya jahat ya memang begitu saja adanya. Jangan disangkut pautkan dengan pakaian apa yang dikenakan korban. Bahkan yang berhijab pun, yang tertutup dari ujung kepala sampai ujung kaki tidak luput dari kasus pelecehan seksual. Lalu, apakah masih salah si perempuan?

Namun perlu juga saya jelaskan tidak semua lelaki di India seperti itu. Saya tidak membuat stereotype tentang lelaki India. Di perjalanan saya kemarin, saya juga berjumpa dengan banyak lelaki India yang baik, ramah, sopan dan menjadi teman baik saya hingga sekarang. Saya menuliskan ini agar hanya teman-teman perempuan yang berencana ke India, mempersiapkan diri dengan baik agar terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan. 

Baiklah, saya ingin bercerita tentang kronologi pelecehan seksual yang saya alami.

Kami tiba sekitar pukul 10 malam di stasiun Agra setelah menempuh perjalanan 5 jam dengan kereta api dari Jaipur. Kami turun dan sebelum keluar dari stasiun saya memutuskan duduk sebentar di kursi.

"Sebentar ya, tarik nafas dulu sebelum keluar, capek" kata saya pada Yusni, teman jalan saya.

"Oke" jawab Yusni singkat sambil mengecek ponselnya.

Selama di kereta, saya asyik baca buku dan tanpa sadar ketiduran. Jadi begitu saya tiba di Agra, saya mengecek ponsel saya dulu, membaca pesan masuk dan mengecek alamat hostel yang akan kami tumpangi malam itu di google maps.

Sekonyong-konyong seorang pria berusia sekitar 30an datang menghampiri kursi kami dan duduk di sebelah saya. Duduknya terlalu dekat dan menempel ke bahu saya. Saya heran karena di kursi panjang itu hanya kami bertiga dan masih ada banyak ruang yang tersisa, kenapa dia harus duduk bersentuhan dengan saya?

"Sorry Sir, I'm not comfortable that you sit too close with me. Can you move?" ujar saya kepada pria itu yang hanya direspon dengan raut muka bingung.

Ah, mungkin dia tidak mengerti bahasa Inggris pikir saya dan saya diamkan saja. Toh selama dia tidak berlaku aneh-aneh, biarkan sajalah ya. Anggap saja seperti sedang berdesak-desakan di Commuter Line Jakarta-Bogor. 

Lalu....

Dia berbisik di telinga saya "Hey, you are sooooo sexy. Sex is life you know" dengan nada mendesah.

IIIIIIIHHHH. SAYA JIJIIIIIKKKKKKKK!!!!!!

Saya memandangi dia dengan tatapan melotot tidak senang dan langsung mengajak Yusni berjalan cepat keluar stasiun.

"Ni, yuk keluar sekarang, bapak di sebelahku ini aneh dan menyeramkan sekali", kata saya sambil menggendong carrier.

Saya menghidupkan GoPro dan bercerita tentang kejadian yang baru saya alami di depan kamera. Lalu entah mengapa saya merasa ada yang mengikuti kami dan bilang ke Yusni untuk menengok ke belakang, jangan-jangan pria itu memang ikut.


Yusni menengok ke belakang. Gambar ini di-screenshot dari video GoPro...


Benar saja, terekam di kamera dia mengejar kami dari belakang dengan setengah berlari.

Reflek saya mematikan kamera dan bersiap memasang kuda-kuda pertahanan jika pria ini kurang ajar melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. 

Salah Satya! Seharusnya kau nyalakan saja tetap GoPro nya agar muka si pelaku terlihat terekam jelas. Huh! (ujar saya pada diri sendiri setelah kejadian itu)

Ya, seharusnya dinyalakan saja ya. Namun waktu itu saya berpikir saya akan lebih awas dan bisa lebih siap untuk melawan / membela diri jika kamera dimatikan karena tangan saya lebih bebas karena tidak memegang apa pun. 


Apakah kalian melihat lelaki di tengah-tengah kami yang pakai baju merah garis-garis itu? Ya, dia pelakunya.


Tadinya dia berlari dari arah kanan saya sehingga saya bersiap untuk membela diri jika dia datang dari arah itu. Tahu-tahunya dia datang dari kiri dan langsung meremas kedua pantat saya bulat-bulat.

Saya kaget.

Saya berbalik badan ke arahnya dan mendapati dia menyentuh buah dada saya dengan cepat. 

Saya marah sekali dan ingin menonjok langsung di mukanya. Namun posisinya saya sedang membawa carrier yang beratnya hampir 20 kilogram dan posisi jalanannya menanjak. Saya kesusahan untuk bergerak mengejar dia dan hanya bisa berteriak "F*** YOUUUU!" sekencang-kencangnya. Laki-laki itu berlari keluar stasiun dan menghilang.


"Sekali lagi kau berani memunculkan wajahmu di depanku, kuhajar kau" teriak saya lagi. 

Saya marah, malu, kesal! Campur aduk. Kenapa saya yang kena? Kenapa dengan beraninya dia menyentuh saya?

Beberapa orang di stasiun mendekati saya dan bertanya apa yang terjadi. Saya jelaskan kronologinya dan mereka meminta maaf karena hal itu kerap terjadi kepada wisatawan wanita di India, khususnya yang berjalan tidak bersama laki-laki. 

Air mata saya menetes sedikit saking kesalnya. 

Lelaki bajingan, umpat saya dalam hati.

Kami berdua lanjut berjalan keluar dari stasiun dalam diam. Yusni memandang saya prihatin dan pasti tidak tahu harus berujar apa. Saya juga tidak ingin berbicara apa-apa dan hanya ingin tiba di hostel secepatnya lalu tidur. 

Di Prepaid Taxi Booth saya menunjukkan alamat tujuan kami dan tanpa banyak bicara supir membawa kami ke sana. Kami menginap di Zostel Agra yang direkomendasikan teman. Chain-Hostel Zostel ini ada di hampir seluruh kota-kota besar di India. Saya pun merekomendasikannya kepada kalian jika kalian mencari penginapan murah, aman dan nyaman di India.

Begitu tiba di hostel, saya disambut ramah oleh pegawai Zostel dan langsung  saya menceritakan kejadian yang baru saya alami karena mereka pasti mengerti bahasa Inggris. Dengan wajah prihatin mereka mengatakan turut sedih atas kejadian yang menimpa dan mengucap syukur juga bahwa saya masih sehat, selamat dan tidak mengalami hal yang lebih dari itu. Ya, bisa saja saya dibekap, diperkosa, yang lebih buruk dari sekedar diremas pantat dan buah dadanya. 

Saya bisa merasakan ketulusan mereka saat mengungkapkan rasa prihatin dan mereka laki-laki juga. Jadi, tidak semua lelaki India bajingan kok. 

"Di negara kami, pelaku pemerkosaan bisa dihukum mati namun kasus pelecehan dan pemerkosaan tetap tinggi setiap tahunnya. Tidak hanya gadis, anak balita dan wanita lansia pun sering jadi korbannya" celoteh pegawai Zostel lagi sambil meng-copy passport saya. 

"Namun sungguh tak semua lelaki di India seperti itu. Mari, saya antar ke kamar kalian. Kalian dapat kamar paling besar malam ini. Semoga kalian bisa beristhirahat dengan nyenyak setelah kejadian yang tidak mengenakkan tadi" lanjutnya. 

Ya, memang setiap tahunnya ada ratusan ribu kasus pelecehan dan pemerkosaan di India.  Pemerintah sudah berusaha semampunya untuk membuat undang-undang terkait perlindungan wanita dan anak (hukuman terberatnya hukuman mati) tetapi tetap saja kasus itu masih sulit dikurangi. India benar-benar darurat kejahatan seksual. Coba kalian cari kasus pelecehan di India, pasti akan menemukan banyak sekali kasus yang bahkan membuat kita menangis saat membacanya. Biadab. 


Sapi dianggap suci dan tidak tersentuh, sedangkan perempuan hanya dianggap seonggok tubuh.


Namun dengan menuliskan ini bukan berarti saya tidak menyarankan teman-teman perempuan untuk tidak menjadikan India sebagai destinasi untuk plesiran. India itu indah, menawan sekali dan sempatkanlah minimal satu kali untuk mengunjunginya. 

Saya menyarankan teman-teman perempuan yang ingin ke India agar tidak mengenakan pakaian yang terlalu terbuka, pakailah outfit yang panjang dan agak longgar. Bawa syal untuk menutup dada dan bahu. Tidak usah yang tebal-tebal agar tidak berat dipakai dan dibawa.  

Juga jangan keluyuran malam-malam sendirian atau hanya dengan teman perempuan ya. Di atas jam 10 sebaiknya sudah di penginapan ya. 


Mungkin butuh ya bawa Pepper Spray atau alat-alat untuk melindungi diri di India? Selama ini saya tidak bawa karena barang-barang itu hanya akan membuat saya parno kalau dibawa. Bagaimana pendapat kalian? Apakah butuh sebenarnya? Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual? Saya mau tahu pendapat kalian dong...



Cheers (tanpa senyum),




Thursday, January 10, 2019

Satu Hari di City Palace Jaipur, Albert Hall dan Nahargarh Fort

Thursday, January 10, 2019 6 Comments


“Tuktuk saya parkir di depan City Palace ini ya. Sampai jumpa 1,5 jam lagi” ujar supir tuktuk yang kami sewa seharian untuk berkeliling Jaipur.  Untuk satu hari penuh, kami sepakat di harga Rs 700 atau sekitar Rp 140.000. Harganya okelah untuk dibagi berdua ya. Daripada capek-capek negosiasi lagi dengan supir tuktuk yang kurang fasih berbahasa Inggris, kami iyakan tawarannya (meski pada akhirnya menyesal. Kenapa? Karena di akhir dimintain extra jadi Rs 1300 dan mau nggak mau harus bayar).





Rencananya hari itu kami akan berkeliling ke beberapa tempat yang menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya di Jaipur, diantaranya City Palace, Albert Hall, Amer Fort & Nahargarh Fort. Ternyata setelah ditilik lagi, terlalu ambisius untuk mendatangi semua tempat itu dalam satu hari karena lokasinya agak jauh (Amer Fort & Nahargarh Fort lokasinya jauh dari pusat kota) dan nantinya malah tidak menikmati sama sekali. Akhirnya Amer Fort kami jadwalkan keesokan harinya saja dan memutuskan hari itu hanya berkunjung ke City Palace, Albert Hall & Nahargarh Fort.

Di setiap objek wisata tentunya kita harus beli tiket dulu sebelum masuk. Sebenarnya ada tiket terusan yang dijual online di website ini tetapi setiap masuk ke bagian payment dan saya masukkan nomor kartu kredit saya selalu gagal. Sampai minta tolong ke teman di Indonesia untuk booking-in dengan kartu kredit dia juga sama tetap tidak bisa. Ternyata memang ada aturan sendiri di India soal pembayaran via kartu kredit internasional ini. Katanya hanya kartu kredit yang dikeluarkan di India yang bisa dipakai di website itu. Ya… nasib, jadinya harus beli tiket on the spot.

Tiket objek wisata di India itu relatif mahal buat wisatawan asing apalagi kalau belinya satuan bukan tiket terusan. Di City Palace, wisatawan lokal hanya membayar Rs 100 dan wisatawan asing Rs 500. Lumayan juga ya kalau dirupiahkan, sekitar Rp 100.000 dan hanya untuk melihat eksterior City Palace. Kalau mau masuk ke bagian museumnya dan lihat interior istana harus bayar Rp 100.000 lagi. Hiks. Agak berat juga ya berdua harus bayar empat ratus ribu cuma buat satu tempat. Kami urungkanlah niat untuk masuk ke museumnya dan hanya melihat-lihat bagian luar saja.




Sebenarnya ingin sekali datang ke City Palace saat pagi dan masih sepi namun tentu itu mustahil malihhh… Istananya saja baru buka jam 9.30 dan itu sudah ramai sekali. Dari yang saya amati, orang India agaknya memang suka jalan-jalan baik itu di hari biasa maupun di akhir pekan. Wisatawan lokalnya banyak sekali dibanding wisatawan asing. Jadi sewaktu kami di sana, agak susah untuk mendapatkan spot yang kosong untuk ambil foto dan video. Saat ada area sepi langsung jeprat-jepret rekam secepat kilat. Dua jam ternyata tidak cukup di sana teman-teman. Hahahaha…

Lho memang tempatnya sebesar apa sih sampai dua jam tidak cukup berkeliling?

Sebenarnya bukan alasan luas atau besar bangunannya, melainkan detilnya. Duh Gusti, detil-detil bangunan di City Palace Jaipur itu benar-benar cantik sekali. Tak bosan-bosan saya melihatnya sambil berpikir betapa telatennya para seniman mengukir dan mewarnai pahatan di dinding-dinding istana itu di zaman dulu. 3 tahun waktu yang dibutuhkan untuk membangun istana ini (1729-1732) di bawah pemerintahan Maharaja Sawai Jai Singh II. 

Kompleks istana dibuat sedemikian rupa dan terdiri dari beberapa bangunan ; Diwan I Khas, Diwan I Aam, Chandra Mahal, Mubarak Mahal, Mukut Mahal, Maharani’s Palace, Bhaggi Khana & Shri Govind Dev Ji Temple. Desain dan arsitektur bangunan ini dikerjakan oleh Vidhyadhar Bhattacharya yang berasal dari Bengali.




Yang paling membuat saya menarik adalah pintu empat musim yang ada di City Palace yang juga dipersembahkan untuk empat dewa dewi. Leheriya Gate untuk Spring (musim semi) persembahan untuk Ganesha, Lotus Gate untuk Summer (musim panas) persembahan untuk Dewa Siwa, Peacock Gate untuk Autumn (musim gugur) persembahan untuk Dewa Wisnu, dan Rose Gate untuk Winter (musim dingin) persembahan untuk Dewi Devi. 












Nah karena saya berkunjung ke City Palace, tempat yang spesial di hati saya ini, tentu saja saya ingin memakai sari yang spesial juga. Sejujurnya itu sari sutra yang saya belikan untuk Mama, tetapi saya pakai duluan. Hahaha. Ada banyak sekali toko yang menjual sari di Jaipur. Kami diantarkan ke pabrik pembuatan sari oleh supir tuktuk dan ternyata itu tempat sari yang cukup mahal. Hiks. Harga termurahnya sekitar Rp 400.000 dan harga tertingginya bisa lebih dari belasan juta rupiah. Akhirnya saya pilih yang termurah saja. Belakangan saya baru tahu ada lagi yang lebih murah, harganya sekitar Rp 150.000-250.000. Tapi ya sudah terlanjur beli, pakai sajalah apa yang ada. 







Mungkin terlihatnya norak atau ikut-ikutan trend memakai sari di India dan berfoto ala-ala wanita lokal. But hey, saya menyukainya, jadi tak mau peduli dengan apa kata orang. Hehehehehehe. Dari pertama kali menonton Bollywood saat saya berumur 8 tahun, memakai sari saat berjalan-jalan India sudah menjadi impian saya. Ketika benar terwujud, rasanya sungguh menyenangkan sampai ingin menari-nari di jalan. 

Selain itu, karena mengenakan sari, semua orang lokal mengajak selfie. Semua umur, dari anak kecil sampai orang tua ngajakin foto bareng. Sampai bingung awalnya tapi sadar juga ujung-ujungnya di Negara kita semua orang lokal senang minta selfie bareng wisatawan asing kan? Atau sebenarnya mereka senang foto dengan perempuan aneh? Hahahaha… entahlah.

Saat berkeliling di City Palace, saking banyaknya orang, saya senang memperhatikan apa saja yang mereka lakukan, ada yang tiap sudut foto (tentu saja kami juga), ada kios-kios kecil yang menjual souvenir di bagian dalam City Palace dan beberapa orang berbelanja di sana. 

Ada juga Puppet Show yang sudah jarang sekali ditemui. Mereka menyajikan tontonan teater boneka dengan iringan musik accordion. Ada kotak diletakkan di depan mereka mana tahu penonton berbaik hati memasukkan beberapa rupee ke dalamnya kan. Yang bikin seru itu mereka juga bikin efek-efek suara ular dan anak-anak menjerit saat menontonnya. Kalau saya mealah tertawa terbahak-bahak. Goyangan pinggul bonekanya bisa pas begitu juga. Memanglah kalau urusan tarian dan pertunjukan seni, India adalah salah satu yang terbaik. Betul kan? 

Lucunya, ada beberapa petugas penjaga dengan sorban dan kumisnya yang otentik mungkin sedikit bosan dengan pekerjaannya dan menawarkan untuk mengambil foto kami. Awalnya kami tersenyum dan menolak halus namun bapaknya terus memaksa dan akhirnya saya menyerahkan kamera ke tangannya. Hasilnya? Ya jangan ditanya, blur semua. Hahahaha. 




Tidak terasa sudah 2 jam lebih saya dan Yusni menghabiskan waktu di City Palace ini. Kami harus bergegas ke tempat berikutnya, Albert Hall dan mengejar sunset di Nahargarh Fort. Sayangnya kami hanya lewat sebentar saja di Albert Hall, tidak sempat masuk ke dalamnya karena kami ingin tiba di Nahargarh Fort tepat waktu. Saya tahu kelakuan saya kalau sudah masuk museum, akan lama sekali selesai tur museumnya karena melihat, membaca, menikmati satu-satu, tiap sudut museum, dua jam pasti tidak cukup. Jadi meluncurlah kami ke Nahargarh dengan tuktuk yang masih setia menunggu di parkiran. 






Setelah selintas melihat Albert Hall dari halaman belakang, kami lanjutkan perjalanan menuju Nahargarh Fort yang bisa dicapai kurang lebih 30 - 45 menit berkendara. Memang lokasinya agak jauh di pinggiran kota dan terletak di perbukitan tinggi. Katanya bisa melihat view Jaipur dari atas sana dan paling bagus dikunjungi saat sunrise dan sunset. Tapi bentengnya juga baru buka jam 10 pagi, jadi kalau mau menikmati matahari pagi bisa tapi dari bagian luar bentengnya.

Juga kalau kalian mau ke Nahargarh untuk mengejar sunrise, supirnya minta extra charge karena mereka harus bangun dan bekerja dari subuh. Sedangkan orang India tidak terbiasa bekerja dari pagi-pagi sekali. Toko saja tidak ada yang buka pagi gengs...



Jalan menuju ke Nahargarh Fort ini menanjak dan berliku-liku melewati pegunungan dan kadang ada tuktuk yang mogok karena mesinnya tidak sanggup naik. Tuktuk yang kami tumpangi syukurnya baik-baik saja dan bang supirnya lihai.  Namun di tengah perjalanan kami menjumpai dua gadis asal Inggris yang tuktuknya rusak dan lalu kami tawarkan untuk naik ke Fort bersama-sama. Ya susah pasti mencari tuktuk pengganti di jalanan kosong sepi begitu. Akhirnya kami berempat duduk berpangku-pangkuan agar muat. Saya bongsor, mereka berdua lebih besar dan bongsor lagi. Kasihan juga Yusni kejepit hahahaha...

Kami tiba sudah hampir pukul setengah lima sore dan membayar tiket masuk Rs 200 (sekitar Rp 40.000). Menjelang matahari terbenam, akan lebih banyak wisatawan yang datang ke benteng yang arti namanya adalah "tiger". 

"Dulu di sekitar benteng ini ada banyak sekali harimau, karena itulah benteng ini dinamakan Nahargarh atau tiger. Sampai sekarang, saya mesih percaya meraka ada", ujar Bang Siraj, driver tuktuk kami. 








Saat kami tiba di sini, terlihat banyak sekali petugas yang sedang memarahi beberapa wisatawan asing yang memanjat dinding benteng Nahargarh. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Bapak petugas, beliau menjelaskan larangan untuk memanjat dinding. Memang cukup tinggi dindingnya dan tidak ada tangganya. Jadi yang memanjat biasanya memang sudah lihai seperti Spiderman memanjat dinding rata. Katanya kalau tidak ada petugas ya manjat aja silakan tapi saya dan Yusni tidak mau. Ya buat apa juga.

Kita duduk-duduk saja menikmati matahari tenggelam dan ketika matahari sudah balik ke peraduan, kami juga berjalan ke pintu gerbang karena sudah janji akan turun jam 18.30. Daaaan dua gadis asing tadı masih menumpang. Kami pergi ke tempat tuktuknya mogok dan ternyata tuktuknya sudah hilang, mereka ditinggal supirnya. Kasihan juga. Hal-hal ini lumrah terjadi kalau plesiran ke India, jadi ya slap-siap saja ya.

Setelah sehalian jalan, kami kembali ke hostel kami di Jaipur, Chillout Hostel dan memutuskan makan malam di sana saja. Sebenarnya bisa kok dalam satu hari lebih dari 4 tempat tapi pasti nggak menikmati, pulang ke penginapan keburu capek.


Okay, masih ada beberapa tempat yang mau saya ceritakan, setelah ini ya...


Cheers,




Follow Us @satyawinnie