Monday, May 27, 2019

Hari Pertama Keliling Eropa, 1 Hari Penuh Kejutan di Berlin

Monday, May 27, 2019 0 Comments



"Summer, summer apa ini?" ucap saya dalam hati begitu kaki melangkah keluar pesawat yang saya tumpangi dari Jakarta ke Berlin (transit Singapore).

Ya habisnya dinginnya menusuk kulit sekali. Syukurnya saya memakai jaket dan syal namun tetep tidak bisa menghalau dingin pagi itu. Saya rapatkan kancing jaket dan sabar menunggu giliran untuk naik shuttle yang mengantarkan kami ke terminal kedatangan.

"Kamu beneran sendiri aja Sat? Buset nggak takut apa?" tanya teman saya via DM Instagram.

Hahahaha ya beneran ini berangkat dan pulang sendirian tapi sepanjang perjalanan kan akan bertemu dengan banyak orang, teman-teman baru di perjalanan. Jadi, kenapa harus takut?

Saya mendarat di Berlin Tegel Airport yang benar-benar biasa saja dan kecil. Loket pengecekan imigrasi-nya juga kecil sekali. Setelah menjawab pertanyaan sekenanya seperti akan tinggal berapa lama dan apa tujuan ke Berlin, saya lolos dan bergegas mengambil carrier saya di conveyor belt.

Di Eropa, trolley berbayar ya jadi gotong sendiri barang-barangmu kalau mau hemat. Lumayan juga harus bayar 1 EUR, bisa beli roti. Jangan berpikir akan ada porter seperti di Indonesia juga ya.

Saya keluar terminal kedatangan dan langsung menyalakan JavaMifi, portable wi-fi yang akan jadi teman saya di perjalanan panjang keliling Eropa 1,5 bulan ini. Karena tahu akan selalu ada sinyal internet makanya saya nggak khawatir sama sekali soal berjalan sendiri. Selama internet ON ya pasti aman. Meski juga kemampuan kita berkomunikasi berbahasa asing, minimal bahasa Inggris, juga penting agar bisa bertanya jika tersesat di jalan.

Langsung saya mengabari keluarga dan orang terdekat bahwa saya sudah tiba dengan aman, sehat dan selamat. Saya duduk di kursi di depan terminal kedatangan dan melihat orang yang lalu lalang.

Ini dia portable wi-fi kecil nan praktis yang aku pakai untuk jalan-jalan ke Europe.


Perasaan saya campur aduk sebenarnya ketika tiba di Berlin karena rencana awal akan bertemu kakak sepupu harus berubah karena dia harus pulang mendadak ke Indonesia, tepat di hari saya terbang ke Jerman. Padahal kami sudah berencana akan eksplorasi Bavaria, daerah selatan Jerman yang cantik sekali. Jadilah saya harus berpikir cepat apa yang harus saya lakukan kalau kakak sepupu saya tidak ada.

Akhirnya saya memutuskan untuk ke Houten, Utrecht, Netherlands (Belanda) karena ada teman yang tinggal di sana. Dikarenakan dia juga akan pulang ke Indonesia untuk lebaran di minggu depannya, saya langsung memutuskan untuk mengunjungi dia langsung di hari-hari awal perjalanan saya.

Jadilah transit kurang dari 24 jam di Berlin karena saya tiba pukul 7 pagi dan bis ke Utrecht-nya pukul 9 malam. Hmmm, enaknya kemana yaaaa selama waktu transit ini?

Saya berpikir untuk ke AlexanderPlatz, city centre Berlin. Mungkin akan menyenangkan pergi ke Central dan minimal melihat kehidupan orang-orang di Berlin. Ya kan?


Begitu keluar dari terminal kedatangan dan menggotong carrier saya seberat 17 kilo dan daypack saya seberat 8 kilo (total 25 kilo), saya naik tangga penghubung ke bus stop. Lumayan juga berkeringat di pagi yang dingin (sekitar 12 derajat).

Setelah ngecek bus apa yang harus saya ambil untuk pergi ke AlexanderPlatz, saya membeli tiket di ticket machine yang berbahasa Jerman. Awalnya cengo dulu di depan layar hingga ada petugas yang menghampiri dan membantu saya membeli tiket ke tujuan. Saya tinggal bayar 2,8 EUR pakai kartu JENIUS saya karena mesinnya menerima pembayaran pakai debit card / credit card atau cash tapi recehan koin saja.

40 menit perjalanan menuju AlexanderPlatz dari Airport sama sekali tidak terasa karena saya terbuai pemandangan Berlin yang... cantik... sekali.






Di depan saya duduk seorang Nenek yang melempar senyum ketika mata kami beradu. Saya bergumam dalam hati kalau sebenarnya ada kok orang Eropa yang ramah kepada pendatang. Tidak semuanya dingin dan tidak murah senyum. 

Di dalam bus saya mengecek google maps agar tahu di mana saya harus berhenti. Begitu mendekati area AlexanderPlatz saya bersiap dan turun di halte yang dekat dengan central park-nya. Saya letakkan tas dan duduk di kursi taman. 

Dalam beberapa jam saja sudah ada kejadian aneh yang mewarnai hari pertama saya.

Yang pertama adalah scam-trick yang dilakuin 3 orang perempuan yang nggak berhenti bilang "Oooo you are so beautiful" tapi habis itu minta donasi untuk anak-anak disabilitas tapi sama sekali tidak terlihat bisa dipercaya, nggak bisa nunjukin id-card juga. Awalnya cuma minta aku tandatangan di atas selembar kertas petisi, tapi ujung-ujungnya mereka minta aku buat bayar 15 EUR (itu banyak banget buat kita). Eh ternyata mau tipu-tipu mereka. Uang yang tadinya sudah ada di tangan mereka berhasil aku ambil lagi. Syukurlah...


Yang kedua, saya bertemu dengan sepasang suami-istri dari Serbia yang duduk di sebelah saya tidak berapa lama setelah gadis-gadis tukang tipu itu pergi. Saat aku foto-foto dengan tripod yang aku bawa, si Bapak bertanya asal saya.

"I'm from Indonesia" jawabku sambil tersenyum.

"Ah, I see. I'm bit unsure because you look like Thai / Philippine girl" ujar Bapak itu lagi.

Tidak lama kemudian kami tenggelam dalam pembicaraan soal kehidupan. Senang sekali rasanya dapat banyak "wejangan" dari mereka. Soal hidup, hubungan spiritual, hubungan antar manusia dan alam. Semuanya benar-benar jadi auspan yang berguna untuk diri. Tak lupa mereka juga memberikan nasihat soal hubungan percintaan, hahahahaha. Mereka menjelaskan hal-hal apa saja yang menjadi kunci sukses dan langgeng sebuah hubungan. Kalian penasaran apa saja yang kami obrolin?

Tak terasa kami mengobrol hingga 1,5 jam dan mereka pamit untuk menjemput anak perempuan mereka.

"Iya, anak perempuan kami sedang jalan-jalan di Berlin dengan teman-temannya setelah menonton konser BlackPink" kata Ibunya. 

"Iya kami juga ikut menonton konser BlackPink itu" ujar Bapaknya lagi. 

Eh buset, keren sekali mereka ikut nonton konser K-Pop padahal usia mereka sudah tidak terbilang muda. Hahahaha...

Kami bertukar kontak agar bisa saling berkomunikasi dan mana tahu saya ada rejeki ke Serbia, rumah mereka terbuka lebar untuk saya katanya. Aihhhhh baik sekali pasangan itu. Saya memang ingin sekali ke Serbia karena itu adalah negara asal para paraglider (penerbang paralayang) yang selalu ada di jajaran juara dunia. 

"Terima kasih ya Rodo dan Vera. It was really nice to meet you" ujar saya sambil memeluk mereka. 

Aku mengambil foto Rodo & Vera dari belakang.


Saya melihat mereka hilang di kejauhan dan kembali menikmati pemandangan orang-orang yang asyik berfoto di depan air mancur. Tidak sadar bahwa di tempat saya ada seorang lelaki muda yang duduk juga dan lalu menyapa saya.

Tentu saya heran karena biasanya orang Eropa tidak suka menyapa orang asing namun pemuda itu dengan ramah tersenyum dan menanyakan asal saya dari mana.

Pemuda yang ternyata bernama Marty itu ternyata pernah tinggal di Jepang beberapa tahun dan awalnya mengira saya adalah orang Jepang (orang Jepang eksotis iya hahahahaha). Namun karena dia juga fasih berbahasa Inggris selain bahasa Jerman, kami malah jadi mengobrol tentang banyak hal.

Beruntung sekali Marty tinggal dekat dengan AlexanderPlatz jadi saya diperbolehkan untuk menaruh carrier besar saya di apartemen dia dan kami akan jalan-jalan ke beberapa tempat menarik di Berlin seperti Berliner Dom dan juga Brandenburg Gate. 

Danke schön Marty!

Foto diambil oleh Marty dan agak blur tapi ya sudahlah ya...


Kami juga pergi ke bakery enak di dekat AlezanderPlatz namanya "Zeit für brot" dan nyobain the famous cinnamon apple bread mereka yang harganya 2.8 EUR dan espresso harga 1.8 EUR. Harganya masih normal lah buat kita di Indonesia ya.



Beneran enak cinnamon apple bread-nya <3


Di hari pertama keliling Eropa, saya boia bilang hari saya menyenangkan dan juga baru pertama kali merasakan langit masih terang sekali hingga pukul 10 malam. Hari terasa panjaaaaaaang sekali.

Saya naik U-bahn dari AlexanderPlatz ke ZOB Berlin, bus station tempat saya akan naik Eurolines ke Utrecht. Ongkosnya 27.9 EUR jadi terbilang murah dibandingkan naik kereta atau pesawat. Bus di Eropa-nya juga enak karena kursinya empuk, ada colokan, toilet bersih dan wi-fi (tapi saya nggak bisa akses wi-fi nya). Maaf lupa foto interior bus-nya. Di perjalanan berikutnya yaaa akan saya ulas soal bus keliling Eropa.

Enaknya pakai Jenius Card ini. Kartu Debit yang bisa dipakai buat beli macam-macam di Eropa, termasuk tiket kereta.

Sejenak sebelum bus bertolak ke Utrecht. Nah, kelihatan kan jam 9 malam masih terang banget.

Bus bertolak dari Berlin dan saya terlelap dengan cepat karena capek juga jalan kaki keliling Berlin. Capek tapi senang karena dipertemukan dengan orang-orang menyenangkan. Hari pembuka perjalanan yang menghangatkan hati. 

Wir sehen uns wieder, Berlin! Nanti akan lebih banyak eskplorasi Berlin yaaaa...




Cheers,






Monday, March 25, 2019

Kenapa Traveling Bareng Teman Selalu Jadi Wacana?

Monday, March 25, 2019 3 Comments






Pertanyaan itu pasti bukan hanya muncul untukku namun kalian juga. Kita semua. Ya kan? 

Kenapa sih kalau mau jalan bareng sahabat itu kadang hanya jadi wacana saja? Yang diawalnya semangat 45 untuk traveling bareng, mendekati hari H tidak menyisakan siapa-siapa alias batal alias "wacana tok". Pernah begitu juga nggak? Hahahaha...

Saya sendiri mengalami itu, sering, sering sekali.

Sejak jadi freelancer 3 tahun lalu, rasa-rasanya susah betul janjian traveling sama sahabat yang bekerja kantoran. Susah betul nyari waktu yang semuanya avaliable dalam satu waktu. Kalau mereka lagi kerja, saya libur. Ketika giliran mereka bisa libur panjang, gantian saya yang harus bekerja. Kadang mau menertawakan betapa lucunya persahabatan kami, 10 tahun berkawan sejak kuliah tahun pertama hingga sekarang mereka sudah mau menikah dengan pujaan hati, trip kami tidak pernah terealisasi. Hahahahaha.

Kalau lihat whatsapp group, rasa-rasanya ada banyak sekali grup yang dibuat untuk merencanakan trip bareng namun pada akhirnya jadi ya begitu saja. cuma ngobrol-ngobrol dan tak pernah jadi juga jalan barengnya.

Tapiiiii, ada satu grup yang enak diajak koordinasi jadwal ngetrip bareng. Mereka adalah Eaz, Rizal dan Guri, diving buddies saya. Sejak kami ngetrip tahun lalu, sampai sekarang rencana trip kami hampir terlaksana. Hebat banget kan? 

Kok bisa?

Karena kami semua pekerja lepas aka freelancer, empat-empatnya. Hahahaha. Jadi ya masih cukup mudah untuk koordinasi dengan mereka, meski itu juga sudah harus dari berbulan-bulan sebelumnya supaya bisa 'ngelock' tanggalnya nggak menerima kerjaan di periode waktu itu. 


Geng diving tersayang yang lancarnya cuma kalau mau diving trip aja....


Cuma yaaa nggak semuanya seperti kami kan? Tentu masih lebih banyak teman-teman yang bekerja kantoran atau punya usaha yang nggak bisa ditinggal. Semacam dua sahabatku yang aku ceritakan di awal. Tahun ini, sebelum mereka menikah dan diboyong suami mereka, aku ingin sekali trip kami terealisasi. Entah ke mana pun terbangnya ya jadilah. Asal jauh dari Jakarta. Hahahaha...

Memang agak susah karena satu berprofesi sebagai Flight Attendant dan satu lagi Manager di salah satu perusahaan maskapai penerbangan. Sibuknya luar biasa.


Ini nih dua gadis yang kalau mau diajak jalan wacana mulu dari 10 tahun yang lalu...


"Aku rasa kita bertiga butuh liburan deh, ke mana gitu. Kalian berdua sudah hampir jadi 'Bridezilla' ucap saya di grup chat kami.

Hampir setiap hari, mereka selalu bercerita soal persiapan pernikahan mereka di bulan Agustus dan Oktober nanti. Semuanya pusing, stress dan karena cuma saya di grup itu yang belum berencana menikah, jadi paling netral dan bertugas untuk membuat mereka tenang dan tidak jadi 'gila' dengan semua wedding plans & preparations.

"Tapi susah banget ini kita jadwalin bertiga, satu di mana, satu lagi di mana" seloroh salah satu teman saya di grup.

"Weeehhh bisa kok kalau kita obrolin dari sekarang. Nggak harus cari long weekend banget lah biar jadi nih ngetrip barengnya. Kabarin aja kapan kalian lowong, ada hari libur dan cus langsung" jawab saya lagi.

"Tapi kan kalau nggak jauh-jauh hari, mahal tiketnya Yong", timpal teman saya.

Woooo, saya lupa belum kasitahu mereka kalau saya ingin ngajak mereka traveling pakai SCOOT. Ada 66 destinasi menarik yang bisa kami pilih dan selalu ada reguler promo dari maskapai kuning ini. 





Harga tiket Scoot ini sudah termasuk bagasi kabin 10 kilogram jadi buat short trip kemana gitu cukup banget, nggak perlu beli bagasi lagi. Tapi kalau mau nambah pun, gampang banget prosesnya saat pembelian tiket. 

Saya tadinya mau ajak mereka ke Athens, Yunani karena tiket sekali pergi ke sana cuma 3 jutaan rupiah. Woooooo, bisa ke Santorini juga sekalian kan.

Selain Athens, Scoot juga terbang ke Berlin. Wowowowowoow! Saya pantengin websitenya dan lihat-lihat tanggal yang pas buat liburan kami di musim panas nanti. Pokoknya sebelum Agustus (salah satu menikah), kami harus jalan-jalan. Titik.

Pas banget bulan ini, Scoot lagi ada promo "Jalanin Aja" dengan memberikan diskon hingga 25% untuk kelas ekonomi. Cukup masukin kode promo : SCOOT25. Gampang banget kan?




Promonya sampai 31 Maret 2019 ini, jadi langsung cepat-cepat berburu tiket promonya ya. Saya juga masih berburu nih.

Kalau teman-teman mau tahu info lengkapnya soal promo ini, langsung saja klik www.flyscoot.com/jalaninaja atau kunjungi facebook page SCOOT ya...





Cheers,





Friday, March 22, 2019

Berkunjung ke Ujung Langit Hong Kong bersama Ngong Ping 360

Friday, March 22, 2019 2 Comments






Hah? Ujung langit Hong Kong? Di mana itu Sat? 

Pasti kalian bertanya seperti itu sewaktu membaca judul artikel blog ku ini. Hahahaha.

Ya, kusebut ujung langit karena memang lokasi yang saya kunjungi ini jauhhhhhhhh sekali sampai melewati semua gedung pencakar langit di Hong Kong. Bayangkan, adakah tempat yang lebih tinggi dari itu? Ya ada, di pegunungan laaah.

Sebenarnya nama aslinya Ngong Ping Village, desa kecil yang terletak di area pegunungan di Hong Kong, tepatnya di Pulau Lantau. Negara ini ternyata tidak hanya terdiri dari bangunan beton saja kok seperti yang kita lihat di foto-foto. Masih terdapat area hutan hijau asri yang juga menjadi tempat favorit warga Hong Kong bersantai saat akhir pekan. Memang betul lari ke hutan itu nikmat kan?

Bersama dengan Firza dari Dwidaya Tour, saya, Yusni Mustafa dan Mega Iskanti, kami berempat berangkat ke Ngong Ping Village dengan naik MTR (Mass Transit Railway)  menuju stasiun Tung Chung dan lalu dilanjutkan ke terminal Ngong Ping 360 untuk naik cable car.

Kami tiba di terminal Cable Car Ngong Ping masih pagi, sekitar pukul 9. Namun antrian orang-orang yang juga ingin naik ke Ngong Ping Village sudah mengular padahal hari biasa, bukan akhir pekan. Makin-makinlah saya penasaran seperti apa Ngong Ping Village ini.

Hanya butuh sekitar 25 menit perjalanan naik Cable Car ke Ngong Ping Village. Ada dua pilihan Cable Car, Regular Cabin dan Crystal Cabin. Supaya lebih terasa serunya, kami naik Crystal Cabin yang lantai dasarnya kaca transparan. Jadi serasa terbang gitu. Saya senang banget menaikinya karena memang penyuka ketinggian. Jadi teman-teman bisa coba juga dan rasakan sensasi kaki melayang di udara hahahaha. Makanya disebut Ngong Ping 360 karena memang bisa lihat full view dari seluruh sisi karena transparan.




Tenang saja, pasti aman kok naik Cable Car-nya karena memang sudah memenuhi standar. Biasanya satu cable car diisi maksimal sepuluh orang, namun kemarin kami hanya berempat jadi bisa lebih leluasa untuk foto-foto. Meski begitu, 25 menit nggak cukup karena pengen foto dengan banyak angle di dalam cabin. Lagi asyik ambil gambar, eh tahu-tahunya sudah sampai. Hahaha.

View favorit saya adalah runway Hong Kong Airport yang terlihat jelas saat cable car sudah bergerak naik. Waw, bisa melihat pesawat-pesawat itu take off dan landing dari udara dan tidak jauh jaraknya bikin serasa lagi lihat kota mainan. 

Oh ya, untuk biaya naik cable car ke Ngong Ping Village ini sekitar Rp 426.000 untuk round trip standard cabin dan Rp 571.000 untuk round trip crystal cabin. Harga ini tentu bisa berubah sewaktu-waktu ya tergantung kurs Hong Kong Dollar terhadap Rupiah. Bisa cek juga di website Ngong Ping 360 nya ya.

Ngapain saja di Ngong Ping Village?

x
x

Nah, Ngong Ping ini meski disebutnya village / desa, dia bukan desa yang ada di gambaran umum, melainkan desa wisata buatan yang sudah ditata rapi dengan beragam atraksi dan juga kedai makanan. Tenang, banyak pilihan makanan halalnya juga kok.




Dikelilingi pegunungan, desa wisata Ngong Ping ini hawanya sejuk dan asri sehingga menyenangkan untuk dikelilingi berjalan kaki. Pantas saja banyak yang membawa anaknya ke sini karena pasti jadi area bermain yang menyenangkan untuk mereka. Bisa bebas berjalan tanpa harus takut tertabrak kendaraan. Begitu juga para lansia yang terlihat bahagia berjalan kaki pelan-pelan di sana.






Bagi kamu yang senang dengan beragam atraksi permainan, bisa cobain VR 360 yang ada di Ngong Ping Village. Dasar memang Indonesia ya, hebohnya nggak ada yang ngalahin. Saking serunya permainan di sana, semuanya teriak heboh dan tertawa-tawa. Mas dan Mbak operatornya pasti geleng-geleng kepala melihat tingkah kami. Ya habisnya seru!




Selesai main VR 360, kami diajak untuk makan siang dengan menu kebab (tentunya halal) di Ebenezer's Kebabs & Pizzeria. Porsinya besar dan enak. Saya hanya makan setengah dan sisanya dimakan sore-sore hahahaha. Firza, Mega pamit sebentar untuk ibadah sholat dan saat mereka kembali, kami sudah siap untuk ikut tur ke Tai O Fishing Village, desa nelayan di Pulau Lantau. Awalnya saya sangat bersemangat untuk foto-foto wajah penduduk di sana namun urung ketika mendengar arahan dari local guide kami. 

"Jangan mengambil foto-foto orang lokal di Tai O nanti ya, apalagi lansia. Mereka sangat tidak suka difoto dan merasa tersinggung jika ada yang mengambil foto mereka diam-diam. Jadi, berkeliling saja dan nikmati pemandangan ya" ujar beliau saat kami masih berada di perjalanan bus dari Ngong Ping ke Tai O. 

Yah. Sedikit kecewa saat mendengar arahan itu tapi ya tetap harus ditaati. Memang tidak semua orang suka difoto dan kita harus hargai.

Di Tai O Village, kami diajak berkeliling rumah-rumah nelayan yang dibangun di atas air. Bisa saya bilang ini desa nelayan paling bersih dan rapi yang pernah saya kunjungi. Biasanya kan bau amis ikan menyeruak di tiap sudut kampung nelayan, namun Tai O ini berbeda. Kampung nelayannya bersih sekali dengan banyak jajanan lokal di sepanjang lorongnya.






Lucunya, saat saya dan teman-teman sedang menyusuri kampung, ada suara yang tidak asing di telinga saya. Suara cekikikan perempuan yang tampaknya sedang asyik berseloroh dengan bahasa Jawa Timur. Lho kok di perkampungan Hong Kong ada yang 'boso jowo'? Oh mungkin wisatawan dari Surabaya, pikir saya.

Ternyata salah. Mereka adalah dua Mbak TKW yang berasal dari Jember dan bekerja di Hong Kong. Kami sempat ngobrol sebentar sebelum melanjutkan perjalanan lagi berkeliling kampung.

Oh iya, yang menyenangkan dari kunjungan ke Kampung Tai O ini adalah kita diajak naik kapal kayu ke bagian teluk untuk melihat White Dolphin yang juga dijuluki "Chinese Dolphin". Saya kira maksud mereka adalah 'Beluga', namun setelah dicek, white dolphin itu memang ada dan ada di perairan Cina. Meski tak sempat melihat mereka berloncatan di permukaan air, kami sempat melihat bagian atas badannya sedikit. Memang putih warnanya. Waw keren betul...


Andai saja saya diperbolehkan menyelam, wah pasti senang banget bisa ketemu dengan lumba lumba putih. Tapi mereka pemalu, pasti tidak suka didekati manusia jika kita mendekat. Padahal sudah mengeluarkan jurus pemanggil lumba-lumba. Hahahaha. Mungkin harus dalam bahasa Mandarin ya, kalau siulan pakai bahasa kita gak dimengerti.

Selain lumba-lumba, highlight dari kampung Tai O ini adalah jajanan ikan asin-nya. Sekonyong konyong aku jadi ingat kampung halamanku, Sibolga yang juga jadi penghasil ikan asin terbaik di Sumatera Utara. Wah, wangi ikan asinnya itu lho. Jadi bikin pengen masak ikan asin goreng dimakan sama lalapan hahaha.




Waktu yang diberikan untuk keliling kampung Tai O ini tidak lama, jadi kami berjalan cepat agar bisa mengelilingi banyak tempat. Jam setengah 4 sore kami sudah naik bus lagi kembali ke Ngong Ping Village.

Lanjutlah kami menuju ke "Po Lin Monastery" yang ada di area Ngong Ping. Bangunan yang juga dikenal dengan nama "Big Hut" ini didirikan tahun 1906 oleh three monks di sana. Areanya cantik untuk dijelajahi dan ada patung dewa pelindung empat juru mata angin di gerbangnya. Sayang bagian dalamnya tidak boleh difoto jadi teman-teman langsung ke sana saja ya. Hahahaha...






Yang tidak boleh dilewatkan juga adalal patung Big Buddha yang ada di seberang Po Lin Monastery. Nama aslinya sebenarnya The Tian Tan Buddha of Po Lin. Ada lebih dari seratus anak tangga yang harus dinaiki untuk mencapai ke puncak patungnya.






"Kalian tahu patung Buddha itu menghadap ke mana? India? Nepal? Ayo tebak", tanya local guide kami.

Saya tidak tahu mau menjawab apa karena sampai sekarang saya juga tidak tahu mana yang benar, Buddha lahir di India atau Nepal karena dua negara itu mengklaim negara merekalah yang menjadi tempat lahirnya Buddha.

Ternyata yang menjawab Nepal atau India semuanya salah. 

Jadi, menghadap ke mana?

Mainland China.

Hahahahaha, itu jawaban dari local guide saya karena katanya bagaimana pun, ekonomi Hong Kong berkembang karena negara induknya, jadi Buddha nya menghadap ke sana sebagai tanda penghormatan.

Yang membuat saya kagum adalah kawasan Ngong Ping ini semuanya bersih sekali dan tidak ada sampah yang saya lihat di tepi jalan. Semua orang berjalan santai, menikmati makanan dan minuman yang mereka beli namun juga tertib untuk membuang sampah pada tempatnya.

Oh iya, di kawasan Big Buddha ini juga ada lembu yang dilindungi. Katanya lembu-lembu itu suci dan tidak boleh disakiti atau diberi makan. Lucunya, semua orang ingin ber-selfie ria dengan para lembu tambun itu.

Setelah India, di Hong Kong lah saya melihat ada lembu yang hidupnya makmur, diberi makan dan dibiarkan hidup bahagia sampai tua dan tidak dipotong. Hahahaha.

Di Ngong Ping ini, saya sarankan kalian di sana sampai tutup. Hahaha. Bener lho, sayang sekali kalau ke sana tapi kita tidak menikmati total secara keseluruhan. Datang dari pagi sekali dan pulanglah ketika sudah menjelang tutup.

Cable Car terakhir itu jam setengah 6 sore jadi pastikan kalian sudah tiba di sana sebelum jam tutup. Antriannya panjang sekali namun karena kami dapat akses khusus, langsung menyeberang balik ke Tun Chung.

Satu yang tidak akan membuat kalian menyesal ketika naik Cable Car saat sore hari adalah kalian bisa melihat sunset keemasan menyinari perbukitan Lantau dan juga Big Buddha sera jembatan bawah air baru yang ada di Hong Kong. Jadi dari ketinggian, kita dapat menikmati view mahal yang memang bisa dilihat kalau cuaca sedang cerah. Bisa saya katakan ketika berkunjung ke Hong Kong kemarin kami sedang beruntung, dikaruniai cuaca bagus sepanjang perjalanan.




"Huuuu pas aku kemarin ke Ngong Ping kabut hujan, Sat. Hiks hiks" ujar teman saya ketika melihat update di IG Story. 

"Waaaaa itu artinya kamu harus kembali lagi ke Ngong Ping", balas saya. Hahahaha.

Iya, sayang kalau kalian jalan-jalan ke Hong Kong tanpa mengunjungi Ngong Ping ini. Bisa dibilang ini atraksi yang paling saya suka dari semua atraksi wisata yang ada di sana. 

Apalagi buat kamu yang sudah berkeluarga dan masih punya anak balita, pasti senang sekali diajakin keliling ke Ngong Ping. Pertengahan tahun adalah bulan-bulan terbaik untuk berkunjung ke sana. 

Pssttt, kalau ke sana naik Crystal Cabin saja ya biar sensasinya menuju ke Ngong Ping nya makin terasa. Kayak terbang melayang. Hoohoohoho...

Jika teman-teman mau ke Ngong Ping bersama keluarga atau orang tersayang, bisa kontak Dwidaya Tour ya. Mereka akan dengan sangat senang hati menyusun perjalanan seru ke Hong Kong. Ajak aku lagi juga ya nanti. Hahahaha.



Cheers,










Friday, January 18, 2019

Menikmati Agra yang Tak Hanya Taj Mahal

Friday, January 18, 2019 5 Comments


Hampir semua orang di dunia pasti memasukkan Agra di dalam daftar tempat yang harus dikunjungi ketika plesiran ke India. Setiap hari ada ribuan orang yang datang untuk melihat salah satu World 7 Wonders ini. Ya termasuk saya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di India. 

Beberapa teman yang sudah pernah ke India sebenarnya menyarankan untuk tidak berlama lama di Agra karena katanya tidak banyak yang bisa dilihat. Saya akhirnya memutuskan hanya akan tinggal dan mengeksplorasi Agra selama 3 hari 2 malam. Sepertinya  cukup.



Untuk Taj Mahal sendiri nanti akan saya ceritakan khusus di satu artikel ya karena tak mungkin destinasi yang satu itu tidak ditulis. Di sini saya hanya menuliskan soal hal-hal yang saya lihat di Agra, sesuatu yang mungkin kamu juga belum pernah lihat. Ya sebenarnya hanya kehidupan sehari-hari mereka yang mungkin tidak terlalu menarik bagi sebagian orang tapi tetap menarik buat saya dan mau saya bagikan ke kalian.

First impression saya tentang Agra sebenarnya membuat saya cukup terkejut. Sebagai destinasi kelas dunia, kotanya kurang rapi dan agak kumuh (ini opini saya pribadi ya) padahal pendapatan daerahnya tinggi sekali. Kenapa tidak dipakai dananya sebagian untuk menata kotanya agar lebih cantik, secantik taman-taman di Taj Mahal? Taj Mahal bagaikan satu-satunya oase di tengah gurun kering. Iya oase untuk mata kita. Ya pantas katanya kalau ke Agra tidak usah berlama-lama. 

Bahkan di beberapa sudut-sudut kota Agra saya melihat banyak sekali tunawisma dan tidur hanya beralaskan kardus. Katanya banyak gelandangan dan pengemis yang datang dari seluruh penjuru Negeri hanya untuk mengemis di Agra karena mereka tahu banyak wisatawan asing yang datang ke sana. Ya kurang lebih seperti yang terjadi di Jakarta dan Pemerintah di sana memang tidak bisa berbuat banyak. Agak sia-sia usaha memulangkan mereka ke kampungnya karena nanti pasti akan kembali lagi.



Jika ke Agra (atau kemana pun) mampirlah ke pasar lokal setempat karena di sanalah kau bisa melihat jantung kota dan melihat kehidupan masyarakat di luar destinasi wisata. Pasar di sana kadang lebih sering disebut "Bazaar" dan dari beberapa bazaar kami  hanya sempat menyambangi satu namanya "Sadar Bazaar" yang tidak jauh lokasinya dari Taj Mahal. Meski pun tempat ini populer, sebenarnya pasar ini pasar biasa saja, bukan pasar yang dikhususkan untuk turis dan menjual banyak pernak-pernik untuk jadi oleh-oleh. Tapi justru di situ daya tariknya untuk saya pribadi. Saya memang senang memerhatikan orang lalu lalang di pasar dan menangkap ekspresi mereka. Di sisi lain kita bisa mencoba makanan khas lokal sana yang mungkin kamu belum pernah tahu.

Meski saya tidak bisa berbahasa Hindi, saya ingin sekali merasakan melebur di kehidupan mereka. Menatap raut wajah mereka ketika sedang berinteraksi satu sama lain.

Ada satu bapak yang terus mengucap syukur ketika menerima uang dari pembeli. Ada Ibu yang dengan wajah masam berjalan tergopoh-gopoh membawa barang belanjaanya. Ada pria-pria yang asyik duduk di tepi jalan sambil menatap handphone atau bercengkerama. Di Trip Advisor bilang tempat ini biasa saja tapi buat saya pribadi, tempat ini sangat-sangat menyenangkan.



Di pasar ini ada banyak macam barang yang diperdagangkan seperti "Kohlapuri Chappals" atau sepatu, chaats, puri-puri, food stall dan es krim seharga 20 rupee atau 4000 perak rupiah saja. Banyak yang jualan sari juga dan beberapa miniatur Taj Mahal. Hati-hati juga banyak yang menjebak ingin mengantarkan berkeliling tetapi ujung-ujungnya malah ke toko kain dan mereka dengan sedikit memaksa kita untuk membeli.

Sambil menikmati dua scoop es krim "madhu", saya berjalan menyusuri Sadar Baazar yang tak seberapa luas. Sore-sore enak juga berkeliling di pasar, tak terlalu ramai. Namun waktu terbaik ke sini sebenarnya malam hari kalau baca buku panduan wisata Agra. Kenapa? Karena di sini juga jadi pusat jajanan kaki lima yang bukanya sore ke malam hari saja.


Sepatu buatan lokal yang menarik sekali sebenarnya. Warna-warni dan murah pula. Sayang tidak ada ruang tersisa di tas saya.

Eks Krim-nya dua scoop harganya empat ribu perak saja. Itu terbuat dari apa ya kok bisa murah banget. Hahahahaha...

Saya ingat ada abang becak menawari kami naik becak dayungnya dan mengantarkan ke satu tempat menarik katanya. Biaya naik becaknya hanya 20 rupee (4000 perak) dan saya tentu kasihan dan memberikan lebih pada akhirnya. 

Tapi tempat yang dia bilang menarik itu adalah toko kain sari. Yaaa.... ya nggak apa-apalah. Kami hanya senyum dan mengucapkan terima kasih sambil berlalu. Untuk apa marah-marah sama tukang becaknya. Toh dia hanya berusaha untuk cari uang, untuk isi perut. 




Favorit saya ketika berkeliling Sadar Bazaar adalah "Gol Gappa" di Agra Chaat House (Pride of Agra). Makanan ini adalah snack favorit di sana yang terbuat dari kentang tumbuk yang dimasukkan ke dalam roti sus kering lalu disiram kuah hijau pedas. Rasanya agak asam namun lezat di lidah saya. Yusni mencoba satu Gol Gappa dan katanya cukup. Hahahaha. Sedangkan saya maunya makan lagi dan lagi. Habisnya harganya cuma 10 rupee atau 2000 perak saja untuk 3 potongnya. Mungkin saya makan sekitar 10 biji dan itu sudah kenyang banget.

Ini dia "Gol Gappa". Kalau mau jajan ini jangan lihat cara dia menuangkan kuahnya ya hahahaa....



Awalnya saya juga ingin mencoba es serut yang dijual di depan pedagang "Gol Gappa" itu. Tapi niat itu saya urungkan ketika saya melihat ada seorang laki-laki membawa es balok yang dibalut karung goni kotor dan lalu diputar-putar sebelum dipecah dan diserut. Meski saya suka makanan jalanan tapi kok melihat proses es serut ini saya jadi agak mual jijik sendiri. Itu es serutnya kotor sekali dan dijamin akan bikin sakit perut kalau dimakan. 



Kami pun berjalan-jalan lagi dan menjumpai toko buku tua yang sudah ada sejak 1946 dan berisikan banyak buku-buku tebal berbahasa Hindi yang tentu tidak saya mengerti. Tetapi saya tetap senang melihat-lihat toko buku itu, meski tak membeli satu. Tidak beli karena saya sudah beli di tempat lain. Hehehehe...

Ini dia toko buku tua yang saya maksud. Meski tidak berniat membeli, kalian bisa masuk ke dalam untuk melihat-lihat...


Oh iya kalian harus tahu satu fakta bahwa di India, harga buku itu murah murah banget kalau dibandingkan di negara kita, terutama buku terjemahan Inggris. Saya sempat membeli buku di bandara Delhi dan mendapati harga bukunya murah banget. Di India memang banyak buku bajakan terutama di stasiun atau toko buku di pasar. Tahu dari mana itu palsu? Ya yang sering baca buku pasti bisa membedakan mana buku asli mana buku palsu dari kertas dan baunya.

Tapi toko buku yang saya datangi di bandara itu WHSmith yang tentu saja tidak pernah menjual buku palsu. Saking tidak percaya dengan label harga yang tertera di buku, saya bertanya kepada kasir langsung dan mereka bilang memang harganya segitu, tidak sedang diskon.

Saya pun terperangah. Buku yang biasanya di Indonesia kisaran harganya Rp 300.000, di India cuma 400 rupee atau Rp 80.000. Ya kan murah banget ya. Rasa-rasanya ingin memborong semua buku yang ada di sana tapi sadar bawaan hanya ransel dan sudah penuh barang, diurungkanlah niat itu. Saya hanya beli 5 buku saja selama di India (ya itu juga sudah banyak kan ya). Tapi ya itu juga setelah proses pilah pilih yang lama sekali.


Eh si Abang lihat kamera langsung senyum sumringah Bang? Hehehehe...


Oh iya, di Sadar Bazaar juga pasti lumrah kamu melihat sapi berkeliaran bebas dan hampir seluruh negara bagian India seperti itu. Tapi kemarin itu aneh aja melihat sapi hampir masuk ke stall ice cream dan menunjukkan pantatnya yang besar ke arah kita, yang ingin membeli. Lucu saja menurut saya. Kalau kalian di situ, apakah akan tetap membeli es krimnya? Hahahaha...

Oke, itu cerita soal keliling kota Agra. Di post berikutnya aku akan bercerita soal Taj Mahal ya, lengkap dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Penasaran kan?


Cheers,





Follow Us @satyawinnie