Thursday, December 27, 2018

# Abroad # India

Hawa Mahal, Istana Angin & Puteri-Puteri Berpurdah




Jaipur, Rajasthan, bisa dikatakan sebagai area paling warna-warni di seantero India. Dari cerita yang saya tahu, bangunan di Jaipur dulu dicat merah muda atas instruksi Maharaja Ram Singh untuk menyambut Prince Albert of Wales yang berkunjung ke sana pada tahun 1876. Warna merah muda atau merah jambu dianggap sebagai simbol keramahtamahan sehingga seluruh bagian Old City Jaipur dicat dengan warna itu. Padahal menurut saya warnanya lebih ke terakota, warna peach yang hangat dan bukanlah pink. Tapi kalau dianggap pink ya bolehlah.

Terbayangkah oleh kalian ketika berjalan kaki lalu di depan mata memantul warna bangunan-bangunan pastel manis ditimpa sinar matahari pagi atau sore? Warnanya persis seperti filter “Jaipur” di Instagram Story. Cantik sekali.

Destinasi pertama saya dan Yusni ketika tiba di Jaipur adalah Hawa Mahal, bangunan yang sudah saya impi-impikan dari dulu. Karena itu saya menuliskan satu artikel khusus tentang Hawa Mahal ini. Menghabiskan 3 hari di Jaipur, kami selalu ke Hawa Mahal setiap hari, tak bosan-bosan menatapnya meski hanya satu kali saja masuk ke bagian dalamnya. 






Bangunan yang menjadi icon kota Jaipur ini dibangun tahun 1799 oleh Maharaja Sawai Pratap Singh (memerintah kerajaan sejak 1778 – 1803) khusus untuk para perempuan berdarah biru, putri kerajaan, istri-istri raja. Bangunan ini seklias mirip seperti sarang lebah, meski sebenarnya desainnya terinspirasi dari mahkota Dewa Khrisna dengan gaya bangunan campuran Islam Mughal dan Hindu Rajput. Arsiteknya sendiri bernama Lal Chand Ustad.

Dahulu, seluruh perempuan kerajaan dilarang menampakkan diri di depan umum, tinggal di "zenana" dan harus mengenakan cadar atau purdah. Itulah mengapa saya menyebut istana ini sebagai istana puteri ber-purdah. 

Hawa Mahal sendiri berarti Istana Angin (Hawa = Angin ; Mahal = Istana). Bangunannya terdiri dari 953 jendela kecil yang disebut “jharokhas”. Dirancang sedemikian rupa, “jharokhas” ini berfungsi sebagai ventilasi udara sehingga di dalam istana selalu terasa sejuk. Meski sejak 2011 jendela-jendela kecil itu kebanyakan ditutup karena turis yang kerap buka tutup sembrono sehingga berpotensi merusak. Jadi, tak terasa lagi angin-angin semilir di dalam Hawa Mahal.




Selain menjadi ventilasi istana, jendela-jendela kecil itu berfungsi sebagai tempat para putri-putri serta istri Raja duduk menikmati pemandangan di luar istana tanpa diketahui oleh rakyat biasa. Dikarenakan larangan menampakkan diri di depan umum, mereka harus berpuas diri menikmati festival atau menonton aktivitas warga dari jendela kecil itu saja. 

Di zaman ini, saya hidup sebagai perempuan bebas dan diperbolehkan melakukan apa saja selama saya mampu bertanggung jawab atas pilihan saya sendiri. Oleh karena itu saya sedih sekali ketika membaca cerita tentang puteri-puteri yang ber-purdah itu yang hanya boleh tinggal di dalam istana, tak boleh menampakkan diri hingga nanti tiba saatnya ia dipersunting lelaki yang setara kastanya. 

Saat masuk ke bagian dalam Hawa Mahal, saya duduk di tepian satu jendela kecil, ingin merasakan dan melihat pemandangan yang dinikmati putri-putri itu dan berandai-andai menjadi salah satu dari mereka. Meski berbalut sutera terbaik dengan hiasan permata serta emas berlimpah dari ujung kepala hingga ujung kaki, saya mungkin tak sepenuhnya bahagia. Saya lebih memilih tak jadi putri bangsawan dan bisa beraktivitas di luar (meski pun jarang sekali perempuan India, apalagi anak gadis berada di luar rumah pada zaman itu). Andai ada mesin waktu saya ingin sekali mewawancarai mereka apa yang mereka rasakan sebenarnya.




Saya kan penasaran, tidak adakah salah satu dari mereka yang memberontak dan memaksa keluar dari Hawa Mahal? Tak adakah yang berani mendobrak pakem-pakem itu? Saya masih mencarinya. Mungkin saja ada putri seperti itu kan? 

Dari yang saya baca, ada satu putri kerajaan Jaipur yang menarik hati saya, yaitu Princess  Gayatri Devi of Cooch Behar / Her Highness Maharani Devi Gayatri, Maharani of Jaipur. Jika kalian sempat, bacalah sejarah tentang beliau. Sungguh menarik, beda dengan putri-putri berpurdah yang ada di “zenana” (tempat tinggal para perempuan istana) Hawa Mahal.

Sebenarnya gambar-gambar Hawa Mahal yang bersliweran di Mbah Google itu adalah bagian belakang Hawa Mahal, tidak terlihat ada pintu masuk di bagian kanan atau kirinya kan? Yang ada malah pertokoan yang menjual souvenir khas Rajasthan.

Jadi kita bisa masuk dari bagian depan, dan bayar Rs 200 (setara Rp 40.000,-) untuk tiket masuk per orangnya. Loketnya hanya terdiri dua jendela kecil sekaliiii yang dimana jalurnya dibagi dua, jalur perempuan dan jalur pria. 

Masuk ke bagian dalam Hawa Mahal, kita bisa menelusuri lorong-lorong dan naik hingga titik balkon teratas Hawa Mahal alias lantai 5. Saat terbaik untuk menikmati bagian dalam Hawa Mahal menurutku saat sore hari menjelang sunset. Dari balkon lantai 5, kita bisa melihat matahari terbenam. Kekurangannya cuma satu, ramai dan sesak. Orang-orang berbondong-bondong masuk ke Hawa Mahal saat sore hari untuk menikmati sunset seperti kami. Tak lupa mereka membawa selfie-stick kemana-mana untuk mengabadikan momen di dalam Hawa Mahal. 







Tetapi spot favorit kami berdua (dan hampir semua turis asing) adalah di seberang Hawa Mahal. Ada satu café namanya Wind View Cafe yang selalu ramai menjelang sore hari jadi harus nge-tag tempat sebelum jam 5 sore. Letaknya ada di lantai 3 ruko kecil yang sempat membuat kami bngung di mana pintu masuknya. Meski café-nya kecil, pengunjungnya ramai sekali dan rata-rata wisatawan asing. Ada Tattoo Café yang juga ramai pengunjung. Letaknya bersebelahan jadi kalau tidak dapat spot di Wind View tinggal ngesot ke Tattoo Café. Sama saja kok viewnya. Namun yang membuat saya dan Yusni sampai kembali ke café yang sama hingga 3 kali adalah makanannya. Chai nya juga! Enak banget! 

Kelihatan kan Wind View Cafe, seberang Hawa Mahal persis.


Bayangkan menyeruput Masala Chai (teh susu India) sambil menikmati matahari terbenam di balik Hawa Mahal lalu melihat pergantian warna langit dari jingga merona menjadi biru lalu berganti keemasan dari pancaran lampu Hawa Mahal. Benarlah itu view paling mahal dari Hawa Mahal.





Untuk harga makanan dan minuman di Wind View Café, terhitung murah. Saya sempat mengira harganya akan mahal sekali karena tempat ini semakin popular di kalangan wisatawan asing. Ternyata tidak. Meski memang harganya lebih mahal daripada rumah makan kaki lima, tapi ya masih wajar. Harga makanannya berkisar Rs 100 – 300 (sekitar Rp 20.000 – 60.000). Saya dan Yusni menghabiskan berjam-jam di Wind View Café hingga tutup karena memang menyenangkan duduk di sana. Sampai berkenalan dengan pemilik café serta staff-nya yang super ramah. Mereka senang sekali berbicara dengan tamu, mengulik cerita-cerita dari Negara nan jauh yang belum pernah mereka sambangi. Setelah menunjukkan foto-foto Indonesia, mereka bilang nanti juga mau berkunjung ke Negara kita! Yeay! Saya bilang bahwa Jaipur mirip dengan Jakarta hahahahaha… (untuk masalah bising dan macetnya).






Saking senangnya dengan staff di Wind View Café, saya sampai bernyanyi dan berjoget dengan mereka saat hanya saya dan Yusni pengunjung yang tersisa. Mereka biasanya buka hingga jam 8 saja, tetapi karena 2 malam berturut-turut kami di sana, mereka buka hingga jam 9 malam. Hiburan yang menyenangkan mereka katanya setelah seharian melayani banyak pengunjung. Hahahahaha…

Ini website dan kontaknya jika kalian mau reservasi (kalau bepergian dalam grup lebih dari 4 orang ada baiknya reservasi dulu ya) https://wind-view-cafe.business.site



Masih ada beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi di Jaipur... Saya akan menuliskannya di artikel setelah ini ya...


Cheers,

No comments:

Post a Comment

Apa yang terpikir di benakmu setelah membaca tulisan ini? Share dong :)

Follow Us @satyawinnie