Thursday, December 27, 2018

Hawa Mahal, Istana Angin & Puteri-Puteri Berpurdah

Thursday, December 27, 2018 0 Comments



Jaipur, Rajasthan, bisa dikatakan sebagai area paling warna-warni di seantero India. Dari cerita yang saya tahu, bangunan di Jaipur dulu dicat merah muda atas instruksi Maharaja Ram Singh untuk menyambut Prince Albert of Wales yang berkunjung ke sana pada tahun 1876. Warna merah muda atau merah jambu dianggap sebagai simbol keramahtamahan sehingga seluruh bagian Old City Jaipur dicat dengan warna itu. Padahal menurut saya warnanya lebih ke terakota, warna peach yang hangat dan bukanlah pink. Tapi kalau dianggap pink ya bolehlah.

Terbayangkah oleh kalian ketika berjalan kaki lalu di depan mata memantul warna bangunan-bangunan pastel manis ditimpa sinar matahari pagi atau sore? Warnanya persis seperti filter “Jaipur” di Instagram Story. Cantik sekali.

Destinasi pertama saya dan Yusni ketika tiba di Jaipur adalah Hawa Mahal, bangunan yang sudah saya impi-impikan dari dulu. Karena itu saya menuliskan satu artikel khusus tentang Hawa Mahal ini. Menghabiskan 3 hari di Jaipur, kami selalu ke Hawa Mahal setiap hari, tak bosan-bosan menatapnya meski hanya satu kali saja masuk ke bagian dalamnya. 






Bangunan yang menjadi icon kota Jaipur ini dibangun tahun 1799 oleh Maharaja Sawai Pratap Singh (memerintah kerajaan sejak 1778 – 1803) khusus untuk para perempuan berdarah biru, putri kerajaan, istri-istri raja. Bangunan ini seklias mirip seperti sarang lebah, meski sebenarnya desainnya terinspirasi dari mahkota Dewa Khrisna dengan gaya bangunan campuran Islam Mughal dan Hindu Rajput. Arsiteknya sendiri bernama Lal Chand Ustad.

Dahulu, seluruh perempuan kerajaan dilarang menampakkan diri di depan umum, tinggal di "zenana" dan harus mengenakan cadar atau purdah. Itulah mengapa saya menyebut istana ini sebagai istana puteri ber-purdah. 

Hawa Mahal sendiri berarti Istana Angin (Hawa = Angin ; Mahal = Istana). Bangunannya terdiri dari 953 jendela kecil yang disebut “jharokhas”. Dirancang sedemikian rupa, “jharokhas” ini berfungsi sebagai ventilasi udara sehingga di dalam istana selalu terasa sejuk. Meski sejak 2011 jendela-jendela kecil itu kebanyakan ditutup karena turis yang kerap buka tutup sembrono sehingga berpotensi merusak. Jadi, tak terasa lagi angin-angin semilir di dalam Hawa Mahal.




Selain menjadi ventilasi istana, jendela-jendela kecil itu berfungsi sebagai tempat para putri-putri serta istri Raja duduk menikmati pemandangan di luar istana tanpa diketahui oleh rakyat biasa. Dikarenakan larangan menampakkan diri di depan umum, mereka harus berpuas diri menikmati festival atau menonton aktivitas warga dari jendela kecil itu saja. 

Di zaman ini, saya hidup sebagai perempuan bebas dan diperbolehkan melakukan apa saja selama saya mampu bertanggung jawab atas pilihan saya sendiri. Oleh karena itu saya sedih sekali ketika membaca cerita tentang puteri-puteri yang ber-purdah itu yang hanya boleh tinggal di dalam istana, tak boleh menampakkan diri hingga nanti tiba saatnya ia dipersunting lelaki yang setara kastanya. 

Saat masuk ke bagian dalam Hawa Mahal, saya duduk di tepian satu jendela kecil, ingin merasakan dan melihat pemandangan yang dinikmati putri-putri itu dan berandai-andai menjadi salah satu dari mereka. Meski berbalut sutera terbaik dengan hiasan permata serta emas berlimpah dari ujung kepala hingga ujung kaki, saya mungkin tak sepenuhnya bahagia. Saya lebih memilih tak jadi putri bangsawan dan bisa beraktivitas di luar (meski pun jarang sekali perempuan India, apalagi anak gadis berada di luar rumah pada zaman itu). Andai ada mesin waktu saya ingin sekali mewawancarai mereka apa yang mereka rasakan sebenarnya.




Saya kan penasaran, tidak adakah salah satu dari mereka yang memberontak dan memaksa keluar dari Hawa Mahal? Tak adakah yang berani mendobrak pakem-pakem itu? Saya masih mencarinya. Mungkin saja ada putri seperti itu kan? 

Dari yang saya baca, ada satu putri kerajaan Jaipur yang menarik hati saya, yaitu Princess  Gayatri Devi of Cooch Behar / Her Highness Maharani Devi Gayatri, Maharani of Jaipur. Jika kalian sempat, bacalah sejarah tentang beliau. Sungguh menarik, beda dengan putri-putri berpurdah yang ada di “zenana” (tempat tinggal para perempuan istana) Hawa Mahal.

Sebenarnya gambar-gambar Hawa Mahal yang bersliweran di Mbah Google itu adalah bagian belakang Hawa Mahal, tidak terlihat ada pintu masuk di bagian kanan atau kirinya kan? Yang ada malah pertokoan yang menjual souvenir khas Rajasthan.

Jadi kita bisa masuk dari bagian depan, dan bayar Rs 200 (setara Rp 40.000,-) untuk tiket masuk per orangnya. Loketnya hanya terdiri dua jendela kecil sekaliiii yang dimana jalurnya dibagi dua, jalur perempuan dan jalur pria. 

Masuk ke bagian dalam Hawa Mahal, kita bisa menelusuri lorong-lorong dan naik hingga titik balkon teratas Hawa Mahal alias lantai 5. Saat terbaik untuk menikmati bagian dalam Hawa Mahal menurutku saat sore hari menjelang sunset. Dari balkon lantai 5, kita bisa melihat matahari terbenam. Kekurangannya cuma satu, ramai dan sesak. Orang-orang berbondong-bondong masuk ke Hawa Mahal saat sore hari untuk menikmati sunset seperti kami. Tak lupa mereka membawa selfie-stick kemana-mana untuk mengabadikan momen di dalam Hawa Mahal. 







Tetapi spot favorit kami berdua (dan hampir semua turis asing) adalah di seberang Hawa Mahal. Ada satu café namanya Wind View Cafe yang selalu ramai menjelang sore hari jadi harus nge-tag tempat sebelum jam 5 sore. Letaknya ada di lantai 3 ruko kecil yang sempat membuat kami bngung di mana pintu masuknya. Meski café-nya kecil, pengunjungnya ramai sekali dan rata-rata wisatawan asing. Ada Tattoo Café yang juga ramai pengunjung. Letaknya bersebelahan jadi kalau tidak dapat spot di Wind View tinggal ngesot ke Tattoo Café. Sama saja kok viewnya. Namun yang membuat saya dan Yusni sampai kembali ke café yang sama hingga 3 kali adalah makanannya. Chai nya juga! Enak banget! 

Kelihatan kan Wind View Cafe, seberang Hawa Mahal persis.


Bayangkan menyeruput Masala Chai (teh susu India) sambil menikmati matahari terbenam di balik Hawa Mahal lalu melihat pergantian warna langit dari jingga merona menjadi biru lalu berganti keemasan dari pancaran lampu Hawa Mahal. Benarlah itu view paling mahal dari Hawa Mahal.





Untuk harga makanan dan minuman di Wind View Café, terhitung murah. Saya sempat mengira harganya akan mahal sekali karena tempat ini semakin popular di kalangan wisatawan asing. Ternyata tidak. Meski memang harganya lebih mahal daripada rumah makan kaki lima, tapi ya masih wajar. Harga makanannya berkisar Rs 100 – 300 (sekitar Rp 20.000 – 60.000). Saya dan Yusni menghabiskan berjam-jam di Wind View Café hingga tutup karena memang menyenangkan duduk di sana. Sampai berkenalan dengan pemilik café serta staff-nya yang super ramah. Mereka senang sekali berbicara dengan tamu, mengulik cerita-cerita dari Negara nan jauh yang belum pernah mereka sambangi. Setelah menunjukkan foto-foto Indonesia, mereka bilang nanti juga mau berkunjung ke Negara kita! Yeay! Saya bilang bahwa Jaipur mirip dengan Jakarta hahahahaha… (untuk masalah bising dan macetnya).






Saking senangnya dengan staff di Wind View Café, saya sampai bernyanyi dan berjoget dengan mereka saat hanya saya dan Yusni pengunjung yang tersisa. Mereka biasanya buka hingga jam 8 saja, tetapi karena 2 malam berturut-turut kami di sana, mereka buka hingga jam 9 malam. Hiburan yang menyenangkan mereka katanya setelah seharian melayani banyak pengunjung. Hahahahaha…

Ini website dan kontaknya jika kalian mau reservasi (kalau bepergian dalam grup lebih dari 4 orang ada baiknya reservasi dulu ya) https://wind-view-cafe.business.site



Masih ada beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi di Jaipur... Saya akan menuliskannya di artikel setelah ini ya...


Cheers,

Cerita Dua Madam Menyapa Jaipur, The Pink City

Thursday, December 27, 2018 0 Comments




Ah, akhirnya sampai juga kami di Jaipur setelah 5,5 jam perjalanan dari Delhi. Berangkat jam 5 pagi dan tiba pukul 10.30. Saya hirup udaranya dalam-dalam, sejuk terasa karena memang sudah mendekati akhir tahun. Temperaturnya hanya 17 derajat celcius saja.

"Madam, tuktuk madam, taxi madam, cheap cheap", ujar semua lelaki yang mengerubungi kami saat baru keluar dari stasiun Jaipur. Wajarlah setiap orang yang keluar ditawari transportasi lanjutan seperti taxi atau tuktuk ya. 

"No thank you, we just want to go to find some food", jawabku sambil berlalu.

"Ah, after finish your lunch, go with tuktuk, my tuktuk is the best, cheap. I can take you everywhere Madam", celetuk salah satu dari kerumunan itu.

Hahaha... Awalnya saya merasa aneh dipanggil Madam oleh mereka. Kenapa bukan Miss? Kan paras (paras) kami berdua masih muda. Madam oh Madam... Beberapa hari kemudian, saya sadar, ternyata mereka memang memanggil semua turis perempuan dengan "madam” tak peduli usia tua atau muda.

Masuklah kami ke salah satu rumah makan di depan stasiun Jaipur dan meletakkan carrier di sudut ruangan lalu melenggang ke bagian kasir untuk memesan makanan. Di etalase terpampang banyak makanan India yang terlihat lezat (oh yaaaa saya penyuka makanan India, jadi setiap lihat makanan di sana air liur saya menetes terus). Saya pesan satu menu thali komplit yang harganya Rs (rupee) 138 saja alias Rp 28.000,-. Murah kaaaaaannnn....

Karena itu pertama kalinya Yusni mencoba makanan India, saya deg-degan apakah dia suka atau tidak. Ternyata....

Dia tidak suka.

Hahahahaha. 

Ya wajar, bisa dimaklumi, tak semua orang suka makanan India. Rasanya agak aneh di lidah kita, padahal buat kita seharusnya biasa saja karena bumbu masakannya mirip. Gulai dan kari yang kita santap di Indonesia kan kurang lebih sama, meski memang lebih kental di India sih.

Karena masih hari pertama dan perkenalan rasa pertama ya nggak apa-apa. Semoga saja untuk beberapa minggu ke depan lidah Yusni akan terbiasa dengan bumbu India, harap saya.

Selepas brunch (breakfast-lunch), kami menuju prepaid taxi booth dan menunjukkan alamat tujuan kami. Sebelumnya saya sudah menyimpan screenshot alamat hostel yang akan kami tempati agar tetap bisa ke sana meski tidak ada sinyal internet karena belum punya simcard lokal.

Kami menginap di Chillout Hostel Jaipur yang kalau di peta tidak terlalu jauh dari Pink City area, tapi ternyata tetap harus naik tuktuk / taxi kalau mau pergi eksplorasi. Bisa sih jalan kaki kalau kamu mau jalan-jalan sambil lihat pemandangan jalanan Jaipur, tapi kalau bawa barang banyak repot juga. Naik tuktuk di sana tidak terlalu mahal kok. Untuk jarak sekitar 5 kilometer dari hostel kami menginap ke area Pink City, satu kali jalan bayar Rs 100 saja atau sekitar Rp 20.000,-.




Harga hostel kami di Jaipur per malam sekitar Rs 600 untuk berdua. Kami memilih private room, bukan dormitory. Jadi dengan harga sekitar Rp 120.000 rupiah untuk berdua sudah include breakfast, good deal banget kan? Saya sudah booking hostel ini dari situs booking.com. Nggak harus bayar di depan kok dan cancellation-nya bisa sampai H-1. 





Untuk perkara makan, pagi dan malam biasanya kami makan di hostel karena lebih terjamin kebersihan makanannya dan harganya normal, berkisar Rs 100 – 300 (sekitar 20.000 – 60.000 rupiah) per porsinya. Mau makanan India ada, mau western food juga ada. Tinggal pilih sesuai selera. Oh iya kalau sarapan pagi nggak perlu bayar lagi kan sudah include dengan harga penginapan. Menu vegetable cheese omelette jadi favorit Yusni dan saya selama menginap di Chilout Jaipur kemarin. Enaaaaaakkkk!


Tipikal sarapan pagi di hostel kami ; Veggie Cheese Omelette, Toast + Jam dan Masala Chai


Nah kalau siang hari, kami biasanya makan kalau bener-bener lapar. Kalau nggak ya dirapel (digabung) sekalian makan malam. Pas menulis artikel ini dan mengingat perjalanan yang lalu di Jaipur, saya baru ngeh kalau kemarin itu kami berdua jarang makan siang. Hahahaha. Mungkin karena porsi sarapannya besar jadi cukup kenyang sampai malam. 

Selama di Jaipur pun saya baru ngeh kalau kami hanya makan di luar hostel hanya di satu tempat saja, di Wind View Café yang lokasinya di depan Hawa Mahal Palace. Makanan di sana enak-enak dan aku bisa minum Masala Chai nya lebih dari 5 gelas. Porsi makanannya juga besar jadi bisa dibagi sama Yusni biar habis. Karena lidah Yusni sudah cocok dengan makanan di restoran itu jadi kita balik ke situ saja setiap hari untuk makan. 

Oh iya, bersiaplah sakit kepala dan sakit telinga di Jaipur. Desibel suara tuktuk, motor, mobil, truk, bus, semua kendaraan lah pokoknya, bikin telinga kita berdenging. Sudah menjadi kebiasaan di India untuk menekan klakson kuat-kuat dan berkali-kali. Entahlah, saya pun tidak mengerti. Masa sih tidak bisa klakson sekali saja. Apakah semua orang di India punya masalah pendengaran sampai mereka harus diklakson kuat-kuat agar minggir saat berjalan kaki? 


Kalau melihat ini, teringatkah satu kota? Yaaa Jakarta....


Buat yang punya masalah jantung, kagetan atau semacamnya, saya sarankan bawa penutup telinga atau ear-plug. No kidding. Buat kebaikanmu sendiri. Saya dan Yusni juga selalu bawa wireless headset di dalam ransel. Jadi kalau memang sudah nggak tahan banget sama bisingnya kendaraan saat kami sedang duduk di mana gitu, kami berdua pasang headset dan dengerin musik kesukaan masing-masing. Kemarin itu menolong banget biar nggak emosi di jalan hahahaha. Tapi jangan dipakai kalau sedang jalan kaki di jalan raya ya. Nanti pas diklakson tuktuk malah nggak denger dan (amit-amit) diserempet. 




Jaipur ini salah satu kota yang paling banyak didatangi turis karena masuk dalam "Golden Triangle" Delhi-Jaipur-Agra


Menyenangkan memang untuk mendengarkan suara-suara di jalanan India, karena saya sendiri suka sekali mendengarkan orang India berbicara. Saya senang memerhatikan mimik wajah mereka dan gestur tubuh mereka. Namun ada saatnya saya ingin menikmati pemandangannya saja tanpa harus mendengarkan suara di sekitaran. Apalagi kalau suaranya itu bising kendaraan yang keterlaluan bisingnya. Hahaha.

Tapi ya begitulah India.


Jangan heran banyak sapi / lembu berkeliaran di jalan karena sapi adalah hewan suci yang tidak boleh disakiti atau dimakan di India.


Nah sebelum kita jalan-jalan keliling kota, apa yang pertama kali disiapkan saat tiba di Jaipur?

Ini dia...

Download Aplikasi Map Offline.


Di ponsel saya sudah ada apps offline map. Yang saya pakai itu namanya “maps.me”. Jadi setiap sampai di kota baru, bisa pakai free wifi di airport / hostel untuk download peta kotanya. Jadi tanpa koneksi internet di jalan pun aman nggak bakal tersesat. 





Beli Simcard Lokal


Pertimbangan saat beli simcard lokal sewaktu trip di India adalah harga. Sebenarnya bisa sewa portable wifi yang sekarang ada di mana-mana. Tentunya lebih gampang karena nggak harus ribet-ribet registrasi kartu prabayar. Tapiiii kalau buat traveling untuk waktu lama di sekitaran India (kalau ditotal kemarin jadi 5 minggu), mahal banget jatuhnya untuk sewa wifi dari Indonesia. 

Jadi saya dan Yusni sepakat untuk beli satu simcard lokal saja dan nanti kami share personal hotspot. Itu salah satu cara kami untuk berhemat. Hahaha. Meski ribet untuk urus simcard di India dan bisa saja mengandalkan wifi di hostel, tapi yaaaaa demi kelancaran berbagi cerita perjalanan, kami beli sajalah.

Sebenarnya paling mudah beli simcard di Bandara New Delhi tapi mereka bukanya jam 11 pagi (saya nggak ngerti kenapa mereka bukanya siang banget) jadi kalau kamu tiba sebelum jam tersebut dan nggak bisa menunggu selama itu (termasuk kami yang mendaratnya jam 1 subuh), bisa beli di counter resminya di kota-kota besar di India. Saat itu yang paling dekat dari hostel kami adalah counter-nya Airtel, salah satu provider besar di India selain Vodafone. 

Pergilah kami ke sana dan ternyata cukup banyak orang yang sedang mengantri untuk dilayani. Cukup lama kami menungu hingga satu petugas mendatangi kami (tidak ada nomor antrian kayak di Indonesia). Kami diminta untuk isi formulir lalu menyertakan foto copy passport dan visa (bisa difoto copy di counternya) dan juga pas foto ukuran berapa saja. Lumayan banyak juga persyaratannya ya. 


Ini formulir yang harus diisi untuk pembelian simcard-nya.
Setelah simcard-nya dimasukkan ke ponsel saya, petugasnya bilang butuh 4 jam sampai data internet-nya bisa digunakan (tapi ada yang DM di instagram katanya setelah 24 jam baru aktif). Yaaaaa nggak mungkin kan kita nunggu 4 jam di counternya. Ya sudah kami keluar jalan-jalan dong setelah membayar Rs 229 (setara Rp 46.000) untuk pembelian simcard. Memang benar 4 jam kemudian sudah  ada sinyal Airtel 4G muncul di sudut kiri atas ponsel. Tapi ternyata tidak semudah itu Ferguso!

Nggak bisa langsung dipakai internetnya Maaaasss, Mbaaak. Ada beberapa step lagi yang harus kita lakukan sesuai instruksi petugas, harus telpon ini, masukin nomor ini dan itu. Tapi tenang saja, sudah dituliskan di secarik kertas oleh Masnya jadi saya nggak bingung meski makan waktu juga.

Setelah semua proses aktivasi selesai, saya berharap sudah bisa dipakai itu internetnya. Ternyata belum bisa juga karena….

Belum ada paket internetnya. Hahahahaha.

Ya, saya dan Yusni tertawa terbahak-bahak. Kami sedang menikmati makan malam kami waktu itu. Sudah hampir jam 9 malam jadi tidaklah cukup waktu untuk kembali ke counter Airtel itu. Jadi mau tak mau harus menunggu keesokan harinya. 

Keesokannya kami beli paket internet di konter di tepi jalan saja supaya cepat dengan harga Rs 299 (setara Rp 61.000) untuk paket internet unlimited 28 hari. Tapi satu hari pemakaian maksimal-nya 1.5 GB. Lha, katanya unlimited? Piyeeee tooo? Hahahahaha.

Ah yang penting internetnya sudah bisa dipakai! Hurray!

Download aplikasi “Olacabs”


Jadi kalau di Indonesia ada moda transportasi online “Go-Jek” dan “Grab”, di India ada dua yang paling besar; “Olacabs” dan “Uber”. Namun yang paling banyak dipakai adalah “Olacabs” karena pilihan moda transportasinya beragam mulai dari tuktuk, taksi dan juga mobil rental. Persyaratan utamanya hanya harus punya nomor lokal. Kalau nggak punya kamu nggak bisa aktivasi aplikasi ini. Berguna sekali kalau punya aplikasi ini. Aman karena bisa dipantau perjalanannya (semua transportasi online juga begitu kan) dan juga lebih murah dibanding nego di tepi jalan langsung. Tapi kalau jaraknya dekat sudah langsung saja cegat tuktuk, paling masih sekitar Rs 100 (Rp 20.000) harganya. Masih normal kok.


Yeay! Perdana naik tuktuk di Jaipur.



Nah kalau yang di atas semuanya sudah beres, artinya kita sudah siap untuk eksplorasi Jaipur. Apa yang bisa dilihat dan dicoba di Jaipur, Pink City yang tersohor itu?




Silakan dibaca di artikel berikutnya ya (besok)…



Cheers,









Monday, December 17, 2018

Pertama Tiba di India, Naik Kereta Pagi Buta dari Delhi ke Jaipur

Monday, December 17, 2018 18 Comments


“Sampe juga torang di India e” kata Yusni dengan logat Gorontalo-nya yang kental saat pesawat yang kami tumpangi, Jet Airways, mendarat dengan mulus di Bandara Indira Gandhi, New Delhi. Matanya berbinar-binar meski baru bangun tidur karena ini adalah perjalanan pertamanya ke luar negeri. Saya tersenyum-senyum sendiri melihat tingkahnya. Sudah lewat jam 1 malam saat kami tiba, tak terlalu banyak orang di bandara jadi kami berdua bertingkah aneh, merekam momen ketibaan kami dengan kamera yang kami bawa.

Dengan mata sayup-sayup kami berjalan ke arah pintu pemeriksaan imigrasi. Sudah lama-lama ngantri di jalur yang banyak orang asingnya, ternyata kami salah jalur. Hahaha. Seharusnya kami ngantri di jalur e-visa yang ada di sisi kanan tetapi karena efek ngantuk, kami tidak lihat papan petunjuk dan malah masuk jalur kiri. Ya apa mau dibuat, setelah mengantri dan menunggu lama di antrian kiri, pergilah kami mengantri ulang di jalur kanan. Syukurnya prosesnya tidak lama dan uniknya, kita disuruh cuci tangan pakai antiseptik di depan petugas imigrasinya. Mungkin agar kita tidak membawa bakteri masuk ke India? 



Hahahaha. Bisa jadi! Tapi sebenarnya itu adalah bagian dari program “Clean India” yang sedang dicanangkan pemerintah di sana. India sedang berbenah dan ditargetkan menjadi NEW INDIA di tahun 2022, terutama dalam sektor kebersihan. Selama ini image India kan memang jorok banget ya? Jadi mari kita lihat apakah memang benar India sudah berbenah dan Indonesia juga sepertinya sudah menuju ke sana.

Bercerita sedikit tentang e-visa India, awalnya saya dan Yusni deg-degan karena hingga h-1 keberangkatan, e-visa kami belum granted yang artinya besar kemungkinan kami batal berangkat ke India. Kalau belum ada visa mana bisa terbang meskipun sudah punya tiket pesawat, ya kan? Saya sampai konsultasi dengan Alid Abdul dan Astari Anadya yang baru kembali dari India. Mereka mendoakan semoga sebelum berangkat, visa kami diloloskan.

Kami apply e-visa 5 hari sebelum keberangkatan karena prosesnya maksimal 72 jam atau 3 hari saja. Isi e-visa nya mudah sekali di https://indianvisaonline.gov.in/evisa/tvoa.html dan tidak perlu bayar visa lagi alias gratis! Visa nya berlaku selama 60 hari dan double-entry (oleh karena itulah kami memasukkan Nepal juga di tengah-tengah jadwal perjalanan India kami). Ternyata masing-masing orang prosesnya beda. Astari hanya butuh sekitar 1 hari (kurang dari 24 jam bahkan) dan berdasarkan cerita orang lain biasanya sebelum 3 hari sudah dapat respon. Kok sudah 5 hari visa saya belum ada jawaban juga? Saya sampai kirim email ke Help Desk Information Visa India dan tidak berbalas juga. Sempat baca blog orang juga soal proses e-visa India dan ada yang baru dapat jawaban 2 minggu kemudian.

Malam sebelum keberangkatan (jadwal pesawat kami keesokan paginya pukul 9), kami berdua sudah mulai pesimis meski masih menaruh sedikit harapan bahwa visa kami lolos dan trip India-Nepal ini lancar. Mules, keringat dingin semalaman hingga sekitar pukul 11 malam, satu notifikasi email meluncur ke mailbox saya. UWOOOOOO! E-VISA INDIA GRANTED! 

Waaaaaaaaa!!!!!

Kami berdua berjingkrak-jingkrak kegirangan! Senang betul tak ketulungan! Masih teringat jelas betapa girang (dan norak) nya kami malam itu. Bersyukur, bersyukur, bersyukur…

Jadilah sebelum ke Bandara Soetta subuh-subuh kami ke percetakan 24 jam untuk nge-print e-visa dan membuat foto copy passport. Masih mesem-mesem karena terlalu senang carrier kami tak perlu dibongkar karena tidak jadi berangkat, hahahaha…

Kita terbang dari Jakarta ke Delhi via Bangkok, naik Garuda Indonesia + Jet Airways. Harga tiketnya 1,6 juta PP per orang. (dapat promo murah hahahaha)


Oke, kembali ke cerita ketibaan di India…

Selesai urusan imigrasi, kami berencana untuk langsung membeli local simcard (karena sewa wi-fi portable untuk 1 bulan mahal juga mak!) tetapi counter-nya ternyata baru buka jam 11 pagi, sedangkan kami harus mengejar kereta ke Jaipur jam 04.50 pagi. Aih, tak mungkin kan kami menunggu? Jadi kami aktifkan saja free wifi di bandara yang ternyata hanya 45 menit saja masa berlakunya. Lah yaaa, lewat 45 menit sudah nggak bisa dipakai lagi kecuali punya local number. Kok pelit bener. Hahahaha.

Jadi kami meluncur ke ATM saja untuk ambil uang tunai. Kami tidak menukar rupee sewaktu di Indonesia biar praktis. Saya tarik tunai di ATM yang menerima International Card seperti “Indusind Bank” (warna merah) dan “SBI” (warna biru). Jumlah maksimal dalam satu kali penarikan tunai itu 10.000 rupee atau setara Rp 2.020.000 (saat ini kurs-nya 1 rupee = Rp 202). Untuk biaya penarikan tunai-nya Rp 25.000 per sekali transaksi tarik tunai.

Tinggal tarik tunai di ATM yang ada tulisan "International Card Accepted Here"


Saya menyesal karena tidak sempat set-up aplikasi Uber sebelum internet gratis di airport mati. Jadi saya tidak bisa order Uber ke stasiun Delhi Cantt dan mau tak mau naik Prepaid Taxi yang ada di depan arrival terminal. Ada beberapa operator dan harga-nya berbeda-beda tiap counter padahal destinasinya sama. Jadi setelah berkeliling dan bertanya ke semua counter, kami memilih paling murah (tentu saja!). 

Taksi di India ini mungil-mungil sekali macam mobil Mr Bean. Jadi kalau bawa carrier besar, paling cuma muat buat dua orang. Jadi kalau ngetrip bertiga sepertinya harus dua taksi kalau ditambah barang bawaan. Tapi kalau barangnya sedikit atau cuma daypack kecil bisalah muat.



Taxi Driver kami tak fasih berbahasa Inggris jadi tak bisa saya ajak ngobrol. Saya hanya menunjukkan ponsel saya untuk memberitahuan tujuan kami, Delhi Cantt. Ada 17 stasiun besar di Delhi jadi pastikan kalian cek lagi keberangkatan keretanya dari stasiun yang mana ya. Kebetulan kereta dengan jam yang paling dekat dengan kedatangan kami di Delhi itu ya kereta jam 4 pagi dari Delhi Cantt.

Oh iya, semua tiket kereta di India sudah saya beli sebelumnya saat masih di Indonesia jadi tiket sudah di tangan. Memang bisa beli on the spot di stasiun kereta tapi agak ribet dan was-was pastinya memikirkan dapat tempat atau tidak. Apalagi kalau jadwalnya subuh, ticket counter di stasiun kan juga belum buka.

Nah, bagaimana cara beli tiket kereta api India online?

Saya pakai website www.12go.asia yang melayani pembelian tiket kereta, bus, pesawat, ferry di beberapa negara seperti India, Thailand, Vietnam, Filipina, Kamboja, Singapore, Malaysia, Myanmar. 


Nanti dapat email seperti ini, komplit. Aku sukaaaa website ini! Banyak yang bilang beli tiket kereta di India ribet, jadi gampang kalau beli di sini. Charge-nya lumayan tapi kalau beli on the spot (buat turis) juga sama ternyata harganya dengan harga total (plus charge) di atas.


Sama seperti mesin pencarian tiket online lainnya, kita tinggal masukkan destinasi, tanggal keberangkatan dan jumlah penumpang. Nanti akan diberikan opsi transportasi yang tersedia, tinggal pilih yang paling cocok jamnya dan budgetnya hahaha. Untuk kereta India sendiri ada 4 kelas, Class 1-Class 2-Class 3-Sleeper Class. Untuk kelas yang terakhir, gerbongnya tidak pakai AC sedangkan 3 kelas lainnya dilengkapi AC. 

Butuh waktu yang lumayan waktu saya menyusun itinerary trip ke India ini karena akan menentukan jadwal kereta yang akan saya ambil. Sampi seharian duduk di depan layar laptop, riset peta, destinasi yang mau dikunjungi, transportasi, akomodasi, hingga cerita perjalanan blogger lain yang sudah pernah berkunjung ke India. 

Pembayarannya bisa pakai CC, PayPal dan kartu Jenius (sudah punya kartu Jenius belum?). Tiket bakal dikirim ke kita via email dan voila, cus berangkat. Pastikan tidak terlambat karena hampir semua kereta di India on time (katanya kadang delayed) tapi sejauh pengalaman saya kemarin tidak pernah delayed.

Untuk kereta di India ini nanti akan ada artikel sendirinya ya biar saya bisa bercerita lebih detil soal perjalanan kereta dari satu kota ke kota lainnya. Banyak pengalaman serunya. Termasuk cerita yang tidak mengenakkan di salah satu stasiun di India.

Kami tiba di stasiun Delhi Cantt sekitar pukul 02.30 pagi. Sepi. Banget.

Sempat deg-degan bener nggak ya keretanya berangkat dari stasiun ini karena tak ada satu pun petugas yang bisa ditanya. Hanya ada beberapa orang yang tidur beralaskan kardus dan menutup seluruh badannya dengan selimut. Temperaturnya sekitar 11 derajat jadi kami menunggu di stasiun sambil mengenakan jaket agar tetap hangat tapi kursinya terbuat dari besi jadi pas didudukin, rasanya tetap dingin semriwing. Nggak ada pilihan lain ya terima saja. Yusni sempat tertidur di kursi dan saya asyik baca buku. Ya kalau mau tidur memang harus bergantian agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 

Jam 4 pagi sudah mulai banyak orang yang datang ke stasiun. Para pedagang minuman dan makanan juga sudah datang. Bayar 20 rupee sudah dapat satu gelas kecil kopi panas atau chai (teh susu India). Mereka memandangi kami berdua karena tak ada orang asing selain kami saat itu. Tak apa, santai saja dan senyum kalau mata kita saling bertemu ya. '







Ketika sudah mendekati jam keberangkatan, akan ada suara dari pengeras suara untuk memberitahukan di peron nomor berapa kereta kita akan tiba. Kita juga sudah tahu posisi gerbong kita dari rambu yang ada di tepian gerbong. Ada tulisan kelas-kelasnya jadi kalau di tiket tulisannya 2A, carilah tanda 2A dan itulah titik gerbongmu. Keretanya hanya berhenti beberapa menit saja jadi pastikan sudah ada di titik itu beberapa saat sebelum keretamu tiba agar tidak ketinggalan ya.

Kereta berangkat tepat pukul 04.55, seperti yang tertera di tiket. Tentu sudah ada penumpang lain di dalamnya dan karena masih subuh, banyak yang masih tidur. Jadi berjalanlah pelan, berbicara pelan, jangan grasak grusuk. Setelah menemukan tempat kami, barang diletakkan di tempat tidur dan kami sepelan mungkin naik ke tempat tidur dan rebahan. 



Tertidurlah kami selama perjalanan 5,5 jam dari Delhi ke Jaipur…

10.13 pagi kereta kami tiba di Jaipur. Dengan muka bantal kami keluar dari kereta, tersilaukan cahaya matahari yang cukup terik. Kami berdua berpandangan dan saling tos!

Mari kita eksplorasi kota pertama di India!


Namaste Jaipur!

(bersambung...)




Cheers,


Follow Us @satyawinnie