Navigation Menu

featured Slider

Featured Post


Satya Winnie is an adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving and so on. But her favorite things are explore culture, capture moments and share the stories. 

So, welcome and please enjoy her travel journal and let's become a responsible traveler. 

Lovely Readers

Cerita Terbang dari Jakarta - Berlin Pakai Scoot Airline



Lampu temaram menerangi kabin pesawat dan saya sudah bersiap tidur dengan bantal leher ternyaman yang sudah menjadi teman jalan dua tahun terakhir.

Saya bersiap untuk menikmati tidur di dalam penerbangan panjang 12 jam dari Singapore ke Berlin, Jerman. Sebenarnya lebih dari 12 jam ya jika menghitung total waktu penerbangan dari Jakarta ke Singapore dulu sebelum berangkat ke Berlin. Enaknya, keberangkatannya tengah malam dan sampai di Berlin saat pagi hari. Jadi sepanjang penerbangan, saya berencana untuk tidur saja.

Namun, tiba-tiba hidung saya terkaget dengan bau menyengat luar biasa.

Bau.

Bau sikil (bau kaki).

Ternyata itu bau kaki Mbak bule yang duduk di sebelah saya yang baru saja membuka sepatunya. Saya tentu saja kaget dengan bau itu tapi saya juga nggak enak hati mau menegurnya. Saya sudah menutup hidung dengan selendang yang saya bawa tapi kok masih tembus baunya.

Saya coba alihkan pikiran ke yang lain dan saya ingat ada fasilitas wi-fi on board yang sudah dipesan sebelum berangkat. Saya aktifkan dan akhirnya merasa lebih baik ketika sudah bercerita kepada sahabat saya tentang kejadian itu melalui whatsapp. Ya tentu saja saya ditertawakan dan itu memang membuat saya tertawa juga. Hahahahaha.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk tidur saja karena sudah sangat mengantuk sekali, sampai sudah tidak peduli lagi dengan bau kaki Mbak bule itu. Kasihan juga dia tertidur dengan mulut menganga, pulas sekali. Mungkin dia capek habis berjalan-jalan seharian atau mungkin bulanan (secara tampilan sih tampaknya sudah lama sekali dia berkelana).

Ya begitulah cerita lucu saat terbang bersama Scoot ke Berlin bulan Mei lalu. Saya sengaja pilih berangkat Mei dan pulang Juli agar bisa eksplorasi Eropa di musim panas, perjalanan yang paling seru di tahun 2019 ini untuk saya. Pas tahu ada penerbangan Scoot Jakarta - Berlin dengan harga tiket yang terjangkau, ya berangkatlah saya!



Penampakan kabin Scoot, Boeing 787 Dreamliner.

Sebelumnya, saya sudah pernah terbang dengan Scoot juga ke Sydney dan overall, pengalaman terbangnya menyenangkan. Ceritanya bisa dibaca di sini ya.

Dari Jakarta ke Singapore saya naik maskapai Scoot dengan Boeing A320 dan dari Singapore ke Berlin naik Boeing 787 Dreamliner.



Sesaat setelah tiba di Berlin, Jerman.

Saya senang betul naik pesawat Dreamliner ini karena memang didesain untuk penerbangan jarak jauh. Keunggulannya itu udara di kabin tingkat kelembabannya lebih tinggi jadi terasa lebih nyaman, kulit juga jadi nggak kering. Suara mesin pesawat hampir tidak terdengar, benar-benar halus jadi, ditambah dengan jendela pesawat yang bisa kita atur tingkat cahayanya, gelap atau terang, sesuai dengan kenyamanan kita. Jadi nggak berasa kayak terbang pakai LCC (Low Cost Carrier).



Jendelanya nggak ada penutupnya dan cuma ada tombol untuk mengatur redup atau terangnya jendela. Awesome!

Terbang 12 jam direct apa nggak bosan, Sat?

Kemarin itu sudah saya duga pertanyaan di atas pasti akan muncul ketika saya berbagi cerita soal penerbangan saya di Instastory (Instagram).

Saya sebenarnya senang aja long-haul flight karena sudah pasti kindle (untuk baca buku), laptop, headphone, neck pillow, nggak pernah ketinggalan untuk dibawa di tas saya. Jadi saat penerbangan jarak jauh, ya Kalau nggak baca buku, nonton Netflix yang sudah di-download, ya saya tidur.

Eh tapi kalau terbang pakai Scoot dan kalian 'matgay' (mati gaya) nggak tahu mau ngapain, ada opsi inflight entertainment service namanya ScooTV atau inflight wifi connectivity yang bisa disambungkan ke ponsel, laptop atau tablet kita. Beragam tawaran paketnya bisa teman-teman cek di sini ya. Oh iya, inflight magazine Scoot juga menarik untuk jadi teman baca selama penerbangan.

Rasa makanannya gimana?

Sama seperti LCC pada umumnya, meal on board itu bisa dipesan atau dibeli langsung saat penerbangan. Tapi enaknya preorder dulu di websitenya maksimal 72 jam sebelum penerbangan karena lebih hemat jatuhnya.





Ini menu makanan saya saat penerbangan Berlin - Singapore - Jakarta.

Ini beneran jujur lho ya, semua menu yang saya makan sewaktu terbang di Scoot rasanya enak karena kaya bumbu dan porsinya juga pas, nggak terlalu banyak dan nggak terlalu sedikit juga. Ada empat porsi makanan yang saya dapatkan di perjalanan Jakarta - Singapore - Berlin PP dan semuanya enak. Biasanya kan inflight meal penerbangan domestik kita itu ya biasa aja ya, nggak bikin berselera banget gimana gitu tapi yang Scoot ini beneran deh enak!

Legroom-nya lega nggak?

Karena tinggiku cuma 160cm, legroom-nya lega sekali untukku meski harus penerbangan direct jarak jauh. Namun buat yang tingginya lebih dari 180cm mungkin jadi terasa lebih sempit ya tapi tetap tergolong cukup lega untuk LCC. Kalau sudah terasa pegal biasanya aku jalan aja dulu di lorong pesawat, ke toilet meski kadang nggak mau buang air hahaha. Supaya nggak bengkak aja kakinya karena duduk terus kan.



Ini ketika penerbangan dari Singapore - Berlin.



Ini sewaktu penerbangan Berlin - SIngapore. Dapat extra leg room seat!

Nah, satu tips dari aku, buat kalian yang memang mau memilih extra leg room, bisa ketika melakukan pemesanan. Memang untuk extra leg room ada biaya extranya juga. Bisa dicek ketika nanti kalian memesan mau di kursi yang mana ya.





Ini kursi extra leg-room yang paling enak untuk long haul flight. Bisa selonjoran!

Harga tiketnya Scoot murah nggak sih?

Ya kalau LCC pastinya murah ya namun Scoot juga menawarkan produk full-service. Scoot memberikan beberapa pilihan harga yaitu; Fly (tanpa bagasi dan makanan, tapi termasuk jatah bagasi kabin 10kg), FlyBag (tambahan jatah bagasi check-in 20 kg), dan FlyBagEat (tarif FlyBag dengan tambahan makanan). Tinggal disesuaikan dengan kebutuhan kamu.







Untuk Jakarta ke Berlin, harganya dimulai dari 3 jutaan saja lho. Jika ingin menghemat, bisa saja kamu tidak beli bagasi (kalau memang barang bawaan kamu sedikit) saat berangkat dan nanti baru beli bagasi saat perjalanan pulang. Tapi saya sih tetap beli bagasi karena membawa peralatan gunung yang lumayan berat, jadi nggak bisa cuma mengandalkan jatah bagasi kabin meski 10kg juga lumayan ya.

Saya juga tetap menyarankan kalian untuk order meal karena nggak mungkin kalian tahan nggak makan selama 12 jam penerbangan kan?

Saat ini Scoot sudah memiliki 15 pesawat Boeing 787 Dreamliners dan 23 Airbus 320 yang melayani Lebih dari 60 rute di 17 negara yang teman-teman bisa cek di sini. Pastinya akan terus bertambah nih dan rencananya Scoot akan membuka beberapa rute domestik di Indonesia juga tahun depan.

Oh iya, satu yang saya suka dari Scoot ini adalah layanan Scootitude-nya, para flight-attendant yang ceria dengan kostum modern bernuansa kuning dan hitam. Meski lelah karena long haul flight, begitu tiba di Berlin, semua awak kabin tetap menyapa penumpang dengan gembira dan mengucapkan terima kasih. Super friendly!

Jadi, bisa dibilang bahwa penerbanganku ke Berlin dari Jakarta dengan Scoot sangat-sangat menyenangkan apalagi karena Scootitude-nya. Suasanya penerbangan jadi menyenangkan sekali karena Jika butuh apa-apa mereka dengan sigap membantu ditambah senyuman manis.

Oke, sudah tiba di Berlin, saatnya untuk eksplorasi. Cerita pertamanya sudah bisa dibaca di sini ya!

Jadi, mungkin kalian bisa rencanain terbang hemat ke Berlin pakai Scoot Airline juga ya. Hahahaha.

Ini ada beberapa pilihan rute menarik dari Scoot, mungkin ada destinasi impian kalian di bawah ini? Semoga tercapai ya semuanya.

Happy flying with Scoot!










Cheers,



7 Tips Jenius Menghalau Rasa Takut Solo Traveling untuk Perempuan




"Sat, Jenius BTPN beneran enak dipakai di luar negeri nggak sih? Agak was-was nih aku takut kartu debitku nggak bisa dipakai nanti buat ngetrip sendiri ke Eropa", tanya salah satu teman saya di DM Instagram. Saya jawab saja, berdasarkan pengalaman selama ini traveling ke berbagai negara, saya selalu pakai Kartu Debit Jenius BTPN untuk beragam transaksi dan sejauh ini puas dengan fitur-fiturnya. Buat yang sering solo travelling macam saya, Kartu Debit Jenius BTPN ini-lah yang jadi travel mate, travel buddy terbaik. Hahaha. Traveling jadi nyaman karena tinggal tap tap tap untuk bayar dan bisa kontrol pengeluaran via aplikasi Jenius.

Tapi sebagai perempuan yang senang berjalan sendiri, nggak cuma itu pertanyaan itu yang sering ditanyakan oleh dari teman-teman.

"Sat, nggak takut jalan-jalan di luar negeri sendirian, bahaya nggak sih buat perempuan?", adalah contoh pertanyaan lain yang sering ditanyakan.

Bukan hanya satu, ada banyak pesan serupa yang masuk di IG yang tentunya 100% penanya adalah perempuan. Bahkan ada juga yang bertanya tips agar diberikan izin untuk solo traveling oleh orang tua atau pasangannya.

Memang, jadi pejalan yang lebih sering solo, apalagi perempuan, adalah sebuah tantangan.

Dan, saya sangat suka tantangan! Hahahaha...

Entahlah, ada sesuatu yang membuat saya selalu bergairah ketika ingin melakukan solo traveling. Rasa cemas tentu ada, tapi rasa senang lebih mendominasi, karena setelah perjalanan selesai, ada perasaan puas, bangga pada diri sendiri karena berhasil  menyelesaikan tantangan itu.

Apakah setiap momen solo traveling yang saya jalani menyenangkan?

Oh tentu saja tidak!

Ada banyak pengalaman tidak mengenakkan yang saya alami dan tentu membuat kesenangan perjalanan saya berkurang. Mulai dari travel scam sampai pelecehan seksual pernah saya rasakan.

Apakah hal yang tidak enak itu membuat saya ingin berhenti traveling?

Oh tentu saja tidak! (2)

Karena saya menganggap semua itu bumbu perjalanan. Saat kejadian tidak mengenakkan itu, selalu ada suara di kepala "ngapain sih di sini? Ngapain sih mengundang bahaya buat diri sendiri?".

Namun, seiring waktu, saat saya mengingat masa-masa itu, saya malah tertawa dan menyadari kalau hal-hal itu nggak pernah terjadi, cerita perjalanan saya jadi kurang seru. Iya nggak sih? Hahahaha.

Jalan-jalan sendirian itu menyenangkan tapi kadang kalau foto sedih juga nggak ada yang fotoin hahahaha.


Tentunya saya tidak ingin hal-hal yang tidak mengenakkan itu terjadi lagi meskipun hal-hal tersebut kadang terjadi di luar kontrol kita. Saya belajar lagi, menganalisa kenapa hal tersebut terjadi, di saat kapan, di mana saya lalai dan berusaha untuk mengantisipasinya.

Antisipasi?

Antisipasi itu adalah hal-hal yang kita lakukan untuk menghindari hal-hal buruk terjadi kepada kita. Ketika kita akan berjalan sendirian, kita butuh perencanaan yang matang, nggak langsung "go show" aja ketika sudah punya tiket. 

Nah, apa saja sih yang harus disiapkan oleh perempuan ketika ingin solo traveling atau bepergian sendirian?

Ini dia beberapa tips dari saya yang semoga berguna untuk kalian semua;

1. Riset Perjalanan itu Penting

Setiap ingin bepergian ke luar negeri, saya pasti akan melakukan riset tentang destinasi yang ingin saya kunjungi. Di era teknologi canggih ini, saya senang betul risetnya semakin mudah dengan membuka peta via google maps / google earth untuk tahu posisi serta jarak tempuh. Dilanjutkan dengan riset cerita perjalanan lewat travel blog, instagram atau nonton travel vlog di youtube. Kenapa menurutku riset itu penting? Karena setidaknya kita punya gambaran tentang destinasi yang akan kita datangi jadi minimal nggak terlalu buta soal negara yang bersangkutan dan mengetahui beberapa tips tentang bepergian aman di negara tersebut.

2. Perencanaan Outfit Perjalanan yang Tepat

Ini sebenarnya bagian dari riset juga karena kita harus tahu di daerah tersebut bagaimana sih perempuan berpakaian sehari-hari. Kalau bisa kita mengikuti gaya berpakaian mereka, tetap sopan namun tetap catchy, menarik (karena kalian pasti pengen foto-foto cantik lalu posting dengan hashtag #OOTD kan? Hehehehehe). Destinasimu juga menentukan jenis outfit yang harus dipakai karena misalnya kamu ingin memasuki bangunan cagar budaya atau rumah ibadah, kamu sudah tahu pakaian seperti apa yang harus dikenakan? *wink

Ya semacam menentukan pakaian trekking di luar negeri juga harus riset dulu soal medan dan cuacanya seperti apa, jangan salah kostum ya.


3. Pilih Penginapan yang Ramah dan Aman buat Perempuan

Ketika traveling ke luar negeri sendirian, kita pasti ingin memilih penginapan yang nyaman dan harganya ramah di kantong. Nah, dilema pasti ada karena biasanya yang nyaman, harganya lumayan. Kemarin, saya memilih untuk menginap di AirBnB dan hostel yang punya ruangan khusus "female dormitory" yang biasanya hanya 6-8 perempuan di satu kamar. Tapi, belum tentu aman juga lho ya. Kejahatan itu juga bisa dilakukan oleh sesama perempuan. Jadi, kalau bisa di dalam hostel Jangan membiarkan barang terserak sembarangan, selalu bawa gembok kecil sendiri jika ingin menyimpan barang di locker ya.

Selama di Eropa kebanyakannya aku memilih hostel dan AirBnB untuk menghemat hehehe, carinya yang female dormitory ya...


4. Ramah Boleh, Waspada Harus

Ini juga menjadi salah satu tantangan bagi pejalan solo, baik buat perempuan maupun laki-laki. Karena kita sendirian, kita lebih leluasa berjalan, berkenalan dengan orang baru dan berinteraksi, tapi kita juga harus hati-hati. Orang Indonesia terkenal dengan keramahtamahannya dan sayangnya saat ini menjadi titik lemah yang dimanfaatkan orang-orang jahat di luar negeri. Dicopet, dihipnotis dan beberapa kemalangan lainnya sering terjadi, terutama kepada solo traveler dari Asia, khususnya Asia Tenggara. 

Syukurlah hal-hal tersebut belum pernah terjadi kepada saya (dan semoga tidak pernah terjadi). Kalau sudah mengenal saya atau bertemu saya langsung, pasti tahu bahwa saya sangat senang mengobrol dengan siapa saja karena memang saya senang bisa bertukar cerita dengan siapa saja. Namun ketika saya bepergian ke luar negeri, saya mengasah naluri saya untuk merasa apakah orang yang mengajak saya ngobrol itu punya intensi baik atau buruk. 

Sewaktu saya jalan sendirian, pasti ada saja yang menghampiri dan mengajak saya ngobrol namun saya tahu tidak semua dari mereka itu ingin menjadi teman saya. Ada yang juga berusaha atau terlihat berniat jahat karena tahu saya perempuan dan berasal dari Asia. Nggak cuma laki-laki lho, tapi perempuan juga bisa memanipulasi. Jadi, selalu awas dan waspada ya dimana pun kita berada. 

Syukurlah selama di perjalanan, saya lebih banyak dipertemukan orang baik. From stranger turns to family, more than friends.



5. Travel Cashless with Jenius BTPN

Nah, yang aku maksud ini bukan traveling tanpa uang ya hahahaha, melainkan kita harus bisa menyimpan uang dengan cerdas saat melakukan perjalanan. Di beberapa negara maju, rata-rata sudah cashless, cukup pakai kartu debit atau kredit. Saya sendiri sudah memercayakan transaksi perjalanan saya pada Kartu Debit Jenius yang selalu jadi andalan ketika sendiri bepergian, di mana saja.

Sebagai contoh, selama di Eropa 1,5 bulan saya hanya membawa cash EUR 200 dan sisanya tinggal pakai Kartu Debit Jenius untuk bayar public transport, pesan akomodasi, bayar makanan di restoran sampai bayar toilet umum! Hahahahaha, gila, multi fungsi sekali kan?

Berkat Jenius BTPN, aku merasa nyaman melakukan transaksi di luar negeri dan merasa sangat terbantu dengan fitur-fiturnya, it's definitely my favorite card, my travel buddy! Simpler life, happier you!

6. Bawa Tas Anti Maling

Perempuan yang berjalan sendirian biasanya menjadi sasaran empuk kejahatan sehingga kita harus lebih ekstra proteksi diri sendiri. Selama jalan, biasanya saya selalu membawa ransel yang isinya kamera dan perintilannya, botol air minum, buku dan topi. 

Sewaktu di Eropa (yang terkenal dengan copetnya) aku bawa gembok khusus untuk tas ranselku dan membawa tas kecil di bagian depan untuk menyimpan kartu dan printilan semacam lipbalm, kacamata, dll. Oleh karenanya kita juga jangan menaruh semua uang kita (kartu kita) di satu tempat atau satu tas ya untuk mengantisipasi maling.

7. Pastikan Selalu Terhubung dengan Koneksi Internet

Saya pernah bertemu dengan seorang perempuan yang juga sedang jalan sendirian dan saat kami mengobrol, dia bilang bahwa dia hanya mengandalkan koneksi wifi di penginapan jika ingin berkomunikasi dari luar negeri atau update foto di social media. Rasa-rasanya itu adalah keputusan yang kurang tepat karena jika kamu jalan sendirian, pastikan ponselmu selalu punya internet aktif. Katanya mahal beli simcard di luar negeri, padahal ada opsi wifi portable lho sekarang yang harganya cuma sekitar 60-80 ribu saja per hari. 

Buat saya pribadi, lebih baik mengalokasikan sebagian dana makan untuk internet karena kalau ada apa-apa, kita bisa meminta bantuan segera lewat chat / telpon kan?

Nah, satu informasi penting buat teman-teman adalah tetap terhubung dengan negeri sendiri lewat menginstall aplikasi yang diinisiasi Kementerian Luar Negeri yaitu "Safe Travel" yang sudah tersedia di Apple Store atau Google Play. 

Dua aplikasi yang penting buat kamu yang suka solo travelimg, apalagi ke luar negeri.


Di aplikasi ini, kita bisa mengakses informasi tentang kondisi terkini tentang negara yang kita tuju, perbedaan waktu, kondisi keamanan, hukum dan kebiasaan setampat, persyaratan keimigrasian, kesehatan, pelayanan di KBRI / KJRI / KRI, tempat ibadah sampai kuliner Indonesia di negeri asing. 

Selain itu, ada dua fitur yang menurutku sangat berguna buat kita, terutama yang bepergian sendiri yakni fitur pelaporan yang berisi petunjuk untuk mendapatkan dokumen pengganti sementara jika paspor kita hilang (dijaga baik-baik yaaa makanya paspor kita) jadi tidak terlalu panik dan masih bisa pulang ke Indonesia.

Karena app-nya baru launching, saya belum sempat mengisi negara mana saja yang sudah saya kunjungi hahaha.

Ini dia beberapa fitur penting yang ada di dalam aplikasi Safe Travel. Berguna sekali untuk riset negara yang akan kita tuju.

Fitur satu lagi bernama fitur "Darurat" yang bisa kita gunakan untuk meminta pertolongan cepat dalam kondisi yang membahayakan jiwa. Pengguna bisa mengirimkan lokasi, merekam video dan menelepon KBRI / KJRI / KRI terdekat, agar kamu segera ditolong.

Jujur saya senang sekali ketika aplikasi ini diluncurkan, serasa terkena angin segar. Sebagai perempuan yang sering solo traveling, aplikasi ini penting sekali buat saya, buat kamu, buat kita semua. Tentu tidak hanya untuk para pejalan, tetapi juga masyarakat Indonesia yang sedang menjalankan studi atau bekerja di luar negeri.

Kalau sudah ada aplikasi "Safe Travel" ini di handphone kita masing-masing, pasti rasa AMAN saat traveling ke luar negeri lebih terjamin. 

Nah, ini dia link untuk download aplikasi Jenius ( Android | iOS ) dan untuk download aplikasi Safe Travel ( Android | iOS ). Silakan kalian unduh jika memang belum punya dua aplikasi ini ya.

Semoga dengan mengikuti 7 tips di atas, kalian perempuan bisa berani untuk solo traveling ke benua nan jauh di sana dan tetap bisa jalan-jalan dengan aman dan nyaman!



Cheers,




Ku Ngai Ko Selayar Island, Pantai Tosca Memesona di Ujung Selatan Sulawesi




"Kak Sat, rencana ke Latimojong-nya ditunda aja, mending ke Selayar yuk!", ujar Rafdy via DM Instagram.

Hmmm. Selayar. Menarik!

"Mau sama siapa aja? Aku cuma punya 4 hari free nih sebelum terbang ke Jogja. Memangnya cukup waktunya?", jawab saya.

"Iya cukup kok, coba aku tanya teman-teman dulu siapa yang mau ikut ya!", jawab Rafdy lagi.

Begitulah percakapan awal kami tentang rencana eksplorasi Kepulauan Selayar, yang sudah lama ada di daftar bucket list saya. Mungkin beberapa dari kalian lebih familiar dengan nama Takabonerate ya? Atau bahkan belum pernah mendengar dua-duanya?

Oke, semoga artikel yang ini membuat kalian tergoda untuk berkunjung ke Kepulauan Selayar ya!

Akhirnya kami sepakat berangkat ke Selayar berempat saja; Rafdy, Alam, Erwin dan tentu saja saya. Dengan adanya 4 supir alias semuanya bisa menyetir, tidak perlu khawatir untuk road trip yang agak jauh karena bisa gantian kan.

Kami berangkat meninggalkan Makassar menuju Selayar tepat jam 12 malam. Alasannya? Supaya tidak terkena macet di jalan dan memang karena kami baru pulang dari acara Festival Pesona Lokal Makassar yang baru selesai pukul 11 malam.

Untuk menuju Selayar dari Makassar sebenarnya ada dua jalur, udara dan darat+laut.  Ya, ada bandara kok di Selayar dan ada dua maskapai yang melayani rute Makassar - Selayar (bisa dari Jakarta juga) yaitu Lion Air dan Transnusa. Namun kami memilih untuk menyetir dengan mobilnya Alam dilanjutkan menyeberang dengan kapal ferry. Selain bisa membawa barang lebih banyak, juga akan mempermudah kami untuk berkeliling pulau Selayar dan tidak mengeluarkan biaya ekstra untuk sewa mobil / motor lagi di sana.

Untuk menyeberang ke Selayar, kita harus menuju ke Pelabuhan Bira dulu. Dari Makassar, waktu tempuhnya sekitar 4-5 jam saat malam hari dan bisa lebih dari itu saat siang hari. Kami sempat mampir ke rumah teman baik kami, Dian, di Bulukumba, namun saya hampir tidak ingat apa-apa karena saya berjalan sambil tidur sepertinya. Hahaha.

Pelabuhan Pamatata, Selayar


Begitu tiba di Pelabuhan Bira, ternyata kami dapat antrian mobil nomor 24. Waaaaaa! Kapal masih berangkat 3 jam lagi (jam 9 pagi) tapi kok antriannya sudah panjang sekali. Ternyata memang ada banyak mobil, bus dan truk yang menyeberang dan bahkan mereka sudah menginap dari malam sebelumnya.

Jadwal kapal penyeberangan Bira - Selayar ada dua yaitu pukul 9 pagi dan 2 siang dan waktu penyeberangannya sekitar 2 jam. Kami berencana untuk naik kapal pagi agar bisa langsung eksplor Selayar di hari itu juga dan nggak kesorean.

Namun melihat nomor antrian kami dan banyaknya mobil yang sudah antri semalaman, kami tidak yakin bisa dapat giliran menyeberang pagi.

Harap harap cemas pun sirna ketika nomor antrian kami dipanggil lewat toa. 2 nomor di depan kami ternyata tidak muncul ketika dipanggil dan kami masuk ke kapal pagi sebagai mobil terakhir, penutup! Beruntung sekali ya! Hahahahaha.

Saking lelahnya karena kurang tidur dari Makassar, kami ketiduran dengan kepala tertelungkup di meja atas kapal dan terbangun saat klakson kapal berbunyi 3 kali, pertanda kapal akan segera sandar di Selayar. 

Walau masih setengah mengantuk, saya mencoba berdiri dan begitu melihat warna lautnya langsung segar dan menjerit dalam hati. 

"Waaaaaaaa bagus sekali warna biru lautnyaaaaaa!"




Cuaca di Selayar sedang cerah-cerahnya seolah-olah menyambut kedatangan kami dengan gembira. Pelabuhan Pamatata sudah penuh dengan mobil yang akan menjemput penumpang dan mengantar ke Benteng, Ibukota Kabupaten Selayar yang bisa dicapai dengan kendaraan bermotor selama 1 jam.

Sampai di Benteng, kami bertemu dengan teman-teman di Selayar; Bayu dan Amal yang juga menemani kami eksplor Selayar. 

Nah, eksplor apa saja yang enak di Selayar ya?


Ini dia...

Di hari pertama saat baru tiba, kami memang hanya bersantai di Benteng, makan, ngobrol dan santai-santai di tepi pantai sambil makan pisang goreng dan "Saraba" (bandrek telur). 



Di hari kedua kami island hopping ke beberapa pulau di sekitaran Selayar. Iya, Selayar ini memang terdiri dari gugusan pulau dan tidak bisa dikunjungi semuanya dalam satu hari. Jadilah Bayu menyusunkan itinerary dan merekomendasikan untuk pergi ke Pantai Balojaha, Goa Balojaha / Liang Bodong, Pantai Liang Kareta, Pantai Liang Tarusu saja di hari pertama dan butuh waktu seharian di sana. 

Begitu kami bertolak dengan kapal klotok / jukung dari Pelabuhan Padang, wuwuwuwu biru lautnya menggoda sekali. 





Sampai di Pantai Balojaha, kami harus berjalan sekitar 15 menit ke bagian dalam pulau untuk melihat Liang Bodong, goa dengan air jernih yang dingin. Kami pun berenang gembira di Liang Bodong, senang karena tidak ada orang lain selain kami waktu itu. Puas-puasin deh! 


Dari Liang Balojaha, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Liang Kareta dan Liang Tarusu. Sama-sama cantik pantainya, enak untuk berjemur dan berenang santai karena lautnya tenang sekali.



Sore harinya, sepulang dari island hopping, kami menanti senja di Sunari Resort yang bisa ditempuh 20 menit dari pusat Benteng. Ada ayunan  besar yang memang diinginkan Rafdy untuk menjadi spot foto dan kami memang tidak menyesal karena senja dan ayunan di pulau kelapa membuat hari itu ditutup sempurna.




Di hari ketiga kami island hopping ke sisi lain Pulau Selayar yaitu Pulau Bahuluang, Makam Karang, Liang Lipang. Jaraknya memang cukup jauh dari Benteng karena kita harus berkendara sekitar 1,5 jam dulu ke sisi pantai tempat kita akan dijemput kapal dan bertolak ke Bahuluang. Usahakan berangkat dari jam 7 pagi agar tidak terlalu kesiangan dan pulangnya tidak kesorean karena air pantai yang surut jauh akan menyulitkan kapal untuk sandar dan ingat perjalanan daratnya masih cukup jauh untuk pulang ke Benteng. 





Di hari keempat kami sudah harus menyeberang ke Bira dan melanjutkan perjalanan ke Makassar jadi saya cuma sempatin mampir ke Pasar lokal dan ke Kampung Tua Bitombang (nanti ada artikel sendiri ya untuk ini). Kami putuskan begitu agar tidak was-was tidak kebagian slot kapal ferry dan saya tidak ketinggalan pesawat ke Jogja. Hahahaha.

Inginnya sih berlama-lama di Selayar karena sebenarnya ada banyak sekali destinasi cantik luar biasa yang belum kami datangi. Apalagi kemarin cuaca sedang bagus-bagusnya, cerah biru dan visibility laut juga bagus betul!

Masih ada Pulau Palossi, Tinabo, Takabonerate dan banyak lagi! sebenarnya yang ingin kami kunjungi. Namun karena waktunya tidak cukup jadi ya harus legowo buat menjadwalkan ulang hahaha.

Oh iya, untuk penginapan, kami berempat menginap di "Rumah Teman", bukan rumah teman ya. Hahahaha.

Memang nama homestay-nya "Rumah Teman" dan kami suka sekali dengan penginapan ini karena kayak di rumah sendiri, kamarnya cukup besar, bersih dan wangi sekali, sudah termasuk makan pagi dan harganya hanya Rp 200.000 per malam atau jadinya Rp 100.000 per orang. Super good deal kan?



Untuk makanan, satu orang merogoh kocek kurang lebih Rp 35.000 per sekali makan dan itu enak binggow! Favorit kami sih Nasi Santan dan Ikan Kerapu Goreng di RM Nasi Santan Agus, yang lokasinya tepat di depan homestay kami. Cuma beberapa langkah saja sudah sampai.

Overall, perjalanan kami di di Selayar sangat-sangat menyenangkan. Bulan terbaik untuk berkunjung sebenarnya di bulan April - September. Jadi kami bisa bilang kami sedang beruntung sekali karena Oktober biasanya sudah mulai masuk musim hujan. Oh iya ada Festival Takabonerate di Kepulauan Selayar yang diadakannya tanggal 24-28 Oktober 2019 ini lho.

Mana tahu kalian mau datang ya boleh banget karena pasti bisa dapat seremonial tarian daerah dan bisa selebrasi meriah bersama masyarakat lokal. Tapi kalau mau menjadwalkan kunjungannya tahun depan juga monggo!

Saranku sih 5 hari ya minimal kalau mau eksplorasi banyak tempat di Selayar. Kalau mau lama ya boleh juga, sebulan gitu, hahahaha.

Untuk gambaran biaya kemarin pengeluaran kami :


Biaya menyeberang pakai ferry dengan mobil : Rp 475.000 per mobil, per sekali nyeberang (Sudah termasuk dengan penumpangnya). Jadi PP Rp 950.000.

Biaya bahan bakar Makassar - Selayar - Makassar : Rp 500.000 karena tiga kali isi.

Biaya akomodasi : Rp 200.000 per malam, dengan maksimal 2 orang per kamar.

Biaya Island Hopping : Untuk sewa kapal harganya berkisar Rp 350.000 sampai Rp 1.5 juta tergantung Jenis kapalnya dan destinasinya mau ke mana saja.

Biaya makan : Sekitar Rp 35.000 per orang per sekali makan. Ada banyak sekali tempat makan di Selayar yang bisa kamu pilih dengan menu utamanya tentu saja seafood! Wow segar sekali semua hidangan lautnyaaaaaa.

Kalau mau naik pesawat, Tiket PP Jakarta - Selayar itu sekitar 3,7 - 4.5 juta rupiah dan pastinya harganya berubah-ubah tergantung musimnya. Silakan dicari tiketnya di Traveloka ya!

Jadi, sudah lengkap ya info yang kalian butuhkan? Mau ke Selayar? Langsunggggggggg cus aja (nabung dulu tapi ya) dan silakan menikmati keindahan pulau paling paling selatannya Sulawesi Selatan ini.


Cheers,



Bagaimana Cara Menjadi Traveler yang Nggak Gampang Sakit





Selama hampir 11 tahun ngeblog dan wara-wiri traveling, salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapat adalah:

"Kok lo jarang sakit sih Sat padahal jalan mulu, bentar-bentar loncat sana loncat sini?"

Kalau dipikir-pikir iya juga ya. Sudah beberapa tahun ini saya jarang sekali sakit. Paling cuma kelelahan terus dibawa tidur. Saya tahu bahwa bekerja sebagai Travel Content Creator itu harus punya stamina yang baik karena pekerjaan ini sangat mengandalkan fisik. Harus tahan panas dan kuat dingin.

Tapi, terkena sakit yang agak parah juga pernah kok. 

Masih terekam jelas di ingatan saya, 5 tahun lalu terbaring di rumah sakit setelah demam beberapa hari. Tetap "keukeuh" bilang ke diri sendiri itu cuma demam biasa, satu teman menyeret saya ke Rumah Sakit untuk diperiksa dokter.

"Lo emang bebal ye kalau disuruh merhatiin kesehatan, disuruh ke dokter saja susah", omelnya sambil membonceng saya di belakang motor ke rumah sakit. Saya hanya diam saja tak membantah sambil menggigil meriang.

Setelah selesai cek darah, diketahui saya terkena demam tifoid (tipes) dan harus opname karena saya sudah membiarkannya berhari-hari dan menjadi agak parah.

Kondisinya waktu itu saya baru saja pulang roadtrip dari Flores, naik motor sendirian, makan sesuka hati, nggak peduli sama sekali soal bagaimana makanan itu dimasak. Toh, sudah biasa jajan kaki lima, ngapain peduli? Dari dulu sehat-sehat aja dan nggak pernah sakit.

Dan...

Dor! 

Kena juga akhirnya, hahahahaha...

Syukurlah setelah opname 4 hari, saya sudah diizinkan pulang, lengkap dengan resep obat yang harus dihabiskan dan wejangan dokter untuk tidak sering-sering makan di kaki lima.

"Hati-hati ya Satya, kalau sudah sekali kena tipes, dia bisa kambuh lagi kalau kepancing dengan makanan yang kurang bersih. Jadi jangan sepele", ujar dokter saya waktu itu.

Akhirnya dikurangilah makan gorengan dan mie ayam gerobakan di tepi jalan. Tapi kalau lagi kepengen ya dimakan juga hahahaha. 

Ya soalnya susah untuk saya mengontrol makanan yang dimakan harus bersih dan sehat karena seringnya bepergian. Kadang kalau sempat ya masak sendiri tapi tetap saja lebih sering beli makanan yang sudah jadi.

Masak sendiri paling sering ya kalau pas naik gunung.


Pun nggak lengkap kan rasanya kalau traveling ke suatu tempat tapi nggak nyobain kuliner lokalnya?

Masalahnya, kita juga harus waspada dengan penyakit-penyakit yang mengintai kita saat traveling, khususnya pas wisata kuliner. Kita biasanya pengen nyoba semuanya, apalagi yang street food karena Katanya yang punya rasa otentik itu ya yang di tepi-tepi jalan.

Mana bisa aku menahan godaan jajanan di Food Street Market!


Siapalah yang bisa menolak kelezatan sup ikan ini ya kan?

Makanya waktu traveling ke India kemarin saya sebenarnya ketar-ketir ketika mau mencoba makanan di pinggir jalan. 'Gol Gappa' adalah penganan favorit saya yang dijajakan di setiap sudut. Enak banget! Jadilah ketagihan makan makanan itu sambil berbisik ke diri sendiri, jangan sampai sakit ya, tipes kamu jangan kambuh ya.



Biasanya penyakit yang sering menghampiri kita saat traveling adalah Hepatitis A dan Demam Tifoid karena kedua penyakit ini ditularkan lewat makanan atau peralatan makanan yang kurang bersih. Kita yang sering traveling ini beresiko 19 kali lebih besar untuk tertular.

Eh, nggak cuma lewat makanan atau peralatan makan saja sebenarnya, Kita bisa tertular lewat makanan mentah / kurang matang, es batu, makanan matang yang sudah terkontaminasi, tidak cuci tangan sebelum makan, saat sikat gigi (kalau pakai sikat gigi orang lain) dan saat pakai toilet umum.

Jika kita terkena kedua penyakit tadi, Hepatitis A dan demam tifoid, dan tidak segera ditangani medis segera, bisa berakibat fatal untuk kita seperti infeksi hati atau usus bocor.

Bagaimana kita tahu kalau kita terkena Hepatitis A dan demam tifoid ini?

  • Gejala penyakit hepatitis A adalah demam, lesu, mual, hilang nafsu makan, kulit dan mata berwarna kuning, sakit perut, muntah, tinja dan urin berwarna gelap.
  • Faktor yang berpengaruh terhadap keparahan penyakit ini adalah usia. Dimana semakin tua umur seseorang, semakin berat gejalanya.
  • Hepatitis A biasanya berlangsung selama 3-6 minggu dan masa penyembuhan secara klinis dan biokimiawi memerlukan waktu selama 6 bulan.

Untuk demam tifoid, biasanya gejalanya adalah:

  • Suhu tubuh perlahan tinggi setiap harinya (step ladder) terutama menjelang sore dan sulit turun walau sudah diberikan penurun panas serta adanya bercak merah sehingga dibutuhkan pemeriksaan lab untuk memastikan (nah ini yang terjadi sama aku kemarin)
  • Gejala umumnya adalah demam tinggi, sakit kepala, mual, sakit perut, hilang nafsu makan, sembelit atau diare.
  • Gejala muntah dan tidak mau minum malah bisa menyebabkan dehidrasi yang berakibat pada penurunan kesadaran dan gejala yang lebih berat. 
  • Di akhir minggu kedua atau awal minggu ketiga sering kali muncul komplikasi seperti peritonitis dan perdarahan pada saluran cerna, bahkan bisa terjadi kebocoran usus.


Saya memang sudah terkena demam tifoid dan baru sekali saja. Semoga tidak kambuh lagi ya dan tidak sampai terjangkit Hepatitis A dari aktivitas saya yang selalu bepergian.

Nah, kalau di atas tadi sudah membahas gejalanya, mari kita obrolin cara pencegahannya. Ini dia beberapa yang bisa kita lakukan.


  • Mencuci tangan sebelum makan. Cuci tangan yang baik dan benar adalah yang durasinya 40 detik dan melakukan 7 gerakan.
  • Tidak mengonsumsi makanan sembarangan (nah ini dia yang agak susah ya).
  • Merebus air hingga mendidih dan makanan dimasak matang sempurna.




Selain cara-cara di atas, salah satu cara pencegahan yang ampuh adalah dengan vaksinasi. Kita bisa mendapatkan vaksin Hepatitis A dan demam tifoid di rumah sakit besar. Baiknya dilakukan 2 minggu sebelum traveling atau wisata kuliner agar vaksinnya bisa bekerja dengan sempurna.

Vaksin ini diberikan lewat suntikan dan menimbulkan kekebalan dalam darah untuk melindungi kita dari resiko penyakit Hepatitis A dan demam tifoid, mencegah penyebaran penyakit dan meningkatkan antibodi tubuh. Vaksin adalah langkah awal untuk pencegahan terhadap penyakit-penyakit tersebut dan melindungi kita hingga puluhan tahun. Vaksin Hepatitis A bisa bertahan hingga 30 tahun dan vaksin demam tifoid bertahan hingga 2 tahun.

Begitu dapat informasi itu, saya langsung mengontak rumah sakit di dekat tempat tinggal untuk membuat janji vaksinasi. Kabar terbarunya saat ini mereka sedang mengusahakan untuk mendatangkan stok vaksin. Semoga bulan ini sudah bisa vaksin yah dan nanti dikabarin. 

Biar jadi traveler yang nggak gampang sakit ya memang harus kembali lagi ke kebiasaan hidup sehat dan vaksin sebagai tindakan preventif. Amit-amitttt ya terkena demam tifoid lagi atau Hepatitis A. Ya nggak cuma dua penyakit itu saja karena masih banyak penyakit lainnya dan semoga kita terhindar dari semuanya ya.

Mungkin ada dari teman-teman yang belum mengerti betul manfaat dari vaksin ini, mungkin bisa baca-baca informasinya di akun IG @kenapaharusvaksin yaaaa...


Cheers,