Friday, October 18, 2019

Ku Ngai Ko Selayar Island, Pantai Tosca Memesona di Ujung Selatan Sulawesi

Friday, October 18, 2019 0 Comments



"Kak Sat, rencana ke Latimojong-nya ditunda aja, mending ke Selayar yuk!", ujar Rafdy via DM Instagram.

Hmmm. Selayar. Menarik!

"Mau sama siapa aja? Aku cuma punya 4 hari free nih sebelum terbang ke Jogja. Memangnya cukup waktunya?", jawab saya.

"Iya cukup kok, coba aku tanya teman-teman dulu siapa yang mau ikut ya!", jawab Rafdy lagi.

Begitulah percakapan awal kami tentang rencana eksplorasi Kepulauan Selayar, yang sudah lama ada di daftar bucket list saya. Mungkin beberapa dari kalian lebih familiar dengan nama Takabonerate ya? Atau bahkan belum pernah mendengar dua-duanya?

Oke, semoga artikel yang ini membuat kalian tergoda untuk berkunjung ke Kepulauan Selayar ya!

Akhirnya kami sepakat berangkat ke Selayar berempat saja; Rafdy, Alam, Erwin dan tentu saja saya. Dengan adanya 4 supir alias semuanya bisa menyetir, tidak perlu khawatir untuk road trip yang agak jauh karena bisa gantian kan.

Kami berangkat meninggalkan Makassar menuju Selayar tepat jam 12 malam. Alasannya? Supaya tidak terkena macet di jalan dan memang karena kami baru pulang dari acara Festival Pesona Lokal Makassar yang baru selesai pukul 11 malam.

Untuk menuju Selayar dari Makassar sebenarnya ada dua jalur, udara dan darat+laut.  Ya, ada bandara kok di Selayar dan ada dua maskapai yang melayani rute Makassar - Selayar (bisa dari Jakarta juga) yaitu Lion Air dan Transnusa. Namun kami memilih untuk menyetir dengan mobilnya Alam dilanjutkan menyeberang dengan kapal ferry. Selain bisa membawa barang lebih banyak, juga akan mempermudah kami untuk berkeliling pulau Selayar dan tidak mengeluarkan biaya ekstra untuk sewa mobil / motor lagi di sana.

Untuk menyeberang ke Selayar, kita harus menuju ke Pelabuhan Bira dulu. Dari Makassar, waktu tempuhnya sekitar 4-5 jam saat malam hari dan bisa lebih dari itu saat siang hari. Kami sempat mampir ke rumah teman baik kami, Dian, di Bulukumba, namun saya hampir tidak ingat apa-apa karena saya berjalan sambil tidur sepertinya. Hahaha.

Pelabuhan Pamatata, Selayar


Begitu tiba di Pelabuhan Bira, ternyata kami dapat antrian mobil nomor 24. Waaaaaa! Kapal masih berangkat 3 jam lagi (jam 9 pagi) tapi kok antriannya sudah panjang sekali. Ternyata memang ada banyak mobil, bus dan truk yang menyeberang dan bahkan mereka sudah menginap dari malam sebelumnya.

Jadwal kapal penyeberangan Bira - Selayar ada dua yaitu pukul 9 pagi dan 2 siang dan waktu penyeberangannya sekitar 2 jam. Kami berencana untuk naik kapal pagi agar bisa langsung eksplor Selayar di hari itu juga dan nggak kesorean.

Namun melihat nomor antrian kami dan banyaknya mobil yang sudah antri semalaman, kami tidak yakin bisa dapat giliran menyeberang pagi.

Harap harap cemas pun sirna ketika nomor antrian kami dipanggil lewat toa. 2 nomor di depan kami ternyata tidak muncul ketika dipanggil dan kami masuk ke kapal pagi sebagai mobil terakhir, penutup! Beruntung sekali ya! Hahahahaha.

Saking lelahnya karena kurang tidur dari Makassar, kami ketiduran dengan kepala tertelungkup di meja atas kapal dan terbangun saat klakson kapal berbunyi 3 kali, pertanda kapal akan segera sandar di Selayar. 

Walau masih setengah mengantuk, saya mencoba berdiri dan begitu melihat warna lautnya langsung segar dan menjerit dalam hati. 

"Waaaaaaaa bagus sekali warna biru lautnyaaaaaa!"




Cuaca di Selayar sedang cerah-cerahnya seolah-olah menyambut kedatangan kami dengan gembira. Pelabuhan Pamatata sudah penuh dengan mobil yang akan menjemput penumpang dan mengantar ke Benteng, Ibukota Kabupaten Selayar yang bisa dicapai dengan kendaraan bermotor selama 1 jam.

Sampai di Benteng, kami bertemu dengan teman-teman di Selayar; Bayu dan Amal yang juga menemani kami eksplor Selayar. 

Nah, eksplor apa saja yang enak di Selayar ya?


Ini dia...

Di hari pertama saat baru tiba, kami memang hanya bersantai di Benteng, makan, ngobrol dan santai-santai di tepi pantai sambil makan pisang goreng dan "Saraba" (bandrek telur). 



Di hari kedua kami island hopping ke beberapa pulau di sekitaran Selayar. Iya, Selayar ini memang terdiri dari gugusan pulau dan tidak bisa dikunjungi semuanya dalam satu hari. Jadilah Bayu menyusunkan itinerary dan merekomendasikan untuk pergi ke Pantai Balojaha, Goa Balojaha / Liang Bodong, Pantai Liang Kareta, Pantai Liang Tarusu saja di hari pertama dan butuh waktu seharian di sana. 

Begitu kami bertolak dengan kapal klotok / jukung dari Pelabuhan Padang, wuwuwuwu biru lautnya menggoda sekali. 





Sampai di Pantai Balojaha, kami harus berjalan sekitar 15 menit ke bagian dalam pulau untuk melihat Liang Bodong, goa dengan air jernih yang dingin. Kami pun berenang gembira di Liang Bodong, senang karena tidak ada orang lain selain kami waktu itu. Puas-puasin deh! 


Dari Liang Balojaha, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Liang Kareta dan Liang Tarusu. Sama-sama cantik pantainya, enak untuk berjemur dan berenang santai karena lautnya tenang sekali.



Sore harinya, sepulang dari island hopping, kami menanti senja di Sunari Resort yang bisa ditempuh 20 menit dari pusat Benteng. Ada ayunan  besar yang memang diinginkan Rafdy untuk menjadi spot foto dan kami memang tidak menyesal karena senja dan ayunan di pulau kelapa membuat hari itu ditutup sempurna.




Di hari ketiga kami island hopping ke sisi lain Pulau Selayar yaitu Pulau Bahuluang, Makam Karang, Liang Lipang. Jaraknya memang cukup jauh dari Benteng karena kita harus berkendara sekitar 1,5 jam dulu ke sisi pantai tempat kita akan dijemput kapal dan bertolak ke Bahuluang. Usahakan berangkat dari jam 7 pagi agar tidak terlalu kesiangan dan pulangnya tidak kesorean karena air pantai yang surut jauh akan menyulitkan kapal untuk sandar dan ingat perjalanan daratnya masih cukup jauh untuk pulang ke Benteng. 





Di hari keempat kami sudah harus menyeberang ke Bira dan melanjutkan perjalanan ke Makassar jadi saya cuma sempatin mampir ke Pasar lokal dan ke Kampung Tua Bitombang (nanti ada artikel sendiri ya untuk ini). Kami putuskan begitu agar tidak was-was tidak kebagian slot kapal ferry dan saya tidak ketinggalan pesawat ke Jogja. Hahahaha.

Inginnya sih berlama-lama di Selayar karena sebenarnya ada banyak sekali destinasi cantik luar biasa yang belum kami datangi. Apalagi kemarin cuaca sedang bagus-bagusnya, cerah biru dan visibility laut juga bagus betul!

Masih ada Pulau Palossi, Tinabo, Takabonerate dan banyak lagi! sebenarnya yang ingin kami kunjungi. Namun karena waktunya tidak cukup jadi ya harus legowo buat menjadwalkan ulang hahaha.

Oh iya, untuk penginapan, kami berempat menginap di "Rumah Teman", bukan rumah teman ya. Hahahaha.

Memang nama homestay-nya "Rumah Teman" dan kami suka sekali dengan penginapan ini karena kayak di rumah sendiri, kamarnya cukup besar, bersih dan wangi sekali, sudah termasuk makan pagi dan harganya hanya Rp 200.000 per malam atau jadinya Rp 100.000 per orang. Super good deal kan?



Untuk makanan, satu orang merogoh kocek kurang lebih Rp 35.000 per sekali makan dan itu enak binggow! Favorit kami sih Nasi Santan dan Ikan Kerapu Goreng di RM Nasi Santan Agus, yang lokasinya tepat di depan homestay kami. Cuma beberapa langkah saja sudah sampai.

Overall, perjalanan kami di di Selayar sangat-sangat menyenangkan. Bulan terbaik untuk berkunjung sebenarnya di bulan April - September. Jadi kami bisa bilang kami sedang beruntung sekali karena Oktober biasanya sudah mulai masuk musim hujan. Oh iya ada Festival Takabonerate di Kepulauan Selayar yang diadakannya tanggal 24-28 Oktober 2019 ini lho.

Mana tahu kalian mau datang ya boleh banget karena pasti bisa dapat seremonial tarian daerah dan bisa selebrasi meriah bersama masyarakat lokal. Tapi kalau mau menjadwalkan kunjungannya tahun depan juga monggo!

Saranku sih 5 hari ya minimal kalau mau eksplorasi banyak tempat di Selayar. Kalau mau lama ya boleh juga, sebulan gitu, hahahaha.

Untuk gambaran biaya kemarin pengeluaran kami :


Biaya menyeberang pakai ferry dengan mobil : Rp 475.000 per mobil, per sekali nyeberang (Sudah termasuk dengan penumpangnya). Jadi PP Rp 950.000.

Biaya bahan bakar Makassar - Selayar - Makassar : Rp 500.000 karena tiga kali isi.

Biaya akomodasi : Rp 200.000 per malam, dengan maksimal 2 orang per kamar.

Biaya Island Hopping : Untuk sewa kapal harganya berkisar Rp 350.000 sampai Rp 1.5 juta tergantung Jenis kapalnya dan destinasinya mau ke mana saja.

Biaya makan : Sekitar Rp 35.000 per orang per sekali makan. Ada banyak sekali tempat makan di Selayar yang bisa kamu pilih dengan menu utamanya tentu saja seafood! Wow segar sekali semua hidangan lautnyaaaaaa.

Kalau mau naik pesawat, Tiket PP Jakarta - Selayar itu sekitar 3,7 - 4.5 juta rupiah dan pastinya harganya berubah-ubah tergantung musimnya. Silakan dicari tiketnya di Traveloka ya!

Jadi, sudah lengkap ya info yang kalian butuhkan? Mau ke Selayar? Langsunggggggggg cus aja (nabung dulu tapi ya) dan silakan menikmati keindahan pulau paling paling selatannya Sulawesi Selatan ini.


Cheers,



Saturday, October 5, 2019

Bagaimana Cara Menjadi Traveler yang Nggak Gampang Sakit

Saturday, October 05, 2019 2 Comments




Selama hampir 11 tahun ngeblog dan wara-wiri traveling, salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapat adalah:

"Kok lo jarang sakit sih Sat padahal jalan mulu, bentar-bentar loncat sana loncat sini?"

Kalau dipikir-pikir iya juga ya. Sudah beberapa tahun ini saya jarang sekali sakit. Paling cuma kelelahan terus dibawa tidur. Saya tahu bahwa bekerja sebagai Travel Content Creator itu harus punya stamina yang baik karena pekerjaan ini sangat mengandalkan fisik. Harus tahan panas dan kuat dingin.

Tapi, terkena sakit yang agak parah juga pernah kok. 

Masih terekam jelas di ingatan saya, 5 tahun lalu terbaring di rumah sakit setelah demam beberapa hari. Tetap "keukeuh" bilang ke diri sendiri itu cuma demam biasa, satu teman menyeret saya ke Rumah Sakit untuk diperiksa dokter.

"Lo emang bebal ye kalau disuruh merhatiin kesehatan, disuruh ke dokter saja susah", omelnya sambil membonceng saya di belakang motor ke rumah sakit. Saya hanya diam saja tak membantah sambil menggigil meriang.

Setelah selesai cek darah, diketahui saya terkena demam tifoid (tipes) dan harus opname karena saya sudah membiarkannya berhari-hari dan menjadi agak parah.

Kondisinya waktu itu saya baru saja pulang roadtrip dari Flores, naik motor sendirian, makan sesuka hati, nggak peduli sama sekali soal bagaimana makanan itu dimasak. Toh, sudah biasa jajan kaki lima, ngapain peduli? Dari dulu sehat-sehat aja dan nggak pernah sakit.

Dan...

Dor! 

Kena juga akhirnya, hahahahaha...

Syukurlah setelah opname 4 hari, saya sudah diizinkan pulang, lengkap dengan resep obat yang harus dihabiskan dan wejangan dokter untuk tidak sering-sering makan di kaki lima.

"Hati-hati ya Satya, kalau sudah sekali kena tipes, dia bisa kambuh lagi kalau kepancing dengan makanan yang kurang bersih. Jadi jangan sepele", ujar dokter saya waktu itu.

Akhirnya dikurangilah makan gorengan dan mie ayam gerobakan di tepi jalan. Tapi kalau lagi kepengen ya dimakan juga hahahaha. 

Ya soalnya susah untuk saya mengontrol makanan yang dimakan harus bersih dan sehat karena seringnya bepergian. Kadang kalau sempat ya masak sendiri tapi tetap saja lebih sering beli makanan yang sudah jadi.

Masak sendiri paling sering ya kalau pas naik gunung.


Pun nggak lengkap kan rasanya kalau traveling ke suatu tempat tapi nggak nyobain kuliner lokalnya?

Masalahnya, kita juga harus waspada dengan penyakit-penyakit yang mengintai kita saat traveling, khususnya pas wisata kuliner. Kita biasanya pengen nyoba semuanya, apalagi yang street food karena Katanya yang punya rasa otentik itu ya yang di tepi-tepi jalan.

Mana bisa aku menahan godaan jajanan di Food Street Market!


Siapalah yang bisa menolak kelezatan sup ikan ini ya kan?

Makanya waktu traveling ke India kemarin saya sebenarnya ketar-ketir ketika mau mencoba makanan di pinggir jalan. 'Gol Gappa' adalah penganan favorit saya yang dijajakan di setiap sudut. Enak banget! Jadilah ketagihan makan makanan itu sambil berbisik ke diri sendiri, jangan sampai sakit ya, tipes kamu jangan kambuh ya.



Biasanya penyakit yang sering menghampiri kita saat traveling adalah Hepatitis A dan Demam Tifoid karena kedua penyakit ini ditularkan lewat makanan atau peralatan makanan yang kurang bersih. Kita yang sering traveling ini beresiko 19 kali lebih besar untuk tertular.

Eh, nggak cuma lewat makanan atau peralatan makan saja sebenarnya, Kita bisa tertular lewat makanan mentah / kurang matang, es batu, makanan matang yang sudah terkontaminasi, tidak cuci tangan sebelum makan, saat sikat gigi (kalau pakai sikat gigi orang lain) dan saat pakai toilet umum.

Jika kita terkena kedua penyakit tadi, Hepatitis A dan demam tifoid, dan tidak segera ditangani medis segera, bisa berakibat fatal untuk kita seperti infeksi hati atau usus bocor.

Bagaimana kita tahu kalau kita terkena Hepatitis A dan demam tifoid ini?

  • Gejala penyakit hepatitis A adalah demam, lesu, mual, hilang nafsu makan, kulit dan mata berwarna kuning, sakit perut, muntah, tinja dan urin berwarna gelap.
  • Faktor yang berpengaruh terhadap keparahan penyakit ini adalah usia. Dimana semakin tua umur seseorang, semakin berat gejalanya.
  • Hepatitis A biasanya berlangsung selama 3-6 minggu dan masa penyembuhan secara klinis dan biokimiawi memerlukan waktu selama 6 bulan.

Untuk demam tifoid, biasanya gejalanya adalah:

  • Suhu tubuh perlahan tinggi setiap harinya (step ladder) terutama menjelang sore dan sulit turun walau sudah diberikan penurun panas serta adanya bercak merah sehingga dibutuhkan pemeriksaan lab untuk memastikan (nah ini yang terjadi sama aku kemarin)
  • Gejala umumnya adalah demam tinggi, sakit kepala, mual, sakit perut, hilang nafsu makan, sembelit atau diare.
  • Gejala muntah dan tidak mau minum malah bisa menyebabkan dehidrasi yang berakibat pada penurunan kesadaran dan gejala yang lebih berat. 
  • Di akhir minggu kedua atau awal minggu ketiga sering kali muncul komplikasi seperti peritonitis dan perdarahan pada saluran cerna, bahkan bisa terjadi kebocoran usus.


Saya memang sudah terkena demam tifoid dan baru sekali saja. Semoga tidak kambuh lagi ya dan tidak sampai terjangkit Hepatitis A dari aktivitas saya yang selalu bepergian.

Nah, kalau di atas tadi sudah membahas gejalanya, mari kita obrolin cara pencegahannya. Ini dia beberapa yang bisa kita lakukan.


  • Mencuci tangan sebelum makan. Cuci tangan yang baik dan benar adalah yang durasinya 40 detik dan melakukan 7 gerakan.
  • Tidak mengonsumsi makanan sembarangan (nah ini dia yang agak susah ya).
  • Merebus air hingga mendidih dan makanan dimasak matang sempurna.




Selain cara-cara di atas, salah satu cara pencegahan yang ampuh adalah dengan vaksinasi. Kita bisa mendapatkan vaksin Hepatitis A dan demam tifoid di rumah sakit besar. Baiknya dilakukan 2 minggu sebelum traveling atau wisata kuliner agar vaksinnya bisa bekerja dengan sempurna.

Vaksin ini diberikan lewat suntikan dan menimbulkan kekebalan dalam darah untuk melindungi kita dari resiko penyakit Hepatitis A dan demam tifoid, mencegah penyebaran penyakit dan meningkatkan antibodi tubuh. Vaksin adalah langkah awal untuk pencegahan terhadap penyakit-penyakit tersebut dan melindungi kita hingga puluhan tahun. Vaksin Hepatitis A bisa bertahan hingga 30 tahun dan vaksin demam tifoid bertahan hingga 2 tahun.

Begitu dapat informasi itu, saya langsung mengontak rumah sakit di dekat tempat tinggal untuk membuat janji vaksinasi. Kabar terbarunya saat ini mereka sedang mengusahakan untuk mendatangkan stok vaksin. Semoga bulan ini sudah bisa vaksin yah dan nanti dikabarin. 

Biar jadi traveler yang nggak gampang sakit ya memang harus kembali lagi ke kebiasaan hidup sehat dan vaksin sebagai tindakan preventif. Amit-amitttt ya terkena demam tifoid lagi atau Hepatitis A. Ya nggak cuma dua penyakit itu saja karena masih banyak penyakit lainnya dan semoga kita terhindar dari semuanya ya.

Mungkin ada dari teman-teman yang belum mengerti betul manfaat dari vaksin ini, mungkin bisa baca-baca informasinya di akun IG @kenapaharusvaksin yaaaa...


Cheers,





Monday, May 27, 2019

Hari Pertama Keliling Eropa, 1 Hari Penuh Kejutan di Berlin

Monday, May 27, 2019 11 Comments



"Summer, summer apa ini?" ucap saya dalam hati begitu kaki melangkah keluar pesawat yang saya tumpangi dari Jakarta ke Berlin (transit Singapore).

Ya habisnya dinginnya menusuk kulit sekali. Syukurnya saya memakai jaket dan syal namun tetep tidak bisa menghalau dingin pagi itu. Saya rapatkan kancing jaket dan sabar menunggu giliran untuk naik shuttle yang mengantarkan kami ke terminal kedatangan.

"Kamu beneran sendiri aja Sat? Buset nggak takut apa?" tanya teman saya via DM Instagram.

Hahahaha ya beneran ini berangkat dan pulang sendirian tapi sepanjang perjalanan kan akan bertemu dengan banyak orang, teman-teman baru di perjalanan. Jadi, kenapa harus takut?

Saya mendarat di Berlin Tegel Airport yang benar-benar biasa saja dan kecil. Loket pengecekan imigrasi-nya juga kecil sekali. Setelah menjawab pertanyaan sekenanya seperti akan tinggal berapa lama dan apa tujuan ke Berlin, saya lolos dan bergegas mengambil carrier saya di conveyor belt.

Di Eropa, trolley berbayar ya jadi gotong sendiri barang-barangmu kalau mau hemat. Lumayan juga harus bayar 1 EUR, bisa beli roti. Jangan berpikir akan ada porter seperti di Indonesia juga ya.

Saya keluar terminal kedatangan dan langsung menyalakan JavaMifi, portable wi-fi yang akan jadi teman saya di perjalanan panjang keliling Eropa 1,5 bulan ini. Karena tahu akan selalu ada sinyal internet makanya saya nggak khawatir sama sekali soal berjalan sendiri. Selama internet ON ya pasti aman. Meski juga kemampuan kita berkomunikasi berbahasa asing, minimal bahasa Inggris, juga penting agar bisa bertanya jika tersesat di jalan.

Langsung saya mengabari keluarga dan orang terdekat bahwa saya sudah tiba dengan aman, sehat dan selamat. Saya duduk di kursi di depan terminal kedatangan dan melihat orang yang lalu lalang.

Ini dia portable wi-fi kecil nan praktis yang aku pakai untuk jalan-jalan ke Europe.


Perasaan saya campur aduk sebenarnya ketika tiba di Berlin karena rencana awal akan bertemu kakak sepupu harus berubah karena dia harus pulang mendadak ke Indonesia, tepat di hari saya terbang ke Jerman. Padahal kami sudah berencana akan eksplorasi Bavaria, daerah selatan Jerman yang cantik sekali. Jadilah saya harus berpikir cepat apa yang harus saya lakukan kalau kakak sepupu saya tidak ada.

Akhirnya saya memutuskan untuk ke Houten, Utrecht, Netherlands (Belanda) karena ada teman yang tinggal di sana. Dikarenakan dia juga akan pulang ke Indonesia untuk lebaran di minggu depannya, saya langsung memutuskan untuk mengunjungi dia langsung di hari-hari awal perjalanan saya.

Jadilah transit kurang dari 24 jam di Berlin karena saya tiba pukul 7 pagi dan bis ke Utrecht-nya pukul 9 malam. Hmmm, enaknya kemana yaaaa selama waktu transit ini?

Saya berpikir untuk ke AlexanderPlatz, city centre Berlin. Mungkin akan menyenangkan pergi ke Central dan minimal melihat kehidupan orang-orang di Berlin. Ya kan?


Begitu keluar dari terminal kedatangan dan menggotong carrier saya seberat 17 kilo dan daypack saya seberat 8 kilo (total 25 kilo), saya naik tangga penghubung ke bus stop. Lumayan juga berkeringat di pagi yang dingin (sekitar 12 derajat).

Setelah ngecek bus apa yang harus saya ambil untuk pergi ke AlexanderPlatz, saya membeli tiket di ticket machine yang berbahasa Jerman. Awalnya cengo dulu di depan layar hingga ada petugas yang menghampiri dan membantu saya membeli tiket ke tujuan. Saya tinggal bayar 2,8 EUR pakai kartu JENIUS saya karena mesinnya menerima pembayaran pakai debit card / credit card atau cash tapi recehan koin saja.

40 menit perjalanan menuju AlexanderPlatz dari Airport sama sekali tidak terasa karena saya terbuai pemandangan Berlin yang... cantik... sekali.






Di depan saya duduk seorang Nenek yang melempar senyum ketika mata kami beradu. Saya bergumam dalam hati kalau sebenarnya ada kok orang Eropa yang ramah kepada pendatang. Tidak semuanya dingin dan tidak murah senyum. 

Di dalam bus saya mengecek google maps agar tahu di mana saya harus berhenti. Begitu mendekati area AlexanderPlatz saya bersiap dan turun di halte yang dekat dengan central park-nya. Saya letakkan tas dan duduk di kursi taman. 

Dalam beberapa jam saja sudah ada kejadian aneh yang mewarnai hari pertama saya.

Yang pertama adalah scam-trick yang dilakuin 3 orang perempuan yang nggak berhenti bilang "Oooo you are so beautiful" tapi habis itu minta donasi untuk anak-anak disabilitas tapi sama sekali tidak terlihat bisa dipercaya, nggak bisa nunjukin id-card juga. Awalnya cuma minta aku tandatangan di atas selembar kertas petisi, tapi ujung-ujungnya mereka minta aku buat bayar 15 EUR (itu banyak banget buat kita). Eh ternyata mau tipu-tipu mereka. Uang yang tadinya sudah ada di tangan mereka berhasil aku ambil lagi. Syukurlah...


Yang kedua, saya bertemu dengan sepasang suami-istri dari Serbia yang duduk di sebelah saya tidak berapa lama setelah gadis-gadis tukang tipu itu pergi. Saat aku foto-foto dengan tripod yang aku bawa, si Bapak bertanya asal saya.

"I'm from Indonesia" jawabku sambil tersenyum.

"Ah, I see. I'm bit unsure because you look like Thai / Philippine girl" ujar Bapak itu lagi.

Tidak lama kemudian kami tenggelam dalam pembicaraan soal kehidupan. Senang sekali rasanya dapat banyak "wejangan" dari mereka. Soal hidup, hubungan spiritual, hubungan antar manusia dan alam. Semuanya benar-benar jadi auspan yang berguna untuk diri. Tak lupa mereka juga memberikan nasihat soal hubungan percintaan, hahahahaha. Mereka menjelaskan hal-hal apa saja yang menjadi kunci sukses dan langgeng sebuah hubungan. Kalian penasaran apa saja yang kami obrolin?

Tak terasa kami mengobrol hingga 1,5 jam dan mereka pamit untuk menjemput anak perempuan mereka.

"Iya, anak perempuan kami sedang jalan-jalan di Berlin dengan teman-temannya setelah menonton konser BlackPink" kata Ibunya. 

"Iya kami juga ikut menonton konser BlackPink itu" ujar Bapaknya lagi. 

Eh buset, keren sekali mereka ikut nonton konser K-Pop padahal usia mereka sudah tidak terbilang muda. Hahahaha...

Kami bertukar kontak agar bisa saling berkomunikasi dan mana tahu saya ada rejeki ke Serbia, rumah mereka terbuka lebar untuk saya katanya. Aihhhhh baik sekali pasangan itu. Saya memang ingin sekali ke Serbia karena itu adalah negara asal para paraglider (penerbang paralayang) yang selalu ada di jajaran juara dunia. 

"Terima kasih ya Rodo dan Vera. It was really nice to meet you" ujar saya sambil memeluk mereka. 

Aku mengambil foto Rodo & Vera dari belakang.


Saya melihat mereka hilang di kejauhan dan kembali menikmati pemandangan orang-orang yang asyik berfoto di depan air mancur. Tidak sadar bahwa di tempat saya ada seorang lelaki muda yang duduk juga dan lalu menyapa saya.

Tentu saya heran karena biasanya orang Eropa tidak suka menyapa orang asing namun pemuda itu dengan ramah tersenyum dan menanyakan asal saya dari mana.

Pemuda yang ternyata bernama Marty itu ternyata pernah tinggal di Jepang beberapa tahun dan awalnya mengira saya adalah orang Jepang (orang Jepang eksotis iya hahahahaha). Namun karena dia juga fasih berbahasa Inggris selain bahasa Jerman, kami malah jadi mengobrol tentang banyak hal.

Beruntung sekali Marty tinggal dekat dengan AlexanderPlatz jadi saya diperbolehkan untuk menaruh carrier besar saya di apartemen dia dan kami akan jalan-jalan ke beberapa tempat menarik di Berlin seperti Berliner Dom dan juga Brandenburg Gate. 

Danke schön Marty!

Foto diambil oleh Marty dan agak blur tapi ya sudahlah ya...


Kami juga pergi ke bakery enak di dekat AlezanderPlatz namanya "Zeit für brot" dan nyobain the famous cinnamon apple bread mereka yang harganya 2.8 EUR dan espresso harga 1.8 EUR. Harganya masih normal lah buat kita di Indonesia ya.



Beneran enak cinnamon apple bread-nya <3


Di hari pertama keliling Eropa, saya boia bilang hari saya menyenangkan dan juga baru pertama kali merasakan langit masih terang sekali hingga pukul 10 malam. Hari terasa panjaaaaaaang sekali.

Saya naik U-bahn dari AlexanderPlatz ke ZOB Berlin, bus station tempat saya akan naik Eurolines ke Utrecht. Ongkosnya 27.9 EUR jadi terbilang murah dibandingkan naik kereta atau pesawat. Bus di Eropa-nya juga enak karena kursinya empuk, ada colokan, toilet bersih dan wi-fi (tapi saya nggak bisa akses wi-fi nya). Maaf lupa foto interior bus-nya. Di perjalanan berikutnya yaaa akan saya ulas soal bus keliling Eropa.

Enaknya pakai Jenius Card ini. Kartu Debit yang bisa dipakai buat beli macam-macam di Eropa, termasuk tiket kereta.

Sejenak sebelum bus bertolak ke Utrecht. Nah, kelihatan kan jam 9 malam masih terang banget.

Bus bertolak dari Berlin dan saya terlelap dengan cepat karena capek juga jalan kaki keliling Berlin. Capek tapi senang karena dipertemukan dengan orang-orang menyenangkan. Hari pembuka perjalanan yang menghangatkan hati. 

Wir sehen uns wieder, Berlin! Nanti akan lebih banyak eskplorasi Berlin yaaaa...




Cheers,






Monday, March 25, 2019

Kenapa Traveling Bareng Teman Selalu Jadi Wacana?

Monday, March 25, 2019 10 Comments






Pertanyaan itu pasti bukan hanya muncul untukku namun kalian juga. Kita semua. Ya kan? 

Kenapa sih kalau mau jalan bareng sahabat itu kadang hanya jadi wacana saja? Yang diawalnya semangat 45 untuk traveling bareng, mendekati hari H tidak menyisakan siapa-siapa alias batal alias "wacana tok". Pernah begitu juga nggak? Hahahaha...

Saya sendiri mengalami itu, sering, sering sekali.

Sejak jadi freelancer 3 tahun lalu, rasa-rasanya susah betul janjian traveling sama sahabat yang bekerja kantoran. Susah betul nyari waktu yang semuanya avaliable dalam satu waktu. Kalau mereka lagi kerja, saya libur. Ketika giliran mereka bisa libur panjang, gantian saya yang harus bekerja. Kadang mau menertawakan betapa lucunya persahabatan kami, 10 tahun berkawan sejak kuliah tahun pertama hingga sekarang mereka sudah mau menikah dengan pujaan hati, trip kami tidak pernah terealisasi. Hahahahaha.

Kalau lihat whatsapp group, rasa-rasanya ada banyak sekali grup yang dibuat untuk merencanakan trip bareng namun pada akhirnya jadi ya begitu saja. cuma ngobrol-ngobrol dan tak pernah jadi juga jalan barengnya.

Tapiiiii, ada satu grup yang enak diajak koordinasi jadwal ngetrip bareng. Mereka adalah Eaz, Rizal dan Guri, diving buddies saya. Sejak kami ngetrip tahun lalu, sampai sekarang rencana trip kami hampir terlaksana. Hebat banget kan? 

Kok bisa?

Karena kami semua pekerja lepas aka freelancer, empat-empatnya. Hahahaha. Jadi ya masih cukup mudah untuk koordinasi dengan mereka, meski itu juga sudah harus dari berbulan-bulan sebelumnya supaya bisa 'ngelock' tanggalnya nggak menerima kerjaan di periode waktu itu. 


Geng diving tersayang yang lancarnya cuma kalau mau diving trip aja....


Cuma yaaa nggak semuanya seperti kami kan? Tentu masih lebih banyak teman-teman yang bekerja kantoran atau punya usaha yang nggak bisa ditinggal. Semacam dua sahabatku yang aku ceritakan di awal. Tahun ini, sebelum mereka menikah dan diboyong suami mereka, aku ingin sekali trip kami terealisasi. Entah ke mana pun terbangnya ya jadilah. Asal jauh dari Jakarta. Hahahaha...

Memang agak susah karena satu berprofesi sebagai Flight Attendant dan satu lagi Manager di salah satu perusahaan maskapai penerbangan. Sibuknya luar biasa.


Ini nih dua gadis yang kalau mau diajak jalan wacana mulu dari 10 tahun yang lalu...


"Aku rasa kita bertiga butuh liburan deh, ke mana gitu. Kalian berdua sudah hampir jadi 'Bridezilla' ucap saya di grup chat kami.

Hampir setiap hari, mereka selalu bercerita soal persiapan pernikahan mereka di bulan Agustus dan Oktober nanti. Semuanya pusing, stress dan karena cuma saya di grup itu yang belum berencana menikah, jadi paling netral dan bertugas untuk membuat mereka tenang dan tidak jadi 'gila' dengan semua wedding plans & preparations.

"Tapi susah banget ini kita jadwalin bertiga, satu di mana, satu lagi di mana" seloroh salah satu teman saya di grup.

"Weeehhh bisa kok kalau kita obrolin dari sekarang. Nggak harus cari long weekend banget lah biar jadi nih ngetrip barengnya. Kabarin aja kapan kalian lowong, ada hari libur dan cus langsung" jawab saya lagi.

"Tapi kan kalau nggak jauh-jauh hari, mahal tiketnya Yong", timpal teman saya.

Woooo, saya lupa belum kasitahu mereka kalau saya ingin ngajak mereka traveling pakai SCOOT. Ada 66 destinasi menarik yang bisa kami pilih dan selalu ada reguler promo dari maskapai kuning ini. 





Harga tiket Scoot ini sudah termasuk bagasi kabin 10 kilogram jadi buat short trip kemana gitu cukup banget, nggak perlu beli bagasi lagi. Tapi kalau mau nambah pun, gampang banget prosesnya saat pembelian tiket. 

Saya tadinya mau ajak mereka ke Athens, Yunani karena tiket sekali pergi ke sana cuma 3 jutaan rupiah. Woooooo, bisa ke Santorini juga sekalian kan.

Selain Athens, Scoot juga terbang ke Berlin. Wowowowowoow! Saya pantengin websitenya dan lihat-lihat tanggal yang pas buat liburan kami di musim panas nanti. Pokoknya sebelum Agustus (salah satu menikah), kami harus jalan-jalan. Titik.

Pas banget bulan ini, Scoot lagi ada promo "Jalanin Aja" dengan memberikan diskon hingga 25% untuk kelas ekonomi. Cukup masukin kode promo : SCOOT25. Gampang banget kan?




Promonya sampai 31 Maret 2019 ini, jadi langsung cepat-cepat berburu tiket promonya ya. Saya juga masih berburu nih.

Kalau teman-teman mau tahu info lengkapnya soal promo ini, langsung saja klik www.flyscoot.com/jalaninaja atau kunjungi facebook page SCOOT ya...





Cheers,





Follow Us @satyawinnie