Navigation Menu

featured Slider

Featured Post


Satya Winnie is an adventurous girl from Indonesia. She loves to soaring the sky with gliders, dive into ocean, mountain hiking, rafting, caving and so on. But her favorite things are explore culture, capture moments and share the stories. 

So, welcome and please enjoy her travel journal and let's become a responsible traveler. 

Lovely Readers

Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang dan Gunung Semeru yang Gagah Megah





Matahari masih belum tampak di ufuk timur ketika saya berjalan menuruni tangga-tangga untuk menuju satu destinasi yang kini banyak diperbincangkan para penikmat keindahan alam dan penyuka tantangan. Air terjun Tumpak Sewu namanya. Dua tahun ke belakang, destinasi ini sering sekali dibicarakan sejak berseliweran di tab explore instagram. Fotografer lokal dan mancanegara berlomba-lomba membuat potret terbaik dari air terjun ini, khususnya foto udara / aerial shot-nya. Saya tentu saja tidak mau ketinggalan, saya penasaran apakah memang benar sebagus itu ya? Atau cuma editan semata?


Kalian tahu nggak kenapa namanya Tumpak Sewu? Dinamakan 'Tumpak Sewu' karena air terjun ini terdiri dari banyak aliran mata air yang bertumpuk-tumpuk sehingga disebut “sewu” yang dalam bahasa Jawa sendiri berarti seribu, seribu aliran air yang bertumpuk. Lokasinya berada di Jawa Timur, tepatnya di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Meski banyak juga yang bilang Air Terjun Tumpak Sewu ini masuk daerah administratif Kabupaten Malang. Memang benar kalau dilihat di peta, dia ada di perbatasan sehingga bisa dikunjungi dari pintu masuk Lumajang maupun Malang dan saya memilih masuk dari Lumajang.


Ada banyak air terjun di sekitaran Kabupaten Malang dan Lumajang. 3 hari kayaknya nggak cukup. 

Kami tiba malam hari setelah berkendara naik mobil dari Banyuwangi (iya waktu itu saya dan teman saya road trip keliling Jawa Tengah dan Jawa Timur selama dua minggu) dan Lumajang adalah destinasi terakhir kami sebelum Malang dan kembali ke Jogja (start point kami). Syukurlah seorang teman baik saya yang pernah ke sana merekomendasikan satu penginapan, "Win Homestay" namanya. Saya diberikan nomor telpon beliau untuk memberi tahu waktu kedatangan kami dan Ibu Win berbaik hati sekali menunggu kami yang baru tiba di Lumajang hampir tengah malam dan membukakan pintu gerbang. Oh iya, kalian harus tahu kalau jalanan menuju Lumajang di malam hari benar-benar gelap, berkelok-kelok pula. Jadi harus ekstra hati-hati menyetir di sana ya. Syukurlah homestay yang direkomendasikan teman saya ini, terletak persis di depan pintu masuk kawasan Air Terjun Tumpak Sewu, jadi keesokan paginya kami langsung meluncur  jalan kaki tanpa harus naik kendaraan lagi.


Ini 'Win Homestay' nya. Bersih dan rapi. Ibu Win nya juga masakannya enak-enak!

 

Dari pintu masuk kawasan, pengunjung wajib membayar retribusi Rp 10.000,- per orang baru dipersilakan melewati jalan setapak beton yang menurun, kurang lebih 10 menit untuk tiba di titik pos panorama Air Terjun Tumpak Sewu. Hampir seluruh wisatawan yang berkunjung ke sini akan berhenti untuk mengambil potret diri berlatarbelakang panorama air terjun Tumpak Sewu setinggi 120 meter itu. Selain pos panorama, kita juga bisa turun ke lembahannya untuk melihat air terjun lebih dekat lagi yang sering dibilang 'mangkok air'. Tak ayal Tumpak Sewu ini cocok bagi penyuka tantangan karena memang tidak mudah mencapai lembah mangkok air. Medannya cukup terjal dengan tangga bambu yang sudah reot dan ada bagian di mana kita harus pakai tali untuk menuruni batu yang dialiri air cukup deras dan licin. Saya tidak menyarankan untuk lansia atau anak balita menyusuri jalur ini, namun percayalah segala rasa letih terbayarkan begitu kita sampai di tujuan. 



Jika ingin leluasa berfoto datanglah saat pagi-pagi buta ketika belum banyak pengunjung. Kalau saya  berangkat pagi-pagi sekali dengan tujuan yang sedikit berbeda, bukan hanya sekedar mengambil foto selfie bersama air terjun, saya ingin menerbangkan ‘drone’ untuk melihat satu panorama yang tak tampak dari pos tersebut. Ya, memang foto-foto yang kalian lihat di Instagram itu, semuanya diambil pakai drone.

Begitu drone saya lepas untuk terbang dan menghadap ke air terjun, saya terus melihat pemandangan lewat layar ponsel hingga mendapatkan apa yang saya cari. Meski langit masih sedikit gelap karena belum waktunya matahari untuk terbit, saya sudah bersorak riang karena melihat sesuatu di kejauhan berdiri gagah dan megah. Ya, saya gembira sekali begitu melihat Gunung Semeru menjulang tinggi dengan air terjun Tumpak Sewu sebagai foreground-nya. Pemandangan itulah yang saya cari, gunung dan air terjun tampak dalam satu bingkai gambar yang rasanya surreal. Tak lama kemudian, matahari terbit dari timur dan menyinari langit dengan warna jingga keemasan dan harus saya akui itu adalah salah satu pemandangan tercantik yang pernah saya lihat di dalam hidup saya.




Untuk mendapatkan pemandangan Gunung Semeru yang bersih tak berselimut awan kabut, aku menyarankan untuk tiba di sana sebelum jam 7 pagi. Dari pos panorama, Gunung Semeru juga terlihat namun hanya sepertiganya saja dan pemandangan duapertiganya lagi memang hanya bisa dinikmati dari pantauan drone, pesawat tanpa awak.

Setelah puas menikmati panorama itu, saya sudah pasti sudah menuruni lembah untuk tiba di dasar Air Terjun Tumpak Sewu, nggak mungkinsaya lewatkan itu hohohoho. Kita sebaiknya memakai pakaian yang nyaman untuk trekking dan alas kaki yang tepat. Tidak disarankan menuruni lembah dengan memakai sandal jepit karena rawan tergelincir apalagi jalur yang akan dilewati cukup terjal dan basah licin. Sandal gunung atau sepatu trekking adalah pilihan alas kaki terbaik. Pakailah pakaian dry-fit atau bawa pakaian ganti karena siapapun yang berkunjung ke bawah sana harus bersiap basah kuyup. 


Butuh waktu sekitar 30-45 menit untuk turun ke lembah dengan meniti tangga-tangga bambu dan juga aliran-aliran sungai kecil. Kita harus berhati-hati dan bersiaplah untuk sedikit bergelantungan pada tali, merangkak, merayap di tengah jalur ya. Butuh waktu dua kali lipat untuk kembali ke atas karena jalurnya memang terjal dan melelahkan. Setelah tiba di ujung jalur, kita harus berjalan sedikit lagi ke arah kanan, mengikuti bunyi gemuruh air yang sangat jelas terdengar di telinga dan tibalah di mangkok air terjun Tumpak Sewu.




Begitu tiba dan berdiri dekat dengan air terjun, kita akan disambut dengan tempias air terjun yang dingin sejuk seolah-olah disambut angin segar setelah basah kegerahan berkeringat menuruni lembah. Akan tampak jelas tebing tinggi yang dikelilingi aliran air melimpah deras dari atas. Sungguhlah pemandangan yang menakjubkan dan kita bebas untuk berfoto di atas batu dengan latar belakang air terjun yang jauh terlihat lebih megah karena dilihat dari ‘angle’ bawah. Menurutku tak kalah megah kok dengan pemandangan dari pos panorama atas. Disarankan untuk membawa dry bag untuk melindungi barang elektronik yang dibawa dan pakai sarung pelindung anti air jika ingin memakai kamera atau ponsel untuk mengabadikan pemandangan Tumpak Sewu ya.


Nah, kita juga harus memerhatikan aturan untuk turun ke bawah hanya diperbolehkan maksimal jam 3 sore dan jika sedang hujan, siapa pun tidak diperkenankan untuk turun ke bawah, tak terkecuali. Tentu peraturan itu dibuat untuk menjaga keselamatan setiap pengunjung Air Terjun Tumpak Sewu dikarenakan debit air terjun akan lebih tinggi dan bisa meluap tiba-tiba jika sedang hujan deras. Kalau lagi meluap, besar kemungkinan kita akan tersapu air. Pokoknya kita harus ingat bersama-sama ya, safety first!


Ini dia penampakan jalur untuk turun ke bawah Air Terjun Tumpak Sewu. Terjal juga kan.

Semua dari kita pasti ingin punya foto bagus dan ciamik saat jalan-jalan, namun tetap yang harus diutamakan adalah keselamatan. Selamat menikmati eksotika Air Terjun Tumpak Sewu dan terkagum-kagum dengan kemegahannya.




Cheers,



RealFood Forever Young - Cara Jaga Imun Tubuh Kuat dan Kulit Sehat Meskipun Sering Bepergian


Beberapa dari kalian mungkin tahu bahwa dengan profesi sebagai full time travel content creator, saya selalu dituntut untuk selalu bepergian dan tidak boleh gampang sakit. Buat yang kenal baik, pasti tahu kalau saya selalu membawa botol air minum agar selalu ingat untuk stay hydrated / selalu terhidrasi karena sejak dulu, itu adalah kunci kondisi tubuh saya selalu fit.

Namun, air putih aja nggak cukup, apalagi di masa pandemi corona seperti ini. Saya harus menjaga asupan makanan, tidur teratur dan juga tidak lupa untuk minum vitamin. Nah, dari beragam vitamin yang saya coba, dikenalkanlah saya dengan produk konsentrat sarang burung walet yaitu Realfood. Penasaran juga karena banyak yang memberikan review soal khasiat baik setelah mengonsumsinya.

Gemas ya jarnya cuma segenggam tangan begini.


Memang sedari dulu, sarang burung walet diketahui memiliki beragam manfaat baik seperti melancarkan metabolisme, mempercepat proses regenerasi sel, 'booster' sistem imun tubuh, menjaga kesehatan kulit dan masih banyak lagi.

Ternyata Realfood ini memiliki beberapa program yang bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan kita, diantaranya; Stay Fit, Forever Young, Forever Young+, Pure Wellness, Royal Wellness dan Wonder Mom. Program yang terakhir pastinya bukan buatku ya karena masih single, hahahaha.

Stay Fit untuk menjaga sistem imun kita agar tetap sehat dan bisa memaksimalkan kegiatan sehari-hari karena kesehatan adalah kunci utama kan?

Forever Young adalah program perpaduan sarang burung walet dengan asam amino serin yang membantu pembentukan kolagen yang sangat baik untuk menjaga kulit agar tetap sehat, kencang, kenyal dan lembab. Selain itu, berguna juga untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Tubuh sehat, kulit berkilaulah jadinya.

Pure Wellness adalah program yang pas dan bermanfaat bagi yang ingin mencegah dan mengurangi diabetes melitus tipe dua dengan cara mencegah resistensi insulin dan bebas gula.

Royal Wellness adalah program nutrisi lengkap untuk segala usia yang dapat membantu imun tubuh tetap baik, menjaga metabolisme dan sistem pencernaan serta mempercepat proses regenerasi sel. Cocok untuk orang tua kita kalau kalian mau berikan untuk mereka.

Wonder Mom adalah program yang bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu dan anak. Varian ini memiliki tambahan asam folat yang bermanfaat untuk mengurangi risiko cacat lahir pada bayi dan penting untuk pertumbuhan sel plasenta.

(Source : Instagram @fitwithrealfoodid )


Nah, setelah membaca beragam manfaat dari masing-masing program yang ditawarkan Realfood secara keseluruhan, saya memilih program Forever Young karena usia saya masih 28 tahun (bukan yang Forever Young+ karena itu untuk usia di atas 40 tahun). Buat teman-teman perempuan, ingatlah untuk menjaga kulit sedini mungkin agar tetap sehat dan berkilau. Moisturize, moisturize!  Punya kulit sehat berkilau cantik bukan untuk memuaskan siapa-siapa melainkan diri sendiri. Senang pastinya lihat kulit sehat sehabis bangun tidur kan? Dan Menurut saya pribadi kulit sehat itu nggak harus berwarna putih susu, melainkan kulit yang bebas jerawat, warnanya merata dan lembab kenyal. Makanya saya pilih Forever Young! 

Forever youuuungggg, I wanna be forever youngggg *you sing you lose* hahahaha...

Nah, bagaimana sebaiknya kita mengonsumsi Realfood?

Realfood ini baiknya dikonsumsi setelah bangun pagi (sebelum sarapan) atau sebelum tidur (2-3 jam setelah makan malam). Dalam kondisi perut kosong tubuh kita akan menyerap zat-zat aktif dari sarang burung walet, seperti asam sialat, Epidermal Growth Factor (EGF), asam amino dan mineral secara maksimal.

Saya pribadi memilih mengonsumsi Realfood saat baru bangun pagi. Setelahnya baru dilanjutkan olahraga pagi (nggak tiap hari juga tapi cukup rutin), mandi lalu beraktivitas. Satu jar kecil setiap pagi nggak boleh lupa karena untuk dapat hasil yang maksimal, mengonsumsinya nggak boleh bolong-bolong ya, rutin rajin minum 12 hari berturut-turut. Rasanya manis padahal nggak pakai pemanis buatan lho. Teksturnya juga kenyal namun bukan jelly, melainkan sarang burung waletnya. Paling enak kalau dimasukin ke kulkas dan diminum saat dingin, nyesssss segar banget!

Syukurlah kemasannya kecil dan gampang dibawa kemana-mana, jadi waktu saya mengonsumsi Realfood, saya harus latihan surfing di Cimaja (sekitar 6 jam dari Jakarta) dan waktu itu terhitung hari ke 5 ikut programnya, jadi yang 7 jar lagi saya bawa ke Cimaja saja. Selama di sana ya harus bangun pagi-pagi sekali untuk mengejar ombak bagus dan supaya fit seharian, saya mengonsumi Realfood dan nggak lemas meski pun belum sarapan berat sebelum surfing. 



Oh iya, Realfood ini adalah produk sarang burung walet pertama di Indonesia yang diproduksi secara modern dan steril sesuai standar ISO 22000 & BPOM. Realfood aman dikonsumsi siapa saja karena tidak mengandung bahan pengawet, pewarna serta pemanis buatan, steril serta tersegel dengan sangat baik sehingga ketika dibuka jar-nya akan bunyi "pop" begitu. Ketika segelnya sudah terbuka, harus segera dikonsumsi sebelum 24 jam ya.

Nah, sewaktu mengonsumsi Realfood selama 12 hari, saya selalu update di Instastory (Instagram Story) untuk kasitahu teman-teman yang ada di instagram tentang bagaimana rasa dan tekstur dari Realfood ini, lalu perubahan apa yang saya rasakan selama mengikuti program ini selama 12 hari.

Yang jelas, sampai saat ini, saya masih sehat bugar, belum pernah sakit lagi, badan nggak cepat lemas dan yang paling terasa memang di kulit sih. Kulitku lebih cerah dan bintik-bintik hitam di wajah memudar. Ini jujur karena aktivitasku yang kebanyakan di ruang terbuka dan terpapar sinar matahari, meski selalu pakai sunscreen, tetap akan ada bintik hitam yang muncul dan sempat ada bercak putih gitu (bukan panu ya). Senang banget rasanya pas lihat kulit wajah di kaca dan pegan kulit wajah yang Kenyal dan lembab, bikin jadi lebih percaya diri aja gitu keluar rumah. Makin makinlah saya jatuh cinta sama Realfood. Pastinya akan repurchase dan semoga bisa rutin beberapa bulan sekali mengonsumsinya.

Jadi, setelah ikut program 12 hari-nya Realfood, disarankan untuk kasih jeda 2 minggu sebelum memulai programnya lagi. Berikutnya aku mau coba program Realfood yang lain deh, mungkin yang 'Stay Fit' kali ya.





Ini di hari ke 5 program Forever Young, kulit terlihat sehat banget kan?

































Untuk harga, pastinya bervariasi ya setiap program. Paket 12 jar x 70ml Forever Young dibanderol Rp 600.000,- tapi menurut saya worth it banget kok harga segitu karena sudah merasakan sendiri manfaatnya.


12 jar dikemas rapi dijamin nggak pecah dan sampai di rumah kalian dengan aman.


Jadi, kalian mau mencoba juga? Cobain deh yuk! Kalau ada yang mau ditanyain, bisa langsung kontak Fit With Realfood ya...



Cheers,






















Kepulauan Derawan yang Menawan dari Lautan hingga Daratan


"Kapalnya yang itu ya, nanti kita 3 jam perjalanan untuk sampai di Maratua. Dibikin enak aja posisi duduknya biar bisa tidur, oke?", ujar Abang yang menjemput kami dari Bandara Kalimarau, Tanjung Redeb ke pelabuhan kapal menuju Kepulauan Derawan.

Setelah hampir 3 jam menghabiskan waktu, duduk di kursi speedboat berisikan 12 orang, akhirnya saya dan rombongan tiba di Pulau Maratua. Cuaca sedang cerah bersahabat dan laut tenang sekali sehingga speedboat yang membawa rombongan kami melaju kencang tanpa hambatan dan saya tertidur pulas di perjalanan (bawalah bantal leher agar bisa nyaman tidur meski posisi duduk ya~).

Begitu menginjakkan kaki di  dermaga Green Nirwana Resort, akomodasi yang saya tempati selama berlibur di Maratua, sudah terlihat jelas jernih lautnya, warna-warni terumbu karang dan seekor penyu yang sedang asyik berenang di permukaan laut. Wow wow wow, rasa-rasanya mau langsung menceburkan diri ke dalam laut waktu itu namun akhirnya cuma bisa dadah-dadah sama penyu, haaiiii penyuuuu haiiii, nanti sama-sama yaaaa kita berenang!


Ini view drone Green Nirwana Resort

Maratua atau Kepulauan Derawan memang dikenal sebagai salah satu habitat penyu hijau dan penyu sisik di Indonesia dan penyu memang sering menampakkan diri di dekat dermaga saat pagi dan sore hari. Pemandangan itu membuat saya juga tidak sabar untuk memakai perlengkapan scuba diving saya dan bertemu dengan semua makhluk hidup di bawah sana. Tak ayal, Maratua kini dikenal sebagai salah satu primadona lautan dan jadi destinasi impian bagi siapa saja yang menyukai keindahan bawah laut karena beragam diving spot yang beragam dan memesona. 

Bagi yang belum bisa menyelam, tak perlu khawatir karena pesona alam daratannya juga tak kalah indah kok. Bermain di pantai pasir putihnya atau snorkeling di perairan dangkalnya juga bisa menjadi pilihan aktivitas yang menyenangkan. Sayang sekali kalau sudah jauh-jauh ke Kepulauan Derawan namun tidak berenang di lautan kan ya?

Maratua adalah salah satu pulau dari gugusan Kepulauan Derawan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Untuk mencapainya, kalian bisa memilih terbang ke Berau atau Tarakan lalu melanjutkan perjalanan dengan kapal speedboat selama kurang lebih 2-3 jam. Siapkan amunisi untuk bersantai selama perjalanan memakai kapal agar tidak bosan ya.

Plesiran di Pulau Maratua atau Derawan, kalian bisa memilih untuk menginap di rumah panggung atas laut, yang merupakan ciri khas dari akomodasi di Kepulauan Derawan. Ada sensasi berbeda ketika bisa tidur dengan buaian ombak yang pas untuk relaksasi saat liburan. Namun tetap ada banyak pilihan akomodasi di area daratan yang lebih dekat dengan pemukiman penduduk, memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan masyarakat lokal, terutama di area Pulau Derawan.


Kami sempat mampir di Pulau Derawan meski tak menginap. Aku sih mau kembali lagi dan menginap di sini hehehe...


Ada beragam destinasi menarik di Kepulauan Derawan yang bisa kalian sambangi. Di Maratua sendiri, ada beberapa diving spot yang menjadi destinasi favorit para penyelam seperti Turtle Traffic, Eel Garden, Lighthouse, Hanging Garden, Fusilier, Cabbage Garden, Jetty Dive dan masih banyak lagi. Yang paling diincar adalah spot The Channel, dikenal berarus kencang namun menjadi lokasi favorit untuk bertemu ikan-ikan besar dan gerombolan barracuda yang jumlahnya bisa mencapai ribuan. Wah, terbayangkah kalian rasanya berenang dengan ribuan ikan-ikan di satu tempat? Pasti luar biasa ya rasanya. Namun untuk mencoba aktivitas tersebut, penyelam harus memiliki lisensi diving minimal di tingkat advance dan harus berpengalaman menyelam di arus kencang ya.Bagi yang belum bisa menyelam, bisa snorkeling di beberapa spot juga kok, tetap terlihat jelas karena visibility yang jernih, mungkin sekitar 30 meter. 

Bercermin di Goa Halo Tabung


Selain berwisata di laut, kalian bisa berkunjung ke Goa Halo Tabung yang dulunya bernama Goa Haji Mangku. Goa ini memiliki kolam kecil dengan air kehijauan berkedalaman 40 meter. Goa Halo Tabung menjadi destinasi favorit di Maratua karena pengunjung bisa merasakan sensasi loncat dari bibir tebing dan menceburkan diri ke air dingin nan segar. Bila nyali ciut, bisa juga mencoba berenang dari mulut goa yang lebih rendah dengan turun perlahan lewat tangga. Begitu masuk ke dalam air, kalian bisa mencecap air payau-nya yang terasa sedikit asin. Silakan berpuas diri berenang di dalam air dan mungkin ada yang jadi sedikit gugup melihat dasar goa yang gelap. Tapi saking jernih airnya, kita bisa bercermin di permukaan airnya dan sebenarnya cocok dinamakan Goa Cermin saja hahahaha.


Ini salah satu foto favoritku dari Goa Halo Tabung karena aku harus berpose tanpa alat selam apapun. Seru sekali!


Ini foto bareng sama Stuart Collin  yang juga jadi teman jalan waktu itu.


Bermain Bersama Ubur-Ubur Kakaban yang Tak Menyengat


Selain Pulau Maratua, Jangan lupa menyambangi Pulau Kakaban, Pulau Derawan, Pulau Sangalaki yang juga menyuguhkan pemandangan yang spektakuler. Favorit saya adalah Danau Kakaban yang dipenuhi ubur-ubur tidak menyengat. Siapapun boleh berenang dengan ubur-ubur tersebut namun harus menaati kode etik seperti berenang tanpa memakai fins atau kaki katak, tidak menggunakan tabir surya dan juga tidak meloncat dari dermaga ke danau saat akan berenang. Semua pengunjung diharapkan berenang dengan tenang agar ubur-ubur tidak terganggu. Pun semua aturan tersebut diberlakukan untuk menjaga keberlangsungan hidup mereka dikarenakan ubur-ubur tidak menyengat itu sangatlah rapuh dan mudah hancur jika terkena zat kimia atau tersepak oleh kaki katak kita. 


Ubur-ubur tidak menyengat ini sangat menggemaskan dan kita juga harus hati-hati saat berenang dengan mereka ya.


Jika sudah puas temu sapa dengan ubur-ubur, kalian bisa mengunjungi penyu di Pulau Sangalaki. Pulau ini memang dikenal sebagai habitat dan tempat bertelur penyu sisik dan penyu hijau. Jika datang di saat yang tepat, teman-teman bisa mengikuti kegiatan pelepasan tukik ke lautan lepas bersama dengan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di sana. 

Selain yang disebutkan di atas, satu lokasi yang juga sedang naik daun di Kepulauan Derawan adalah area Talisayan di mana pengunjung bisa bertemu dengan Hiu Paus (whaleshark). Hiu Paus ini sering berenang di sekitaran bagan nelayan. Ketika nelayan melepaskan ikan-ikan kecil yang terjerat di jala mereka, biasanya akan dilepas lagi dan di saat itulah hiu paus sigap untuk memakannya. Bila bertemu dengan hiu paus, kita juga harus menaati kode etik seperti tidak berenang terlalu agresif dan menyentuh hiu paus. Jagalah jarak aman sekitar 5 meter jika berenang dengan makhluk laut yang terkenal ramah itu. Biasanya mereka terlihat di perairan Derawan di bulan-bulan Desember hingga April. 

Selamat menikmati Kepulauan Derawan yang menawan dari lautan hingga daratan ya.

Cheers,



Menjelajah Likupang (Bukan Kupang), Primadona Baru Sulawesi Utara




"Likupang? Itu yang di Nusa Tenggara Timur kan?" tanya seorang teman saat saya beritahu akan berangkat eksplorasi ke sana.

Saya jawab pertanyaannya dengan tertawa tetapi maklum karena Kupang memang familiar di telinga kita, namun Likupang ya berbeda, ada 'Li' di depannya dan tidak sama sekali berdekatan lokasinya dengan Kupang Nusa Tenggara Timur. Likupang yang saya maksudn ini terletak di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara yang ditempuh kurang lebih 2 jam berkendara dari ibukota Sulut, Manado.  Eh tapi di sana sedang ada pengerjaan jalan tol Manado - Likupang dan nanti setelah rampung, waktu tempuhnya jadi cuma 30 menit saja, mantap kan? 

Saya tertarik untuk eskplorasi Likupang karena destinasi ini masuk ke dalam daftar destinasi super prioritas Indonesia, berjejer dengan Danau Toba, Mandalika, Borobudur dan Labuan Bajo. Semuanya sudah saya kunjungi selain Likupang makanya saya penasaran betul seindah apa sih destinasi ini sampai jadi destinasi super prioritas?

Biasanya kan kalau kita ke Manado, pasti mikirnya Bunaken atau Tomohon yang wajib dikunjungi. Nah katanya Likupang nggak kalah cantiknya lho dengan dua destinasi tersebut. Dikelilingi perbukitan dan pulau-pulau kecil berpasir putih dengan laut biru jernih jadi 'highlight' dari Likupang ini. Makin-makinlah saya penasaran. Jadi tak lupa saya membawa peralatan diving karena ingin menjajal panorama bawah lautnya juga. Mana tahaaaannn nggak nyebur kalau ketemu laut biru jernih gitu kan? 

Terbanglah saya dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara Sam Ratulangi di Manado dan lanjut naik mobil sewaan menuju Likupang. Baru keesokannya saya memulai eksplorasi ke beberapa destinasi menarik di sana.

Menyelam di Pulau Lihaga

Destinasi pertama yang saya sambangi di Likupang adalah Pulau Lihaga dan pas sekali hari cerah terang benderang di hari itu. Rombongan kami berhenti di satu warung yang ada dermaga kecil di belakangnya yang dikenal dengan nama Pelabuhan Serei Likupang. Dari dermaga itu, kami bertolak ke Pulau Lihaga selama 30 menit dengan kapal berkapasitas 20 orang. Laut tenang membuat perjalanan kami tak terasa sama sekali. Saya asyik duduk di bagian depan kapal karena masih pagi dan matahari belum terik menyengat. Terbayang kan betapa enaknya angin laut sepoi-sepoi di atas kapal? Duh jadi pengen cepat ke pantai lagi jadinya.

Pulau Lihaga dilihat dari udara. Jernih banget ya lautnya!

Pasti semua nggak tahan buat nggak nyebur kalau sudah lihat air sejernih ini.

Sebenarnya ada beberapa pulau di sekitarannya namun saya hanya sempat berkunjung ke Pulau Lihaga saja. Para pelancong bisa snorkeling / diving untuk menikmati keindahan bawah lautnya dan saya sarankan Datanglah pagi-pagi jika ingin menyelam agar tidak berarus kencang karena saya merasakan sendiri setelah jam 10 pagi, arusnya cukup kuat dan jadi sedikit keruh. 

Panorama underwater Likupang yang saya abadikan. Itu yang in frame, dive guide saya.


Dive Guide saya sangat menyenangkan dan kami hanya menyelam berdua saja. Visibility yang baik, air pagi hari yang hangat, terumbu karang warna warni dan coral fish yang beragam membuat impresi saya pada Likupang luar biasa. Sebagai penyuka alam bawah laut, saya tentu merasa tidak salah memilih Likupang untuk dieksplor.

Kalau yang takut menyelam atau tidak bisa berenang, tetap bisa menikmati keindahan pulau Lihaga dan pulau lainnya dengan bersantai piknik di pantai. Duduk santai berjemur di pantai bersih sambil melihat pemandangan laut biru juga tak kalah menyenangkan bukan? Tapi saya sih pasti akan menyarankan kalian untuk nyebur di sana. Kan tanggung sudah datang jauh-jauh tapi nggak mencicipi bawah lautnya lho~

Buat yang nggak diving dan snorkeling bisa bersantai di beanbag. Asyik bisa sampai ketiduran di situ.

Cerah pol waktu di sana dan bikin Likupang ini betul-betul terlihat menggoda kan?


Santap Nikmat Seafood di Pantai Paal

Setelah Pulau Lihaga, kami bertolak menuju Pantai Paal yang tidak kalah cantiknya. Sayang siang itu agak mendung sehingga warna tosca lautnya tidak terlalu memancar padahal pantainya panjang dan luas untuk kita bersantai dan bermain. Tetapi untuk berenang disarankan untuk selalu waspada karena ombaknya cukup besar. Sambil menikmati panorama pantai, kami bersantap siang hidangan laut segar yang dibuat oleh warga setempat. Semua bahannya segar sehingga rasanya manis betul. Harganya terjangkau pula karena memang itu semua hasil tangkapan lokal. Duh beruntung sekali orang-orang yang tinggal di pantai atau di pulau bisa makan seafood segar setiap hari ya. Hahahaha...

Menanti Matahari Pagi di Pantai Bukit Pulisan

Setelah sehari sebelumnya eksplor Pulau Lihaga dan Pantai Pulisan, saya dan teman-teman bangun pagi buta untuk berangkat ke Pulisan, tempat dimana kita bisa menikmati matahari terbit dengan background view pantai pulisan. Kami tiba agak terlambat sedikit sehingga matahari sudah naik cukup tinggi, tetapi cuaca cerah dengan langit biru sedikit mengobati kekecewaan kami. Saya dengan gembira menerbangkan drone saya untuk berkeliling dan melihat panorama keseluruhan pantai dan bukit Pulisan. Sebenarnya lokasinya paling asyik buat bikin tenda dan menginap semalaman, jadi bisa menikmati matahari terbit dan terbenam di satu tempat saja. Bagaimana? Ada yang mau kemping ceria di Pulisan bareng saya? Dijamin seru deh, nanti dimasakin yang enak-enak juga. Mau mau?

Add caption

Ini view Pantai Pulisan diambil dari drone. Pagi hari paling bagus untuk motret pantai ini dari udara.

Kalau ini Bukit Pulisan yang juga jadi spot favorit untuk berfoto ria.


Di Pantai Pulisan ini juga ada satu goa kecil yang saat air laut surut bisa dimasukin. Sayang Ketika saya di sana, air laut sedang pasang, jadi kapalnya tidak bisa merapat. Goanya memang tidak terlalu besar namun saya penasaran juga ada apa ya di dalamnya. Berarti saya punya alasan kuat untuk kembali ke Pulisan nih hahahaha...








Sebenarnya ada satu lagi destinasi yang ingin kami sambangi namun waktunya tidak cukup, namanya Ekowisata Bakau Bahoi. Di sana penduduknya sudah menyiapkan homestay yang bisa kita inapi dengan harga yang terjangkau, mulai dari Rp 200.000 - 500.000 per hari dan sudah termasuk makan serta snorkeling set. Good deal kan yaaaaa!

Untuk menuju Likupang sebenarnya bisa naik kendaraan umum dari Manado tetapi saya tetep menyarankan untuk menyewa mobil saja biar lebih luwes eksplorasinya. Untuk sewa mobil kisaran harganya Rp 350.000 - 700.000 per hari include driver. 





Saranku kalau kalian mau ke Likupang, datanglah di bulan Maret - Oktober, karena itu adalah waktu terbaik untuk berkunjung di mana curah hujan tidak tinggi seperti bulan November - Februari. 

Yuk ke Likupang yuk! Kalau kalian mau ke sana, colek-colek ya! Video perjalanannya nanti akan segera tayang di youtube!



Cheers,