Thursday, January 10, 2019

Satu Hari di City Palace Jaipur, Albert Hall dan Nahargarh Fort

Thursday, January 10, 2019 0 Comments


“Tuktuk saya parkir di depan City Palace ini ya. Sampai jumpa 1,5 jam lagi” ujar supir tuktuk yang kami sewa seharian untuk berkeliling Jaipur.  Untuk satu hari penuh, kami sepakat di harga Rs 700 atau sekitar Rp 140.000. Harganya okelah untuk dibagi berdua ya. Daripada capek-capek negosiasi lagi dengan supir tuktuk yang kurang fasih berbahasa Inggris, kami iyakan tawarannya (meski pada akhirnya menyesal. Kenapa? Karena di akhir dimintain extra jadi Rs 1300 dan mau nggak mau harus bayar).





Rencananya hari itu kami akan berkeliling ke beberapa tempat yang menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya di Jaipur, diantaranya City Palace, Albert Hall, Amer Fort & Nahargarh Fort. Ternyata setelah ditilik lagi, terlalu ambisius untuk mendatangi semua tempat itu dalam satu hari karena lokasinya agak jauh (Amer Fort & Nahargarh Fort lokasinya jauh dari pusat kota) dan nantinya malah tidak menikmati sama sekali. Akhirnya Amer Fort kami jadwalkan keesokan harinya saja dan memutuskan hari itu hanya berkunjung ke City Palace, Albert Hall & Nahargarh Fort.

Di setiap objek wisata tentunya kita harus beli tiket dulu sebelum masuk. Sebenarnya ada tiket terusan yang dijual online di website ini tetapi setiap masuk ke bagian payment dan saya masukkan nomor kartu kredit saya selalu gagal. Sampai minta tolong ke teman di Indonesia untuk booking-in dengan kartu kredit dia juga sama tetap tidak bisa. Ternyata memang ada aturan sendiri di India soal pembayaran via kartu kredit internasional ini. Katanya hanya kartu kredit yang dikeluarkan di India yang bisa dipakai di website itu. Ya… nasib, jadinya harus beli tiket on the spot.

Tiket objek wisata di India itu relatif mahal buat wisatawan asing apalagi kalau belinya satuan bukan tiket terusan. Di City Palace, wisatawan lokal hanya membayar Rs 100 dan wisatawan asing Rs 500. Lumayan juga ya kalau dirupiahkan, sekitar Rp 100.000 dan hanya untuk melihat eksterior City Palace. Kalau mau masuk ke bagian museumnya dan lihat interior istana harus bayar Rp 100.000 lagi. Hiks. Agak berat juga ya berdua harus bayar empat ratus ribu cuma buat satu tempat. Kami urungkanlah niat untuk masuk ke museumnya dan hanya melihat-lihat bagian luar saja.




Sebenarnya ingin sekali datang ke City Palace saat pagi dan masih sepi namun tentu itu mustahil malihhh… Istananya saja baru buka jam 9.30 dan itu sudah ramai sekali. Dari yang saya amati, orang India agaknya memang suka jalan-jalan baik itu di hari biasa maupun di akhir pekan. Wisatawan lokalnya banyak sekali dibanding wisatawan asing. Jadi sewaktu kami di sana, agak susah untuk mendapatkan spot yang kosong untuk ambil foto dan video. Saat ada area sepi langsung jeprat-jepret rekam secepat kilat. Dua jam ternyata tidak cukup di sana teman-teman. Hahahaha…

Lho memang tempatnya sebesar apa sih sampai dua jam tidak cukup berkeliling?

Sebenarnya bukan alasan luas atau besar bangunannya, melainkan detilnya. Duh Gusti, detil-detil bangunan di City Palace Jaipur itu benar-benar cantik sekali. Tak bosan-bosan saya melihatnya sambil berpikir betapa telatennya para seniman mengukir dan mewarnai pahatan di dinding-dinding istana itu di zaman dulu. 3 tahun waktu yang dibutuhkan untuk membangun istana ini (1729-1732) di bawah pemerintahan Maharaja Sawai Jai Singh II. 

Kompleks istana dibuat sedemikian rupa dan terdiri dari beberapa bangunan ; Diwan I Khas, Diwan I Aam, Chandra Mahal, Mubarak Mahal, Mukut Mahal, Maharani’s Palace, Bhaggi Khana & Shri Govind Dev Ji Temple. Desain dan arsitektur bangunan ini dikerjakan oleh Vidhyadhar Bhattacharya yang berasal dari Bengali.




Yang paling membuat saya menarik adalah pintu empat musim yang ada di City Palace yang juga dipersembahkan untuk empat dewa dewi. Leheriya Gate untuk Spring (musim semi) persembahan untuk Ganesha, Lotus Gate untuk Summer (musim panas) persembahan untuk Dewa Siwa, Peacock Gate untuk Autumn (musim gugur) persembahan untuk Dewa Wisnu, dan Rose Gate untuk Winter (musim dingin) persembahan untuk Dewi Devi. 












Nah karena saya berkunjung ke City Palace, tempat yang spesial di hati saya ini, tentu saja saya ingin memakai sari yang spesial juga. Sejujurnya itu sari sutra yang saya belikan untuk Mama, tetapi saya pakai duluan. Hahaha. Ada banyak sekali toko yang menjual sari di Jaipur. Kami diantarkan ke pabrik pembuatan sari oleh supir tuktuk dan ternyata itu tempat sari yang cukup mahal. Hiks. Harga termurahnya sekitar Rp 400.000 dan harga tertingginya bisa lebih dari belasan juta rupiah. Akhirnya saya pilih yang termurah saja. Belakangan saya baru tahu ada lagi yang lebih murah, harganya sekitar Rp 150.000-250.000. Tapi ya sudah terlanjur beli, pakai sajalah apa yang ada. 







Mungkin terlihatnya norak atau ikut-ikutan trend memakai sari di India dan berfoto ala-ala wanita lokal. But hey, saya menyukainya, jadi tak mau peduli dengan apa kata orang. Hehehehehehe. Dari pertama kali menonton Bollywood saat saya berumur 8 tahun, memakai sari saat berjalan-jalan India sudah menjadi impian saya. Ketika benar terwujud, rasanya sungguh menyenangkan sampai ingin menari-nari di jalan. 

Selain itu, karena mengenakan sari, semua orang lokal mengajak selfie. Semua umur, dari anak kecil sampai orang tua ngajakin foto bareng. Sampai bingung awalnya tapi sadar juga ujung-ujungnya di Negara kita semua orang lokal senang minta selfie bareng wisatawan asing kan? Atau sebenarnya mereka senang foto dengan perempuan aneh? Hahahaha… entahlah.

Saat berkeliling di City Palace, saking banyaknya orang, saya senang memperhatikan apa saja yang mereka lakukan, ada yang tiap sudut foto (tentu saja kami juga), ada kios-kios kecil yang menjual souvenir di bagian dalam City Palace dan beberapa orang berbelanja di sana. 

Ada juga Puppet Show yang sudah jarang sekali ditemui. Mereka menyajikan tontonan teater boneka dengan iringan musik accordion. Ada kotak diletakkan di depan mereka mana tahu penonton berbaik hati memasukkan beberapa rupee ke dalamnya kan. Yang bikin seru itu mereka juga bikin efek-efek suara ular dan anak-anak menjerit saat menontonnya. Kalau saya mealah tertawa terbahak-bahak. Goyangan pinggul bonekanya bisa pas begitu juga. Memanglah kalau urusan tarian dan pertunjukan seni, India adalah salah satu yang terbaik. Betul kan? 

Lucunya, ada beberapa petugas penjaga dengan sorban dan kumisnya yang otentik mungkin sedikit bosan dengan pekerjaannya dan menawarkan untuk mengambil foto kami. Awalnya kami tersenyum dan menolak halus namun bapaknya terus memaksa dan akhirnya saya menyerahkan kamera ke tangannya. Hasilnya? Ya jangan ditanya, blur semua. Hahahaha. 




Tidak terasa sudah 2 jam lebih saya dan Yusni menghabiskan waktu di City Palace ini. Kami harus bergegas ke tempat berikutnya, Albert Hall dan mengejar sunset di Nahargarh Fort. Sayangnya kami hanya lewat sebentar saja di Albert Hall, tidak sempat masuk ke dalamnya karena kami ingin tiba di Nahargarh Fort tepat waktu. Saya tahu kelakuan saya kalau sudah masuk museum, akan lama sekali selesai tur museumnya karena melihat, membaca, menikmati satu-satu, tiap sudut museum, dua jam pasti tidak cukup. Jadi meluncurlah kami ke Nahargarh dengan tuktuk yang masih setia menunggu di parkiran. 






Setelah selintas melihat Albert Hall dari halaman belakang, kami lanjutkan perjalanan menuju Nahargarh Fort yang bisa dicapai kurang lebih 30 - 45 menit berkendara. Memang lokasinya agak jauh di pinggiran kota dan terletak di perbukitan tinggi. Katanya bisa melihat view Jaipur dari atas sana dan paling bagus dikunjungi saat sunrise dan sunset. Tapi bentengnya juga baru buka jam 10 pagi, jadi kalau mau menikmati matahari pagi bisa tapi dari bagian luar bentengnya.

Juga kalau kalian mau ke Nahargarh untuk mengejar sunrise, supirnya minta extra charge karena mereka harus bangun dan bekerja dari subuh. Sedangkan orang India tidak terbiasa bekerja dari pagi-pagi sekali. Toko saja tidak ada yang buka pagi gengs...



Jalan menuju ke Nahargarh Fort ini menanjak dan berliku-liku melewati pegunungan dan kadang ada tuktuk yang mogok karena mesinnya tidak sanggup naik. Tuktuk yang kami tumpangi syukurnya baik-baik saja dan bang supirnya lihai.  Namun di tengah perjalanan kami menjumpai dua gadis asal Inggris yang tuktuknya rusak dan lalu kami tawarkan untuk naik ke Fort bersama-sama. Ya susah pasti mencari tuktuk pengganti di jalanan kosong sepi begitu. Akhirnya kami berempat duduk berpangku-pangkuan agar muat. Saya bongsor, mereka berdua lebih besar dan bongsor lagi. Kasihan juga Yusni kejepit hahahaha...

Kami tiba sudah hampir pukul setengah lima sore dan membayar tiket masuk Rs 200 (sekitar Rp 40.000). Menjelang matahari terbenam, akan lebih banyak wisatawan yang datang ke benteng yang arti namanya adalah "tiger". 

"Dulu di sekitar benteng ini ada banyak sekali harimau, karena itulah benteng ini dinamakan Nahargarh atau tiger. Sampai sekarang, saya mesih percaya meraka ada", ujar Bang Siraj, driver tuktuk kami. 








Saat kami tiba di sini, terlihat banyak sekali petugas yang sedang memarahi beberapa wisatawan asing yang memanjat dinding benteng Nahargarh. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Bapak petugas, beliau menjelaskan larangan untuk memanjat dinding. Memang cukup tinggi dindingnya dan tidak ada tangganya. Jadi yang memanjat biasanya memang sudah lihai seperti Spiderman memanjat dinding rata. Katanya kalau tidak ada petugas ya manjat aja silakan tapi saya dan Yusni tidak mau. Ya buat apa juga.

Kita duduk-duduk saja menikmati matahari tenggelam dan ketika matahari sudah balik ke peraduan, kami juga berjalan ke pintu gerbang karena sudah janji akan turun jam 18.30. Daaaan dua gadis asing tadı masih menumpang. Kami pergi ke tempat tuktuknya mogok dan ternyata tuktuknya sudah hilang, mereka ditinggal supirnya. Kasihan juga. Hal-hal ini lumrah terjadi kalau plesiran ke India, jadi ya slap-siap saja ya.

Setelah sehalian jalan, kami kembali ke hostel kami di Jaipur, Chillout Hostel dan memutuskan makan malam di sana saja. Sebenarnya bisa kok dalam satu hari lebih dari 4 tempat tapi pasti nggak menikmati, pulang ke penginapan keburu capek.


Okay, masih ada beberapa tempat yang mau saya ceritakan, setelah ini ya...


Cheers,




Thursday, December 27, 2018

Hawa Mahal, Istana Angin & Puteri-Puteri Berpurdah

Thursday, December 27, 2018 7 Comments



Jaipur, Rajasthan, bisa dikatakan sebagai area paling warna-warni di seantero India. Dari cerita yang saya tahu, bangunan di Jaipur dulu dicat merah muda atas instruksi Maharaja Ram Singh untuk menyambut Prince Albert of Wales yang berkunjung ke sana pada tahun 1876. Warna merah muda atau merah jambu dianggap sebagai simbol keramahtamahan sehingga seluruh bagian Old City Jaipur dicat dengan warna itu. Padahal menurut saya warnanya lebih ke terakota, warna peach yang hangat dan bukanlah pink. Tapi kalau dianggap pink ya bolehlah.

Terbayangkah oleh kalian ketika berjalan kaki lalu di depan mata memantul warna bangunan-bangunan pastel manis ditimpa sinar matahari pagi atau sore? Warnanya persis seperti filter “Jaipur” di Instagram Story. Cantik sekali.

Destinasi pertama saya dan Yusni ketika tiba di Jaipur adalah Hawa Mahal, bangunan yang sudah saya impi-impikan dari dulu. Karena itu saya menuliskan satu artikel khusus tentang Hawa Mahal ini. Menghabiskan 3 hari di Jaipur, kami selalu ke Hawa Mahal setiap hari, tak bosan-bosan menatapnya meski hanya satu kali saja masuk ke bagian dalamnya. 






Bangunan yang menjadi icon kota Jaipur ini dibangun tahun 1799 oleh Maharaja Sawai Pratap Singh (memerintah kerajaan sejak 1778 – 1803) khusus untuk para perempuan berdarah biru, putri kerajaan, istri-istri raja. Bangunan ini seklias mirip seperti sarang lebah, meski sebenarnya desainnya terinspirasi dari mahkota Dewa Khrisna dengan gaya bangunan campuran Islam Mughal dan Hindu Rajput. Arsiteknya sendiri bernama Lal Chand Ustad.

Dahulu, seluruh perempuan kerajaan dilarang menampakkan diri di depan umum, tinggal di "zenana" dan harus mengenakan cadar atau purdah. Itulah mengapa saya menyebut istana ini sebagai istana puteri ber-purdah. 

Hawa Mahal sendiri berarti Istana Angin (Hawa = Angin ; Mahal = Istana). Bangunannya terdiri dari 953 jendela kecil yang disebut “jharokhas”. Dirancang sedemikian rupa, “jharokhas” ini berfungsi sebagai ventilasi udara sehingga di dalam istana selalu terasa sejuk. Meski sejak 2011 jendela-jendela kecil itu kebanyakan ditutup karena turis yang kerap buka tutup sembrono sehingga berpotensi merusak. Jadi, tak terasa lagi angin-angin semilir di dalam Hawa Mahal.




Selain menjadi ventilasi istana, jendela-jendela kecil itu berfungsi sebagai tempat para putri-putri serta istri Raja duduk menikmati pemandangan di luar istana tanpa diketahui oleh rakyat biasa. Dikarenakan larangan menampakkan diri di depan umum, mereka harus berpuas diri menikmati festival atau menonton aktivitas warga dari jendela kecil itu saja. 

Di zaman ini, saya hidup sebagai perempuan bebas dan diperbolehkan melakukan apa saja selama saya mampu bertanggung jawab atas pilihan saya sendiri. Oleh karena itu saya sedih sekali ketika membaca cerita tentang puteri-puteri yang ber-purdah itu yang hanya boleh tinggal di dalam istana, tak boleh menampakkan diri hingga nanti tiba saatnya ia dipersunting lelaki yang setara kastanya. 

Saat masuk ke bagian dalam Hawa Mahal, saya duduk di tepian satu jendela kecil, ingin merasakan dan melihat pemandangan yang dinikmati putri-putri itu dan berandai-andai menjadi salah satu dari mereka. Meski berbalut sutera terbaik dengan hiasan permata serta emas berlimpah dari ujung kepala hingga ujung kaki, saya mungkin tak sepenuhnya bahagia. Saya lebih memilih tak jadi putri bangsawan dan bisa beraktivitas di luar (meski pun jarang sekali perempuan India, apalagi anak gadis berada di luar rumah pada zaman itu). Andai ada mesin waktu saya ingin sekali mewawancarai mereka apa yang mereka rasakan sebenarnya.




Saya kan penasaran, tidak adakah salah satu dari mereka yang memberontak dan memaksa keluar dari Hawa Mahal? Tak adakah yang berani mendobrak pakem-pakem itu? Saya masih mencarinya. Mungkin saja ada putri seperti itu kan? 

Dari yang saya baca, ada satu putri kerajaan Jaipur yang menarik hati saya, yaitu Princess  Gayatri Devi of Cooch Behar / Her Highness Maharani Devi Gayatri, Maharani of Jaipur. Jika kalian sempat, bacalah sejarah tentang beliau. Sungguh menarik, beda dengan putri-putri berpurdah yang ada di “zenana” (tempat tinggal para perempuan istana) Hawa Mahal.

Sebenarnya gambar-gambar Hawa Mahal yang bersliweran di Mbah Google itu adalah bagian belakang Hawa Mahal, tidak terlihat ada pintu masuk di bagian kanan atau kirinya kan? Yang ada malah pertokoan yang menjual souvenir khas Rajasthan.

Jadi kita bisa masuk dari bagian depan, dan bayar Rs 200 (setara Rp 40.000,-) untuk tiket masuk per orangnya. Loketnya hanya terdiri dua jendela kecil sekaliiii yang dimana jalurnya dibagi dua, jalur perempuan dan jalur pria. 

Masuk ke bagian dalam Hawa Mahal, kita bisa menelusuri lorong-lorong dan naik hingga titik balkon teratas Hawa Mahal alias lantai 5. Saat terbaik untuk menikmati bagian dalam Hawa Mahal menurutku saat sore hari menjelang sunset. Dari balkon lantai 5, kita bisa melihat matahari terbenam. Kekurangannya cuma satu, ramai dan sesak. Orang-orang berbondong-bondong masuk ke Hawa Mahal saat sore hari untuk menikmati sunset seperti kami. Tak lupa mereka membawa selfie-stick kemana-mana untuk mengabadikan momen di dalam Hawa Mahal. 







Tetapi spot favorit kami berdua (dan hampir semua turis asing) adalah di seberang Hawa Mahal. Ada satu café namanya Wind View Cafe yang selalu ramai menjelang sore hari jadi harus nge-tag tempat sebelum jam 5 sore. Letaknya ada di lantai 3 ruko kecil yang sempat membuat kami bngung di mana pintu masuknya. Meski café-nya kecil, pengunjungnya ramai sekali dan rata-rata wisatawan asing. Ada Tattoo Café yang juga ramai pengunjung. Letaknya bersebelahan jadi kalau tidak dapat spot di Wind View tinggal ngesot ke Tattoo Café. Sama saja kok viewnya. Namun yang membuat saya dan Yusni sampai kembali ke café yang sama hingga 3 kali adalah makanannya. Chai nya juga! Enak banget! 


Kelihatan kan Wind View Cafe, seberang Hawa Mahal persis.


Bayangkan menyeruput Masala Chai (teh susu India) sambil menikmati matahari terbenam di balik Hawa Mahal lalu melihat pergantian warna langit dari jingga merona menjadi biru lalu berganti keemasan dari pancaran lampu Hawa Mahal. Benarlah itu view paling mahal dari Hawa Mahal.





Untuk harga makanan dan minuman di Wind View Café, terhitung murah. Saya sempat mengira harganya akan mahal sekali karena tempat ini semakin popular di kalangan wisatawan asing. Ternyata tidak. Meski memang harganya lebih mahal daripada rumah makan kaki lima, tapi ya masih wajar. Harga makanannya berkisar Rs 100 – 300 (sekitar Rp 20.000 – 60.000). Saya dan Yusni menghabiskan berjam-jam di Wind View Café hingga tutup karena memang menyenangkan duduk di sana. Sampai berkenalan dengan pemilik café serta staff-nya yang super ramah. Mereka senang sekali berbicara dengan tamu, mengulik cerita-cerita dari Negara nan jauh yang belum pernah mereka sambangi. Setelah menunjukkan foto-foto Indonesia, mereka bilang nanti juga mau berkunjung ke Negara kita! Yeay! Saya bilang bahwa Jaipur mirip dengan Jakarta hahahahaha… (untuk masalah bising dan macetnya).






Saking senangnya dengan staff di Wind View Café, saya sampai bernyanyi dan berjoget dengan mereka saat hanya saya dan Yusni pengunjung yang tersisa. Mereka biasanya buka hingga jam 8 saja, tetapi karena 2 malam berturut-turut kami di sana, mereka buka hingga jam 9 malam. Hiburan yang menyenangkan mereka katanya setelah seharian melayani banyak pengunjung. Hahahahaha…

Ini website dan kontaknya jika kalian mau reservasi (kalau bepergian dalam grup lebih dari 4 orang ada baiknya reservasi dulu ya) 



Masih ada beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi di Jaipur... Saya akan menuliskannya di artikel setelah ini ya...


Cheers,

Cerita Dua Madam Menyapa Jaipur, The Pink City

Thursday, December 27, 2018 5 Comments




Ah, akhirnya sampai juga kami di Jaipur setelah 5,5 jam perjalanan dari Delhi. Berangkat jam 5 pagi dan tiba pukul 10.30. Saya hirup udaranya dalam-dalam, sejuk terasa karena memang sudah mendekati akhir tahun. Temperaturnya hanya 17 derajat celcius saja.

"Madam, tuktuk madam, taxi madam, cheap cheap", ujar semua lelaki yang mengerubungi kami saat baru keluar dari stasiun Jaipur. Wajarlah setiap orang yang keluar ditawari transportasi lanjutan seperti taxi atau tuktuk ya. 

"No thank you, we just want to go to find some food", jawabku sambil berlalu.

"Ah, after finish your lunch, go with tuktuk, my tuktuk is the best, cheap. I can take you everywhere Madam", celetuk salah satu dari kerumunan itu.

Hahaha... Awalnya saya merasa aneh dipanggil Madam oleh mereka. Kenapa bukan Miss? Kan paras (paras) kami berdua masih muda. Madam oh Madam... Beberapa hari kemudian, saya sadar, ternyata mereka memang memanggil semua turis perempuan dengan "madam” tak peduli usia tua atau muda.

Masuklah kami ke salah satu rumah makan di depan stasiun Jaipur dan meletakkan carrier di sudut ruangan lalu melenggang ke bagian kasir untuk memesan makanan. Di etalase terpampang banyak makanan India yang terlihat lezat (oh yaaaa saya penyuka makanan India, jadi setiap lihat makanan di sana air liur saya menetes terus). Saya pesan satu menu thali komplit yang harganya Rs (rupee) 138 saja alias Rp 28.000,-. Murah kaaaaaannnn....

Karena itu pertama kalinya Yusni mencoba makanan India, saya deg-degan apakah dia suka atau tidak. Ternyata....

Dia tidak suka.

Hahahahaha. 

Ya wajar, bisa dimaklumi, tak semua orang suka makanan India. Rasanya agak aneh di lidah kita, padahal buat kita seharusnya biasa saja karena bumbu masakannya mirip. Gulai dan kari yang kita santap di Indonesia kan kurang lebih sama, meski memang lebih kental di India sih.

Karena masih hari pertama dan perkenalan rasa pertama ya nggak apa-apa. Semoga saja untuk beberapa minggu ke depan lidah Yusni akan terbiasa dengan bumbu India, harap saya.

Selepas brunch (breakfast-lunch), kami menuju prepaid taxi booth dan menunjukkan alamat tujuan kami. Sebelumnya saya sudah menyimpan screenshot alamat hostel yang akan kami tempati agar tetap bisa ke sana meski tidak ada sinyal internet karena belum punya simcard lokal.

Kami menginap di Chillout Hostel Jaipur yang kalau di peta tidak terlalu jauh dari Pink City area, tapi ternyata tetap harus naik tuktuk / taxi kalau mau pergi eksplorasi. Bisa sih jalan kaki kalau kamu mau jalan-jalan sambil lihat pemandangan jalanan Jaipur, tapi kalau bawa barang banyak repot juga. Naik tuktuk di sana tidak terlalu mahal kok. Untuk jarak sekitar 5 kilometer dari hostel kami menginap ke area Pink City, satu kali jalan bayar Rs 100 saja atau sekitar Rp 20.000,-.




Harga hostel kami di Jaipur per malam sekitar Rs 600 untuk berdua. Kami memilih private room, bukan dormitory. Jadi dengan harga sekitar Rp 120.000 rupiah untuk berdua sudah include breakfast, good deal banget kan? Saya sudah booking hostel ini dari situs booking.com. Nggak harus bayar di depan kok dan cancellation-nya bisa sampai H-1. 





Untuk perkara makan, pagi dan malam biasanya kami makan di hostel karena lebih terjamin kebersihan makanannya dan harganya normal, berkisar Rs 100 – 300 (sekitar 20.000 – 60.000 rupiah) per porsinya. Mau makanan India ada, mau western food juga ada. Tinggal pilih sesuai selera. Oh iya kalau sarapan pagi nggak perlu bayar lagi kan sudah include dengan harga penginapan. Menu vegetable cheese omelette jadi favorit Yusni dan saya selama menginap di Chilout Jaipur kemarin. Enaaaaaakkkk!


Tipikal sarapan pagi di hostel kami ; Veggie Cheese Omelette, Toast + Jam dan Masala Chai


Nah kalau siang hari, kami biasanya makan kalau bener-bener lapar. Kalau nggak ya dirapel (digabung) sekalian makan malam. Pas menulis artikel ini dan mengingat perjalanan yang lalu di Jaipur, saya baru ngeh kalau kemarin itu kami berdua jarang makan siang. Hahahaha. Mungkin karena porsi sarapannya besar jadi cukup kenyang sampai malam. 

Selama di Jaipur pun saya baru ngeh kalau kami hanya makan di luar hostel hanya di satu tempat saja, di Wind View Café yang lokasinya di depan Hawa Mahal Palace. Makanan di sana enak-enak dan aku bisa minum Masala Chai nya lebih dari 5 gelas. Porsi makanannya juga besar jadi bisa dibagi sama Yusni biar habis. Karena lidah Yusni sudah cocok dengan makanan di restoran itu jadi kita balik ke situ saja setiap hari untuk makan. 

Oh iya, bersiaplah sakit kepala dan sakit telinga di Jaipur. Desibel suara tuktuk, motor, mobil, truk, bus, semua kendaraan lah pokoknya, bikin telinga kita berdenging. Sudah menjadi kebiasaan di India untuk menekan klakson kuat-kuat dan berkali-kali. Entahlah, saya pun tidak mengerti. Masa sih tidak bisa klakson sekali saja. Apakah semua orang di India punya masalah pendengaran sampai mereka harus diklakson kuat-kuat agar minggir saat berjalan kaki? 


Kalau melihat ini, teringatkah satu kota? Yaaa Jakarta....


Buat yang punya masalah jantung, kagetan atau semacamnya, saya sarankan bawa penutup telinga atau ear-plug. No kidding. Buat kebaikanmu sendiri. Saya dan Yusni juga selalu bawa wireless headset di dalam ransel. Jadi kalau memang sudah nggak tahan banget sama bisingnya kendaraan saat kami sedang duduk di mana gitu, kami berdua pasang headset dan dengerin musik kesukaan masing-masing. Kemarin itu menolong banget biar nggak emosi di jalan hahahaha. Tapi jangan dipakai kalau sedang jalan kaki di jalan raya ya. Nanti pas diklakson tuktuk malah nggak denger dan (amit-amit) diserempet. 




Jaipur ini salah satu kota yang paling banyak didatangi turis karena masuk dalam "Golden Triangle" Delhi-Jaipur-Agra


Menyenangkan memang untuk mendengarkan suara-suara di jalanan India, karena saya sendiri suka sekali mendengarkan orang India berbicara. Saya senang memerhatikan mimik wajah mereka dan gestur tubuh mereka. Namun ada saatnya saya ingin menikmati pemandangannya saja tanpa harus mendengarkan suara di sekitaran. Apalagi kalau suaranya itu bising kendaraan yang keterlaluan bisingnya. Hahaha.

Tapi ya begitulah India.


Jangan heran banyak sapi / lembu berkeliaran di jalan karena sapi adalah hewan suci yang tidak boleh disakiti atau dimakan di India.


Nah sebelum kita jalan-jalan keliling kota, apa yang pertama kali disiapkan saat tiba di Jaipur?

Ini dia...

Download Aplikasi Map Offline.


Di ponsel saya sudah ada apps offline map. Yang saya pakai itu namanya “maps.me”. Jadi setiap sampai di kota baru, bisa pakai free wifi di airport / hostel untuk download peta kotanya. Jadi tanpa koneksi internet di jalan pun aman nggak bakal tersesat. 





Beli Simcard Lokal


Pertimbangan saat beli simcard lokal sewaktu trip di India adalah harga. Sebenarnya bisa sewa portable wifi yang sekarang ada di mana-mana. Tentunya lebih gampang karena nggak harus ribet-ribet registrasi kartu prabayar. Tapiiii kalau buat traveling untuk waktu lama di sekitaran India (kalau ditotal kemarin jadi 5 minggu), mahal banget jatuhnya untuk sewa wifi dari Indonesia. 

Jadi saya dan Yusni sepakat untuk beli satu simcard lokal saja dan nanti kami share personal hotspot. Itu salah satu cara kami untuk berhemat. Hahaha. Meski ribet untuk urus simcard di India dan bisa saja mengandalkan wifi di hostel, tapi yaaaaa demi kelancaran berbagi cerita perjalanan, kami beli sajalah.

Sebenarnya paling mudah beli simcard di Bandara New Delhi tapi mereka bukanya jam 11 pagi (saya nggak ngerti kenapa mereka bukanya siang banget) jadi kalau kamu tiba sebelum jam tersebut dan nggak bisa menunggu selama itu (termasuk kami yang mendaratnya jam 1 subuh), bisa beli di counter resminya di kota-kota besar di India. Saat itu yang paling dekat dari hostel kami adalah counter-nya Airtel, salah satu provider besar di India selain Vodafone. 

Pergilah kami ke sana dan ternyata cukup banyak orang yang sedang mengantri untuk dilayani. Cukup lama kami menungu hingga satu petugas mendatangi kami (tidak ada nomor antrian kayak di Indonesia). Kami diminta untuk isi formulir lalu menyertakan foto copy passport dan visa (bisa difoto copy di counternya) dan juga pas foto ukuran berapa saja. Lumayan banyak juga persyaratannya ya. 


Ini formulir yang harus diisi untuk pembelian simcard-nya.
Setelah simcard-nya dimasukkan ke ponsel saya, petugasnya bilang butuh 4 jam sampai data internet-nya bisa digunakan (tapi ada yang DM di instagram katanya setelah 24 jam baru aktif). Yaaaaa nggak mungkin kan kita nunggu 4 jam di counternya. Ya sudah kami keluar jalan-jalan dong setelah membayar Rs 229 (setara Rp 46.000) untuk pembelian simcard. Memang benar 4 jam kemudian sudah  ada sinyal Airtel 4G muncul di sudut kiri atas ponsel. Tapi ternyata tidak semudah itu Ferguso!

Nggak bisa langsung dipakai internetnya Maaaasss, Mbaaak. Ada beberapa step lagi yang harus kita lakukan sesuai instruksi petugas, harus telpon ini, masukin nomor ini dan itu. Tapi tenang saja, sudah dituliskan di secarik kertas oleh Masnya jadi saya nggak bingung meski makan waktu juga.

Setelah semua proses aktivasi selesai, saya berharap sudah bisa dipakai itu internetnya. Ternyata belum bisa juga karena….

Belum ada paket internetnya. Hahahahaha.

Ya, saya dan Yusni tertawa terbahak-bahak. Kami sedang menikmati makan malam kami waktu itu. Sudah hampir jam 9 malam jadi tidaklah cukup waktu untuk kembali ke counter Airtel itu. Jadi mau tak mau harus menunggu keesokan harinya. 

Keesokannya kami beli paket internet di konter di tepi jalan saja supaya cepat dengan harga Rs 299 (setara Rp 61.000) untuk paket internet unlimited 28 hari. Tapi satu hari pemakaian maksimal-nya 1.5 GB. Lha, katanya unlimited? Piyeeee tooo? Hahahahaha.

Ah yang penting internetnya sudah bisa dipakai! Hurray!

Download aplikasi “Olacabs”


Jadi kalau di Indonesia ada moda transportasi online “Go-Jek” dan “Grab”, di India ada dua yang paling besar; “Olacabs” dan “Uber”. Namun yang paling banyak dipakai adalah “Olacabs” karena pilihan moda transportasinya beragam mulai dari tuktuk, taksi dan juga mobil rental. Persyaratan utamanya hanya harus punya nomor lokal. Kalau nggak punya kamu nggak bisa aktivasi aplikasi ini. Berguna sekali kalau punya aplikasi ini. Aman karena bisa dipantau perjalanannya (semua transportasi online juga begitu kan) dan juga lebih murah dibanding nego di tepi jalan langsung. Tapi kalau jaraknya dekat sudah langsung saja cegat tuktuk, paling masih sekitar Rs 100 (Rp 20.000) harganya. Masih normal kok.


Yeay! Perdana naik tuktuk di Jaipur.



Nah kalau yang di atas semuanya sudah beres, artinya kita sudah siap untuk eksplorasi Jaipur. Apa yang bisa dilihat dan dicoba di Jaipur, Pink City yang tersohor itu?




Silakan dibaca di artikel berikutnya ya…



Cheers,









Follow Us @satyawinnie