Monday, March 25, 2019

Kenapa Traveling Bareng Teman Selalu Jadi Wacana?

Monday, March 25, 2019 3 Comments






Pertanyaan itu pasti bukan hanya muncul untukku namun kalian juga. Kita semua. Ya kan? 

Kenapa sih kalau mau jalan bareng sahabat itu kadang hanya jadi wacana saja? Yang diawalnya semangat 45 untuk traveling bareng, mendekati hari H tidak menyisakan siapa-siapa alias batal alias "wacana tok". Pernah begitu juga nggak? Hahahaha...

Saya sendiri mengalami itu, sering, sering sekali.

Sejak jadi freelancer 3 tahun lalu, rasa-rasanya susah betul janjian traveling sama sahabat yang bekerja kantoran. Susah betul nyari waktu yang semuanya avaliable dalam satu waktu. Kalau mereka lagi kerja, saya libur. Ketika giliran mereka bisa libur panjang, gantian saya yang harus bekerja. Kadang mau menertawakan betapa lucunya persahabatan kami, 10 tahun berkawan sejak kuliah tahun pertama hingga sekarang mereka sudah mau menikah dengan pujaan hati, trip kami tidak pernah terealisasi. Hahahahaha.

Kalau lihat whatsapp group, rasa-rasanya ada banyak sekali grup yang dibuat untuk merencanakan trip bareng namun pada akhirnya jadi ya begitu saja. cuma ngobrol-ngobrol dan tak pernah jadi juga jalan barengnya.

Tapiiiii, ada satu grup yang enak diajak koordinasi jadwal ngetrip bareng. Mereka adalah Eaz, Rizal dan Guri, diving buddies saya. Sejak kami ngetrip tahun lalu, sampai sekarang rencana trip kami hampir terlaksana. Hebat banget kan? 

Kok bisa?

Karena kami semua pekerja lepas aka freelancer, empat-empatnya. Hahahaha. Jadi ya masih cukup mudah untuk koordinasi dengan mereka, meski itu juga sudah harus dari berbulan-bulan sebelumnya supaya bisa 'ngelock' tanggalnya nggak menerima kerjaan di periode waktu itu. 


Geng diving tersayang yang lancarnya cuma kalau mau diving trip aja....


Cuma yaaa nggak semuanya seperti kami kan? Tentu masih lebih banyak teman-teman yang bekerja kantoran atau punya usaha yang nggak bisa ditinggal. Semacam dua sahabatku yang aku ceritakan di awal. Tahun ini, sebelum mereka menikah dan diboyong suami mereka, aku ingin sekali trip kami terealisasi. Entah ke mana pun terbangnya ya jadilah. Asal jauh dari Jakarta. Hahahaha...

Memang agak susah karena satu berprofesi sebagai Flight Attendant dan satu lagi Manager di salah satu perusahaan maskapai penerbangan. Sibuknya luar biasa.


Ini nih dua gadis yang kalau mau diajak jalan wacana mulu dari 10 tahun yang lalu...


"Aku rasa kita bertiga butuh liburan deh, ke mana gitu. Kalian berdua sudah hampir jadi 'Bridezilla' ucap saya di grup chat kami.

Hampir setiap hari, mereka selalu bercerita soal persiapan pernikahan mereka di bulan Agustus dan Oktober nanti. Semuanya pusing, stress dan karena cuma saya di grup itu yang belum berencana menikah, jadi paling netral dan bertugas untuk membuat mereka tenang dan tidak jadi 'gila' dengan semua wedding plans & preparations.

"Tapi susah banget ini kita jadwalin bertiga, satu di mana, satu lagi di mana" seloroh salah satu teman saya di grup.

"Weeehhh bisa kok kalau kita obrolin dari sekarang. Nggak harus cari long weekend banget lah biar jadi nih ngetrip barengnya. Kabarin aja kapan kalian lowong, ada hari libur dan cus langsung" jawab saya lagi.

"Tapi kan kalau nggak jauh-jauh hari, mahal tiketnya Yong", timpal teman saya.

Woooo, saya lupa belum kasitahu mereka kalau saya ingin ngajak mereka traveling pakai SCOOT. Ada 66 destinasi menarik yang bisa kami pilih dan selalu ada reguler promo dari maskapai kuning ini. 





Harga tiket Scoot ini sudah termasuk bagasi kabin 10 kilogram jadi buat short trip kemana gitu cukup banget, nggak perlu beli bagasi lagi. Tapi kalau mau nambah pun, gampang banget prosesnya saat pembelian tiket. 

Saya tadinya mau ajak mereka ke Athens, Yunani karena tiket sekali pergi ke sana cuma 3 jutaan rupiah. Woooooo, bisa ke Santorini juga sekalian kan.

Selain Athens, Scoot juga terbang ke Berlin. Wowowowowoow! Saya pantengin websitenya dan lihat-lihat tanggal yang pas buat liburan kami di musim panas nanti. Pokoknya sebelum Agustus (salah satu menikah), kami harus jalan-jalan. Titik.

Pas banget bulan ini, Scoot lagi ada promo "Jalanin Aja" dengan memberikan diskon hingga 25% untuk kelas ekonomi. Cukup masukin kode promo : SCOOT25. Gampang banget kan?




Promonya sampai 31 Maret 2019 ini, jadi langsung cepat-cepat berburu tiket promonya ya. Saya juga masih berburu nih.

Kalau teman-teman mau tahu info lengkapnya soal promo ini, langsung saja klik www.flyscoot.com/jalaninaja atau kunjungi facebook page SCOOT ya...





Cheers,





Friday, March 22, 2019

Berkunjung ke Ujung Langit Hong Kong bersama Ngong Ping 360

Friday, March 22, 2019 2 Comments






Hah? Ujung langit Hong Kong? Di mana itu Sat? 

Pasti kalian bertanya seperti itu sewaktu membaca judul artikel blog ku ini. Hahahaha.

Ya, kusebut ujung langit karena memang lokasi yang saya kunjungi ini jauhhhhhhhh sekali sampai melewati semua gedung pencakar langit di Hong Kong. Bayangkan, adakah tempat yang lebih tinggi dari itu? Ya ada, di pegunungan laaah.

Sebenarnya nama aslinya Ngong Ping Village, desa kecil yang terletak di area pegunungan di Hong Kong, tepatnya di Pulau Lantau. Negara ini ternyata tidak hanya terdiri dari bangunan beton saja kok seperti yang kita lihat di foto-foto. Masih terdapat area hutan hijau asri yang juga menjadi tempat favorit warga Hong Kong bersantai saat akhir pekan. Memang betul lari ke hutan itu nikmat kan?

Bersama dengan Firza dari Dwidaya Tour, saya, Yusni Mustafa dan Mega Iskanti, kami berempat berangkat ke Ngong Ping Village dengan naik MTR (Mass Transit Railway)  menuju stasiun Tung Chung dan lalu dilanjutkan ke terminal Ngong Ping 360 untuk naik cable car.

Kami tiba di terminal Cable Car Ngong Ping masih pagi, sekitar pukul 9. Namun antrian orang-orang yang juga ingin naik ke Ngong Ping Village sudah mengular padahal hari biasa, bukan akhir pekan. Makin-makinlah saya penasaran seperti apa Ngong Ping Village ini.

Hanya butuh sekitar 25 menit perjalanan naik Cable Car ke Ngong Ping Village. Ada dua pilihan Cable Car, Regular Cabin dan Crystal Cabin. Supaya lebih terasa serunya, kami naik Crystal Cabin yang lantai dasarnya kaca transparan. Jadi serasa terbang gitu. Saya senang banget menaikinya karena memang penyuka ketinggian. Jadi teman-teman bisa coba juga dan rasakan sensasi kaki melayang di udara hahahaha. Makanya disebut Ngong Ping 360 karena memang bisa lihat full view dari seluruh sisi karena transparan.




Tenang saja, pasti aman kok naik Cable Car-nya karena memang sudah memenuhi standar. Biasanya satu cable car diisi maksimal sepuluh orang, namun kemarin kami hanya berempat jadi bisa lebih leluasa untuk foto-foto. Meski begitu, 25 menit nggak cukup karena pengen foto dengan banyak angle di dalam cabin. Lagi asyik ambil gambar, eh tahu-tahunya sudah sampai. Hahaha.

View favorit saya adalah runway Hong Kong Airport yang terlihat jelas saat cable car sudah bergerak naik. Waw, bisa melihat pesawat-pesawat itu take off dan landing dari udara dan tidak jauh jaraknya bikin serasa lagi lihat kota mainan. 

Oh ya, untuk biaya naik cable car ke Ngong Ping Village ini sekitar Rp 426.000 untuk round trip standard cabin dan Rp 571.000 untuk round trip crystal cabin. Harga ini tentu bisa berubah sewaktu-waktu ya tergantung kurs Hong Kong Dollar terhadap Rupiah. Bisa cek juga di website Ngong Ping 360 nya ya.

Ngapain saja di Ngong Ping Village?

x
x

Nah, Ngong Ping ini meski disebutnya village / desa, dia bukan desa yang ada di gambaran umum, melainkan desa wisata buatan yang sudah ditata rapi dengan beragam atraksi dan juga kedai makanan. Tenang, banyak pilihan makanan halalnya juga kok.




Dikelilingi pegunungan, desa wisata Ngong Ping ini hawanya sejuk dan asri sehingga menyenangkan untuk dikelilingi berjalan kaki. Pantas saja banyak yang membawa anaknya ke sini karena pasti jadi area bermain yang menyenangkan untuk mereka. Bisa bebas berjalan tanpa harus takut tertabrak kendaraan. Begitu juga para lansia yang terlihat bahagia berjalan kaki pelan-pelan di sana.






Bagi kamu yang senang dengan beragam atraksi permainan, bisa cobain VR 360 yang ada di Ngong Ping Village. Dasar memang Indonesia ya, hebohnya nggak ada yang ngalahin. Saking serunya permainan di sana, semuanya teriak heboh dan tertawa-tawa. Mas dan Mbak operatornya pasti geleng-geleng kepala melihat tingkah kami. Ya habisnya seru!




Selesai main VR 360, kami diajak untuk makan siang dengan menu kebab (tentunya halal) di Ebenezer's Kebabs & Pizzeria. Porsinya besar dan enak. Saya hanya makan setengah dan sisanya dimakan sore-sore hahahaha. Firza, Mega pamit sebentar untuk ibadah sholat dan saat mereka kembali, kami sudah siap untuk ikut tur ke Tai O Fishing Village, desa nelayan di Pulau Lantau. Awalnya saya sangat bersemangat untuk foto-foto wajah penduduk di sana namun urung ketika mendengar arahan dari local guide kami. 

"Jangan mengambil foto-foto orang lokal di Tai O nanti ya, apalagi lansia. Mereka sangat tidak suka difoto dan merasa tersinggung jika ada yang mengambil foto mereka diam-diam. Jadi, berkeliling saja dan nikmati pemandangan ya" ujar beliau saat kami masih berada di perjalanan bus dari Ngong Ping ke Tai O. 

Yah. Sedikit kecewa saat mendengar arahan itu tapi ya tetap harus ditaati. Memang tidak semua orang suka difoto dan kita harus hargai.

Di Tai O Village, kami diajak berkeliling rumah-rumah nelayan yang dibangun di atas air. Bisa saya bilang ini desa nelayan paling bersih dan rapi yang pernah saya kunjungi. Biasanya kan bau amis ikan menyeruak di tiap sudut kampung nelayan, namun Tai O ini berbeda. Kampung nelayannya bersih sekali dengan banyak jajanan lokal di sepanjang lorongnya.






Lucunya, saat saya dan teman-teman sedang menyusuri kampung, ada suara yang tidak asing di telinga saya. Suara cekikikan perempuan yang tampaknya sedang asyik berseloroh dengan bahasa Jawa Timur. Lho kok di perkampungan Hong Kong ada yang 'boso jowo'? Oh mungkin wisatawan dari Surabaya, pikir saya.

Ternyata salah. Mereka adalah dua Mbak TKW yang berasal dari Jember dan bekerja di Hong Kong. Kami sempat ngobrol sebentar sebelum melanjutkan perjalanan lagi berkeliling kampung.

Oh iya, yang menyenangkan dari kunjungan ke Kampung Tai O ini adalah kita diajak naik kapal kayu ke bagian teluk untuk melihat White Dolphin yang juga dijuluki "Chinese Dolphin". Saya kira maksud mereka adalah 'Beluga', namun setelah dicek, white dolphin itu memang ada dan ada di perairan Cina. Meski tak sempat melihat mereka berloncatan di permukaan air, kami sempat melihat bagian atas badannya sedikit. Memang putih warnanya. Waw keren betul...


Andai saja saya diperbolehkan menyelam, wah pasti senang banget bisa ketemu dengan lumba lumba putih. Tapi mereka pemalu, pasti tidak suka didekati manusia jika kita mendekat. Padahal sudah mengeluarkan jurus pemanggil lumba-lumba. Hahahaha. Mungkin harus dalam bahasa Mandarin ya, kalau siulan pakai bahasa kita gak dimengerti.

Selain lumba-lumba, highlight dari kampung Tai O ini adalah jajanan ikan asin-nya. Sekonyong konyong aku jadi ingat kampung halamanku, Sibolga yang juga jadi penghasil ikan asin terbaik di Sumatera Utara. Wah, wangi ikan asinnya itu lho. Jadi bikin pengen masak ikan asin goreng dimakan sama lalapan hahaha.




Waktu yang diberikan untuk keliling kampung Tai O ini tidak lama, jadi kami berjalan cepat agar bisa mengelilingi banyak tempat. Jam setengah 4 sore kami sudah naik bus lagi kembali ke Ngong Ping Village.

Lanjutlah kami menuju ke "Po Lin Monastery" yang ada di area Ngong Ping. Bangunan yang juga dikenal dengan nama "Big Hut" ini didirikan tahun 1906 oleh three monks di sana. Areanya cantik untuk dijelajahi dan ada patung dewa pelindung empat juru mata angin di gerbangnya. Sayang bagian dalamnya tidak boleh difoto jadi teman-teman langsung ke sana saja ya. Hahahaha...






Yang tidak boleh dilewatkan juga adalal patung Big Buddha yang ada di seberang Po Lin Monastery. Nama aslinya sebenarnya The Tian Tan Buddha of Po Lin. Ada lebih dari seratus anak tangga yang harus dinaiki untuk mencapai ke puncak patungnya.






"Kalian tahu patung Buddha itu menghadap ke mana? India? Nepal? Ayo tebak", tanya local guide kami.

Saya tidak tahu mau menjawab apa karena sampai sekarang saya juga tidak tahu mana yang benar, Buddha lahir di India atau Nepal karena dua negara itu mengklaim negara merekalah yang menjadi tempat lahirnya Buddha.

Ternyata yang menjawab Nepal atau India semuanya salah. 

Jadi, menghadap ke mana?

Mainland China.

Hahahahaha, itu jawaban dari local guide saya karena katanya bagaimana pun, ekonomi Hong Kong berkembang karena negara induknya, jadi Buddha nya menghadap ke sana sebagai tanda penghormatan.

Yang membuat saya kagum adalah kawasan Ngong Ping ini semuanya bersih sekali dan tidak ada sampah yang saya lihat di tepi jalan. Semua orang berjalan santai, menikmati makanan dan minuman yang mereka beli namun juga tertib untuk membuang sampah pada tempatnya.

Oh iya, di kawasan Big Buddha ini juga ada lembu yang dilindungi. Katanya lembu-lembu itu suci dan tidak boleh disakiti atau diberi makan. Lucunya, semua orang ingin ber-selfie ria dengan para lembu tambun itu.

Setelah India, di Hong Kong lah saya melihat ada lembu yang hidupnya makmur, diberi makan dan dibiarkan hidup bahagia sampai tua dan tidak dipotong. Hahahaha.

Di Ngong Ping ini, saya sarankan kalian di sana sampai tutup. Hahaha. Bener lho, sayang sekali kalau ke sana tapi kita tidak menikmati total secara keseluruhan. Datang dari pagi sekali dan pulanglah ketika sudah menjelang tutup.

Cable Car terakhir itu jam setengah 6 sore jadi pastikan kalian sudah tiba di sana sebelum jam tutup. Antriannya panjang sekali namun karena kami dapat akses khusus, langsung menyeberang balik ke Tun Chung.

Satu yang tidak akan membuat kalian menyesal ketika naik Cable Car saat sore hari adalah kalian bisa melihat sunset keemasan menyinari perbukitan Lantau dan juga Big Buddha sera jembatan bawah air baru yang ada di Hong Kong. Jadi dari ketinggian, kita dapat menikmati view mahal yang memang bisa dilihat kalau cuaca sedang cerah. Bisa saya katakan ketika berkunjung ke Hong Kong kemarin kami sedang beruntung, dikaruniai cuaca bagus sepanjang perjalanan.




"Huuuu pas aku kemarin ke Ngong Ping kabut hujan, Sat. Hiks hiks" ujar teman saya ketika melihat update di IG Story. 

"Waaaaa itu artinya kamu harus kembali lagi ke Ngong Ping", balas saya. Hahahaha.

Iya, sayang kalau kalian jalan-jalan ke Hong Kong tanpa mengunjungi Ngong Ping ini. Bisa dibilang ini atraksi yang paling saya suka dari semua atraksi wisata yang ada di sana. 

Apalagi buat kamu yang sudah berkeluarga dan masih punya anak balita, pasti senang sekali diajakin keliling ke Ngong Ping. Pertengahan tahun adalah bulan-bulan terbaik untuk berkunjung ke sana. 

Pssttt, kalau ke sana naik Crystal Cabin saja ya biar sensasinya menuju ke Ngong Ping nya makin terasa. Kayak terbang melayang. Hoohoohoho...

Jika teman-teman mau ke Ngong Ping bersama keluarga atau orang tersayang, bisa kontak Dwidaya Tour ya. Mereka akan dengan sangat senang hati menyusun perjalanan seru ke Hong Kong. Ajak aku lagi juga ya nanti. Hahahaha.



Cheers,










Friday, January 18, 2019

Menikmati Agra yang Tak Hanya Taj Mahal

Friday, January 18, 2019 5 Comments


Hampir semua orang di dunia pasti memasukkan Agra di dalam daftar tempat yang harus dikunjungi ketika plesiran ke India. Setiap hari ada ribuan orang yang datang untuk melihat salah satu World 7 Wonders ini. Ya termasuk saya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di India. 

Beberapa teman yang sudah pernah ke India sebenarnya menyarankan untuk tidak berlama lama di Agra karena katanya tidak banyak yang bisa dilihat. Saya akhirnya memutuskan hanya akan tinggal dan mengeksplorasi Agra selama 3 hari 2 malam. Sepertinya  cukup.



Untuk Taj Mahal sendiri nanti akan saya ceritakan khusus di satu artikel ya karena tak mungkin destinasi yang satu itu tidak ditulis. Di sini saya hanya menuliskan soal hal-hal yang saya lihat di Agra, sesuatu yang mungkin kamu juga belum pernah lihat. Ya sebenarnya hanya kehidupan sehari-hari mereka yang mungkin tidak terlalu menarik bagi sebagian orang tapi tetap menarik buat saya dan mau saya bagikan ke kalian.

First impression saya tentang Agra sebenarnya membuat saya cukup terkejut. Sebagai destinasi kelas dunia, kotanya kurang rapi dan agak kumuh (ini opini saya pribadi ya) padahal pendapatan daerahnya tinggi sekali. Kenapa tidak dipakai dananya sebagian untuk menata kotanya agar lebih cantik, secantik taman-taman di Taj Mahal? Taj Mahal bagaikan satu-satunya oase di tengah gurun kering. Iya oase untuk mata kita. Ya pantas katanya kalau ke Agra tidak usah berlama-lama. 

Bahkan di beberapa sudut-sudut kota Agra saya melihat banyak sekali tunawisma dan tidur hanya beralaskan kardus. Katanya banyak gelandangan dan pengemis yang datang dari seluruh penjuru Negeri hanya untuk mengemis di Agra karena mereka tahu banyak wisatawan asing yang datang ke sana. Ya kurang lebih seperti yang terjadi di Jakarta dan Pemerintah di sana memang tidak bisa berbuat banyak. Agak sia-sia usaha memulangkan mereka ke kampungnya karena nanti pasti akan kembali lagi.



Jika ke Agra (atau kemana pun) mampirlah ke pasar lokal setempat karena di sanalah kau bisa melihat jantung kota dan melihat kehidupan masyarakat di luar destinasi wisata. Pasar di sana kadang lebih sering disebut "Bazaar" dan dari beberapa bazaar kami  hanya sempat menyambangi satu namanya "Sadar Bazaar" yang tidak jauh lokasinya dari Taj Mahal. Meski pun tempat ini populer, sebenarnya pasar ini pasar biasa saja, bukan pasar yang dikhususkan untuk turis dan menjual banyak pernak-pernik untuk jadi oleh-oleh. Tapi justru di situ daya tariknya untuk saya pribadi. Saya memang senang memerhatikan orang lalu lalang di pasar dan menangkap ekspresi mereka. Di sisi lain kita bisa mencoba makanan khas lokal sana yang mungkin kamu belum pernah tahu.

Meski saya tidak bisa berbahasa Hindi, saya ingin sekali merasakan melebur di kehidupan mereka. Menatap raut wajah mereka ketika sedang berinteraksi satu sama lain.

Ada satu bapak yang terus mengucap syukur ketika menerima uang dari pembeli. Ada Ibu yang dengan wajah masam berjalan tergopoh-gopoh membawa barang belanjaanya. Ada pria-pria yang asyik duduk di tepi jalan sambil menatap handphone atau bercengkerama. Di Trip Advisor bilang tempat ini biasa saja tapi buat saya pribadi, tempat ini sangat-sangat menyenangkan.



Di pasar ini ada banyak macam barang yang diperdagangkan seperti "Kohlapuri Chappals" atau sepatu, chaats, puri-puri, food stall dan es krim seharga 20 rupee atau 4000 perak rupiah saja. Banyak yang jualan sari juga dan beberapa miniatur Taj Mahal. Hati-hati juga banyak yang menjebak ingin mengantarkan berkeliling tetapi ujung-ujungnya malah ke toko kain dan mereka dengan sedikit memaksa kita untuk membeli.

Sambil menikmati dua scoop es krim "madhu", saya berjalan menyusuri Sadar Baazar yang tak seberapa luas. Sore-sore enak juga berkeliling di pasar, tak terlalu ramai. Namun waktu terbaik ke sini sebenarnya malam hari kalau baca buku panduan wisata Agra. Kenapa? Karena di sini juga jadi pusat jajanan kaki lima yang bukanya sore ke malam hari saja.


Sepatu buatan lokal yang menarik sekali sebenarnya. Warna-warni dan murah pula. Sayang tidak ada ruang tersisa di tas saya.

Eks Krim-nya dua scoop harganya empat ribu perak saja. Itu terbuat dari apa ya kok bisa murah banget. Hahahahaha...

Saya ingat ada abang becak menawari kami naik becak dayungnya dan mengantarkan ke satu tempat menarik katanya. Biaya naik becaknya hanya 20 rupee (4000 perak) dan saya tentu kasihan dan memberikan lebih pada akhirnya. 

Tapi tempat yang dia bilang menarik itu adalah toko kain sari. Yaaa.... ya nggak apa-apalah. Kami hanya senyum dan mengucapkan terima kasih sambil berlalu. Untuk apa marah-marah sama tukang becaknya. Toh dia hanya berusaha untuk cari uang, untuk isi perut. 




Favorit saya ketika berkeliling Sadar Bazaar adalah "Gol Gappa" di Agra Chaat House (Pride of Agra). Makanan ini adalah snack favorit di sana yang terbuat dari kentang tumbuk yang dimasukkan ke dalam roti sus kering lalu disiram kuah hijau pedas. Rasanya agak asam namun lezat di lidah saya. Yusni mencoba satu Gol Gappa dan katanya cukup. Hahahaha. Sedangkan saya maunya makan lagi dan lagi. Habisnya harganya cuma 10 rupee atau 2000 perak saja untuk 3 potongnya. Mungkin saya makan sekitar 10 biji dan itu sudah kenyang banget.

Ini dia "Gol Gappa". Kalau mau jajan ini jangan lihat cara dia menuangkan kuahnya ya hahahaa....



Awalnya saya juga ingin mencoba es serut yang dijual di depan pedagang "Gol Gappa" itu. Tapi niat itu saya urungkan ketika saya melihat ada seorang laki-laki membawa es balok yang dibalut karung goni kotor dan lalu diputar-putar sebelum dipecah dan diserut. Meski saya suka makanan jalanan tapi kok melihat proses es serut ini saya jadi agak mual jijik sendiri. Itu es serutnya kotor sekali dan dijamin akan bikin sakit perut kalau dimakan. 



Kami pun berjalan-jalan lagi dan menjumpai toko buku tua yang sudah ada sejak 1946 dan berisikan banyak buku-buku tebal berbahasa Hindi yang tentu tidak saya mengerti. Tetapi saya tetap senang melihat-lihat toko buku itu, meski tak membeli satu. Tidak beli karena saya sudah beli di tempat lain. Hehehehe...

Ini dia toko buku tua yang saya maksud. Meski tidak berniat membeli, kalian bisa masuk ke dalam untuk melihat-lihat...


Oh iya kalian harus tahu satu fakta bahwa di India, harga buku itu murah murah banget kalau dibandingkan di negara kita, terutama buku terjemahan Inggris. Saya sempat membeli buku di bandara Delhi dan mendapati harga bukunya murah banget. Di India memang banyak buku bajakan terutama di stasiun atau toko buku di pasar. Tahu dari mana itu palsu? Ya yang sering baca buku pasti bisa membedakan mana buku asli mana buku palsu dari kertas dan baunya.

Tapi toko buku yang saya datangi di bandara itu WHSmith yang tentu saja tidak pernah menjual buku palsu. Saking tidak percaya dengan label harga yang tertera di buku, saya bertanya kepada kasir langsung dan mereka bilang memang harganya segitu, tidak sedang diskon.

Saya pun terperangah. Buku yang biasanya di Indonesia kisaran harganya Rp 300.000, di India cuma 400 rupee atau Rp 80.000. Ya kan murah banget ya. Rasa-rasanya ingin memborong semua buku yang ada di sana tapi sadar bawaan hanya ransel dan sudah penuh barang, diurungkanlah niat itu. Saya hanya beli 5 buku saja selama di India (ya itu juga sudah banyak kan ya). Tapi ya itu juga setelah proses pilah pilih yang lama sekali.


Eh si Abang lihat kamera langsung senyum sumringah Bang? Hehehehe...


Oh iya, di Sadar Bazaar juga pasti lumrah kamu melihat sapi berkeliaran bebas dan hampir seluruh negara bagian India seperti itu. Tapi kemarin itu aneh aja melihat sapi hampir masuk ke stall ice cream dan menunjukkan pantatnya yang besar ke arah kita, yang ingin membeli. Lucu saja menurut saya. Kalau kalian di situ, apakah akan tetap membeli es krimnya? Hahahaha...

Oke, itu cerita soal keliling kota Agra. Di post berikutnya aku akan bercerita soal Taj Mahal ya, lengkap dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Penasaran kan?


Cheers,





Saturday, January 12, 2019

Pelecehan Seksual yang Saya Alami di Agra, India

Saturday, January 12, 2019 30 Comments


Kalian tahu? Menulis artikel yang ini berat sekali rasanya.

Saya sebenarnya tidak suka mengingat-ngingat hari itu.

Saya masih ingat amarah dalam diri yang memuncak ketika dilecehkan di stasiun Agra.

Saya masih ingat betapa saya kesal kepada si pelaku.

Saya masih ingat betapa saya tidak nafsu untuk melakukan apa pun sehari setelah kejadian itu berlangsung. 

Saya berantakan. 

Kekecewaan itu sempat saya ungkapkan via Instagram Story dan banyak teman-teman menanyakan detil kronologi kejadian yang saya alami. Saya berjanji akan menuliskan lengkapnya di artikel blog saja. Ya blog ini.

Butuh waktu agak lama hingga saya memutuskan untuk menuliskan artikel ini. Sebenarnya pelecehan seksual kepada wanita bisa terjadi di negara mana pun, di mana pun. Di Indonesia, tanah air sendiri, saya juga pernah dilecehkan dan sebenarnya lebih parah dari yang saya alami di India. Jadi saya tidak mengatakan bahwa India berbahaya untuk pelancong wanita dan tidak usah pergi ke sana. Tidak seperti itu. Bepergian ke mana pun kita harus waspada karena "kucing garong" selalu ada. Saya pun sebenarnya tidak setuju ketika ada yang bilang bahwa pelecehan seksual  itu terjadi karena perempuan memakai pakaian terbuka dan mengundang fantasi lelaki.

Hey! Saya dilecehkan ketika saya memakai celana panjang gombrong, jaket lengan panjang tanpa memperlihatkan lekuk tubuh, apakah itu terbuka? Kurang tertutup apa lagi? Apakah saya mengundang?

Kalau lelaki itu pikirannya kotor dan niatnya jahat ya memang begitu saja adanya. Jangan disangkut pautkan dengan pakaian apa yang dikenakan korban. Bahkan yang berhijab pun, yang tertutup dari ujung kepala sampai ujung kaki tidak luput dari kasus pelecehan seksual. Lalu, apakah masih salah si perempuan?

Namun perlu juga saya jelaskan tidak semua lelaki di India seperti itu. Saya tidak membuat stereotype tentang lelaki India. Di perjalanan saya kemarin, saya juga berjumpa dengan banyak lelaki India yang baik, ramah, sopan dan menjadi teman baik saya hingga sekarang. Saya menuliskan ini agar hanya teman-teman perempuan yang berencana ke India, mempersiapkan diri dengan baik agar terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan. 

Baiklah, saya ingin bercerita tentang kronologi pelecehan seksual yang saya alami.

Kami tiba sekitar pukul 10 malam di stasiun Agra setelah menempuh perjalanan 5 jam dengan kereta api dari Jaipur. Kami turun dan sebelum keluar dari stasiun saya memutuskan duduk sebentar di kursi.

"Sebentar ya, tarik nafas dulu sebelum keluar, capek" kata saya pada Yusni, teman jalan saya.

"Oke" jawab Yusni singkat sambil mengecek ponselnya.

Selama di kereta, saya asyik baca buku dan tanpa sadar ketiduran. Jadi begitu saya tiba di Agra, saya mengecek ponsel saya dulu, membaca pesan masuk dan mengecek alamat hostel yang akan kami tumpangi malam itu di google maps.

Sekonyong-konyong seorang pria berusia sekitar 30an datang menghampiri kursi kami dan duduk di sebelah saya. Duduknya terlalu dekat dan menempel ke bahu saya. Saya heran karena di kursi panjang itu hanya kami bertiga dan masih ada banyak ruang yang tersisa, kenapa dia harus duduk bersentuhan dengan saya?

"Sorry Sir, I'm not comfortable that you sit too close with me. Can you move?" ujar saya kepada pria itu yang hanya direspon dengan raut muka bingung.

Ah, mungkin dia tidak mengerti bahasa Inggris pikir saya dan saya diamkan saja. Toh selama dia tidak berlaku aneh-aneh, biarkan sajalah ya. Anggap saja seperti sedang berdesak-desakan di Commuter Line Jakarta-Bogor. 

Lalu....

Dia berbisik di telinga saya "Hey, you are sooooo sexy. Sex is life you know" dengan nada mendesah.

IIIIIIIHHHH. SAYA JIJIIIIIKKKKKKKK!!!!!!

Saya memandangi dia dengan tatapan melotot tidak senang dan langsung mengajak Yusni berjalan cepat keluar stasiun.

"Ni, yuk keluar sekarang, bapak di sebelahku ini aneh dan menyeramkan sekali", kata saya sambil menggendong carrier.

Saya menghidupkan GoPro dan bercerita tentang kejadian yang baru saya alami di depan kamera. Lalu entah mengapa saya merasa ada yang mengikuti kami dan bilang ke Yusni untuk menengok ke belakang, jangan-jangan pria itu memang ikut.


Yusni menengok ke belakang. Gambar ini di-screenshot dari video GoPro...


Benar saja, terekam di kamera dia mengejar kami dari belakang dengan setengah berlari.

Reflek saya mematikan kamera dan bersiap memasang kuda-kuda pertahanan jika pria ini kurang ajar melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. 

Salah Satya! Seharusnya kau nyalakan saja tetap GoPro nya agar muka si pelaku terlihat terekam jelas. Huh! (ujar saya pada diri sendiri setelah kejadian itu)

Ya, seharusnya dinyalakan saja ya. Namun waktu itu saya berpikir saya akan lebih awas dan bisa lebih siap untuk melawan / membela diri jika kamera dimatikan karena tangan saya lebih bebas karena tidak memegang apa pun. 


Apakah kalian melihat lelaki di tengah-tengah kami yang pakai baju merah garis-garis itu? Ya, dia pelakunya.


Tadinya dia berlari dari arah kanan saya sehingga saya bersiap untuk membela diri jika dia datang dari arah itu. Tahu-tahunya dia datang dari kiri dan langsung meremas kedua pantat saya bulat-bulat.

Saya kaget.

Saya berbalik badan ke arahnya dan mendapati dia menyentuh buah dada saya dengan cepat. 

Saya marah sekali dan ingin menonjok langsung di mukanya. Namun posisinya saya sedang membawa carrier yang beratnya hampir 20 kilogram dan posisi jalanannya menanjak. Saya kesusahan untuk bergerak mengejar dia dan hanya bisa berteriak "F*** YOUUUU!" sekencang-kencangnya. Laki-laki itu berlari keluar stasiun dan menghilang.


"Sekali lagi kau berani memunculkan wajahmu di depanku, kuhajar kau" teriak saya lagi. 

Saya marah, malu, kesal! Campur aduk. Kenapa saya yang kena? Kenapa dengan beraninya dia menyentuh saya?

Beberapa orang di stasiun mendekati saya dan bertanya apa yang terjadi. Saya jelaskan kronologinya dan mereka meminta maaf karena hal itu kerap terjadi kepada wisatawan wanita di India, khususnya yang berjalan tidak bersama laki-laki. 

Air mata saya menetes sedikit saking kesalnya. 

Lelaki bajingan, umpat saya dalam hati.

Kami berdua lanjut berjalan keluar dari stasiun dalam diam. Yusni memandang saya prihatin dan pasti tidak tahu harus berujar apa. Saya juga tidak ingin berbicara apa-apa dan hanya ingin tiba di hostel secepatnya lalu tidur. 

Di Prepaid Taxi Booth saya menunjukkan alamat tujuan kami dan tanpa banyak bicara supir membawa kami ke sana. Kami menginap di Zostel Agra yang direkomendasikan teman. Chain-Hostel Zostel ini ada di hampir seluruh kota-kota besar di India. Saya pun merekomendasikannya kepada kalian jika kalian mencari penginapan murah, aman dan nyaman di India.

Begitu tiba di hostel, saya disambut ramah oleh pegawai Zostel dan langsung  saya menceritakan kejadian yang baru saya alami karena mereka pasti mengerti bahasa Inggris. Dengan wajah prihatin mereka mengatakan turut sedih atas kejadian yang menimpa dan mengucap syukur juga bahwa saya masih sehat, selamat dan tidak mengalami hal yang lebih dari itu. Ya, bisa saja saya dibekap, diperkosa, yang lebih buruk dari sekedar diremas pantat dan buah dadanya. 

Saya bisa merasakan ketulusan mereka saat mengungkapkan rasa prihatin dan mereka laki-laki juga. Jadi, tidak semua lelaki India bajingan kok. 

"Di negara kami, pelaku pemerkosaan bisa dihukum mati namun kasus pelecehan dan pemerkosaan tetap tinggi setiap tahunnya. Tidak hanya gadis, anak balita dan wanita lansia pun sering jadi korbannya" celoteh pegawai Zostel lagi sambil meng-copy passport saya. 

"Namun sungguh tak semua lelaki di India seperti itu. Mari, saya antar ke kamar kalian. Kalian dapat kamar paling besar malam ini. Semoga kalian bisa beristhirahat dengan nyenyak setelah kejadian yang tidak mengenakkan tadi" lanjutnya. 

Ya, memang setiap tahunnya ada ratusan ribu kasus pelecehan dan pemerkosaan di India.  Pemerintah sudah berusaha semampunya untuk membuat undang-undang terkait perlindungan wanita dan anak (hukuman terberatnya hukuman mati) tetapi tetap saja kasus itu masih sulit dikurangi. India benar-benar darurat kejahatan seksual. Coba kalian cari kasus pelecehan di India, pasti akan menemukan banyak sekali kasus yang bahkan membuat kita menangis saat membacanya. Biadab. 


Sapi dianggap suci dan tidak tersentuh, sedangkan perempuan hanya dianggap seonggok tubuh.


Namun dengan menuliskan ini bukan berarti saya tidak menyarankan teman-teman perempuan untuk tidak menjadikan India sebagai destinasi untuk plesiran. India itu indah, menawan sekali dan sempatkanlah minimal satu kali untuk mengunjunginya. 

Saya menyarankan teman-teman perempuan yang ingin ke India agar tidak mengenakan pakaian yang terlalu terbuka, pakailah outfit yang panjang dan agak longgar. Bawa syal untuk menutup dada dan bahu. Tidak usah yang tebal-tebal agar tidak berat dipakai dan dibawa.  

Juga jangan keluyuran malam-malam sendirian atau hanya dengan teman perempuan ya. Di atas jam 10 sebaiknya sudah di penginapan ya. 


Mungkin butuh ya bawa Pepper Spray atau alat-alat untuk melindungi diri di India? Selama ini saya tidak bawa karena barang-barang itu hanya akan membuat saya parno kalau dibawa. Bagaimana pendapat kalian? Apakah butuh sebenarnya? Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual? Saya mau tahu pendapat kalian dong...



Cheers (tanpa senyum),




Follow Us @satyawinnie