Monday, December 2, 2019

7 Tips Jenius Menghalau Rasa Takut Solo Traveling untuk Perempuan

Monday, December 02, 2019 4 Comments



"Sat, Jenius BTPN beneran enak dipakai di luar negeri nggak sih? Agak was-was nih aku takut kartu debitku nggak bisa dipakai nanti buat ngetrip sendiri ke Eropa", tanya salah satu teman saya di DM Instagram. Saya jawab saja, berdasarkan pengalaman selama ini traveling ke berbagai negara, saya selalu pakai Kartu Debit Jenius BTPN untuk beragam transaksi dan sejauh ini puas dengan fitur-fiturnya. Buat yang sering solo travelling macam saya, Kartu Debit Jenius BTPN ini-lah yang jadi travel mate, travel buddy terbaik. Hahaha. Traveling jadi nyaman karena tinggal tap tap tap untuk bayar dan bisa kontrol pengeluaran via aplikasi Jenius.

Tapi sebagai perempuan yang senang berjalan sendiri, nggak cuma itu pertanyaan itu yang sering ditanyakan oleh dari teman-teman.

"Sat, nggak takut jalan-jalan di luar negeri sendirian, bahaya nggak sih buat perempuan?", adalah contoh pertanyaan lain yang sering ditanyakan.

Bukan hanya satu, ada banyak pesan serupa yang masuk di IG yang tentunya 100% penanya adalah perempuan. Bahkan ada juga yang bertanya tips agar diberikan izin untuk solo traveling oleh orang tua atau pasangannya.

Memang, jadi pejalan yang lebih sering solo, apalagi perempuan, adalah sebuah tantangan.

Dan, saya sangat suka tantangan! Hahahaha...

Entahlah, ada sesuatu yang membuat saya selalu bergairah ketika ingin melakukan solo traveling. Rasa cemas tentu ada, tapi rasa senang lebih mendominasi, karena setelah perjalanan selesai, ada perasaan puas, bangga pada diri sendiri karena berhasil  menyelesaikan tantangan itu.

Apakah setiap momen solo traveling yang saya jalani menyenangkan?

Oh tentu saja tidak!

Ada banyak pengalaman tidak mengenakkan yang saya alami dan tentu membuat kesenangan perjalanan saya berkurang. Mulai dari travel scam sampai pelecehan seksual pernah saya rasakan.

Apakah hal yang tidak enak itu membuat saya ingin berhenti traveling?

Oh tentu saja tidak! (2)

Karena saya menganggap semua itu bumbu perjalanan. Saat kejadian tidak mengenakkan itu, selalu ada suara di kepala "ngapain sih di sini? Ngapain sih mengundang bahaya buat diri sendiri?".

Namun, seiring waktu, saat saya mengingat masa-masa itu, saya malah tertawa dan menyadari kalau hal-hal itu nggak pernah terjadi, cerita perjalanan saya jadi kurang seru. Iya nggak sih? Hahahaha.

Jalan-jalan sendirian itu menyenangkan tapi kadang kalau foto sedih juga nggak ada yang fotoin hahahaha.


Tentunya saya tidak ingin hal-hal yang tidak mengenakkan itu terjadi lagi meskipun hal-hal tersebut kadang terjadi di luar kontrol kita. Saya belajar lagi, menganalisa kenapa hal tersebut terjadi, di saat kapan, di mana saya lalai dan berusaha untuk mengantisipasinya.

Antisipasi?

Antisipasi itu adalah hal-hal yang kita lakukan untuk menghindari hal-hal buruk terjadi kepada kita. Ketika kita akan berjalan sendirian, kita butuh perencanaan yang matang, nggak langsung "go show" aja ketika sudah punya tiket. 

Nah, apa saja sih yang harus disiapkan oleh perempuan ketika ingin solo traveling atau bepergian sendirian?

Ini dia beberapa tips dari saya yang semoga berguna untuk kalian semua;

1. Riset Perjalanan itu Penting

Setiap ingin bepergian ke luar negeri, saya pasti akan melakukan riset tentang destinasi yang ingin saya kunjungi. Di era teknologi canggih ini, saya senang betul risetnya semakin mudah dengan membuka peta via google maps / google earth untuk tahu posisi serta jarak tempuh. Dilanjutkan dengan riset cerita perjalanan lewat travel blog, instagram atau nonton travel vlog di youtube. Kenapa menurutku riset itu penting? Karena setidaknya kita punya gambaran tentang destinasi yang akan kita datangi jadi minimal nggak terlalu buta soal negara yang bersangkutan dan mengetahui beberapa tips tentang bepergian aman di negara tersebut.

2. Perencanaan Outfit Perjalanan yang Tepat

Ini sebenarnya bagian dari riset juga karena kita harus tahu di daerah tersebut bagaimana sih perempuan berpakaian sehari-hari. Kalau bisa kita mengikuti gaya berpakaian mereka, tetap sopan namun tetap catchy, menarik (karena kalian pasti pengen foto-foto cantik lalu posting dengan hashtag #OOTD kan? Hehehehehe). Destinasimu juga menentukan jenis outfit yang harus dipakai karena misalnya kamu ingin memasuki bangunan cagar budaya atau rumah ibadah, kamu sudah tahu pakaian seperti apa yang harus dikenakan? *wink

Ya semacam menentukan pakaian trekking di luar negeri juga harus riset dulu soal medan dan cuacanya seperti apa, jangan salah kostum ya.


3. Pilih Penginapan yang Ramah dan Aman buat Perempuan

Ketika traveling ke luar negeri sendirian, kita pasti ingin memilih penginapan yang nyaman dan harganya ramah di kantong. Nah, dilema pasti ada karena biasanya yang nyaman, harganya lumayan. Kemarin, saya memilih untuk menginap di AirBnB dan hostel yang punya ruangan khusus "female dormitory" yang biasanya hanya 6-8 perempuan di satu kamar. Tapi, belum tentu aman juga lho ya. Kejahatan itu juga bisa dilakukan oleh sesama perempuan. Jadi, kalau bisa di dalam hostel Jangan membiarkan barang terserak sembarangan, selalu bawa gembok kecil sendiri jika ingin menyimpan barang di locker ya.

Selama di Eropa kebanyakannya aku memilih hostel dan AirBnB untuk menghemat hehehe, carinya yang female dormitory ya...


4. Ramah Boleh, Waspada Harus

Ini juga menjadi salah satu tantangan bagi pejalan solo, baik buat perempuan maupun laki-laki. Karena kita sendirian, kita lebih leluasa berjalan, berkenalan dengan orang baru dan berinteraksi, tapi kita juga harus hati-hati. Orang Indonesia terkenal dengan keramahtamahannya dan sayangnya saat ini menjadi titik lemah yang dimanfaatkan orang-orang jahat di luar negeri. Dicopet, dihipnotis dan beberapa kemalangan lainnya sering terjadi, terutama kepada solo traveler dari Asia, khususnya Asia Tenggara. 

Syukurlah hal-hal tersebut belum pernah terjadi kepada saya (dan semoga tidak pernah terjadi). Kalau sudah mengenal saya atau bertemu saya langsung, pasti tahu bahwa saya sangat senang mengobrol dengan siapa saja karena memang saya senang bisa bertukar cerita dengan siapa saja. Namun ketika saya bepergian ke luar negeri, saya mengasah naluri saya untuk merasa apakah orang yang mengajak saya ngobrol itu punya intensi baik atau buruk. 

Sewaktu saya jalan sendirian, pasti ada saja yang menghampiri dan mengajak saya ngobrol namun saya tahu tidak semua dari mereka itu ingin menjadi teman saya. Ada yang juga berusaha atau terlihat berniat jahat karena tahu saya perempuan dan berasal dari Asia. Nggak cuma laki-laki lho, tapi perempuan juga bisa memanipulasi. Jadi, selalu awas dan waspada ya dimana pun kita berada. 

Syukurlah selama di perjalanan, saya lebih banyak dipertemukan orang baik. From stranger turns to family, more than friends.



5. Travel Cashless with Jenius BTPN

Nah, yang aku maksud ini bukan traveling tanpa uang ya hahahaha, melainkan kita harus bisa menyimpan uang dengan cerdas saat melakukan perjalanan. Di beberapa negara maju, rata-rata sudah cashless, cukup pakai kartu debit atau kredit. Saya sendiri sudah memercayakan transaksi perjalanan saya pada Kartu Debit Jenius yang selalu jadi andalan ketika sendiri bepergian, di mana saja.

Sebagai contoh, selama di Eropa 1,5 bulan saya hanya membawa cash EUR 200 dan sisanya tinggal pakai Kartu Debit Jenius untuk bayar public transport, pesan akomodasi, bayar makanan di restoran sampai bayar toilet umum! Hahahahaha, gila, multi fungsi sekali kan?

Berkat Jenius BTPN, aku merasa nyaman melakukan transaksi di luar negeri dan merasa sangat terbantu dengan fitur-fiturnya, it's definitely my favorite card, my travel buddy! Simpler life, happier you!

6. Bawa Tas Anti Maling

Perempuan yang berjalan sendirian biasanya menjadi sasaran empuk kejahatan sehingga kita harus lebih ekstra proteksi diri sendiri. Selama jalan, biasanya saya selalu membawa ransel yang isinya kamera dan perintilannya, botol air minum, buku dan topi. 

Sewaktu di Eropa (yang terkenal dengan copetnya) aku bawa gembok khusus untuk tas ranselku dan membawa tas kecil di bagian depan untuk menyimpan kartu dan printilan semacam lipbalm, kacamata, dll. Oleh karenanya kita juga jangan menaruh semua uang kita (kartu kita) di satu tempat atau satu tas ya untuk mengantisipasi maling.

7. Pastikan Selalu Terhubung dengan Koneksi Internet

Saya pernah bertemu dengan seorang perempuan yang juga sedang jalan sendirian dan saat kami mengobrol, dia bilang bahwa dia hanya mengandalkan koneksi wifi di penginapan jika ingin berkomunikasi dari luar negeri atau update foto di social media. Rasa-rasanya itu adalah keputusan yang kurang tepat karena jika kamu jalan sendirian, pastikan ponselmu selalu punya internet aktif. Katanya mahal beli simcard di luar negeri, padahal ada opsi wifi portable lho sekarang yang harganya cuma sekitar 60-80 ribu saja per hari. 

Buat saya pribadi, lebih baik mengalokasikan sebagian dana makan untuk internet karena kalau ada apa-apa, kita bisa meminta bantuan segera lewat chat / telpon kan?

Nah, satu informasi penting buat teman-teman adalah tetap terhubung dengan negeri sendiri lewat menginstall aplikasi yang diinisiasi Kementerian Luar Negeri yaitu "Safe Travel" yang sudah tersedia di Apple Store atau Google Play. 

Dua aplikasi yang penting buat kamu yang suka solo travelimg, apalagi ke luar negeri.


Di aplikasi ini, kita bisa mengakses informasi tentang kondisi terkini tentang negara yang kita tuju, perbedaan waktu, kondisi keamanan, hukum dan kebiasaan setampat, persyaratan keimigrasian, kesehatan, pelayanan di KBRI / KJRI / KRI, tempat ibadah sampai kuliner Indonesia di negeri asing. 

Selain itu, ada dua fitur yang menurutku sangat berguna buat kita, terutama yang bepergian sendiri yakni fitur pelaporan yang berisi petunjuk untuk mendapatkan dokumen pengganti sementara jika paspor kita hilang (dijaga baik-baik yaaa makanya paspor kita) jadi tidak terlalu panik dan masih bisa pulang ke Indonesia.

Karena app-nya baru launching, saya belum sempat mengisi negara mana saja yang sudah saya kunjungi hahaha.

Ini dia beberapa fitur penting yang ada di dalam aplikasi Safe Travel. Berguna sekali untuk riset negara yang akan kita tuju.

Fitur satu lagi bernama fitur "Darurat" yang bisa kita gunakan untuk meminta pertolongan cepat dalam kondisi yang membahayakan jiwa. Pengguna bisa mengirimkan lokasi, merekam video dan menelepon KBRI / KJRI / KRI terdekat, agar kamu segera ditolong.

Jujur saya senang sekali ketika aplikasi ini diluncurkan, serasa terkena angin segar. Sebagai perempuan yang sering solo traveling, aplikasi ini penting sekali buat saya, buat kamu, buat kita semua. Tentu tidak hanya untuk para pejalan, tetapi juga masyarakat Indonesia yang sedang menjalankan studi atau bekerja di luar negeri.

Kalau sudah ada aplikasi "Safe Travel" ini di handphone kita masing-masing, pasti rasa AMAN saat traveling ke luar negeri lebih terjamin. 

Nah, ini dia link untuk download aplikasi Jenius ( Android | iOS ) dan untuk download aplikasi Safe Travel ( Android | iOS ). Silakan kalian unduh jika memang belum punya dua aplikasi ini ya.

Semoga dengan mengikuti 7 tips di atas, kalian perempuan bisa berani untuk solo traveling ke benua nan jauh di sana dan tetap bisa jalan-jalan dengan aman dan nyaman!



Cheers,




Friday, October 18, 2019

Ku Ngai Ko Selayar Island, Pantai Tosca Memesona di Ujung Selatan Sulawesi

Friday, October 18, 2019 9 Comments



"Kak Sat, rencana ke Latimojong-nya ditunda aja, mending ke Selayar yuk!", ujar Rafdy via DM Instagram.

Hmmm. Selayar. Menarik!

"Mau sama siapa aja? Aku cuma punya 4 hari free nih sebelum terbang ke Jogja. Memangnya cukup waktunya?", jawab saya.

"Iya cukup kok, coba aku tanya teman-teman dulu siapa yang mau ikut ya!", jawab Rafdy lagi.

Begitulah percakapan awal kami tentang rencana eksplorasi Kepulauan Selayar, yang sudah lama ada di daftar bucket list saya. Mungkin beberapa dari kalian lebih familiar dengan nama Takabonerate ya? Atau bahkan belum pernah mendengar dua-duanya?

Oke, semoga artikel yang ini membuat kalian tergoda untuk berkunjung ke Kepulauan Selayar ya!

Akhirnya kami sepakat berangkat ke Selayar berempat saja; Rafdy, Alam, Erwin dan tentu saja saya. Dengan adanya 4 supir alias semuanya bisa menyetir, tidak perlu khawatir untuk road trip yang agak jauh karena bisa gantian kan.

Kami berangkat meninggalkan Makassar menuju Selayar tepat jam 12 malam. Alasannya? Supaya tidak terkena macet di jalan dan memang karena kami baru pulang dari acara Festival Pesona Lokal Makassar yang baru selesai pukul 11 malam.

Untuk menuju Selayar dari Makassar sebenarnya ada dua jalur, udara dan darat+laut.  Ya, ada bandara kok di Selayar dan ada dua maskapai yang melayani rute Makassar - Selayar (bisa dari Jakarta juga) yaitu Lion Air dan Transnusa. Namun kami memilih untuk menyetir dengan mobilnya Alam dilanjutkan menyeberang dengan kapal ferry. Selain bisa membawa barang lebih banyak, juga akan mempermudah kami untuk berkeliling pulau Selayar dan tidak mengeluarkan biaya ekstra untuk sewa mobil / motor lagi di sana.

Untuk menyeberang ke Selayar, kita harus menuju ke Pelabuhan Bira dulu. Dari Makassar, waktu tempuhnya sekitar 4-5 jam saat malam hari dan bisa lebih dari itu saat siang hari. Kami sempat mampir ke rumah teman baik kami, Dian, di Bulukumba, namun saya hampir tidak ingat apa-apa karena saya berjalan sambil tidur sepertinya. Hahaha.

Pelabuhan Pamatata, Selayar


Begitu tiba di Pelabuhan Bira, ternyata kami dapat antrian mobil nomor 24. Waaaaaa! Kapal masih berangkat 3 jam lagi (jam 9 pagi) tapi kok antriannya sudah panjang sekali. Ternyata memang ada banyak mobil, bus dan truk yang menyeberang dan bahkan mereka sudah menginap dari malam sebelumnya.

Jadwal kapal penyeberangan Bira - Selayar ada dua yaitu pukul 9 pagi dan 2 siang dan waktu penyeberangannya sekitar 2 jam. Kami berencana untuk naik kapal pagi agar bisa langsung eksplor Selayar di hari itu juga dan nggak kesorean.

Namun melihat nomor antrian kami dan banyaknya mobil yang sudah antri semalaman, kami tidak yakin bisa dapat giliran menyeberang pagi.

Harap harap cemas pun sirna ketika nomor antrian kami dipanggil lewat toa. 2 nomor di depan kami ternyata tidak muncul ketika dipanggil dan kami masuk ke kapal pagi sebagai mobil terakhir, penutup! Beruntung sekali ya! Hahahahaha.

Saking lelahnya karena kurang tidur dari Makassar, kami ketiduran dengan kepala tertelungkup di meja atas kapal dan terbangun saat klakson kapal berbunyi 3 kali, pertanda kapal akan segera sandar di Selayar. 

Walau masih setengah mengantuk, saya mencoba berdiri dan begitu melihat warna lautnya langsung segar dan menjerit dalam hati. 

"Waaaaaaaa bagus sekali warna biru lautnyaaaaaa!"




Cuaca di Selayar sedang cerah-cerahnya seolah-olah menyambut kedatangan kami dengan gembira. Pelabuhan Pamatata sudah penuh dengan mobil yang akan menjemput penumpang dan mengantar ke Benteng, Ibukota Kabupaten Selayar yang bisa dicapai dengan kendaraan bermotor selama 1 jam.

Sampai di Benteng, kami bertemu dengan teman-teman di Selayar; Bayu dan Amal yang juga menemani kami eksplor Selayar. 

Nah, eksplor apa saja yang enak di Selayar ya?


Ini dia...

Di hari pertama saat baru tiba, kami memang hanya bersantai di Benteng, makan, ngobrol dan santai-santai di tepi pantai sambil makan pisang goreng dan "Saraba" (bandrek telur). 



Di hari kedua kami island hopping ke beberapa pulau di sekitaran Selayar. Iya, Selayar ini memang terdiri dari gugusan pulau dan tidak bisa dikunjungi semuanya dalam satu hari. Jadilah Bayu menyusunkan itinerary dan merekomendasikan untuk pergi ke Pantai Balojaha, Goa Balojaha / Liang Bodong, Pantai Liang Kareta, Pantai Liang Tarusu saja di hari pertama dan butuh waktu seharian di sana. 

Begitu kami bertolak dengan kapal klotok / jukung dari Pelabuhan Padang, wuwuwuwu biru lautnya menggoda sekali. 





Sampai di Pantai Balojaha, kami harus berjalan sekitar 15 menit ke bagian dalam pulau untuk melihat Liang Bodong, goa dengan air jernih yang dingin. Kami pun berenang gembira di Liang Bodong, senang karena tidak ada orang lain selain kami waktu itu. Puas-puasin deh! 


Dari Liang Balojaha, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Liang Kareta dan Liang Tarusu. Sama-sama cantik pantainya, enak untuk berjemur dan berenang santai karena lautnya tenang sekali.



Sore harinya, sepulang dari island hopping, kami menanti senja di Sunari Resort yang bisa ditempuh 20 menit dari pusat Benteng. Ada ayunan  besar yang memang diinginkan Rafdy untuk menjadi spot foto dan kami memang tidak menyesal karena senja dan ayunan di pulau kelapa membuat hari itu ditutup sempurna.




Di hari ketiga kami island hopping ke sisi lain Pulau Selayar yaitu Pulau Bahuluang, Makam Karang, Liang Lipang. Jaraknya memang cukup jauh dari Benteng karena kita harus berkendara sekitar 1,5 jam dulu ke sisi pantai tempat kita akan dijemput kapal dan bertolak ke Bahuluang. Usahakan berangkat dari jam 7 pagi agar tidak terlalu kesiangan dan pulangnya tidak kesorean karena air pantai yang surut jauh akan menyulitkan kapal untuk sandar dan ingat perjalanan daratnya masih cukup jauh untuk pulang ke Benteng. 





Di hari keempat kami sudah harus menyeberang ke Bira dan melanjutkan perjalanan ke Makassar jadi saya cuma sempatin mampir ke Pasar lokal dan ke Kampung Tua Bitombang (nanti ada artikel sendiri ya untuk ini). Kami putuskan begitu agar tidak was-was tidak kebagian slot kapal ferry dan saya tidak ketinggalan pesawat ke Jogja. Hahahaha.

Inginnya sih berlama-lama di Selayar karena sebenarnya ada banyak sekali destinasi cantik luar biasa yang belum kami datangi. Apalagi kemarin cuaca sedang bagus-bagusnya, cerah biru dan visibility laut juga bagus betul!

Masih ada Pulau Palossi, Tinabo, Takabonerate dan banyak lagi! sebenarnya yang ingin kami kunjungi. Namun karena waktunya tidak cukup jadi ya harus legowo buat menjadwalkan ulang hahaha.

Oh iya, untuk penginapan, kami berempat menginap di "Rumah Teman", bukan rumah teman ya. Hahahaha.

Memang nama homestay-nya "Rumah Teman" dan kami suka sekali dengan penginapan ini karena kayak di rumah sendiri, kamarnya cukup besar, bersih dan wangi sekali, sudah termasuk makan pagi dan harganya hanya Rp 200.000 per malam atau jadinya Rp 100.000 per orang. Super good deal kan?



Untuk makanan, satu orang merogoh kocek kurang lebih Rp 35.000 per sekali makan dan itu enak binggow! Favorit kami sih Nasi Santan dan Ikan Kerapu Goreng di RM Nasi Santan Agus, yang lokasinya tepat di depan homestay kami. Cuma beberapa langkah saja sudah sampai.

Overall, perjalanan kami di di Selayar sangat-sangat menyenangkan. Bulan terbaik untuk berkunjung sebenarnya di bulan April - September. Jadi kami bisa bilang kami sedang beruntung sekali karena Oktober biasanya sudah mulai masuk musim hujan. Oh iya ada Festival Takabonerate di Kepulauan Selayar yang diadakannya tanggal 24-28 Oktober 2019 ini lho.

Mana tahu kalian mau datang ya boleh banget karena pasti bisa dapat seremonial tarian daerah dan bisa selebrasi meriah bersama masyarakat lokal. Tapi kalau mau menjadwalkan kunjungannya tahun depan juga monggo!

Saranku sih 5 hari ya minimal kalau mau eksplorasi banyak tempat di Selayar. Kalau mau lama ya boleh juga, sebulan gitu, hahahaha.

Untuk gambaran biaya kemarin pengeluaran kami :


Biaya menyeberang pakai ferry dengan mobil : Rp 475.000 per mobil, per sekali nyeberang (Sudah termasuk dengan penumpangnya). Jadi PP Rp 950.000.

Biaya bahan bakar Makassar - Selayar - Makassar : Rp 500.000 karena tiga kali isi.

Biaya akomodasi : Rp 200.000 per malam, dengan maksimal 2 orang per kamar.

Biaya Island Hopping : Untuk sewa kapal harganya berkisar Rp 350.000 sampai Rp 1.5 juta tergantung Jenis kapalnya dan destinasinya mau ke mana saja.

Biaya makan : Sekitar Rp 35.000 per orang per sekali makan. Ada banyak sekali tempat makan di Selayar yang bisa kamu pilih dengan menu utamanya tentu saja seafood! Wow segar sekali semua hidangan lautnyaaaaaa.

Kalau mau naik pesawat, Tiket PP Jakarta - Selayar itu sekitar 3,7 - 4.5 juta rupiah dan pastinya harganya berubah-ubah tergantung musimnya. Silakan dicari tiketnya di Traveloka ya!

Jadi, sudah lengkap ya info yang kalian butuhkan? Mau ke Selayar? Langsunggggggggg cus aja (nabung dulu tapi ya) dan silakan menikmati keindahan pulau paling paling selatannya Sulawesi Selatan ini.


Cheers,



Saturday, October 5, 2019

Bagaimana Cara Menjadi Traveler yang Nggak Gampang Sakit

Saturday, October 05, 2019 3 Comments




Selama hampir 11 tahun ngeblog dan wara-wiri traveling, salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapat adalah:

"Kok lo jarang sakit sih Sat padahal jalan mulu, bentar-bentar loncat sana loncat sini?"

Kalau dipikir-pikir iya juga ya. Sudah beberapa tahun ini saya jarang sekali sakit. Paling cuma kelelahan terus dibawa tidur. Saya tahu bahwa bekerja sebagai Travel Content Creator itu harus punya stamina yang baik karena pekerjaan ini sangat mengandalkan fisik. Harus tahan panas dan kuat dingin.

Tapi, terkena sakit yang agak parah juga pernah kok. 

Masih terekam jelas di ingatan saya, 5 tahun lalu terbaring di rumah sakit setelah demam beberapa hari. Tetap "keukeuh" bilang ke diri sendiri itu cuma demam biasa, satu teman menyeret saya ke Rumah Sakit untuk diperiksa dokter.

"Lo emang bebal ye kalau disuruh merhatiin kesehatan, disuruh ke dokter saja susah", omelnya sambil membonceng saya di belakang motor ke rumah sakit. Saya hanya diam saja tak membantah sambil menggigil meriang.

Setelah selesai cek darah, diketahui saya terkena demam tifoid (tipes) dan harus opname karena saya sudah membiarkannya berhari-hari dan menjadi agak parah.

Kondisinya waktu itu saya baru saja pulang roadtrip dari Flores, naik motor sendirian, makan sesuka hati, nggak peduli sama sekali soal bagaimana makanan itu dimasak. Toh, sudah biasa jajan kaki lima, ngapain peduli? Dari dulu sehat-sehat aja dan nggak pernah sakit.

Dan...

Dor! 

Kena juga akhirnya, hahahahaha...

Syukurlah setelah opname 4 hari, saya sudah diizinkan pulang, lengkap dengan resep obat yang harus dihabiskan dan wejangan dokter untuk tidak sering-sering makan di kaki lima.

"Hati-hati ya Satya, kalau sudah sekali kena tipes, dia bisa kambuh lagi kalau kepancing dengan makanan yang kurang bersih. Jadi jangan sepele", ujar dokter saya waktu itu.

Akhirnya dikurangilah makan gorengan dan mie ayam gerobakan di tepi jalan. Tapi kalau lagi kepengen ya dimakan juga hahahaha. 

Ya soalnya susah untuk saya mengontrol makanan yang dimakan harus bersih dan sehat karena seringnya bepergian. Kadang kalau sempat ya masak sendiri tapi tetap saja lebih sering beli makanan yang sudah jadi.

Masak sendiri paling sering ya kalau pas naik gunung.


Pun nggak lengkap kan rasanya kalau traveling ke suatu tempat tapi nggak nyobain kuliner lokalnya?

Masalahnya, kita juga harus waspada dengan penyakit-penyakit yang mengintai kita saat traveling, khususnya pas wisata kuliner. Kita biasanya pengen nyoba semuanya, apalagi yang street food karena Katanya yang punya rasa otentik itu ya yang di tepi-tepi jalan.

Mana bisa aku menahan godaan jajanan di Food Street Market!


Siapalah yang bisa menolak kelezatan sup ikan ini ya kan?

Makanya waktu traveling ke India kemarin saya sebenarnya ketar-ketir ketika mau mencoba makanan di pinggir jalan. 'Gol Gappa' adalah penganan favorit saya yang dijajakan di setiap sudut. Enak banget! Jadilah ketagihan makan makanan itu sambil berbisik ke diri sendiri, jangan sampai sakit ya, tipes kamu jangan kambuh ya.



Biasanya penyakit yang sering menghampiri kita saat traveling adalah Hepatitis A dan Demam Tifoid karena kedua penyakit ini ditularkan lewat makanan atau peralatan makanan yang kurang bersih. Kita yang sering traveling ini beresiko 19 kali lebih besar untuk tertular.

Eh, nggak cuma lewat makanan atau peralatan makan saja sebenarnya, Kita bisa tertular lewat makanan mentah / kurang matang, es batu, makanan matang yang sudah terkontaminasi, tidak cuci tangan sebelum makan, saat sikat gigi (kalau pakai sikat gigi orang lain) dan saat pakai toilet umum.

Jika kita terkena kedua penyakit tadi, Hepatitis A dan demam tifoid, dan tidak segera ditangani medis segera, bisa berakibat fatal untuk kita seperti infeksi hati atau usus bocor.

Bagaimana kita tahu kalau kita terkena Hepatitis A dan demam tifoid ini?

  • Gejala penyakit hepatitis A adalah demam, lesu, mual, hilang nafsu makan, kulit dan mata berwarna kuning, sakit perut, muntah, tinja dan urin berwarna gelap.
  • Faktor yang berpengaruh terhadap keparahan penyakit ini adalah usia. Dimana semakin tua umur seseorang, semakin berat gejalanya.
  • Hepatitis A biasanya berlangsung selama 3-6 minggu dan masa penyembuhan secara klinis dan biokimiawi memerlukan waktu selama 6 bulan.

Untuk demam tifoid, biasanya gejalanya adalah:

  • Suhu tubuh perlahan tinggi setiap harinya (step ladder) terutama menjelang sore dan sulit turun walau sudah diberikan penurun panas serta adanya bercak merah sehingga dibutuhkan pemeriksaan lab untuk memastikan (nah ini yang terjadi sama aku kemarin)
  • Gejala umumnya adalah demam tinggi, sakit kepala, mual, sakit perut, hilang nafsu makan, sembelit atau diare.
  • Gejala muntah dan tidak mau minum malah bisa menyebabkan dehidrasi yang berakibat pada penurunan kesadaran dan gejala yang lebih berat. 
  • Di akhir minggu kedua atau awal minggu ketiga sering kali muncul komplikasi seperti peritonitis dan perdarahan pada saluran cerna, bahkan bisa terjadi kebocoran usus.


Saya memang sudah terkena demam tifoid dan baru sekali saja. Semoga tidak kambuh lagi ya dan tidak sampai terjangkit Hepatitis A dari aktivitas saya yang selalu bepergian.

Nah, kalau di atas tadi sudah membahas gejalanya, mari kita obrolin cara pencegahannya. Ini dia beberapa yang bisa kita lakukan.


  • Mencuci tangan sebelum makan. Cuci tangan yang baik dan benar adalah yang durasinya 40 detik dan melakukan 7 gerakan.
  • Tidak mengonsumsi makanan sembarangan (nah ini dia yang agak susah ya).
  • Merebus air hingga mendidih dan makanan dimasak matang sempurna.




Selain cara-cara di atas, salah satu cara pencegahan yang ampuh adalah dengan vaksinasi. Kita bisa mendapatkan vaksin Hepatitis A dan demam tifoid di rumah sakit besar. Baiknya dilakukan 2 minggu sebelum traveling atau wisata kuliner agar vaksinnya bisa bekerja dengan sempurna.

Vaksin ini diberikan lewat suntikan dan menimbulkan kekebalan dalam darah untuk melindungi kita dari resiko penyakit Hepatitis A dan demam tifoid, mencegah penyebaran penyakit dan meningkatkan antibodi tubuh. Vaksin adalah langkah awal untuk pencegahan terhadap penyakit-penyakit tersebut dan melindungi kita hingga puluhan tahun. Vaksin Hepatitis A bisa bertahan hingga 30 tahun dan vaksin demam tifoid bertahan hingga 2 tahun.

Begitu dapat informasi itu, saya langsung mengontak rumah sakit di dekat tempat tinggal untuk membuat janji vaksinasi. Kabar terbarunya saat ini mereka sedang mengusahakan untuk mendatangkan stok vaksin. Semoga bulan ini sudah bisa vaksin yah dan nanti dikabarin. 

Biar jadi traveler yang nggak gampang sakit ya memang harus kembali lagi ke kebiasaan hidup sehat dan vaksin sebagai tindakan preventif. Amit-amitttt ya terkena demam tifoid lagi atau Hepatitis A. Ya nggak cuma dua penyakit itu saja karena masih banyak penyakit lainnya dan semoga kita terhindar dari semuanya ya.

Mungkin ada dari teman-teman yang belum mengerti betul manfaat dari vaksin ini, mungkin bisa baca-baca informasinya di akun IG @kenapaharusvaksin yaaaa...


Cheers,





Monday, May 27, 2019

Hari Pertama Keliling Eropa, 1 Hari Penuh Kejutan di Berlin

Monday, May 27, 2019 11 Comments



"Summer, summer apa ini?" ucap saya dalam hati begitu kaki melangkah keluar pesawat yang saya tumpangi dari Jakarta ke Berlin (transit Singapore).

Ya habisnya dinginnya menusuk kulit sekali. Syukurnya saya memakai jaket dan syal namun tetep tidak bisa menghalau dingin pagi itu. Saya rapatkan kancing jaket dan sabar menunggu giliran untuk naik shuttle yang mengantarkan kami ke terminal kedatangan.

"Kamu beneran sendiri aja Sat? Buset nggak takut apa?" tanya teman saya via DM Instagram.

Hahahaha ya beneran ini berangkat dan pulang sendirian tapi sepanjang perjalanan kan akan bertemu dengan banyak orang, teman-teman baru di perjalanan. Jadi, kenapa harus takut?

Saya mendarat di Berlin Tegel Airport yang benar-benar biasa saja dan kecil. Loket pengecekan imigrasi-nya juga kecil sekali. Setelah menjawab pertanyaan sekenanya seperti akan tinggal berapa lama dan apa tujuan ke Berlin, saya lolos dan bergegas mengambil carrier saya di conveyor belt.

Di Eropa, trolley berbayar ya jadi gotong sendiri barang-barangmu kalau mau hemat. Lumayan juga harus bayar 1 EUR, bisa beli roti. Jangan berpikir akan ada porter seperti di Indonesia juga ya.

Saya keluar terminal kedatangan dan langsung menyalakan JavaMifi, portable wi-fi yang akan jadi teman saya di perjalanan panjang keliling Eropa 1,5 bulan ini. Karena tahu akan selalu ada sinyal internet makanya saya nggak khawatir sama sekali soal berjalan sendiri. Selama internet ON ya pasti aman. Meski juga kemampuan kita berkomunikasi berbahasa asing, minimal bahasa Inggris, juga penting agar bisa bertanya jika tersesat di jalan.

Langsung saya mengabari keluarga dan orang terdekat bahwa saya sudah tiba dengan aman, sehat dan selamat. Saya duduk di kursi di depan terminal kedatangan dan melihat orang yang lalu lalang.

Ini dia portable wi-fi kecil nan praktis yang aku pakai untuk jalan-jalan ke Europe.


Perasaan saya campur aduk sebenarnya ketika tiba di Berlin karena rencana awal akan bertemu kakak sepupu harus berubah karena dia harus pulang mendadak ke Indonesia, tepat di hari saya terbang ke Jerman. Padahal kami sudah berencana akan eksplorasi Bavaria, daerah selatan Jerman yang cantik sekali. Jadilah saya harus berpikir cepat apa yang harus saya lakukan kalau kakak sepupu saya tidak ada.

Akhirnya saya memutuskan untuk ke Houten, Utrecht, Netherlands (Belanda) karena ada teman yang tinggal di sana. Dikarenakan dia juga akan pulang ke Indonesia untuk lebaran di minggu depannya, saya langsung memutuskan untuk mengunjungi dia langsung di hari-hari awal perjalanan saya.

Jadilah transit kurang dari 24 jam di Berlin karena saya tiba pukul 7 pagi dan bis ke Utrecht-nya pukul 9 malam. Hmmm, enaknya kemana yaaaa selama waktu transit ini?

Saya berpikir untuk ke AlexanderPlatz, city centre Berlin. Mungkin akan menyenangkan pergi ke Central dan minimal melihat kehidupan orang-orang di Berlin. Ya kan?


Begitu keluar dari terminal kedatangan dan menggotong carrier saya seberat 17 kilo dan daypack saya seberat 8 kilo (total 25 kilo), saya naik tangga penghubung ke bus stop. Lumayan juga berkeringat di pagi yang dingin (sekitar 12 derajat).

Setelah ngecek bus apa yang harus saya ambil untuk pergi ke AlexanderPlatz, saya membeli tiket di ticket machine yang berbahasa Jerman. Awalnya cengo dulu di depan layar hingga ada petugas yang menghampiri dan membantu saya membeli tiket ke tujuan. Saya tinggal bayar 2,8 EUR pakai kartu JENIUS saya karena mesinnya menerima pembayaran pakai debit card / credit card atau cash tapi recehan koin saja.

40 menit perjalanan menuju AlexanderPlatz dari Airport sama sekali tidak terasa karena saya terbuai pemandangan Berlin yang... cantik... sekali.






Di depan saya duduk seorang Nenek yang melempar senyum ketika mata kami beradu. Saya bergumam dalam hati kalau sebenarnya ada kok orang Eropa yang ramah kepada pendatang. Tidak semuanya dingin dan tidak murah senyum. 

Di dalam bus saya mengecek google maps agar tahu di mana saya harus berhenti. Begitu mendekati area AlexanderPlatz saya bersiap dan turun di halte yang dekat dengan central park-nya. Saya letakkan tas dan duduk di kursi taman. 

Dalam beberapa jam saja sudah ada kejadian aneh yang mewarnai hari pertama saya.

Yang pertama adalah scam-trick yang dilakuin 3 orang perempuan yang nggak berhenti bilang "Oooo you are so beautiful" tapi habis itu minta donasi untuk anak-anak disabilitas tapi sama sekali tidak terlihat bisa dipercaya, nggak bisa nunjukin id-card juga. Awalnya cuma minta aku tandatangan di atas selembar kertas petisi, tapi ujung-ujungnya mereka minta aku buat bayar 15 EUR (itu banyak banget buat kita). Eh ternyata mau tipu-tipu mereka. Uang yang tadinya sudah ada di tangan mereka berhasil aku ambil lagi. Syukurlah...


Yang kedua, saya bertemu dengan sepasang suami-istri dari Serbia yang duduk di sebelah saya tidak berapa lama setelah gadis-gadis tukang tipu itu pergi. Saat aku foto-foto dengan tripod yang aku bawa, si Bapak bertanya asal saya.

"I'm from Indonesia" jawabku sambil tersenyum.

"Ah, I see. I'm bit unsure because you look like Thai / Philippine girl" ujar Bapak itu lagi.

Tidak lama kemudian kami tenggelam dalam pembicaraan soal kehidupan. Senang sekali rasanya dapat banyak "wejangan" dari mereka. Soal hidup, hubungan spiritual, hubungan antar manusia dan alam. Semuanya benar-benar jadi auspan yang berguna untuk diri. Tak lupa mereka juga memberikan nasihat soal hubungan percintaan, hahahahaha. Mereka menjelaskan hal-hal apa saja yang menjadi kunci sukses dan langgeng sebuah hubungan. Kalian penasaran apa saja yang kami obrolin?

Tak terasa kami mengobrol hingga 1,5 jam dan mereka pamit untuk menjemput anak perempuan mereka.

"Iya, anak perempuan kami sedang jalan-jalan di Berlin dengan teman-temannya setelah menonton konser BlackPink" kata Ibunya. 

"Iya kami juga ikut menonton konser BlackPink itu" ujar Bapaknya lagi. 

Eh buset, keren sekali mereka ikut nonton konser K-Pop padahal usia mereka sudah tidak terbilang muda. Hahahaha...

Kami bertukar kontak agar bisa saling berkomunikasi dan mana tahu saya ada rejeki ke Serbia, rumah mereka terbuka lebar untuk saya katanya. Aihhhhh baik sekali pasangan itu. Saya memang ingin sekali ke Serbia karena itu adalah negara asal para paraglider (penerbang paralayang) yang selalu ada di jajaran juara dunia. 

"Terima kasih ya Rodo dan Vera. It was really nice to meet you" ujar saya sambil memeluk mereka. 

Aku mengambil foto Rodo & Vera dari belakang.


Saya melihat mereka hilang di kejauhan dan kembali menikmati pemandangan orang-orang yang asyik berfoto di depan air mancur. Tidak sadar bahwa di tempat saya ada seorang lelaki muda yang duduk juga dan lalu menyapa saya.

Tentu saya heran karena biasanya orang Eropa tidak suka menyapa orang asing namun pemuda itu dengan ramah tersenyum dan menanyakan asal saya dari mana.

Pemuda yang ternyata bernama Marty itu ternyata pernah tinggal di Jepang beberapa tahun dan awalnya mengira saya adalah orang Jepang (orang Jepang eksotis iya hahahahaha). Namun karena dia juga fasih berbahasa Inggris selain bahasa Jerman, kami malah jadi mengobrol tentang banyak hal.

Beruntung sekali Marty tinggal dekat dengan AlexanderPlatz jadi saya diperbolehkan untuk menaruh carrier besar saya di apartemen dia dan kami akan jalan-jalan ke beberapa tempat menarik di Berlin seperti Berliner Dom dan juga Brandenburg Gate. 

Danke schön Marty!

Foto diambil oleh Marty dan agak blur tapi ya sudahlah ya...


Kami juga pergi ke bakery enak di dekat AlezanderPlatz namanya "Zeit für brot" dan nyobain the famous cinnamon apple bread mereka yang harganya 2.8 EUR dan espresso harga 1.8 EUR. Harganya masih normal lah buat kita di Indonesia ya.



Beneran enak cinnamon apple bread-nya <3


Di hari pertama keliling Eropa, saya boia bilang hari saya menyenangkan dan juga baru pertama kali merasakan langit masih terang sekali hingga pukul 10 malam. Hari terasa panjaaaaaaang sekali.

Saya naik U-bahn dari AlexanderPlatz ke ZOB Berlin, bus station tempat saya akan naik Eurolines ke Utrecht. Ongkosnya 27.9 EUR jadi terbilang murah dibandingkan naik kereta atau pesawat. Bus di Eropa-nya juga enak karena kursinya empuk, ada colokan, toilet bersih dan wi-fi (tapi saya nggak bisa akses wi-fi nya). Maaf lupa foto interior bus-nya. Di perjalanan berikutnya yaaa akan saya ulas soal bus keliling Eropa.

Enaknya pakai Jenius Card ini. Kartu Debit yang bisa dipakai buat beli macam-macam di Eropa, termasuk tiket kereta.

Sejenak sebelum bus bertolak ke Utrecht. Nah, kelihatan kan jam 9 malam masih terang banget.

Bus bertolak dari Berlin dan saya terlelap dengan cepat karena capek juga jalan kaki keliling Berlin. Capek tapi senang karena dipertemukan dengan orang-orang menyenangkan. Hari pembuka perjalanan yang menghangatkan hati. 

Wir sehen uns wieder, Berlin! Nanti akan lebih banyak eskplorasi Berlin yaaaa...




Cheers,






Follow Us @satyawinnie