Monday, September 10, 2018

Meriahnya Festival Pesona Lokal Solo di De Tjolomadoe

Monday, September 10, 2018 3 Comments


Sejak dulu, Jawa memang terkenal sebagai ‘performer’, apalagi kalau kita berbicara soal tarian. Ada banyak sekali jenis tarian yang tentunya tidak mudah dipelajari. Butuh disiplin dan konsistensi sampai bisa benar-benar menguasai satu tari tradisional Jawa.

Kalau saya sih kepingin juga, kepingin menonton semua tarian maksudnya. Hahaha. Rasa-rasanya tak cocok saya jadi penari lemah gemulai seperti perempuan Jawa. Cocoknya menari penuh semangat dan enerjik seperti tari tor-tor dari kampung halaman saya di Sumatera Utara.

Makanya pas hadir di acara Festival Pesona Solo Adira Finance di De Tjolomadoe (Colomadu) kemarin, saya rasa-rasanya tak ingin pulang. Pengennya memandangi dan menikmati semua tari-tarian yang ditampilkan oleh seluruh daerah di Jawa Tengah. De Tjolomadoe dipilih jadi lokasi festival karena dianggap sebagai salah satu ikon dari Jawa Tengah, sebagai pabrik gula tertua yang kini sudah dipugar menjadi museum yang apik (nanti ada cerita sendiri soal ini ya).






Sedari pagi, semua peserta karnival sudah bersiap di sekitaran Tjolomadoe. Ada yang asyik berias, ada yang berlatih musik, ada yang berdiskusi dan berlatih gerakan bersama teman-teman tim-nya. Mereka pasti ingin memberikan pertunjukan yang terbaik. Ya tentu ya apalagi ini perlombaan dengan hadiah belasan juta untuk performer terbaik.



Ada Tari Topeng Ireng di mana semua penarinya mengenakan pakaian yang dilengkapi dengan banyak lonceng dan giring-giring. Kostumnya lumayan berat berdasarkan penuturan dari salah satu penari. Nggak kebayang sih gerahnya kayak gimana menari dengan kostum seberat itu dengan matahari terik Solo yang wuaw lumayan bikin berkeringat sebesar bulir-bulir jagung. 




Tapi tarian itu saya akui sebagai tarian yang paling menarik perhatian saya karena jumlah penarinya ada lebih dari dua puluh orang, dengan kostum warna-warni yang super eyecatching dan tak perlu menari, dengan mereka berjalan saja sudah membuat bising karena banyaknya lonceng yang ditaruh di kaki. Asal tarian-nya dari Magelang dan biasanya dibawakan oleh campuran penari perempuan dan laki-laki. Dandanannya mirip-mirip seperti orang Apache Indian saat pertama kali saya melihat mereka, hiasan kepala besar penuh dengan bulu-bulu. 

Nah, selain tari topeng ireng, ada juga tari kretek dari Kudus, tari kebo-keboan, tari Hanoman, tari Barongan dari Semarang, tari kuda lumping dan masih banyak lagi. Di Festival Pesona Lokal Solo ini tak lupa juga berlenggak-lenggok peserta karnival dengan kostum berwarna-warni yang ukurannya “wuaw” besar sekali.







“Ini berat nggak bawa kostumnya?” tanya saya pada salah satu peserta. 

“Iya Mbak, apalagi kalau angina lagi kencang, harus ada yang megangin”, jawabnya.

Pantaslah saat mereka berjalan, pasti ada dua orang yang mendampingi di kanan dan kiri, berjaga-jaga jika yang berjalan sudah mulai oleng. 






Lebih dari 1.700 peserta yang memamerkan busana adat dan musik tradisional, serta seni pertunjukan khas budaya Jawa Tengah berkeliling di sekitar De Tjolomadoe. Masyarakat tumpah ruah hingga ke tepian jalan. Saya sedikit kesulitan untuk mengambil potret para peserta karnaval karena padatnya penonton yang mengerubungi para peserta karnaval. Meski hanya menggunakan ponsel, mereka bersemangat sekali mendokumentasikan festival pesona lokal. 


Acara Festival Pesona Lokal Solo dibuka dengan menyanyikan Indonesia Raya bersama jajaran BDO dan peserta festival. Head of Region SSD (Central Java Region) Adira Finance Irfan Budianto,  Deputy Director-Head Motorcyle Financing Adira Finance Andy Sutanto, Chef Executive Officer PT Dinamika Adira  Dinamika Julian Noor, Direktur SDM dan Marketing Adira Swandajani Gunadi, CFO iNews Rafael Utomo, Wakil Pemimpin Redaksi iNews Ariyo Ardi, hadir untuk melepas para peserta karnival di garis start. 

Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo juga hadir untuk memeriahkan Festival Pesona Lokal Solo. Masih dengan mengenakan pakaian bersepeda, beliau hadir bersama istri tercinta yang juga mengenakan pakaian yang sama. Ternyata sebelum hadir di FPL Solo, mereka menghadiri acara sepeda santai dulu. 


Bapak Gubernur yang terkenal humoris dan berjiwa muda ini bahkan membuat vlog di atas panggung yang diikuti dengan riuh tawa para penonton FPL. Senang betul saya ketika mendapat kesempatan untuk ‘selfie’ bersama dengan  Pak Ganjar, bareng dengan Hannief dan Halim juga setelah berdesak-desakan dan meringis karena kaki diinjak orang. Hahaha.

Selain menikmati keseruan karnival budaya, pengunjung yang datang ke Tjolomadoe juga berkeliling di booth UMKM, menikmati jajanan-jajanan unik dan berbelanja barang kerajinan. Oh iya, UMKM booth ini juga diperlombakan. Lumayan hadiahnya bisa dipakai untuk mengembangkan UMKM-nya.



Selagi panggung utama diisi hiburan oleh para penari dan MC, di Tjolomadoe, para peserta lomba kreasi masakan dan mural berkonsentrasi penuh untuk menyelesaikan karya mereka. Tentu tidak mudah, terutama bagi peserta lomba mural karena siang itu cuaca super terik dan mereka mengerjakan muralnya di ruang terbuka, di bawah matahari. Salut sekali melihat semangat mereka yang tak surut. Saking bagus-bagusnya semua mural yang ditampilkan, saya jamin jurinya pasti pusing untuk memilih pemenangnya.




Setelah seluruh pemenang diumumkan, panggung langsung dikerumuni penonton untuk berjoget dangdut bersama Zaskia Gotik dan Resa Lawangsewu. Sudah hampir pukul 3 sore jadi matahari tidak terlalu menyengat lagi di kulit dan para penonton dengan asyik berjoget dan satu-satunya komentar saya saat itu adalah Zaskia Gotik memang aslinya cantik ya dan senang bercanda dengan penontonnya. 

Yaaaa Bandung dan Solo sudah selesai, masih ada rangkaian Festival Pesona Lokal di Bali, Makassar, Malang, Pontianak, Medan, Palembang dan Jakarta. Datang yuk dan seru-seruan bareng.



Cheers,


Saturday, September 8, 2018

Sehari di Bandung, Menikmati Festival Pesona Lokal Bumi Pasundan

Saturday, September 08, 2018 4 Comments


Belum jam 6 pagi namun orang-orang sudah memadati area Gedung Sate Bandung. Berpakaian semarak lengkap dengan dandanan berwarna cerah memikat. Mulai dari anak TK yang masih terkantuk-kantuk memakai kostum sambil memegang tangan orang tuanya, hingga kakek-kakek veteran yang sedang bercanda dengan teman sejawatnya meski gigi tak lengkap lagi.



Saya edarkan pandangan ke sekitaran. Mojang-mojang (gadis) elok rupa sibuk memegang ponselnya dan tak henti-hentinya berswafoto ria, kadang sendiri, kadang dengan teman-temannya. Dandanan meriah mereka tentu patut dapat ribuan likes di social media. Meski sudah cantik tanpa dandan, mereka berdandan lebih cantik lagi untuk mewarnai pawai karnaval pagi itu.



Yap, mereka semua sedang bersiap-siap untuk  mengikuti karnaval pawai budaya Festival Pesona Lokal yang merupakan kerja sama Adira Finance dan Kementerian Pariwisata Indonesia. Areal Gedung Sate memang pilihan pas untuk dijadikan lokasi pawai karena biasanya setiap hari Minggu, urang Bandung berjalan kaki di lapangan Sabuga bersama keluarga. Nah, kalau olahraga di pagi hari sambil disuguhkan tontonan karnaval pawai cantik pasti lebih menarik kan?

Setidaknya ada 5000 orang yang hadir dari 27 kota / kabupaten di Jawa Barat hari Minggu itu untuk menikmati festival. Masing-masing mengenakan kostum yang menunjukkan ciri khas daerahnya, misalkan tim Garut yang membuat kostum bertemakan domba (ingat domba Garut yang tersohor itu kan?), tim Sumedang dengan kostum kuda ronggeng-nya (kuda yang bisa joget itu lho). Tak ketinggalan pula penampilan arak-arakan Sisingaan dan Reak Bangbarongan. 




Pernah nonton nggak semua pertunjukan kesenian yang saya sebutkan di atas? Kalau belum sayang sekali. Hahaha. Makanya saya senang betul kalau ada karnaval pawai budaya karena bisa lihat beragam kekayaan budaya daerah kita. Bisa terbengong-bengong kita dibuatnya dan tak berhenti berdecak kagum. 

Saya sendiri tak henti-hentinya menekan tombol shutter kamera, mengabadikan semua pemandangan di sekitar. Kapan lagi coba saya bisa memotret seluruh pesona budaya Jawa Barat dalam satu hari? Ya kemarin itulah. Makanya tak mau sedikit pun lengah, jepret sana jepret sini. Agak sedikit kewalahan saat pawai karnaval sudah berjalan karena harus sedikit berdesak-desakan. Memotret dengan lensa fix manual dengan objek yang bergerak pun tidaklah mudah tapi jadi tantangan menarik buat saya. Pas dapat potret yang tajam, senang kali! Wuwuwuwuwuwu~




Karnaval dimulai sekitar pukul setengah delapan. Total jarak rute pawainya hanya 2,8 kilometer saja saya ikut keliling satu putaran penuh. Hitung-hitung jalan sehat euy. Jalanan dipadati yang ikutan pawai-nya baik peserta ataupun penonton. Peserta pawai-nya semangat sekali joget 45, unjuk kehebatan daerahnya karena katanya yang performance-nya paling kece bakal dapat hadiah. Mantul! Mantap betul!




Semarak tabuhan gendang dan denting angklung sepanjang pawai pun membikin saya  memotret sambil ikut joget. Begitu pawai selesai kok saya rasanya sedih. Yaaah masih pengen joget soalnya. Hahaha. Andai saja jarak jalur pawainya lebih jauh. Eh tapi kasihan juga buat peserta yang pakai kostum berat-berat ya kalau jaraknya kejauhan. 



Begitu pawai selesai, saya langsung ngacir ke area pameran UMKM. Ada 16 booth UMKM yang juga saling unjuk kualitas produknya. Ada jaket, sepatu, kerajinan tas. Termasuk sepatu dari kulit ceker ayam. Wow! Pernah dengar ada sepatu dari kulit ceker ayam? Hahahaha. Saya juga baru pertama kali dengar dan terbengong-bengong saat lihat hasil sepatunya sebagus itu. Nanti ada cerita khusus soal proses pembuatan sepatu kulit ceker ayam deh ya. 


Saat lagi lihat-lihat hasil kerajinan, hidung saya membaui makanan lezat dengan bau beras kencur. Ternyata itu SEBLAK! Wowowowowowo. Di Festival Pesona Lokal ini juga ada lomba kreasi makanan tradisional dan seblak dipilih menjadi makanan yang harus dikreasikan.



Macam-macam kreasi seblak seperti seblak mozzarella, seblak asin manis pedas, seblak daging kepiting, seblak abcdefg banyak variasinya akan di. Pas diicip-icip kok enak semua. Itu yang jadi jurinya pasti pusing lidahnya ya. Selain rasa, dinilai juga penampilan dari hidangannya dan semua juga jago menghias kreasi seblaknya jadi seperti makanan kelas bintang lima. Makin-makinlah pusing jurinya.

Selain pawai karnaval, pameran UMKM, lomba kreasi masakan tradisional, ada pula lomba mural. Nah ini juga pasti yang susah penjuriannya. Habisnya kan orang Bandung memang terkenal ‘nyeni’ dan kreatif banget. Para peserta lomba mural berjejer di tepi jalan, tepat di depan gedung sate, bekerja dalam tim untuk membuat mural terbaik yang bisa merepresantasikan Bandung seutuhnya. Meski sempat diguyur hujan siangnya, mural-muralnya tetap aman karena diberikan pelindung. Hujan reda, pengerjaan muralnya dilanjutkan lagi.




Saya orang awam, jadi buat saya semua muralnya bagus, unik dan menarik. Setiap mural punya daya pikat masing-masing. Banyak yang menggambarkan Bandung dengan hal-hal ikonik seperti angklung, gedung sate, si cepot sampai Persib, semua yang dibanggakan Jawa Barat. Jawa Barat Kahiji!



Hingga menjelang sore, lokasi festival juga masih ramai karena ada penampilan Zaskia Gotik yang ditunggu-tunggu peserta yang hadir. Para peserta ikut berdendang dan bergoyang bersama Zaskia yang terlihat sumringah di atas panggung. 

Photo Source : iNews.id


Saya membayangkan pastinya akan seru kalau pesta rakyat macam ini bisa diadakan di lebih banyak kota di Indonesia. Sejauh ini sih Festival Pesona Lokal di tahun 2018 akan diadakan di Bandung, Solo, Malang, Bali, Makassar, Pontianak, Medan, Palembang, Jakarta. Bandung menjadi pembuka rangkaian festival panjang ini. 



Diharapkan dengan adanya Festival Pesona Lokal (FPL), kita makin mengenal ragam budaya daerah kita dan mempromosikan daerah kita sendiri. FPL ini sendiri adalah salah satu program Corporate Social Responsibilty atau CSR dari Adira Finance. Para BOC (Board Of Commisaries) Adira hadir meramaikan Festival Pesona Lokal Bandung. Mereka turut serta bergembira dalam festival pesona lokal yang pertama dan berharap 8 lokasi berikutnya tidak kalah serunya.

Oke, berikutnya kita ke mana? 

Festival Pesona Lokal di Solo tanggal 9 September besok. Datang yuk di De Tjolomadoe ya! Sampai jumpaaaa di sana...



Cheers,







Follow Us @satyawinnie