Thursday, May 31, 2018

# Gunung # Gunung Sumbing

Mendaki Gunung Sumbing via Banaran 3 Hari 2 Malam (East Route Sumbing)




“Terakhir-terakhir, Wonosobo, terminal, terminal” ujar seorang Bapak dengan suara agak keras agar penumpang terbangun dan bersiap karena akan segera tiba di tempat tujuan.

Saya lirik jam di tangan kiri, menunjukkan jam 4 pagi. Bus Sinar Jaya yang kami tumpangi dengan trayek Depok – Wonosobo ini hampir tiba di tujuan setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam. Tiket busnya Rp 90.000 saja. Ini cara termurah dan paling praktis jika ingin mendaki Gunung Sumbing. Opsi lain bisa naik kereta api, turun di Stasiun Purwokerto tetapi makan waktu yang cukup lama dan masih jauh ke titik pintu basecamp pendakian Banaran. 

Saya berangkat berdua dari Depok bersama Bang Herdi yang akrab dipanggil Bang “Kibo”. Tapi untuk pendakian ke Gunung Sumbing, kami tidak berdua saja. Ada Bang Aris, sahabat Bang Kibo yang akan turut serta namun berangkat  dari Cikarang. Terminal Wonosobo menjadi titik tengah pertemuan kami.

Pagi di Terminal Wonosobo tidak sedingin yang saya kira. Saya dan Bang Kibo menghampiri Bang Aris yang sudah duluan tiba dan duduk di pojokan terminal, menyesap kopi panas. Dari pertemuan pertama saja, impresi yang saya dapat adalah orangnya pasti lucu seneng ngguyu. Hati saya riang karena dengan ditemani Bang Kibo dan Bang Aris bikin pendakian ini pasti makin seru. 

Dari Terminal Wonosobo, kami ‘numpak’ bus kecil ke Temanggung. Jam 5 pagi langit masih gelap dan kami bertiga duduk di kursi belakang. Kami berhenti di Pasar Parakan dan berbelanja logistik segar macam sayuran, tahu, tempe, bumbu masak hingga kerupuk udang! (YES, kami bertiga memang penyuka kerupuk!). 

Ingatlah bahwa naik gunung itu harus mencakupi tiga hal ; makan enak, tidur enak, perjalanan enak supaya pendakian nyaman, aman dan selamat sampai pulang ke rumah. Makanya buat saya persiapan pendakian itu amatlah penting. Antisipasi segala hal yang terburuk dalam pendakian dengan persiapan yang matang ya.

Dari Pasar Parakan, kami naik mini bus lagi hingga perempatan lampu merah. Sudah ada tiga sepeda motor yang menunggu kami dan akan mengantarkan hingga ke basecamp Banaran. Yang membonceng saya namanya Mas Alfi yang menjadi teman mengobrol saya sepanjang jalan. Sekitar 30 menitan dengan jalan menanjak, sampai juga kami di basecamp Banaran. Saat kami tiba, ada beberapa pendaki yang sudah siap untuk mendaki dan kami hanya bertukar anggukan dan senyum saja.

Biaya naik ojek dari Temanggung - Basecamp Banaran : Rp 50.000 per orang.

Kami sepakat beristhirahat sekitar 1 jam-an sebelum memulai pendakian Gunung Sumbing. Teman-teman di Basecamp Banaran ramah-ramah sekali. Baru saja pantat dihempaskan ke lantai dan rebahan meluruskan punggung, sudah ada yang membawakan nampan berisi teh manis hangat. Baik betul sih.

Di Basecamp Banaran ini juga kita melakukan pendaftaran dan membayar Simaksi sebesar Rp 10.000 per pendaki (murah banget!). Saya sampai bertanya ulang apa benar hanya bayar sepuluh ribu saja dan diiyakan oleh teman di sana. Masih ada ya bayar segitu buat naik gunung? Hahaha.

Sebelum berangkat, mau ucapin terima kasih dulu buat teman-temabn di basecamp Banaran yang baik sekali menjamu kita...


Setelah memastikan tak ada lagi perlengkapan dan peralatan yang kurang untuk mendaki, kami naik ojek lagi menuju Pos 0 alias pintu masuk jalur Banaran. Carrier harus diletakkan di bagian depan motor agar tidak terjungkang (terbalik ke belakang) ketika dibonceng karena jalanannya menanjak pol! Kalau terlalu berat, kita yang dibonceng harus turun dan jalan menanjak sedikit ya. Jangan malas hahaha…

Sebelum berangkat, saya sebenarnya sudah diwanti-wanti oleh Bang Kibo dan Bang Aris tentang jalur pendakian Banaran yang hampir 100% menanjak dan minim “bonus”. Whatever it is, let’s do it!

 POS 0 – POS 1 


Dari Pos 0 menuju Pos 1, kita akan melewati ladang penduduk, bila berjumpa dengan bapak dan ibu yang sedang bekerja di ladang, sapalah mereka dengan hangat ya.  Selain itu kita akan menjumpai shelter besar seperti gazebo yang ada aliran airnya dengan nama yang aneh menurut saya "Dongbanger". Dong Dong Bang Bang!

Fotonya diambil ketika perjalanan turun sebenarnya dan Bang Kibo senang sekali minum air segar langsung hahaha...


Kami berjalan pelan, mengatur nafas dan begitu memasuki pintu hutan, saya melihat jalur tangga yang panjang, jauh sekali sampai tak terlihat ujungnya. 

“Ah, ini ya jalur escalator yang terkenal itu” celotehku pada Bang Kibo yang hanya dijawab singkat “yoi”.

Jalur Banaran Sumbing ini punya dua julukan, “Escalator Route” & “Shaolin Route”. Kedua nama itu tersemat karena memang jalur tangga kayu-nya yang panjang macam tak berujung itu mirip escalator dan yang melewati jalur itu pasti akan teringat film shaolin di mana murid-muridnya harus mengangkat beban dan mendaki jalur panjang yang semacam tak ada habisnya. Ya sudah, nikmati jalurnya saja ya. Bisa sambil berdendang (asal suaramu tak sumbang dan mengganggu hewan dan pendaki lain), sambil menghayal yang seru-seru (tapi jangan bengong nanti kesambet), ngobrol sama teman di jalur (asal jangan kelewatan berisik). Tapi biasanya sewaktu mendaki, semuanya pasti diam karena semuanya sibuk menyesuaikan ritme langkah dengan nafas. Apalagi hari pertama kan, beban di carrier sedang berat-beratnya.

Jalurnya tangga-tangga tak berujung. Siap-siap dengkul, apalagi pas turun...


Perkenalkan Bang Aris (kiri) dan Bang Kibo (kanan)


Sangat berbeda dengan cuaca saat kami berangkat mendaki, pukul 12, langit berubah menjadi kelabu dan kabut mulai turun. Firasat saya mulai tidak enak karena pasti akan turun hujan sebentar lagi. Kami tetap lanjut berjalan dan beruntung sekali ketika kami sudah hampir tiba di Pos 1, hujan deras mengguyur. Kami pontang-panting mengerahkan tenaga sedikit berlari masuk ke dalam Pos 1. Binggo! Tepat waktu!

Pos 1 setelah diguyur hujan. Syukurlah shelternya cukup hangat untuk berteduh dan tidur sejenak.


Dengan peluh membasahi tubuh, saya langsung mengenakan jaket windbreaker agar suhu tubuh saya tidak drop. Hujannya bukan gerimis main-main melainkan hujan deras beserta petir. Kami memutuskan untuk menunggu hujan reda agar bisa berjalan lagi dan kami bertiga akhirnya tertidur. 

Jam menunjukkan pukul 3 sore ketika saya terbangun dan melihat Bang Kibo dan Bang Aris sedang ngobrol dengan pendaki-pendaki lain. Hujan sudah mulai mereda dan tampaknya tak lam lagi sudah bisa melanjutkan pendakian. Hanya karena sudah tertidur beberapa waktu, rasanya badan sedikit lemas dan kami mulai berjalan lagi mengatur nafas dan langkah pelan-pelan. 

POS 1– POS 2 


Sekitar satu setengah jam berjalan dari Pos 1, kami tiba di Pos 2. Ada pohon besar yang menarik perhatian saya di dekat shelter. Pohon itu besar dan dipagari. Hmmm. Kenapa ya dipagari?

Kami hanya berhenti sebentar untuk isthirahat di Pos 2 karena ingin cepat-cepat tiba di tujuan. Target kami hari itu bermalam di Camp 4, sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak keesokan harinya. 

Katanya pohon besar yang dipagari itu keramat. Iya kah?

POS 2– POS 3 


Kami tiba di Pos 3 saat maghrib. Butuh sekitar 1,5 jam untuk sampai di pos itu. Ada beberapa teman pendaki dari Yogyakarta yang sedang  berteduh di shelter dan menawarkan untuk bergabung, ngobrol sambil menyeduh kopi. Hari sudah gelap namun semua memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan ke Pos 4 dan mendirikan camp di sana.



“Cuma 2 sampai 3 jam lagi kok”, ujar salah seorang dari  kami yang tidak saya kenali karena gelap. Setelah beberapa gelas kopi panas habis diteguk bersama-sama, kami melanjutkan perjalanan.

POS 3 – POS 4


Kami bersama-sama (sekitar 11 orang) berjalan menuju Pos 4 dengan bantuan penerangan headlamp. Jalurnya semakin licin karena habis diguyur hujan. Sempat berhenti beberapa kali untuk isthirahat di jalur sampai akhirnya kami bertemu tebing batu besar yang bernama “Watu Ondho”. Batu besar itu harus didaki jika ingin tiba di Camp 4. Sudah ada semacam rantai pengaman yang dibuatkan teman-teman @sumbingeastroute untuk membantu para pendaki memanjat batu. Semua saling bantu agar semua dapat sampai di atas batu dengan selamat.

Watu Ondho, batu besar yang harus dipanjat hati-hati apalagi saat musim hujan. Awas terpelincir ya...


Setelah 2,5 jam akhirnya kami semua tiba di Camp 4 dan segera memilih lokasi yang enak untuk mendirikan tenda. Tak banyak ba-bi-bu, semuanya berbagi tugas, bangun tenda, masak makan malam dan tidur. 

Di Pos 4 ini ada sumber mata air dan Bang Aris langsung berinisiatif untuk membawa jeregen besar ke mata air, malam hari. Luar biasa memang keberanian sang "Dewa Bumi" itu. Hahahaha. Saya dan Bang Kibo sampai was-was jika Bang Aris hilang karena cukup lama juga waktu yang dibutuhkannya untuk mengambil air. Syukurlah batang hidungnya tampak juga.

Senangnya punya tim mendaki yang jago masak. Masaknya bisa gantian haha...



POS 4 – PUNCAK RAJAWALI


Keesokan paginya, saya terbangun dengan alarm yang sudah saya set pukul setengah enam pagi. Bang Kibo dan Bang Aris masih tertidur pulas. Sudah banyak pendaki di luar yang grasak-grusuk. Sayang sekali matahari agak malu-malu pagi itu. Memang, lautan awan tampak membentang jelas serta Merapi Merbabu yang menjulang gagah. Tiada “Golden Sunrise” warna keemasan yang saya harapkan. Ah tak apa. Bisa menikmati bangun pagi di ketinggian lebih dari dua ribu meter saja sudah membuat saya senang. 

Pemandangan dari Pos 4 Sumbing. Bisa lihat Merapi dan Merbabu di kejauhan.


Bang Kibo dan Bang Aris bangun tak berapa lama kemudian dan langsung menyiapkan sarapan. Kami bertiga hobi masak di gunung dan menyenangkan sekali bisa masak bertiga sambil tertawa-tawa. Di Pos 4 ini kita juga bisa menjumpai bunga edelweiss nan cantik. 



Awalnya kami berencana untuk lintas jalur pendakian. Namun pada akhirnya kami memutuskan untuk tetap ngecamp di Pos 4 dan summit attack hanya membawa daypack. Katanya dari Pos 4 ke Puncak akan memakan waktu 2.5 – 3 jam. 

Pemandangan Camp 4 dari atas, saat perjalanan turun dari Puncak Rajawali kembali ke camp...


Kami berangkat menuju puncak sekitar jam 8 pagi. Langit biru cerah dan panas dan kami berharap di puncak Rajawali akan secerah itu. Jalur menuju puncak terus menanjak dan air dingin dicampur Nutri Sari Jeruk jadi penyelamat. 

Dua jam mendaki, tibalah kami di Segoro Banjaran yang konon katanya ada airnya makanya disebut ‘Segara’ atau mata air. Namun hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat airnya dan saya bukan salah satu orang tertentu itu. Kami isthirahat sejenak sambil menikmati cemilan yang kami bawa. Saya asyik membuat timelapse awan-awan yang mencumbu pucuk-pucuk bukit. 

Segara Banjaran yang tertutup kabut...



Dari Segoro Banjaran, masih butuh 1 jam perjalanan lagi untuk tiba di puncak Rajawali. Sebelum tiba di puncak, kita akan melintasi kawah yang mengeluarkan bau belerang yang cukup kencang. Tutuplah hidung dengan buff agar tidak pusing ya.

Boleh main ke kawahnya asal hati-hati ya...


PUNCAK!


Akhirnya! Tiba juga kami bertiga di puncak dengan sehat dan selamat. Tapi, semuanya putih! Hahahahaha…

Kami tiba sekitar pukul 11 dan puncak sedang berbalut kabut. Kami bertiga sepakat menunggu hingga jendela awan terbuka agar bisa melihat Gunung Sindoro dari puncak Gunung Sumbing. Kami menyeduh kopi, makan nasi bakar sampai ketiduran. Sudah 3 jam menunggu, tak juga ada tanda-tanda puncak akan cerah, bersih dari awan. 



Yeay! We made it!

Kami bertiga memutuskan untuk turun agar tidak kesorean tiba di camp. Sepanjang perjalanan turun, kabut tebal menyelubungi dan kami harus berjalan berdekatan agar tidak terpisah. Jalurnya terlihat jelas sih tapi lebih aman kalau jalan tidak berjauhan kan?

Bang Kibo terlalu senang ketemu batu yang dia yakini ada goa di dalamnya...


Begitu tiba di camp, rombongan teman-teman pendaki yang lain sudah turun semua kecuali teman-teman dari Yogyakarta. Tinggal tenda kuning kami saja yang masih tersisa. Kami memang sudah merencanakan untuk tinggal 1 malam lagi. 

Terima kasih teman-teman Jogjaaa!


Sayangnya, kami masih kurang beruntung. Berharapnya bisa lihat sunrise cantik keesokan paginya hanya untuk kami bertiga, tetapi pada akhirnya jadi angan-angan saja. Kalau di pagi sebelumnya minimal bsia lihat lautan awan dan Merbabu serta Merapi di kejauhan, pagi kedua kami tidak dapat apa-apa selain kabut tebal nan dingin.

Malam sebelumnya, memang hujan badai mengguyur namun kami sudah bergelung nyaman dalam sleeping bag hangat. Dikarenakan hujan semalaman mungkin ya jadi pagi-paginya dingin berkabut tak ada matahari.

Hingga pukul sepuluh pagi pun langit masih gelap dan kami sudah bersiap untuk turun. Yang paling tidak mengenakkan adalah hari itu tiba-tiba tamu bulanan datang. Dia datang terlalu cepat dari jadwal tetapi untungya saya memang selalu sedia “roti” dalam tas ke mana pun saya pergi. Tapi kram dan sakitnya itu lho. Perut dan pinggul saya sakit sekali hingga dalam perjalanan turun, saya minta beberapa kali berhenti agar bisa duduk atau telungkup sebentar. Syukurnya teman-teman saya pengertian sekali.

Hampir  3 jam waktu yang dibutuhkan untuk turun dari Pos 4 hingga Pos 0. Seharusnya bisa lebih cepat kalau saya tidak sering minta berhenti. Tapi syukurlah kami bertiga tiba lagi di bawah dengan aman, selamat tanpa kekurangan suatu apa pun. 

Puncak itu bukan tujuan utama. Tujuan utama kita ya pulang ke rumah dengan selamat!



“Jadi, kapok nggak lewat Banaran?” tanya Mas Alfi saat kami tiba di basecamp.

“Ah, nggak dong. Saya mau lagi naik ke atas asal dipastikan sepanjang jalur harus cerah ya Mas”, jawab saya sambil terkekeh.

Terima kasih Sumbing, saya pasti kembali lagi!


CATATAN KECIL :


  • Biaya Ojek dari Kota Temanggung - Basecamp Banaran : Rp 50.000 sekali jalan.
  • Entry Fee pendakian Gunung Sumbing : Rp 10.000 per orang.
  • Jika memungkinkan, mendakilah pagi-pagi agar bisa tiba di Pos 4 sebelum hari gelap. Watu Ondho cukup berat didaki ketika malam hari, harus lebih ekstra hati-hati dibandingkan saat siang hari.
  • Pastikan peralatan dan perlengkapan serta logistik mencukupi ya. Jadi kalau diterpa badai pun sudah siap dan tidak akan terserang hipotermia atau mountain sickness lainnya.
  • Bawalah air dua x 1,5 liter per orang. Sumbet mata air hanya ada di shelter "Dongbanger", Pos 4 dan jalur menuju puncak ada mata air kecil yang untuk menampungnya dibutuhkan kesabaran ekstra. 
  • Jangan tinggalkan sampahmu di gunung ya!
  • STOP vandalisme. Di jalur menuju puncak saya melihat banyak sekali coret-coretan di batu dan itu membuat saya sedih. Semoga yang baca postingan ini nggak ada yang begitu ya. 
  • Jangan sembrono dalam bertutur dan berlaku saat di gunung. Permisi permisi-lah setiap lewat jalur, buang air kecil dan buang air besar.




Cheers,




10 comments:

  1. Kak Satya, ojek dari basecamp ke pos 0 berapa ya? Trus perjalanan dari pos 0 ke pos 1 brp lama? Mohon diinfo yah kak. Makasih 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Rahmania terima kasih sudah mampir yaaaa... Kalau dari Basecamp ke Pos 0 harga ojeknya Rp 15.000 - Rp 20.000 saja. Hehehehe. Kalau mau kasih lebih juga boleh... Kalau dari Pos 0 ke Pos 1 kemarin kurang lebih 2 jam...

      Delete
  2. Halo kak satya, perkenalkan saya Christin kak. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas kesediaan kakak berbagi pengalaman ini kepada kami. Jujur saja, setelah membaca ini timbul keinginan kuat di hati saya (eaaaa :D) untuk mendaki Gunung Sumbing, apakah kakak punya rekomendasi tour/komunitas yg mengadakan pendakian ke gunung sumbing? atau apakah kaka berencana kembali mendaki dan bersedia kalo saya ikut kak? saat ini saya tinggal di Malang kak dan lumayan susah menemukan teman di lingkungan saya yg suka kegiatan mendaki gunung. Untuk perhatian dan informasinya, saya ucapkan terima kasih kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Christinnnn terima kasih sudah mampir dan membaca blogpost ini ya.. Hmmm kalau komunitas aku kurang tahu hehehe tapi biasanya ada saja yang mengadakan open trip ke Sumbing. Di Malang sendiri ada banyak teman-teman yang senang mendaki gunung lho. Banyaaaaakkk banget. Kamu kuliah atau sudah kerja? Soalnya pecinta alam di kampus pasti seneng mendaki gunung dan kamu bisa gabung sama mereka ;)

      Delete
  3. Fisikmu emang jos hahahhhaha.
    Aku baca dan liat fotonya aja udah capek duluan. Daripada disuruh naik gunung, sepertinya aku lebih nerima sepedaan Jogja - Jepara kakakakkakakakka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah kau ini Nasi! Padahal kan sepedaan Jogja - Jepara juga sama capeknya kayak mendaki gunung. Kamu nih merendah sajaaa....Hahahahaha...

      Delete
  4. Bucketlist ku tahun ini harus selesein gunung triple S.
    Tapi sampe sekarang belum sempet ke Sumbing heuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga belum komplit nih 3S, Sumbing, Slamet Sindoro kan maksudnya? Hahahaha... Semoga tercapai yaaa!

      Delete
  5. Halo kak Satya. Terima kasih sudah menulis cerita ini. sungguh tiba-tiba langsung rindu Sumbing via Banaran, rindu hangatnya teh basecamp serta orang-orangnya yang ramah, rindu mas Dhopan yang baik banget selama di Banaran. Rindu Watu Ondho...
    Makasih kak <3

    ReplyDelete
  6. Waini, keren dah pokoknya Sumbing via Banaran itu..
    Menurut saia juga, jalur Sumbing paling keren ya via Banaran ini, soalnya selain sejalur buat sampai puncak tertingginya; Puncak Rajawali, sekalian bisa njelajah kawah sama Lautan Pasirnya (kalau puncak lain musti naik-turun dulu)...

    Paling bikin gemeter ya Watu Ondho itu.. haha..

    Sayangnya cukup mendung ya mbak..
    Padahal kalau pas cerah lebih keren lagi hlo...

    Salam kenal dari menggapaiangkasa.com .. Ada catper ttg Sumbing lewat jalur Banaran juga mbak..

    ReplyDelete

Apa yang terpikir di benakmu setelah membaca tulisan ini? Share dong :)

Follow Us @satyawinnie