Saturday, April 28, 2018

KBA Rawajati, Oase di Tengah Kota Jakarta

Saturday, April 28, 2018 2 Comments

"Bagaimana tadi perasaannya pas masuk ke Rawajati tadi? Sejuk nggak? Mungkin tidak terlalu terasa ya karena sehabis hujan", ujar Ibu Ninik yang menyambut kedatangan saya dan teman-teman yang berkunjung ke Kampung Rawajati di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.

Kampung Rawajati ini konon katanya adalah oase di tengah kota, kampung terhijau di DKI Jakarta. Benar saja ketika saya datang ke sana, saya sedikit tidak percaya bahwa tempat seperti ini benar-benar ada di Jakarta. Saya sedikit malu juga karena belum pernah sama sekali mendengar nama kampung ini sebelumnya padahal nyatanya Kampung Rawajati ini sudah diberitakan di 33 Negara oleh BBC karena prestasi penghijauan kota yang mereka lakukan sejak 17 tahun silam.

Kampung Rawajati yang bersih, tidak ada satu pun sampah di jalan atau pun selokan. 

Ibu Ninik Nuryanto yang akrab dipanggil Ibu Ninik adalah salah satu inisiator untuk penghijauan Kampung Rawajati. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, Ibu Ninik tetap terlihat segar dan enerjik. Dengan wajah sumringah, beliau bersemangat menjelaskan awal mula perjuangan mereka untuk menghijaukan Rawajati.

“Dulu, tahun 2001 itu saya baru menjabat sebagai Ketua PKK, lalu kebetulan Ketua RW nya juga baru terpilih. Jadi kita berinisiatif untuk membuat suatu gerakan agar lingkungan tempat kami tinggal lebih asri, hijau dan lebih nyaman untuk dihuni. Bersama-sama kami mencari tahu apa yang bisa kami lakukan dari rumah sendiri” ujar Ibu Ninik.

Ibu Ninik membagikan cara untuk membuat kompos dengan bahan tong biru, sterofoam dan karpet.


Gerakan paling kecil yang bisa dilakukan adalah memilah sampah organik dan anorganik di tiap-tiap rumah. Kemudian sampah organik yang berasal dari limbah rumah tangga, diolah lagi menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dipilah dan dimanfaatkan lagi, didaur ulang. Tidak mudah tentunya untuk mengajak seluruh warga untuk menjalankan ide yang diusung Ibu Ninik dan teman-temannya.

Setiap sudut kampung ada tempat sampah yang sudah dibagi menjadi sampah basah, sampah kering dan sampah beracun.

Di tiap rumah, ada kantong sampah untuk memudahkan warga untuk mengantarkan sampah plastik ke Bank Sampah Rawajati.

Kompos yang dibuat dipakai untuk menyuburkan tanaman pohon di sekitar halaman rumah. Meski tiap-tiap rumah tidak punya halaman yang luas sekali, diusahakan setiap rumah punya tanaman hijau dan juga tanaman obat yang bisa dikonsumsi sehari-hari. Tak ayal setelah 17 tahun, kawasan Rawajati ini sudah dipenuhi pohon-pohon rindang yang bikin udara jadi sejuk dan segar. Katanya, sekarang kadar udara di Rawajati ini paling bersih begitu pula dengan kadar air yang dikonsumsi tiap rumah tangga di sana. Sampai dilakukan penelitiannya lho.

Program penghijauan ini tidak hanya dilakukan oleh para Ibu PKK saja melainkan para Bapak juga. Oleh karena itu mereka menyebutkan di Rawajati adanya PKK Plus. Semua orang (Bapak dan Ibu) punya tanggung jawab masing-masing. Ada yang mengelola aktivitas bank sampah, pengolahan kompos, tanaman hidroponik dan membuat lubang resapan biopori.

Sampah plastik dipilah, disiangi dulu sebelum dicacah di mesin pencacah plastik.

Kebun Hidroponik di Rawajati.

Bu Ninik  berbaik hati mengajarkan kami bagaimana cara membuat kompos dari sampah organik. Dengan modal tong plastik, sterofoam, karpet yang jadi pelapis di bagian bawah dan atas, kita juga bisa membuat sendiri di rumah. Limbah rumah tangga seperti sayur dan buah dicacah dan dimasukkan ke dalam tong lalu dicampur dengan kompos yang kasar. Didiamkan saja satu bulan sambil diaduk beberapa hari sekali, jadilah kompos cair rasa buah. Hahaha.


Limbah rumah tangga yang akan diolah menjadi kompos organik.


Nah, untuk sampah anorganik, Bu Silvi berbaik hati menunjukkan Bank Sampah Rawajati kepada kami. Ada banyak kotak-kotak berisi barang bekas yang masih bisa didaur ulang, timbangan dan juga mesin pencacah sampah plastik.

Ibu Silvi sedang menjelaskan proses Bank Sampah Rawajati.


“Kita senang sekali ketika mendapat bantuan mesin pencacah sampah plastik dari ASTRA. Satu bulan kita bisa mengolah sampah plastik hingga dua ton setiap bulannya” ujar Ibu Silvi.

“Tiap warga bisa membawa sampah plastik yang sudah dipilah ke sini, pakai kantong sampah yang sudah dibagikan. Nanti sampahnya ditimbang, dikemas rapi lalu dijual lagi ke Bank Sampah Kota Jakarta yang ada di Matraman” lanjut Ibu Silvi lagi.



Barang-barang plastik yang bisa dijual ke Bank Sampah.

Mesin pencacah plastik, bantuan dari ASTRA.


Namun tak semua sampah plastik dijual ke Bank Sampah Kota. Beberapa sampah yang sekiranya bisa dijadikan kerajinan, biasanya dipisahkan misalnya kertas koran, bungkus kopi sachet, bagian tutup minuman ringan, beberapa botol plastik yang masih dalam kondisi bagus dan lainnya.

Dari sampah di atas, Ibu-Ibu di Rawajati menyulapnya menjadi vas bunga, keranjang belanja, wadah buah, hiasan bunga plastik, tissue box bahkan tikar. Keren banget kan? Kerajinan-kerajinan ini kerap ditampilkan di berbagai pameran dan mengundang decak kagum banyak orang. Ada satu ruang khusus juga di Rawajati yang diperuntukkan menjadi etalase produk kerajinan daur ulang itu. Tak sedikit tamu yang datang berkunjung ke Rawajati memborong hasil kerajinan dari sampah itu, soalnya menarik dan unik sekali.

Diajari membuat kerajinan dari sampah kertas dan koran. Bisa disulap menjadi barang-barang ini lho!

Kerajinan ini bisa dibeli dengan harga Rp 50.000,- hingga Rp 200.000,- 


Dari penjualan sampah ke Bank Kota mau pun dari hasil kerajinan dari sampah, warga Rawajati mendapat penghasilan tambahan dan membuat warga sadar bahwa kita masih tetap bisa mendapatkan keuntungan dari sampah. Memang sih itu hanya bonus ya, keuntungan terbesar yang didapat tentu saja lingkungan kita jadi lebih hijau dan warganya sehat karena tinggal di daerah yang udara dan airnya bersih.

Karena melihat program penghijauan lingkungan yang dilakukan seluruh warga, sejak 2015 silam lalu, Kampung Rawajati diresmikan menjadi Kampung Berseri ASTRA (seringnya disingkat KBA). Kampung Berseri ASTRA ini biasanya mencakup empat pilar pengembangan yakni pendidikan, kewirausahaan, lingkungan dan kesehatan.

Dalam binaan ASTRA, Kampung Rajawati terus berkembang dan kini dinobatkan sebagai Kampung Proklim oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penghargaan ini diberikan kepada kampung yang memenuhi syarat penghijauan lingkungan seperti kadar udara, upaya pengendalian kekeringan, banjir dan longsor. Upaya pengendalian penyakit, upaya pengelolaan dan pemanfaatan limbah, peningkaatan tutupan vegetasi, pencegahan kebakaran lahan dan hutan serta upaya peningkatan ketahanan pangan.

“Kita berterima kasih sama ASTRA karena sudah dibimbing dan akhirnya kita bisa memenuhi semua persyaratan untuk dinobatkan sebagai Kampung Proklim”, ujar Ibu Ninik.

Selain binaan soal lingkungan, Ibu-Ibu di Rawajati juga dibina di bidang kewirausahaan. Tidak hanya kerajinan dari sampah, kini Rawajati punya produk panganan makanan ringan dan minuman yang bisa jadi buah tangan ketika berkunjung ke sana.

Ibu Mimi dengan wajah sumringah menjelaskan semua produk yang dihasilkan oleh Ibu-Ibu di Rawajati. Ada peyek, jamu-jamuan seperti jahe merah, temulawak bahkan bir pletok dibuat dalam kemasan yang sangat menarik dan enak. Tentu saja saya bisa bilang enak karena saya sudah mencicipinya sendiri bahkan membawa pulang beberapa. Hahahaha…


Produk-produk penganan makanan dan minuman yang dibuat oleh Ibu-Ibu Rawajati.


Sebagai penutup kunjungan ke “Oase Jakarta”, kami bersama-sama menanam bibit pohon kelor untuk ditanam di halaman rumah Ibu Mimi.

“Ini pohon Kelor lagi popular di kalangan Ibu-Ibu karena ternyata banyak manfaatnya. Daunnya kalau dikonsumsi bagus untuk membantu menurunkan kolesterol, bikin jadi lebih sehat. Jadi sekarang lagi senang menanam ini” ujar Ibu Mimi sambil menyerahkan satu bibit pohon daun kelor yang masih dibungkus polybag untuk saya tanam.

Menanam Pohon Kelor di halaman rumah.


Berkunjung ke KBA Rawajati buat saya sangat menyenangkan karena bisa dapat banyak ilmu baru yang bisa saya sebarkan dan saya implementasikan di rumah sendiri. Semoga teman-teman yang membaca juga bisa dapat ilmunya ya.

Coba bayangkan jika semua rumah di Indonesia melakukan hal seperti yang dilakukan warga Rawajati pasti Indonesia asri sekali. Enak kan?


Hijau dan segar banget kan Rawajati ini? Demeeennn betah lama-lama di sini.


Kalian juga boleh lho mampir ke KBA Rawajati untuk melihat dan belajar bagaimana mereka melakukan “waste management”-nya langsung. Dengan senang hati, seluruh warga Rawajati akan membantu kamu.

Yuk sama-sama kita wujudkan Indonesia Zero Waste 2020! (pesan dari Bapak Presiden!)

Untuk cerita-cerita inspiratif dari Kampung Berseri ASTRA lainnya, kamu bisa baca di SATU INDONESIA yaa....

Cheers,





Follow Us @satyawinnie