Tuesday, February 27, 2018

# Nusa Tenggara Barat

Cerita Pemuda Sembalun, yang Bermimpi Lebih Tinggi dari Gunung Rinjani


Kopi hitam pekat masih mengepul panas dari gelas kaca tanpa gagang. Berbalut sarung Bima yang hangat, saya menyeruput kopi yang harus didiamkan beberapa saat setelah diaduk agar ampasnya luruh.

Di depan saya ada seorang Bapak merengkuh anak bayinya dekat ke dada agar tetap hangat. Tentu ia pun berbalut sarung seperti saya. Udara memang dingin tetapi sinar matahari pagi cukup cerah jadi artinya bagus untuk berjemur dan dapat vitamin D.



Pagi di pedesaan memang selalu menyenangkan. Saya menikmati sekali pagi di Sembalun, desa kecil di kaki Gunung Rinjani. Suasana pedesaan relatif sepi karena tak ada pengunjung atau pendaki. Rinjani sedang “beristhirahat” hingga bulan Maret nanti. Biasanya pendaki mulai ramai lagi di bulan April saat Taman Nasional Rinjani sudah dibuka. Ah, saya lupa bahwa bukan Taman Nasional lagi labelnya, tetapi Geopark. Namanya sekarang berganti menjadi Geopark Rinjani.



Saya sangat menyenangi suasana damai tanpa pendaki atau wisatawan di Sembalun. Memang katanya tak direkomendasikan untuk berkunjung ke Sembalun saat bulan November hingga Maret karena cuaca dipastikan tidak cerah, cenderung hujan dan berkabut setiap hari. Dan saya datang di bulan Februari. Hahahaha.

Namun pagi itu berbeda, Dewi Anjani (re : Gunung Rinjani) mood-nya sangat baik dan lagi bersolek cantik. Langit biru dengan gumpalan awan putih kecil menari-nari di atas kepalanya. Ia tampak memesona dari ujung kepala hingga kaki. Menggoda sekali.

Oh iya, tahukah kalian kenapa desa di kaki Rinjani itu dinamakan Sembalun?

Asalnya dari dua kata yakni ‘Sembah’ yang artinya taat / patuh ; dan ‘Ulun’ yang artinya di atas (bisa diartikan juga sebagai Yang di Atas, pemimpin, orang tua). Artinya, orang Sembahulun diwajibkan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta dan pemelihara nan agung, menghormati orang tua dan pemimpin. Keharmonisan itu masih dijaga hingga saat ini.

Mayoritas penduduk di Sembalun bermata pencaharian sebagai petani atau peternak. Pasar hanya dibuka dua kali satu minggu, Pasar Kemis (Kamis) dan Pasar Minggu. Hanya dalam dua hari itu saja masyarakat Sembalun berkumpul, menggelar lapak, berjual beli kelontong, bumbu masakan, daging, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.



Kalian harus tahu bahwa saya adalah penyuka sarung dan sarung dari Nusa Tenggara Barat adalah sarung favorit saya dan kerap saya sebut sebagai sarung ajaib, menghangatkan saat hari sedang dingin dan bikin adem saat hari sedang panas terik. Jadi saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan berbelanja sarung di pasar Sembalun. Hohohohoho…

Saat saya berbagi video belanja sarung di pasar di Instagram Story saya, langsung saja kotak pesan saya langsung dibanjiri permintaan “jastip” alias jasa titipan. Mereka ingin beli sarung seperti saya juga. Sayang saat mereka mengirim pesan itu, pasarnya sudah tutup karena pasarnya memang berlangsung beberapa jam saja di pagi hari. Duh maafkan ya teman-teman, nanti lain kali ya dibelikan sarungnya, atau beli langsung lah ke Sembalun. Asyik lho jalan-jalan ke sana. Mungkin sekalian mendaki Gunung Rinjani?

Saya juga mendapat banyak pesan menyenangkan dari teman-teman yang mengikuti dan menonton Instagram stories saya. Katanya mereka terhibur dengan pemandangan cantik Sembalun dan segala pesona orang-orangnya. Ya saya sih terus-terusan saja upload semua update perjalanan saya karena sinyal di Sembalun itu 4G lho! Serius!

Pakai provider apa Sat bisa dapat 4G di desa kecil terpencil begitu?

Pakai XL Axiata. Eheeehe… Dijamin sinyal selama di Sembalun 4G terus, ON terus. Saya sendiri juga terkesima sih karena biasanya kalau di desa-desa gitu kan sinyalnya paling ya 3G. Jadi pas di Sembalun dapat 4G signal, seneng banget lah upload  dan update terus-terusan. Video call sama orang rumah yang tersayang juga lancar karena sinyal 4G nya stabil banget. Bahkan Mama saya sampai berujar “Bah, di kampung-kampung pun kau tetap bisa lancar video call ya” dengan logat Bataknya yang kental. Hahahaha.

XL Axiata masuk ke Sembalun pertama kali tahun 2012. Sebelumya, tak ada sinyal sama sekali yang menjangkau desa ini. Memang XL Axiata sedang berekspansi besar-besaran ke pelosok negeri. Sekarang jaringan 4G LTE nya sudah menjangkau 360 kota / kabupaten di seluruh Indonesia. Bayangkan, total BTS nya saja sekarang ada 101.094 dan akan terus bertambah. Asyik banget kan ya kalau memang nantinya makin banyak desa-desa yang terbantu komunikasinya jadi lebih baik dengan sinyal XL.

Nah, ada satu cerita yang ingin saya bagikan ke kalian dari Sembalun kemarin.

Dalam perjalanan saya ke Desa Sembalun, saya bertemu dengan beberapa pemuda yaitu Anto, Ungga, Tiger, Abeng, Jo. Sehari-harinya mereka berkebun, berladang dan juga menjadi porter pendakian Gunung Rinjani. Mereka sedang libur karena kegiatan pendakian sedang sepi.



Hampir semua anak laki-laki di Sembalun, sudah terbiasa mendaki gunung, lewati lembah setiap harinya. Sudah terbiasa membantu orang tua sedari kecil, mengolah ladang mereka yang ada di balik bukit-bukit menjulang. Menjadi porter pun kadang mereka lakoni untuk membantu perekonomian keluarga. Naik gunung dengan bapaknya, bersama-sama menjadi porter. Jadilah seluruh pemuda yang tidak merantau ke luar dari Desa Sembalun, berprofesi seperti orang tuanya terdahulu, petani, peternak, porter. Sedangkan yang merantau ke luar desa dan mengenyam pendidikan di bangku universitas memiliki kesempatan lebih besar untuk memiliki profesi lain, entah itu guru, pengusaha atau profesi-profesi lainnya.

Kadang, saya merasa ada saja anak muda di desa yang tak pernah bermimpi. Mungkin karena sudah terbiasa dengan apa yang mereka punya, nyaman dengan tempat di mana mereka tinggal, merasa cukup untuk segala yang ada di sekitar mereka. Dan tentu saja itu tidak salah. Sama sekali tidak.

Tetapi ketika saya mendengar cerita teman-teman saya dari Sembalun, saya terkesima, saya kagum dengan semangat tinggi mereka, yang berani bermimpi. Bermimpi tinggi, lebih tinggi dari Gunung Rinjani. Salah satunya adalah Ungga, pemuda asli Sembalun yang berusia 20 tahun. Ini ceritanya.

Sejak mereka mengenal internet, mereka senang betul menggunakan social media. Lingkaran pertemanan mereka yang tadinya hanya teman-teman di desanya atau desa sebelah saja, semakin meluas dengan perkenalan via Facebook, Instagram, Twitter dan lain-lain. Tapi anak-anak muda ini lebih suka menonton Youtube. Mereka menonton banyak tayangan seru yang tidak disiarkan di televisi rumah.

“Paling suka dulu aku nonton video orang-orang bisa terbang tu Mba Satya” ujar Ungga dengan logat Bahasa Sasaknya yang kental.

“Dulu ada yang terbang pakai parasut dari puncak Bukit Pergasingan tu. Orang Australia. Mendarat dia di lapangan dekat masjid tu. Kami tanya-tanya lah orang itu dan katanya nama olahraganya paralayang. Wiiii langsung aku pengen kayak dia” lanjut Ungga lagi.



Ungga yang waktu itu masih di bangku SMA penasaran betul dengan paralayang ini sampai kerjaannya hanya menonton video-video terbang paralayang di Youtube. Karena sinyal 4G, ya hampir setiap saat Ungga mantengin layar ponselnya, bahkan saat sedang beristhirahat kerja di ladang.

Sampai akhirnya Ungga bertekad manta pia ingin jadi penerbang paralayang satu hari nanti. Ia ingin terbang solo dan berharap suatu waktu kelak ada orang yang akan mengajarinya terbang. Sekolah paralayang memang tidak murah jadi Ungga berharap ada keajaiban dari langit.

Keajaiban itu pun menghampirinya ketika ada seorang pilot paralayang dari luar Lombok yang menawarkan anak-anak muda Sembalun untuk belajar paralayang. Waaaah, pucuk di cinta, ulam pun tiba. Ternyata cantiknya Bukit Pergasingan di Sembalun sudah menyebar di social media dan banyak sekali pilot paralayang yang tertarik untuk terbang di sana karena view-nya memang spektakuler. Salah satunya adalah pilot yang akhirnya bertekad ingin mengenalkan dan melatih anak-anak asli Sembalun untuk terbang.

Anak-anak muda yang saya sebut di atas tadi, Ungga, Anto, Tiger, Jo, semuanya antusias sekali untuk berlatih. Keberuntungan lagi menyapa mereka ketika salah seorang pilot paralayang dari Taiwan melihat bakat dan kegigihan mereka, memberikan satu set parasut dan perlengkapan terbang untuk mereka gunakan. Satu set parasut dan perlengkapan itu harganya berkisar 30 juta – 70 juta rupiah. Mereka bagai kedapatan durian runtuh ya.



Semangat mereka semakin menggebu untuk berlatih terbang dan belajar banyak juga dari Youtube setiap harinya. Mereka belajar mengenali zona terbang, tipe angin dan manuver saat terbang dari video-video yang mereka tonton.

Dan kini mereka sudah menjadi penerbang paralayang berlisensi dan juga atlit paralayang provinsi Nusa Tenggara Barat. Harapan mereka ingin menjadi pilot tandem paralayang dan nantinya mengembangkan wisata dirgantara di Sembalun, kini tampaknya bukan khayalan belaka. Sebentar lagi, Sembalun pasti makin ramai dengan permintaan wisatawan yang ingin mencoba rasanya duduk terbang melayang-layang di udara.

Saya senang sekali mendengarkan cerita itu langsung dari mereka. Pun mereka bilang andai sampai saat ini belum ada sinyal internet yang menjangkau Desa Sembalun, mungkin mereka tidak akan pernah mengenal paralayang atau pilot di luar Lombok tahu tentang cantiknya Pergasingan dan potensinya untuk menjadi take off area paralayang.






Semua orang, kita, pasti ingin jadi lebih baik hari ke hari, sama seperti XL Axiata yang berkomitmen untuk dengan berusaha mengembangkan jaringan data berkualitas ke seluruh penjuru tanah air. XL Axiata ingin mendorong masyarakat Indonesia untuk menjadi lebih baik untuk dirinya sendiri dan keluarga, juga masyarakat dan komunitas sekitar dalam segala aspek kehidupan.

Kalau kamu? Apa definisi #JadiLebihBaik versimu sendiri?



Cheers,





8 comments:

  1. Terlepas dari memang indahnya Rinjani, setahuku kalaua da teman dari sekitaran NTB pasti pakainya kartu XL ahahahhahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha bener banget Nasiii! Soalnya XL memang provider pertama yang masuk ke NTB. Jadi hampir semuanya pakai XL... Hahahaha...

      Delete
  2. Ya Ampun kak.. itu mimpi terbang mereka benar-benar jadi kenyataan yaa..
    terharu banget bacanyaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa Kak Endah... Aku senang sekali karena mereka sekarang menghidupi mimpi mereka. Aku sih berharap mereka bisa lebih giat berlatih dan ikut kejuaraan dunia. Sejauh ini mereka masih ikut kejuaraan nasional aja...

      Delete
  3. Kereeeeeen mbak winnie....O, ya kalo di tempat saya (Kalimantan Selatan) Ulun itu artinya saya heheee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Kak Anton, terima kasih sudah mampir ya.... Ah di Kalsel artinya saya ya? Hahahaha... Bahasa lokal kita memang kadang ajaib, satu kata tapi bisa berbeda makna di daerah yang berbeda pula hahahaha...

      Delete
  4. Makasih tulisannya Kak, makin nambah daftar liburan dalam negeri nih

    ReplyDelete
  5. selalu senang kalau membaca tulisan mba satya, selain gambar nya bagus bagus, bahasanya indah namun ringan, tapi juga cerita yg disampaikan selalu menginspirasi.
    bts kalau ada yang cari info soal wisata murah di jawa timur dan tips2nya bisa buka blog saya, trimakasih :)

    ReplyDelete

Apa yang terpikir di benakmu setelah membaca tulisan ini? Share dong :)

Follow Us @satyawinnie