Kapal kecil berpenumpang lima belas orang melaju dengan sangat cepat membelah laut tenang tak berombak. Panas matahari membakar kulit kami yang duduk di bagian belakang kapal. Setelah mengoleskan tabir surya, menutup wajah dan badan dengan kain, kami tertidur berjam-jam sepanjang perjalanan.

Betapa beruntungnya kami karena cuaca sangat cerah waktu itu. Perjalanan dari Waigeo ke Wayag memakan waktu tiga jam saat laut teduh dan bisa lebih lama jika ombak besar. Butuh ratusan liter bahan bakar untuk kapal agar cukup untuk pergi dan pulang. Terjawablah pertanyaan mengapa harga untuk mengunjungi Wayag begitu mahal bukan?

Kapal yang mengantarkan kami ke Wayag
Tidak lengkap katanya berlibur ke Raja Ampat jika  tidak menjejak di Wayag atau Piaynemo, untuk melihat gugusan karst hijau yang menjulang gagah di atas lautan biru. Ah, itu sebenarnya kurang pas. Memang benar bahwa daya tarik terbesar Raja Ampat adalah Wayag dan Piaynemo namun tak berarti tidak ada hal menarik lainnya. Ada banyak pulau-pulau lain yang bisa memberikan kesan menyenangkan. Seperti saat saya tinggal dua minggu di Pulau Arborek.

Sebelum tiba di Wayag, semua kapal diwajibkan sandar dan melapor ke Kampung Serpele untuk membayar retribusi sebesar Rp 1.000.000,- per rombongan. Kedatangan wisatawan ke Wayag adalah angin segar bagi penduduk Serpele, kampung kecil yang jauh terisolir dari pusat kota Waisai. Tak ada sinyal, listrik dan bahan bakar pun terbatas di sana. Uang retribusi tadi dikelola oleh pengurus kampung untuk kesejahteraan masyarakat Serpele. Semoga ini memang benar adanya ya.

Ketika Bang Ifan pergi menghadap ke Kepala Kampung, kami berinteraksi dengan anak-anak di Serpele. Mereka begitu antusias dengan wisatawan yang datang dan tak malu-malu minta difoto. Pagi itu seharusnya mereka sekolah, namun lagi-lagi guru mereka sedang pergi ke pulau lain sehingga mereka diliburkan. Mereka sebenarnya senang dan tak mau ambil pusing, tinggal pergi saja ke jetty dan memancing ikan-ikan yang bisa diberikan kepada Mama untuk dimasak.

Memancing hanya memakai bilah bambu sederhana saja.
Salah seorang anak yang menarik perhatian saya adalah Siena yang saat saya tanya siapa namanya, bercanda dengan memperkenalkan diri sebagai singa. Rambutnya yang jigrak berwarna pirang dan coklat memang membuatnya terlihat seperti singa kecil yang menggemaskan. Sudah ada empat ikan kecil yang dia tangkap pagi itu. Sayang tak ada banyak waktu untuk bercengkerama dengan anak-anak ini karena speed boat kami akan berangkat ke Wayag. Walau begitu, melihat senyum mereka saja sudah membuat perasaan saya senang.

Siena the little lion!



Tangan mungil anak-anak Serpele melambai-melambai hingga kapal kami menghilang di kejauhan. Satu bapak dari Serpele naik ke atas speed kami. Memang sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa setiap trip ke Wayag harus membawa satu orang lokal agar jika terjadi sesuatu dengan rombongan kapal, masyarakat Serpele akan segera tahu dan mengirimkan bala bantuan.

Cuaca kepulauan yang bisa berubah ekstrim, berangin dan berombak besar kapan saja bisa membahayakan kapal dan penumpangnya. Tanpa adanya orang Serpele, tentu akan sangat sulit mengetahui jika kapal bermasalah apalagi di sana tak ada sinyal. Pun orang Serpele lebih jago untuk mencari tempat berlindung jika memang kapal akan berhadapan dengan badai.

Tak lama setelah kami bertolak dari Serpele, gugusan bukit-bukit karst sudah terlihat, kapal kami merapat di salah satu bukitnya dan ABK bersiap mengikatkan tali kapal ke batu karst.

“Naiknya hati-hati ya, bawa barang seperlunya saja, air minum akan dibawakan nanti” ujar Bang Ifan.

Saya sedikit melongo begitu tahu tak ada pantai untuk kapal menepi dan kami bisa naik ke atas bukit. Nyatanya, kita harus meloncat dari kapal langsung ke dinding karst yang cukup tajam. Berhati-hatilah saat melangkah agar tidak tergelincir ya.

Gambaran jalur menuju puncak Wayag 1. Sama saja konturnya dengan jalur puncak Wayag 2
Meski pijakan hingga ke puncak adalah batuan karst yang cukup tajam, awak kapal yang membawakan minuman untuk rombongan kami berjalan santai saja tanpa alas kaki. Seperti kambing gunung, si bapak begitu lincah bergerak ke atas sambil membawa kantong kresek hitam yang besar.

“Bapa tra sakit kah itu kaki tra pake sandal e?” tanya saya.

“Su biasa begini Nona” jawab si Bapak sambil terkekeh.

Padahal selain batu karst yang cukup tajam, matahari yang mulai meninggi membuat jalur semakin berat karena panas menyengat dan si Bapak tetap santai. Luar biasa kan ya?

Puncak 2 Wayag adalah tujuan pertama kami. Bang Ifan bilang lebih baik ke puncak 2 dulu baru ke puncak 1. Jalur ke Puncak Wayag 1 lebih rimbun jadi tidak apa jika mendakinya saat tengah hari, jalurnya didominasi pepohonan sehingga tidak akan terlalu capek meski puncak 1 lebih tinggi.

Trekking ke puncak 2 Wayag makan waktu sekitar 15-30 menit tergantung kemampuan masing-masing orang. Sedangkan ke puncak 1 Wayag butuh waktu 30-45 menit. Kalau ditanya paling suka pemandangan puncak yang mana, hmmm…. semuanya bagus jadi saya tidak bisa memilih. Cobalah lihat foto-foto di Wayag ini dan beritahu saya pemandangan puncak mana yang paling kalian suka ya.

Bisa sampai ke sini berdua kesayangan itu bahagianya tak terkatakan!

View dari Puncak 1 Wayag.


Si cantik kesayanganku Devanosa (IG @devanosa) Idola jutaan lelaki soleh...
Di kawasan Puncak Wayag 1, terbentang pantai pasir putih yang asyik dipakai untuk berenang santai. Siapa yang tahan untuk tidak menceburkan diri jika ada pemandangan air laut biru jernih di depan mata?


The crystal clear water!

View dari Puncak 1 Wayag!
Sayangnya waktu itu saya tidak berenang karena menjadi orang terakhir yang turun dari Puncak Wayag 1 dan kami harus segera bertolak ke pusat konservasi Wayag untuk makan siang dan laporan kepada petugas di sana. Biasanya di pusat konservasi ini, seluruh wisatawan harus menunjukkan Raja Ampat Tourist ID yang harganya Rp 500.000,- untuk wisatawan lokal dan Rp 1.000.000,- untuk wisatawan mancanegara.


Jetty Pusat Konservasi Wayag, tempat kita bisa berenang bersama hiu!


Makan Siang Bersama Hiu


Di pusat konservasi Wayag, kita bisa melihat banyak black tip sharks dan white tip sharks yang menggemaskan. Ada banyak bayi hiu juga lho! Menyenangkan sekali bisa menikmati makan siang sambil melihat hiu lalu lalang di sektar dermaga. Siapa bilang hiu itu menyeramkan dan selalu menggigit manusia? Ah, jangan termakan film-film. Selama kita tidak terluka dan berdarah, hiu tidak akan suka dekat-dekat dengan manusia.

Ooooo cute baby shark!
Siang itu makin semarak karena alunan musik Maumere “ge mu fa mi re” mengalun dari pengeras suara yang ada di pusat konservasi. Saya, Deva dan Tante berjoget mengikuti nada gembira hingga Bang Ifan mengisyaratkan bahwa kami harus segera pulang ke Hamueco  Dive Resort, tempat kami menginap. Ah, cepat sekali waktu berlalu.

Kapal kami berhenti di Serpele dan kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak pemandu dan kembali menempuh tiga jam perjalanan pulang. Cuaca baik sejak berangkat hingga pulang membuat senyum mengembang di wajah kami semua. Deva begitu senang dengan cuaca waktu itu karena sebelumnya dia mengalami cuaca buruk saat menuju Wayag.

Tim Hore Wayag! Terima kasih guide hore kami Bang Ifan! Thanks HamueEco!
Menjejak di Raja Ampat adalah satu impian saya sejak lama. Bersyukur bahwa saya mendapat berkat semesta lewat HamuEco Dive Resort yang menyiapkan trip yang sangat menyenangkan. Boleh lho intip Hamueco di Instagram, website nya atau langsung email ke info.hamueco@gmail.com.


Catatan Kecil :

  • Untuk biaya trip ke Wayag ini sekitar Rp 2.500.000,- per orang namun tergantung jumlah orang. Jika sedikit, maka biayanya akan lebih mahal. Cara terbaik untuk menghemat adalah mencari tahu open trip ke Wayag. Bisa kontak HamueEco Dive Resort untuk tahu jadwal trip mereka ke Wayag ya. Tidak ada yang lebih murah dari harga ini karena memang jumlah bbm yang dibutuhkan ke Wayag itu banyak sekali.
  • Musim terbaik untuk mengunjungi Wayag adalah Maret - Mei dan September - November. Meski cuaca kini sulit diprediksi namun biasanya cuaca baik pada bulan-bulan tersebut. Kemarin kami pergi di bulan Januari dan beruntung sekali hari super cerah!
  • Untuk mendaki ke Wayag, pakailah alas kaki yang aman dan nyaman seperti sepatu atau sendal gunung. Pakai sendal jepit agak sedikit berisiko jika terpeleset.
  • Meski sudah dibawakan air minum oleh TL, tetap saja saya terbiasa untuk membawa tas kecil berisi botol air minum, ditambah kamera dan sunblock.
  • Memakai topi dan sunglasses sangat disarankan agar kepala tidak pusing karena tersengat panas matahari dan mata tidak silau.
  • Jangan lupa ambil foto dan video sebanyak-banyaknya untuk kenang-kenangan ya ;)




Angin laut meniup kain yang menutupi badan. Saya terbangun karena kedinginan dan dalam kondisi setengah mengantuk, memandang bulan yang sudah berpindah dari kiri ke kanan. Pasti sudah lewat tengah malam sekarang, pikir saya. Disinari cahaya bulan purnama, saya tidur lelap di tepi pantai, di atas para-para bambu, beratapkan langit. Tidak hanya saya sendiri yang tidur di tepi pantai, tetapi warga lain juga. Tidur di pantai saat bulan purnama sepertinya sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan bagi mereka.

Dua minggu saya dan Janatan menetap di Pulau Arborek, pulau kecil di gugusan Raja Ampat. Dalam waktu yang singkat itu, saya mencoba berbaur dengan kehidupan masyarakat lokal. Bersyukurlah kami mendapatkan tumpangan di rumah Bang Marsel Mambrasar dan Kak Githa Mambrasar, sepasang suami istri yang sama-sama dive master dan punya usaha Arborek Dive Shop. Berawal dari kegiatan volunteer yang dilakukan pada tahun 2012, Kak Githa akhirnya menetapkan hati selamanya di Arborek. Manis sekali.

Kak Githa, saya dan Janatan setelah dive di Sawondarek
Arborek ini kecil sekali sehingga dalam waktu 30 menit saja, kita sudah mengelilinginya dengan berjalan kaki. Benar-benar dengan kaki tanpa alas. Memakai sandal justru terasa sedikit aneh karena hampir semua warga lokal berjalan tanpa sandal, apalagi sepatu. Paling ketika ibadah minggu di gereja atau ada perayaan pesta baru mereka mengenakannya. Rasanya menyenangkan bertelanjang kaki dan berjalan di pasir lembut kecuali saat panas terik baru pakai sandal.


Satu-satunya gereja di Arborek dan semua warganya beragama Kristen

Hidup dengan Keterbatasan Air, Listrik dan Sinyal


Tak ada sumber air bersih sehingga warga Arborek sangat menggantungkan hidupnya pada air hujan. Di tiap-tiap rumah pasti ada tampungan air dengan tendon besar yang mengalirkan air hujan dari atap rumah. Sebenarnya dulu ada sumur air bersih yang dimanfaatkan bersama oleh warga Arborek namun gempa bumi yang terjadi beberapa tahun silam (mungkin) mengakibatkan pergeseran di bawah tanah sehingga tidak ada lagi air bersih di sumur itu.

Akhirnya untuk air minum, semua harus membeli air galon ke Waisai dan untuk mandi serta mencuci menggunakan air hujan. Saya menghitung benar bahwa setiap hari saya hanya mandi satu kali saja dengan air 10 gayung. Itu pun mandi kalau memang habis berenang ke laut. Jika hari itu tidak berenang ke laut, ya tidak mandi. Harus tahu diri, harus hemat air. Hehehehe…

Pun listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga sekitar jam 2 pagi. Tak mengapa karena semua orang saat pagi hingga siang hari sibuk beraktivitas. Jarang sekali saya melihat ada TV di Arborek. paling banyak radio atau speaker karena semua senang mendengarkan musik. Setelah ada ponsel, warga juga senang menyetel lagu yang seringnya lagu rohani. Oh ya, sinyal di Arborek hanya Telkomsel dan itu pun 'edge' tapi tetap bisa mengakses internet walau sedikit lambat. Jauh lebih baik dibandingkan tidak ada sinyal sama sekali.

Jetty Arborek yang Mendunia


Hampir semua orang yang pernah mengunjungi Arborek, pasti akan terkagum dengan pesona bawah laut yang ada di jetty (dermaga) Arborek. Schooling fish yang berjumlah ribuan membuat kita serasa masuk ke dunia fantasi. Namun perlu kita perhatikan agar saat snorkeling di jetty tidak membuat keributan dengan mengepak-ngepakkan fin (kaki katak) terlalu keras atau melompat dari jetty. Tujuannya agar ikan-ikan tidak kaget dengan banyaknya manusia dan tidak terganggu karena tidak ada orang-orang yang melompat heboh ke dalam air. Kalau foto paling atas itu anak-anak meloncat di jetty satu lagi yang tidak banyak ikan, jadi mereka senang meloncat dari jetty itu.

Thousand schooling fish under Arborek Jetty

Bapak Melaut, Ibu Merajut


Hidup di pulau tentu saja menempa para lelaki untuk menjadi pelaut ulung. Setiap hari para pria di Arborek pergi ke laut untuk menangkap ikan. Mereka kembali saat pagi atau sore hari dengan ikan tangkapan yang cukup banyak. Sebagian dikonsumsi sendiri dan lainnya dijual. Jangan heran jika mereka membawa tangkapan ikan – ikan besar semacam tenggiri dan bubara dengan panjang lebih dari satu meter. Jika musim ombak datang, pasokan ikan akan sangat sedikit bahkan tidak ada dan membuat masyarakat hanya bisa bertahan makan dengan nasi, sayur, telor atau daging ayam yang harus mereka beli di Pasar Waisai. 

Ketika para pria pergi melaut, para wanita melakukan pekerjaan rumah pada umumnya. Jika sudah selesai mengurus rumah, mereka akan berkumpul di bawah pohon besar dan mulai merajut noken, tas khas Papua. Namun, noken di Arborek sedikit berbeda dengan noken Papua yang berbentuk jarring-jaring. Daun Pohon Baru adalah bahan utama noken Arborek. Daunnya mirip daun pandan yang dikeringkan lalu dicelup ke pewarna sintetik. Setelah warna kering sempurna, barulah dianyam menjadi noken.





Selain noken, Mama-mama di Arborek juga ahli membuat  ‘topi pari' atau 'kayafyof', topi yang juga dianyam dari daun, lebar dan ada ekor seperti ikan pari. Sayangnya kemarin Mama-mama se-Arborek sedang sibuk menyelesaikan pesanan ratusan buah noken dari Waisai sehingga tidak ada yang membuat topi pari. Biasanya noken yang dbuat Mama dihargai mulai dari Rp 200.000,-.


Keceriaan Anak-Anak yang Tak Terbatas


Dari matahari terbit hingga terbenam, anak-anak Arborek pasti tak lepas dari air garam. Ya air garam adalah sebutan mereka untuk air laut. Sejak pagi sebelum berangkat ke sekolah, biasanya mereka akan berenang di sekitar jetty dan sepulang sekolah, kembali bermain lagi. Memang betul mereka anak-anak laut, masih bayi-bayi saja sudah sangat pandai berenang. 





Anak-anak yang tinggal di Arborek rata-rata masih balita dan usia SD. Anak remaja SMP dan SMA biasanya bersekolah di Waisai dan Sorong dan pulang saat liburan saja. Hanya ada satu sekolah dasar dengan dua orang guru saja. Acap kali saya menjumpai anak-anak Arborek sudah pulang sekolah pukul 9 pagi yang ternyata disebabkan guru mereka yang harus pergi ke pulau lain. Anak-anak itu sih senang saja bisa pulang cepat namun di sisi lain saya sedih karena mereka seharusnya bisa belajar jika ada guru lain di sekolah.

Permainan yang paling disenangi anak-anak Arborek adalah bermain kole-kole (sampan kecil yang terbuat dari kayu) dan main benteng. Ingatkah kalian dengan permainan benteng yang sewaktu kecil sering kita mainkan? Beberapa kali saya ikut main benten dengan mereka. Kalau untuk main kole-kole, saya tidak bisa karena bokong saya terlalu besar untuk muat ke dalamnya. Hahahaha…



Ada satu anak yang sangat menarik perhatian saya di sana. Darius namanya. Anak lelaki kelas 5 SD yang sedikit pemalu namun bersuara merdu. Jika Bang Teis sudah pergi ke tepi pantai dan mulai memetik gitar, Darius pasti ada di sana untuk turut bernyanyi. Tentu tidak mau saya sia-siakan kesempatan itu untuk merekam suaranya. Mereka menyanyikan lagu-lagu daerah bernada riang yang meski saya tidak mengerti artinya, tetap membuat saya ingin ikut berdendang.

Selain Darius masih ada Ines, Ledy, Elsa, Margret, Maryam, Jeni yang mewarnai hidup saya selama di Arborek kemarin. Mereka semua anak-anak pintar dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka tidak akan berhenti bertanya tentang apa pun kepada setiap orang yang datang ke Arborek.

Darius itu anak laki-laki pakai topi di belakang. Untuk melihat ke kamera saja dia malu xD



Masker wajah mulus yang murah meriah, pasir pantai!
Mereka juga pandai menari lho! Jika ada festival-festival kecil, anak-anak ini siap menampilkan atraksi terbaik. Jika teman-teman datang bersama grup boleh lho patungan bersama teman-teman untuk melihat atraksi mereka. Tentu saja harus reservasi dulu via tour operator kalian di Raja Ampat agar bisa diberitahu kepada masyarakat di Arborek dan bersiap. Sayang kemarin saya tak sempat menyaksikan tarian di Arborek tapi setidaknya bisa ikut dalam keriaan tahun baru yang unik


Tak Bosan Menikmati Matahari Terbit dan Terbenam!


Sebagai pencinta senja, saya sangat betah tinggal di Arborek. Setiap hari, saya dimanjakan dengan rona langit jingga kemerah-merahan. Tinggal pergi ke ujung barat pulau dan kita bisa menikmati senja.



Pemandangan matahari terbitnya pun tidak kalah cantik. Sehabis tidur semalaman di para-para tepi pantai, saya tinggal berjalan sebentar saja ke ujung timur pulau dan duduk menanti matahari bangun dari peraduannya.


Cermin cantik Arborek ; Bersih dan Rapi!


Arborek memang ditata untuk menjadi kampung wisata. Kesan yang saya dapatkan saat pertama kali menjejak di pulau ini adalah bersih. Hari Selasa dan Kamis adalah hari khusus di Arborek untuk membersihkan seluruh pulau. Dengan memakai ‘garu-garu’, semua bergotong royong membersihkan halaman rumah mereka hingga pantai. Tempat sampah besar tersedia di beberapa titik. Jadi mari sama-sama menjaga kebersihan saat datang ke Arborek ya (sebenarnya di mana saja).


Beberapa waktu lalu, Kak Githa pernah menuliskan keluh kesahnya di facebook tentang perilaku wisatawan yang datang ke jetty Arborek meninggalkan sampah sehingga Mama-mama di sana harus membersihkannya. Untuk masuk ke Arborek, tidak dikenakan biaya lagi karena sudah termasuk ke biaya konservasi Rp 500.000,- untuk wisatawan lokal dan Rp 1.000.000,- untuk wisatawan asing. Namun meski sudah membayar biaya konservasi, bukan berarti kita boleh semena-mena buang sampah karena berpikir nanti pasti ada yang membersihkan, kan sudah bayar. Itu pemikiran yang sangat-sangat salah. Kebersihan itu dimulai dari diri kita sendiri bukan?


Di peta, pulau Arborek bahkan lebih kecil dari sebuah titik di atas kertas, namun selayaknya kita bercermin pada pulau kecil itu. Di mana masyarakat hidup selaras dengan alam. Mereka menjaga kebersihan pulau dengan kesadaran penuh bahwa nantinya pariwisata di daerah mereka akan turut berkembang jika alam terus terjaga.

Jika nanti kalian berkunjung ke Arborek, jangan hanya menikmati pemandangan alam bawah lautnya ya. Cobalah berjalan keliling kampung, berkenalan dengan masyarakat dan berbaur meski hanya sebentar. Ada banyak hal yang akan mencuri hati kalian, sama seperti Arborek sudah mencuri hati saya. Saya berjanji akan kembali lagi...

Mama Ines dan Niko kesayangan Tata Satya.
Keluarga kesayangan di Arborek yang mencuri hati. Kami pasti kembali lagi!


Catatan Kecil :



  • Untuk menuju Pulau Arborek, bisa terbang ke Sorong dengan harga tiket pesawat satu kali jalan berkisar Rp 1.500.000,- - Rp 3.000.000,- Atau naik kapal PELNI Surabaya - Sorong Rp 650.000,-
  • Dari Sorong, kita bisa menuju Waisai dengan kapal cepat dengan harga Rp 130.000 (kelas ekonomi) dan Rp 220.000 (kelas VIP). Keberangkatan kapal ini terjadwal setiap hari pukul 09.00 dan 14.00 WIT untuk hari Senin – Jumat dan keberangkatan 11.00 dan 14.00 WIT untuk hari Sabtu Minggu
  • Dari Waisai, bisa naik kapal ke Arborek dengan kapal Kak Githa (boleh kontak Kak Githa di nomor +62 813-4095-3246) dengan harga sekali jalan Rp 800.000,- (kapasitas 12 orang maksimal). 
  • Harga homestay di Arborek sama rata, Rp 350.000,- per hari per orang sudah termasuk tiga kali makan.
  • Untuk sewa peralatan snorkeling bisa di Arborek Dive Shop milik Kak Githa dengan harga sewa Rp 100.000,- per hari. Untuk diving paketnya sekitar Rp 600.000 per dive...




Suara gaduh porter pelabuhan yang menawarkan jasa menyadarkan saya bahwa kami memang sudah tiba di Sorong. Waktu itu kira-kira pukul sebelas, bertepatan dengan pengumuman bahwa penumpang sudah boleh mengantri mengambil jatah makan siang yang biasanya hanya nasi, ikan kuah kuning sebesar jempol dan sayur kol.

“Sebelum turun, ambil makan siang saja dulu”, ujar Bang Franky, penumpang KM Dobonsolo dengan tujuan Jayapura. Itu artinya dia masih harus berlayar 3 hari lagi untuk sampai di tujuannya.

“Ah Abang, ini kami sudah sampai tujuan, mana mungkin dapat jatah makan lagi” ujar saya.

“Eeee tak apa. Sini sa yang ambil” ujarnya seraya meminta tiket kapal saya dan Janatan. Segera dia berlalu ke pantry untuk mengantri.

Kapal memang sudah sandar sejak setengah jam yang lalu, namun kami berdua agak enggan beranjak. Selama lima hari di kapal PELNI, kami sudah terbiasa di lautan dan kini harus kembali menjejak daratan. Tak apalah, toh kapal sandar 4 jam di Sorong, masih ada waktu untuk bersantai.

Tak berapa lama, Bang Franky kembali.

“Iyo, su tra bisa dapat makan. Pelit sekali orang kapal ini” ujarnya sambil tertawa dan mengembalikan tiket kami berdua. Betul kan apa yang saya bilang, pasti sudah tidak dapat jatah makan karena sudah tiba di tempat tujuan.

Hingga akhirnya satu jam setelah kapal sandar, kami berdua baru beranjak keluar.

Pelabuhan masih riuh dengan porter dan penumpang KM Dobonsolo yang lalu lalang. Perut mulai memberikan isyarat butuh diberi asupan. Saya dan Janatan pergi ke warung nasi di seberang pelabuhan.

“Ma, nasi ikan berapa?” tanya saya.

“Nasi deng ikang tiga puluh ribu”, jawabnya sambil mengipasi ikan yang sedang dibakar.

Lumayan mahal juga ya nasi dan ikan satu porsi tiga puluh ribu. Kalau makan berdua enam puluh ribu. Akhirnya saya dan Janatan memutuskan membeli satu bungkus saja untuk dimakan berdua. Dengan muka memelas sedikit, kami meminta tambah nasi dan syukurlah si Mama baik dan menyendokkan nasi lebih ke bungkus nasi kami.

“Ade ini mo pigi mana?” tanya Mama.

“Katong ada mo pigi ke Waisai terus ke Arborek Ma” jawab saya.

“Berarti naik kapal cepat dari pelabuhan rakyat ya. Pergi cepat, jangan sampai tidak dapat tiket. Naik ojek saja dari sini, bayar dua puluh ribu” lanjut Mama.

Ternyata pelabuhan untuk naik kapal ke Waisai atau yang dikenal dengan nama pelabuhan rakyat masih jauh dari pelabuhan Sorong. Takut kehabisan tiket kapal cepat, kami mengikuti saran Mama untuk naik ojek ke pelabuhan rakyat.

Setibanya di sana tiket kapal cepat masih tersedia banyak. Syukurlah. Saya mengabari Kak Githa Arborek bahwa kami sudah di pelabuhan rakyat untuk menunggu keberangkatan kapal. Kak Githa membalas pesan singkat saya dan mengatakan dia akan menunggu di pasar Waisai. Bersamanya lah saya akan tinggal untuk beberapa waktu di Arborek, Raja Ampat.


Bungkusan nasi kami buka dan makan dengan lahap di ruang tunggu pelabuhan. Lucunya kami hampir tertinggal kapal cepat karena Janatan keasyikan bermain dengan anak-anak di lapangan belakang pelabuhan dan ada seorang bapak yang menyentak kami dengan suara keras untuk segera naik ke kapal. Kami berdua pun berlari tergopoh-gopoh dengan carrier masing-masing, berusaha secepat mungkin karena kapal cepat sudah membunyikan terompetnya beberapa kali. Ternyata kapal baru berangkat setengah jam setelah kami naik. Padahal masuk kapal sudah dengan peluh sebesar bulir-bulir jagung dan nafas satu dua. Hahahaha….

Petugas mengecek tiket penumpang hingga tiga kali. Entah untuk apa kami tidak mengerti. Yang pasti kami berdua tertidur pulas hingga kapal sandar di pelabuhan Waisai.

Awan hitam besar menggelayut di langit begitu kaki kami menapak Waisai. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya. Ternyata Kak Githa yang menanyakan posisi. Ia sedang berbelanja di pasar dan mengatakan suaminya, Marsel akan menjumpai kami di pasar. Kami menyetop dua ojek untuk mengantarkan kami ke pasar dan membayar Rp 20.000 per orang. Seorang laki-laki tegap dengan wajah ramah yang ternyata Bang Marsel.

“Githa ada pigi belanja, tunggu di sini dulu saja” ujar Bang Marsel.

Kami meletakkan carrier yang beratnya lumayan di para-para dekat muara. Saya membeli minuman dingin dan stok gula-gula (permen) untuk anak-anak di Arborek nanti. Semua anak pasti senang dengan gula-gula kan? Ah ya saya juga membeli ikan asap / ikan asar dengan harga Rp 15.000,- saja per ekornya. Waktu itu air liur saya menetes membayangkan menyantap ikan asar dengan sambal colo-colo. Mak!

Tak berapa lama, tampak seorang wanita yang tampilannya sama seperti foto-foto di akun media sosialnya. Tinggi, kulit sawo matang dan rambut kecokelatan. Pasti itu Kak Githa!

Pelukan hangat diberikannya saat kami akhirnya bertemu. Saling mengenal di media sosial selama bertahun-tahun namun baru kali itu kami bertatap muka. Kaka Githa sedang berbelanja kebutuhan pesta syukuran tahun baru jadi belanjaannya cukup banyak mulai dari makanan hingga perkakas dapur (untuk hadiah).

Setelah segala kebutuhan lengkap, kami menaiki kapal speed berkapasitas maksimal 15 orang kepunyaan Bang Marsel dan Kak Githa. Perjalanan dari Waisai ke Arborek memakan waktu sekitar 1,5-2 jam tergantung ombak. Saat laut teduh, bahkan bisa 1 jam saja kata Bang Marsel.

Hari semakin gelap, namun bukan berarti perjalanan menjadi membosankan. Buat saya malah semakin menyenangkan. Selama kapal melaju dalam gelap, buih-buih ombak dan plankton yang bersinar dalam laut berpercikan seperti kembang api. Betapa cantiknya! Andaikan bisa saya abadikan agar kalian melihatnya juga. Ah tak perlu lah ya. Kalian harus melihatnya dengan mata kepala sendiri nanti.

Kapal melambat pertanda kami sudah dekat dengan Arborek. Dengan bantuan headlamp kecil, kapal bisa mendarat tanpa menabrak terumbu karang. Bang Marsel sebagai juru kemudi tentu sudah hafal betul bagaimana memarkirkan kapalnya dengan aman.




Barang-barang mulai diturunkan. Belanjaan paling berat adalah galon-galon air mineral. Air mineral adalah komoditi penting di Arborek. Tak ada sumber air bersih sehingga seluruh penduduk harus membeli air dalam kemasan untuk minum dan masak.

Malam itu kami tidur dengan nyenyak di rumah Kak Githa dan Bang Marsel. Berkat kebaikan hati merekalah kami bisa berhemat di perjalanan Raja Ampat ini.

Keluarga baru di Arborek! Banyak kenangan di pulau ini yang pasti takkan terlupa!

Ah, masih banyak yang ingin saya ceritakan tentang Arborek. Tunggu post berikutnya ya!

Catatan Kecil :


Bagaimana cara hemat ke Raja Ampat? Ini sedikit tips dari saya...

  • Harga tiket PELNI KM Dobonsolo Surabaya – Sorong : Rp 650.000 per orang. Naik kapal memang makan waktu lama namun kami mencari jalan terhemat ke Raja Ampat, jadi ya naik kapal. Harga tiket pesawat Jakarta – Sorong berkisar 1,5 juta hingga 3 juta rupiah one way.
  • Dari Sorong, kita bisa menuju Waisai dengan kapal cepat dengan harga Rp 130.000 (kelas ekonomi) dan Rp 220.000 (kelas VIP). Keberangkatan kapal ini terjadwal setiap hari pukul 09.00 dan 14.00 WIT untuk hari Senin – Jumat dan keberangkatan 11.00 dan 14.00 WIT untuk hari Sabtu Minggu.
  • Naik ojek di Sorong dan Waisai sekitar Rp 20.000 per orang untuk jarak dekat. Untuk jarak jauh, silahkan dinegosiasi dengan abang ojeknya ya.
  • Harga makanan di Papua memang jauh lebih mahal dibandingkan Jawa. Jadi tanya dulu harga makanan di sana sebelum membelinya ya.
  • Harga homestay di Arborek rata-rata Rp 350.000,- per orang per hari sudah termasuk makan tiga kali sehari. Kami menghemat banyak karena mendapat tumpangan dari Kak Githa dan Bang Marsel. 
  • Memasak adalah jalan paling baik untuk menghemat. Bisa beli bahan makanan di Waisai dan memasak di rumah. Lagi-lagi terima kasih untuk Kak Githa. I love you!
  • Meski foto-foto di blogpost ini tak banyak nyambung dengan ceritanya tak apa ya? Yang penting beneran di Raja Ampat ;)


Saya kerap berandai-andai suatu waktu nanti bisa memiliki rumah di atas laut yang bisa melihat matahari terbit dan matahari terbenam sekaligus di beranda. Tahu-tahunya saya menemukan role-model rumah impian saya itu, namun berbentuk resort bernama HamuEco Dive Resort.

Bayangkan, betapa nikmatnya kita bisa menikmati hangatnya mentari di pipi saat membuka pintu setiap pagi lalu hangatnya senja sore hari di belakang rumah sambil menyesap kopi. Tapi tidak hanya itu kenikmatan yang saya rasakan saat menginap di sana.

HamuEco Dive Resort ini terletak di Pantai Saleo di Pulau Waigeo (Raja Ampat itu terdiri dari gugusan pulau dengan empat pulau terbesarnya adalah Waigeo, Salawati, Batanta dan Misool). Dari Sorong, kita bisa menuju Waisai dengan kapal cepat dengan harga Rp 130.000 (kelas ekonomi) dan Rp 220.000 (kelas VIP). Keberangkatan kapal ini terjadwal setiap hari pukul 09.00 dan 14.00 WIT untuk hari Senin – Jumat dan keberangkatan 11.00 dan 14.00 WIT untuk hari Sabtu Minggu. Kapal Bahari Express ini berangkat dari Pelabuhan Rakyat Sorong ya!

Setibanya di Waisai setelah 2 jam perjalanan laut, kalau kamu menginap di HamuEco, akan dijemput langsung oleh Bang Ifan, pemandu ciamik HamuEco yang super asyik. Tidak jauh memang jarak pelabuhan Waisai dengan HamuEco, hanya butuh berkendara 15 menit saja. Sayang tak ada kendaraan umum sehingga HamuEco menyiapkan pelayanan antar jemput tamu dari pelabuhan atau dari bandara Waisai. Asyik kan?

Jauh dari keramaian kota Waisai juga bikin HamuEco Dive Resort jadi tempat yang asyik untuk kamu yang pingin liburan tanpa terganggu bising suara kendaraan atau orang banyak. Setiap hari mulai dari pagi sampai malam yang terdengar hanya suara burung dan suara ombak dan ya suara tamu dan staff di Resort yang tak seberapa. HamuEco memang merancang penginapannya hanya terdiri dari enam kamar untuk menjaga eksklusifitasnya demi kepuasan tamu.

Enam kamar yang dibangun di atas laut ini dibuat dari kayu dan beratapkan ijuk, a real tropical hut. Desain ini memang paling pas agar udara di dalam kamar tetap sejuk meski matahari begitu menyengat di atas kepala. Pintu depan dan dan pintu ke balkon langsung menghadap ke laut juga memberikan rasa sejuk di mata. Tidak perlu Air Conditioner, tidur di HamuEco Dive Resort ini sejuk pagi dan malam karena angin sepoi dari laut. 





Setiap kamar di HamuEco Dive Resort bisa menampung hingga tiga orang (satu twin bed dan extra bed). Ada kelambu gantung untuk menghalau gigitan nyamuk, bantal empuk dan berwarna-warni dan juga selimut kain tenun etnik Indonesia (my favorite!). Handuk tebal juga sudah tersedia kok.


Listrik menyala dari pukul 6 petang hingga 12 malam. Nggak perlu listrik kan siang-siang? Kan mau santai dan eksplorasi ke pulau-pulau. Cukup listrik menyala saat malam untuk mengisi daya baterai hp dan camera. Sinyal yang paling kuat di Raja Ampat sejauh ini sih Telkomsel. Sinyal 4G nya beneran kencang lho!

Kamar mandi memang terpisah dari ruangan kamar namun jaraknya tidak jauh. Konsep eco-friendly membikin pemilik HamuEco memisahkan kamar mandi agar kotoran dan limbah tidak dibuang langsung ke laut. Dulu sempat saya menemui penginapan apung yang toiletnya langsung blong bolong ke laut. Saya bergidik membayangkan saya berenang di sekitaran penginapan itu dengan kotoran yang mengambang. Syukurlah di HamuEco Resort tidak begitu. Lautnya bersih jernih tanpa sampah dan dijamin selalu menggoda kita untuk segera menyeburkan diri.

Anyway, selama menginap di HamuEco Dive Resort ada banyak hal-hal seru yang saya dan Janatan lakukan. Apa saja? Ini dia!

·         Bersantai dengan Hammock di Balkon HamuEco


Jelas bahwa membaca buku sambil menikmati angin sepoi laut di atas hammock adalah kenikmatan hakiki. Saya betah berjam-jam bersantai tanpa diganggu siapa-siapa. Hammock ini tersedia di setiap balkon kamar kok. Selain hammock, ada ayunan jaring-jaring yang ada di depan restoran. Ini juga nggak kalah asyik buat bersantai.



 


·         Menikmati Ayunan Laut HamuEco


Sebagai anak kecil yang masa dulunya bahagia, sampai sekarang saya girang jika bertemu ayunan. Pas tahu ada ayunan di HamuEco, saya menjerit senang dan langsung menuju lokasinya. Tapi ayunan ini hanya bisa dipakai saat ‘meti’ (air laut surut) ya.

·         Tiduran di Laut


Tidur di laut? Memangnya bisa? Ya bisa kalau pakai airbed yang sudah disediakan HamuEco. Tinggal dipompa dan bisa dipakai bersantai, tidur-tiduran di atas air. Jangan lupa pakai sunblock supaya tidak gosong terbakar ya!



·         Snorkeling & Diving!


Menyelam (snorkeling / diving) adalah hal wajib untuk melengkapi kesempurnaan liburan kamu di Raja Ampat. Di sekitaran HamuEco ada beberapa spot snorkeling cantik tanpa harus island hopping. Tapi memang lebih bagus lagi kalau ikut island hopping dan melihat gugusan terumbu karang dan ikan hias. Raja Ampat juga dikenal sebagai spot diving terbaik di dunia. Mas Nando dan Bang Ifan adalah divemaster dari HamuEco yang siap menemani kamu menyelami titik-titik terbaik di Raja Ampat.



·         Main Kayak


Kalau kamu penyuka tantangan, cobain deh main kayak ke Pulau Saonek, pulau yang ada di seberang HamuEco. Kemarin, saya dan Janatan mencoba menyeberang dengan total waktu 3 jam pulang pergi dari Hamueco – Pulau Saonek. Yang jelas pastikan saat ingin menyeberang cuaca sedang cerah, laut teduh tidak berombak, bawa perbekalan dan juga pakai life jacket biar aman selamat sampai tujuan.



·         Menikmati Sunrise & Sunset di Jetty HamuEco


Jetty ini sebenarnya sebutan untuk dermaga kecil dari kayu yang ada di pulau-pulau, memang seringnya disebut jetty. HamuEco juga punya jetty pribadi yang setiap sore jadi tempat favorit saya untuk menikmati matahari terbenam. Bisa sambil baca buku, main gitar atau tidur santai di air bed

Di pagi hari, pemandanganny juga nggak kalah cantik. Mewah sekali bisa lihat matahari terbit di laut sambil tidur kan?




·         Ikut Open Trip Raja Ampat!


Sudah jauh-jauh ke Raja Ampat pastinya pingin keliling pulau-pulau di sana kan seperti Wayag, Arborek, Piaynemo, Yenbuba, Kabui, Friwen dll. Nah, HamuEco juga punya beberapa paket perjalanan ke pulau-pulau itu lho! Harga paketnya mulai Rp. 2.000.000 hingga Rp 25.000.000 per grup (8-10 orang max). Termasuk hemat lho itu harganya. Salah satu alasan kenapa island hopping di Raja Ampat mahal, memang karena jarak pulaunya jauh-jauh dan harga bahan bakar mahal. Bayangkan saja untuk ke Wayag, kita butuh 6 jam perjalanan pulang pergi jika laut teduh, jika berombak bisa lebih lama. Terbayang kan butuh berapa banyak bahan bakar? Nanti trip island hopping di Raja Ampat akan saya ceritakan di post terpisah ya!



Terima kasih untuk keramahtamahannya, HamuEco!


Selama menginap di HamuEco, saya sangat senang dengan keramahtamahan semua orang baik di HamuEco Resort. Ada Bang Nando selaku Dive Resort Manager dengan Kak Oci dan Kilau, Bang Ifan, Bang Basri, Bang Fajri, Kak Rangga dan Kak Ati. Mereka sangat menyenangi pekerjaan mereka dan selalu menebar senyum tawa. Makanan yang disajikan juga lezat-lezat, hasil karya tangan koki andal, Kak Rangga.


Ada beragam penginapan di Waisai mulai dari hotel, homestay, guesthouse, resort. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan yang tinggal disesuaikan dengan selera kita mau pilih yang mana. Saya pribadi merekomendasikan HamuEco Resort ini untuk teman-teman yang mencari penginapan yang asyik. Rate HamuEco Resort ini Rp 650.000,- per day per person. Harga tersebut sudah termasuk makan pagi, siang dan malam. Namun, HamuEco sering kasih penawaran harga khusus lho! Boleh langsung tanya ke email info.hamueco(at)gmail.com atau lirik Instagram Hamueco dan website HamuEco Dive Resort Raja Ampat ya ;)

Thank you HamuEco Dive Resort!