Wednesday, November 29, 2017

# Aceh

6 Hari Mendaki Gunung Kemiri, Taman Nasional Gunung Leuser Aceh (2)


3 hari mendaki gunung Kemiri, ritme langkah kaki sudah semakin enak dan terbiasa dengan tanjakan-tanjakan kepala ketemu lutut serta terowongan lumut. Setiap hari ada saja gelak tawa sepanjang jalur karena ikatan di antara tim kami semakin kuat. Malam hari jadi waktu favorit kami untuk berkumpul di sekitar api unggun, makan malam, minum kopi Gayo, bercerita tentang kehidupan. Menyenangkan bisa mendengarkan banyak cerita dari teman baru di perjalanan kan?

Oke, mari kita lanjutkan catatan perjalanan pendakian Gunung Kemiri.

 

Day 4 - 27 Agustus 2017 (3120 mdpl-3194 mdpl)


Pagi-pagi seperti biasa, saya pergi memenuhi “panggilan alam” dan bernafas lewat mulut karena tim kami hanya punya satu lubang pembuangan yang berupa bilik kecil yang ditutupi plastik hitam. Tujuannya supaya tidak ada yang kena “jackpot” sewaktu melangkah dan tak sengaja menginjaknya. Hahahahaha…

Setelah tenda dirubuhkan, kasur angin dikempeskan, perut diisi dengan pancake dan teh, kami siap mencangklongkan carrier di punggung dan kembali mendaki ke camp 4, camp terakhir sebelum melakukan summit attack keesokan paginya.

Perjalanan dari Camp 3 ke Camp 4 ini jadi rute favoritku saat mendaki Gunung Kemiri. Vegetasinya sudah tidak terlalu lebat karena ketinggiannya sudah hampir 3000 mdpl jadi hampir tidak tampak lagi pepohonan tinggi, hanya pohon-pohon kecil dan saat cuaca cerah, kita bisa melihat pegunungan yang membentang di kawasan Leuser Ekosistem. Jadi kami agak sedikit lambat karena sebentar-sebentar berhenti untuk ambil foto. Tentu kami tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.

Di perjalanan dari Camp 3 ke Camp 4...

Which direction girls? ;)


Kami tiba di Camp 4 tepat pada jam makan siang. Memang tidak terlalu jauh jaraknya dan perencanaan perjalanan seperti itu menurut saya bagus juga karena tim kami bisa beristhirahat lebih lama sebelum melakukan summit attack keesokan paginya. Untuk mengejar sunrise di puncak Gunung Kemiri, kami harus berangkat pukul setengah lima pagi karena kata Bang Zul, mountain guide kami, jarak tempuh dari camp 4 ke puncak hanya setengah jam saja. Hmmmmmm, setengah jam nya warga lokal atau setengah jam nya pendaki santai macam kami ini? Hmmmmm… Mari kita lihat….

Garry looks handsome with his new hair wig aight? xD

Photo by : Sean Kennedy

Sayang sekali ketika kami baru saja merebahkan diri setelah mendirikan tenda, hujan gerimis mulai turun padahal jam masih menunjukkan pukul dua siang. Ah, kurang asyik rasanya hujan turun sesiang itu dan kami harus berlindung masuk ke dalam tenda.

Hingga 3 jam kemudian, hujan malah tambah deras dan rembesan air hujan mulai membasahi tenda kami. Saya dan Angie, tent-mate saya di ekspedisi LPOEC, langsung mencoba mengeringkan langit-langit tenda yang sudah terlalu berat dan basah oleh air. Saat sudah kering, Angie kembali asyik mendengarkan podcast dari ponselnya dan saya membaca buku. Saya langsung merasa gelisah karena memikirkan porter-porter yang pasti kebasahan karena hujan deras dan satu-satunya tempat mereka berlindung adalah terpal plastik bening yang tidak tertutup rapat.

Benar saja. Malam itu, mereka tidak ada yang tertidur karena kedinginan dan kebasahan. Mereka berusaha untuk tetap berdekatan agar hangat dan membuat api unggun tepat di mulut tenda yang mereka jaga agar tidak membakar terpal plastik, tempat bernaung satu-satunya.



Dalam pelukan kabut yang dingin, kami mencoba untuk tidur nyaman malam itu. Saya sendiri membungkus diri dengan seluruh pakaian dan jaket yang saya punya, tak lupa kaos kaki tebal, kupluk dan buff rajut untuk menghangatkan leher dan telinga. Sambil mendengarkan music lewat headset, akhirnya saya bisa tertidur juga.

Day 5 - 28 Agustus 2017 (3194 mdpl - 3314 mdpl - 2188 mdpl)


Ini dia hari yang ditunggu-tunggu setelah 4 hari menyusuri punggungan dan lembahan Gunung Kemiri yang akhirnya mengantarkan kami ke kaki puncaknya. Summit Attack adalah ujian yang cukup sulit saat mendaki gunung karena kita harus bangun pagi-pagi sekali bahkan tengah malam (seperti saat mendaki Gunung Semeru) agar bisa tiba di puncak gunung sebelum matahari terbit.

Suhu udara pagi itu cukup mengagetkan saya karena tidak sedingin yang saya kira. Mungkin karena tidak ada angin yang berhembus jadi dinginnya tidak terlalu menusuk. Tetap saja dingin tapi berbeda dengan ekspektasi saya.

Satu yang kami syukuri adalah hujan sudah berhenti subuh itu. Tak terbayangkan jika harus mendaki ke puncak gunung saat cuaca hujan, matahari belum tampak dan pasti udaranya dingin menusuk. Pagi itu, semesta sangat baik membiarkan kami yang masih mengumpulkan nyawa saat tidur, untuk menapaki sedikit demi sedikit tanjakan menuju puncak.

Saat summit attack, saya selalu berusaha untuk berjalan dengan ritme saya, bernafas perlahan dan tidak terengah-engah meskipun oksigen semakin tipis di ketinggian lebih dari 3000 meter di atas permukaan laut. Berusaha terus untuk melangkah dan tidak terlalu banyak khawatir. Saya berusaha untuk memikirkan banyak hal yang menyenangkan mengiringi langkah kaki dalam gelap.

Setelah tiba di puncak, kami berpelukan satu sama lain, mengucapkan selamat kepada seluruh tim LPOEC dan bersiap menunggu matahari terbit. Saat itu kabut menyelimuti seluruh bentangan alam yang terlihat dari puncak Gunung Kemiri. Warnanya biru, bercampur abu kelabu. Mungkin sisa-sisa dari hujan deras yang mengguyur semalaman.

Kami harus cukup berpuas sampai di situ. Keberuntungan kami hanya segitu. Mentok.

Tak ada sinar matahari pagi hangat menyinari pipi yang dimpi-impikan...

Reach the summit finally...




Ada sedikit perasaan campur aduk di dada saya saat kami tiba di puncak. Ada perasaan puas dan bangga pada tim ini karena berhasil tiba dengan selamat dan tak kekurangan suatu apa pun. Tapi di satu sisi saya sedih karena tidak mendapatkan pemandangan matahari terbit di puncak. Tapi seharusnya saya tidak sedih dan harus senang bahwa hujan berhenti hingga kami bisa menuju dan berdiri di puncak bersama-sama tanpa harus kebasahan. Jadi intinya ya harus bersyukur.

Kami tidak bisa berlama-lama berada di puncak karena kabut tebal menyelimuti seluruh area puncak hingga untuk melihat wajah satu sama lain kami cukup kesusahan. Juga kami harus cepat berjalan turun karena target kami hari itu adalah camp 2 yang jaraknya jauh sekali. Target kami tiba di camp 2 sekitar pukul 4 / 5 sore, jadi kami harus berangkat jam 8 pagi dari camp 4 dengan kecepatan dan kemampuan maksimal. Jadi, tak ada banyak waktu untuk leyeh-leyeh setelah summit attack. Langsung bergegas packing tenda dan segala perlengkapan, makan pagi cepat-cepat, pemanasan dan lalu berjalan turun.

Puncak Gunung Kemiri berkabut sekali...


On our way back to Camp 4

Perjalanan turun dari puncak ke camp 4


Kami melewati lagi jalur yang kami lewati beberapa hari sebelumnya. Mencoba berjalan lebih cepat dari pada saat waktu mendaki.   Sempat terpeleset di atas jalur kerikil dan jalur dahan berlumut tapi syukurnya tangan kanan aman. Fyuh, deg-degan kalau sampai terpeleset dan tangan kanan bermasalah, rumah sakit jauhhhhhhh sekali. Jadi ya tetap harus sangat berhati-hati.

Perjalanan turun berselimut kabut...

Jalurnya licin jadi harus sangat berhati-hati...

Kembali melewati Jurassic Park Kemiri


Menyeberangi lembah-lembah dingin

Bang Zul, our mountain guide leader...

Setelah beristhirahat makan siang di pertengahan camp 3 dan camp 2, kami berjalan dan terus berjalan hingga tiba di camp 2 sekitar pukul 4 sore, sesuai dengan target kami hari itu. Begitu sampai,  kami langsung rebahan di tanah dan mengusap-usap lutut yang sedikit gemetar. Ya memang perjalanan turun itu kadang lebih menyiksa dibandingkan saat mendaki dan lutut kita pasti akan sangat terbebani saat berjalan turun.

Angie sampai harus pengaman lutut saat perjalanan turun...

Tim porter membongkar logistik yang mereka sempat timbun  di dalam tanah di hari kedua, dikubur di bawah pohon. Tentu alasannya agar beban yang dibawa ke puncak tidak terlalu berat. Jadi logistik untuk hari ke-lima dan ke-enam ditimbun di camp 2 untuk diambil saat perjalanan turun.

Saya rindu indomie yang dimasak dengan kayu bakar...

Hujan mengguyur malam itu saat kami sudah bergulung di dalam sleeping bag. Sudah tidak sedingin saat tidur di camp 3 dan camp 4 namun saya tetap kepikiran nasib porter yang tidur beratapkan terpal plastik. Semoga mereka baik-baik saja dan bisa tidur dengan nyaman bermodalkan sarung yang dikeringkan di atas api unggun karena malam sebelumnya basah total.

Mengeringkan sarung dulu sebelum tidur setelah hujan semalaman...

Kayaknya tidur di bawah terpal plastik ini enak juga tapi dinginnnnnn...



Day 6 - 29 Agustus 2017 (2188 mdpl - 696 mdpl)


Keesokannya saya bangun dengan badan segar namun dengan sedikit perasaan sedih karena hari itu adalah hari pendakian terakhir kami di Gunung Kemiri. Tentu senang karena semuanya bisa tiba di puncak bersama-sama dan sebentar lagi kami akan turun bersama-sama pula. Tapi kami tidak mau pandang enteng di hari terakhir. Semuanya tetap berjalan turun hati-hati agar tak ada yang cedera sampai kami tiba di kampung.

Last packing before heading back down...
Perjalanan turun di hari terakhir itu tak akan bisa saya lupakan karena Moge (porter kesayangan saya dan juga yang paling muda) bernyanyi dengan bahasa Gayo sepanjang jalur. Bahkan dia menciptakan lagu untuk saya. Manis sekali kan? Si anak Gayo tampan itu tak lagi melanjutkan pendidikan setamat dari SMA padahal dia Ketua Osis dahulunya. Anak yang berbakat dan punya talenta bernyanyi yang sangat luar biasa.

Moge, porter kesayanganku...
Moge dan Ibu tercinta yang kami jumpai di ladang pintu hutan Gunung Kemiri. Bu, parang nya Bu. Hahahahaha xD


“Kak Satya nanti Oktober atau November, albumku keluar. Kaka dengar ya nanti ya” ujarnya pada saya di jalur.

“Ah, jadi itu alasanmu nggak mau lanjut kuliah? Karena mau fokus di karir bernyanyi mu?” tanya saya.

“Iya Kak, kalau bisa cari uang langsung dan bantu orang tua. Saya lebih memilih itu ketimbang kuliah” jawabnya.

Ya, tak ada salahnya Moge berpikiran seperti itu namun tetap saja saya mengatakan kepadanya jika kelak dia sudah mengumpulkan banyak uang dari albumnya, tetaplah ingat untuk lanjut ke universitas.

Sambil mengangguk, Moge berjalan terus dan Moge kembali bernyanyi. 

Tibalah kami di camp 1 yang berarti hanya butuh 2 jam lagi ke entry / exit point, desa Gumpang. Meski lelah karena perjalanan turun, tim porter justru bersemangat bernyanyi dalam bahasa Gayo dan tentu saja menari Saman, tarian Aceh yang tersohor itu.

Tarian Saman asli oleh orang Gayo...

Dulu, tarian Saman itu memang hanya dibawakan oleh para lelaki. Coba deh baca sejarah tari Saman di blog teman kesayangan saya dari Aceh, Bang Yudi Randa di artikel ini.

HIngga pada akhirnya kami tiba di Desa Gumpang sekitar pukul 12 siang. Perut keroncongan sudah protes minta diisi. Awalnya kami berpikir hanya akan pergi ke warung kelontong dan makan mie instan. Namun ternyata kami mendapat kejutan di mana penduduk desa Gumpang sudah menyiapkan sajian lezat. Ada gulai ikan dan gulai ayam yang tentu kami santap dengan sangat lahap untuk makan siang. Duh, rasa nikmatnya nggak ketulungan dan tak terdeskripsikan.

My best tent-mate, my Jawa-Amerika girl, Angie <3

Setelah santap siang lezat, suasana haru pun terasa saat kami berpamitan dengan tim porter yang menemani kami selama 6 hari ke belakang dan juga penduduk Desa Gumpang. 

Terima kasih yang tak terhingga untuk semuanya…

Thank you all guide and porter, will miss you a lot... ( Photo : Sean Kennedy)


Bang Supri, my favorite guide on the expedition!


The complete Love Leuser Team! Photo by : Sean Kennedy

Ekspedisi bertajuk "Last Place On Earth Challenge" ini diselenggarakan oleh Orangutan Odysseys dan menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya. Berminat ikut? Bisa langsung kontak mereka ya!


Cheers,






9 comments:

  1. Satya, itu kerilmu berapa liter sih? Kayaknya mupeng pengen beli hahhhahahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu aku pakai Osprey Kyte 46 nih Nasi. Aku suka karena backsystem nya enak banget <3

      Delete
  2. suka ba tulisan kak Satya. Si Moge kah di foto terakhir kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Maurer, terima kasih sudah mampir ke blog aku hehehehe. Hahahhaa Moge itu yang foto sendirian pakai baju putih hehehe. Yang terakhir itu Bang Supri....

      Delete
  3. Senang sekali baca tulisan kak satya. Porter di aceh bawanya pakai sarung ya, lucu juga.porter serba bisa ya, terhibur sekali pasti karna mereka bisa nari saman 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Kak Zulfan, terima kasih sudah mampir ke blogku yaaaa... Hehehehe. Iya sebagian porternya ada yang bawa karung pakai sarung, tapi ada juga yang pakai carrier hehehehe... Yappp mereka super entertaining karena bisa menyanyi dan menari Gayo juga. Nanti aku upload deh videonya ;)

      Delete
  4. Luar biasa kuat sekali ya beb mas mas porter ini. Udah baca barang segitu banyak, ikut mendaki, bikin tenda, masak, dan tidur di tenda plastik seadanya. Tapi tetep sehat & sampai dengan selamat. Masih sempet-sempetnya nyanyi & nari salman lagi. Ahh, salut!!! <3

    ReplyDelete
  5. satya banget lah ini gaya hidupnya.. perjalanan ekstreme. kalau lihat dari foto-fotonya, isi carrier gede gitu tentunya lebih banyak peralatan safety dan penghangat. mayan korek kocek nih misal ada trip naik gunung bagiku haha..

    ReplyDelete

Apa yang terpikir di benakmu setelah membaca tulisan ini? Share dong :)

Follow Us @satyawinnie