Sunday, October 22, 2017

Staycation Kejutan Untuk Mama di Grand Mercure Maha Cipta Medan Angkasa Medan

Sunday, October 22, 2017 6 Comments


Saya menunggu di lobby Hotel Grand Mercure Maha Cipta Medan Angkasa dengan hati deg-degan. Apakah rencana saya untuk memberikan kejutan untuk Mama (Momong) berhasil atau tidak.

Awalnya saya bilang ke Mama kalau saya berhalangan untuk hadir di wisuda adik perempuan saya karena saya masih di Gorontalo saat itu. Namun saat last minute, saya berubah pikiran dan terbang ke Medan. Terbang subuh dari Gorontalo dan tiba hampir maghrib di Medan karena penerbangannya transit dulu di Jakarta. Saya tiba H-1 acara wisuda adik ketiga saya, Nonong.

Saya menyusun rencana dengan adik kedua, Cocong untuk memberikan kejutan untuk Momong. Saya memintanya untuk mengajak Momong ke hotel begitu tiba dari Sibolga. Saya agak was-was karena perjalanan darat yang cukup jauh (10-12 jam) dari Sibolga ke Medan akan membuat Momong ‘merepet’ harus pergi ke hotel tempat saya menunggu.

Syukurlah kejutan saya berhasil. Momong terkejut melihat saya ada di lobby hotel Grand Mercure Medan. Tentu saja Momong langsung saya peluk peluk dan menghujaninya dengan ciuman. Rindu, serindu-rindunya…

Saya ajak sekeluarga untuk menginap di Grand Mercure Angkasa Medan karena saya lihat beberapa review bahwa kamar di hotel ini besar-besar. Ya, hotel yang terdiri dari 266 kamar ini memang pas buat mengajak sekeluarga berlibur karena kamarnya luas dan dilengkapi dengan kamar mandi cukup luas juga.





Selian itu saya sangat senang dengan ambience hotel ini mulai dari lobby, kamar dan fasilitas lain. Lobby nya luas dengan langit-langit tinggi menambah kesan elegan hotel ini. Front Office Officer nya juga sangat ramah dan helpful. Mereka melayani setiap tamu dengan lihai dan cepat, sambil tamu meneguk welcome drink yang juga menjadi minuman favorit saya, jus markisa. Duhhhhhhhh enak kali!





Sajian Lezat Kuliner Lokal


Saya menginap 4 hari 3 malam di Grand Mercure Angkasa Medan dan waktu favorit saya adalah saat makan pagi. Saya senang bangun lebih pagi hanya untuk menyantap semua sajian makanan yang tersedia di buffet restaurant hotel. Yang bikin saya jatuh cinta adalah sajian lezat kuliner khas Medan seperti lontong sayur Medan, soto, teri sambal, gulai, martabak telor, roti jala, hingga kue-kue tradisional seperti kue lapis dan kue lupis pakai gula merah. Ada nasi goreng, mie goreng dan sajian khas Indonesia lainnya.






Tapi tak hanya sajian lokal saja kok, sajian khas western food juga tersedia di sini. Ada salad bar, sushi, fruit bar, cereal bar, bread and jams, fish porridge, chicken porridge dan masih banyak lagi. Bisa order omelette dan sunny side up juga di open kitchen. Dengan penuh senyum, chef-chef di open kitchen melayani setiap order dari tamu.







Makin lengkap lagi dengan adanya jus buah segar, susu, dan jamu! Aduh saya sampai bolak-balik minum jamu saking enaknya. Selama 3 hari saya tidak bosan berlama-lama di restaurant karena menu yang disajikan berbeda setiap harinya dan selalu bertemankan jamu yang enak!

Tak hanya saya, Momong dan Bapak juga ketagihan makanan yang disajikan di Grand Mercure Angkasa Medan. Semuanya dicobain, disantap tanpa ragu. Bapak yang jarang sekali mencicipi western food sempat terkaget dengan banyaknya makanan khas barat dan saya tergeli-geli sendiri melihat ekspresi Bapak saat menyantap makanan yang ada di piringnya.

Suasana restaurant-nya juga bikin betah karena dilengkapi dengan sofa empuk warna-warni dan juga lighting lamp yang menambah kesan hangat sekaligus mewah di dalam restaurantnya. Saya juga baru tahu bahwa untuk beberapa dessert seperti cakes dan fresh fruits, harus berada di bawah lampu yang temaram, tidak boleh terlalu terang agar kualitasnya tetap terjaga dan tidak kering karena panas yang diakibatkan paparan lampu.



Selain kamar yang luas dan sajian makanan yang enak, Grand Mercure Angkasa Medan ini juga asyik menjadi pilihan keluarga karena ada kolam renang yang pas untuk seru-seruan bersama keluarga. Ada kids pool nya juga jadi buat yang membawa anak bayi atau balita tetap bisa mengajak mereka bermain air. 

Fasilitas lain seperti gym, 7 ruang meeting dan ballroom dengan kapasitas sekitar 1200 orang, Crystal Jade Restaurant, Coffee & Drink Bar juga tersedia di sini. Area gym nya dan kolam renangnya memang agak sedikit old-fashioned karena hotel ini memang hotel lama yang baru saja berpindah management dan kini berada dalam asuhan AccorHotels, worldwide chain hotels. Jadi ada banyak ruangan dan sarana yang sudah selesai direnovasi dan sebagian lagi masih dalam proses.







Lokasinya yang strategis di pusat kota Medan membuat Grand Mercure Medan ini menjadi pilihan yang pas jika ingin mengadakan pertemuan atau sebagai tempat resepsi pernikahan. Marcomm (Marketing Communication) dan Banquet staff Grand Mercure dengan sangat senang hati membantu siapa pun yang sedang merencanakan pernikahan. Mau gaya tradisional, lokal maupun internasional, semuanya bisa diwujudkan. Tak hanya pernikahan sih, untuk acara keluarga atau kantor juga bisa diadakan di sini. Asyik kan?





Bisa lihat lebih lanjut info promo dan event menarik di Instagram Grand Mercure Medan Angkasa ya ( @grandmercuremedan )

 Grand Mercure Maha Cipta Medan Angkasa
Jl Sutomo No 1 Medan, Sumatera Utara 20235
Phone : +62 61 - 4555888




Thursday, October 19, 2017

Se’i Sapi Lamalera Bandung, Se’i Sapi Lezat Dijamin Halal

Thursday, October 19, 2017 6 Comments


“Serius ini halal Se’i nya Sat?” tanya seorang teman lewat komentar Instagram ketika saya memposting satu foto saat saya sedang menikmati makanan di Se’i Sapi Lamalera, Bandung.

Pertanyaan itu tentu wajar terlontar karena biasanya Se’i, makanan khas Kupang, Nusa Tenggara Timur ini, terbuat dari daging babi yang diasap. Karena se’i = babi, identik dengan makanan haram untuk teman-teman yang beragama muslim.

Nah, masa iya ada se’i yang halal?

Ya ada. Saya sudah coba dan lihat ke dapurnya, semuanya halal karena memang daging yang digunakan adalah 100% daging sapi dan daging ayam.

Nggot, biasa ia dipanggil, bercerita tentang kesukaannya membuat daging asap dan berkutat di dapur sejak ia masih kecil. Jadilah ia merealisasikan idenya untuk membuat se’i sapi halal di Bandung.

“Kok namanya Lamalera sih Nggot? Kan di Lamalera mereka makannya daging paus, bukan daging babi atau sapi” tanya saya.

“Hahahaha, iya, sebenarnya karena saya belum pernah ke Lamalera tapi suka dengan nama Lamalera, jadilah nama tempat makan ini” jawab Nggot sambil terkekeh.

Lokasi Se’i Sapi Lamalera ini ada di Jalan Bagus Rangin No 24A, dekat dengan Lapangan Gasibu, Unpad, Jalan Dago. Sudah ada di google maps jadi sangat mudah ditemukan. Jadi kalau mau naik gojek, grab atau uber, mudah sekali kok.



Kalau datang ke Se’i Sapi Lamalera, kamu bisa memilih untuk duduk di bagian luar atau bagian dalam restoran. Cukup luas jadi kalau mau makan sekeluarga sampai 20-30 orang juga muat kok. Asal reservasi saja dulu yak arena sekarang Se’i Sapi Lamalera ini rame banget terutama di jam makan siang dan makan malam. Dan juga sudah banyak sekali order yang datang dari layanan food-delivery seperti gojek.

Menu-menunya memang enak-enak banget jadi wajar saja kalau makin hari makin banyak orang berdatangan bahkan dari luar kota Bandung untuk mencicipi Se’i Sapi Lamalera.

Ada pilihan daging sapi, daging ayam dan lidah sapi. Yang membuat special adalah varian sambalnya. Ada sambal lu’at, sambal ijo, sambal rica-rica, sambal matah dan lada hitam. Favorit saya sih sampai sekarang ya sambal lu’at nya. Rasa asam pedas yang segar, dipadu dengan se’i sapi yang empuk benar-benar membuat saya melayang-layang saking enaknya. Selain daging Se’i sapi atau ayam tersaji juga sup serta sayur singkong dengan bunga papaya sebagai pelengkapnya. Jadi kalau kepedesan, bisa minum sup hangat untuk menetralisir rasa pedas yang diakibatkan oleh sambalnya.


Se'i Sapi Sambal Matah favorit saya!

Se'i Sapi Lada Hitam

Lidah Sapi Asap sambal Lu'at

Se'i Sapi Sambal Luat favorit saya!


Ada dua pilihan porsi yang bisa kamu coba yaitu porsi regular dan porsi jumbo. Kalau lagi lapar dan kangen banget sama Se’i Sapi Lamalera, saya pasti memesan yang jumbo. Bahkan kadang yang jumbo juga masih kurang. Maunya nambah lagi dan nambah lagi.

Untuk minuman, saya senang sekali dengan menu teh sereh dan teh pandan. Paduan yang pas sekali untuk menyantap se’i sapi atau ayam.

Untuk satu porsi regular dengan nasi, dibanderol dengan harga sekitar Rp 20.000 dan untuk porsi jumbo sekitar Rp 35.000. Minuman berkisar dari Rp 5.000 – 15.000. Bersahabat banget sama kantong kita kan? Makanya mampir-mampir lah ke Se’i Sapi Lamalera kalau ke Bandung ya.


Bisa lihat juga Instagramnya @seisapilamalera untuk tahu menu-menu terbaru dan juga diskon spesial. Untuk reservasi bisa line ke id : seisapilamalera atau text / call +62 822-1528-4910 juga ya.




Gimana, gimana? Jadi lapar kan habis lihat foto-foto Se'i Sapi Lamalera? Saya juga. Hahahaha. Yuk cobain ke Bandung yuk!


Cheers,


Saturday, October 14, 2017

Ode dari Ketambe, Menyambangi Orangutan di Leuser Ecosytem

Saturday, October 14, 2017 12 Comments

Sepiring pancake bertabur buah-buahan segar sudah mendarat dengan aman di dalam perut yang semalaman keroncongan. Carrier merah muda kesayangan sudah siap disandang masuk hutan. Cicit burung nan merdu jadi nyanyian pengawal hari yang cerah menyenangkan. Rasanya lebih dari sekedar menyenangkan karena saya dan delapan teman, tim #LastPlaceOnEarthChallenge akan masuk ke jantungnya Leuser Ecosystem Aceh untuk bertemu langsung dengan orangutan dan teman-temannya.

“Sebelum mulai trekking ke hutan, kita mau ke pos dulu ya, katanya ada beberapa orangutan di sana”, ujar Bang Zul, local guide kami di Ketambe.

Bang Zul, local guide kami di Ketambe...

Hati saya deg-degan serasa akan kencan pertama kali. Iya bisa dikatakan begitu karena saya akan bertemu, melihat, berkencan langsung dengan orangutan di rumahnya, hutan rimba.

Trekking ke Ketambe ini jadi pemanasan sebelum kami melakukan pendakian 6 hari ke Gunung Kemiri, yang juga masih dalam satu kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Tujuannya ingin melihat Orangutan, Macaca / monkey, gibbon, flora dan fauna yang ada di jantungnya Aceh. Tapi harus diingat, bahwa tidak ada yang bisa memastikan di mana dan jam berapa kita bisa melihat hewan-hewan itu karena mereka liar dan tidak menyukai kehadiran manusia. Begitu mendengar suara manusia sedikit saja mereka sudah langsung kabur.

Garry, ketua ekspedisi ini, sudah memberitahu kami di awal bahwa ketika melihat hewan-hewan liar, sebaiknya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, seberapa pun girangnya kita. Bahkan jalan harus mengendap-ngendap agar suara langkah kaki kita tidak terdengar oleh mereka. Selayaknya memasuki rumah orang lain, kita harus sopan kan?

Garry Sundin, our trip leader from Orangutan Odysseys

Dengan langkah pelan kami menuju salah satu lokasi yang katanya sedang menjadi tempat favorit orangutan berkumpul belakangan. Ternyata pohon itu sedang berbuah hingga beberapa orangutan memutuskan untuk berdiam dan jadilah mereka bersarang di pohon besar itu sementara waktu. Ada sekitar 5 orangutan yang kami temui. Sebagian dari mereka sedang asyik berayun di antara ranting pohon dan mengunyah daun serta buah. Sebagian lagi masih asyik tidur di dalam sarangnya. Pohonnya besar sekali sehingga kami tidak bisa melihat dari dekat. Hanya Adam dan Sean yang membawa lensa kamera tele yang mengabadikan orangutan itu secara close-up.


Orangutan nya melihat kami yang menatap dia dengan gembira dan dibalas dengan tatapan seperti itu...



Ketika sudah dirasa cukup mengabadikan orangutan di lokasi pertama, Garry mengajak kami untuk bergerak masuk ke dalam hutan Ketambe. Pintu masuk ke hutannya ada di tepi jalan dan tidak ada plang apa pun yang menjadi penanda bahwa itu pintu. Selain Bang Zul, ada Bang Sam dan Bang Is yang mendampingi ekspedisi kami.

“Satya capek nggak? Mau dibawakan tasnya?” tanya Bang Zul setelah setengah jam pendakian dimulai. Jalurnya sangat menanjak sehingga saya basah bermandikan keringat karena membawa beban yang lumayan berat di punggung. Saking basahnya saya terlihat seperti habis mandi. Mungkin karena melihat itu Bang Zul merasa kasihan dan menawarkan bantuan.

“Nggak apa-apa Bang Zul. Sudah biasa berkeringat deras begini setiap naik gunung. Sekalian latihan bawa beban nih sebelum ke Gunung Kemiri” ujar saya sambil terkekeh. Tubuh kita memang butuh adaptasi dulu saat akan naik gunung. Bagian terberat saat naik gunung adalah 3 jam pertama, apalagi kalau sudah disuguhi tanjakan dari awal pintu masuk. Tubuh kita kan butuh beradaptasi dulu ya jadi ada baiknya berjalan dengan ritme pelan tapi pasti.

Setiap setengah jam / satu jam kami berhenti untuk beristhirahat sekitar 10 menit. Kami manfaatkan waktu isthirahat itu untuk minum dan menyantap makanan ringan yang kami bawa. Tentu tak lupa foto-foto dengan pohon dan lumut cantik dalam hutan. Saya sangat menikmati ekspresi teman-teman dari Australia ketika melihat sesuatu, entah itu pohon, daun, bunga, lumut yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Ayo, ada yang tahu ini hewan apa?

Di tengah perjalanan kami juga menjumpai akar-akar gantung yang panjang dan cukup kuat untuk kami jadikan ayunan. Tentu saja sangat menyenangkan bisa berayun-ayun ala Tarzan dengan akar-akar itu. Semuanya tertawa gembira dan sejenak lupa rasa pegal di kaki karena sudah berjalan untuk waktu yang cukup lama.


Local Tarzan, Bang Sam, happily swing among the trees....

Angie also looks so happy swinging around...

Setelah dirasa cukup bermain-main, kami meneruskan perjalanan dan tak berapa lama kami mendengar gemerisik dedaunan. Secara reflek kami melangkah berjinjit, sebisa mungkin tidak menimbulkan bunyi. Kami percaya itu adalah orangutan yang sedang bergelayut di pepohonan.

Ternyata benar.

Tak berapa lama, satu orangutan betina dan anak orangutan yang berusia sekitar 2 tahun bergelayutan di dahan-dahan pohon, tepat di atas kepala kami. Mama Orangutan sempat berhenti sejenak dan melihat kami, begitu dekat. Kami terdiam namun membidik lensa kepadanya. Saya terduduk di tanah dan air mata menetes di mata saya. Tentu itu adalah air mata bahagia. Dengan perasaan puas bahagia, kami melanjutkan perjalanan ke camp tempat kami akan isthirahat makan siang dan juga beristhirahat sebelum eksplorasi Ketambe lagi keesokan harinya.

Mama orangutan and the baby <3


Camp kami didirikan tepat di tepian sungai namun tetap aman meski air sungai bisa naik pasang. Tim guide dan porter selain Bang Zul, Bang Is dan Bang Sam sudah ada di sana sedang memasak dan menyiapkan tenda serta makan siang. Sambil menunggu, kami semua diperbolehkan menikmati free time yang tentunya kami pergunakan untuk mandi di sungai. Menyegarkan rasanya bisa berendam di air sungai yang dingin setelah hampir setengah hari berjalan kaki.


Across the river was fun!


Our river camp...

Lusi & Bang koki kita yang memasak makanan selama 2 minggu ekspedisi LPOEC


Sehabis berenang di sungai, terbitlah lapar sehingga kami menyantap makan siang kami dengan sangat lahap. Saya bahkan sampai menambah nasi hingga dua piring. Energi kembali terisi penuh dan kami siap berjalan lagi. Rencananya kami hanya akan berjalan selama dua jam, mengeksplorasi Ketambe dan berharap bisa bertemu orangutan lagi. Sayang kami tidak terlalu beruntung sore itu, namun tidak kecewa juga karena kami sudah menjumpai 7 orangutan.

Menjumpai 7 orangutan di habitatnya dalam satu hari tentu tidak bisa hanya dibilang beruntung. Sangatlah beruntung namanya. Ya kan?

Di hari kedua kami mengeksplorasi Ketambe, target kami adalah menjumpai Hornbill & Gibbon yang bisa dijumpai di pagi hari saat mereka berjemur di pucuk-pucuk pohon. Kami mulai berjalan jam 7 pagi dan mengikuti bunyi-bunyian Gibbon yang sangat khas. Pastinya ada banyak sekali Gibbon di Ketambe jika mendengar betapa gaduhnya suara mereka di pagi hari.

Namun sayangnya Gibbon menyukai pohon-pohon yang sangat tinggi sehingga sangat susah melihat mereka dari jarak dekat. Harus bawa binocular sendiri atau pakai lensa tele yang bisa menangkap gerakan mereka yang cepat. Saya tidak memiliki kedua-duanya, sehingga saya hanya mendongak, melihat titik-titik kecil berwarna abu-abu di puncak pohon. Namun saya sangat menikmati suara mereka yang begitu merdu di telinga. Bunyinya bersahut-sahutan seperti rumpi pagi yang seru. Saya mau ikutan tapi nggak mengeti bahasanya. Bagaimana dong? Hehehehe…

Dalam perjalanan ke Ketambe ini, kami juga dimanjakan dengan berendam di “kolam” air panas. Sebenarnya bukan kolam secara harafiah, melainkan sungai yang dialiri air panas dan air dingin yang menjadikan ada beberapa titik kolam yang bisa dijadikan tempat berendam. Meski hanya diberi waktu 30 menit untuk berendam karena harus kembali ke camp untuk makan siang. Tanpa babibu, saya buka baju dan langsung berendam.

Aih Mak enak betul!

Sumber air panas yang mengalir bersamaan dengan air dingin sungai sehingga menjadi air hangat...

Left - Right : Princess Sher, Mil, Angie, me, Brendan


Segala rasa pegal di paha, telapak kaki, pundak, punggung, hilang tak terasa lagi. 30 menit itu terasa sebentar sekali padahal saya masih ingin berendam. Tapi kalau berlama-lama nanti saya ditinggal sendirian di hutan. Bergegaslah kami berpakaian dan mengenakan sepatu, bersiap berjalan lagi.

Begitu tiba di camp, makan siang sedang disiapkan dan kami masih punya waktu untuk berenang sebentar di sungai sambil mengeringkan pakaian basah yang kami pakai berendam di air panas. Langit biru tak berawan, air sungai yang mengalir segar dan angin semilir nan sejuk membuat saya betul bersyukur, merasa terberkati untuk perjalanan di Ketambe yang sangat menyenangkan.

Saya buka mata lebar-lebar, saya tegakkan telinga, saya hirup udara dalam-dalam, berusaha untuk merekam sebaik-baiknya apa yang saya lihat, saya dengar dan saya hirup. Rekaman perasaan yang menyenangkan yang ingin saya putar berulang-ulang setiap kali saya merasa terlalu banyak beban pikiran. Nyanyian alam, ode, ode dari Ketambe...

Greetings from the Jungle Girls ; me, Angie, Princess Sher, Mil, Emma
Ekspedisi bertajuk "Last Place On Earth Challenge" ini diselenggarakan oleh Orangutan Odysseys dan menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya. Berminat ikut? Bisa langsung kontak mereka ya!


Cheers,










Follow Us @satyawinnie