Monday, September 18, 2017

# Sumatera Utara

Menanti Matahari Pagi di Puncak Gunung Sibayak


Tas kecil berisi coklat, botol air minum, headlamp dan kamera sudah disandang. Tiga lapis baju dan jaket sudah dipakai, sepatu gunung sudah melekat di kaki, terikat simpulnya dengan baik. Kupluk merah kesukaan sudah menutupi kepala dan terasa hangat. Saya lirik jam yang menunjukkan hampir pukul tiga pagi.

Udara Berastagi tidak sedingin yang saya kira pagi itu atau mungkin karena saya sudah mengenakan pakaian hangat hingga saya tidak merasakan lagi dingin yang menusuk kulit. Kami semua (saya dan teman-teman dari #LastPlaceOnEarthChallenge ) sudah berkumpul di lobby hotel untuk bersiap berangkat ke Gunung Sibayak (2094 mdpl) yang tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap.

Perjalanan selama kurang lebih 40 menit saya manfaatkan untuk tidur-tidur ayam. Semua juga melakukan yang sama hingga tak ada bunyi apa pun yang terdengar selain suara mesin mobil yang melaju. Hingga di tengah perjalanan kami menjemput dua orang lagi yang akan ikut naik bersama kami ke Gunung Sibayak yang notabene adalah local guide kami, Pak Sitepu dan anaknya, Roy Sitepu.

Mobil elf yang kami tumpangi diparkirkan di parkiran mobil yang cukup jauh dari pintu masuk pendakian. Sebenarnya lebih enak datang ke Gunung Sibayak dengan menaiki sepeda motor karena bisa naik sampai ke pintu masuk pendakian dan menghemat 30 menit untuk berjalan dari parkiran mobil. Oh tentu saja jalannya menanjak jadi ya persiapan fisik harus baik ya sebelum mendaki Gunung Sibayak.

Local guide sudah membayar biaya pendakian masuk Gunung Sibayak yakni Rp 5000,- per orang. Ia juga membawa bolu pandan dan pisang serta air mineral untuk perbekalan kami. Tak ada termos berisi kopi dan teh hangat atau trangia untuk menjerang air panas nanti di puncak. Ah, kan mendakinya tidak terlalu jauh, jadi air mineral saja cukuplah, batin saya waktu itu.

Kami mulai berjalan pelan, menyesuaikan ritme. Memang disarankan untuk berjalan pelan-pelan dulu agar tubuh kita bisa menyesuaikan dengan ketinggian daerah tersebut sekaligus 'mengumpulkan nyawa' karena baru bangun dari tidur.

Ada 3 jalur pendakian ke Gunung Sibayak yakni jalur Desa Semangat Gunung, jalur Desa Jarang Uda dan jalur yang paling menantang dari semuanya yakni Jalur 54 yang membutuhkan lima jam pendakian menuju puncak dan melewati vegetasi hutan lebat. Rombongan kami memilih jalur yang paling singkat dari semuanya yakni jalur Semangat Gunung.



Jika mendaki dari jalur yang kami pilih, dari pintu masuk pendakian hingga puncak Gunung Sibayak membutuhkan waktu sekitar 1 jam sehingga bisa saja mendaki gunung ini tek-tok tanpa harus mendirikan camp. Tapi tentu saja, sensasi camp itu bikin naik gunung lebih terasa ya?

Gunung Sibayak adalah stratovolcano yang masih aktif hingga sekarang sehingga di kita akan melewati jalur di mana bau belerang menguar cukup kuat. Jadi pastikan kamu memakai buff untuk menutupi bau belerang yang menyengat.

“itu yang ada lampu-lampu itu puncaknya” ujar Pak Sitepu sambil menunjuk ke satu arah yang terlihat berkerlip.

“Wah, sudah dekat ya ternyata Pak”, ujar saya.

Dan memang tak berapa lama kami sudah sampai di spot di mana terdapat beberapa pendaki berkumpul, bersiap menanti matahari terbit. Kami tiba di puncak sekitar pukul setengah enam pagi dan itu artinya harus menunggu sekitar setengah jam lagi untuk menikmati sunrise.

Awalnya saya mengira tempat banyak pendaki berdiri itu adalah puncaknya, ternyata bukan. Puncaknya ada di titi satu lagi yang disebut dengan nama “Takal Kuda” yang dalam bahasa lokal berarti kepala kuda. Setelah hari cukup terang, saya mengerti kenapa masyarakat lokal menamainya seperti itu karena memang terlihat seperti kepala kuda. 

Saya mengeluarkan cokelat dari dalam tas dan menikmatinya sambil duduk di atas bongkahan batu besar. Seketika angin kencang datang dan kabut menyelimuti seluruh pandangan kami. Kerlap kerlip lampu kota Brastagi dan Kabanjahe, kini tak terlihat lagi.



Saya sedikit kecewa karena itu artinya kami kurang beruntung untuk mendapatkan pemandangan matahari terbit pagi itu karena Gunung Sibayak dilingkupi kabut yang tebal.

Namun, semesta ternyata berkata lain.

Menjelang pukul enam, segaris warna jingga tampak di ujung mata. Kabut mulai menipis sedikit demi sedikit hingga akhirnya cahaya keemasan terasa silau di mata dan cahaya hangatnya membelai pipi.

Semesta sungguh baik.

Menikmati matahari pagi di Gunung Sibayak. Di ujung sana lah puncak yang namanya "Takal Kuda".





Tentu saya tidak mau menyia-nyiakan waktu dan mengabadikan momen matahari terbit di Gunung Sibayak. Namun momen yang hangat dan menyenangkan itu hanya berlangsung sebentar saja karena kabut kembali menyelimuti pemandangan. Saya dan tim #LastPlaceOnEarthChallenge menyempatkan diri berfoto bersama sebelum berjalan turun.

Sean dan Roy Sitepu

Crazy girls on mountain. Satya - Princess Sher - Mil - Angie

Garry - Princess Sher - Angie - Brendan - Mil - Satya - Sean

Pak Sitepu mengajak kami menyambangi kawah sebentar sebelum kembali pulang ke Berastagi. Kepulan asap belerang membumbung tinggi membuat Gunung Sibayak terlihat gagah sekali. Pemandangan dan bentang alamnya mirip dengan Gunung Papandayan di Jawa Barat.







Area kawah Gunung Sibayak adalah spot yang paling sering dijadikan tempat mendirikan tenda karena cerukan itu melindungi camp dari angin kencang. Hanya sedikit bising karena suara deru belerang yang keluar dari cerobong bumi.

Satu yang saya sayangkan adalah masih banyak sampah di jalur pendakian Gunung Sibayak.

Pak Sitepu yang saya ajak berbincang tentang sampah ini juga menyayangkan perilaku pendaki yang tidak mau membawa sampahnya turun.

“Padahal baru minggu lalu kami melakukan operasi semut di sini bersama pemandu gunung yang lain dan anak-anak muda setempat. Sekarang sudah ada lagi sampahnya”, ujarnya sambil menghela nafas panjang.

Sampah yang kami bawa turun dari Gunung Sibayak


Saya tidak membawa trash bag jadi sampah-sampah yang saya temukan di jalur turun saya kantongi terlebih dahulu dan digenggam di tangan. Hingga Pak Sitepu menemukan satu kantong plastik yang cukup besar yang kami pakai untuk memungut sampah lebih banyak.

Apa ya susahnya membawa turun sampah sendiri? Kan sampah itu ringan, tidak akan menjadi beban dan memberatkan langkahmu di perjalanan. Iya kan? Janganlah enteng membuang sampah di gunung dan berpikir ada orang lain yang akan membersihkan dan membawanya turun. Ayolah teman-teman, jadilah pendaki yang bertanggung jawab ya.

Saat perjalanan turun dengan penuh sampah di tangan, saya masih bisa menikmati perjalanan dengan melihat Gunung Sinabung yang berdiri megah dan agung di kejauhan. Ia belum berhenti “batuk” hingga saat ini padahal sudah beberapa tahun berlalu.

Bisakah kau lihat Gunung Sinabung di kejauhan?


Sekitar pukul delapan kami sudah tiba lagi di parkiran mobil dan kembali ke hotel untuk bersiap melanjutkan perjalanan ke Aceh.


Sampai jumpa lagi, Gunung Sibayak! Mejuah-juah!


Tips Mendaki Gunung Sibayak :


1. Jika ingin mendirikan camp, bawalah perlengkapan yang baik, bawa tenda, sleeping bag, alat masak dll. Tidak ada sumber air jadi persiapkan persediaan air yang cukup ya.

2. Jika hanya ingin mendaki untuk melihat matahari terbit, bisa mulai mendaki pukul empat pagi. Sunrise di puncak Gunung Sibayak biasanya pukul 06.00 WIB. Bawalah daypack yang berisi air mineral, cemilan dan kebutuhan pribadi yang kamu anggap penting.

3. Pakailah pakaian mendaki yang baik. Kalau bisa hindarilah mendaki pakai sandal jepit karena akan membahayakan kaki. Meski jalur Gunung Sibayak tergolong singkat, ingat, jangan pernah menyepelekan alam.

4. Agar dekat dengan pintu pendakian Gunung Sibayak, bisa memilih penginapan di sekitar Kota Berastagi. Dari kota Berastagi, butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai di pintu masuk Sibayak. Tidak ada angkutan umum saat subuh jadi lebih baik menyewa kendaraan pribadi entah motor atau mobil.

5. Ingatlah untuk selalu membawa turun semua sampah logistik yang kamu bawa ya. Be a responsible traveler!

Cheers,


8 comments:

  1. Terlepas dari tidak beruntung melihat keindahan sunrise, alam tetap indah dilihat dari atas :-)

    Aku jadi terpikir, kenapa masih banyak orang yang tidak bisa menjaga amanah untuk membawa pulang sampah-sampahnya :-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang kita sampai berbusa-busa berkoar koar di social media tetappppp saja masih banyak yang acuh yaaa.... Harus ngapain dong kita biar mengubah kebiasaan suka membuang sampah sembarangan ini ya Nasi... Hmm...

      Delete
  2. wah, kenangan tak terlupakan banget nih ke sini, ya.
    sebagai orang Sumut aku jadi pengin banget ke sini jugaaaa... aaak foto pas sunrise kece banget beb!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyessssss beb. Haruslah kau mampir ke Sibayak kalau nanti edisi mudik ke Sumatera Utara lagi yaaa... Ajak Tamaaaa... Tak terlalu susah mendakinya dan bonus matahari pagi nya cantik sekali <3

      Delete
  3. Hm.. 1 jamnya Satya trekking, kalo buat gua berapa jam, yaa..? 😄😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah Kapiya juga 1 jam juga kok pasti karena kemarin itu kita jalannya cukup santai. Maklum, beberapa di antara kami juga belum pernah naik gunung sebelumnya. Hehehehe....

      Delete
  4. oh my god, gununge uapik tenan..itu mataharinya keren, yg ambil foto juga keren..
    tarus itu di atas kawah keliatan kecil
    dasyat bener ciptaan Tuhan ya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas Adi dan enak trekkingnya nggak terlalu jauh. Makanya banyak yang datang ke gunung ini di akhir pekan. Kebanyakan sih ABG hahahahaha....

      Iyaaaa kalau naik gunung itu, melihat sekeliling membuat kita merasa sangat sangat kecil ya Mas xD

      Delete

Apa yang terpikir di benakmu setelah membaca tulisan ini? Share dong :)

Follow Us @satyawinnie