Sunday, September 17, 2017

# Abroad # Thailand

Maesa Elephant Camp Chiang Mai, Rumah yang Ramah untuk Gajah



Terekam jelas di ingatan saat saya berkunjung ke Way kambas dua tahun silam. Hati saya teriris miris melihat gajah yang ada di sana dirantai berlima dalam satu iringan dan digerakkan dengan memukul kepalanya dengan gancu. Entahlah apa kondisinya sudah berubah sekarang karea saya berkunjung dua tahun lalu. 

Mungkin kalian bisa mengatakan saya berlebihan namun gajah-gajah di Way Kambas sama sekali tidak terlihat bahagia (dari kacamata saya pribadi). Saat saya ingin berfoto dengan gajah, pawangnya memukul mukul kepala gajah dengan gancu nya agar sang gajah duduk dan mengangkat belalainya. Pembelaannya adalah gajah tidak merasa sakit karena kulit mereka keras. Pukulan seperti itu hanya terasa seperti dicolek katanya. Tapi entah mengapa, memukul ya tetap memukul. Kejam.

Kondisi yang sangat berbeda saat saya mengunjungi Maesa Elephant Camp di Chiang Mai, Thailand. Lokasinya di tengah pegunungan yang bisa ditempuh sekitar 1,5 jam berkendara dari pusat kota Chiang Mai.

Hujan turun cukup deras ketika kami tiba di sana dan waktu itu saya mengira bahwa kami tidak akan jadi mengunjungi gajah-gajah di sana. Mungkin karena hujan mereka semua dimasukkan ke kandangnya. Mungkin kan?

Namun ternyata tak lama setelah kami tiba, hujan mereda. Petugas Maesa menyediakan payung untuk tiap-tiap orang lalu memandu kami ke spot pertama yakni Elephant Nursery di mana induk gajah dan bayi-bayi gajah dirawat. Ya, bayi-bayi gajah memang membutuhkan perhatian khusus dan harus selalu dekat dengan ibunya bukan?

Elephant Nursery ini menjadi tempat favorit saya di Maesa Camp. Tentu saja karena saya bisa melihat bayi-bayi gajah yang menggemaskan. Namun saya baru tahu tidak sembarang orang bisa memegang bayi gajah. Ternyata alasannya adalah kita manusia bisa menularkan penyakit ke bayi gajah karena sistem imun / kekebalan tubuh mereka belum sepenuhnya baik. Jadi kita tidak diperbolehkan untuk terlalu dekat dengan bayi gajah meski betapa menggemaskan pun mereka.  Saat itu kami berlima dan hanya dua orang yang diperbolehkan menyentuh dan bermain dengan Beruntungnya saya punya teman-teman yang baik dan tahu saya suka gajah sehingga mereka memperbolehkan saya bermain sebentar dengan bayi gajah. Waktu itu tak terkatakan senangnya bisa bermain dengan gajah yang menggemaskan.

Bayi gajah yang super menggemaskan! 


Saya peluk-peluk bayi gajah yang gempal itu dan sedikit lupa bahwa meski baru berumur 10 bulan, dia lebih berat dari saya dan jika saya ditindih olehnya pasti sakit juga. Saat hasrat ingin memeluk begitu besar, bayi gajah ini malah senang menyeruduk dan menyemprot lumpur. Kami hanya bisa tertawa-tawa karena memang itulah yang selalu dilakukan bayi, bermain sepanjang waktu hingga lelah, minum susu dan tidur.

Tak berlama-lama di Elephant Nursery, sang pemandu mengajak kami ke area Elephant Show karena pertunjukan akan segera dimulai. Hujan masih mengguyur sehingga semua orang memakai payung di arena semi-outdoor. Ternyata banyak sekali pengunjung yang sudah berkumpul dan memakai jas hujan duduk mengitari arena pertunjukan. Tempat yang tadinya sudah di-reserved untuk kami sudah diduduki turis lain. Kami mengalah dan akhirnya tetap menonton pertunjukan sambil jongkok.



Kekaguman saya terhadap Maesa Elephant Camp dimulai dari pertunjukan ini. Gajah-gajah yang berumur sekitar 15-30 tahun masuk ke arena dengan arahan mahout nya (pawang gajah). Sang mahout berjalan di depan gajah namun ada juga mahout yang menungganginya. Sang mahout berbisik di telinga gajah dan setelahnya sang gajah melakukan atraksi nya, entah itu bermain topi, bermain bola, bermain musik bahkan melukis.

Gajah-gajahnya bermain bola bersama dan bergantian tugas menjadi striker dan kiper.

Kapankah saya bisa melukis sejago gajah?

Gajah-gajah ini juga jago sekali melempar panah untuk memecahkan balon.

Aura nya berbeda sekali, seolah olah yang sedang tampil adalah sepasang kawan, sepasang sahabat yang bisa saling mengerti meski tak menggunakan bahasa yang sama. Tiada suruhan dan paksaan dengan pukulan dan cambukan. Mereka terlihat sangat kompak, mahout yang bermuka ceria dan gajah yang sangat sehat.

Apalagi saat gajah melukis, sang mahout berdiri di sebelahnya sambil menenteng sebuah kotak kecil berisikan ragam kuas dan membantu mencelupkan kuas itu ke dalam cat sebelum si gajah akhirnya menggoreskan kuas itu ke kanvas putih. Hasil lukisan gajah-gajah itu bahkan lebih bagus dari hasil lukisan saya (ya karena saya tidak bisa menggambar hahahaha).

Pengunjung juga diperbolehkan memberi makan gajah dengan membelinya terlebih dahulu. Sepaket pisang dan tebu dihargai 40 baht ( 1 baht = Rp 300 ). Ada satu pondok yang menjual pakannya di dekat area pertunjukan.



Seusai pertunjukan, kami sebenarnya ditawari untuk menaiki gajah alias Elephant Safari namun tak ada yang mau. Yah kami merasa bersalah jika harus membuat sang gajah membawa beban yang berat di punggungnya alias kami. Meski gajah-gajah di Maesa sudah diatur jam kerjanya hanya 4 jam sehari dan juga ditentukan bobot maksimal yang ia bawa di punggungnya, kami tetap merasa tidak enak.

Safari gajah dan gajahnya sekalian membawa makanannya.


Akhirnya kami diajak berkeliling lagi ke lokasi berikutnya yakni Maesa Elephant Care Center yang juga masih bagian dari Maesa Elephant Camp namun khusus untuk gajah-gajah yang sudah lanjut usia dan juga tempat perawatan gajah-gajah yang sakit sekaligus menjadi area pemakaman gajah.

Gajah-gajah yang ada di area ini sudah berumur di atas 45 tahun yang berarti masa produktif nya sudah selesai. Mereka sudah tidak bekerja lagi dan hanya bersantai di dalam kandang dan menunggu mahout membawakan makanannya, rumput, tebu dan pisang.

1 mahout biasanya mendampingi satu ekor gajah. Namun di Maesa satu gajah bisa dijaga beberapa mahout.


Meski terlihatnya sederhana, di Maesa Elephant Camp ini terdapat orang-orang yang bertanggung jawab untuk meracik makanan gajah, memperhatikan dan mengecek kesehatan gajah-gajah lansia itu secara berkala. Ada Veterinarian atau dokter hewan, Master Herbal dan juga Animal Husbandry.

Kami berkeliling sambil membawa dua keranjang berisi pisang yang dijual di Maesa dan memberikannya satu-satu kepada gajah yang ada di sana. Namun, kita tidak diperbolehkan memberikan makanan kepada gajah jika tidak ada mahout yang mendampingi.

Gajah lansia dan mahout yang sudah lansia juga.


Tak disangka setelah lebh 30 tahun lebih, 4 gajah yang dulunya dipinjam dari suku Karen, sudah berkembang menjadi keluarga gajah yang besar. Empat gajah pertama sudah tiada dan dimakamkan di pekuburan gajah yang masih berada di area Maesa Elephant Camp. Di atas tanah terdapat nisan dari kayu yang bertuliskan nama si gajah, tanggal lahir dan tanggal berpulangnya.

Jika tinggal lebih lama saya ingin sekali mendengar banyak cerita dari mahout-mahout di Maesa Elephant Camp karena mereka pasti punya banyak sekali cerita menarik tentang pengalaman mereka menjaga gajah. Biasanya satu mahout menjaga satu ekor gajah namun di Maesa, satu gajah bisa dijaga beberapa mahout. Jadi menyenangkan sekali mengetahui bahwa sumber daya manusia nya sangat lebih dari cukup dan tak ada satu pun gajah yang terbengkalai.

Feel the love, spread the love to the animals... Ingatlah gajah itu makhluk yang pintar dan perasa... (Photo by : @yukianggia )


Nah, tadi sudah cerita tentang Maesa Elephant Camp dan sekarang saya mau berbagi sepuluh fakta tentang gajah ;

1.    Gajah yang baru lahir bobotnya bisa mencapai 75 -100 kilogram sedangkan gajah dewasa bobotnya bisa mencapai 5 ton.
2.   Gajah adalah binatang yang perasa dan sangat pintar serta pengingat yang baik. Dia bisa dengan sangat cepat mengidentifikasi orang-orang yang berniat jahat kepadanya atau kepada gajah lainnya.
3.     Nafsu makan gajah sangat besar sehingga dalam satu hari dia bisa memakan 250 kilogram tumbuhan dan minum 80 liter air.
4.     Gajah adalah hewan sosialis dan tinggal dalam grup. Jarang sekali ada gajah yang hidup sendirian.
5.     Gajah itu buta warna namun mahir melukis. Wah kok bisa ya!
6.   Belalai gajah terdiri dari ribuan otot dan belalainya tidak pernah berhenti bergerak kecuali saat dia sedang tidur.
7. Gajah punya bulu mata yang panjang dan kelopak yang berkerut-kerut sehingga membuat penglihatannya terbatas dan gajah tidak bisa menoleh terlalu banyak.
8.     Meski berat bobotnya, gajah bisa duduk dan melipat kaki layaknya manusia lho.
9.  Gading gajah bobotnya bisa mencapai 5 kilogram satunya, jadi dua gadingnya bisa berbobot 10 kilogram.
10. Gajah sangat suka mengobrol dengan teman-temannya dan memiliki 30 ragam suara yang tentunya hanya dimengerti oleh gajah. Hahaha.

Nah, kalau teman teman mau mengunjungi Maesa Elephant Camp bisa langsung datang ke sana dan lihat sendiri betapa gajah-gajah di sana cerah ceria dan ditemani mahout yang ramah. Bisa juga cek website Maesa Elephant Camp buat info lengkapnya ya.

Patty @patrishiela senang sekali bisa memberi makan pisang untuk gajah-gajah di Maesa. 


Cheers,



6 comments:

  1. Gajah itu hewan penginat paling kuat, bahkan mereka bisa mengingat kita walau sudah lama tidak bersua :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya banget Nasi! gajah itu paling peka dan paling kuat ingatannya. Terus gara-gara senang gajah jadi kepikiran pengen jadi mahout hahahahaha xD

      Delete
  2. Tulisannya bagus banget kak!

    I #loveelephants. ❤❤❤❤❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Remember that good times with the elephants ya Kak. Mau lagi mau lagiiii xD

      Delete
  3. bah, gajah suka ngobrol ternyata, mereka ngomongin apa, ya. apa misalnya, "duh ini cewek mau foto bareng lama amat dari tadi nemplok-nemplok."
    hahahaha!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya memang begitu adanya percakapan antara gajah itu ya. Mereka bergosip ngeliat semua bentuk rupa manusia yang datang terus pegang-pegang meraka. hahahahaha xD

      Delete

Apa yang terpikir di benakmu setelah membaca tulisan ini? Share dong :)

Follow Us @satyawinnie