Friday, September 29, 2017

Pulau Diyonumo, Pulau Cantik Berpenghuni Kucing di Gorontalo

Friday, September 29, 2017 14 Comments

Eh? Masa iya ada pulau kosong yang dihuni kucing?

Ada. Serius ada. Itu mengapa saya ingin berbagi cerita dengan kalian tentang pulau unik yang baru saya sambangi beberapa waktu lalu. Berawal dari ajakan sahabat saya, Yusni, yang memberi racun foto-foto bagus yang ia ambil di pulau itu, saya pun tertarik untuk menyambangi Pulau Diyonumo.

Butuh sekitar 2 jam perjalanan darat dari pusat kota Gorontalo ke Gorontalo Utara tepatnya di Desa Deme. Cuaca mendung di pagi hari sempat membuat kami sedikit kecewa karena tentunya kami ingin membuat dokumentasi dengan langit biru cerah sebagai latar belakangnya. Eh, semakin siang dan dekat dengan tujuan, semesta memberkati kami dan langit kelabu hilang berganti biru seketika. Yeaaaayyy!

Bersama dengan Ari dan Yusni, kami bertiga berencana menghabiskan waktu seharian di Pulau Diyonumo. Kami sudah membawa pakaian renang, alat snorkeling, air bed dan hammock untuk bekal kami bersantai di pantai. Kami bawalah alat-alat itu semua naik ke atas kapal kecil yang akan mengantarkan kami ke pulau.

“Kalau 3 orang kasih 20 ribu saja masing-masing buat pulang pergi”, kata bapak empunya perahu. Ya karena kami datang di hari biasa, jadi kami tidak menjumpai orang lain yang bisa diajak share cost. Ya tapi dua puluh ribu tidaklah mahal dan kami sangat senang karena hari itu Pulau Diyonumo seolah-olah menjadi pulau private untuk kami bertiga saja.

“Nanti di pulau ada warung nggak Pak?” tanya Ari pada bapak perahu.

“Iya ada, jual mie, jual kelapa, jual air ada” jawab si Bapak.

Wah amanlah kalau begitu, pikir kami. Karena berangkat terburu-buru dari Gorontalo karena takut kesiangan, kami tidak membawa banyak cemilan. Kami hanya membawa bekal 1 botol air mineral 1,5 Liter dan 2 bungkus biskuit. Kalau tidak cukup kan bisa beli makan di warung di pantai. Begitu rencananya.

Eh ternyata saat kami tiba, pulaunya kosong dan semua warung tutup. Hahahahaha. Pupuslah sudah angan-angan minum air kelapa di tepi pantai karena tidak ada yang bisa memanjat pohon kelapanya. Itu juga berarti kami harus menghemat perbekalan. Harus hemat minum air, hemat makanan sampai nanti kembali pulang.

Ya sudah. Kami sudah kepalang ada di pulau dan Yusni mengajak kami segera naik ke bukit karena cuaca tidak terlalu panas dan pas untuk menanjak ke atas.

Saat itulah saya mendengar suara anak kucing mengeong-ngeong. Kucing kecil berbulu abu-abu mendatangi saya dan membiarkan saya mengelus-ngelus lehernya. Duh gemasnyaaaaa….

Kucing kecil itu mengikuti saya berjalan menuju ke bukit. Lalu muncul lagi satu kucing hitam dan kucing lucu dengan bulu belang tiga. Wah, ternyata ada banyak kucing di pulau ini. Padahal tak ada sama sekali orang yang menghuni Pulau Diyonumo. Lantas, kucing-kucing ini makan apa atau diberi makan oleh siapa coba?




Hmmmm. Mungkin mereka mendapat makanan dari wisatawan yang datang ke pulau ini saat akhir pekan. Lalu apakah mereka puasa saat hari-hari biasa? Entahlah.

Kucing-kucing di sana terlihat sehat dan sangat gembira bertemu manusia. Saat kami berjalan menanjaki bukit, kucing-kucing ini ikut sambil meloncat-loncat. Di pertengahan jalan, kucing yang paling kecil mulai terlihat kepayahan naik ke gundukan tanah yang cukup tinggi itu. Akhirnya saya taruh di pundak dan dia dengan anteng mencari posisi enak tanpa meronta. Ya enak lah mendaki kalau digendong ya. Saya juga mau. Hahaahha…

Begitu tiba di puncak bukit, matahari bersinar dengan penuh semangat alias panas luar biasa. Tak ada pohon besar untuk bernaung sehingga kami mencari tempat berlindung di bawah bayangan semak-semak yang cukup tinggi. Kucing-kucing juga merasa sangat kepanasan mencari spot adem untuk berlindung. Di manakah spot adem mereka?

Di selangkangan kaki kami. Hahahaha…

Meski kepanasan, kami tak mau menyia-nyiakan langit cerah dan segera membidik pemandangan cantik yang kami lihat dari puncak bukit. Meski peluh terus mengalir di balik pakaian kami, kami lebih terfokus untuk membuat dokumentasi bagus dan minum air sedikit-sedikit agar tak cepat habis. Kami hanya berharap kami bertiga tidak dehidrasi dan tidak terbakar kulitnya (makanya pakai sunblock ya!).

Yusni mengeluarkan drone dan bersiap untuk menerbangkannya. Wah, dengan bukit hijau dan pantai biru serta pohon kelapa di sekitarnya, pemandangan dari atas pasti sangat cantik.



Saat baling-baling drone nya berputar kencang dan bersiap terbang, saya yang sedang asyik mengelus kucing-kucing itu terkejut karena si kucing kecil tiba-tiba mencakar tangan saya. Mungkin dia terkaget dengan bunyi drone dan kibasan angin baling-balingnya dan tangan saya yang jadi korban kekagetannya.

Saya kaget karena cakaran yang dibuat oleh anak kucing itu membuat luka yang cukup dalam di jari saya dan seketika tangan saya berlumuran darah segar yang mengalir cukup deras. Yusni dan Ari panik melihat tangan saya dan bingung harus berbuat apa.

Namun  terluka berdarah sudah menjadi makanan sehari-hari saya yang senang main ke gunung dan laut ini. Saya membasuh luka saya dengan air (dengan meminta ijin dulu pada Yusni dan Ari karena itu artinya jatah air kami berkurang sedikit) lalu meminta tolong Yusni untuk mengambilkan kotak P3K di dalam tas saya. Yusni menyodorkan botol kuning yang saya minta, Betadine Dry Powder Spray.

Saya kocok dulu botolnya lalu menyemprotkan Betadine Dry Powder Spray dari jarak 15 cm. Nyessss… lapisan tipis berwarna oranye langsung menutup luka saya dan rasanya dingin. Jari saya berhenti mengeluarkan darah dan tiada lagi rasa sakit yang terasa. Saya menatap kucing kecil itu yang ketakutan dan bersembunyi di kaki saya.  Ah, mana bisa saya marah pada makhluk kecil itu meski sudah mencakar saya hingga berdarah. Ya namanya juga anak-anak.

Yusni dan Ari sempat heran dan bertanya kenapa saya selalu membawa kotak P3K kemana-mana. Ya, karena kita harus ingat bahwa kecelakaan kecil bisa terjadi di mana saja dan kapan saja kan? Jadi ada baiknya kita berjaga-jaga dengan membawa kotak P3K.

Minimal saat kita terluka, untuk mencegah infeksi, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membersihkan luka dengan cairan antiseptik. Saya biasanya membawa Betadine cair versi botol kecil yang warnanya kuning karena simple untuk dibawa traveling. Tapi sekarang saya lebih suka membawa Betadine Dry Powder Spray.




Betadine Dry Powder Spray adalah obat antiseptik praktis yang mengandung Providone-Iodine 2,5% yang bisa membunuh kuman penyebab infeksi tanpa harus menyentuh luka. Pemakaiannya memang praktis karena tinggal disemprot saja. Enaknya lagi, Betadine Dry Powder Spray ini punya cooling effect jadi nggak terasa perih sama sekali ketika disemprotkan ke luka.



Syukurlah ada Betadine yaa jadi insiden cakar kucing itu bisa teratasi dengan baik. Tentu cerita dicakar kucing di Pulau Diyonumo ini akan selalu saya kenang. Pastinya saya juga merindukan kucing-kucing lucu yang jadi penghuni pulau itu. 

Anyway, Betadine mau mengajak kamu jalan-jalan ke Manchester gratis lho! Caranya?

Ikut games “Be Prepared and Play” di microsite ini, lalu mainkan games dengan memilih barang yang benar sesuai dengan tempat tujuan di tiap levelnya. Kumpulkan poin sebanyak-banyaknya dan dua orang dengan poin terbanyak akan memenangkan hadiah utama jalan-jalan ke Manchester, UK! Asyiknya lagi, setiap pemenang bisa mengajak satu orang teman untuk diajak jalan-jalan ke sana. Ya ampun seru banget kan?



Kompetisi ini berlangsung hingga 22 Oktober 2017. Jadi jangan sampai ketinggalan ya! Good luck!

Cheers,






Monday, September 18, 2017

Menanti Matahari Pagi di Puncak Gunung Sibayak

Monday, September 18, 2017 10 Comments

Tas kecil berisi coklat, botol air minum, headlamp dan kamera sudah disandang. Tiga lapis baju dan jaket sudah dipakai, sepatu gunung sudah melekat di kaki, terikat simpulnya dengan baik. Kupluk merah kesukaan sudah menutupi kepala dan terasa hangat. Saya lirik jam yang menunjukkan hampir pukul tiga pagi.

Udara Berastagi tidak sedingin yang saya kira pagi itu atau mungkin karena saya sudah mengenakan pakaian hangat hingga saya tidak merasakan lagi dingin yang menusuk kulit. Kami semua (saya dan teman-teman dari #LastPlaceOnEarthChallenge ) sudah berkumpul di lobby hotel untuk bersiap berangkat ke Gunung Sibayak (2094 mdpl) yang tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap.

Perjalanan selama kurang lebih 40 menit saya manfaatkan untuk tidur-tidur ayam. Semua juga melakukan yang sama hingga tak ada bunyi apa pun yang terdengar selain suara mesin mobil yang melaju. Hingga di tengah perjalanan kami menjemput dua orang lagi yang akan ikut naik bersama kami ke Gunung Sibayak yang notabene adalah local guide kami, Pak Sitepu dan anaknya, Roy Sitepu.

Mobil elf yang kami tumpangi diparkirkan di parkiran mobil yang cukup jauh dari pintu masuk pendakian. Sebenarnya lebih enak datang ke Gunung Sibayak dengan menaiki sepeda motor karena bisa naik sampai ke pintu masuk pendakian dan menghemat 30 menit untuk berjalan dari parkiran mobil. Oh tentu saja jalannya menanjak jadi ya persiapan fisik harus baik ya sebelum mendaki Gunung Sibayak.

Local guide sudah membayar biaya pendakian masuk Gunung Sibayak yakni Rp 5000,- per orang. Ia juga membawa bolu pandan dan pisang serta air mineral untuk perbekalan kami. Tak ada termos berisi kopi dan teh hangat atau trangia untuk menjerang air panas nanti di puncak. Ah, kan mendakinya tidak terlalu jauh, jadi air mineral saja cukuplah, batin saya waktu itu.

Kami mulai berjalan pelan, menyesuaikan ritme. Memang disarankan untuk berjalan pelan-pelan dulu agar tubuh kita bisa menyesuaikan dengan ketinggian daerah tersebut sekaligus 'mengumpulkan nyawa' karena baru bangun dari tidur.

Ada 3 jalur pendakian ke Gunung Sibayak yakni jalur Desa Semangat Gunung, jalur Desa Jarang Uda dan jalur yang paling menantang dari semuanya yakni Jalur 54 yang membutuhkan lima jam pendakian menuju puncak dan melewati vegetasi hutan lebat. Rombongan kami memilih jalur yang paling singkat dari semuanya yakni jalur Semangat Gunung.



Jika mendaki dari jalur yang kami pilih, dari pintu masuk pendakian hingga puncak Gunung Sibayak membutuhkan waktu sekitar 1 jam sehingga bisa saja mendaki gunung ini tek-tok tanpa harus mendirikan camp. Tapi tentu saja, sensasi camp itu bikin naik gunung lebih terasa ya?

Gunung Sibayak adalah stratovolcano yang masih aktif hingga sekarang sehingga di kita akan melewati jalur di mana bau belerang menguar cukup kuat. Jadi pastikan kamu memakai buff untuk menutupi bau belerang yang menyengat.

“itu yang ada lampu-lampu itu puncaknya” ujar Pak Sitepu sambil menunjuk ke satu arah yang terlihat berkerlip.

“Wah, sudah dekat ya ternyata Pak”, ujar saya.

Dan memang tak berapa lama kami sudah sampai di spot di mana terdapat beberapa pendaki berkumpul, bersiap menanti matahari terbit. Kami tiba di puncak sekitar pukul setengah enam pagi dan itu artinya harus menunggu sekitar setengah jam lagi untuk menikmati sunrise.

Awalnya saya mengira tempat banyak pendaki berdiri itu adalah puncaknya, ternyata bukan. Puncaknya ada di titi satu lagi yang disebut dengan nama “Takal Kuda” yang dalam bahasa lokal berarti kepala kuda. Setelah hari cukup terang, saya mengerti kenapa masyarakat lokal menamainya seperti itu karena memang terlihat seperti kepala kuda. 

Saya mengeluarkan cokelat dari dalam tas dan menikmatinya sambil duduk di atas bongkahan batu besar. Seketika angin kencang datang dan kabut menyelimuti seluruh pandangan kami. Kerlap kerlip lampu kota Brastagi dan Kabanjahe, kini tak terlihat lagi.



Saya sedikit kecewa karena itu artinya kami kurang beruntung untuk mendapatkan pemandangan matahari terbit pagi itu karena Gunung Sibayak dilingkupi kabut yang tebal.

Namun, semesta ternyata berkata lain.

Menjelang pukul enam, segaris warna jingga tampak di ujung mata. Kabut mulai menipis sedikit demi sedikit hingga akhirnya cahaya keemasan terasa silau di mata dan cahaya hangatnya membelai pipi.

Semesta sungguh baik.

Menikmati matahari pagi di Gunung Sibayak. Di ujung sana lah puncak yang namanya "Takal Kuda".





Tentu saya tidak mau menyia-nyiakan waktu dan mengabadikan momen matahari terbit di Gunung Sibayak. Namun momen yang hangat dan menyenangkan itu hanya berlangsung sebentar saja karena kabut kembali menyelimuti pemandangan. Saya dan tim #LastPlaceOnEarthChallenge menyempatkan diri berfoto bersama sebelum berjalan turun.

Sean dan Roy Sitepu

Crazy girls on mountain. Satya - Princess Sher - Mil - Angie

Garry - Princess Sher - Angie - Brendan - Mil - Satya - Sean

Pak Sitepu mengajak kami menyambangi kawah sebentar sebelum kembali pulang ke Berastagi. Kepulan asap belerang membumbung tinggi membuat Gunung Sibayak terlihat gagah sekali. Pemandangan dan bentang alamnya mirip dengan Gunung Papandayan di Jawa Barat.







Area kawah Gunung Sibayak adalah spot yang paling sering dijadikan tempat mendirikan tenda karena cerukan itu melindungi camp dari angin kencang. Hanya sedikit bising karena suara deru belerang yang keluar dari cerobong bumi.

Satu yang saya sayangkan adalah masih banyak sampah di jalur pendakian Gunung Sibayak.

Pak Sitepu yang saya ajak berbincang tentang sampah ini juga menyayangkan perilaku pendaki yang tidak mau membawa sampahnya turun.

“Padahal baru minggu lalu kami melakukan operasi semut di sini bersama pemandu gunung yang lain dan anak-anak muda setempat. Sekarang sudah ada lagi sampahnya”, ujarnya sambil menghela nafas panjang.

Sampah yang kami bawa turun dari Gunung Sibayak


Saya tidak membawa trash bag jadi sampah-sampah yang saya temukan di jalur turun saya kantongi terlebih dahulu dan digenggam di tangan. Hingga Pak Sitepu menemukan satu kantong plastik yang cukup besar yang kami pakai untuk memungut sampah lebih banyak.

Apa ya susahnya membawa turun sampah sendiri? Kan sampah itu ringan, tidak akan menjadi beban dan memberatkan langkahmu di perjalanan. Iya kan? Janganlah enteng membuang sampah di gunung dan berpikir ada orang lain yang akan membersihkan dan membawanya turun. Ayolah teman-teman, jadilah pendaki yang bertanggung jawab ya.

Saat perjalanan turun dengan penuh sampah di tangan, saya masih bisa menikmati perjalanan dengan melihat Gunung Sinabung yang berdiri megah dan agung di kejauhan. Ia belum berhenti “batuk” hingga saat ini padahal sudah beberapa tahun berlalu.

Bisakah kau lihat Gunung Sinabung di kejauhan?


Sekitar pukul delapan kami sudah tiba lagi di parkiran mobil dan kembali ke hotel untuk bersiap melanjutkan perjalanan ke Aceh.


Sampai jumpa lagi, Gunung Sibayak! Mejuah-juah!


Tips Mendaki Gunung Sibayak :


1. Jika ingin mendirikan camp, bawalah perlengkapan yang baik, bawa tenda, sleeping bag, alat masak dll. Tidak ada sumber air jadi persiapkan persediaan air yang cukup ya.

2. Jika hanya ingin mendaki untuk melihat matahari terbit, bisa mulai mendaki pukul empat pagi. Sunrise di puncak Gunung Sibayak biasanya pukul 06.00 WIB. Bawalah daypack yang berisi air mineral, cemilan dan kebutuhan pribadi yang kamu anggap penting.

3. Pakailah pakaian mendaki yang baik. Kalau bisa hindarilah mendaki pakai sandal jepit karena akan membahayakan kaki. Meski jalur Gunung Sibayak tergolong singkat, ingat, jangan pernah menyepelekan alam.

4. Agar dekat dengan pintu pendakian Gunung Sibayak, bisa memilih penginapan di sekitar Kota Berastagi. Dari kota Berastagi, butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai di pintu masuk Sibayak. Tidak ada angkutan umum saat subuh jadi lebih baik menyewa kendaraan pribadi entah motor atau mobil.

5. Ingatlah untuk selalu membawa turun semua sampah logistik yang kamu bawa ya. Be a responsible traveler!

Cheers,


Sunday, September 17, 2017

Maesa Elephant Camp Chiang Mai, Rumah yang Ramah untuk Gajah

Sunday, September 17, 2017 14 Comments


Terekam jelas di ingatan saat saya berkunjung ke Way kambas dua tahun silam. Hati saya teriris miris melihat gajah yang ada di sana dirantai berlima dalam satu iringan dan digerakkan dengan memukul kepalanya dengan gancu. Entahlah apa kondisinya sudah berubah sekarang karea saya berkunjung dua tahun lalu. 

Mungkin kalian bisa mengatakan saya berlebihan namun gajah-gajah di Way Kambas sama sekali tidak terlihat bahagia (dari kacamata saya pribadi). Saat saya ingin berfoto dengan gajah, pawangnya memukul mukul kepala gajah dengan gancu nya agar sang gajah duduk dan mengangkat belalainya. Pembelaannya adalah gajah tidak merasa sakit karena kulit mereka keras. Pukulan seperti itu hanya terasa seperti dicolek katanya. Tapi entah mengapa, memukul ya tetap memukul. Kejam.

Kondisi yang sangat berbeda saat saya mengunjungi Maesa Elephant Camp di Chiang Mai, Thailand. Lokasinya di tengah pegunungan yang bisa ditempuh sekitar 1,5 jam berkendara dari pusat kota Chiang Mai.

Hujan turun cukup deras ketika kami tiba di sana dan waktu itu saya mengira bahwa kami tidak akan jadi mengunjungi gajah-gajah di sana. Mungkin karena hujan mereka semua dimasukkan ke kandangnya. Mungkin kan?

Namun ternyata tak lama setelah kami tiba, hujan mereda. Petugas Maesa menyediakan payung untuk tiap-tiap orang lalu memandu kami ke spot pertama yakni Elephant Nursery di mana induk gajah dan bayi-bayi gajah dirawat. Ya, bayi-bayi gajah memang membutuhkan perhatian khusus dan harus selalu dekat dengan ibunya bukan?

Elephant Nursery ini menjadi tempat favorit saya di Maesa Camp. Tentu saja karena saya bisa melihat bayi-bayi gajah yang menggemaskan. Namun saya baru tahu tidak sembarang orang bisa memegang bayi gajah. Ternyata alasannya adalah kita manusia bisa menularkan penyakit ke bayi gajah karena sistem imun / kekebalan tubuh mereka belum sepenuhnya baik. Jadi kita tidak diperbolehkan untuk terlalu dekat dengan bayi gajah meski betapa menggemaskan pun mereka.  Saat itu kami berlima dan hanya dua orang yang diperbolehkan menyentuh dan bermain dengan Beruntungnya saya punya teman-teman yang baik dan tahu saya suka gajah sehingga mereka memperbolehkan saya bermain sebentar dengan bayi gajah. Waktu itu tak terkatakan senangnya bisa bermain dengan gajah yang menggemaskan.

Bayi gajah yang super menggemaskan! 


Saya peluk-peluk bayi gajah yang gempal itu dan sedikit lupa bahwa meski baru berumur 10 bulan, dia lebih berat dari saya dan jika saya ditindih olehnya pasti sakit juga. Saat hasrat ingin memeluk begitu besar, bayi gajah ini malah senang menyeruduk dan menyemprot lumpur. Kami hanya bisa tertawa-tawa karena memang itulah yang selalu dilakukan bayi, bermain sepanjang waktu hingga lelah, minum susu dan tidur.

Tak berlama-lama di Elephant Nursery, sang pemandu mengajak kami ke area Elephant Show karena pertunjukan akan segera dimulai. Hujan masih mengguyur sehingga semua orang memakai payung di arena semi-outdoor. Ternyata banyak sekali pengunjung yang sudah berkumpul dan memakai jas hujan duduk mengitari arena pertunjukan. Tempat yang tadinya sudah di-reserved untuk kami sudah diduduki turis lain. Kami mengalah dan akhirnya tetap menonton pertunjukan sambil jongkok.



Kekaguman saya terhadap Maesa Elephant Camp dimulai dari pertunjukan ini. Gajah-gajah yang berumur sekitar 15-30 tahun masuk ke arena dengan arahan mahout nya (pawang gajah). Sang mahout berjalan di depan gajah namun ada juga mahout yang menungganginya. Sang mahout berbisik di telinga gajah dan setelahnya sang gajah melakukan atraksi nya, entah itu bermain topi, bermain bola, bermain musik bahkan melukis.

Gajah-gajahnya bermain bola bersama dan bergantian tugas menjadi striker dan kiper.

Kapankah saya bisa melukis sejago gajah?

Gajah-gajah ini juga jago sekali melempar panah untuk memecahkan balon.

Aura nya berbeda sekali, seolah olah yang sedang tampil adalah sepasang kawan, sepasang sahabat yang bisa saling mengerti meski tak menggunakan bahasa yang sama. Tiada suruhan dan paksaan dengan pukulan dan cambukan. Mereka terlihat sangat kompak, mahout yang bermuka ceria dan gajah yang sangat sehat.

Apalagi saat gajah melukis, sang mahout berdiri di sebelahnya sambil menenteng sebuah kotak kecil berisikan ragam kuas dan membantu mencelupkan kuas itu ke dalam cat sebelum si gajah akhirnya menggoreskan kuas itu ke kanvas putih. Hasil lukisan gajah-gajah itu bahkan lebih bagus dari hasil lukisan saya (ya karena saya tidak bisa menggambar hahahaha).

Pengunjung juga diperbolehkan memberi makan gajah dengan membelinya terlebih dahulu. Sepaket pisang dan tebu dihargai 40 baht ( 1 baht = Rp 300 ). Ada satu pondok yang menjual pakannya di dekat area pertunjukan.



Seusai pertunjukan, kami sebenarnya ditawari untuk menaiki gajah alias Elephant Safari namun tak ada yang mau. Yah kami merasa bersalah jika harus membuat sang gajah membawa beban yang berat di punggungnya alias kami. Meski gajah-gajah di Maesa sudah diatur jam kerjanya hanya 4 jam sehari dan juga ditentukan bobot maksimal yang ia bawa di punggungnya, kami tetap merasa tidak enak.

Safari gajah dan gajahnya sekalian membawa makanannya.


Akhirnya kami diajak berkeliling lagi ke lokasi berikutnya yakni Maesa Elephant Care Center yang juga masih bagian dari Maesa Elephant Camp namun khusus untuk gajah-gajah yang sudah lanjut usia dan juga tempat perawatan gajah-gajah yang sakit sekaligus menjadi area pemakaman gajah.

Gajah-gajah yang ada di area ini sudah berumur di atas 45 tahun yang berarti masa produktif nya sudah selesai. Mereka sudah tidak bekerja lagi dan hanya bersantai di dalam kandang dan menunggu mahout membawakan makanannya, rumput, tebu dan pisang.

1 mahout biasanya mendampingi satu ekor gajah. Namun di Maesa satu gajah bisa dijaga beberapa mahout.


Meski terlihatnya sederhana, di Maesa Elephant Camp ini terdapat orang-orang yang bertanggung jawab untuk meracik makanan gajah, memperhatikan dan mengecek kesehatan gajah-gajah lansia itu secara berkala. Ada Veterinarian atau dokter hewan, Master Herbal dan juga Animal Husbandry.

Kami berkeliling sambil membawa dua keranjang berisi pisang yang dijual di Maesa dan memberikannya satu-satu kepada gajah yang ada di sana. Namun, kita tidak diperbolehkan memberikan makanan kepada gajah jika tidak ada mahout yang mendampingi.

Gajah lansia dan mahout yang sudah lansia juga.


Tak disangka setelah lebh 30 tahun lebih, 4 gajah yang dulunya dipinjam dari suku Karen, sudah berkembang menjadi keluarga gajah yang besar. Empat gajah pertama sudah tiada dan dimakamkan di pekuburan gajah yang masih berada di area Maesa Elephant Camp. Di atas tanah terdapat nisan dari kayu yang bertuliskan nama si gajah, tanggal lahir dan tanggal berpulangnya.

Jika tinggal lebih lama saya ingin sekali mendengar banyak cerita dari mahout-mahout di Maesa Elephant Camp karena mereka pasti punya banyak sekali cerita menarik tentang pengalaman mereka menjaga gajah. Biasanya satu mahout menjaga satu ekor gajah namun di Maesa, satu gajah bisa dijaga beberapa mahout. Jadi menyenangkan sekali mengetahui bahwa sumber daya manusia nya sangat lebih dari cukup dan tak ada satu pun gajah yang terbengkalai.

Feel the love, spread the love to the animals... Ingatlah gajah itu makhluk yang pintar dan perasa... (Photo by : @yukianggia )


Nah, tadi sudah cerita tentang Maesa Elephant Camp dan sekarang saya mau berbagi sepuluh fakta tentang gajah ;

1.    Gajah yang baru lahir bobotnya bisa mencapai 75 -100 kilogram sedangkan gajah dewasa bobotnya bisa mencapai 5 ton.
2.   Gajah adalah binatang yang perasa dan sangat pintar serta pengingat yang baik. Dia bisa dengan sangat cepat mengidentifikasi orang-orang yang berniat jahat kepadanya atau kepada gajah lainnya.
3.     Nafsu makan gajah sangat besar sehingga dalam satu hari dia bisa memakan 250 kilogram tumbuhan dan minum 80 liter air.
4.     Gajah adalah hewan sosialis dan tinggal dalam grup. Jarang sekali ada gajah yang hidup sendirian.
5.     Gajah itu buta warna namun mahir melukis. Wah kok bisa ya!
6.   Belalai gajah terdiri dari ribuan otot dan belalainya tidak pernah berhenti bergerak kecuali saat dia sedang tidur.
7. Gajah punya bulu mata yang panjang dan kelopak yang berkerut-kerut sehingga membuat penglihatannya terbatas dan gajah tidak bisa menoleh terlalu banyak.
8.     Meski berat bobotnya, gajah bisa duduk dan melipat kaki layaknya manusia lho.
9.  Gading gajah bobotnya bisa mencapai 5 kilogram satunya, jadi dua gadingnya bisa berbobot 10 kilogram.
10. Gajah sangat suka mengobrol dengan teman-temannya dan memiliki 30 ragam suara yang tentunya hanya dimengerti oleh gajah. Hahaha.

Nah, kalau teman teman mau mengunjungi Maesa Elephant Camp bisa langsung datang ke sana dan lihat sendiri betapa gajah-gajah di sana cerah ceria dan ditemani mahout yang ramah. Bisa juga cek website Maesa Elephant Camp buat info lengkapnya ya.

Patty @patrishiela senang sekali bisa memberi makan pisang untuk gajah-gajah di Maesa. 


Cheers,



Follow Us @satyawinnie