Saturday, August 12, 2017

# Abroad # Thailand

Mimpi yang Terwujud, Bikin Kerajinan Perak di Shannta Bangkok.



Saat berkunjung ke Kota Gede di Yogyakarta atau Batubulan di Bali, yang terkenal sebagai tempat kerajinan perak, saya berangan-angan ingin suatu waktu nanti mencoba membuat kerajinan perak sendiri. Namun akhirnya keinginan tersebut terwujud di…. Bangkok!

Sebenarnya nggak masalah mau di mana saja tempatnya yang penting bisa belajar bikin kerajinan perak. Senangnya ketika kemarin diajak jalan sama @wisatathailand , saya dan lima teman perempuan super asyik diberitahu bahwa kita akan membuat prakarya dari bahan perak. Tentu kami semua kesenengan dan sangat bersemangat untuk membuat kerajinan nya.

Tapi begitu tiba di tempat kerajinannya, semua bingung dan linglung. Loh loh loh. Kenapa?

Karena semuanya diminta menggambar sendiri desain ‘pendant’ nya padahal kami baru bangun tidur (tidur di dalam mobil maksudnya). Alhasil linglung bingung mau gambar apa, nyawa saja belum ngumpul, begitu mungkin istilahnya.

Sebenarnya ada album yang menunjukkan hasil-hasil foto kerajinan perak yang sebelumnya. Jadi lihat-lihat siapa tahu ada yang cocok kan dengan selera. Namun hingga sepuluh menit berlalu semuanya masih pusing dan malah tertawa-tawa satu sama lain.

Yuki sedang mencetak desain 'mamoli' dari Sumba yang jadi lambang kesuburan.


Akhirnya saya memutuskan untuk membuat ‘pendant’ perak dengan bentuk nama saya dalam bahasa Sanskrit, Yuki buat desain ‘mamoli’ dari Sumba, Sharon buat desain bunga, Mariza buat desain huruf f (yang mungkin nama gebetannya hahahaha) dan Patty buat lingkaran dengan ukuran namanya.

Nah, bagaimana sebenarnya proses membuat ‘pendant’ perak ini?

Dibandingkan dengan yang saya lihat di Kotagede dan Batubulan, proses membuat perak di Bangkok ini lebih mudah. Mungkin supaya semua orang bisa membuatnya ya.

Awalnya kami diminta untuk menggambar di atas kertas, desain yang sudah kami pilih. Langkah selanjutnya adalah menjiplak gambar itu di atas clay khusus berwarna abu-abu yang sudah dipipihkan. Setelah tercetak di atas clay, kami diminta membuat ‘dot’ atau titik-titik di sepanjang garis gambar kami agar memudahkan untuk dipotong.

Memotong clay ini saya akui menjadi bagian tersulitnya.


Proses memotong ini yang agak sedikit rumit karena sambil menahan nafas agar potongannya presisi. Apalagi ukurannya kecil kan jadi akan rumit sekali memotongnya. Contohnya saja punya saya yang bentuk desain hurufnya meliuk-liuk seperti cacing, memotongnya benar-benar butuh konsentrasi penuh. Tapi meski sudah begitu ada garis yang terlalu tipis dipotongnya dan akhirnya harus ditambah clay alias ditambal karena kalau ketipisan, clay nya akan hancur ketika dibakar nanti.

Sekitar 40 menit lah waktu yang kami habiskan untuk menggambar, menjiplak, membuat dot, memotong clay hingga siap untuk dibakar dan dilapisi perak. Sayangnya saat proses pelapisan peraknya, kita tidak dilibatkan. Staff dari Shannta sendiri yang akan membakar “pendant” nya. Kami diminta menunggu selama satu jam hingga proses nya selesai dan dalam kurun waktu itu kami pakai untuk berkeliling Siam Street, jajan di Mango Tango, minum kopi, beli masker dan lain-lain. Perempuan oh perempuan. Hahahaha.

Jika saja bukan karena hujan, pasti semua keasyikan jalan-jalan di Siam Street. Syukurlah kami tiba tepat waktu di Shannta Silver untuk melihat hasil karya kami. A masterpiece! (lagaknya luar biasa ya).

Reaksi pertama kami begitu melihat ‘pendant’ perak buatan kami adalah…

“Whooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooa…..”

Panjang sekali.

Semuanya terkejut karena hasilnya ternyata jadi bagus sekali padahal rasa-rasanya kami menggambar dengan nyawa belum sepenuhnya terkumpul, motongnya ketipisan dan ada aja lagi yang lainnya.

“Bunga gue kok jadi cantik banget begini ya, pasti ini dibikin cantik sama Mbak nya nih” celoteh Sharon.

Hasil karya Sharon nih. Cantik sekali ya <3


Kami tertawa-tawa sambil tetap memandang takjub hasil karya masing-masing. Ditaruh di atas kotak hitam beralaskan beludru, menambah kesan mewah ‘pendant’ perak yang kami buat. Langsung dengan gembira dan bangga, semuanya mengenakan kalung masing-masing.

Duh rasanya kepingin bikin lagi ‘pendant’ dengan motif yang lain. Sayangnya teringat kalau harganya nggak terhitung murah. Untuk satu pembuatan kalung perak, dibanderol dengan harga 1800 baht (kurs 1 Baht = Rp 100 ) atau kurang lebih Rp 720.000,-. Wah lumayan juga ya. Tapi ya namanya perak asli, mana ada yang murah sih.



Jika tidak ingin membuat sendiri pun, ada banyak pilihan perhiasan perak yang bisa kita beli. Kisaran harga mulai Rp 200.000,- hingga jutaan rupiah. Ada beberapa juga yang saya taksir namun begitu lihat dompet… Yaaaaaa… Cukup berpuas saja dulu dengan yang ada. Hahahaha.




Yang jelas saya sangat menyukai dan menyayangi kalung perak bikinan saya ini hingga sampai sekarang masih menjadi kalung favorit yang saya pakai sehari-hari.

Kalau teman-teman juga mau mencoba membuat ‘pendant’ perak sendiri, bisa datang ke “Shannta Silver” di Bangkok Art & Culture Centre yang lokasinya tepat di samping MBK. Siapa tahu mau memberi kejutan untuk yang tersayang atau kejutan untuk diri sendiri.

Khob Khun Krap!




2 comments:

  1. Baca ini aku baru sadar kalau tidak jauh di tempatku ada lokasi khusus membuat kerajinan Perak. Di Jogja, Kotagede menjadi sentra pembuatan perak. Di Jepara, daerah Kriyan yang selalu kulewati merupakan sentra perak juga. Dan aku belum sekalipun mencoba melihat pembuatannya.

    *Dapat ide buat blusukan ke sana :-D

    ReplyDelete
  2. hasilnya memuaskan semua, ya. andaikan kita dikasih bikin cincin juga, hahaha mintanya banyak. :P

    ReplyDelete

Apa yang terpikir di benakmu setelah membaca tulisan ini? Share dong :)

Follow Us @satyawinnie