Monday, August 21, 2017

Menginap Gratis di Hotel Unik, Summerbird Bed & Brasserie Bandung

Monday, August 21, 2017 10 Comments

Bandung oh Bandung, tak pernah habis-habis kreativitas orang-orangnya untuk membuat dan mengembangkan sesuatu yang unik, entah itu hotel, café & resto, butik, co-working space, warung kopi dan masih banyak lagi.

Instagram-able Spot!

Contohnya saja Summerbird Bed & Brasserie yang acap kali muncul di social media platform saya. Interiornya yang unik membuat banyak teman-teman ingin menginap dan posting foto-foto ciamik. Siapa sih yang tidak suka ber-selfie di sudut-sudut cantik atau latar belakang dinding yang unik? Setiap lantai dan kamar nya instagram-able banget.




Keinginan untuk staycation di sini sih sudah cukup lama, tapi baru saja kemarin kesampaian untuk menginap. Banyaknya ulasan baik dan rating yang sangat bagus membuat saya ingin merasakan sendiri pengalaman menginap di hotel ini.

Sesampainya di hotel, resepsionis Summerbird Bed & Brasserie sangat ramah dan santun melayani ketika saya check-in. Bener aja, saya sudah menangkap intagram-able spot di lobinya. Walau tidak terlalu besar, lobi tetap terlihat ciamik dengan interior yang ditata apik. Oh ya, yang menarik dari Summerbird hotel ini adalah tema kamarnya yang berbeda-beda hingga mereka punya slogan “Each room is unique, just like you”.



Hotel 3 lantai ini memiliki 28 kamar yang dibagi menjadi 4 tema besar, “Rustic”, “French”, “Vintage” & “Scandinavian”. Tiap-tiap tema itu pun dibagi lagi seperti “French Room – Tea Flavor”, “Vintage Room – Chocolate Flavor”, “Rustic Room – Coffee Flavor”, dan “Scandinavian Room – Milk Flavor”. Saya sendiri mendapatkan kamar “Vintage Room – Chocolate Flavor” dengan twin bed.

Begitu masuk ke kamar, saya langsung jatuh cinta dengan kasurnya yang besar, empuk dilapisi bedcover yang eyecatchy. Duh, saya malah jadi kepengen tanya staffnya beli bedcover di mana. Hahahaha. Ternyata tiap-tiap kamar di Summerbird, bedcover nya juga berbeda-beda. Unik kan?



Makin unik lagi karena kamar mandinya dengan kamar hanya dipisahkan kaca besar yang transparan. Wah, kalau sedang pakai toilet atau mandi kelihatan jelas dong? Ya itu pilihan sih. Kalau nyaman dengan kaca menerawang begitu ya silahkan. Apalagi kalau menginap sendiri, siapa yang mau lihat? Hahaha. Tapi kalau tidak nyaman, tenang saja, ada tirai besar yang bisa kita turunkan untuk menutupi semua bagian kaca. Aman kok.

Café with Good Coffee

Nah untuk sarapan, sudah termasuk dalam harga yang kita bayar. Sarapan tersedia di café lantai dasar jam 6.30 hingga 10.00 pagi. Sarapan nya a-la carte dengan menu yang bisa dipilih adalah English Breakfast, Nasi Goreng atau Mie Goreng. Tersedia juga buffet yang menyajikan bubur ayam dan roti dengan beragam selai yang bisa kita makan sepuasnya, sekenyangnya. Menu makanannya kita pilih, begitu juga minumannya yang pilihannya ada susu, jus, teh atau kopi. Kopi nya beneran enak lho dan dibuat oleh barista sungguhan nan handal meracik. Saya suka sekali Cappucino nya. Cobain deh!





Kalau tidak menginap di hotel ini pun, kita tetap bisa mencicipi menu-menu café nya dengan kisaran harga menunya Rp20.000 – 80.000. Masih terjangkau kan ya? Makanya kemarin setelah check out dari hotel, saya memilih untuk duduk manis di café nya sambil minum kopi dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Cafenya nyaman dengan sofa empuk yang bikin kita betah buat duduk seharian. Apalagi ditambah Wi-Finya yang kencang.



Senang sekali akhirnya kesampaian staycation di hotel unik ini. Dari pengalaman pribadi, hotel ini saya beri rating 9/10. Perjalanan ini makin menyenangkan karena staycation saya kali ini gratis tis tis karena pakai Traveloka.  Loh kok bisa?

Pakai Pointnya!

Ya bisa dong karena saya pakai Traveloka Loyalty Points. Traveloka memang jadi aplikasi andalan saya saat traveling, terutama buat booking tiket pesawat dan hotel. Misal saja waktu saya membeli tiket dari Medan ke Bandung, setelah transaksi selesai saya mendapatkan 97 points. Nah, karena sesering itu pakai Traveloka App untuk beli tiket pesawat, tiket kereta api dan booking hotel, poin saya sekarang sudah terkumpul 10571 poin atau setara dengan Rp 1.057.100.

Dengan point segitu, tandanya saya sudah bisa me-redeem. Asyikkkkkk! Nah, karena kemarin udah terlalu ngiler untuk menginap di Summerbird Bed & Brasserie, saya pun memutuskan redeem point untuk booking hotel. Harga kamar yang hanya Rp 400.000an ini ternyata bisa saya bayar semua dengan point, alhasil penginapan ini pun gratis! Eh, kalau kalian mau redeem pembayaran yang melebihi point yang dipunya juga bisa kok. Nantinya point akan jadi potongan harga dalam pembayaran.

Kalau weekend agak susah dapat kamar di Summerbird Bed & Brasserie ini. Syukur masih ada di hari Minggu...

Isi detail data diri lalu pilih ke pembayaran, scroll ke bawah untuk lihat poinnya...

Kalau poinnya lebih banyak daro harga hotelnya, kita nggak perlu bayar lagi alias gratis... Yeaayyy!!!


Teman-teman juga bisa ngumpulin Traveloka point ini asalkan sudah install Traveloka App dan selalu log in tiap kali melakukan transaksi pembelian. Point yang akan didapat beda-beda, semua tergantung dari transaksi apa yang kamu lakukan. Dari pengalaman saya, dengan booking hotel kita bisa dapet lebih banyak point dibanding point yang didapat saat booking tiket pesawat. Kalau mau pointnya lebih cepat terkumpul sih, kamu bisa jadi volunteer untuk booking-in keperluan keluarga saat liburan, hahaha.

Oh iya. Poin yang terkumpul itu masa berlakunya satu tahun. Nah makanya saya harus segera menukarkan poinnya sebelum hangus. Sayang banget kan kalau point yang terkumpul enggak dimanfaatkan. Liburan murah bin gratis kok disia-siakan…….

Caranya redeemnya mudah kok, kita hanya perlu melakukan pembelian seperti biasa dengan memilih maskapai atau hotel apa yang ingin dibeli. Setelah memilih, kita bisa langsung melakukan pembayaran. Cek dulu apakah point kita sudah cukup untuk ditukarkan, kita butuh minimum 2500 point untuk memesan tiket pesawat dan 1000 point untuk booking hotel. Jika memang cukup, pilih “Redeem point” atau “Tukar Poin” saat akan membayar. Setelah proses selesai kita hanya perlu menunggu email konfirmasi dan voucher tiket!

Coba cek dulu gih jumlah point kamu. Siapa tahu kamu belum sadar kalau jumlah Traveloka Point nya sudah banyak dan belum ditukarkan sampai sekarang. Lumayan kan dapat gratisan atau diskon untuk transaksi selanjutnya. Kalau masih kurang jelas soal Traveloka Loyalty Point ini, kamu bisa buka website Traveloka untuk lihat syarat dan ketentuan nya atau tanya jawab langsung di sana.

Staycation di hotel memang bisa dijadikan pilihan saat ingin beristirahat namun tak ingin pergi ke tempat yang terlalu jauh. Nah, Summerbird Bed & Brasserie ini pasti cocok buat teman-teman yang ingin berlibur ke Bandung sekalian photo hunting hotel yang unik. Selamat berlibur yaaaaaa!

Cheers,









Saturday, August 12, 2017

Mimpi yang Terwujud, Bikin Kerajinan Perak di Shannta Bangkok.

Saturday, August 12, 2017 4 Comments


Saat berkunjung ke Kota Gede di Yogyakarta atau Batubulan di Bali, yang terkenal sebagai tempat kerajinan perak, saya berangan-angan ingin suatu waktu nanti mencoba membuat kerajinan perak sendiri. Namun akhirnya keinginan tersebut terwujud di…. Bangkok!

Sebenarnya nggak masalah mau di mana saja tempatnya yang penting bisa belajar bikin kerajinan perak. Senangnya ketika kemarin diajak jalan sama @wisatathailand , saya dan lima teman perempuan super asyik diberitahu bahwa kita akan membuat prakarya dari bahan perak. Tentu kami semua kesenengan dan sangat bersemangat untuk membuat kerajinan nya.

Tapi begitu tiba di tempat kerajinannya, semua bingung dan linglung. Loh loh loh. Kenapa?

Karena semuanya diminta menggambar sendiri desain ‘pendant’ nya padahal kami baru bangun tidur (tidur di dalam mobil maksudnya). Alhasil linglung bingung mau gambar apa, nyawa saja belum ngumpul, begitu mungkin istilahnya.

Sebenarnya ada album yang menunjukkan hasil-hasil foto kerajinan perak yang sebelumnya. Jadi lihat-lihat siapa tahu ada yang cocok kan dengan selera. Namun hingga sepuluh menit berlalu semuanya masih pusing dan malah tertawa-tawa satu sama lain.

Yuki sedang mencetak desain 'mamoli' dari Sumba yang jadi lambang kesuburan.


Akhirnya saya memutuskan untuk membuat ‘pendant’ perak dengan bentuk nama saya dalam bahasa Sanskrit, Yuki buat desain ‘mamoli’ dari Sumba, Sharon buat desain bunga, Mariza buat desain huruf f (yang mungkin nama gebetannya hahahaha) dan Patty buat lingkaran dengan ukuran namanya.

Nah, bagaimana sebenarnya proses membuat ‘pendant’ perak ini?

Dibandingkan dengan yang saya lihat di Kotagede dan Batubulan, proses membuat perak di Bangkok ini lebih mudah. Mungkin supaya semua orang bisa membuatnya ya.

Awalnya kami diminta untuk menggambar di atas kertas, desain yang sudah kami pilih. Langkah selanjutnya adalah menjiplak gambar itu di atas clay khusus berwarna abu-abu yang sudah dipipihkan. Setelah tercetak di atas clay, kami diminta membuat ‘dot’ atau titik-titik di sepanjang garis gambar kami agar memudahkan untuk dipotong.

Memotong clay ini saya akui menjadi bagian tersulitnya.


Proses memotong ini yang agak sedikit rumit karena sambil menahan nafas agar potongannya presisi. Apalagi ukurannya kecil kan jadi akan rumit sekali memotongnya. Contohnya saja punya saya yang bentuk desain hurufnya meliuk-liuk seperti cacing, memotongnya benar-benar butuh konsentrasi penuh. Tapi meski sudah begitu ada garis yang terlalu tipis dipotongnya dan akhirnya harus ditambah clay alias ditambal karena kalau ketipisan, clay nya akan hancur ketika dibakar nanti.

Sekitar 40 menit lah waktu yang kami habiskan untuk menggambar, menjiplak, membuat dot, memotong clay hingga siap untuk dibakar dan dilapisi perak. Sayangnya saat proses pelapisan peraknya, kita tidak dilibatkan. Staff dari Shannta sendiri yang akan membakar “pendant” nya. Kami diminta menunggu selama satu jam hingga proses nya selesai dan dalam kurun waktu itu kami pakai untuk berkeliling Siam Street, jajan di Mango Tango, minum kopi, beli masker dan lain-lain. Perempuan oh perempuan. Hahahaha.

Jika saja bukan karena hujan, pasti semua keasyikan jalan-jalan di Siam Street. Syukurlah kami tiba tepat waktu di Shannta Silver untuk melihat hasil karya kami. A masterpiece! (lagaknya luar biasa ya).

Reaksi pertama kami begitu melihat ‘pendant’ perak buatan kami adalah…

“Whooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooa…..”

Panjang sekali.

Semuanya terkejut karena hasilnya ternyata jadi bagus sekali padahal rasa-rasanya kami menggambar dengan nyawa belum sepenuhnya terkumpul, motongnya ketipisan dan ada aja lagi yang lainnya.

“Bunga gue kok jadi cantik banget begini ya, pasti ini dibikin cantik sama Mbak nya nih” celoteh Sharon.

Hasil karya Sharon nih. Cantik sekali ya <3


Kami tertawa-tawa sambil tetap memandang takjub hasil karya masing-masing. Ditaruh di atas kotak hitam beralaskan beludru, menambah kesan mewah ‘pendant’ perak yang kami buat. Langsung dengan gembira dan bangga, semuanya mengenakan kalung masing-masing.

Duh rasanya kepingin bikin lagi ‘pendant’ dengan motif yang lain. Sayangnya teringat kalau harganya nggak terhitung murah. Untuk satu pembuatan kalung perak, dibanderol dengan harga 1800 baht (kurs 1 Baht = Rp 100 ) atau kurang lebih Rp 720.000,-. Wah lumayan juga ya. Tapi ya namanya perak asli, mana ada yang murah sih.



Jika tidak ingin membuat sendiri pun, ada banyak pilihan perhiasan perak yang bisa kita beli. Kisaran harga mulai Rp 200.000,- hingga jutaan rupiah. Ada beberapa juga yang saya taksir namun begitu lihat dompet… Yaaaaaa… Cukup berpuas saja dulu dengan yang ada. Hahahaha.




Yang jelas saya sangat menyukai dan menyayangi kalung perak bikinan saya ini hingga sampai sekarang masih menjadi kalung favorit yang saya pakai sehari-hari.

Kalau teman-teman juga mau mencoba membuat ‘pendant’ perak sendiri, bisa datang ke “Shannta Silver” di Bangkok Art & Culture Centre yang lokasinya tepat di samping MBK. Siapa tahu mau memberi kejutan untuk yang tersayang atau kejutan untuk diri sendiri.

Khob Khun Krap!




Friday, August 11, 2017

Belajar Masak Kuliner Thailand di Bangkok Yuk!

Friday, August 11, 2017 6 Comments




Tak hanya sekedar 
temple hoppingshopping baju-baju cantik dan wisata kuliner, Thailand menawarkan banyak aktivitas menarik yang bisa kamu coba seperti cooking class. Sepertinya seru ya jika bisa belajar memasak kuliner Thai langsung dari master chef nya.


Bersama teman-teman yang lain, kami menyambangi Amitha Cooking School, salah satu sekolah masak tertua di Bangkok. Sang empunya yang lebih senang dipanggil Tam menyambut kami dengan sangat ramah sesaat setelah turun dari kapal yang berhenti langsung di beranda belakang rumahnya. Ya, di Thailand hampir semua rumah di pinggir sungai punya dermaga kecil di belakang atau depan rumah. Jadi transportasi air bisa jadi opsi ketika malas menghadapi jalur darat dan macet yang sudah sama padatnya dengan Jakarta.

Seru juga ternyata bawa perahu di Chao Phraya xD

“Saya tak suka bangunan tinggi yang jelek itu” kata Tam sambil menunjuk gedung tinggi ketika kami sudah duduk di beranda belakang rumahnya. Memang halaman Tam dipenuhi dengan beragam pohon buah dan bunga-bunga yang cantik. Ia berujar bahwa pohon-pohon tinggi itu ditanam agar gedung-gedung bertingkat pencakar langit itu tidak terlihat sehingga ia tetap bisa menikmati keasrian Bangkok seperti zaman dahulu.

Sebelum kami memulai kelas memasak, kami dikenalkan dengan dua peliharaan kesayangan Tam yaitu burung beo nya yang bernama Bezo dan ayam jantan kate nya yang bernama Iyuk. Sambil meneguk minuman segar racikan Tam, jeruk nipis dan sereh, kami berbincang-bincang dengan sosok chef yang terlihat sangat halus dan bijaksana dari raut wajahnya.



Meski sudah berjalan dengan tongkat, Tam sangat bersemangat saat mengajak kami ke halaman belakangnya dan mencicipi tiap-tiap daun yang akan kami pakai sebagai bumbu masak. Semua tanamannya organik dan terawat dengan baik. Dibantu asistennya, Tam mempresentasikan tiap-tiap bahan dengan penuh semangat. Mendengarkannya sambil menikmati kebunnya, membuat saya juga ingin nantinya punya kebun kecil untuk menanam tanaman yang bisa menjadi bumbu masakan atau apotek hidup.



Kelas memasak berlangsung di satu ruangan semi outdoor dengan delapan set kompor di atas meja-meja kecil. Sebelum memulai masak sendiri, kami duduk mengelilingi Tam yang mempresentasikan bahan dan cara memasak empat menu yang akan dimasak nanti.  Nonton cooking show live nih.





Empat menu yang akan dipelajari adalah ‘Chicken Satay’, ‘Khao Man Som Tum’, ‘Khang Keaw Wan Gai’ dan ‘Khao Niew Ma Muang’. Nggak ketinggalan juga belajar memasak sticky rice / ketan yang tersohor dari Thai itu. Tapi bedanya, kita diajarin memasak coloured sticky rice.

Pepaya Serut Muda rasanya gurih pedas namanya 'Khao Man Som Tum' 
Chicken Satay!



Chicken Green Curry / Khang Keaw Wan Gai

Coloured Mango Sticky Rice / Kha Niew Ma Muang


Bahan-bahan yang digunakan hampir semua ada di Indonesia. Yang menjadi pembeda hanya jenis papaya dan mangga yang dipakai memang khas dari Thailand. Lidah orang Asia Tenggara memang mirip-mirip kan? Sehingga masakan nya penuh dengan rempah-rempah wangi.

Tam mengingatkan saya dengan Sisca Oetoyo, pembawa acara masak-masak era 90’an. Wajah keibuannya, kecekatan tangannya meracik bumbu-bumbu dan mengolahnya menjadi santapan lezat. Wajah teduh yang selalu tersenyum, jago masak pula, tak pelak merekalah role model istri idaman.  

Dari kami berenam, baru dua yang sudah menikah, Yuki dan Sharon. Jadi keempat gadis lainnya akan bersungguh-sungguh menyerap seluruh ilmu di kelas memasak ini biar juga dapat label ‘Calon Istri Idaman’ dan segera dipinang. Aih mak!

Nah, begitu giliran kami tiba, deg-degan lah semuanya karena takut gagal masakannya, entah karena salah takaran tau salah masukin bumbu. Ternyata kami didampingi asisten cook yang berdiri di depan kami dan siap sedia membantu kami memasukkan bumbu sesuai dengan yang sudah diperagakan Tam. Mereka memang tak lancar berbahasa Inggris. Kosa kata yang sering kali mereka ucapkan saat memandu kami adalah “This” dan digabung dengan gerakan tangan untuk mengarahkan apa yang harus kami lakukan.


 Butuh waktu sekitar 3 jam untuk memperhatikan Tam mengolah masakan mulai dari memetik dedaunan di kebunnya hingga makanan tersaji di meja. Sedangkan kami hanya butuh 30 menit untuk menyelesaikan empat menu karena memang semuanya sudah tersedia, jadi tinggal ditumbuk, ditumis dan dimasukkan bumbu dan bahan masakannya.

Ada yang masaknya serius, ada yang ketawa-ketawa. Hahahahaah xD

Seluruh menu masakan sudah jadi tepat saat jam makan siang. Dihidangkan di atas meja panjang dengan taplak putih, makanan-makanan ini terlihat sangat menggugah selera. Semuanya duduk mengelilingi meja dan siap bersantap.



Hmmm, makanan yang kami masak memang tak ada ubahnya dengan masakan yang dibuat oleh Tam. Tentu saja karena takaran bumbunya pas seperti yang Tam pakai juga kan. Hehehehehe. Nggak tahu kalau nanti nyoba masak sendiri di rumah bagaimana.

Syukurnya, Tam memberikan satu amplop berisi resep dari empat menu yang kami masak hari itu. Wah. Jadi nggak perlu bingung kalau nanti mau mencoba memasak menu ini sendiri di rumah.

Mampirlah kapan-kapan ke Amitha Thai Cooking School jika teman-teman plesiran ke Bangkok ya. Bisa juga buka websitenya jika ingin tahu resep-resep kuliner Thai yang lezat itu.


Khob khun krap!




Follow Us @satyawinnie