Friday, June 23, 2017

Road Trip Medan – Banda Aceh Naik Bus Double Decker Sempati Star Nan Mewah

Friday, June 23, 2017 28 Comments


Sudah sejak lama saya mendengar bahwa bus umum antar kota antar provinsi (AKAP) yang termewah di Indonesia adalah jurusan Medan ke beberapa kota-kota di Aceh. Tentu sebagai seorang busmania (ngaku doang meski nggak ikut komunitasnya) saya ingin mencicipi langsung.

Ada beberapa pilihan bus dari Medan menuju Aceh seperti Sempati Star, Putra Pelangi, Kurnia dan beberapa PO bus lainnya. Seorang teman merekomendasikan naik Putra Pelangi karena menurutnya busnya nyaman dan enak. Begitu ada testimoni seperti itu, saya pun memutuskan untuk naik Putra Pelangi saja. Atas kebaikan Bang Andy dan Kak Eka, saya diantarkan ke pool bus jam 9 malam dan baru mendapatkan bus pukul 22.45, sesuai yang tertera di tiket. Saat saya membeli tiket VIP seharga Rp 180.000, bus yang akan saya tumpangi belum tersedia alias masih di dalam garasi pool.

“Nanti kalau sudah mau berangkat dipanggil kok Kak”, ujar petugas poolnya.

Jadilah kami menunggu di dalam waiting room sambil berbincang-bincang hingga plat bus yang tertera di tiket saya disiarkan lewat pengeras suara, sudah siap untuk diberangkatkan.

Begitu saya melihat bus nya, saya terkaget-kaget karena bus nya jauh sekali dari yang dikatakan VIP Bus. Busnya sudah tua dan mesinnya berderit. Lampu bagian dalam busnya remang-remang. Saya naik ke dalam bus dan terkaget lagi karena di dalam bus bau, joknya juga sudah lusuh, tiada bantal dan selimut seperti bis-bis Medan jurusan Aceh yang lain.

Ini saya nggak salah naik kan? Gumam saya waktu itu dan kembali mengecek plat bus. Benar kok, nomornya pas dengan tiket. Akhirnya saya menuju loket dan bertanya langsung kepada petugasnya apa benar itu bus yang akan membawa saya ke Banda Aceh.

“Memang cuma itu yang ada busnya Kak, yang VIP udah nggak ada”, katanya dengan santai tanpa rasa bersalah.

“Lho? Kan tadi bilangnya VIP Bus, kok yang datang bus ringsek begitu? Kok kalian menipu sih?” ujar saya lagi dengan nada kecewa.

Petugas loket tidak mengacuhkan saya hingga membuat saya sedikit kesal. Saya lantas meminta kembali uang saya dan berencana pindah ke pool bus lain. Sebenarnya saya bisa naik bus apa aja, nggak pernah ngeluh sekalipun naik truk sama kerbau. Tapi saya kecewa karena merasa ditipu sama PO Putra Pelangi ini.

“Bisa refund, tapi dipotong 25%” kata petugasnya lagi dengan muka lempeng.

He? Dipotong 25%? Kejam nian Putra Pelangi ini. Sudah menipu penumpang, mengembalikan uang tiket pun pakai potongan. Dalam hati sudah dongkol tapi saya terima juga uang Rp 135.000,-, uang tiket saya yang mereka kembalikan. Duh, nggak lagi-lagi deh naik Putra Pelangi ini. Never, never, never again…

Bang Andy dan Kak Eka yang masih sangat baik menunggui saya hingga berangkat, akhirnya mengantarkan saya ke pool bus Sempati Star, bus yang biasa mereka naiki jika ingin pergi ke Aceh. Ah, seharusnya saya memilih Sempati Star saja dari awal.

Kami tiba di pool Sempati Star di jalan Asrama Pondok Kelapa Medan sekitar pukul 11 malam. Poolnya cukup besar dan dilengkapi minimarket, musholla, waiting room dengan AC. Ada dua bus terparkir yang sepertinya siap berangkat. Salah satunya adalah bus double decker yang membuat saya jatuh cinta dari pandangan pertama.



Bus bertingkat ini terbagi menjadi dua ; bagian atas disebut VIP Class dengan harga tiket Rp 250.000,- dan bagian bawah disebut First Class dengan harga tiket Rp 430.000,-. Whoaaaa harga first class nya hampir sama dengan biaya naik pesawat dari Medan ke Banda Aceh.



Begitu naik ke lantai atas bus double decker Sempati Star, saya kegirangan melihat bagian dalam bus. Seatnya besar dan luas dengan komposisi seat 2-2. Di tiap-tiap kursi terdapat satu bantal dan satu selimut tebal. Makin senang karena bantalnya wangi dan selimutnya lembut. Rasa-rasanya perjalanan saya ke Banda Aceh dari Medan akan sangat menyenangkan dan nyaman karena naik bus double decker.




Saya juga baru tahu kalau bus double decker Sempati Star ini menyediakan entertainment screen on board, semacam di pesawat gitu. Tiap-tiap seat sudah dilengkapi dengan screen yang menyediakan beberapa pilihan film dan lagu. Tapi earphone tidak tersedia jadi harus memakai kepunyaan sendiri. Tersedia juga usb port yang bisa dipakai untuk charge handphone atau nyetel film dan lagu kalau disimpan di flashdisk, misalkan.

Fasilitas yang lainnya adalah toilet dan wi-fi. Sayang wi-fi nya sedang tidak bekerja baik dan sinyal selama perjalanan oke-oke saja jadi nggak perlu-perlu amat. Toiletnya ada di lantai 1 bus dan bersih.

Bus bergerak keluar dari pool menjelang pukul 12 malam setelah kenek selesai membagikan kotak snack ke masing-masing penumpang. Kotak snack yang isinya air mineral, bolu kecil dan kacang. Mungkin karena sudah seminggu menjelang hari Lebaran, bus saya tumpangi full board, penuh. Di samping saya duduk seorang anak gadis yang begitu duduk langsung menyelimuti kepala hingga kaki dan tidur. Tak sempat saya sapa atau ajak bicara.

Saya belum mengantuk dan memutuskan untuk menonton ‘The Martian”, salah satu film luar angkasa favorit saya yang entah berapa kali diputar pun takkan membuat bosan. Bus melaju cepat di jalan aspal nan mulus. Saya keasyikan menonton sehingga tanpa sadar bus berhenti untuk sahur. Saya memilih untuk tetap di dalam bus saja karena saking nyamannya, merasa tak perlu turun keluar bus untuk meregangkan badan.



Selepas sahur, bus melaju lagi dan saya memutuskan untuk tidak tidur sampai matahari terbit. Rasa-rasanya pasti akan sangat menyenangkan bisa menyaksikan matahari terbit dari dalam bus yang sedang melaju. Sama seperti menyaksikan matahari terbit dari balik jendela gerbong kereta.

Namun kenyataannya pagi itu mendung, tak ada warna matahari keemasan. Saya membetulkan posisi dan bersiap untuk tidur karena masih 6 jam perjalanan untuk tiba di Banda Aceh. Lucunya, saya terbangun sekitar pukul 10.20 dan terkaget karena bus nya kosong. Ternyata 90% penumpang turun di Lhokseumawe dan penumpang yang tersisa hanya empat orang termasuk saya yang duduknya di belakang.



Kiri kanan, hanya ada pemandangan sawah dan perbukitan. Sambil mengumpulkan nyawa, saya senyum-senyum sendiri melihat pemandangan alam bumi serambi Mekah. Langit biru cerah menambah meriah. Saya tiba di Banda Aceh pukul 1 siang yang berarti 13 jam perjalanan dari kota Medan. Biasanya sih jarak tempuhnya 10 jam, tapi saya nggak keberatan karena saya dapat 3 jam ekstra untuk menikmati bus double decker ini. Ah, tercapai juga impian saya menyambangi Aceh di bulan ramadhan.

Assalamualaikum, Aceh!

  Special Notes :


1.   Rute yang dilayani Sempati Star ini adalah Medan ke beberapa kota di Aceh seperti Banda Aceh, Sigli, Beurenuen, Bireun, Lhokseumawe, Lhoksukon, Langsa, Bijei, Takengon.

2.     Daftar harga tiket dari Medan menuju Banda Aceh adalah Rp 430.000 untuk kelas First Class, Rp 260.000 untuk kelas Non Stop, Rp 220.000 kelas Super VIP, Rp 200.000 kelas Patas VIP, Rp 190.000 kelas Super Executive, dan Rp 180.000 kelas Patas Executive. (harga bisa berubah sewaktu-waktu)


3.     Best seat versiku itu di lantai 2, yang menghadap tangga, seperti yang ada di foto. Lebih besar space nya, pun melihat pemandangan di luar jendela lebih luas dibanding seat lainnya.

Cheers,


Wednesday, June 21, 2017

8 Hal Asyik yang Bisa Dilakukan di Inle Lake Myanmar

Wednesday, June 21, 2017 8 Comments


Di artikel sebelumnya, saya bercerita tentang menyusuri Inle Lake dan makan di restoran terapung di tengah danau. Sudah baca belum? Kalau belum, coba baca dulu yuk.

Nah, ternyata selain menikmati santapan di tengah danau, masih banyak hal-hal asyik yang bisa kita lakukan saat berkunjung ke Inle Lake, Myanmar. Apa saja? Ini dia.


1.  Berkunjung ke Silk & Lotus Weaving

Intha (sebutan untuk penduduk lokal yang tinggal di sekitaran Inle Lake) perempuan, sudah menenun sejak lampau. Mereka memintal sendiri benang sutra yang akan mereka pakai untuk menenun longyi, baju, selendang, sapu tangan dll. Selain melihat proses tenun, kita juga bisa membeli hasil tenunnya yang dibanderol sekitar Rp 300.000,- (paling murah) untuk satu longyi.

Proses memintal benang sutra yang akan dipakai untuk menenun longyi.

Siapkan US dollar untuk berbelanja di beberapa tempat souvenir di Inle Lake karena mereka mematok harganya juga dalam USD.




2. Melihat Pembuatan Perahu Intha-Go

Saya senang ketika diajak ke satu tempat yang ternyata tempat pembuatan perahu-perahu yang dipakai nelayan di Inle Lake. Selain membuat perahu besar yang katanya dihargai sekitar 3.000.000 Kyatt ata Rp 30.000.000, mereka juga punya souvenir shop yang menjajakan banyak pajangan dari kayu. Salah satu souvenir yang paling laris adalah perahu kecil lengkap dengan nelayan dan jala bubu besar.





3. Mengunjungi The Blacksmith Inle Lake

Kamu suka mengoleksi pisau lipat atau perhiasan yang terbuat dari tembaga dan sejenisnya? Pasti senang jika bisa berkunjung ke Blacksmith House di Inle Lake. Kita bisa melihat langsung para pengrajin membuat pisau dan pedang serta perhiasan seperti gelang. Sewaktu berkunjung ke sana, saya sedikit ‘skip’ karena lupa nilai tukar Kyatt ke Rupiah. Harga satu gelang tembaga yang saya taksir harganya 2500 Kyatt yang jika dikonversi ke rupiah berarti Rp 25.000,- saja. Entah kenapa waktu itu saya berpikir harganya dalam rupiah Rp 250.000,- (kelebihan satu angka nol) dan urung membeli. Setelah pergi jauh baru sadar kalau hitungan saya salah dan menyesal tidak membelinya. Berarti itu adalah kode untuk kembali lagi ke Myanmar ya? Hahaha…






4. Berkunjung ke Nga Phe Kyaung Monastery

Biara yang terletak di area Inle Lake ini sama bentuknya seperti rumah-rumah lainnya, rumah panggung yang dibangun di atas danau. Di dalam biara, kita bisa bertemu dan menyapa para biksu / biksuni. Ada banyak sekali wisatawan saat kami berkunjung ke biara itu dan rombongan kami hanya diberikan waktu 20 menit saja. Saya dan Asoka berkeliling biara bersama-sama dan menikmati waktu singkat kami bermain bersama anak-anak kecil di samping biara. Meski kami tidak bisa berkomunikasi karena kendala bahasa, anak-anak lucu itu senang sekali ketika diajak foto bersama.


Banyak juga yang datang ke monastery untuk 'dibaca' oleh biksu.


Saya tidak sempat berfoto dengan anak-anak calon biksu dan biksuni saat berkunjung ke biara itu. Tetapi saya beruntung bisa berpapasan mereka di jalan saat menyusuri jalur kecil-kecil di Inle Lake. Mereka sedang asyik berlompatan di sungai hanya memakai balutan kain merah seperti celana dalam. Mereka melambai-lambai gembira kepada wisatawan dan juga memercikkan air. Jadi, kalau berpapasan, kita harus sigap untuk menyembunyikan kamera atau basah terkena cipratan air mereka ya.




5. Mencicipi Tembakau Myanmar

Meski saya bukan perokok, saya senang mempelajari jenis-jenis tembakau karena setiap daerah punya rasa tembakau yang berbeda-beda. Minmin, guide kami di Myanmar, mengajak kami berkunjung ke tempat pelintingan tembakau di Inle Lake. Semua pekerjanya adalah perempuan dengan baki besar berisikan tembakau kering ada di hadapan mereka, siap untuk dilinting.

Wisatawan diperbolehkan mencicipi tembakau yang ada di sana dan uniknya, tembakaunya sudah dikemas dalam beberapa rasa. Terbayang nggak mencicipi tembakau rasa pisang, mint, rum? Meski terdiri dari beragam rasa, tembakaunya cukup kuat dan bisa bikin pusing kalau memang kamu tidak terbiasa dengan rokok.

Sewaktu dicoba, tembakaunya memang sedikit keras dan menohok. Tapi saya suka juga yang sudah diberi perasa pisang. 

6. Menonton Atraksi Nelayan di Inle Lake

Kebanyakan wisatawan datang ke Inle Lake khusus untuk melihat atraksi menarik dari nelayan-nelayan di sana. Kemahiran mereka mendayung dengan satu kaki sambil jongkok / berdiri dan memegang bubu membuat mereka terlihat seperti pelaku akrobat professional. Mereka akan mempertontonkan kebolehannya dan wisatawan akan memberikan tips kepada mereka.





7. Mencoba Mendayung Seperti Nelayan Inle Lake

Kalau sudah melihat atraksi nelayan di sana, kamu tertarik nggak buat mencobanya? Beruntungnya kami kemarin diajak mencoba mendayung dengan satu kaki seperti nelayan Inle Lake yang ternyata susahnya minta ampun. Seperti saat kita bermain arung jeram, dayung harus seirama kan? Kalau nggak bisa bertabrakan kan? Nah itu terjadi pada kami yang mencoba mendayung gaya Intha. Semuanya kacau balau, dayungnya saling berpukulan tak seirama. Ya jadilah semua tertawa terbahak-bahak. Syukur nggak ada yang tercebur ke danaunya.





8. Menikmati Sunset di Inle Lake

Sunset di Inle Lake memang digadang-gadang sebagai sunset tercantik di Myanmar selain di Bagan. Jadi kalau naik perahu sore-sore melintas danau dan dapat pemandangan senja itu rasanya romantis banget. Nanti balik ke Myanmar lagi sama pasangan deh biar makin terasa suasana manisnya.




Jadi, kira-kira sehabis baca artikel ini teman-teman kepengen juga ke Inle Lake nggak? Tidak susah untuk merencanakan perjalanan sendiri ke Myanmar. Rajin-rajin cek aplikasi booking tiket penerbangan karena jika sedang beruntung bisa dapat tiket Jakarta - Yangon dengan harga 1 jutaan. Tak perlu khawatir dengan makanan karena banyak makanan halal di sana. 

Special Notes Inle Lake :


1.     How to Get Inle Lake?
Ada dua jalur yang bisa dipilih, jalur darat atau udara. Inle Lake ini berjarak 660 KM dari Yangon dan 330 KM dari Mandalay. Kemarin saya mencoba jalur udara yang menjadi opsi tercepat sekitar 1,5 jam penerbangan dari Yangon Airport ke Heho Airport. Jika mau mencoba jalur darat, bisa baca cerita Winny Marlina ke Inle Lake ya ;)

2.     Temperatur di sekitaran Inle Lake terkadang dingin, terkadang panas. Jadi saya tetap membawa pakaian hangat untuk berjaga-jaga jika Inle Lake dingin. Saya ingat sekali begitu turun di Heho Airport, udaranya dingin sekali tetapi begitu menyusuri Inle Lake, temperaturnya 40 derajat. Hati-hati meriang ya. Hahaha…

3.     Untuk masuk ke area Inle Lake, setiap wisatawan dikenakan entrance fee USD 10 per orang.


4.     Biaya untuk menyewa perahu untuk berkeliling Inle Lake seharian sekitar 30.000 MYK (kalau di Rupiah kan sekitar Rp 300.000,-) yang bisa dishare 3-4 orang satu perahu.

5.     Meski panas, tetaplah memakai pakaian yang sopan dan tertutup karena untuk menghargai masyarakat lokal di sana. Untuk masuk ke temple dan monastery pun kita harus berpakaian yang santun.


Cheers,


Wednesday, June 14, 2017

Tips Menyimpan dan Membawa Uang Saat Traveling

Wednesday, June 14, 2017 14 Comments


Biasanya, traveler / pejalan itu identik dengan ransel yang berisi banyak uang, menurut pemikiran orang-orang dan akhirnya menjadi magnet kuat bagi orang yang berniat jahat. Sedih sekali saya ketika mendengar seorang teman, Maria, solo traveler dari Swedia, dicopet saat berada di pelabuhan Sorong, Papua Barat. Tas kecil yang ia selempangkan raib bersama dengan kamera, dompet, handphone dan passportnya. Saya tidak tahu kejadian itu sampai Maria pulang ke negaranya dan mengontak saya lewat facebook messenger.

Sempat ada yang bertanya, “Sat, kalau traveling bawa uang tunai banyak nggak sih?”, saya jawab nggak, kecuali saat pergi ke tempat-tempat terpencil yang saya rasa susah untuk menemukan ATM di destinasi tujuan, khususnya di daerah-daerah terpencil timur Indonesia. Tapi jika memang di daerah yang saya tuju terdapat banyak ATM, saya biasanya enggan membawa banyak uang tunai.

Entah kenapa sudah beberapa tahun belakangan ini, saya jarang sekali membawa cash. Mungkin akibat insiden saya dicopet di Kopaja arah Kampung Rambutan dari Lebak Bulus, tiga tahun silam. Saat itu, saya memang sedang membawa uang tunai banyak sekali di dalam dompet karena butuh membeli sesuatu keesokannya. Namun sejak kejadian itu, saya enggan untuk membawa-bawa duit dalam jumlah banyak di dompet saya.

Nah, saya sekalian mau berbagi tips dengan teman-teman, bagaimana cara menyimpan dan membawa uang agar aman saat traveling :

1.     Buat perhitungan pengeluaran kira-kira di suatu daerah tersebut. Nggak harus detil tapi minimal kita sudah persiapkan dana yang sekiranya cukup dan tidak berlebihan membawa uang tunai. Saya sebenarnya lebih memilih untuk cashless jika memang tujuan saya masih kota dan bukan destinasi terpencil.

2.     Jangan simpan semua uang di dompet. Saya biasanya memecah-mecah uang di beberapa tempat seperti kantong-kantong kecil di ransel atau pouch kecil. Ini penting ketika kita (amit-amit sih) kecopetan dompet saat traveling, kita minimal masih punya uang pegangan.


3.     Pakai Money Belt. Tips yang ini sih sebenarnya masih kelanjutan dari tips nomor dua, untuk memecah-mecah uang. Supaya merasa lebih aman, dibandingkan membawa uang di dompet, ada yang membawa uang di money belt yang dililitkan di pinggang, di balik pakaian kita. Sebenarnya trik ini juga sering dipakai oleh nenek-nenek kita yang menyimpan uang di balik sarung atau dalaman ya.

4.     Saat traveling ke luar negeri, saya biasanya lebih mengandalkan ATM dan CC (kartu kredit) untuk tarik tunai di destinasi tujuan, dibandingkan menukarkannya ke money changer. Saat traveling ke Australia kemarin, saya menemukan kurs yang lebih rendah dibandingkan kurs yang saya lihat terpampang di money changer dan jadinya saya memilih untuk tarik tunai. Untuk beberapa bank, biasanya ada biaya tarik tunai-nya. Jadi perhitungkan baik-baik jumlah yang akan ditarik agar tidak kekurangan atau kelebihan.

Setiap mau packing, mikir dulu uang mau dipecah-pecah di mana aja yaaaa~


Kan zaman sudah canggih nih dan mendukung kita buat cashless karena ada kartu kredit, kartu debit dan e-money. Jauh lebih praktis untuk melakukan transaksi dan tentunya jauh lebih aman ketimbang membawa uang tunai di dalam tas.

Cashless sih tapi masih senang nyimpan uang kertas dari berbagai negara yang sudah dikunjungi

Tapi, ketika kartu-kartu yang daku sebut di atas tadi ketinggalan maka jadi semaput, semrawut, ah apapun nama yang pas buat kondisi kalut. Kalau ketinggalannya dekat sih gampang ya diambil lagi. Tapi kalau pas lagi traveling dan perginya cukup lama pusing juga kan. Ya oke kalau ada teman yang bisa kita pinjam uangnya sementara, tapi kalau lagi jalan sendiri gimana?

Amsyong namanya…

Saya juga sempat mengalami kejadian amsyong itu. Waktu kemarin jalan di Bandung kartu debit ATM ketinggalan di Depok dan peer juga kalau harus putar balik pulang ke Depok cuma buat ambil kartu debit kan?.

Pas lagi pusing tahu-tahu teringat kan sekarang BCA bisa tarik tunai tanpa kartu. Sudah tahu belum? Saya sempat baca berita itu tapi belum pernah coba. Akhirnya saya beranikan coba meski waktu itu belum tahu caranya. Ternyata, asalkan kita punya aplikasi m-banking yang bernama BCA mobile.

Ini langkah-langkah waktu tarik tunai tanpa kartu di ATM BCA:

1.     Buka aplikasi BCA mobile yang sudah kamu daftarkan dan terhubung dengan rekening kamu. Buka menu Tarik Tunai, pilih sumber dana / rekening lalu pilih nominal yang kamu inginkan ( 50.000 ; 100.000 ; 150.000 ; 200.000 ; 250.000 atau nominal lain yang bisa kamu input sendiri maksimal 1.250.000).
2.     Setelah proses itu selesai kamu akan mendapatkan Kode Tarik Tunai dan juga jatuh tempo dimana kamu harus melakukan penarikan tunai sebelum waktu yang tertera di aplikasi BCA mobile kamu. Kamu akan diminta untuk memasukkan PIN m-BCA untuk verifikasi. Lalu Kode Tarik Tunai kamu akan masuk ke Inbox Tarik Tunai BCA mobile.
3.     Cari ATM BCA yang ada menu ‘Transaksi Tanpa Kartu’ atau ‘Cardless Transaction’. Lalu pilih BCA mobile, masukkan nomor Handphone BCA mobile dan Kode Tarik Tunai yang ada di Inbox Tarik Tunai BCA mobile kamu.
4.     Tinggal tunggu prosesnya dan voila, uang tunai nya ada di tangan kamu.





Empat langkah yang super mudah dan canggih, solusi yang sangat menyenangkan ketika kamu nanti mengalami kejadian amsyong seperti saya waktu itu.

Supaya bisa menggunakan fitur tarik tunai tanpa kartu di BCA, cukup update aplikasi BCA mobile kamu ke versi terbaru di App Store untuk pengguna iPhone dan Play Store untuk pengguna Android.

Pssttt, pengguna Sakuku yang mengaktifkan  layanan Sakuku Plus juga dapat melakukan tarik tunai tanpa kartu di ATM BCA melalu menu Transaksi Tanpa Kartu ya.

Sebagai tambahan juga, untuk menjaga keamanan, jangan pernah kasitahu pin kamu sama orang lain dan juga jangan simpan catatan / notes nomor rekening sekaligus pin nya di handphone ya. Kalau handphone kamu hilang dicopet, akan sangat berbahaya karena si pencopet bisa mengakses m-BCA kamu. Sip ya?


Follow Us @satyawinnie