Obrol Sore Bersama Irwan Bajang – Insipirasi Berkarya di Jalur Indie


“Menulislah sedari SD. Apa pun yang ditulis dari SD, pasti jadi” – Pramoedya Ananta Toer

Kutipan di atas tidak asing bagi saya yang menggemari karya Pram. Oleh karenanya saya senang sekali melihat tulisan itu terpampang di kaos yang dipakai oleh orang yang baru menyapa saya.

“Irwan Bajang. Panggil Bajang saja”, ujarnya ramah saat bersalaman.

Dongeng Kopi di daerah pinggir Jogjakarta menjadi tempat perjumpaan kami. Bau biji kopi yang sedang digiling menyeruak di seluruh ruangan dan sangat menggoda untuk disesap saat kami masuk. Namun saya memilih jamu untuk menemani obrolan sore itu. Cinta saya terhadap jamu masih lebih besar daripada kopi. Hehehe.



Baik, mari kembali ke topik. Siapa sih Irwan Bajang ini sehingga kami ingin sekali menemuinya. Ya, tak hanya saja, melainkan ada Mas Ardian, blogger dari Jogja, beserta tim Astra dan Tim NEO yang akan berjumpa dengannya.

Alasannya adalah Mas Irwan Bajang adalah penerima apresiasi SATU Indonesia Awards yang diadakan ASTRA setiap tahunnya. Penerima apresiasi ini ada empat kategori yakni pendidikan, lingkungan, kesehatan dan kewirausahaan. Mas Irwan Bajang menerima apresiasi pada tahun 2014 silam untuk bidang pendidikan.

Tentu saja Bajang layak menerimanya karena usahanya selama ini untuk mengembangkan minat menulis anak-anak muda di Jogjakarta. Ia mendirikan ‘Indpendent School’ untuk semua orang yang tertarik dengan penulisan. Sebenarnya tidak hanya menulis, di sekolah itu juga ada kelas digital copy writing atau kelas cover design. Yang bergabung di dalamnya dilatih untuk lebih dari menulis, menerbitkan buku sendiri.

Lelaki 29 tahun yang berdarah asli Suku Sasak, Lombok, ini lantas bercerita bagaimana awal mulanya ia membuka ‘Independent School’.

2005, saat ia masih mengenyam pendidikan di Jogja, ia membuat cerpen dan puisi-puisi yang lalu dicetak, difotokopi lalu dijual ke teman-teman dekat yang ternyata disambut baik dan mulai digemari. Sehingga Bajang berpikir untuk mencetak buku namun saat itu ia tidak tahu bagaimana caranya agar naskahnya diterima oleh penerbit sehingga mencoba menerbitkannya sendiri setelah bertanya kepada teman-teman di Jogja.

2008, buku pertamanya terbit. Sebuah novel yang berjudul “Rumah Merah”. Tak disangka dalam 10 hari, ada 3000 buku yang dicetak untuk memenuhi permintaan. Bajang pun kaget saat itu. Untuk ukuran buku indie, angka 3000 itu sudah sangat besar dan bisa dikategorikan sebagai “best seller”. Sejak saat itulah, Bajang mulai mengembangkan penerbitan buku Indie.

“Dalam penerbitan buku Indie, kita memakai metode “print on demand”, atau mencetak sesuai permintaan” ujar Bajang.

Karena memang tidak mudah untuk memasarkan buku yang dicetak indie, bukan yang dicetak penerbit besar. Namun bukan berarti pasarnya tidak ada. Banyak kok penggemar buku-buku Indie. Hanya yang menjadi kendala di awal-awal penerbitan buku adalah pemasaran. Memasarkannya lewat platform social media seperti blog, twitter, facebook, instagram ternyata menjadi strategi yang baik agar buku-buku indie ini dikenal dan menarik pembaca untuk membelinya.





2009, Bajang menggagas untuk membuat Indie Book Corner dan menjual karya-karya itu di  toko buku ‘Budi’ yang ternyata akronim dari “Buku Indie”. Tokonya ada di lokasi yang sama dengan Dongeng Kopi. Bersiaplah unuk terkejut saat menyambangi toko buku ini. Koleksi bukunya memang unik dan berbeda. Judul-judulnya menarik dan cenderung kontroversial. Saya pun jadi penasaran untuk membaca buku-buku itu.

“Di penerbitan Indie, kami menjunjung kolaborasi, bukan kompetisi. Kami semua bersama-sama mengembangkan buku Indie dan saling memotivasi satu sama lain”, imbuhnya lagi.

Di Independent School, mereka saling bergantian untuk berbagi materi. Minimal satu kali setiap bulan, ada kelas-kelas menulis yang diadakan. Setiap bulan juga minimal ada satu buku yang diterbitkan. Pun saat kami datang ke Dongeng Kopi, mereka sedang mengadakan kelas sore dengan materi ‘desain sampul buku’. Asyik-asyik lho tema kelasnya setiap bulan.

Bajang sendiri senang menulis topik sosial politik dan sastra. Lalu, bagaimana akhirnya Bajang menerima apresiasi SATU Indonesia Awards?



Ia sebenarnya tidak menyangka akan menerima apresiasi itu karena tidak tahu informasinya dan sebenarnya tidak merasa pantas untuk mengajukan diri. Tak dinyana, ada teman yang mendaftarkannya kepada penyelenggara sehingga Irwan Bajang ada di dalam daftar kandidat penerima apresiasi di bidang pendidikan. Saat wawancara, pastilah cerita Bajang memukau para panelis sehingga memilihnya sebagai penerima apresiasi.

Percakapan kami mengalir tanpa ada satu kata pun yang bernada sombong. Betul Bajang memang layak untuk menerima apresiasi itu. Bajang yang tidak menyangka bisa terpilih menjadi penerima apresiasi akhirnya memakai hadiahnya untuk terus mengembangkan ‘Independent School’ dan juga ‘Indie Book Corner’ agar makin banyak insan-insan, tidak hanya di Jogjakarta, yang berani untuk menuliskan pemikiran-pemikirannya dan menuangkannya dalam buku, tidak hanya coret moret di kertas dan diarsipkan sendiri.

Bajang memang layak mendapatkan apresiasi SATU Indonesia Awards karena kegigihannya menularkan semangat untuk menulis dan menelurkan karya. Karena dia juga, saya juga jadi tertarik untuk menerbitkan buku Indie nih. Bagaimana menurut teman-teman? Kalian tertarik juga kah?