Wednesday, May 31, 2017

Cerita Momong Liburan dan Tersesat ke Luar Negeri Pertama Kali

Wednesday, May 31, 2017 49 Comments

“Mong, tanggal 29 Maret sampai 1 April nanti Mama bisa pergi nggak?” tanya saya lewat sambungan telepon jarak jauh.

“Pergi ke mana Kak? Hari apa itu? Kalau pas lagi barang masuk, ya Mama nggak bisa lah”, jawabnya di ujung sana sambil melayani pembeli yang menanyakan harga sekilo cabai merah.

Mama, atau Momong (panggilan gaul dari anak-anaknya) berprofesi sebagai pedagang sayur mayur di pasar. Setiap hari Momong berjualan dari jam 2 subuh hingga 6 sore. Momong jadi distributor sayur mayur di kota kecil kami, Sibolga. Tak ada tanggal merah dalam kalender kerjanya. Hanya hari Minggu yang menjadi hari libur karena itu hari Tuhan, katanya. Begitulah kehidupan sehari-hari ‘parengge-rengge’ atau pedagang di pajak (pasar).

Karena kesibukannya itu, keluarga kami memang jarang sekali jalan-jalan sejak kecil, apalagi sejak Bapak berpulang ke rumah Tuhan sewaktu saya berumur 7 tahun. Tak ada lagi yang mengajak jalan-jalan piknik, meski sekedar duduk di tepi Pantai Panjang Bengkulu sore-sore untuk menyeruput kelapa muda atau makan sate.

Hari Minggu juga biasanya hanya dipakai Mama untuk ke gereja pagi dan tidur seharian setelahnya. Jadi jangan harap bisa jalan-jalan jauh di hari Minggu karena Mama pasti lebih memilih pergi ke pulau mimpi. Itu juga kenapa saya jadi seringnya solo traveling sejak kecil.

“Iya Mong, tanggal itu jatuhnya hari Rabu sampai Minggu. Tapi kakak mau ajak Mama pergi ke Singapore tanggal segitu” jawab saya lagi lewat telepon.

“Eh, ke mana Kakak bilang? Singapore? Ah cem betul lah” jawab Mama sambil tergelak.

“Iya serius Mooongg, habis trip dari Myanmar, kakak extend di Singapore tiga hari. Mama ikut ya sama Kakak ke Singapore ya”, pinta saya.

“Ah, cem mana lah itu kalau pas jadwal masuk barang. Nggak jualan nanti kita, merepet Bapakmu. Lagian macam dikasi Bapak lah aku pigi, ke luar negeri pula. Mama juga nggak punya passport. Eeee mimpi ajalah pigi pigi ke Singapore” jawab Mama lagi sambil masih melayani pembeli.

Momong memang sudah menikah lagi dengan pria yang sekarang saya panggil Bapak. Orangnya pendiam, jarang berbicara apalagi tertawa. Saya mengerti akan sangat susah mengajak Mama pergi berdua saja dengan saya tanpa seizinnya. Yang ada nanti terjadi huru hara di rumah kalau Mama pergi diam-diam. Selain itu, Mama juga belum punya passport. Namun masih ada waktu 3 minggu sebelum keberangkatan dan seharusnya passport Mama sudah selesai dalam kurun waktu itu.

“Ma, Mama kan mau ulang tahun sebentar lagi. Ini sebenarnya hadiah dari Kakak buat Mama. Kakak malu lho sudah pergi ke sana ke mari tapi nggak pernah ajak Mama jalan-jalan. Mau ya Ma ya ke Singapore ya”, bujuk saya lagi.


 Mama terdiam untuk beberapa waktu namun telepon masih tersambung.

“Ya sudah, Mama pikir-pikir dulu ya. Mama cari cara nanti ngomong sama Bapakmu dan kalau masih ada waktu ya bikin passport” jawabnya setelah hening beberapa lama.

Dalam hati, saya ngomong ke diri sendiri betapa gayanya Mama ini diajak ke luar negeri mikir-mikir dulu. Hahahaha…

“Eh Kak, tunggu dulu. Kakak bilang kakak dari Myanmar ke Singapore. Mama dari Medan ke Singapore. Berarti Mama berangkat sendiri?” tanya Mama.

“Iya Ma. Hahahahaha. Tapi nanti Kakak kasitahu acaranya bagaimana kita bisa ketemu di Bandara Changi-nya” jawab saya.

“Ah *^$#%@^&!^%#*&^*” jawab Mama.

Bisa kalian tebak apa yang Mama katakan pada saya? Hahahaha…

Momong merepet (ngomong tanpa henti) tentang saya yang dianggap ngerjain dia karena nggak pernah kemana-mana terus harus terbang ke luar negeri seorang diri dan nggak bisa berbahasa Inggris.


“Ma, kakak saja bepergian ke mana mana sendirian. Berarti Mama juga bisa dong, ya kan ya kan?” ujar saya.

“Itu kan kau! Mama mana bisa. Udah ah, nggak mau Mama ikut kalau harus berangkat sendiri. Nggak ngerti-ngerti aku itu” jawab Mama ketus.

Lah yaaaaa kok jadi ketus si Mama. Hahaha...

Singkat cerita, beberapa hari kemudian, saya ajak ngobrol lagi dan Mama akhirnya setuju untuk berangkat sendirian ke Singapore. Setelah passport Mama jadi, saya membelikannnya tiket dengan jadwal ketibaan di Singapore dua jam lebih dulu dari pada saya. Dalam pikiran saya waktu itu skenarionya akan jadi seperti ini :

1.  Mama terbang dari Medan ke Singapore, berteman dengan orang yang duduk di sebelahnya (ini saya minta ke Mama untuk berkenalan dengan orang di sebelahnya di pesawat. Tidak akan susah baginya karena mamaku orangnya periang dan supel).
2.  Mama pasti bisa mengisi form imigrasi dengan contoh yang sudah saya kirimkan saat saya ke Singapore. Aman lah ya.
3.   Mama dengan teman yang ia temui di pesawat akan mengambil bagasi bersama-sama lalu Mama akan naik skytrain dari T1 ke T2. Hal yang paling terpenting yang saya minta Mama lakukan adalah mengaktifkan wi-fi Changi jadi begitu saya mendarat dari Myanmar, saya bisa menghubunginya dan bersama-sama liburan di Singapore.

Pada kenyataannya, tidak seperti itu…

Saya sebenarnya sudah menyiapkan notes yang saya kirim lewat whatsapp ke Mama yang ia tulis ulang di secarik kertas. Itu adalah info dirinya dalam bahasa Inggris, jadi ketika ia kesulitan, Mama bisa memberikan kertas itu pada orang lain dan bisa ditolong.

Begitu pesawat saya mendarat dari Yangon di Singapore, saya orang pertama yang bergegas keluar dari pesawat agar secepat mungkin menghubungi dan menemukan Mama. Begitu wi-fi Changi di ponsel saya aktif, saya langsung mengirim whatsapp ke Mama dan cuma centang satu.

Lutut saya langsung lemas karena itu artinya Mama tidak berhasil menghidupkan wi-fi di ponselnya. Lemas dan cemas apakah Mamaku sudah sampai di Changi atau belum. Saya hubungi adik saya dan katanya Mama sudah berangkat sesuai jadwal dari Medan. Bergegas saya mengecek ke flight panel untuk mengecek apakah pesawat Mama sudah mendarat dan ternyata sudah mendarat dua jam lalu. Saya bingung.

Bagaimana mencari Mama di Bandara Changi yang super luas ini?

Di notes yang saya kasih ke Mama, saya memintanya begitu keluar dari Skytrain di T2, Mama langsung ke information center di arrival. Mungkin terdengarnya ribet ya, tapi itu satu-satunya cara agar Mama gampang ditemukan. Saya langsung antri di imigrasi dan bergegas ke informasi di arrival T2. Ternyata Mama juga tak ada di sana.

Mong, di mana sih Mong?

Saya lalu meminta petugas informasi untuk memanggil nama Mama saya di pengeras suara meski saya tahu itu sia-sia. Mama kan tidak bisa berbahasa Inggris, mana ngerti dia. Tapi tetap saya coba sambil ngider bolak-balik dari pintu keluar skytrain dan arrival area.

Sudah lebih 1 jam saya mencari Mama dan tak kunjung ketemu. Saya akhirnya memakai cara terakhir, menelepon ke seluler Mama. Saya tahu roaming nya akan mahal luar biasa telpon dari nomor Indonesia ke nomor Indonesia di luar negeri. Tapi rasanya tak ada cara lain yang lebih baik.

Telepon saya tersambung dan saya begitu lega mendengar suara Mama di ujung sana.

“Mong, sudah di Changi? Di mana sekarang? Mama coba lihat sekitar Mama ada apa, tulisan atau gambar apa? Biar kakak ke sana sekarang?” ujar saya dalam satu tarikan nafas.

“Mama ada di mana ini ya… Duh apa ini ya Kak ya… Mama cuma lihat ada pokemon besar kali di sini” ujar Mama.

Habis mendengar jawaban itu, telepon saya terputus. Pulsanya habis. Duh!

Saya segera mencari petugas Changi dan bertanya di mana saya bisa menemukan tempat yang bisa melihat pokemon besar.

Dengan sedikit mengernyit, petugas itu mengatakan bahwa event bertemakan Pokemon sudah lewat berbulan-bulan lalu dan sudah tidak ada lagi instalasi Pokemon di Changi.

Saya makin bingung harus ke mana lagi mencari Mama. Saya coba tanya lagi petugas airport yang lain dan jawabannya tetap sama, mereka tidak tahu di mana ada Pokemon dalam area Changi.

Akhirnya jalan terakhir adalah mengisi pulsa lagi dan menelepon seluler Mama lagi. Bangkrut deh kena roaming.

“Ma, sekarang juga kasih handphone Mama ke siapa pun di samping Mama biar kakak bicara dan tahu posisi Mama di mana” ujar saya cepat begitu telepon tersambung.

Saya dengar Mama cuma mengatakan ‘hello’ dan ‘please’ kepada orang di sebelahnya (pintar ya Mama) dan orang itu menjawab telepon saya. Dalam bahasa Inggris, saya menanyakan kepada orang itu posisi Mama saya. Dan ternyata, Mama ada di…

Departure T2 Changi.

Ya ampun. Saya menarik nafas lega, menutup telepon setelah mengucapkan banyak terima kasih. Saya naik ke atas dan menemukan Mama memang sedang duduk di area check in / area departure dan tepat di depannya ada renovasi bandara dengan tempelan poster 3 pokemon / Pikachu raksasa.

Mama memang nggak salah, yang ada di depan matanya memang pokemon. Iya Ma?

Niat hati mau merepet karena Mama tidak pergi ke tempat yang sudah kami sepakati, begitu meliahat wajahnya, saya hanya memeluk Mama erat-erat dan mencium pipinya. Akhirnya Mama di sini, aman, selamat bersama saya. Saya tahu pasti membingungkan buat Mama duduk hampir 3 jam di bandara yang dia tidak mengerti orang-orang ngomong apa. Saya tak sabar mendengarkan petulangannya mulai dari masuk pesawat hingga tiba di depan Pokemon.  Dan memang super seru.  Mulai dari teman di sebelah kursinya adalah Cina Medan yang tidur sepanjang penerbangan dan tidak bisa dimintai tolong hingga Mama minta tolong hidupin wifi sama petugas imigrasi (syukur nggak dimarahin). Hahaha…

3 hari setelahnya, kami sangat menikmati jalan-jalan berdua saja di Singapore. Mama sangat senang dan minta diambilkan potretnya di setiap sudut jalan, terutama kalau ada bunga. Saya ajak Mama ke Merlion Park, Gardens By The Bay (saya sedih karena pas ke SG, GBTB nya lagi maintenance padahal ini highlight nya untuk Mama karena dia suka sekali bunga), Bugis Street, China Town, Haji Lane dan semuanya kami tempuh dengan berjalan kaki. Saya tanya apakah Mama capek dan mau naik MRT / Bus saja. Katanya tak usah, Mama mau menikmati setiap sudut Singapore pelan-pelan dengan berjalan kaki.





Ketika kakinya pegal karena seharian berjalan kaki, Mama tidak mengeluh dan hanya melepas, jalan dengan kaki telanjang dan menenteng sandalnya. Kami berdua berjalan menelusur gerlapnya Negara maju itu sambil bergandengan tangan.

"Nggak apa-apa nya nyeker di sini kan Kak?" tanya Mama.

"Ya nggak apa-apa Ma, nggak ada yang kenal kita ini di sini", jawab saya sambil tertawa.

Saya masih teringat betapa berharganya setiap waktu yang saya habiskan bersama Mama di Singapore. Umur saya sudah seperempat abad namun baru kali ini saya jalan-jalan berdua saja dengan Mama. Saya tertawa (sekaligus terharu) setiap melihat Mama excited dengan hal baru yang ditemuinya, entah itu kamar hotel, sprei hotel, bath tub, makanan hotel, kolam renang, gedung tinggi, semua-semuanya yang tidak pernah dia lihat dan rasakan di Sibolga.




Hingga tiba saat liburan kami berakhir dan akan berpisah di Bandara Changi (saya terbang ke Jakarta, Mama terbang ke Medan), saya bertanya pada Mama.

“Jadi Ma, gara-gara kejadian kemarin Mama jadi takut ke luar negeri sendiri lagi nggak?” ujar saya.

“Nggak dong, sekarang Mama sudah berani. Ajak Mama jalan-jalan ke luar negeri lagi ya Kak. Terima kasih untuk kado ulang tahunnya. The best” ujarnya sambil memeluk, mencium kening dan pipi saya.

Saya mengantarnya sampai ke batas pintu imigrasi dan tak sadar ada bulir-bulir air hangat mengalir dari pelupuk mata. Namun bahagia di hati saya membuncah sambil berujar ke diri sendiri.

Iya Ma, masih banyak tempat yang ingin kujelajahi berdua sama Mama. Nanti kita pasti keliling dunia ya Ma. Pasti.


Salam sayang dari kami berdua, Mong dan Tong!


Cheers,


Tuesday, May 30, 2017

Liburan Singkat dan Hemat ke Singapore, Enaknya Ke Mana Ya?

Tuesday, May 30, 2017 7 Comments

Singapore memang nggak ada habis-habisnya untuk dieksplor.  Ya kan? Rasa-rasanya ada saja tempat-tempat baru yang selalu bisa disambangi. Pun sebenarnya tak harus berkocek tebal jika ingin plesiran di kampungnya Merlion ini. Banyak sekali tiket promo ke Singapore dan juga banyak tempat yang bisa kita kunjungi tanpa harus membuat kantong cekak.

Selama tiga hari kemarin saya plesiran ke tempat-tempat menarik yang akan saya tulis di bawah ini. Saya memilih untuk menginap di sekitaran Bugis Street karena menurut saya lokasi ini yang paling strategis untuk berkeliling Singapore, dekat dengan berbagai lokasi wisata dan juga mudah mengakses MRT dan Bus.

Nah, liburan singkat nan hemat ke Singapore, asyiknya ke mana ya?


1.     Merlion Park

Menyambangi Merlion Park dan berfoto di depan air mancur singa ini rasa-rasanya dilakukan semua turis yang datang ke Singapore, tak terkecuali saya. Apalagi tak ada entrance fee untuk masuk ke dalam area Merlion Park. Kamu bisa berfoto sepuas-puasnya dari berbagai angle. Waktu yang paling asyik untuk berkunjung ke sini adalah menjelang sunset, agar bisa dapat beragam warna langit dari terang hingga gelap.



 

2.     Gardens By The Bay

Tak kalah populer dengan Merlion Park, Gardens By The Bay ini juga bisa jadi opsi liburan yang menyenangkan di Singapore. Apalagi kalau kamu suka dengan tanaman hijau dan bunga beragam warna. Jika mau hemat, bisa berkeliling di area Gardens By The Bay dan bersantai di tepian danau nya. Namun jika ingin mendapatkan pengalaman yang lebih menyenangkan bisa masuk berkeliling ke Skytree Groove, Flower Dome dan Cloud Forest dengan entrance fee sebesar SGD 26,60 (sekitar Rp 260.000,- )




Paling menyenangkan menghabiskan waktu dari sore ke malam hari di Gardens By The Bay ini karena bisa menonton atraksi kerlap-kerlip lampu semarak dari Skytree Groove.



3.     Esplanade

Kalau saya menyebutnya gedung durian karena memang bentuknya seperti durian dan setelah say abaca lagi filosofi bangunan ini saat dibangun, memang terinpirasi buah berkulit dan berbau tajam itu. Gedung ini adalah gedung pertunjukan dan kita bisa ikut tur keliling bagian dalamnya namun hanya hari Minggu saja.

4.     Bugis Street

Bugis Street ini jadi tempat favorit untuk belanja oleh-oleh dan juga fashion murah meriah. Harga pakaiannya sekitar SGD 10 -15 rata-rata. Untuk ukuran harga Singapore, harga itu murah banget meski buat kita terhitungnya lumayan. Segala rupa gantungan kunci, tempelan magnet kulkas, hiasan meja tersedia di sini. Sambil jalan-jalan di area Bugis Street, saya senang makan Hotdog seharga SGD 3 dan ragam jus seharga SGD 1 saja.


5.     China Town

Di malam hari, kita bisa berkeliling China Town sambil mencari santapan untuk makan malam. Tenang, bukan karena ini China Town lantas semua makanan yang dijajakan mengandung babi. Banyak juga pilihan makanan halal di area China Town ini. Harga makanan nya berkisar SGD 5 – 20 saja per porsinya. Segitu menurut kamu mahal? Ya namanya juga Singapore :))

Selain Bugis Street, tempat untuk membeli oleh-oleh murah adalah China Town. Di sepanjang jalan banyak sekali kios-kios yang menjajakan t-shirt, ragam pajangan sampai batu giok. Harganya sudah fix dan tak bisa ditawar-tawar lagi.


 

6.     Haji Lane

Makin ke sini, nampaknya lokasi-lokasi dengan graffiti atau dinding warna-warni semakin digandrungi. Disebutnya sih lokasi-lokasi yang instagram-able. Lokasi Haji Lane ini memang kecil di area Kampung Arab. Dulunya lokasi ini tidak diketahui banyak orang namun sekarang ramai setiap hari oleh wisatawan yang ingin berfoto ria di dinding-dindingnya yang semarak warna. Di area ini juga ada yang menjajakan Teh Tarik enak lho.



Rasa-rasanya tak cukup hanya 3 hari plesiran di Singapore. Inginnya kembali lagi ke sana dan menyambangi tempat-tempat asyik semacam Botanical Garden, Universal Studio, Sentosa dll. Pas lagi iseng-iseng cari tiket di Traveloka, eh saya baru tahu kalau sekarang bisa pesan tiket pesawat dan hotel sekaligus lewat aplikasinya dan jadi dapat diskon yang lumayan banget. Langsunglah kita pesan tiket dan hotel di Singapore yuk!




Ternyata selain dapat diskon dan lebih hemat, ada banyaaaaaak sekali pilihan maskapai dan penginapan yang bisa kita filter di bar sebelah kiri. Filternya sendiri terdiri dari Price Range, Star Rating, Facilities, Accomodation Type dan Airline. Akan muncul beragam pilihan yang bisa kamu sesuaikan dengan budget liburan. Praktis banget kan? Bisa menghemat waktu dibandingkan harus pilih tiket di aplikasi ini dan booking hotel di aplikasi lain lagi. Kalau Traveloka bisa sekaligus, kenapa nggak pakai itu aja?

Nyobain pesan tiket + hotel ke Singapore

Ada banyak pilihan mulai dari resort sampai hostel ala dormitory. Semuanya balik lagi ke budget masing-masing...

Yes! It's cheaper together!

Oh ya, yang bikin saya senang beli tiket dan hotel sekaligus di aplikasi Traveloka adalah sistem pembayarannya yang gampang. Bisa bayar pakai Transfer ATM, Kartu Kredit bahkan cicilan. Hell yeaaahhh, asyik banget!

Nih, di bawah ini saya jabarkan foto langkah-langkah buat memesan tiket dan hotel sekaligus di Traveloka ya, semoga membantu!

Jadi, liburan ke Singapore bareng kita yuk? ;)








Thursday, May 18, 2017

Jalan-Jalan ke Banjarmasin, Nginepnya di Pop Hotels Yuk!

Thursday, May 18, 2017 1 Comments

Kalau diajak jalan-jalan ke Banjarmasin pasti pada mau kan? Mau dong!

Ya siapa yang menolak kalau diajak menelusuri Kota Banjarmasin yang juga dikenal dengan Kota Seribu Sungai ini.

Tentu teman-teman tak asing lagi dengan pasar Terapung Lok Baintan, pasar yang tersohor dengan transaksi jual beli yang dilakukan di atas perahu kecil. Tapi, atraksi wisata di Banjarmasin tak hanya pasar terapung lho. Ada beberapa tempat lain yang asyik untuk dikunjungi.

1.     Soto Bang Amat

Konon katanya, Soto Bang Amat ini soto paling enak di Kota Banjarmasin dan memang Banjarmasin terkenal dengan Soto Banjar nya. Namun enak nggak enak nya kembali lagi ke lidah masing-masing orang ya. Dalam satu mangkok Soto Banjar Bang Amat ini ada kupat, bihun, ayam suwir, wortel, perkedel kentang dan kuahnya yang kaya rempah.




2.     Lontong Orari

Masih bercerita tentang wisata kuliner di Banjarmasin, katanya Lontong Orari ini juga jangan sampai luput dari daftar santapan ketika berkunjung ke Banjar. Lontong Orari ini sudah tersohor sejak tahun 1980 an loh! Sempat bingung awalnya kok diberi nama “Orari”. Ternyata dulunya anak-anak muda penggiat Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (Orari) memang sering nongkrong di sini. Yang jadi pembeda Lontong Orari ini dengan Lontong Sayur lainnya adalah karena dia pakai lontong berbentuk segitiga dan disajikan dengan ikan haruan sebagai ciri khasnya. Satu mangkok lontong Orari ini berkisar Rp 32.000,- per porsinya.



3.     Tugu Bekantan

Pernah lihat icon Dufan kan? Nah itu namanya bekantan dan yang juga jadi icon khas Banjarmasin. Jadi kalau foto di depan patung Bekantan ini, berarti kamu sahih sudah datang ke Banjarmasin. Yeay!



4.     Museum Waja Sampai Kaputing (Museum Wasaka)

Museum ini menceritakan sejarah rakyat Kalimantan Selatan di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sejarah panjang tentang kemerdekaan RI terdokumentasikan dengan sangat baik di museum ini. Museum Wasaka terletak persis di pinggir Sungai Martapura.




5.     Makam Sultan Suriansyah Kuin Utara Banjarmasin

Dalam sejarah Kerajaan Hindu Kutai, masyarakat Banjarmasin kebanyakan memeluk agama Hindu. Sultan Suriansyah adalah Sultan Banjarmasin yang pertama kali memeluk agama Islam. Sampai sekarang banyak peziarah yang datang ke makam Sultan Suriansyah dan beribadah di masjid tertua di Kalimantan, yakni Masjid Sultan Suriansyah yang dibangun pada 24 September 1526.



6.     Dekranasda Banjarmasin

Yang mau lihat kerajinan umkm Banjarmasin bisa mampir ke Dekranasda ini. Di sini kita bisa lihat sejarah dan budaya pembuatan kain sasirangan. Saya pribadi senang sekali dengan motif-motif kain Sasirangan ini. Jadi kepingin ngeborong.


 7.     Pasar Terapung Lok Baintan

Nah, ini dia highlight dari Banjarmasin. Pasar Terapung RCTI eh Lok Baintan! Pasar ini memang bukanya sejak subuh hingga jam 8 pagi jadi siap-siap harus bangun pagi ya. Di Pasar Terapung ini kita bisa berbelanja buah-buah segar, kue dan souvenir khas Banjar. Tapi yang paling seru memang bisa melihat langsung transaksi jual beli di atas perahu-perahu kecil ini.




Nah, banyak kan pilihan untuk plesiran ke Banjarmasin? Semua tempat itu bisa teman-teman kunjungi dalam waktu 24 jam lho. Bisa jadi ide liburan singkat di akhir pekan.

Jika mencari tempat menginap di Banjarmasin yang hemat, bolehlah lihat POP! Hotels Banjarmasin. Per tanggal 26 April 2017, POP! Hotels meresmikan (green opening) hotel ke 21 mereka. POP! Hotels Banjarmasin ini juga menjadi POP! Hotel yang punya konsep Pitstop Café setelah POP! Hotels Yogyakarta.




Apa yang dimaksud dengan konsep Pitstop Café?

Jadi Pitstop Café ini gabungan supermarket dan café yang buka 24 jam dengan menu nasi goreng, nasi kuning dan menu-menu lezat lainnya. Pitstop Café ini juga menyediakan fasilitas wifi dan bisa digunakan oleh tamu dan juga umum. Asyik kan?

Oh iya, POP! Hote ini menyebut launching hotel mereka di Banjarmasin dengan sebutan ‘Green Opening’, karena hotel yang dikelola oleh manajemen Tauzia ini mengkampanyekan penghijauan kota Banjarmasin. Hotel ini menggunakan teknologi Solar Panel, Precast Panel, dan Ferrari Screen yang ramah lingkungan.

Ketiga teknologi di atas berfungsi untuk menjaga kesegaran dan memperlancar sirkulasi udara. Suhu koridor dan kamar hotel pun terjaga kesejukannya. Ini meminimalisir penggunaan AC atau pendingin ruangan di koridor. Jadi sangat-sangat ramah lingkungan kan?



POP! Hotels ini terdiri dari 120 kamar dengan interior yang colourful, fun dan instagramable abis. Disediakan fasilitas free wifi tentunya. Pun di lobby terdapat public charging dan dua computer yang bisa dipakai untuk browsing. Rate untuk POP! Hotels ini cuma Rp 298.000 per malam lho. Ramah banget di kantong. The real Budget Hotels for Smart Travelers!



POP! Hotels Banjarmasin

Jl. H.Djok Mentaya No.50, Kertak Baru Ilir, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Sel. 70231










Follow Us @satyawinnie