Calon Bhikkuni berjalan menyusur jalanan di Yangon
“Mingalabar, welcome to Myanmar, how was your flight?” ujar seorang laki-laki yang mengenakan baju kuning dan sarung hitam kepada kami yang baru tiba di Yangon International Airport, sambil tersenyum. Ia mengucapkan kalimat itu dalam bahasa Inggris dengan dialek yang belum akrab di telinga saya dan saya tergelak karena parasnya yang lucu. Namanya Min-min, local guide yang akan menemani kami mengeksplorasi Myanmar beberapa hari ke depan.

Awalnya, saya sempat terheran mengapa Min-min mengenakan sarung ke bandara. Lalu saya menyadari bukan hanya Min-min yang mengenakan sarung, melainkan hampir seluruh lelaki yang saya lihat di bandara, bahkan supir taksi dan bus yang menyetir pakai sarung.

Ketika diperhatikan lagi ternyata para perempuan di Myanmar juga mengenakan sarung namun corak warnanya lebih menarik dibanding sarung yang dikenakan para lelaki. Dari Min-min saya tahu bahwa itu adalah bawahan khas Myanmar yang biasa disebut ‘longyi’ (dibaca ; longji). Di Indonesia, sarung juga sudah melekat sebagai identitas, namun tampaknya tak sekental Myanmar. Mungkin untuk orang kita, sarung identik dengan pakaian rumah atau ke masjid atau pura, sedangkan di Myanmar, lelaki dan perempuan memakai sarung hampir ke mana saja, ke kantor, ke bandara, ke kuil, ke mall, ke mana-mana. Mereka juga jarang memakai sepatu dan lebih memilih memakai sandal jepit ke mana-mana.

Coba di Indonesia kamu pergi ke mall pakai sarung, mungkin jadi bahan tertawaan. Tapi kalau Asoka Remadja sih pengecualian ya, sahabat yang tak pernah mengenakan celana (pakai kain doang) yang juga jadi partner saya di #Escapers17 Myanmar memang tiada dua uniknya!

Selain mengenakan ‘Longyi’, para perempuan di Myanmar juga membubuhkan bedak dingin di wajah yang mereka sebut ‘Thanaka’. Selain berfungsi sebagai tabir surya, ‘Thanaka’ juga dipakai agar kulit tetap adem karena suhu di sana saat siang hari bisa lebih dari 40 derajat celcius. Tapi lucunya saya juga menjumpai banyak petugas wanita di Bandara Yangon yang memakai ‘Thanaka’ padahal mereka bekerja di ruang berpendingin udara. Mungkin karena sudah terbiasa kali ya.

Potret stasiun di Yangon

Setelah Min-min mengecek setiap anggota rombongan #Escapers17, kami digiring untuk naik ke bus tua yang mirip dengan bus yang beroperasi di Jakarta sekitar tahun 80’an. Meski nampaknya ringkih, bagian dalam busnya bersih, wangi dan setiap kursinya diberi alas duduk bulu-bulu sehingga empuk. Ternyata enak juga bis ini, tidak sejelek penampakan luarnya, pikir saya. Nah kan, makanya don’t judge the book by its cover.

Saat bus  mulai bergerak melaju keluar dari bandara, seketika itu pula saya bingung karena bis ini memakai jalur kanan tetapi stir-nya juga di kanan. Lho kok? Biasanya kan kalau stir kanan jalannya di kiri dan stir kiri jalannya di kanan. Lha ini stir kanan, pintunya di kiri, jalan di kanan. Kalau lagi naik angkutan umum, turunnya di tengah jalan dong? Hahaha…

Bayangkan, mobil setir kanan tapi jalan juga di kanan xD

Tempat yang kami tuju tidak terlalu jauh dari bandara, tapi macetnya memang luar biasa, bahkan menurut saya lebih parah dari Jakarta. Karena itulah pemerintah Myanmar melarang sepeda motor melintas di Yangon untuk mengurangi kemacetan. Ternyata hasilnya sama saja dan tetap macet di mana-mana. Taksi-taksi dan bis-bis tua berjubelan di jalan dengan klakson tiada henti berisiknya. Sesekali terlihat becak kecil menyempil diantara kemacetan itu pasrah tak berdaya. Ya, di Yangon sepeda motor memang sudah tidak ada tetapi becak masih (sedikit) berjaya.

Daripada menggerutu karena macet panjang tak berkesudahan, saya memilih untuk memperhatikan Min-min saja yang sedang menjelaskan tentang sejarah Myanmar dan ingin saya bagikan untuk kalian di sini. Min-min bercerita bahwa dahulu, Republik Persatuan Myanmar dikenal dengan nama Birma / Burma karena memang etnis terbanyak di Negara ini adalah Birma ( Burmese). Burma diganti menjadi Myanmar dengan alasan agar etnis lain selain Birma seperti Karen, Kayah, Mon, Kachin, Shan, Senin, Rakhine dan Chin, merasa menjadi bagian dari negara. Yangon yang dulunya bernama Rangoon tidak lagi menjadi Ibukota Myanmar melainkan Naypyidaw sejak tahun 2005 berdasarkan keputusan pemerintahan junta militer. Namun karena infrastruktur di Yangon masih jauh lebih baik, Yangon tetap masih dianggap sebagai Ibukota hingga sekarang.

Myanmar dulunya merupakan jajahan Inggris sehingga tak ayal banyak bangunan tua peninggalan ala Britania tersebar di Yangon namun sayangnya kurang terawat.  Myanmar merdeka tahun 1948 dari Inggris namun tak semerta-merta bisa langsung berkembang seperti Indonesia. Banyak sekali konflik yang menjadi catatan kelam Negara ini baik itu kasus pelanggaran HAM, rezim militer tak berkesudahan, konflik antar etnis, Rohingya dll. Lepas dari jajahan asing, Myanmar menjalani era penjajahan baru oleh kaum elitnya sendiri hingga berpuluh-puluh tahun.

Naik sepeda juga tetap pakai 'long yi' ya Pak...

Meski didera konflik, sebenarnya orang Myanmar sangatlah ramah kepada pendatang. Mereka sangat murah senyum meski tidak bisa berbahasa Inggris. Mereka sama sekali tidak merasa asing dengan wisatawan asing. Myanmar sudah mulai membuka diri kepada dunia luar dan  tidak lagi sekelam cerita atau film tentang Burma yang mungkin pernah kamu tonton. Pun menurut saya, Myanmar aman untuk solo traveler khususnya perempuan.

Hanya saja, Myanmar ini sedikit telat berkembang teknologinya. Bayangkan handphone saja baru banyak dipakai oleh penduduk Myanmar sekitar tahun 2012. Jadi jangan terlalu berharap banyak dengan kecepatan internet di sana ya. Provider lokal yang kemarin saya pakai adalah MPT yang dengan harga 10 USD dapat kuota 1GB dan free-access Facebook. Htoo, teman baru saya dari Myanmar juga bilang, orang Myanmar sekarang keranjingan main facebook dan tidak tertarik dengan social media lain seperti twitter atau instagram.

Mata uang Myanmar adalah Kyatt (dibaca ; chat) yang kursnya 1 USD = 1000 Kyatt. Kalau diubah ke rupiah, dikali 10 aja, misalkan 500 Kyatt berarti 5000 rupiah. Tapi sebaiknya sih tidak usah menukar Kyatt banyak-banyak karena kalau sisa, tidak bisa ditukar lagi di luar Myanmar. Untuk kebutuhan bayar tiket bus, restoran, hotel, rental mobil, pakai USD juga diterima kok.

Sambil tetap mendengarkan penjelasan Min-min, saya memperhatikan jalanan Yangon dari jendela bus. Sambil berjalan, orang Myanmar sering meludah sirih pinang. Jadi jangan heran kalau melihat bercak-bercak merah di jalan. Itu bukan darah tapi sirih pinang. Seketika saya langsung teringat orang Papua yang juga suka meludah sirih. Sebagai penyuka sirih, saya merasa wajib coba dong sirih pinang Myanmar.

Rasanya?

Kayak makan daun pakai bedak bayi. Ada sesuatu yang mereka bubuhkan seperti krim putih yang tadinya saya kira kapur seperti di Indonesia namun ternyata berbeda. Saat dikunyah rasanya memang seperti mencecap bedak atau lotion bayi. Saya tahu betul karena itu seperti lotion yang saya pakai sehari-hari. Hahahaha. Selain karena rasanya, saya juga terkejut karena sirih pinang ini cukup memabukkan juga. Kepala saya sempat pusing untuk beberapa waktu lamanya setelah memakan sirih pinang Myanmar ini. Saya sampai harus meminum beberapa botol air mineral untuk menghilangkan rasa pusingnya.

Pedagang sirih lokal yang bisa ditemui di tiap sudut kota Yangon. Berani coba?
Cerita di atas baru pembuka dari perjalanan saya di Myanmar. Tujuan utama saya datang ke Myanmar sebenarnya untuk familiarization trip bersama Accor Hotels. Ada 10 negara yang ikut berpartisipasi dalam keseruan acara berjudul #Escapers17 ini.  Selama di Myanmar, kami akan diberikan tantangan semacam ‘Amazing Race’ gitu. Asoka dan saya jadi perwakilan dari Indonesia tentu saja sangat bersemangat untuk menyelesaikan permainan super seru ini sambil mengeksplorasi daya tarik Myanmar. Masih ada cerita seru tentang perjalanan #Escapers17 di Myanmar ini yang akan aku tulis. Ditunggu ya ;)

Guide kami Min-min dan Mr Phillipe yang mewakili Accor Hotels di opening #Escapers17 Myanmar





Seminggu sebelum Paskah, terbersit keinginan untuk pulang ke rumah. Apalagi, Mama akan berulang tahun. Sebagai si anak sulung yang sering bepergian dan jarang pulang ke rumah saat hari raya, saya merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk pulang. Mama berulang tahun tanggal 14 April, perayaan Minggu Paskah bersama keluarga tanggal 16 April, dan ulang tahun almarhum Bapak tepat tanggal 17 April. Seminggu yang penuh dengan perayaan penting itulah yang menjadi magnet kuat saya untuk segera memesan tiket pesawat ke Medan. Anyway, kalau mendengar kata Medan / Sumatera Utara, apa sih yang terbersit di kepala teman-teman? Mungkin Danau Toba dan Samosir kali ya? Nah, kali ini saya mau ceritakan tentang kampung halaman Bapak saya, Sibolga.

Untuk mencapai Sibolga dari Bandung, saya terbang selama 2,5 jam dan masih harus melanjutkan perjalanan darat dari Bandara Kualanamu sekitar 10-11 jam. Memang sih, sudah ada penerbangan dari Medan ke Sibolga dua kali sehari, namun jadwalnya hanya di pagi hari dan seringkali penerbangannya dibatalkan. Beberapa kali punya pengalaman buruk saat ingin pulang langsung ke Sibolga naik pesawat, membuat saya lebih memilih duduk di dalam mobil travel selama 11 jam. Poin utamanya adalah yang penting sampai.

Tapi, kalian harus tahu dan bersiap untuk berdoa sepanjang jalan MedanSibolga karena sopir travel asli kelahiran Sumatera Utara sudah terbiasa menyetir dengan kecepatan tinggi di kondisi jalan apa pun. Bayangkan, saat perjalanan kemarin, saya sampai di Sibolga hanya dalam waktu 7 jam karena Abang Driver-nya begitu bersemangat menginjak pedal gas. Syukurnya, tidak ada penumpang yang muntah, hanya sedikit benjol di kepala karena seringkali kepala kami terbentur ketika mobilnya ‘terbang’.

Karena sering bepergian, saat pulang ke rumah, biasanya saya memilih untuk isthirahat atau membantu Momong berdagang di pasar. Lalu, saya teringat kalau saya belum pernah menulis daya tarik kampung saya sendiri. Sudah melanglang buana kemana-mana, tapi tidak pernah memperkenalkan rumah? Duh, saya malu.

Sibolga merupakan kota kecil di tepian teluk yang diapit perbukitan dan laut. Sebutan Tapian Nauli yang berarti tepian yang cantik, disematkan untuk Sibolga, kota yang juga menjadi penghasil ikan terbesar di Sumatera Utara (sekarang disebutnya ‘Sibolga Kota Ikan’). Baiklah. Mari, saya perkenalkan kepada kalian apa saja yang menjadi daya tarik kampung halaman Bapak saya:

1.     Pantai Wisata Indah (WI)
WI ini tempat nongkrong favorit orang Sibolga pada sore hari. Dinamakan Pantai Wisata Indah karena lokasinya persis di depan hotel Wisata Indah. Setiap sore, banyak pedagang membuka kios jajanan untuk menemani orang-orang bersantai sambil menikmati senja dan laut. Jika tidak sedang berombak, orang Sibolga senang mandi laut pada sore hari. Bisa bikin sehat dan tubuh lebih kuat, katanya.



2.     Tor Simarbarimbing
Selain menikmati panorama laut, sedari kecil, saya senang naik ke Bukit Tor Simarbarimbing untuk melihat Kota Sibolga dari ketinggian. Meski harus mendaki ratusan anak tangga, pemandangan dari puncak bukit akan membuat rasa letih saya hilang seketika. Apalagi, kalau naiknya menjelang senja. Saya bisa dapat pemandangan senja dan Teluk Sibolga.




3.     Tangga Seratus
Sebenarnya, jumlah anak tangganya ada lebih dari 100, tapi orang Sibolga menyebutnya tangga seratus sejak dulu. Dari atas, kita bisa melihat panorama Kota Sibolga dan Teluk Tapian Nauli, tapi tidak seluas saat kita memandangnya dari Tor Simarbarimbing.

4.     Pulau Mursala
Ditilik dari letak geografisnya, Pulau Mursala masuk ke wilayah administrasi Kabupaten Tapanuli Tengah, bukan Kota Sibolga. Namun, karena letaknya sangat dekat, orang-orang kerap mengenal bahwa Pulau Mursala berada di Sibolga. Yang membuat pulau ini terkenal adalah air terjunnya langsung mengalir ke laut. Konon katanya, air terjun seperti ini hanya ada beberapa di dunia. Saya sudah pernah bercerita tentang Pulau Mursala di sini, lho.



5.     Sibolga Square
Tempat yang hanya buka pada malam hari ini menjajakan beragam kuliner, seperti sate, nasi goreng, mie tek-tek, pempek, soto ayam, mie sop dan masih banyak yang lainnya. Ada juga Mie Gomak yang digadang-dagang sebagai makanan khas di Sumatera Utara. Namun, jika kalian bertandang ke Sibolga, saya menyarankan untuk menyicipi kerang rebus khas Sibolga. Apanya yang bikin khas? Bumbunya, dong! Di Sibolga, kerang rebus disantap bersamaan dengan saus spesialnya yang terdiri dari parutan nanas dan kacang tanah yang diulek ditambah kucuran jeruk nipis. Rasanya? Coba sendiri!



6.     Pelabuhan Lama Sibolga
Bagi penyuka gedung-gedung tua, mungkin akan tertarik mengeksplorasi banyak bangunan sudah terbengkalai yang banyak dialihfungsikan menjadi gudang. Tapi, lokasi ini bagus untuk foto-foto, lho. Saya kerap berandai-andai jika pemerintah Sibolga mau merenovasi gedung-gedung tua ini pasti akan menjadi objek wisata yang sangat menarik. Yah, seandainya.

7.     Jembatan Kuning Sibolga
Jembatan ini baru saja rampung dan mungkin ke depannya akan menjadi objek wisata menarik di Sibolga, di mana para pengunjungnya bisa bersantai sore sambal berjalan-jalan di atas jembatan yang dibangun di tengah laut ini. Enaknya sih, datang saat pagi atau sore hari ketika matahari tidak terlalu terik dan angin laut sepoi-sepoi membelai wajah.

8.     Rujak Ulek dan Cendol Pasar Belakang
Saat pulang ke Sibolga, saya tidak pernah lupa untuk menyambangi rujak ulek dan cendol pasar Belakang yang menjadi langganan saya sejak SD. Di kawasan pasar Belakang, kalian juga bisa menemukan banyak ikan asin yang menjadi komoditi khas dari Sibolga selain ikan segar.

9.     Pajak Nauli Sibolga
Bila ingin melihat jantungnya Kota Sibolga, datanglah ke Pajak Nauli. Pajak di sini bukan berarti kantor pajak ya, tetapi sebutan untuk pasar. Dulu sempat bingung juga kenapa orang-orang sering pergi ke Pajak (karena dulu, saya pindah sekolah dari Bengkulu ke Sibolga). Ternyata, maksudnya adalah pasar, toh. Kalian bisa mencoba kuliner mie sop yang ada di Pajak. Warung-warung di pasar ini juga menjajakan penganan khas Sibolga, panggang pacak, serta ikan yang dilumuri bumbu kuning dan dibakar.

10. Pantai Pandan, Pantai Kalangan, dan Pantai Bosur
Sama seperti Pulau Mursala, pantai-pantai ini juga berada di Kabupaten Tapanuli Tengah. Tapi, orang-orang pasti pergi ke Pantai Pandan, Pantai Kalangan, dan Pantai Bosur saat bertandang ke Sibolga. Pantai-pantai ini bersebelahan dan bisa dieksplor dalam waktu yang bersamaan. Di akhir pekan, pantai ini ramai dengan keluarga yang berpiknik ria.

11. Pantai Mela
Pantai ini persis di halaman belakang rumah saya dan yang menjadi favorit saya adalah suasananya lebih sepi ketimbang pantai lainnya. Rasanya enak betul setiap sore bisa duduk santai di belakang rumah sambil menikmati senja. Ada beberapa warung yang menjajakan pisang goreng dan es kelapa muda. Bayangkan saja betapa nikmatnya hidup di Sibolga.




12. Pulau Putri
Pulau ini lokasinya dekat dengan Pulau Mursala dan bisa ditempuh dengan naik speed boat selama kurang lebih satu jam. Meski pulaunya tidak terlalu besar, terumbu karangnya akan menggoda kamu yang senang dengan dunia bawah laut. Laut biru jernih dan pantainya yang berpasir putih akan membuat kamu betah berlama-lama di pulau ini. Untuk cerita lengkap tentang Pulau Putri, bisa kalian baca di sini ya.



Sebenarnya, tempat-tempat yang aku sebutkan di atas hanya sebagian kecil dari pesona wisata yang dimiliki Sibolga dan Tapanuli Tengah. Bahkan Barus, kota kecil yang bersebelahan dengan Sibolga juga sangat menarik buat diulik. Jadi, pastinya masih ada banyak lagi tempat-tempat menarik di sana.

Akhirnya, saya berencana untuk tinggal lebih lama di Sumatera Utara untuk mengeksplorasi setiap sudut Sibolga dan Tapteng sampai satu email masuk ke dalam kotak surat saya. Isinya? Diajak ke Melbourne tanggal 6 Mei mendatang. Hatiku riang, girang tak terkira.

Sampai saya menyadari sesuatu. “Laaaahhh, 6 Mei kan, dua minggu lagi!”, pekik saya saat membaca email itu. Duh, mulai kalang kabut karena posisi masih di Sibolga, sedangkan saya harus mengurus Visa Australia secepatnya.

Saat itu, yang terpikir di benak saya pertama kali adalah harus reschedule tiket pesawat secepatnya untuk pulang ke Jakarta karena tiket pulang saya dijadwalkan ke Bandung. Makin was-was lah saya karena reschedule-nya bukan cuma jadwal, tetapi juga destinasinya.

Karena waktu itu booking tiket pesawat PP dari mobile apps Traveloka, saya buka lagi aplikasinya dan ternyata ada fitur Easy Reschedule yang bisa mengubah jadwal penerbangan langsung. Jadi, saya tidak harus datang ke kantor maskapai atau repot menelepon Customer Service maskapai. Pun di Sibolga, tidak ada kantor maskapai Citilink yang tadinya saya pesan untuk pulang dari Medan ke Bandung. Repot kan, kalau disuruhnya datang ke kantor maskapainya.

Sebelum mengulik fitur tersebut, saya sempatkan untuk intip website Traveloka untuk memastikan hal-hal terkait Easy Reschedule, seperti syarat dan ketentuan yang biasanya jarang orang-orang perhatikan. Jangan sampai kita salah informasi ya, kan? Yang paling saya ingat adalah bahwa tidak semua maskapai menyediakan layanan ubah salah satu jadwal dari tiket PP yang sudah dibeli di satu maskapai, biasanya disebut ubah secara parsial. Kedua, kita akan dikenakan biaya adminstrasi untuk mengubah jadwal penerbangan dalam atau luar negeri. Masing-masing nominalnya berbeda. Ketiga, jika tiket yang diubah lebih murah dari tiket yang baru, kita akan mendapat refund, namun sebaliknya, kita harus membayar tambahan harganya. Fair enough.

Saya cobalah untuk klik “Manage Booking” di aplikasi Traveloka dan muncul tiga pilihan, yaitu ‘Reschedule’, ‘Refund’ atau ‘Contact Traveloka’. Saya klik Reschedule dan memilih penerbangan yang akan saya ubah jadwalnya. Yang bikin saya kaget, ternyata saya nggak hanya bisa ubah jadwal terbang, tetapi juga destinasi dan maskapainya. Jadi, misalkan kamu awalnya terbang dengan Citilink, lalu mau menggantinya menjadi Batik Air, bisa lho! Namun, saya tetap memilih maskapai Citilink dengan hanya mengubah destinasi dari Medan–Bandung menjadi Medan–Jakarta.




Saat memilih jadwal penerbangan yang baru, kita langsung diberitahu berapa perkiraan biaya untuk reschedule. Ada yang gratis lho, alias 0 rupiah. Itu artinya nggak perlu menambah biaya lagi. Enak betul!

Tetapi, karena tetap memilih Citilink, saya harus menambah biaya sebesar Rp50.087. Yah, nggak mahal-mahal amat lah. Setelah melakukan pembayaran, saya langsung menerima kode booking penerbangan saya yang baru. Semudah itu ya, sekarang buat reschedule flight. Padahal dulu, ya ampun, ribet sekali hanya untuk pindah jam terbang saja.


Saya janji akan pulang lagi ke Sibolga secepatnya untuk mengulas semua potensi wisata di sana. Sekarang, mari fokus mengurus Visa Australia, sendiri. Hahahaha. Wish me luck, ya!


Apakah kamu pernah merasa terpesona melihat seorang perempuan? Apakah perempuan bisa terpesona karena perempuan lainnya? 

Tentu saja bisa.

Menurut saya (mungkin menurut kamu juga), setiap perempuan itu hebat, punya kisah yang bisa menginspirasi perempuan lain untuk berkembang dan melangkah lebih jauh, melampaui batas kemampuannya. 

Kata Mamak saya, perempuan itu memang layaknya bunga, yang punya cara sendiri-sendiri untuk mekar namun tetap memesona. Bahkan di kondisi paling sulit pun, perempuan itu harus bisa survive dan tumbuh di mana saja.

“Like wild flowers, you must allow yourself to grow in all the places people thought you never would”

Bicara tentang perempuan yang memesona, yang menghidupkan mimpinya dan menjadi inspirasi bagi saya, ini adalah beberapa diantaranya ;


Wanita #Memesonaitu yang Berani Menjelajah ; Dewi Patlia Novitasari


Perawakannya mungil, berparas cantik imut layaknya ABG baru lulus SMA, namun sudah menjelajah hampir semua provinsi di Indonesia. Meski berhijab, Devanosa, panggilan akrabnya, tak pernah merasa kerudung menjadi penghalang untuk bertualang. Mendaki gunung tinggi hingga menyelami lautan dalam, menelisik kampung adat dan budaya sudah menjadi penganan sehari-harinya. Deva menginspirasi banyak perempuan di Indonesia untuk berani menjelajah tanpa harus takut bahwa berhijab menjadi hambatan untuk bepergian ke sana ke sini. Benar-benar memesona kan?




A post shared by DEVANOSA 👻 (@devanosa) on


Wanita #Memesonaitu yang Berjuang untuk Lingkungan ; Githa Anathasia


Bukan hal yang mudah untuk menjadi penyuluh lingkungan. Bertahun-tahun tinggal di pulau terpencil untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat pesisir tentang pentingnya kelestarian alam bawah laut.  Penolakan di sana-sini mungkin sudah jadi makanan sehari-hari. Namun seorang wanita cantik berdarah Jawa bernama Githa Anathasia, membuktikan bahwa ia memesona dengan ketangguhan dan keuletannya untuk mengembangkan pariwisata berbasis lingkungan. Pun Kak Githa juga berjuang untuk mensejahterakan masyarakat dengan melatih mereka sebagai pelaku pariwisata. Kini, Githa sudah mantap mendedikasikan seumur hidupnya untuk terus mengembangkan Arborek, pulau kecil di gugusan Raja Ampat.



Wanita #MemesonaItu yang Berkarir Sepenuh Hati, Mewujudkan Mimpi ; Sri Anindiati Nursastri


Punya pekerjaan yang sudah menjadi passion tentu sangat menyenangkan. Sri Anindiati Nursastri atau yang akrab dipanggil Sastri, menghidupi mimpinya sebagai jurnalis portal berita kenamaan dengan segment favoritnya, travel. Tulisan-tulisannya apik dan menarik pembaca untuk menunggu cerita-cerita perjalanan berikutnya. Ia juga sangat senang membagi-bagi ilmu penulisan kepada siapa pun. Menjadi jurnalis adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan baginya dan selalu dikerjakannya sepenuh hati.



Wanita #MemesonaItu yang Memaksimalkan Hidup dengan Berkarya ; Vira Tanka


Sejak dulu saya selalu terkagum dengan orang-orang yang sangat jago menggambar, apalagi perempuan. Bukan sekedar karena mereka memiliki bakat, namun juga karena mereka tidak berhenti untuk berlatih menggambar. Salah satu wanita yang saya kenal sangat jago menggambar adalah Vira Tanka, salah satu founder travel blog kenamaan di Indonesia, indohoy.com. Syaa sangat sangat sangat menyukai semua sketsa dan gambar yang dihasilkan dari tangannya. Dan tak ingin sekedar menggambar, Kak Vira mencetak sendiri sketsa-sketsa cantiknya di scarf, slingbag, notes, t-shirt, notes dan juga membuat postcards. Karya-karyanya digemari banyak orang dan terus berkembang. Saya sangat bangga bisa mengenalnya.

A post shared by Vira Tanka (@byviratanka) on

A post shared by Vira Tanka (@byviratanka) on

Empat perempuan di atas hanya sedikit dari banyak sekali wanita memesona yang saya kenal. Kalau menurut kamu, wanita yang #MemesonaItu seperti apa sih?

Yuk ikut blog competition #MemesonaItu dengan buka website ini. Kamu nggak punya blog? Tetap boleh ikutan dengan menulis langsung di micrositenya ya. Masih ada waktu sampai tanggal 10 April buat ikutan lomba ini lho!

Hadiahnya apa?

Nah, kalian berkesempatan untuk memenangkan dua kamera mirrorless dan juga hadiah cash jutaan rupiah plus hadiah-hadiah lainnya. Yuk langsung buka bit.ly/memesonaitu!

Good luck!