Monday, February 6, 2017

# Papua Barat # Raja Ampat

Tradisi Tahun Baru Seru di Arborek Raja Ampat


Pergantian tahun selalu menjadi perayaan yang istimewa bagi semua orang. Tua dan muda, tak terkecuali. Tiap-tiap daerah pun memiliki tradisi khas untuk merayakan tahun baru. Di tahun 2017 ini, saya mendapatkan kesempatan untuk merayakannya di pulau kecil bernama Arborek di Raja Ampat. Sudah pernah mendengar nama pulau ini kah sebelumnya? 

Sebenarnya catatan ini mau dipublikasikan di blog dari bulan lalu, eh baru kesampaian sekarang. Ya  walau sedikit terlambat semoga teman-teman tetap menikmati cerita ini ya.

Saya dan Janatan tiba di Arborek tepat tanggal 1 Januari lalu. Setelah perjalanan panjang naik kapal Pelni, kami menjejak di tanah Papua dan diterima dengan hangat di keluarga Kaka Githa dan Acel Mambrasar di Arborek. Ada cerita spesial tentang Kaka Githa yang akan aku tulis di post lain ya.

Perayaan Natal dan tahun baru di Arborek masih sangat terasa dengan banyaknya hiasan lampu-lampu di halaman rumah biru. Semua rumah di Arborek warnanya biru lho jadi hati-hati tersesat karena semua bentukan rumah dan warnanya sama ya. Ada banyak sebenarnya yang spesial tentang pulau kecil bernama Arborek ini namun lagi-lagi ceritanya nanti aku kasih di post terpisah ya. Sekarang saya mau bercerita khusus tentang tradisi tahun baru dulu.

Tradisi ini disebut sebagai “sambung tangan” karena semua penduduk akan saling berjabat tangan sambil mengucapkan selamat tahun baru. Serunya, semua orang, tua dan muda, bergabung dalam riuh tabuhan gendang dan suling tambur sambil berkeliling kampung.  Abang Teis (salah satu manusia yang paling gembira di bumi!) terlihat sangat gembira membawa bendera merah putih berukuran besar yang diikatkan di bambu dan mengayunkannya di depan barisan. 

Saya terharu betapa rasa nasionalisme mereka di sana begitu tinggi di kala banyak yang menyuarakan pembebasan tanah Papua dari NKRI. Betul saya sampai menitikkan air mata terharu. Ketika di Pulau Jawa tampaknya kita mulai terpecah-pecah, di pulau kecil nun jauh di timur Indonesia menggambarkan persatuan yang dibalut dalam tradisi budaya. Indah sekali...

Suling tambur berkeliling kampung Arborek!
Di Arborek, kampungnya dibagi menjadi dua bagian, kampung barat dan kampung timur dengan jumlah KK kurang lebih 38. Dari jumlah KK itu, akan dibagi berpasang-pasangan. Antar pasangan akan saling mengundang untuk pesta syukuran tahun baru dan memberikan hadiah. Semacam tradisi ‘secret santa’ saat perayaan Natal namun lebih besar karena diadakan antar keluarga di kampung. Keluarga yang mendapat giliran menjamu harus menghidangkan beragam menu makanan dan juga menyiapkan kado untuk seluruh anggota keluarga yang ada di rumah itu. Seru bukan?

Berjabat tangan satu-satu meski hari sudah mulai gelap.

Mereka begitu kreatif dan membuat KM Arborek ini. Hahahah xD
Jadi saat kami tiba di sana, seluruh warga kampung sedang sibuk mempersiapkan pesta syukuran tahun baru. Para bapak membangun tiang-tiang kayu dan memasang terpal di halaman rumah mereka masing-masing. Para Ibu berbelanja bahan makanan dan hadiah ke pasar lalu mengolahnya menjadi jamuan makan lezat. Untuk berbelanja ke pasar, Ibu-ibu harus naik kapal ke Waisai dengan waktu tempuh 1-2 jam sekali jalan. Berat di ongkos juga karena sekali jalan ke Waisai butuh 'duit minyak' sekitar satu juta rupiah.

Tenda terpal dengan gantungan minuman kaleng untuk dibawa pulang tamu. Seru!
Tentu saja keluarga Bang Acel dan Kak Githa tidak ketinggalan. Dua hari setelah pesta sambung tangan edisi pertama, tiba giliran kampung sebelah mengadakan edisi kedua, Kak Githa menyiapkan banyak sekali hidangan lezat dari ikan dan ayam. Menu-menu itu dihidangkan di atas meja panjang di halaman rumahnya. Tak lupa seperangkat alat perkakas dapur yang baru ia beli di pasar disiapkan di meja dan juga bungkusan-bungkusan kado. Tamu yang akan dijamu tahun ini Kak Githa adalah satu keluarga yang terdiri dari Bapak, Ibu dan tiga putrinya yang masih kecil-kecil. Setiap tahun yang dijamu akan berbeda-beda keluarganya tergantung undiannya.

Selamat tahun baruuuu!!!
Satu yang tak boleh dilupa yakni menyiapkan piring porselen besar yang diisi dengan pinang, kapur sirih. Tentu saja hidangan ini harus ada karena setiap hari orang Papua pasti ‘nyirih’.

Acara syukuran dimulai dengan doa dan sambutan dari Tuan Rumah dilanjutkan dengan makan bersama. Setelahnya, semuanya menyalakan sound system dan berjoget ria, bagian yang paling aku suka. Kami berjoget mengikuti alunan musik sambil….

Makan sirih! Itu sudah! Hahahaha...

Asyik banget lho bergoyang sambil mengunyah sirih. Patut dicoba kalau kalian menyambangi Papua suatu waktu nanti ya.

Seusai pesta, tamu akan membawa seluruh makanan yang masih ada lengkap dengan piring, sendok, garpu, mangkok, dispenser, gelas, semua semuanya. Lucu kan? Saya belum pernah melihat acara syukuran seperti ini sebelumnya. Biasanya tamu hanya membawa makanan yang tersisa dalam kantong plastik atau kotak bekal yang mereka bawa dari rumah (sebagai orang Batak, saya sangat mengerti soal ini ;) ). Sedangkan di Arborek, tamu boleh bawa pulang semuanya! Dapat kado pula! Aih enak betul!

Dua hari berikutnya, giliran keluarga Bang Acel dan Kakak Githa yang dijamu. Mereka juga boleh membawa pulang semua peralatan dan makanan yang terhidang di meja tuan rumah. Saking banyaknya, lima orang tidak cukup untuk membawa semuanya pulang dan harus memanggil bala bantuan saudara yang lain. Senang betul melihat semuanya bergembira di tahun baru dan saya makin senang karena mendapatkan kesempatan bergabung dalam keriaan itu.

Kemajemukan budaya inilah yang akan membuat Indonesia selalu menarik untuk diulik. Kalau perayaan tahun  baru di daerah kalian bagaimana? J

Salam sayang dari anak-anak manis di Arborek! Happy New Year!

15 comments:

  1. Aaakkk, boleh bawa dispenser pulang? Kok meriahhh kali merekaa..

    Kalo bisa liat langsung pasti lebih seru ya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh Kare! Kayak pesta 17an tapi lebih seru karena semua orang dapat hadiah seabrek-abrek! Hahahaa. Yes! Harus liat langsung kapan-kapan ya ;)

      Delete
  2. lumayan juga ya modal menjamu tamunya, mesti merelakan peralatan makan juga.. Bukan piring kertas dan sendok garpu plastik belaka kan? :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. BUkan Kak Vira, semua peralatan makan yang dipakai untuk menjamu harus baru lho! Pada pakai perabotan melanin atau piring kaca. Modalnya gede itu!

      Delete
  3. ya ampun seru banget taun baruannya :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru banget Mbok! Macam dapat angpao pas Imlek tapi bentuknya perabotan! Hahahaha....

      Delete
  4. Aku selalu suka dengan cara kamu bercerita, seolah membawa imajinasiku berada disana hehe..Salam kenal ya Satya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Kak Ika, terima kasih sekali lagi sudah mampir yaaaaaa ke blogku ini. Hehehe... Aku masih harus banyak belajar banyak soal menulis euy...

      Delete
    2. Iya Satya, sama sama yah...sama aku juga lagi terus belajar menulis 😅

      Delete
  5. Mbak, kenapa rumah di Arborek warnanya pada biru ? hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu kesepakatan dari masyarakat dan Kakades (kepala desa) untuk menyamaratakan warna rumah agar terlihat menarik. Di Pulau Arborek ini cuma ada 36 rumah kok ;)

      Delete
  6. Ih keren tahun baruan pawai yaaaa, kayak acara 17 agustusan hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya KakCum. Aku berpikir ini tradisi tahun baru atau 17an ya? Hahahahaha xD

      Delete
  7. Seru ya, hanya ada 36 rumah (yang biru semua), ples orangnya ramah dan rukun rukun. Udah kayak keluarga besar banget. Hebatnya lagi mereka welcome dan saling berbagi. Hangat banget bacanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Justinnnn... terima kasih sudah mampir dan membaca yaaa. Iyaaaa unik sekali kampung Arborek ini dan memang mereka ini semua ada hubungan keluarga. Aku beruntung bisa ada di sana dan ikut acara tahun baru mereka xD

      Delete

Apa yang terpikir di benakmu setelah membaca tulisan ini? Share dong :)

Follow Us @satyawinnie