Tips Jalan Hemat ke Raja Ampat


Suara gaduh porter pelabuhan yang menawarkan jasa menyadarkan saya bahwa kami memang sudah tiba di Sorong. Waktu itu kira-kira pukul sebelas, bertepatan dengan pengumuman bahwa penumpang sudah boleh mengantri mengambil jatah makan siang yang biasanya hanya nasi, ikan kuah kuning sebesar jempol dan sayur kol.

“Sebelum turun, ambil makan siang saja dulu”, ujar Bang Franky, penumpang KM Dobonsolo dengan tujuan Jayapura. Itu artinya dia masih harus berlayar 3 hari lagi untuk sampai di tujuannya.

“Ah Abang, ini kami sudah sampai tujuan, mana mungkin dapat jatah makan lagi” ujar saya.

“Eeee tak apa. Sini sa yang ambil” ujarnya seraya meminta tiket kapal saya dan Janatan. Segera dia berlalu ke pantry untuk mengantri.

Kapal memang sudah sandar sejak setengah jam yang lalu, namun kami berdua agak enggan beranjak. Selama lima hari di kapal PELNI, kami sudah terbiasa di lautan dan kini harus kembali menjejak daratan. Tak apalah, toh kapal sandar 4 jam di Sorong, masih ada waktu untuk bersantai.

Tak berapa lama, Bang Franky kembali.

“Iyo, su tra bisa dapat makan. Pelit sekali orang kapal ini” ujarnya sambil tertawa dan mengembalikan tiket kami berdua. Betul kan apa yang saya bilang, pasti sudah tidak dapat jatah makan karena sudah tiba di tempat tujuan.

Hingga akhirnya satu jam setelah kapal sandar, kami berdua baru beranjak keluar.

Pelabuhan masih riuh dengan porter dan penumpang KM Dobonsolo yang lalu lalang. Perut mulai memberikan isyarat butuh diberi asupan. Saya dan Janatan pergi ke warung nasi di seberang pelabuhan.

“Ma, nasi ikan berapa?” tanya saya.

“Nasi deng ikang tiga puluh ribu”, jawabnya sambil mengipasi ikan yang sedang dibakar.

Lumayan mahal juga ya nasi dan ikan satu porsi tiga puluh ribu. Kalau makan berdua enam puluh ribu. Akhirnya saya dan Janatan memutuskan membeli satu bungkus saja untuk dimakan berdua. Dengan muka memelas sedikit, kami meminta tambah nasi dan syukurlah si Mama baik dan menyendokkan nasi lebih ke bungkus nasi kami.

“Ade ini mo pigi mana?” tanya Mama.

“Katong ada mo pigi ke Waisai terus ke Arborek Ma” jawab saya.

“Berarti naik kapal cepat dari pelabuhan rakyat ya. Pergi cepat, jangan sampai tidak dapat tiket. Naik ojek saja dari sini, bayar dua puluh ribu” lanjut Mama.

Ternyata pelabuhan untuk naik kapal ke Waisai atau yang dikenal dengan nama pelabuhan rakyat masih jauh dari pelabuhan Sorong. Takut kehabisan tiket kapal cepat, kami mengikuti saran Mama untuk naik ojek ke pelabuhan rakyat.

Setibanya di sana tiket kapal cepat masih tersedia banyak. Syukurlah. Saya mengabari Kak Githa Arborek bahwa kami sudah di pelabuhan rakyat untuk menunggu keberangkatan kapal. Kak Githa membalas pesan singkat saya dan mengatakan dia akan menunggu di pasar Waisai. Bersamanya lah saya akan tinggal untuk beberapa waktu di Arborek, Raja Ampat.


Bungkusan nasi kami buka dan makan dengan lahap di ruang tunggu pelabuhan. Lucunya kami hampir tertinggal kapal cepat karena Janatan keasyikan bermain dengan anak-anak di lapangan belakang pelabuhan dan ada seorang bapak yang menyentak kami dengan suara keras untuk segera naik ke kapal. Kami berdua pun berlari tergopoh-gopoh dengan carrier masing-masing, berusaha secepat mungkin karena kapal cepat sudah membunyikan terompetnya beberapa kali. Ternyata kapal baru berangkat setengah jam setelah kami naik. Padahal masuk kapal sudah dengan peluh sebesar bulir-bulir jagung dan nafas satu dua. Hahahaha….

Petugas mengecek tiket penumpang hingga tiga kali. Entah untuk apa kami tidak mengerti. Yang pasti kami berdua tertidur pulas hingga kapal sandar di pelabuhan Waisai.

Awan hitam besar menggelayut di langit begitu kaki kami menapak Waisai. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya. Ternyata Kak Githa yang menanyakan posisi. Ia sedang berbelanja di pasar dan mengatakan suaminya, Marsel akan menjumpai kami di pasar. Kami menyetop dua ojek untuk mengantarkan kami ke pasar dan membayar Rp 20.000 per orang. Seorang laki-laki tegap dengan wajah ramah yang ternyata Bang Marsel.

“Githa ada pigi belanja, tunggu di sini dulu saja” ujar Bang Marsel.

Kami meletakkan carrier yang beratnya lumayan di para-para dekat muara. Saya membeli minuman dingin dan stok gula-gula (permen) untuk anak-anak di Arborek nanti. Semua anak pasti senang dengan gula-gula kan? Ah ya saya juga membeli ikan asap / ikan asar dengan harga Rp 15.000,- saja per ekornya. Waktu itu air liur saya menetes membayangkan menyantap ikan asar dengan sambal colo-colo. Mak!

Tak berapa lama, tampak seorang wanita yang tampilannya sama seperti foto-foto di akun media sosialnya. Tinggi, kulit sawo matang dan rambut kecokelatan. Pasti itu Kak Githa!

Pelukan hangat diberikannya saat kami akhirnya bertemu. Saling mengenal di media sosial selama bertahun-tahun namun baru kali itu kami bertatap muka. Kaka Githa sedang berbelanja kebutuhan pesta syukuran tahun baru jadi belanjaannya cukup banyak mulai dari makanan hingga perkakas dapur (untuk hadiah).

Setelah segala kebutuhan lengkap, kami menaiki kapal speed berkapasitas maksimal 15 orang kepunyaan Bang Marsel dan Kak Githa. Perjalanan dari Waisai ke Arborek memakan waktu sekitar 1,5-2 jam tergantung ombak. Saat laut teduh, bahkan bisa 1 jam saja kata Bang Marsel.

Hari semakin gelap, namun bukan berarti perjalanan menjadi membosankan. Buat saya malah semakin menyenangkan. Selama kapal melaju dalam gelap, buih-buih ombak dan plankton yang bersinar dalam laut berpercikan seperti kembang api. Betapa cantiknya! Andaikan bisa saya abadikan agar kalian melihatnya juga. Ah tak perlu lah ya. Kalian harus melihatnya dengan mata kepala sendiri nanti.

Kapal melambat pertanda kami sudah dekat dengan Arborek. Dengan bantuan headlamp kecil, kapal bisa mendarat tanpa menabrak terumbu karang. Bang Marsel sebagai juru kemudi tentu sudah hafal betul bagaimana memarkirkan kapalnya dengan aman.




Barang-barang mulai diturunkan. Belanjaan paling berat adalah galon-galon air mineral. Air mineral adalah komoditi penting di Arborek. Tak ada sumber air bersih sehingga seluruh penduduk harus membeli air dalam kemasan untuk minum dan masak.

Malam itu kami tidur dengan nyenyak di rumah Kak Githa dan Bang Marsel. Berkat kebaikan hati merekalah kami bisa berhemat di perjalanan Raja Ampat ini.

Keluarga baru di Arborek! Banyak kenangan di pulau ini yang pasti takkan terlupa!

Ah, masih banyak yang ingin saya ceritakan tentang Arborek. Tunggu post berikutnya ya!

Catatan Kecil :


Bagaimana cara hemat ke Raja Ampat? Ini sedikit tips dari saya...

  • Harga tiket PELNI KM Dobonsolo Surabaya – Sorong : Rp 650.000 per orang. Naik kapal memang makan waktu lama namun kami mencari jalan terhemat ke Raja Ampat, jadi ya naik kapal. Harga tiket pesawat Jakarta – Sorong berkisar 1,5 juta hingga 3 juta rupiah one way.
  • Dari Sorong, kita bisa menuju Waisai dengan kapal cepat dengan harga Rp 130.000 (kelas ekonomi) dan Rp 220.000 (kelas VIP). Keberangkatan kapal ini terjadwal setiap hari pukul 09.00 dan 14.00 WIT untuk hari Senin – Jumat dan keberangkatan 11.00 dan 14.00 WIT untuk hari Sabtu Minggu.
  • Naik ojek di Sorong dan Waisai sekitar Rp 20.000 per orang untuk jarak dekat. Untuk jarak jauh, silahkan dinegosiasi dengan abang ojeknya ya.
  • Harga makanan di Papua memang jauh lebih mahal dibandingkan Jawa. Jadi tanya dulu harga makanan di sana sebelum membelinya ya.
  • Harga homestay di Arborek rata-rata Rp 350.000,- per orang per hari sudah termasuk makan tiga kali sehari. Kami menghemat banyak karena mendapat tumpangan dari Kak Githa dan Bang Marsel. 
  • Memasak adalah jalan paling baik untuk menghemat. Bisa beli bahan makanan di Waisai dan memasak di rumah. Lagi-lagi terima kasih untuk Kak Githa. I love you!
  • Meski foto-foto di blogpost ini tak banyak nyambung dengan ceritanya tak apa ya? Yang penting beneran di Raja Ampat ;)