Pulau Arborek Raja Ampat yang Mencuri Hati


Angin laut meniup kain yang menutupi badan. Saya terbangun karena kedinginan dan dalam kondisi setengah mengantuk, memandang bulan yang sudah berpindah dari kiri ke kanan. Pasti sudah lewat tengah malam sekarang, pikir saya. Disinari cahaya bulan purnama, saya tidur lelap di tepi pantai, di atas para-para bambu, beratapkan langit. Tidak hanya saya sendiri yang tidur di tepi pantai, tetapi warga lain juga. Tidur di pantai saat bulan purnama sepertinya sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan bagi mereka.

Dua minggu saya dan Janatan menetap di Pulau Arborek, pulau kecil di gugusan Raja Ampat. Dalam waktu yang singkat itu, saya mencoba berbaur dengan kehidupan masyarakat lokal. Bersyukurlah kami mendapatkan tumpangan di rumah Bang Marsel Mambrasar dan Kak Githa Mambrasar, sepasang suami istri yang sama-sama dive master dan punya usaha Arborek Dive Shop. Berawal dari kegiatan volunteer yang dilakukan pada tahun 2012, Kak Githa akhirnya menetapkan hati selamanya di Arborek. Manis sekali.

Kak Githa, saya dan Janatan setelah dive di Sawondarek
Arborek ini kecil sekali sehingga dalam waktu 30 menit saja, kita sudah mengelilinginya dengan berjalan kaki. Benar-benar dengan kaki tanpa alas. Memakai sandal justru terasa sedikit aneh karena hampir semua warga lokal berjalan tanpa sandal, apalagi sepatu. Paling ketika ibadah minggu di gereja atau ada perayaan pesta baru mereka mengenakannya. Rasanya menyenangkan bertelanjang kaki dan berjalan di pasir lembut kecuali saat panas terik baru pakai sandal.


Satu-satunya gereja di Arborek dan semua warganya beragama Kristen

Hidup dengan Keterbatasan Air, Listrik dan Sinyal


Tak ada sumber air bersih sehingga warga Arborek sangat menggantungkan hidupnya pada air hujan. Di tiap-tiap rumah pasti ada tampungan air dengan tendon besar yang mengalirkan air hujan dari atap rumah. Sebenarnya dulu ada sumur air bersih yang dimanfaatkan bersama oleh warga Arborek namun gempa bumi yang terjadi beberapa tahun silam (mungkin) mengakibatkan pergeseran di bawah tanah sehingga tidak ada lagi air bersih di sumur itu.

Akhirnya untuk air minum, semua harus membeli air galon ke Waisai dan untuk mandi serta mencuci menggunakan air hujan. Saya menghitung benar bahwa setiap hari saya hanya mandi satu kali saja dengan air 10 gayung. Itu pun mandi kalau memang habis berenang ke laut. Jika hari itu tidak berenang ke laut, ya tidak mandi. Harus tahu diri, harus hemat air. Hehehehe…

Pun listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga sekitar jam 2 pagi. Tak mengapa karena semua orang saat pagi hingga siang hari sibuk beraktivitas. Jarang sekali saya melihat ada TV di Arborek. paling banyak radio atau speaker karena semua senang mendengarkan musik. Setelah ada ponsel, warga juga senang menyetel lagu yang seringnya lagu rohani. Oh ya, sinyal di Arborek hanya Telkomsel dan itu pun 'edge' tapi tetap bisa mengakses internet walau sedikit lambat. Jauh lebih baik dibandingkan tidak ada sinyal sama sekali.

Jetty Arborek yang Mendunia


Hampir semua orang yang pernah mengunjungi Arborek, pasti akan terkagum dengan pesona bawah laut yang ada di jetty (dermaga) Arborek. Schooling fish yang berjumlah ribuan membuat kita serasa masuk ke dunia fantasi. Namun perlu kita perhatikan agar saat snorkeling di jetty tidak membuat keributan dengan mengepak-ngepakkan fin (kaki katak) terlalu keras atau melompat dari jetty. Tujuannya agar ikan-ikan tidak kaget dengan banyaknya manusia dan tidak terganggu karena tidak ada orang-orang yang melompat heboh ke dalam air. Kalau foto paling atas itu anak-anak meloncat di jetty satu lagi yang tidak banyak ikan, jadi mereka senang meloncat dari jetty itu.

Thousand schooling fish under Arborek Jetty

Bapak Melaut, Ibu Merajut


Hidup di pulau tentu saja menempa para lelaki untuk menjadi pelaut ulung. Setiap hari para pria di Arborek pergi ke laut untuk menangkap ikan. Mereka kembali saat pagi atau sore hari dengan ikan tangkapan yang cukup banyak. Sebagian dikonsumsi sendiri dan lainnya dijual. Jangan heran jika mereka membawa tangkapan ikan – ikan besar semacam tenggiri dan bubara dengan panjang lebih dari satu meter. Jika musim ombak datang, pasokan ikan akan sangat sedikit bahkan tidak ada dan membuat masyarakat hanya bisa bertahan makan dengan nasi, sayur, telor atau daging ayam yang harus mereka beli di Pasar Waisai. 

Ketika para pria pergi melaut, para wanita melakukan pekerjaan rumah pada umumnya. Jika sudah selesai mengurus rumah, mereka akan berkumpul di bawah pohon besar dan mulai merajut noken, tas khas Papua. Namun, noken di Arborek sedikit berbeda dengan noken Papua yang berbentuk jarring-jaring. Daun Pohon Baru adalah bahan utama noken Arborek. Daunnya mirip daun pandan yang dikeringkan lalu dicelup ke pewarna sintetik. Setelah warna kering sempurna, barulah dianyam menjadi noken.





Selain noken, Mama-mama di Arborek juga ahli membuat  ‘topi pari' atau 'kayafyof', topi yang juga dianyam dari daun, lebar dan ada ekor seperti ikan pari. Sayangnya kemarin Mama-mama se-Arborek sedang sibuk menyelesaikan pesanan ratusan buah noken dari Waisai sehingga tidak ada yang membuat topi pari. Biasanya noken yang dbuat Mama dihargai mulai dari Rp 200.000,-.


Keceriaan Anak-Anak yang Tak Terbatas


Dari matahari terbit hingga terbenam, anak-anak Arborek pasti tak lepas dari air garam. Ya air garam adalah sebutan mereka untuk air laut. Sejak pagi sebelum berangkat ke sekolah, biasanya mereka akan berenang di sekitar jetty dan sepulang sekolah, kembali bermain lagi. Memang betul mereka anak-anak laut, masih bayi-bayi saja sudah sangat pandai berenang. 





Anak-anak yang tinggal di Arborek rata-rata masih balita dan usia SD. Anak remaja SMP dan SMA biasanya bersekolah di Waisai dan Sorong dan pulang saat liburan saja. Hanya ada satu sekolah dasar dengan dua orang guru saja. Acap kali saya menjumpai anak-anak Arborek sudah pulang sekolah pukul 9 pagi yang ternyata disebabkan guru mereka yang harus pergi ke pulau lain. Anak-anak itu sih senang saja bisa pulang cepat namun di sisi lain saya sedih karena mereka seharusnya bisa belajar jika ada guru lain di sekolah.

Permainan yang paling disenangi anak-anak Arborek adalah bermain kole-kole (sampan kecil yang terbuat dari kayu) dan main benteng. Ingatkah kalian dengan permainan benteng yang sewaktu kecil sering kita mainkan? Beberapa kali saya ikut main benten dengan mereka. Kalau untuk main kole-kole, saya tidak bisa karena bokong saya terlalu besar untuk muat ke dalamnya. Hahahaha…



Ada satu anak yang sangat menarik perhatian saya di sana. Darius namanya. Anak lelaki kelas 5 SD yang sedikit pemalu namun bersuara merdu. Jika Bang Teis sudah pergi ke tepi pantai dan mulai memetik gitar, Darius pasti ada di sana untuk turut bernyanyi. Tentu tidak mau saya sia-siakan kesempatan itu untuk merekam suaranya. Mereka menyanyikan lagu-lagu daerah bernada riang yang meski saya tidak mengerti artinya, tetap membuat saya ingin ikut berdendang.

Selain Darius masih ada Ines, Ledy, Elsa, Margret, Maryam, Jeni yang mewarnai hidup saya selama di Arborek kemarin. Mereka semua anak-anak pintar dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka tidak akan berhenti bertanya tentang apa pun kepada setiap orang yang datang ke Arborek.

Darius itu anak laki-laki pakai topi di belakang. Untuk melihat ke kamera saja dia malu xD



Masker wajah mulus yang murah meriah, pasir pantai!
Mereka juga pandai menari lho! Jika ada festival-festival kecil, anak-anak ini siap menampilkan atraksi terbaik. Jika teman-teman datang bersama grup boleh lho patungan bersama teman-teman untuk melihat atraksi mereka. Tentu saja harus reservasi dulu via tour operator kalian di Raja Ampat agar bisa diberitahu kepada masyarakat di Arborek dan bersiap. Sayang kemarin saya tak sempat menyaksikan tarian di Arborek tapi setidaknya bisa ikut dalam keriaan tahun baru yang unik


Tak Bosan Menikmati Matahari Terbit dan Terbenam!


Sebagai pencinta senja, saya sangat betah tinggal di Arborek. Setiap hari, saya dimanjakan dengan rona langit jingga kemerah-merahan. Tinggal pergi ke ujung barat pulau dan kita bisa menikmati senja.



Pemandangan matahari terbitnya pun tidak kalah cantik. Sehabis tidur semalaman di para-para tepi pantai, saya tinggal berjalan sebentar saja ke ujung timur pulau dan duduk menanti matahari bangun dari peraduannya.


Cermin cantik Arborek ; Bersih dan Rapi!


Arborek memang ditata untuk menjadi kampung wisata. Kesan yang saya dapatkan saat pertama kali menjejak di pulau ini adalah bersih. Hari Selasa dan Kamis adalah hari khusus di Arborek untuk membersihkan seluruh pulau. Dengan memakai ‘garu-garu’, semua bergotong royong membersihkan halaman rumah mereka hingga pantai. Tempat sampah besar tersedia di beberapa titik. Jadi mari sama-sama menjaga kebersihan saat datang ke Arborek ya (sebenarnya di mana saja).


Beberapa waktu lalu, Kak Githa pernah menuliskan keluh kesahnya di facebook tentang perilaku wisatawan yang datang ke jetty Arborek meninggalkan sampah sehingga Mama-mama di sana harus membersihkannya. Untuk masuk ke Arborek, tidak dikenakan biaya lagi karena sudah termasuk ke biaya konservasi Rp 500.000,- untuk wisatawan lokal dan Rp 1.000.000,- untuk wisatawan asing. Namun meski sudah membayar biaya konservasi, bukan berarti kita boleh semena-mena buang sampah karena berpikir nanti pasti ada yang membersihkan, kan sudah bayar. Itu pemikiran yang sangat-sangat salah. Kebersihan itu dimulai dari diri kita sendiri bukan?


Di peta, pulau Arborek bahkan lebih kecil dari sebuah titik di atas kertas, namun selayaknya kita bercermin pada pulau kecil itu. Di mana masyarakat hidup selaras dengan alam. Mereka menjaga kebersihan pulau dengan kesadaran penuh bahwa nantinya pariwisata di daerah mereka akan turut berkembang jika alam terus terjaga.

Jika nanti kalian berkunjung ke Arborek, jangan hanya menikmati pemandangan alam bawah lautnya ya. Cobalah berjalan keliling kampung, berkenalan dengan masyarakat dan berbaur meski hanya sebentar. Ada banyak hal yang akan mencuri hati kalian, sama seperti Arborek sudah mencuri hati saya. Saya berjanji akan kembali lagi...

Mama Ines dan Niko kesayangan Tata Satya.
Keluarga kesayangan di Arborek yang mencuri hati. Kami pasti kembali lagi!


Catatan Kecil :



  • Untuk menuju Pulau Arborek, bisa terbang ke Sorong dengan harga tiket pesawat satu kali jalan berkisar Rp 1.500.000,- - Rp 3.000.000,- Atau naik kapal PELNI Surabaya - Sorong Rp 650.000,-
  • Dari Sorong, kita bisa menuju Waisai dengan kapal cepat dengan harga Rp 130.000 (kelas ekonomi) dan Rp 220.000 (kelas VIP). Keberangkatan kapal ini terjadwal setiap hari pukul 09.00 dan 14.00 WIT untuk hari Senin – Jumat dan keberangkatan 11.00 dan 14.00 WIT untuk hari Sabtu Minggu
  • Dari Waisai, bisa naik kapal ke Arborek dengan kapal Kak Githa (boleh kontak Kak Githa di nomor +62 813-4095-3246) dengan harga sekali jalan Rp 800.000,- (kapasitas 12 orang maksimal). 
  • Harga homestay di Arborek sama rata, Rp 350.000,- per hari per orang sudah termasuk tiga kali makan.
  • Untuk sewa peralatan snorkeling bisa di Arborek Dive Shop milik Kak Githa dengan harga sewa Rp 100.000,- per hari. Untuk diving paketnya sekitar Rp 600.000 per dive...



13 comments:

  1. njirrr, ikannya segambreng :v mancing sambil merem pasti dapet itu~~ eh nggak usah mancing, nangkep sambil nyebur aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha banyak banget Mi! Tapi khusus di jetty Arborek yang ini, ikannya tidak boleh diambil / dipancing karena memang dijaga untuk kelangsungan pariwisata ;)

      Delete
  2. Transportasinya bisa gabung sama turis lain ga sih Win? Semacam share budget gitu? Menarik banget sih ya ini Arborek...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Febby! Kapan mau ke Raja Ampat nih Kak? Hehehehe. Tentu saja bisaaaa.... Aku baru nambahin catatan kecil di atas. Tentu saja bisa share cost dan memang paling hemat ya ikut open trip Kak... Kalau berangkat sendiri ya harus banyak waktu untuk menunggu orang yang mau share cost sama kita...

      Delete
  3. Butuh kesabaran untuk bisa berenang tanpa membuyarkan sebanyak ikan itu di laut. Indah banget pantainya. Kalau di tempatku ikan yang banyak itu namanya ikan Bolo-bolo. Begitu mendengar saura memericik air, biasanya langsung menyebar tapi tidak serta merta menjauh dari lokasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaaaa Rul. Harus berenang tenang supaya mereka tetap begitu aja. Kalau kita berenang ke arah mereka juga mereka bubar sebentar tapi habis itu balik lagi ke tempat itu. Hahahahah...

      Delete
  4. tahun 2014 lalu sudah pengen berangkat ke Arborek, terus nerima telpun asisten bupati buat segera berangkat ke Misool. duh.. mupeng liat postinganmu Mba Sat. Bau2 arborek udah kecium sejak dua tahun lalu, tapi malah g jadi. semoga bisa kesempatan ke sini lagi yaa. pengen nyobain kapal Pelni ah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak banget Nif! Aku malah belum ke Misool kemarin. Hahahahaha. Jadi pengen balik lagi ke sana. Huhuhuhuhu... Iya cobain naik kapal PELNI dong! Pasti seru! Hahahaha xD

      Delete
    2. aku udah sekali Mba naik Pelni. Pas 2016 perjalanan ke Pulau Aru. Hehe. seru. aku sering nongkrong di indomaret kapalnya. Belum sempet kutulis nih

      Delete
  5. Aku kemarin tak sempet ulik kampung ini karena sebentar bsnget. Soalnya air lagi pasang jadi gak gitu bagus viewnya. Akhirny ke yenbuba dan dapat pengalaman dengan penduduk lokal.


    Tapi disini pengalaman pertamaku snorkeling dan hampir kelelep.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Arborek dan Yenbuba sama-sama menyenangkan ya Koh. Hehehehe. Kapan-kapan kalau ke Arborek mampir ya keliling pulaunya. Mereka super ramah sama semua pelancong yang datang ;)

      Delete
  6. semoga Suatu saat Arborek bisa hidup dengan kenyamanan terutama dengan mendapat air bersih dengan mudah.amin
    jadi aku bisa diajak kesana kan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Andai saja ada yang mau menyumbang penyuling air laut menjadi air tawar ya Jo. Soalnya harga alat itu mahal luar biasa. Bisa banget lah. Ke Arborek lagi yuk ;)

      Delete

Apa yang terpikir di benakmu setelah membaca tulisan ini? Share dong :)