Ketika momen liburan atau membahas tentang lokasi liburan, Bandung selalu masuk dalam daftar teratas kota yang wajib dikunjungi di Indonesia. Popularitasnya tak setinggi Bali dan Jogja yang sudah dikenal dunia, tapi Kota Kembang ini selalu dibanjiri turis lokal dan mancanegara. Fenomena yang membuat Bandung terlihat sibuk, mulai dari kota, kawasan pinggiran, hingga jalan menuju kota tersebut.

Apa istimewanya? Kenapa sih banyak orang suka liburan ke Bandung?

Jika kamu juga penasaran, ini beberapa alasan kenapa kota yang kerap disebut Paris van Java itu begitu mempesona. Alasan yang mungkin juga akan menarikmu untuk melancong dan mencari hotel terbaik di Bandung saat liburan nanti.

Banyaknya Pilihan Tempat Wisata


Ingin mengunjungi wisata sejarah, wisata budaya, wisata alam, wisata air, wisata anak, wisata belanja, atau wisata kuliner? Semua itu ada di Bandung. Kota seluas 64,74 meter persegi ini menyajikan beragam pilihan wisata yang cocok untuk segala umur, segala kebutuhan, dan segala urusan. Saya sih paling suka wisata alam dan wisata kuliner kalau ke Bandung. Salah satu tempat favorit saya adalah RM Padang Malah Dicubo dekat stasiun Bandung. Cobain deh, dijamin nagih!
Sudah pernah cicipin Martabak Andir yang tersohor se-Bandung raya ini?

Atau Bubur Legendaris Bubur Ayam Duti ini?
Maksudnya, mereka yang datang ke Bandung biasanya tak sekadar untuk liburan. Ada yang sedang melakukan perjalanan dinas, study tour, berbisnis, penelitian, berkumpul dengan komunitas, hingga mereka yang sengaja bersembunyi untuk menyendiri sejenak di Bandung.

Tentunya, mereka yang datang ke Bandung akan menyempatkan waktu mengunjungi sejumlah wisata unggulan seperti Trans Studio Bandung, Kawah Putih Ciwidey, Observatorium Bosscha, Rumah Mode, Museum Geologi, Paskal Food Market, dan sebagainya. Browsing saja di internet tentang wisata unggulan di Bandung dan kamu akan menemukan banyak sekali pilihan menarik.

Banyak Hotel Murah Tapi Tak Murahan


Kamu tak perlu khawatir soal penginapan karena banyak sekali hotel terbaik di Bandung. Titel terbaik bukan berarti harus mahal. Ini karena banyaknya hotel membuat pengelola harus bersaing secara kualitas dan kuantitas, termasuk bersaing harga.

Menginap di Dusun Bambu ini bisa jadi pilihan saat berwisata bersama keluarga di Bandung...
Di Bandung kamu bisa menemukan hotel mulai Rp100 ribuan hingga jutaan rupiah per malam. Hotel-hotel tersebut tersebar dari pusat kota hingga ke kawasan pinggiran. Kamu tinggal tentukan saja kriteria hotel yang dicari sesuai kebutuhan dan harapan. Cara termudah dan tercepat mendapatkan hotel cukup buka situs www.traveloka.com

Bagaimana jika kehabisan hotel? Meski banyak hotel, bisa saja kita kehabisan kamar karena sedang momen liburan. Tapi tak usah risau,  karena masih banyak alternatif penginapan lain yang tak kalah menarik. Misalnya menginap di guesthouse yang berkesan homey atau ke villa dan resort yang biasanya berkonsep unik.

Pesona Alam khas Bandung yang 'Ngangenin'


Kota Bandung dikeliling pegunungan dan membuat bentuk morfologinya seperti mangkuk raksasa. Kondisi geografis inilah yang membuat kota kembang memiliki panorama alam menakjubkan dan dilengkapi udara sejuk. Keindahan alam Bandung masih terjaga dan bisa jadi salah satu tempat terbaik untuk menyegarkan pikiran, serta menyehatkan badan. Contohnya menikmati pagi di Tebing Keraton. Ada yang sudah pernah ke sana? Atau ada yang sudah pernah ngerasain asyiknya camping bersama rusa di Ranca Upas?

Tebing Keraton yang sampai sekarang tidak pernah sepi pengunjung. Paling enak sih datang pas pagi hari ya ;)

Bayangkan kamu bisa mendengar nyanyian burung, menjelajah hutan atau sekadar melihatnya dari kejauhan, melihat taman dan hamparan hijau yang menyatu dengan rumah-rumah bergaya tradisional, atau menghirup udara bebas polusi sambil menyantap makanan bergizi. Semua dibalut dalam nuansa dan budaya khas Sunda. Itu adalah sebagian dari daya tarik Bandung yang mengundang wisatawan.

Salah satu spot sunrise favorit saya di Bandung. Coba tebak di mana ;)
Daya tarik terbesarnya, datanglah ke Bandung dan kamu akan mengerti kenapa kota tersebut dicintai dan ‘ngangenin’. Biasanya mereka yang datang ingin kembali lagi dan lagi, karena belum puas menjelajah Kota Kembang itu. Termasuk menjelajah penginapan dan berburu hotel terbaik di Bandung. Alasannya, sebagian besar hotel di Bandung bukan hanya tempat menginap, tapi juga lokasi rekreasi berfasilitas lengkap.

Selain itu, alasan lain kenapa kamu harus ke Bandung ialah agar bisa eksis. Ketika teman-temanmu sudah pernah ke Bandung dan pamer foto-foto terbaiknya di jejaring sosial, bagaimana denganmu? Jangan sampai kalah eksis dan tentukan kapan akan berlibur ke Bandung. Siapkan segala keperluan untuk melancong ke Bandung, termasuk kameramu. Kota Kembang punya banyak sekali spot menarik yang Instagram-able dan layak untuk diabadikan. Kayak Warkop Modjok di daerah utara Kota Bandung yang digandrungi anak muda karena tempatnya yang unik! 


Buat saja daftar tempat-tempat yang ingin kamu kunjungi, lalu tentukan waktu dan hotel terbaik di Bandung yang paling tepat. Ketepatan ini termasuk letak hotel mudah di akses, dekat lokasi wisata tujuan, fasilitas lengkap, dan harga ramah di kantong. Jika sudah selesai, waktunya memesan tiket transportasi dan reservasi kamar di hotel pilihan. Yuk, kapan mau ke Bandung?

Ini juga salah satu tempat favorit saya di Bandung untuk baca buku. Kineruku namanya.


“Mau naik KM Dobonsolo Mbak? Masuknya lewat pintu GSN ya” ujar seorang Bapak yang melihat saya dan Janatan menggendong dua carrier besar. Di dalam pikiran Bapak itu, kami berdua pasti mau bepergian jauh naik kapal. Tentu saja naik kapal karena saat itu kami ada di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Menyenangkan sebenarnya naik kapal dari Surabaya karena pelabuhan penumpang Gapura Surya Nusantara yang bagus banget. Saya sudah pernah cerita juga tentang pelabuhan GSN ini lho. Mirip seperti bandara di mana semua penumpang harus melewati mesin x-ray dulu dan harus check in di counter sebelum masuk ke ruang tunggu. Berbeda dengan pelabuhan lain yang masih melakukan pemeriksaan tiket di pintu masuk pelabuhan dan saat akan naik kapal saja.

Gapura Surya Nusantara dilihat dari KM Dobonsolo.
Sedikit sebal pada awalnya karena untuk membeli tiket PELNI ini susahnya bukan main. Di saat kita bisa memesan tiket pesawat dan kereta api di aplikasi online, untuk membeli tiket PELNI harus datang langsung ke pelabuhan. Katanya sudah bisa beli online di website PELNI, tapi saya sudah coba berkali-kali nggak pernah berhasil, error melulu. Jadwal kapalnya pun tidak update dan susah mengakses website nya dari ponsel, lebih baik lewat PC. Kan repot ya? Apalagi kalau kita tinggal jauh dari pelabuhannya. Bingung mau memastikan jadwal kapal dan reservasinya. 

Akhirnya saya datang langsung ke pelabuhan Tanjung Perak dan membeli tiket di KAHA Tours and Travel yang ada di sana. Syukurlah mereka mempermudah kita yang ingin naik kapal dengan memberikan layanan reservasi tiket kapal via telepon dan sistem pembayarannya via transfer bank. Tiketnya bisa diambil di pelabuhan 3 jam sebelum berangkat. Asyik banget kan? Semoga membantu buat teman-teman yang mau naik kapal PELNI dari Surabaya ya. Ini nomornya 031-3299-231 atau 031-328-6033 untuk operasional Senin - Minggu pukul 08.00 - 18.00 WIB. Di luar jam operasional bisa menghubungi 0821-4110-9919 atau 0853-3090-3177. Pesan tiket kapal Pelni jadi lebih mudah!

***

Apa saja sih pengalaman unik saat naik PELNI? Nih saya bagi ceritanya :

1. Rebutan Kasur di Kapal


Masih teringat jelas di ingatan betapa saya pernah menangis karena kepala terantuk barang-barang yang diangkut porter pelabuhan di bahunya, naik berdesak-desakan ke atas kapal. Semua itu terjadi karena semua orang berebut mengambil lapak di dalam kapal, khususnya kelas ekonomi. Meski di tiket kita tertera nomor deck kapal dan nomor tempat tidur, itu semua tiada guna. Hahahaha. Semua orang suka-suka ambil tempat semaunya. 

Kalau mau tidur di kasur ya siapa cepat, dia yang dapat....

Kalau tak dapat kasur, tidur di lorong atau di mana pun yang lowong...
Tak ada guna juga berdebat dengan orang yang menempati tempat tidurmu. Lebih baik mengalah dan mencari tempat lain. Kadang kita tidak mendapatkan tempat tidur ketika kapal sedang penuh-penuhnya. Sehingga saya biasanya membawa matras atau beli tikar dari karung yang dijual dua puluh ribu perak per satuannya, lalu mencari pojokan yang enak untuk tidur. Syukurlah saat lima hari ke Papua, saya dan Janatan mendapatkan tempat tidur sepanjang perjalanan 

Hmmmm, tapi jangan tidur di depan pintu juga ya hahahaha....

Apalagi tidur di tangga. Jadi nggak enak kalau mau naik turunnya...

Karena di beberapa kelas tidak ada kelas, jadi semuanya ekonomi.


2. Antri Makanan Dengan Porsi Secuil

Enaknya, tiket yang kita bayar itu sudah termasuk dengan makanan tiga kali sehari, pagi, siang dan malam. Jadwal makan pagi jam 6 pagi, makan siang jam 11, makan malam jam 5 sore. Sebenarnya pelayanan makanan di PELNI sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Dulu, naik PELNI itu kita antri makan pakai piring kaleng ceper persegi panjang macam di penjara itu. Sekarang mereka menggunakan kemasan plastik semacam katering. Tapi porsinya tetap sama, nasinya banyak, sayur dan lauknya hanya sejumput tangan. Menunya pun itu-itu saja, ikan goreng, ikan kuah kuning dengan sayur kol atau bihun. Tapi saya mengapresiasi PELNI karena sekarang pas makan pagi kita dapat susu, pas makan siang dapat crackers dan pas makan malam dapat jus botolan. Lumayan banget.

Kalau mau ambil makanan harus bawa tiket ya...

Menu secuilllll...

Kalau lapar, ada banyak pedagang di PELNI yang jualan nasi kotak atau Pop Mie dan juga minuman sachetan...


3. Sabar-sabar di Kamar Mandi

Kenapa harus sabar-sabar? Ya memang harus sabar karena kamar mandi tidak banyak sedangkan ada ratusan bahkan seribuan orang yang mau pakai. Begitu juga dengan toilet. Pernah saya kebelet ingin buang air tapi antrian toilet di deck saya cukup panjang. Mau nggak mau saya harus naik turun ke deck lain untuk mencari toilet yang kosong. Sumpah itu rasanya nggak enak pol lagi kebelet harus turun naik tangga, jalan cepat setengah berlari hanya untuk mencari toilet. Hahahaha.


Shower kamar mandinya meski buluk berfungsi dengan baik kok...

Selama perjalanan saya hanya mandi satu kali sehari dan itu siang-siang bolong jadi tidak harus antri lama. Hindari mandi jam mandi biasa (pagi dan sore) karena antriannya super panjang. Enaknya sekarang kamar mandi di PELNI pakai shower jadi air lebih hemat daripada pakai gayung. Tapi ya kita harus tahu diri kalau mandi di kapal. Air bersih di kapal itu terbatas dan ada banyak orang yang mau pakai, jadi kalau di rumah sendiri mandi bisa setengah jam, di kapal cobalah mandi 5 menit saja ya.


4.  Hiburan Film XXX di Bioskop Mini

Sebenarnya ini sudah rahasia umum bahwa di PELNI ada bioskop mini yang jadi hiburan penumpang. Setiap 3 jam sekali, ada pengumuman yang terdengar seantero kapal tentang judul film yang akan diputar. Penyiarnya pintar sekali memasarkan film, penuh semangat begitu dan kadang sedikit tipu-tipu. Seperti kemarin, saya sudah kasitahu ke Janatan yang baru pertama kali naik PELNI bahwa film yang diputar di bioskop mini PELNI itu film XXX jadi saya nggak mau nonton lagi, apalagi bayar Rp 15.000,- per orang.

Lalu sekali waktu, kami mendengar pengumuman bahwa film yang akan diputar adalah film tentang suku kanibal di pedalaman Amazon. Wooohhh, saya langsung tertarik kan. Jadilah kami turun ke deck dua, bayar tiket masuk dan bersiap nonton di dalam ruang kecil dengan kursi-kursi yang sudah ambles. Pas filmnya diputar ternyata film semi XXX, tentang kanibal juga tapi berlokasi di Amerika. Amazon nya sebelah mana? Nggak sampai setengah jalan film diputar, kami keluar. Agak mual nonton manusia dipotong-potong ditambah adegan XXX. Hih. Kebayang nggak?


5. Nonton Hiburan Malam dengan Biduan Seksi

Buat ABK PELNI yang bertugas layar 3 bulan dan libur satu bulan, hiburan dangdut dengan biduan cantik adalah kegemaran mereka. Setidaknya itu menjaga mereka tetap gembira meski setiap hari mereka juga punya kegiatan lain seperti bermain tenis meja atau bulu tangkis di deck  bawah.

Jadilah setiap malam ada dua biduan yang ikut berlayar (dengan tiket mitra kerja PELNI), bekerja menghibur ABK dan penumpang. Biasanya mereka mulai bernyanyi dari jam 8 hingga 10 malam. Yang mau menonton harus memakai pakaian sopan dan sepatu kata penyiar kapalnya. Sudah kayak mau menghadiri makan malam dengan orang penting ya. Hahahaha.

6. Menikmati Sunrise dan Sunset di Deck Atas

Yang jadi favorit kami selama pelayaran kemarin itu bisa nikmatin sunrise dan sunset di laut lepas. Lokasi favorit kami adalah dek atas. Semesta baik sekali selama kami berlayar tidak ada badai dan lautan teduh. Meski beberapa kali tidak dapat sunrise dan sunset karena hujan, tapi masih bisa dikategorikan bagus. Saya sudah pernah terkena badai hebat saat naik kapal besar dan berharap tidak mengalaminya lagi. Benar-benar nggak mau lagi.

Kalau lagi dapat sunrise bagus itu senang banget. Ini sunrise lho ;)


7. Bisa Pesiar Saat Kapal Sandar

Jika berlayar dari Surabaya ke Sorong naik KM Dobonsolo, kapal akan sandar di Makassar, Bau-Bau, Ambon sebelum tiba di Sorong. Biasanya kapal sandar sekitar 2-4 jam. Nah selama rentang waktu itu, penumpang bisa pesiar alias jalan-jalan di sekitar pelabuhan atau ke kota jika waktunya memungkinkan. Kemarin pesiar paling lama yang kami lakukan itu di Ambon karena kapal sandar sekitar 4 jam jadi bisa keluar ketemu teman dan jajan. Bosan juga tahu makan makanan kapal terus-terusan.

Pesiar di Ambon naik becak!

Tapi waktu di Bau-Bau kapalnya sandar tidak sampai dua jam, jadi kami berdua hanya keluar pelabuhan, lihat-lihat lalu masuk lagi. Ya begitu saja hiburannya. Hahahaha. Nggak lupa beli jajanan untuk tambahan makanan selama perjalanan. Favorit kami ya mie instan dalam cup. Itu yang paling praktis karena air panas di kapal itu gratis. Kami juga beli sambal sachet, Mayumi Pedas (ini favorit saya) dan BonCabe, penyelamat untuk rasa makanan di kapal yang rasanya standar.

8. Merayakan Pergantian Tahun di Atas Kapal

Tepat tanggal 31 Desember kemarin, kami masih dalam perjalanan dari Ambon menuju Sorong. Kami merayakannnya dengan ikutan syukuran bersama teman-teman ABK KM Dobonsolo. Ada banyak makanan dan cemilan selama acara. Lumayan makan enak gratis ya kan. Puncaknya, kami ikut menari dangdut dan poco-poco bersama. Malam itu menjadi salah satu pengalaman yang tidak terlupakan buat kami berudua. Biasanya pergantian tahun kami rayakan dengan berdoa bersama keluarga atau main terompet kembang api bersama teman-teman, kali ini kami rayakan dengan berjoget di atas kapal yang sedang berlayar, tak ada sinyal jadi semua orang sibuk bergoyang saja.

Lumayan ikut pesta dapat makan dan minum gratis...



9. Tersesat di Kapal

Kalau ini sih ceritanya si Janatan yang sering banget tersesat di kapal. Hahahaha. Setiap waktu pengambilan makanan, biasanya Janatan yang ambil ke pantry di deck 3 dan jalannya memang naik turun dan memutar kapal. Jadilah dia tersesat berkali-kali. Saya sampai terbahak-bahak melihat muka dia saat datang kembali ke tempat kami dan bercerita betapa dia kebingungan mencari jalan pulang. Mesake…

10. Berbagi Cerita Perjalanan Seru dengan Penumpang Lain

Ini juga menjadi salah satu favorit kami. Bercerita dan mendapat cerita baru dari setiap orang yang kami ajak bicara di kapal. Ada pasangan suami istri yang sering berlayar untuk bisnis MLM nya, ada Ibu dan anak balitanya yang plesiran dari Ambon ke Surabaya untuk berbelanja karena barang-barangnya murah di sana. Ada cerita anak muda yang lagi mandi, bajunya diambil dan raiblah dompet dan karcisnya sehingga dia harus mengemis ke seantero kapal untuk mendapatkan uang membeli tiket baru untuk pulang (ini sedih sih).

Dapat banyak wejangan spiritual dari Bapak Pendeta yang sedang berlayar ke Jayapura dari Ambon untuk bertemu keluarganya. Cerita seru dengan perwira dan ABK kapal yang merindu keluarga yang ditinggal berlayar berbulan-bulan dan bagaimana mereka menjaga kepercayaan dan kesetiaan dengan pasangannya (ini so sweet banget). Setiap orang yang kami temui benar-benar membuat kami memperluas sudut pandang kami tentang kehidupan. Itu mengapa saya tidak bosan naik kapal. Meski tak bisa mengakses dunia maya, saya dapat cerita dari dunia yang nyata, yang saya dengarkan seksama dengan telinga, menikmati ekspresi raut wajah  mereka saat bercerita. Sangat-sangat menyenangkan bagi saya.

Beberapa catatan kecil untuk teman-teman yang ingin naik kapal ke Papua :


1.       Tiket PELNI KM Dobonsolo Surabaya – Sorong harganya Rp 650.000,-
2.       Disarankan untuk memakai backpack / carrier jika ingin bepergian naik kapal agar lebih ringkas.
3.       Berhati-hatilah dengan barang berharga yang kamu bawa. Berteman baiklah dengan orang di sebelah tempat tidurmu agar terjalin rasa percaya saat ingin meninggalkan barang untuk mengantri makanan atau pergi ke kamar mandi. Tips ini penting banget untuk kamu yang bepergian naik kapal sendirian.
4.  Bawa bekal makanan yang tahan lama seperti orek tempe, teri sambal kacang dan sejenisnya agar tidak bosan di kapal. Aha, jangan lupa mie instan dalam cup. Enak disantap sambil lihat matahari terbenam. Hahahaha. Kalau mau jajan yang murah ya belilah di luar pelabuhan saat kapal sandar. Jajan di dalam kapal agak sedikit lebih mahal.
5.    Bawalah hiburan untuk diri sendiri kalau kamu cepat bosan. Bisa bawa buku bacaan, music player, gitar kecil. Ngobrol dengan banyak orang memang asyik tetapi menikmati waktu sendiri juga menyenangkan kan? ;)


Kami tiba di Pelabuhan Sorong tepat tanggal 1 Januari 2017. Di hari pertama dalam tahun ini, kami tiba di tanah impian kami sejak lama, Papua. Bersiaplah untuk menikmati cerita perjalanan kami berikutnya ya. Kira-kira ada yang mau ditanyakan? Taruh saja di kolom komentar di bawah ini ya. Psst, yang mau nambahin pengalaman serunya saat naik Kapal PELNI juga boleh lho ;)

Tiba di Sorong. Perjalanan baru saja dimulai ;)



Terhitung dari Mei 2016 lalu, saya melepaskan pekerjaan kantoran di salah satu digital agency asyik di bilangan Jakarta Selatan. Saya memutukan resign untuk mempersiapkan perjalanan panjang yang merupakan resolusi tahun 2017 saya ; ingin jalan-jalan penuh satu tahun dan ambil pekerjaan freelance yang bisa dikerjakan dari mana saja alias mobile working.

Sebuah keputusan besar dan gila karena di Jakarta hidup saya aman, nyaman, gaji oke, teman-teman kantor yang super asyik. Kurang enak apa coba? Tapi entah kenapa, saya ingin sekali melakukan perjalanan panjang selama tahun 2017. Meski pun sedari awal saya sudah menabung, saya yakin tabungan itu pasti tidak akan cukup untuk setahun.

One of the best travel moment in 2016! Pink Beach Komodo. Taken by Matt.
Jadilah saya traveling kemana-mana selalu membawa laptop agar tetap bisa bekerja, menghasilkan uang agar terus berjalan dan juga tetap bisa update cerita perjalanan panjang saya di blog ini. Laptop saya sudah semacam travelmate yang paling setia. Ke mana saya pergi, di situ juga dia berada.

Keliling penjuru Nusantara untuuk menikmati senja. 

"Sat, kamu kalau lagi jalan-jalan gitu bawa laptop nggak sih? Biasanya ditaruh di mana?" tanya seorang teman suatu waktu.

"Ya pasti bawa laptop biar bisa kerja. Biasanya aku bawa di ransel sih. Lumayan berat karena laptopnya 14 inch dan tebal pula" jawab saya.

"Kenapa nggak pakai tablet aja biar ringkas dan praktis dibawa kemana-mana?" tanya teman saya lagi.

"Hmmm, agak susah sih kalau tablet. Karena selain kebutuhan kerja, aku butuh laptop untuk transfer foto dan video pas traveling juga kan" lanjut saya.

Pertanyaan teman saya itu akhirnya membuat saya berpikir bahwa sebenarnya saya butuh laptop baru, travelmate baru. Laptop yang saya gunakan sekarang sudah berusia hampir 6 tahun. Bahkan sekarang Deelee (nama laptop saya) sudah tidak bisa menyala kalau tidak ada listrik. Terasa sekali repotnya.

Traveling ke spot-spot underwater yang cakep! Salah satu foto favorit saya di Raja Ampat!

Contoh nyatanya, saya sekarang berada di Arborek, pulau kecil di gugusan Raja Ampat, di mana listrik hanya menyala dari jam 6 sore sampai 12 malam. Memang sih sehariannya bisa dipakai buat main ke laut atau berkeliling kampung, tapi pas lagi butuh mau mengerjakan sesuatu, mindahin foto dan video karena memory card-nya full, tidak bisa langsung dikerjakan. Saya harus menunggu jam 6 sore dulu sampai listrik nyala. Hadeuh mesake...

Oke, bertambahlah satu wishlist saya, resolusi saya di 2017. Saya mau punya laptop baru, biar bisa dibawa jalan-jalan,spesifikasinya bagus untuk olah foto dan video, ringan dibawa kemana-mana dan tentunya baterai tahan lama.

Pas lagi browsing-browsing laptop keluaran terbaru mana yang mungkin cocok, saya melihat Acer Swift 7 dan Acer Spin 7 ada di dalam daftar. Entah kenapa, saya jatuh cinta dengan modelnya di pandangan pertama. Lalu saya mengulik lagi apa yang menjadi kelebihan dari Swift 7 dan Spin 7. Saya belum memutuskan mau memilih yang mana yang pas. Bantu saya untuk memilih ya ;)

Untuk Acer Swift 7, dia ini cantik, elegan dan ramping. Tebalnya saja hanya 9,98 mm, tipis kayak kertas ya? Dengan tebal segitu, tentunya sangat ringan dibawa kemana-mana. Acer Swift 7 ini didesain dengan warna gold yang bikin empunya-nya terlihat bold dan elegan juga. Ditambah lagi Full HD dengan Corning Gorilla Glass 5 yang jadi andalannya, pas untuk pekerjaan multitasking saya. Premium Sound Acer Swift 7 juga bikin kita puas saat mau nonton film, edit video atau sekedar memutar musik di laptop. Duh Mak, kok keren ya si Acer Swift 7 ini?

Penampakan Acer Swift 7. Warna goldnya itu lho aku suka sekali!


Eits, tunggu sebentar. Kita belum mengulik saudara kembar tapi tak sama dari Acer Swift 7 yaitu Acer Spin 7.

Si Acer Spin 7 ini bisa dijadikan beberapa model karena dia adalah convertible laptop. Fleksibilitasnya sampai 360 derajat lho! Acer Spin 7 bisa diubah menjadi 4 mode ; Tent Mode, Display Mode, Laptop Mode, Tablet Mode. Enak betul bisa diubah-ubah begitu ya? Butuh laptop bisa, butuh tablet bisa. Yang ini tampaknya lebih praktis.

Acer Spin 7 yang lebih luwes dan menggoda. Hmmmm.... Pilih mana ya?


Sama seperti saudara kembarnya, Acer Spin 7 ini tipis banget. Tebalnya 10,98 mm, hanya berbeda 1 mm saja dengan Acer Swift 7. Beratnya kira-kira 1,2 kilogram saja. Beda jauh dengan Deelee yang beratnya sekitar 2,5 kilogram. 

Dan yang bikin saya jatuh hati dengan Acer Spin 7 adalah endurance-nya. Daya tahan baterai Acer Spin 7 ini 8 jam lho! Kalau listrik nggak menyala siang-siang kayak di Pulau Arborek ini, saya masih tetap bisa mengerjakan tulisan, foto dan video perjalanan saya.

Hati saya sih lebih condong ke Acer Spin 7, tapi Acer Swift 7 juga cantik dan spesifikasinya oke. Hmmmm... Saya jadi bingung. Menurut teman-teman, kira-kira yang mana yang paling cocok menjadi partner resolusi 2017 saya yang ingin bisa mobile working bahkan dari tempat terpencil? Ditunggu komentarnya di bawah ya ;)