Di artikel sebelumnya, saya bercerita tentang menyusuri Inle Lake dan makan di restoran terapung di tengah danau. Sudah baca belum? Kalau belum, coba baca dulu yuk.

Nah, ternyata selain menikmati santapan di tengah danau, masih banyak hal-hal asyik yang bisa kita lakukan saat berkunjung ke Inle Lake, Myanmar. Apa saja? Ini dia.


1.  Berkunjung ke Silk & Lotus Weaving

Intha (sebutan untuk penduduk lokal yang tinggal di sekitaran Inle Lake) perempuan, sudah menenun sejak lampau. Mereka memintal sendiri benang sutra yang akan mereka pakai untuk menenun longyi, baju, selendang, sapu tangan dll. Selain melihat proses tenun, kita juga bisa membeli hasil tenunnya yang dibanderol sekitar Rp 300.000,- (paling murah) untuk satu longyi.

Proses memintal benang sutra yang akan dipakai untuk menenun longyi.

Siapkan US dollar untuk berbelanja di beberapa tempat souvenir di Inle Lake karena mereka mematok harganya juga dalam USD.




2. Melihat Pembuatan Perahu Intha-Go

Saya senang ketika diajak ke satu tempat yang ternyata tempat pembuatan perahu-perahu yang dipakai nelayan di Inle Lake. Selain membuat perahu besar yang katanya dihargai sekitar 3.000.000 Kyatt ata Rp 30.000.000, mereka juga punya souvenir shop yang menjajakan banyak pajangan dari kayu. Salah satu souvenir yang paling laris adalah perahu kecil lengkap dengan nelayan dan jala bubu besar.





3. Mengunjungi The Blacksmith Inle Lake

Kamu suka mengoleksi pisau lipat atau perhiasan yang terbuat dari tembaga dan sejenisnya? Pasti senang jika bisa berkunjung ke Blacksmith House di Inle Lake. Kita bisa melihat langsung para pengrajin membuat pisau dan pedang serta perhiasan seperti gelang. Sewaktu berkunjung ke sana, saya sedikit ‘skip’ karena lupa nilai tukar Kyatt ke Rupiah. Harga satu gelang tembaga yang saya taksir harganya 2500 Kyatt yang jika dikonversi ke rupiah berarti Rp 25.000,- saja. Entah kenapa waktu itu saya berpikir harganya dalam rupiah Rp 250.000,- (kelebihan satu angka nol) dan urung membeli. Setelah pergi jauh baru sadar kalau hitungan saya salah dan menyesal tidak membelinya. Berarti itu adalah kode untuk kembali lagi ke Myanmar ya? Hahaha…






4. Berkunjung ke Nga Phe Kyaung Monastery

Biara yang terletak di area Inle Lake ini sama bentuknya seperti rumah-rumah lainnya, rumah panggung yang dibangun di atas danau. Di dalam biara, kita bisa bertemu dan menyapa para biksu / biksuni. Ada banyak sekali wisatawan saat kami berkunjung ke biara itu dan rombongan kami hanya diberikan waktu 20 menit saja. Saya dan Asoka berkeliling biara bersama-sama dan menikmati waktu singkat kami bermain bersama anak-anak kecil di samping biara. Meski kami tidak bisa berkomunikasi karena kendala bahasa, anak-anak lucu itu senang sekali ketika diajak foto bersama.


Banyak juga yang datang ke monastery untuk 'dibaca' oleh biksu.


Saya tidak sempat berfoto dengan anak-anak calon biksu dan biksuni saat berkunjung ke biara itu. Tetapi saya beruntung bisa berpapasan mereka di jalan saat menyusuri jalur kecil-kecil di Inle Lake. Mereka sedang asyik berlompatan di sungai hanya memakai balutan kain merah seperti celana dalam. Mereka melambai-lambai gembira kepada wisatawan dan juga memercikkan air. Jadi, kalau berpapasan, kita harus sigap untuk menyembunyikan kamera atau basah terkena cipratan air mereka ya.




5. Mencicipi Tembakau Myanmar

Meski saya bukan perokok, saya senang mempelajari jenis-jenis tembakau karena setiap daerah punya rasa tembakau yang berbeda-beda. Minmin, guide kami di Myanmar, mengajak kami berkunjung ke tempat pelintingan tembakau di Inle Lake. Semua pekerjanya adalah perempuan dengan baki besar berisikan tembakau kering ada di hadapan mereka, siap untuk dilinting.

Wisatawan diperbolehkan mencicipi tembakau yang ada di sana dan uniknya, tembakaunya sudah dikemas dalam beberapa rasa. Terbayang nggak mencicipi tembakau rasa pisang, mint, rum? Meski terdiri dari beragam rasa, tembakaunya cukup kuat dan bisa bikin pusing kalau memang kamu tidak terbiasa dengan rokok.

Sewaktu dicoba, tembakaunya memang sedikit keras dan menohok. Tapi saya suka juga yang sudah diberi perasa pisang. 

6. Menonton Atraksi Nelayan di Inle Lake

Kebanyakan wisatawan datang ke Inle Lake khusus untuk melihat atraksi menarik dari nelayan-nelayan di sana. Kemahiran mereka mendayung dengan satu kaki sambil jongkok / berdiri dan memegang bubu membuat mereka terlihat seperti pelaku akrobat professional. Mereka akan mempertontonkan kebolehannya dan wisatawan akan memberikan tips kepada mereka.





7. Mencoba Mendayung Seperti Nelayan Inle Lake

Kalau sudah melihat atraksi nelayan di sana, kamu tertarik nggak buat mencobanya? Beruntungnya kami kemarin diajak mencoba mendayung dengan satu kaki seperti nelayan Inle Lake yang ternyata susahnya minta ampun. Seperti saat kita bermain arung jeram, dayung harus seirama kan? Kalau nggak bisa bertabrakan kan? Nah itu terjadi pada kami yang mencoba mendayung gaya Intha. Semuanya kacau balau, dayungnya saling berpukulan tak seirama. Ya jadilah semua tertawa terbahak-bahak. Syukur nggak ada yang tercebur ke danaunya.





8. Menikmati Sunset di Inle Lake

Sunset di Inle Lake memang digadang-gadang sebagai sunset tercantik di Myanmar selain di Bagan. Jadi kalau naik perahu sore-sore melintas danau dan dapat pemandangan senja itu rasanya romantis banget. Nanti balik ke Myanmar lagi sama pasangan deh biar makin terasa suasana manisnya.




Jadi, kira-kira sehabis baca artikel ini teman-teman kepengen juga ke Inle Lake nggak? Tidak susah untuk merencanakan perjalanan sendiri ke Myanmar. Rajin-rajin cek aplikasi booking tiket penerbangan karena jika sedang beruntung bisa dapat tiket Jakarta - Yangon dengan harga 1 jutaan. Tak perlu khawatir dengan makanan karena banyak makanan halal di sana. 

Special Notes Inle Lake :


1.     How to Get Inle Lake?
Ada dua jalur yang bisa dipilih, jalur darat atau udara. Inle Lake ini berjarak 660 KM dari Yangon dan 330 KM dari Mandalay. Kemarin saya mencoba jalur udara yang menjadi opsi tercepat sekitar 1,5 jam penerbangan dari Yangon Airport ke Heho Airport. Jika mau mencoba jalur darat, bisa baca cerita Winny Marlina ke Inle Lake ya ;)

2.     Temperatur di sekitaran Inle Lake terkadang dingin, terkadang panas. Jadi saya tetap membawa pakaian hangat untuk berjaga-jaga jika Inle Lake dingin. Saya ingat sekali begitu turun di Heho Airport, udaranya dingin sekali tetapi begitu menyusuri Inle Lake, temperaturnya 40 derajat. Hati-hati meriang ya. Hahaha…

3.     Untuk masuk ke area Inle Lake, setiap wisatawan dikenakan entrance fee USD 10 per orang.


4.     Biaya untuk menyewa perahu untuk berkeliling Inle Lake seharian sekitar 30.000 MYK (kalau di Rupiah kan sekitar Rp 300.000,-) yang bisa dishare 3-4 orang satu perahu.

5.     Meski panas, tetaplah memakai pakaian yang sopan dan tertutup karena untuk menghargai masyarakat lokal di sana. Untuk masuk ke temple dan monastery pun kita harus berpakaian yang santun.


Cheers,




Biasanya, traveler / pejalan itu identik dengan ransel yang berisi banyak uang, menurut pemikiran orang-orang dan akhirnya menjadi magnet kuat bagi orang yang berniat jahat. Sedih sekali saya ketika mendengar seorang teman, Maria, solo traveler dari Swedia, dicopet saat berada di pelabuhan Sorong, Papua Barat. Tas kecil yang ia selempangkan raib bersama dengan kamera, dompet, handphone dan passportnya. Saya tidak tahu kejadian itu sampai Maria pulang ke negaranya dan mengontak saya lewat facebook messenger.

Sempat ada yang bertanya, “Sat, kalau traveling bawa uang tunai banyak nggak sih?”, saya jawab nggak, kecuali saat pergi ke tempat-tempat terpencil yang saya rasa susah untuk menemukan ATM di destinasi tujuan, khususnya di daerah-daerah terpencil timur Indonesia. Tapi jika memang di daerah yang saya tuju terdapat banyak ATM, saya biasanya enggan membawa banyak uang tunai.

Entah kenapa sudah beberapa tahun belakangan ini, saya jarang sekali membawa cash. Mungkin akibat insiden saya dicopet di Kopaja arah Kampung Rambutan dari Lebak Bulus, tiga tahun silam. Saat itu, saya memang sedang membawa uang tunai banyak sekali di dalam dompet karena butuh membeli sesuatu keesokannya. Namun sejak kejadian itu, saya enggan untuk membawa-bawa duit dalam jumlah banyak di dompet saya.

Nah, saya sekalian mau berbagi tips dengan teman-teman, bagaimana cara menyimpan dan membawa uang agar aman saat traveling :

1.     Buat perhitungan pengeluaran kira-kira di suatu daerah tersebut. Nggak harus detil tapi minimal kita sudah persiapkan dana yang sekiranya cukup dan tidak berlebihan membawa uang tunai. Saya sebenarnya lebih memilih untuk cashless jika memang tujuan saya masih kota dan bukan destinasi terpencil.

2.     Jangan simpan semua uang di dompet. Saya biasanya memecah-mecah uang di beberapa tempat seperti kantong-kantong kecil di ransel atau pouch kecil. Ini penting ketika kita (amit-amit sih) kecopetan dompet saat traveling, kita minimal masih punya uang pegangan.


3.     Pakai Money Belt. Tips yang ini sih sebenarnya masih kelanjutan dari tips nomor dua, untuk memecah-mecah uang. Supaya merasa lebih aman, dibandingkan membawa uang di dompet, ada yang membawa uang di money belt yang dililitkan di pinggang, di balik pakaian kita. Sebenarnya trik ini juga sering dipakai oleh nenek-nenek kita yang menyimpan uang di balik sarung atau dalaman ya.

4.     Saat traveling ke luar negeri, saya biasanya lebih mengandalkan ATM dan CC (kartu kredit) untuk tarik tunai di destinasi tujuan, dibandingkan menukarkannya ke money changer. Saat traveling ke Australia kemarin, saya menemukan kurs yang lebih rendah dibandingkan kurs yang saya lihat terpampang di money changer dan jadinya saya memilih untuk tarik tunai. Untuk beberapa bank, biasanya ada biaya tarik tunai-nya. Jadi perhitungkan baik-baik jumlah yang akan ditarik agar tidak kekurangan atau kelebihan.

Setiap mau packing, mikir dulu uang mau dipecah-pecah di mana aja yaaaa~


Kan zaman sudah canggih nih dan mendukung kita buat cashless karena ada kartu kredit, kartu debit dan e-money. Jauh lebih praktis untuk melakukan transaksi dan tentunya jauh lebih aman ketimbang membawa uang tunai di dalam tas.

Cashless sih tapi masih senang nyimpan uang kertas dari berbagai negara yang sudah dikunjungi

Tapi, ketika kartu-kartu yang daku sebut di atas tadi ketinggalan maka jadi semaput, semrawut, ah apapun nama yang pas buat kondisi kalut. Kalau ketinggalannya dekat sih gampang ya diambil lagi. Tapi kalau pas lagi traveling dan perginya cukup lama pusing juga kan. Ya oke kalau ada teman yang bisa kita pinjam uangnya sementara, tapi kalau lagi jalan sendiri gimana?

Amsyong namanya…

Saya juga sempat mengalami kejadian amsyong itu. Waktu kemarin jalan di Bandung kartu debit ATM ketinggalan di Depok dan peer juga kalau harus putar balik pulang ke Depok cuma buat ambil kartu debit kan?.

Pas lagi pusing tahu-tahu teringat kan sekarang BCA bisa tarik tunai tanpa kartu. Sudah tahu belum? Saya sempat baca berita itu tapi belum pernah coba. Akhirnya saya beranikan coba meski waktu itu belum tahu caranya. Ternyata, asalkan kita punya aplikasi m-banking yang bernama BCA mobile.

Ini langkah-langkah waktu tarik tunai tanpa kartu di ATM BCA:

1.     Buka aplikasi BCA mobile yang sudah kamu daftarkan dan terhubung dengan rekening kamu. Buka menu Tarik Tunai, pilih sumber dana / rekening lalu pilih nominal yang kamu inginkan ( 50.000 ; 100.000 ; 150.000 ; 200.000 ; 250.000 atau nominal lain yang bisa kamu input sendiri maksimal 1.250.000).
2.     Setelah proses itu selesai kamu akan mendapatkan Kode Tarik Tunai dan juga jatuh tempo dimana kamu harus melakukan penarikan tunai sebelum waktu yang tertera di aplikasi BCA mobile kamu. Kamu akan diminta untuk memasukkan PIN m-BCA untuk verifikasi. Lalu Kode Tarik Tunai kamu akan masuk ke Inbox Tarik Tunai BCA mobile.
3.     Cari ATM BCA yang ada menu ‘Transaksi Tanpa Kartu’ atau ‘Cardless Transaction’. Lalu pilih BCA mobile, masukkan nomor Handphone BCA mobile dan Kode Tarik Tunai yang ada di Inbox Tarik Tunai BCA mobile kamu.
4.     Tinggal tunggu prosesnya dan voila, uang tunai nya ada di tangan kamu.





Empat langkah yang super mudah dan canggih, solusi yang sangat menyenangkan ketika kamu nanti mengalami kejadian amsyong seperti saya waktu itu.

Supaya bisa menggunakan fitur tarik tunai tanpa kartu di BCA, cukup update aplikasi BCA mobile kamu ke versi terbaru di App Store untuk pengguna iPhone dan Play Store untuk pengguna Android.

Pssttt, pengguna Sakuku yang mengaktifkan  layanan Sakuku Plus juga dapat melakukan tarik tunai tanpa kartu di ATM BCA melalu menu Transaksi Tanpa Kartu ya.

Sebagai tambahan juga, untuk menjaga keamanan, jangan pernah kasitahu pin kamu sama orang lain dan juga jangan simpan catatan / notes nomor rekening sekaligus pin nya di handphone ya. Kalau handphone kamu hilang dicopet, akan sangat berbahaya karena si pencopet bisa mengakses m-BCA kamu. Sip ya?



Adventurer Girls! (Photo of me and Pino by @disgiovery) 


Menjadi seorang perempuan yang menggandrungi kegiatan berbau petualangan jelas membuat kulit saya (dan kamu juga) butuh perlindungan ekstra. Pakai sunblock saja sebenarnya nggak cukup merawat kulit kita karena paparan matahari terus menerus bisa membuat kulit mati kita menumpuk dan terlihat kusam. Dalam bahasa sehari-harinya disebut apa ya?

Dekil… hahahaha....

Dulu kan image-nya cewek-cewek yang senang berpetualang di alam bebas itu kan dekil, kurang terawat. Nah, sekarang mah sudah nggak zaman punya image begitu. Sekarang image yang pas itu, perempuang petualang tapi tetap sehat terawat.

Nah, supaya nggak dekil gimana ya caranya?

Kalau saya, mandi pakai lulur dong!

Dari remaja, Mama saya selalu berpesan agar rajin luluran supaya kulit nggak dekil, rajin-rajinlah luluran, minimal seminggu sekali. Intensitas kegiatan pas remaja saja sudah bejibun, ikut ekskul basket, futsal, dan masih banyak lagi aktivitas yang bikin daki menumpuk di kulit. Pas sudah besar begini, mainannya makin banyak. Rajin naik gunung, arung jeram, telusur gua sampai terbang paralayang. Semuanya dicobain deh pokoknya!

Meski semua kegiatan petualangan sudah dijalani dan membuat diri kita sebagai perempuan petualang yang menarik, tentu orang tidak akan tertarik jika penampilan kita dekil kan? Nah, rajin-rajin rawat diri adalah kuncinya. Kulit kita adalah lapisan pertama yang akan terlihat oleh orang lain kan? Itulah mengapa kulit butuh perawatan lebih.

Mama lah yang mengenalkan lulur Purbasari pada saya saat remaja dan hingga kini masih menjadi produk lulur favorit saya. Dan beberapa waktu lalu, saya mencoba varian terbarunya yaitu Purbasari Lulur Mandi Green Tea. Sebagai penyuka segala sesuatu yang berkait dengan teh hijau, tentu saja saya dengan senang hati mencobanya.

Sejak dibuka, wangi green tea nya sudah memanjakan, menenangkan layaknya aromatheraphy. Jadi makin senaaaaaaang berlama-lama di kamar mandi sambil luluran pelan-pelan. Dinikmati betul-betul. Produk Green Tea apa sih yang nggak enak? Rasa-rasanya semuanya enak ya.

Lulur Purbasari Green Tea dari esktrak Green Tea terbaik...


Scrub Purbasari Lulur Mandi Green Tea ini juga berbentuk bulat sempurna yang sangat efektif untuk mengangkat sel kulit mati jadi nggak sakit ketika digosok ke kulit, nggak bikin kulit merah-merah. Walaupun merah itu mungkin terjadi karena kegiatan menggosok bukan karena iritasi. Lulurnya juga nggak mengandung Amylum atau zat tepung buatan. Amylum ini terkandung di banyak produk lulur yang membuat seolah-olah daki kulit kita bergumpal banyak padahal yang terangkat ya zat tepung itu bukan daki beneran . Cuma biar terkesannya kulit mati kita sudah terangkat semua.

Nah kalo Purbasari Lulur Mandi ini karena tidak mengandung Amylum sehingga benar-benar yang terangkat  murni sel kulit mati. Saatnya bye bye sama kulit kusam.



Kandungan vitamin E dan whitening ( terbuat dari Bearberry, Mulberry, Lycorice & Lemon) yang terkandung dalam Purbasari Green Tea ini membantu proses regenerasi kulit kita dan mencegah penuaan dini. Ekstrak green tea nya juga berfungsi sebagai antioksidan yang membantu kulit kita terlindung dari radikal bebas. Ini nih penting nih antioksidan buat kamu kamu (dan aku) yang sering beraktivitas di luar ruangan, terpapar debu polusi dan juga tersengat matahari.

Yang membedakan Purbasari Lulur Mandi Green Tea dengan produk lulur yang lain adalah Purbasari Lulur Mandi Green Tea ini satu-satunya lulur yang  aman digunakan setiap hari, dua kali saat mandi pagi dan sore. Sudah dermatologically tested kok!

Pun nggak ada efek kesat di kulit setelah memakai Purbasari Lulur Green Tea ini karena kandungan Moisturizer Agent nya (Lanolin, Mineral Oil, Alantolin). Yang ada hanya rasa lembap, segar, lembut dan wangiiiiiii…

Jadi sudah hampir satu tahun belakangan ini kalau traveling ke mana pun saya selalu bawa Purbasari Lulur Mandi. Ada dua ukuran yaitu 125 gram dan 235 gram. Kalau cuma traveling buat 3 hari, yang 125 gram sudah cukup kok. Tapi kalau traveling untuk waktu yang cukup lama, misalkan sebulan, saya biasanya bawa yang kemasan 235 gram sebanyak 2-3 buah. Kecuali kalau travelingnya ke luar negeri dan cuma bawa backpack, ada peraturan untuk membawa benda-benda cair maksimal 100 ml atau 100 gram. Jadi bisa disiasati dengan mengemas Purbasari Lulur Green Tea ke kemasan plastik kecil-kecil. 

Selain saya, ada banyak teman-teman perempuan yang senang berpetualang juga tapi juga pakai Lulur Purbasari.

Ada kak @noetraveler yang juga pemakai setia lulur Purbasari 

Ada @kadekarini dan @her_journeys yang juga menjaga kulitnya pakai Purbasari Lulur Green Tea
Jadi, Purbasari Lulur Green Tea ini bisajadi teman baik perempuan yang senang petualangan kayak kamu dan aku. Iya kan? Mau naik gunung, menyelam ke laut atau aktivitas apa pun di bawah matahari, kita nggak perlu takut lagi kulit jadi kusam dan terlihat dekil. Psstt, harga Purbasari Lulur Green Tea ini juga sangat ramah di kantong kok, berkisar Rp 8.500 – Rp 13.000,- saja. 

Siapa bilang mau cantik sehat dan terawat harus mahal? ;)