Saturday, August 27, 2016

Kopi Es Tak Kie, Tak Sekedar Obrolan Kopi

Saturday, August 27, 2016 27 Comments

Sudah tiga kali saya gagal mendatangi kedai kopi ini. Alasannya? Kesiangan alias terlambat. Dari 2012, akhirnya baru kesampaian tahun 2016. Bayangkan, setelah empat tahun baru terlaksana. Hahaha...

Tempat ini memang tersohor di kalangan penyuka warung-warung kopi tua. Salah satu teman baik saya, Bang Chan, juga pernah menuliskan tempat ini di blognya. Seperti Bang Chan, saya pun berharap bisa bertemu langsung dengan si empunya warung, Latief  Yunus, biasa dipanggil Engkong Latief.

Menemukan warung kopi ini tidak terlalu sulit. Sehabis turun dari commuterline yang membawa saya ke stasiun Jakarta Kota, saya tinggal menyeberang jalan menuju Gang Gloria. Nama gang itu tidak asing bagi penyuka kuliner non-halal alias aneka makanan berbahan dasar daging babi. Gang kecil itu padat dengan gerobak makanan dan pedagang yang masih berjualan dengan sepeda dan dandang. Di dalam gang itulah, Warung Kopi Es Tak Kie, nyempil.



Saya memilih meja dekat pojokan dinding, meja nomor 17, di samping meja bapak-bapak tua yang sedang asyik mengobrol memakai Bahasa Tionghoa. Lucunya, saya cukup lama tersadar bahwa salah satu bapak yang duduk di meja itu adalah Engkong Latief. Padahal saya sudah pernah melihat potret beliau. Kok bisa-bisanya saya lupa. Lantas saya senyum-senyum sendiri sampai Janatan bingung dan bertanya saya kenapa.


“Sssst. Aku lagi senang karena Engkong Latief ada di meja sebelah kita”, bisik saya pelan.

Saya memesan Es Kopi Susu dan Janatan memesan Es Kopi biasa. Rasa es kopi susu ini pas di lidah saya, tidak terlalu manis dan masih terasa pahit kopinya. Janatan juga sangat menyukai es kopi nya.


Selain minuman, Kedai Kopi Tak Kie juga menyajikan beberapa menu makanan seperti Nasi Campur, Nasi Tim dan Bakmi. Sayang sekali mereka hanya menyajikan bakmi ayam hari itu dan Nasi Campur nya dipesan dari gerobak makanan di luar. Belakangan saya tahu ternyata ini adalah ide Engkong agar pedagang makanan di luar kedainya juga kecipratan rejeki.

Kaget sekali saya ketika tak berapa lama berselang setelah memesan bakmi, Engkong Latief sendiri yang datang menyajikan nya di meja kami. Begitu senang layaknya ketemu bintang idola.




Engkong Latief masih sangat gagah meski seluruh rambutnya memutih. Dari parasnya, saya menebak bahwa Engkong pasti sangat tampan di masa muda nya dan masih tersisa hingga masa tua.

“Selamat menikmati ya”, ujarnya ramah.

“Terima kasih Kong. Nanti saya boleh ngobrol-ngobrol sama Kong?” tanya saya.

“Hahaha. Mau ngobrol apa? Tentu saja boleh. Makan saja dulu”, katanya sambil membawa nampan makanan ke dapur.

Saya begitu senang dan menikmati setiap suap nasi campur dan juga mencicipi bakmi ayam yang bertabur potongan dadu daging dan daun bawang. Percayalah, untuk bakmi ayamnya, halal.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Setengah jam lagi kedai kopi ini tutup. Hanya beberapa pelanggan yang tersisa di warung termasuk kami. Saya mendekati Engkong dan mengobrol sebentar.

Yang pertama kami bahas adalah filosofi dari nama kedai kopi nya, 'Tak Kie', yang terpampang jelas di papan kayu di atas dinding terbuka antara dapur dan tempat tamu. Saya mengedarkan pandangan ke tiap sudut kedai yang sudah ada sejak tahun  1927 ini. Kedai turun temurun yang dibangun oleh sang kakek lalu diteruskan kepada bapak kemudian Engkong Latief.


Nama ‘Tak Kie’ berasal dari ‘Tak’ yang berarti orang yang sederhana dan ‘Kie’ yang berarti tempat yang akan selalu diingat orang.

Filosofi itu masih sangat melekat dengan citra kedai ini. Kedai yang kecil, sederhana, mempertahankan menu yang itu itu saja. Namun siapa pun yang pernah mengunjungi kedai kecil itu, pasti akan merasa rindu.

Kedai ini adalah pemuas yang pas bagi orang-orang tua yang merindu ngopi sambil mengobrol dan 'ngudut' alias menghisap rokok. Itu terpampang jelas di dinding kedai yang penuh dengan pigura-pigura foto orang tua ternama di Indonesia. Pak Presiden Jokowi pun sudah pernah mengunjungi kedai kopi di gang sempit ini.


Obrolan berlanjut dan berganti topik mengenai biji kopi apa yang dipakai Engkong di kedai. Jawaban beliau ya campur-campur tetapi selalu memilih biji kualitas yang terbaik. Engkong sendiri yang mendatangi petani atau supplier biji kopi dan lalu mengolahnya.

“Di lantai atas ada mesin gilingnya”, ujar Engkong lagi.

Obrolan tentang kopi ini membuat mata Engkong berbinar. Beliau katakan jika suatu waktu saya kembali lagi dari perjalanan, bolehlah saya membawa beberapa biji kopi yang khas dan kami bisa mengobrol banyak tentang itu. Kalian juga boleh lho…

Namun binar di mata Engkong redup saat obrolan kami beralih ke topik tragedi 1998. Raut wajahnya sedih. Rasanya pasti lebih pahit dari kopi racikannya. Engkong menuju meja kasir dan mengambil dua lembar foto.

“Ini potret Glodok yang dulu. Saya dulu tukang foto, tetapi sudah tidak lagi. Kamera saya pun sudah saya jual” ujarnya.


Engkong lanjut bercerita bahwa dia sangat bersyukur diselamatkan oleh penduduk (maaf) pribumi, tetangganya. Tetangga itulah yang menyuruhnya sembunyi dan lalu berbohong serta meyakinkan para penyerang bahwa tidak ada etnis Tionghoa di rumah itu. Saya tak bisa bayangkan betapa mencekamnya saat itu karena saya masih berumur 6 tahun saat tragedi itu terjadi. Yang saya tahu, tragedi itu begitu membekas bagi orang-orang yang mengalaminya, seperti Engkong Latief.

Kursi-kursi sudah dinaikkan ke atas meja dan jendela sudah ditutup. Saya tersadar sudah tidak ada pengunjung lagi selain kami berdua. Engkong Latief lagi-lagi memberi saya pelajaran penting untuk merasa berkecukupan dalam hidup. Buat Engkong, kedai dibuka sampai jam 2 siang saja sudah cukup. Cukup untuk menghidupi keluarganya dan para pegawai. Kontras sekali dengan kedai kopi modern yang buka 24 jam. Engkong yakin bahwa tiap-tiap hari Tuhan akan memberikan berkat dan rejeki cukup.


Terima kasih Engkong Latief. Kita pasti akan berjumpa lagi dan mengobrol yang tak sekedar obrolan tentang kopi. 


Friday, August 19, 2016

Wara-Wiri ke Danau Weekuri

Friday, August 19, 2016 30 Comments

“Kita berangkat jam 8 pagi ya besok”, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya. Itu pesan Bang Andi, teman saya yang akan mengajak saya jalan ke Sumba Barat Daya, tepatnya ke Laguna Weekuri. Tidak hanya kami berdua, ada beberapa teman-teman yang akan ikut ke sana.

Eh keesokan harinya karena saling tunggu menunggu, keberangkatan ngaret hingga 1 jam. Siap-siap berpanas ria di perjalanan karena matahari mulai meninggi. Setelah mengenakan jaket, buff, kacamata hitam dan helm supaya aman, kami siap berangkat!

Lokasi Danau / Laguna Weekuri ini ada di Sumba Barat Daya dan menurut Bang Andi, kami akan menempuh perjalanan selama kurang lebih 2,5 jam dari Waikabubak, Sumba Barat. Jadi diperkirakan kami akan tiba tengah hari. Saya berharap airnya belum surut  karena berdasarkan penuturan Bang Andi, semakin sore, debit airnya semakin turun. Pagi hari adalah waktu yang terbaik untuk ke Weekuri sebenarnya tapi ya gimana dong. Masa ditunda ke Weekuri nya? Ya sudah jalan aja yuk!

Belum ada petunjuk jalan ke Weekuri, jadi penting sekali untuk pergi bersama pemandu atau teman yang sudah kenal betul dengan jalur menuju Weekuri. Syukurlah ada Bang Andi dan Zindan yang entah sudah berapa puluh kali main ke Weekuri jadi sudah hafal sekali jalan ke sana. Kami sempat berhenti di Waitabula untuk membeli makan siang (kami memilih untuk membeli nasi dan sate) dan air mineral. Pun tak lupa mengisi bahan bakar agar perjalanan lancar tanpa hambatan.

Peluh bercucuran dan membasahi kaus yang ada di balik jaket. Gibran yang membonceng saya tidak terlalu banyak bicara meski sesekali kami bercanda. Biar jauh dan panasnya jalan tidak terlalu terasa. Kami mengarah ke daerah Kodi dan lalu di satu persimpangan jalan, Zindan memimpin rombongan dan berbelok ke kanan. Seterusnya, jalanan menembus padang rumput luas, belok kanan, belok kiri, kanan lagi, kiri lagi, rasanya kelokan ini tak henti-henti.

“Bagaimana cara menghafalkan jalan ini ya Ban?” celetuk saya ke Gibran.

“Itulah Sat, saya juga nggak hapal-hapal jalan ke Weekuri” jawabnya terkekeh.

Motor kami terus mengikuti motor Zindan, menembus jalan kecil berbatu di tengah padang rumput dan tibalah kami di Weekuri menjelang tengah hari.

Saya cukup terkejut karena ada banyak pedagang begitu kami tiba di sana. Saya kira karena lokasinya jauh sekali dari pemukiman penduduk, bakal tidak ada yang berdagang. Eh ternyata ada. Mereka menjual air mineral dan beberapa jajanan yang tentu saja harganya sudah berlipat ganda dibandingkan di kota. Ada juga yang menjual kain tenun. Ah, kalau mau lihat kain tenun, nanti di tempat lain saja, pikir saya.  Saya lebih tertarik untuk segera menceburkan diri ke air biru jernih yang menggoda itu. Setelah berganti baju renang di semak-semak tertutup, saya siap untuk nyebur. Wuwuwuwuwu…

Pedagang di Weekuri. Ramee...


Sebenarnya, Weekuri ini bukan danau melainkan laguna. Dikelilingi tebing karang, air yang ada di laguna Weekuri ini datang sebagian dari laut dan sebagian lagi berasal dari mata air. Jadi airnya payau dan ada percampuran temperatur di sini, kombinasi air hangat dan dingin yang biasa disebut ‘thermocline’.  Ketika pagi hari saat air laut pasang, air di laguna ini meninggi dan ketika air laut surut, airnya menjadi sedikit hingga sebetis orang dewasa saja.

Kita bisa naik ke atas tebing karang yang ada di perbatasan laut dan danau untuk mengambil panorama danau.

Warna airnya kadang berbeda-beda karena pantulan dan arah cahaya matahari.

Teman sekaligus pemandu Sumba terbaik namanya Zindan. Pssstt, Zindan masih jomblo lho :p

Gugusan batu karang yang langsung menghadap laut...

Begitu datang dan melihatnya, Danau Weekuri ini memang menggoda. Pantulan matahari mempertegas kombinasi warna biru muda dan biru tua di danau itu. Dasar dari danau pun  terlihat sangat jelas. Jika ingin menggambil foto underwater, jangan bergerak terlalu banyak atau pasir-pasirnya akan membuat air menjadi sedikit keruh.

Whereever you are, don't forget to take selfie, said Zindan. Hahahaha...



Sudah ada beberapa anak-anak yang sedang berenang dan bermain di air. Tak tahan lagi, saya dan teman-teman juga ikut nyebur. Sayangnya air sudah tinggal sepinggang saat kami turun ke air. Kalau datangnya lebih pagi, bisa loncat bebas dari tepian batu ke dalam danau. Tapi kalau airnya ‘cetek’ ya dengkul orang dewasa mentok kalau loncat. Saya jadi sedikit iri melihat anak-anak kecil yang oh tentu saja masih sangat bisa bergembira loncat-loncat ke dalam air. Hahahaha…

Ceria sekali kalian adik!


Matahari panas membakar ubun-ubun tetapi air yang segar bisa bikin adem. Ya jadi ada alasan untuk terus-terusan di dalam air. Bang Andi yang sudah sering ke Weekuri malah memilih tiduran di hammock yang dia pasang di bawah pohon. Mungkin Bang Andi lelah dan ingin beristhirahat saja.



Kami berenang ke sana ke mari dan tidak menyangka sudah berenang dan foto selama lebih dari dua jam. Dijamin gosong kulitnya tapi senang betul hatinya.

Kalau liat warna gini, mikirnya pasti ini danau atau laut yaaa...



Untuk menuju Danau / Laguna Weekuri, bisa mencari tiket pesawat ke Bandara Tambolaka di Sumba Barat Daya. Maskapai Lion Air yang paling sering melayani rute ke Sumba. Coba cek saja www.airpaz.com untuk melihat jadwal penerbangan ke sana. Selama di sana bisa menyewa mobil atau motor untuk berkeliling Sumba.

Wah kapan lagi ada promo ke Sumba dari Jakarta cuma sejutaan. Mauuuuuuu...
Jadi, kita pergi wara wiri ke Weekuri? Yuk mari…

Aku Cinta Indonesia...


Thursday, August 18, 2016

Berkeliling Kampung Adat dan Mengenal Budaya Sumba Lebih Dekat

Thursday, August 18, 2016 10 Comments


Dapa tekki tamo
Dapa nunga ngara
Pamake mata pamomo wiwaui

Tiga kalimat itu adalah jawaban yang diberikan Nene Leda Goko saat kami berbincang tentang Marapu, kepercayaan adat masyarakat Sumba. Meski banyak yang mengatakan itu agama, pada nyatanya bukan. Nene bilang itu adalah kepercayaan turun temurun dari nenek moyang, tetapi tidak ada Tuhan yang disembah seperti agama lainnya. Pun arti dari kalimat paling atas itu kurang lebih artinya, dia yang tidak perlu dicari, tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar tetapi ada di sekitar.

Hal itu sebelumnya pernah saya tuliskan di ‘Menjadi Rambu dan Mengenal Marapu di Kampung Tarung Sumba’. Saya pun menambahkan cerita tentang rumah adat dan kubur batu di ‘Menilik Uma dan Tradisi Kubur Batu’.

Itu sebenarnya hanya secuil cerita dari keseluruhan perjalanan di Sumba. Sudah lama sekali saya ingin menginjakkan kaki ke pulau di sebelah selatan Flores, Nusa Tenggara Timur, khusus untuk mengenal lebih dalam tentang kebudayaan Sumba.

Perjalanan saya dimulai dari menyusuri Sumba Barat Daya, Sumba Barat lalu Sumba Timur. Buat saya ini adalah pilihan yang tepat karena dengan menjadikan Sumba Barat Daya sebagai destinasi pertama, kita bisa belajar mengenal kebudayaan Sumba di Rumah Budaya Sumba yang dibangun oleh Pater Robert di daerah Kodi.


Rumah Budaya Sumba yang ada di Sumba Barat Daya
Saya terperangah melihat semua koleksi museum yang diberi label berisi nama dan fungsi benda tersebut. Mulai dari kain tenun yang usianya lebih dari seratus tahun, perhiasan, alat masak, alat musik dan juga foto-foto keindahan Sumba hasil bidikan mata Pater Robert sendiri selama belasan tahun lebih.

Dari Rumah Budaya Sumba inilah saya mendapatkan info tentang beberapa kampung adat yang tersebar di seluruh Sumba. Dikarenakan keterbatasan waktu, saya tidak bisa mengunjungi semuanya dalam satu waktu. Ini beberapa kampung adat yang saya kunjungi ;

Kampung Adat Ratenggaro, Sumba Barat Daya


Yang menjadi ciri khas dari Kampung Adat Ratenggaro ini adalah atap ‘uma’ atau rumah yang sangat tinggi. Nama desa Ratenggaro berasal dari dua kata yakni ‘Rate’ yang berarti kubur dan ‘Goura’ yang merupakan nama suku. Ya, daerah ini dulunya merupakan kuburan suku ‘Goura’.

Kampung adat Ratenggaro berciri khas atap tinggi menjulang...

Senja di Kampung Ratenggaro (Photo Credit : Andi Patarai)
Kampung ini menyambut saya dengan sangat hangat. Mama Maria Dimukatupu bercerita cukup banyakk tentang kehidupan wanita Sumba. Pun ia bertelanjang dada sambil bercerita bahwa itulah potret wanita Sumba, meski tidak keseluruhan, tergantung dari kasta mana ia berasal.

Maaf kalau dada Mama harus disensor ya :)

Kampung Adat Tarung, Sumba Barat


‘Tarung’ sendiri berarti tempat yang tinggi dan memang, kampung ini terletak di bukit tengah-tengah kota Waikabubak. Di Kampung ini, saya bertemu dengan Nene Loda Goko yang bercerita tentang kepercayaan tradisional ‘Marapu’ dan juga kubur-kubur batu.

Hampir sama dengan kampung adat lainnya, di Kampung Tarung, kita akan menjumpai tanduk-tanduk kerbau raksasa yang ada di teras rumah dan merupakan lambang kemakmuran. Tak lupa saya mencoba dendeng kerbau asap asin pedas khas Sumba yang dimasak di rumah keluarga Nene Loda Goko. Luar biasa rasanya.

Tanduk kerbau di Kampung Tarung

Kampung Adat Wunga, Sumba Timur

Masyarakat Wunga mengenal Kampung Adat Wunga sebagai tempat dimana Nenek Moyang mereka mendirikan pemukiman, tak berapa lama setelah mereka mendaratkan perahu di Tanjung Sasar. Meski harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari pusat kota Waingapu, saya merasa senang bisa melihat langsung kampung pertama di Sumba.




Kampung Wunga sebagai kampung tertua di Sumba
Sayangnya, setibanya di sana saya melihat kampung ini sangat sepi. Ternyata kebakaran tahun 2010 telah membumihanguskan 9 rumah dari 12 rumah yang ada dan kini hanya 3 rumah yang tersisa. Meski panas menyengat di kulit, saya senang bisa berbincang dengan Nene Lingga, Mama Anabaya dan Kaka Yubi yang menyambut saya dengan ramah di teras rumah.


Kampung Adat Raja Prailiu, Sumba Timur


Jika tidak punya banyak waktu untuk mengelilingi Sumba Timur, datanglah ke Kampung Raja / Kampung Prailiu yang letaknya di pinggir Kota Waingapu, tidak jauh dari bandara. Mampirlah ke rumah Tamu Rambu Margaretha yang hangat serta luwes bercerita tentang adat-isitiadat di Kampung Raja. Di halaman rumahnya ada pohon yang dihiasi dengan rahang babi dan tulang belulang. Ada beberapa kuburan batu di sekitarnya. Sarah, menantu Tamu Rambu Margaretha, juga dengan antusias mengenalkan budaya Sumba kepada siapa pun yang datang berkunjung.


Tamu Rambu Margaretha, Tetty, saya dan Sarah

Memakai pakaian tradisional Sumba - Kampung Adat Raja / Prailiu

Kampung Adat Prayawang / Rindi, Sumba Timur


Bisa saya katakan bahwa kampung ini adalah favorit saya. Kampungnya tidak besar, namun punya nilai budaya yang begitu luar biasa. Saya beruntung bisa bertemu langsung dengan Rambu Ana Intan, seniman tenun asli Sumba. Dari beliau lah saya belajar makna setiap motif yang ada di kain, sambil menyesap kopi. Saya begitu terpukau dengan setiap karyanya. Tentu saja kain-kain itu bisa dibeli. Saya juga mau kalau ada uangnya. Harganya memang mahal namun sebanding dengan kualitasnya.




Kain ikat tenun khas Sumba hasil tangan Rambu Intan
Berkunjunglah ke Sumba dan dapatkan kejutan menyenangkan dan tak terlupakan, apalagi buat yang senang belajar budaya. Untuk menuju kesana, bisa dengan jalur laut atau jalur udara naik pesawat ke Waitabula atau Waingapu. Pesawat yang paling sering melayani penerbangan ke Sumba dari Jakarta adalah Lion Air. Coba cek langsung tiket pesawat ke Sumba.

Jadi, siapa yang mau ke Sumba dan mengenal budayanya lebih dekat? Yuk ;)

Aku Cinta Indonesia!

Keluarga yang menyenangkan di Kampung Tarung

Salam sayang dan damai dari Sumba. <3

Friday, August 12, 2016

Road Trip Motor Seru Bandung – Ranca Buaya Garut

Friday, August 12, 2016 17 Comments

Sewaktu masih jadi pekerja kantoran, mau liburan yang jauh itu susah karena terbatasnya jatah cuti. Rasanya pengen balik ke masa kuliah dimana jatah liburannya lebih dari satu bulan. Asyik bener. Iya kan iya kan?

Lalu terpikirlah buat ngelakuin kegiatan seru selama sabtu – minggu saja tapi tidak sekedar nongkrong di emol. Berangkatlah saya dan Janatan untuk…

ROAD TRIP!

Tujuan kali ini adalah Ranca Buaya, pantai selatan Garut. Kami pun menyiapkan perlengkapan dan peralatan untuk kemping karena kami berencana mendirikan tenda di dekat pantai. Perjalanannya cuma dua hari satu malam dan kami bakal pulang-pergi naik motor. Lebih seru daripada naik angkutan umum pastinya karena bisa berhenti sesuka hati, bisa motret, bisa jumpalitan di tengah jalan. Ya pokoknya suka-suka deh.

Biar jalan gak terasa capek, bercanda dan foto-foto lah kami. Tapi harus ingat, safety first ;)
Berangkatlah kami pagi-pagi sekali dari Bandung. Jalurnya melewati Leuwipanjang – Soreang – Ciwidey – Ranca Bali – Ranca Buaya. Lalu untuk jalur balik ke Bandung kami berencana mengambil jalur Ranca Buaya – Pangalengan – Soreang – Bandung. Jika punya banyak waktu, bisa juga mampir ke Ranca Upas dulu dan menginap semalam lalu melanjutkan perjalanan keesokan paginya.


Jalur berangkat lewat Ciwidey, jalur pulang lewat Pangalengan


Yang paling menyenangkan dari road trip ini adalah pemandangan sepanjang jalan yang hijau dan menenangkan. Apalagi pas ngelewatin Ranca Bali. Duh cantiknya area perkebunan teh ini ibarat permadani hijau yang besar sekali. Berbeda dengan kebun teh yang ada di Puncak yang lokasinya cenderung tinggi atau sejajar mata, Ranca Bali ini posisinya ada yang lebih rendah dari jalan jadi ciamik buat berfoto ala-ala di labirin gitu.

Kebun Teh Ranca Bali. Perpaduan warna hijau, biru dan putih manjain mata ya ;)


Setelah melewati Ranca Bali, nanti kita bisa menikmati beberapa air terjun yang ada di tebing sisi kiri jalan. Meski agak jauh, namun tetap menyenangkan untuk dipandang-pandang. Ada sekitar lebih dari lima air terjun kalau tidak salah.

Air terjun di pinggiran jalan. Musim kemarau jadi airnya kecil...
Cuaca cerah mendampingi perjalanan dari Bandung sampai Ranca Buaya sekitar 5 – 6 jam. Pantat nggak pegel tuh? Ya pasti pegel lah ya. Jadi kami menyiasatinya dengan sering berhenti untuk foto dan melempar canda atau tebak-tebakan selama di jalan. Meski kadang-kadang Janatan garingnya luar biasa, kami berdua tetap saja tertawa terbahak-bahak. Tanpa terasa, tahu-tahunya kita sudah sampai di tujuan.


Hai Ranca Buaya


Beberapa kali saya diajak teman-teman untuk main ke pantai yang ada di selatan Garut ini tetapi selalu gagal. Akhirnya kesampaian juga sama Janatan. Setelah melewati jalur meliuk-liuk yang membelah perkebunan teh dan hutan serta persawahan selama berjam-jam, terlihatlah pantai di kejauhan tetapi ternyata bukan Ranca Buaya. Dari turunan itu masih sekitar 1 jam untuk sampai ke Ranca Buaya. So excited!


Petunjuk jalan cukup jelas dan orang lokal pun pasti tahu dimana lokasi Ranca Buaya. Sebelum memasuki area pantai, kita harus membeli karcis seharga Rp 5000,- per orang lalu membayar lagi Rp 10.000,- untuk kendaraan roda dua dan Rp 20.000,- untuk kendaraan roda empat. Saya tidak menyangka ternyata Ranca Buaya itu luas sekali. Ada banyak sekali warung-warung berjejer di sisi kiri kanan jalan. Mulai dari warung makan, toko kelontong, toko baju pantai sampai pedagang ikan basah segar semuanya ada. Plus beberapa homestay untuk pengunjung yang mau menginap. Tapi kami berdua sudah membawa tenda jadi tinggal mencari lokasi yang pas dan nyaman.

Pantai Ranca Buaya dilihat dari bukit...
Kami berkendara menaiki jalan menanjak ke bagian atas dan ternyata cukup mengejutkan karena padang rumput berwarna cokelat yang datar dan luas sekali. Awalnya kami berpikir untuk mendirikan tenda di tepi pantai namun pada akhirnya diurungkan karena area pantai pasir sudah padat dengan warung dan parkiran motor dimana hanya area pantai dengan batu karang yang tersisa. Mana bisa membangun tenda di atas karang, pikir kami.

Meski sempat tersesat beberapa kali di jalan setapak padang rumput yang luas sekali itu, kami akhirnya mendapat lokasi camp yang enak dan sesuai harapan saya, menghadap ke barat, ke arah pantai.

Senja di Ranca Buaya, Paling asyik bikin tenda menghadap ke barat ;)



Dan jadilah sore itu sempurna karena senja jingga merona menggantung di ufuk barat Ranca Buaya…

Dan terputarlah lagu ini...

Oh lights, go down...
In the moment we lost and found...
I just wanna be by your side...

We'd remember tonight...
For the rest of our lives...

***

Malam menjelang dan kami menyiapkan makan. Waktu itu kami berpikir tak lengkap rasanya liburan ke pantai tapi tidak makan ikan. Jadilah kami turun ke pantai dan membeli ikan segar seharga Rp 60.000 per kilogram (harga ikan di kawasan pantai Ranca Buaya ini memang relatif lebih mahal) dan minta dibersihkan serta dibakar. Kami bawa kembali ke tenda, menyiapkan sambal dabu-dabu sendiri dan menandaskan ikan bakar dengan lahap. Setelah kenyang kami goler di rumput depan tenda dan memandang langit penuh bintang.



Terima kasih Tuhan, hidup kami asyik…

Ikan bakar segar yang manis dan mantap disantap pakai sambal dabu-dabu...

Kami sempat tertidur dan terbangun tak berapa lama setelahnya. Sadar kalau angin laut malam tidak baik, segeralah kami beringsut ke dalam tenda dan melanjutkan tidur.

Keesokan paginya kami bangun lalu bergegas mengepak semua barang dan memutuskan sarapan di warung makan di tepi pantai. Pilihan kami jatuh pada bakso. Nama pemiliknya Teteh Amoy. Selain menjajakan makanan, dia juga punya toko kelontong dan penginapan sederhana di atas rumahnya. Harga yang ditawarkan cukup bersahabat, hanya Rp 100.000,- per malam tapi itu harga tahun lalu lho ya. Saya tidak tahu apakah harganya sudah berubah sekarang.

Warung makan, toko kelontong dan penginapan Teteh Amoy...
Selepas makan pagi, pergilah kami berjalan-jalan menyusuri pantai. Ranca Buaya bukanlah pantai yang enak untuk berenang. Batu-batu karang menghampar dan ombak besar terus-terusan menghantam. Yah, pantai ini asyik buat dipandang-pandang saja. Takut digulung ombak kalau coba-coba berenang euy.

Ombak dan batu karang di Ranca Buaya
Puas berjalan-jalan, kami pamit dengan Teteh Amoy untuk pulang ke Bandung. Kalau awalnya kami memilih untuk lewat Ciwidey dan Ranca Bali, kami memilih jalur Pangalengan untuk pulang ke Bandung. Saran saya berkendaralah dengan hati-hati karena jalurnya menanjak dan panjang. Ada banyak warung makan di kiri kanan jalan untuk beristhirahat. Berhentilah sejenak jika lelah, jangan memaksakan diri dan malah membahayakan orang lain.

Ada warung makan yang ada di jembatan dekat tanjakan yang cukup panjang dan kami berhenti dulu di situ dan mengisi amunisi. Ternyata banyak juga pemotor lain yang sedang beristhirahat dan bersiap-siap untuk melewati tanjakan panjang nan jauh itu. Mobil-mobil saja antri untuk melewatinya untuk menghindari celaka jikalau ada mobil yang tidak kuat nanjak. Dan kami menonton dari kejauhan, tegang ketika ada mobil atau motor yang kesusahan saat menanjak dan menghembuskan nafas lega saat mobil / motor itu sampai dengan selamat.

Kami lewat Pangalengan ketika hari sudah sore benar. Tadinya saya berharap bisa melihat hamparan perbukitan the yang cantik. Apa daya hari sudah gelap. Hanya ada guratan jingga di langit yang membuat saya senang. Sisanya jalanan gelap yang kami nikmati hingga tiba kembali lagi ke Bandung.

Senja di Pangalengan

Bokong rasanya tipis begitu kami sampai di rumah tapi badan kami rasanya seperti habis diisi penuh dayanya, fully charged. Liburan singkat yang seru dan jadi baterai untuk seminggu ke depan.


Yuk kita roadtrip lagi!


Catatan Kecil :


  • Periksa kondisi kendaraan agar tidak ada masalah di jalan, baik itu mesin, roda, lampu.
  • Pastikan bawa surat-surat lengkap agar aman jika ada pemeriksaan mendadak.
  • Pakai pakaian yang nyaman dan pakai jaket windbreaker yang tipis agar tidak terlalu kegerahan di jalan tetapi tubuh tetap terjaga dari masuk angin. Ah ya jangan lupa sunglasses dan buff agar mata dan wajah terlindung dari paparan matahari.


Follow Us @satyawinnie