Mencumbu Mahameru, Rinduku pada Gunung Semeru


“Mas Hari!” pekik saya memanggil seseorang yang sangat familiar yang sedang mengatur posisi carrier di atas jeep kuningnya.

Mukanya menatap bingung hingga saat saya mendekat baru rautnya berubah.

“Eh Satya. Apa kabar?” sapanya ramah.

Obrolan berlanjut renyah mengingat perjumpaan terakhir kami di bulan Juli, saat Mas Hari mengantarkan saya dan teman-teman dari Tumpang menuju Ranu Pani. Mas Hari memang menjadi salah satu pemilik jeep yang rutin mengantarkan para pendaki yang ingin ke Gunung Semeru.

Entah keberuntungan apa yang menghampiri sehingga saya dipertemukan dengan Mas Hari di kala kepala lagi ruwet mencari transportasi dari Cemoro Lawang ke Tumpang hari itu. Rute Cemoro Lawang – Tumpang bukan rute yang biasa dilalui jeep-jeep yang ada di Bromo. Biasanya hanya ke Ranu Pani lalu kembali lagi. Hati jadi was-was karena takut dikenakan harga selangit. Ada beberapa keperluan logisitik yang harus kami lengkapi sebelum melakukan pendakian, jadi mau tidak mau harus ke Tumpang dulu sebelum ke Ranu Pani. Kami berada di Cemoro Lawang karena Janatan, Didi dan Hilda ikutan Bromo Trail Run. Boleh dibaca cerita seru tentang BTS Ultra di sini.

Bertemu Mas Hari seperti bertemu malaikat penolong karena rumahnya memang di Tumpang dan sering dijadikan basecamp oleh pendaki-pendaki. Berdua bersama istri tercintanya, Mbak Nur, Mas Hari bergelut di jasa wisata Bromo Tengger Semeru (Malang, Lumajang juga), selama belasan tahun.

Kami pun berteduh di rumah Mas Hari malam itu dan bersiap berangkat menuju Ranu Pani keesokan paginya. Layaknya Ibu sendiri, Mba Nur selalu menanyakan kesiapan pendakian kami. Apakah sudah isi SIMAKSI? Sudah bawa fotokopi KTP? Sudah punya surat keterangan sehat asli? Sudah bawa perlengkapan pendakian komplit? Baik banget ya.

Awalnya kami berencana menunggu pendaki lain yang bisa diajak patungan biaya jeep. Sayangnya taka da pendaki lain hari itu yang berangkat dari Tumpang. Ya mau tak mau, biaya Rp 650.000,- per jeep itu kami tanggung berempat saja.

Sekitar jam 8 pagi kami sudah sampai di Ranu Pani. Kami was-was akan diguyur hujan sepanjang jalur pendakian karena memang sudah musimnya. Di Tumpang saja, hujan mengguyur tiada henti dari pagi. Ya asal persiapan baik, kondisi cuaca seperti apa pun, kita sudah siap.

Briefing!


Kita semua sama-sama tahu bahwa tingkat kecelakaan di Gunung Semeru sangatlah tinggi. Oleh karenanya pihak TNBTS bekerja sama dengan teman-teman volunteer Semeru atau yang dikenal dengan nama SAVER untuk memberikan briefing kepada setiap pendaki. Lokasi tempatnya ada di Aula Balai TNBTS. 

Saat briefing dijelaskan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, penggambaran jalur pendakian, bahkan cerita-cerita mistis serta kecelakaan yang menimpa beberapa pendaki hingga tewas. Mungkin tujuannya agar para pendaki ini memiliki rasa takut dan segan untuk berbuat yang aneh-aneh daripada nanti bernasib sama. Beberapa teman-teman tidak setuju karena kesannya seperti menakut-nakuti. Entahlah…

Namun saya sempat menyayangkan bahwa meski ada briefing dan cek kelengkapan peralatan, masih ada saja pendaki yang memakai sepatu untuk ke mall atau sandal gunung tetap diloloskan dengan alasan hanya mendaki sampai ke Ranu Kumbolo. Yang wajib pakai sepatu gunung adalah yang akan mendaki sampai ke puncak. Hmmmmm. Bagaimana pendapat kalian tentang itu?

Oh iya, teman-teman SAVER juga menjelaskan bahwa tidak dilarang untuk naik ke puncak Semeru atau yang dikenal dengan nama ‘Mahameru’. Namun TNBTS tidak menyarankan dan juga tidak akan menanggung asuransi jika ada kecelakaan pendaki yang terjadi di jalur Kalimati hingga puncak. SAVER memberikan briefing yang sangat lengkap terkait gambaran jalur ke puncak apalagi sekarang jalurnya sudah baru, estimasi waktu tempuh dan anjuran waktu maksimal berada di puncak adalah jam 9 pagi.

Melewati tanjakan cinta menuju Oro-Oro Ombo
Saya dan tim memang berniat untuk mendaki hingga ke puncak tapi nggak ‘ngeyel’ juga. Kami  baru akan memutuskan untuk naik ke puncak atau tidak melihat kondisi cuaca malam sebelum summit attack, ketika kami sudah berada di Kalimati. Jika cuaca cerah, kami akan berangkat muncak tetapi jika terlihat mendung dan angin terlampau kencang, rencana itu kami urungkan.

Ngomong-ngomong saya juga menyayangkan bahwa briefing dimulai jam 8 pagi setiap harinya dan berlangsung selama kurang lebih 45 menit. Saya heran kenapa tidak lebih pagi ya jadwal briefingnya. Dikarenakan kami tiba jam 8.10 waktu itu, kami tidak diperbolehkan untuk mengikuti briefing sesi 1 dan diminta untuk mengikuti sesi 2 yaitu jam 9. Dilanjutkan briefing 45 menit. Hmmmm, banyak waktu yang terbuang sia-sia. Padahal kami berharap jam 9 sudah bisa memulai pendakian. Aku berpikir andai saja briefingnya bisa lebih ringkas, pasti waktu yang terbuang tak banyak.

Aku sempat terpikir jika materi briefingnya selalu sama dan berulang-ulang, mengapa tidak dibuat dalam video singkat yang bisa diputar lewat proyektor namun tetap ada SAVER atau TNBTS  di sana untuk mendampingi dan menjawab jika ada pendaki yang bertanya. Ah ya, itu hanya pikiranku saja. Andai saja suatu hari bisa terwujud ya…

Setelah briefing selesai dan formulir simaksi kita dicap oleh pihak TNBTS, barulah kita bisa membeli tiket masuk. Harga tiket terbaru untuk mendaki Gunung Semeru yakni :

Wisatawan Lokal : Rp 17.500 per hari di hari biasa dan Rp 32.500 per hari di akhir pekan

Wisatawan Mancanegara : Rp 220.000 per hari di hari biasa dan Rp 320.000 per hari di akhir pekan.

Fantastis ya  harga untuk wisatawan mancanegara nya? Kalikan saja dengan pendakian yang biasanya 3 hari 2 malam minimal. Jadi, janganlah heran jika angka wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia bukan naik malah turun. Harga sepuluh kali lipat dari harga untuk wisatawan lokal tentu saja membuat wisatawan mancanegara mengernyit. Hingga suatu waktu ada teman dari Amerika yang bertanya mengapa hal seperti itu terjadi, saya pun bingung menjawabnya. Saya sih setuju jika harga wisatawan mancanegara lebih mahal tetapi ya jangan ssepuluh kali lipat juga kan. Semoga ada orang Kementerian Kehutanan yang baca tulisan ini yaaaa...

 Ranu Pani – Kalimati


Sebelum berangkat, grup kami yang terdiri dari lima orang yakni Janatan, Dion, Didi, Hilda dan saya mengecek kembali barang-barang bawaan kami sambil mengisi perut di kedai yang baru dibangun di depan loket TNBTS. Sewaktu kami datang, sang empunya bilang memang kedainya baru dua bulan berdiri. Tapi mereka membawa konsep segar di Ranu Pani. Tempatnya tertata apik dengan bunga daisy menghiasi. Makanan dan minumannya berkisar dari Rp 3.000 – 20.000,- saja. Sangat bersahabat di kantong kita. Pun rasa makanannya lezat-lezat. Saya memesan Nasi Rawon dan juga segelas teh rempah. Duhhhh nikmat betul!

Pukul 10.30 kami berangkat dari Ranu Pani dengan tidak lupa memanjatkan doa terlebih dahulu. Berbeda dengan ekpektasi kami bahwa cuaca akan mendung dan hujan seharian, ternyata kami disambut cuaca cerah sepanjang perjalanan. Mestakung, semesta mendukung!


Target kami hari itu adalah tiba di Kalimati sebelum hari gelap. Jadi isthirahat di jalur dilakukan dalam watu singkat saja, meneguk air sambil makan semangka. Semangka ini paling dikangenin kalau naik Semeru karena di gunung yang lain gak ada yang jual. Ada yang pro dan kontra sebenarnya dengan warung yang ada di tiap-tiap pos pendakian Semeru ini. Buatku tak apa, toh mereka cari rejeki ya.

Pos 1, Pos 2, Pos 3, Pos 4, Pos 5 (Ranu Kumbolo), Pos 6 (Cemoro Kandang), Pos 7 (Jambangan) dan Pos 8 (Kalimati). Itu urutan titik-titik pos pendakian di Gunung Semeru. Kami tiba di pos Kaimati, pos terakhir sebelum puncak Mahameru sekitar pukul 17.35. Berarti memakan waktu tempuh 7 jam dari Ranu Pani ke Kalimati. Eits, waktu tempuh kita jangan dijadikan patokan ya. Ada yang bisa lebih cepat dan ada juga yang bisa lebih lama dari itu.

Syukurlah hari belum terlampau gelap saat kami tiba di Kalimati.  Sebenarnya bisa lebih cepat lagi jika tidak santai-santai di Jambangan cukup lama untuk mengabadikan langit senja berwarna jingga dan merah muda. Jarang-jarang lho bisa dapat senja di gunung karena biasanya semua mengejar matahari terbit. Semesta memang sedang berbaik hati dan dalam kondisi gembira, cerah ceria.

Kapan lagi bisa dapat senja menawan di gunung?

Segera kami berkerja sama mendirikan dua tenda untuk beristhirahat. Angin menerpa cukup kencang dan kami menambahkan flysheet lagi di antara dua tenda untuk menghalaunya. Lekaslah kami berganti pakaian hangat, menjerang air dan juga menyiapkan makanan. Se’i, makanan khas dari NTT menjadi santapan lezat kami malam itu. Asupan protein yang cukup untuk mendaki ke puncak tengah malam nanti.


Pesta Se'i! Makan ramai-ramai satu tenda, semua gembira!
Biasanya orang-orang naik ke Puncak pukul 12 malam, namun kami memutuskan untuk naik jam 3 pagi. Toh kami tak mengejar ingin melihat sunrise dari puncak. Menikmati matahari pagi di jalur pun sudah cukup. Waktu tempuh untuk menuju puncak sekitar 4-10 jam, tergantung kecepatan jalan kita dan kondisi pendakian ke puncak. Semakin banyak pendaki maka semakin panjang antriannya, semakin lama waktu tempuhnya.

Jadi, bisakah kami semua sampai di puncak?

Menjejak di Puncak


“Bangun yuk bangun” ujar Janatan sambil mematikan alarm.

Semua menggeliat malas dalam sleeping bag. Ya siapa bilang bangun dini hari itu gampang. Janatan langsung menyiapkan roti tawar yang dilapis selai cokelat dan menyiapkan minuman hangat untuk sarapan dini hari. Ingat ya meski sudah makan beberapa jam sebelumnya, kita tetap harus mengasup energi ke dalam tubuh sebelum berangkat menanjak ke puncak.

Hal yang terberat adalah keluar dari tenda yang hangat dan bersiap menghadapi udara dingin menusuk. Cukup mengagetkan ternyata suhu udara tidak sedingin yang kami kira. Oh iya, di musim hujan kan suhu di gunung lebih hangat dibandingkan saat musim kemarau. Langit cerah dan bertabur jutaan bintang, menjadi pertanda bahwa cuaca bagus untuk mendaki ke puncak.

Kami menyiapkan makanan, minuman di ransel kecil. Satu orang membawa air masing-masing satu liter untuk perjalanan mendaki dan turun. Tidak akan ada sumber air yang kita jumpai menuju ke puncak jadi perhitungkan kebutuhan air dan jangan sampai menyusahkan pendaki lain dengan meminta jatah air mereka.

Jalur menuju ke puncak sudah berubah. Jalur ini disebut dengan jalur Arcopodo baru karena jalur lama sudah tertimbun longsor. Butuh waktu satu jam untuk berjalan hingga ke batas vegetasi hutan. Begitu lautan pasir segunung (memang gunung), saya mengambil nafas panjaaaaaaaang dan menghembuskannya lagi. Minta berkat dari yang di atas supaya selamat sampai ke puncak hingga kembali lagi ke camp.

Di atas sudah terlihat cahaya-cahaya putih yang berasal dari headlamp pendaki yang sudah berangkat duluan. Mungkin yang berangkat jam 12 malam.

Kami menapaki jalur pasir yang katanya maju dua langkah turun satu langkah. Syukurlah kami naik menggunakan trekking pole sehingga ada pegangan dan pijakannya lebih mantap. Apalagi ditambah pasir yang lebih padat karena sedang musim hujan. Di musim kemarau biasanya pasirnya lebih gembur jadi gampang merosot.

Meski pelan-pelan, kaki terus dipaksa melangkah agar tidak kesiangan tiba di puncak. Ingat, waktu yang diperbolehkan berada di puncak adalah jam 9 pagi. Jika lebih dari jam tersebut, berarti namanya membahayakan diri.

Kenapa sih maksimal jam 9 pagi di atas?

Jadi, gunung Semeru ini merupakan gunung berapi aktif yang terus dipantau aktivitasnya. Setiap hari dia ‘batuk’ dan mengeluarkan awan panas yang sering disebut dengan ‘wedhus gembel’. Di atas jam 9 pagi, arah angin di puncak Mahameru akan berubah arah dan jika kita berada di puncak pada waktu itu, kita akan menghirup zat-zat yang bisa meracuni kita yang bisa mengakibatkan kematian. Itulah mengapa dianjurkan jam 9 maksimal. Kalau kalian masih ada di tengah-tengah jalur dan jam sudah menunjukkan jam 9, sebaiknya jangan memaksakan diri ke puncak. Lebih baik turun ya.

Hilda, Dion dan Didi sudah melaju duluan di depan. Aku dan Janatan berjalan di bagian belakang. Kami akhirnya jadi terpisah cukup jauh karena kami berdua keasyikan mengabadikan matahari pagi lewat lensa. Tak ada lagi pendaki di belakang kami yang berarti memang rombongan kami yang terakhir mendaki ke puncak.

Semburat matahari pagi di jalur menuju puncak Mahameru.
Makin ke atas, langkah kaki terasa semakin berat. Saya lirik jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Matahari sudah mulai menyapa hangat di wajah. Jangan sampai terlena dengan kehangatannya karena bisa membakar wajah. Siapkan sunblock dalam kantong jaket agar bisa dioleskan beberapa jam sekali. Ingat sinar UV di gunung itu tinggi sekali jadi selain terbakar, risiko terkena kanker kulit juga besar.


Di tengah jalur menuju Puncak Mahameru. Begitu membalikkan badan, dapat pemandangan kayak gini :)

“Badanmu keringetan nggak?” tanya Janatan.

“Nggak kok, ini aku buka sedikit jaketnya biar sirkulasi anginnya baik” jawabku.


“Jangan sampai basah ya bajumu, nanti bisa hipotermia”, kata Janatan lagi.

Yap, kadang kita tidak sadar karena naik gunung harus pakai baju hangat, badan kita tutup serapat-rapatnya agar tidak ada angin masuk. Sebenarnya itu kurang tepat karena badan kita jadi basah berkeringat. Kalau keringat terperangkap, suhu tubuh kita bisa turun dan sangat gampang terkena hipotermia. Apa itu Hipotermia? Bisa dibaca di blogpost tentang hipotermia ini ya.

Hai Ibu Mahameru!



7.10 WIB.

Air menggenang di pelupuk mata namun karena angin berhembus kencang, tak jadi ia jatuh.

Bendera merah putih berkibar gagah.

Kami tiba.

Di Puncak Mahameru.

Hilda, Didi dan Dion yang sudah tiba lebih dulu di puncak memeluk aku dan Janatan. Tak kuasa saya menahan gembira sekaligus haru. Sejak operasi patah tangan kanan 4 bulan lalu, saya yang dianjurkan harus menghentikan seluruh kegiatan outdoor selama 1 tahun, sekarang malah berdiri di puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Maaf ya Pak Dokter. Satya nakal.

‘Bum bum bum’, bunyi dentuman keras tiga kali. Ternyata Ibu Mahameru ‘batuk’. Tak mau berlama-lama di atas, kami mengambil foto bersama dan langsung turun.

Yo yo yo! We did it to the top bro!

Ki - Ka : Janatan, Saya, Didi, Hilda, Dion. One team made it to the top!


Perjalanan empat jam ke puncak dari Kalimati. Perjalanan turunnya 1,5 jam saja. Hahahaha. Jauh lebih mudah karena kita turun melewati jalur pasir gembur. Syukurlah sampai turun cuaca cerah masih menyertai, jadi jalur terlihat dengan sangat jelas. Kebanyakan pendaki yang tersesat di jalur puncak adalah saat turun dan biasanya mereka turun dalam kondisi cuaca berkabut sehingga tidak bisa melihat patokan jalan. Semua jalurnya kan sama. Pasir.

Tak lama setelah sampai di camp, kami bersiap turun untuk bersantai di Ranu Kumbolo satu malam sebelum keesokannya berangkat turun ke bawah. Ranu Kumbolo sepi sekali waktu itu karena kami mendaki di hari biasa dan musim hujan pula. Senang banget hanya ada sedikit tenda di Ranu Kumbolo. Bonus berlipat lagi ketika cuaca cerah mulai matahari terbit hingga siang hari. Sayang karena sedang musim hujan, tidak ada milkyway dan kabut menari di atas danau di pagi hari. Tapi tak apa, Ibu Mahameru sudah terlalu baik kepada kami.


Pagi yang merona di Ranu Kumbolo <3




Kapan lagi bisa dapat Ranu Kumbolo sesepi ini ya?


Saya hanya menyayangkan sampah masih ada di sekitaran toilet kering. Tak habis pikir mengapa para pendaki sulit sekali membawa botol kosong mereka untuk turun. Padahal botol kosong kan tidak berat. Ayolah Bung, gunung bukan tempat sampah. Bagaimana bisa kamu menuntut agar alam selalu ramah tetapi kamu tidak pernah baik kepada alam? Marilah kita jadi pendaki yang lebih bertanggung jawab, dimulai dari diri sendiri. Ya ya ya bisa ya teman-teman ya?

Sampah yang ada di sekitaran toilet kering di camp Ranu Kumbolo. Sedih banget ya :(
Terpuaskan rinduku pada Semeru. Terima kasih dan kami pasti akan kembali lagi, Ibu Mahameru.


Sekiranya teman-teman punya pertanyaan tentang pendakian ke Semeru boleh taruh komentar di bawah atau email ke satyawinnie@gmail.com ya :)

Psssttt, buat perempuan, saya juga punya tips mendaki gunung agar tetap cantik lho! Sila dibaca ya!

Happy hiking!