Menilik Uma dan Tradisi Kubur Batu di Kampung Tarung Sumba

Uma dan Kubur Batu di Kampung Tarung
Rumah (Uma) adat di Kampung Tarung memang tidak terlalu besar ukurannya. Untuk rumah, masyarakat Sumba memiliki filosofi sendiri. Bagi mereka rumah terbagi tiga ; bagian atas rumah atau atap sebagai tempat bersemayamnya para leluhur / roh-roh baik, bagian tengah adalah tempat tinggal dan pemujaan leluhur sedangkan bagian bawah adalah tempat hewan peliharaan dan roh-roh jahat.

Bagian lantai rumah terbuat dari bambu. Atapnya terbuat dari rumbia / alang-alang yang biasanya diganti 5 – 10 tahun sekali. Atap alang-alang ini adalah bahan atap yang paling pas untuk Sumba yang panas.

Kampung Tarung sudah dialiri listrik...


Bagian teras Uma...

Di bagian tengah rumah ada tungku yang letaknya di lantai. Di atasnya ada rak dari bambu yang berfungsi sebagai kulkas untuk daging. Daging yang sudah diolah, diletakkan di rak itu dan diasapi setiap hari saat tungku menyala. Hal itu membuat daging menjadi awet dan tahan berbulan-bulan.

Tungku ada di bagian tengah rumah. Ada Nene Loda Goko, Kak Nonce dan Kak Ina...
Saya disuguhkan dendeng kerbau asap yang disimpan Nene. Meski sedikit keras digigit, dendeng kerbau ini enak, gurih pedas asin. Saya lahap memakannya dengan nasi hangat yang mengepul. Saya juga diajak mencicipi ‘Peci’, minuman fermentasi khas Sumba, seperti Sopi / Moke di Flores. Namun rasanya tidak terlalu enak sehingga saya hanya meminum sedikit saja.

Dendeng kerbau khas kampung Tarung...
Setiap rumah inti yang ada di Kampung Tarung memiliki nama. Rumah Bang Piu disebutnya ‘Uma Wara’ atau rumah Menara. Ada juga ‘Uma Mawinne’ yang artinya rumah perempuan. Rumah Nene Leda disebutnya 'Uma Rato' atau rumah tetua adat.

Di bagian depan tiap-tiap rumah, ada tanduk kerbau yang merupakan simbol kekayaan dan kemakmuran keluarga. Semakin banyak dan besar tanduk kerbau itu, berarti kita tahu bahwa keluarga tersebut pasti kaya. Kan mengadakan pesta adat dengan kerbau sebesar itu, tidaklah murah. Tanduk-tanduk kerbau terutama yang ukurannya raksasa, sering ditawar oleh wisatawan asing dengan harga lebih dari sepuluh juta rupiah namun selalu ditolak.

Bayangkan kalau tanduk kerbau besarnya segitu, kerbaunya sebesar apa hayo...

Pemali dan Penggal Kepala


Ada satu tempat di tengah kampung disebut ‘Natara Katoda’ yang dulunya menjadi tempat perang dan tempat memenggal kepala musuh. Di dekatnya ada satu ranting pohon tua yang disebut ‘kayu adong’. Di ranting bercabang inilah kepala-kepala musuh digantung. Iya, di tengah-tengah kampung dan bisa dilihat semua orang mulai dari orang tua sampai balita. Seram kali ya. Saya membayangkan saya masih kecil dan bermain di halaman sambil melihat kepala tergantung di ranting pohon. Duh, bergidik saya jadinya.

Namun kini sudah tidak ada tradisi penggal kepala musuh seperti dulu.

Pohon temoat menggantung kepala musuh. Pohon ini sudah mati dan lapuk sehingga harus diberi penyangga.

“Kamu boleh keliling kampung dan lihat-lihat kuburan tetapi jangan menginjak batu yang ada di paling tengah itu ya” kata Nene.

Nene lanjut bercerita bahwa batu di tengah itu dikeramatkan oleh masyarakat Kampung Tarung dan tidak ada yang boleh menyentuhnya.

“Batu itu pemali dan dulu ada orang asing coba pegang batu itu, langsung buka baju, lari telanjang keliling kota”, tambah Nene lagi.

Sebaiknya kita tidak usah macam-macam di kampung adat. Jika memang dikatakan tidak boleh, patuhilah, hormatilah.


Batu yang di tenah itu jangan dipegang atau diinjak ya...


Kubur Batu dan Tradisi Tarik Batu


Kuburan tua adalah favorit saya, termasuk kubur batu di Kampung Tarung. Ada batu kubur yang berbentuk kotak dan ada penutupnya. Ada juga yang berbentuk meja besar yang penuh dengan ukiran. Usia kuburan ini diperkirakan mencapai ribuan tahun, berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti asing kepada lumut yang menempel di batu kubur.


Ada juga batu kubur yang sebesar ini dan lokasinya persis di depan rumah...
Yang menarik dari kubur batu ini adalah tradisi membawa atau memindahkan batu kubur ini. Batu-batu ini berasal dari pantai dan ditarik bersama-sama hingga ke gunung. Dengan tidak adanya alat angkut berat, bagaimana caranya masyarakat memindahkan batu kubur ini dulu? Itu pertanyaan terbesarnya.

Ternyata, zaman dulu, mereka menggunakan gelondongan kayu yang diikatkan ke batu memakai ‘tuwa’, batang tali dari hutan yang kini sudah susah ditemukan. Mereka menjadikan gelondongan kayu sebagai roda yang dipindahkan manual, ditarik oleh manusia. Bayangkan mereka menarik batu besar yang beratnya ratusan kilo dengan jarak belasan bahkan puluhan kilometer. Wow!



Kata Nene, biasanya sebelum memindahkan batu kubur, ada ritual yang diadakan untuk mendoakan proses pindah batu kubur berlangsung lancar. Para lelaki yang menarik kubur batu ini juga bernyanyi sepanjang jalan dan bebannya akan terasa ringan. Sayangnya saya tidak melihat langsung tradisi pindah batu kubur ini karena sedang tidak ada upacara kematian bangsawan besar.

Dalam satu kubur batu, tidak hanya terdapat satu badan melainkan ada banyak. Ada yang posisinya duduk, ada juga yang tidur. Mereka ditumpuk dengan dibalut kain tenun yang berbeda-beda. Jadi jika suatu hari, ada jenazah yang mau dipindahkan, kubur batu itu dibuka dan diambillah tulang-tulang yang terbungkus kainnys. Keluarganya pasti mengenali dengan baik kain tenun apa yang dipakai saat penguburan.

Pesta penguburan ini prosesinya panjang sekali dan memakan banyak biaya. Nanti akan ada cerita khusus tentang rangkaian adat penguburan. Ditunggu ya.

Kampung Tarung ini bisa dikunjungi kapan saja. Pesan saya hanya hormatilah segala aturan di dalam kampung, jangan jadikan masyarakat kampung adat sebagai objek. Akan lebih menyenangkan jika kita datang ke sana dan berbincang dengan mereka. Pasti mereka jauh lebih senang. Jika ada rejeki, belilah hasil kerajinan mereka. Kain tenunnya berkisar dari 75.000 hingga jutaan rupiah. Mereka juga bisa membuat kain tenun spesial dengan nama kita lho. Proses membuatnya memakan waktu 3 hari. Jika berkunjung dalam waktu cukup lama ke Sumba, bolehlah dipesan.





Salam sayang dari Sumba...  


13 comments:

  1. Bocah-boacahnya ramah ya kak.
    Sumba selalu merawat harapanku untuk menjenguknya. Semoga tahun depan kesampaian.. :D

    Tulisan dan foto-foto yang ciamik kak.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mz dan seperti biasa mereka senang difoto. Hihihihi. Nanti pulang dari Oz ajak Daffa ke Sumba ya ;)

      Delete
  2. Uh penasaran sama dengdeng kerbau nya versi sumba, pedes gurih kah ???
    Aku makan dendeng rusa di sumbawa, rasa nya panas empuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kacum, enak pedas gurih asin gitu. Pengen bawa pulang tapi waktu itu masih bakwl jalan jauh. Jadi diurungkan. Ahhhh entah kenapa dulu pas makan dendeng rusa di Sumbawa, aku mual. Mungkin orangnya gak pinter masaknya dan masih bauuu. Hahaha...

      Delete
  3. Ikut berbaur dengan mereka tanpa sekat jauh lebih baik daripada hanya mengabadikan mereka dan menjaga jarak. Senang bisa lihat anak-anak kecil yang ceria.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget Nas. Mereka senang sekali diajak bermain sama2 :)

      Delete
  4. Uh mupeng banget mbaa aku kalau liat catatanmu selama di Sumba.
    Pengen kesini. tanggung jawab kamu mba sat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha hayu langsung ke Sumba. Mulai September, bukitnya coklaaattt emas gitu Nif! Aku pun mau kembali lagi segera...

      Delete
  5. wah, Ikut berbaur dengan mereka tanpa sekat jauh lebih baik daripada hanya mengabadikan mereka dan menjaga jarak. Senang bisa lihat anak-anak kecil yang ceria.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak-anak Sumba memang menyenangkan dan ceria. Gemasss...yaaaaa perjalanan akan jauh lebih menyenangkan kalau bisa berbaur dengan orang2 baik di sana ☺️

      Delete
  6. ngeri juga ya kalau pegang batu yang ada di kuburan sana langsung buka baju dan keliling kampung, semoga aja gak ada orang-orang yang gegabah saat berwisata kesana..

    ReplyDelete
  7. Kelihatan primitif, tapi indah banget :)

    ReplyDelete
  8. Artkelnya bagus sekali,mudah dicermati dan mengandung banyak pesan. Seperti itulah budaya sumba, warisan leluhur yang senantiasa dipertahankan hingga sekarang.
    atas nama pribadi, Sebagai bagian dari budaya sumba, juga tidak terlepas dari masyarakat sumba, saya mengapresiasi dan berterima kasih banyak atas tulisan ini, tulisan ini syarat akan makna dan mitos budaya sumba serta folosofi yang masih melekat erat dengan budaya sumba itu sendri.
    salam dan hormat saya
    Rio Marsan

    ReplyDelete

Pembaca yang baik pasti meninggalkan komentar yang baik dan membangun. Bagi komentarnya ya ;)

Powered by Blogger.