Thursday, August 18, 2016

# Featured # Nusa Tenggara

Berkeliling Kampung Adat dan Mengenal Budaya Sumba Lebih Dekat



Dapa tekki tamo
Dapa nunga ngara
Pamake mata pamomo wiwaui

Tiga kalimat itu adalah jawaban yang diberikan Nene Leda Goko saat kami berbincang tentang Marapu, kepercayaan adat masyarakat Sumba. Meski banyak yang mengatakan itu agama, pada nyatanya bukan. Nene bilang itu adalah kepercayaan turun temurun dari nenek moyang, tetapi tidak ada Tuhan yang disembah seperti agama lainnya. Pun arti dari kalimat paling atas itu kurang lebih artinya, dia yang tidak perlu dicari, tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar tetapi ada di sekitar.

Hal itu sebelumnya pernah saya tuliskan di ‘Menjadi Rambu dan Mengenal Marapu di Kampung Tarung Sumba’. Saya pun menambahkan cerita tentang rumah adat dan kubur batu di ‘Menilik Uma dan Tradisi Kubur Batu’.

Itu sebenarnya hanya secuil cerita dari keseluruhan perjalanan di Sumba. Sudah lama sekali saya ingin menginjakkan kaki ke pulau di sebelah selatan Flores, Nusa Tenggara Timur, khusus untuk mengenal lebih dalam tentang kebudayaan Sumba.

Perjalanan saya dimulai dari menyusuri Sumba Barat Daya, Sumba Barat lalu Sumba Timur. Buat saya ini adalah pilihan yang tepat karena dengan menjadikan Sumba Barat Daya sebagai destinasi pertama, kita bisa belajar mengenal kebudayaan Sumba di Rumah Budaya Sumba yang dibangun oleh Pater Robert di daerah Kodi.


Rumah Budaya Sumba yang ada di Sumba Barat Daya
Saya terperangah melihat semua koleksi museum yang diberi label berisi nama dan fungsi benda tersebut. Mulai dari kain tenun yang usianya lebih dari seratus tahun, perhiasan, alat masak, alat musik dan juga foto-foto keindahan Sumba hasil bidikan mata Pater Robert sendiri selama belasan tahun lebih.

Dari Rumah Budaya Sumba inilah saya mendapatkan info tentang beberapa kampung adat yang tersebar di seluruh Sumba. Dikarenakan keterbatasan waktu, saya tidak bisa mengunjungi semuanya dalam satu waktu. Ini beberapa kampung adat yang saya kunjungi ;

Kampung Adat Ratenggaro, Sumba Barat Daya


Yang menjadi ciri khas dari Kampung Adat Ratenggaro ini adalah atap ‘uma’ atau rumah yang sangat tinggi. Nama desa Ratenggaro berasal dari dua kata yakni ‘Rate’ yang berarti kubur dan ‘Goura’ yang merupakan nama suku. Ya, daerah ini dulunya merupakan kuburan suku ‘Goura’.

Kampung adat Ratenggaro berciri khas atap tinggi menjulang...

Senja di Kampung Ratenggaro (Photo Credit : Andi Patarai)
Kampung ini menyambut saya dengan sangat hangat. Mama Maria Dimukatupu bercerita cukup banyakk tentang kehidupan wanita Sumba. Pun ia bertelanjang dada sambil bercerita bahwa itulah potret wanita Sumba, meski tidak keseluruhan, tergantung dari kasta mana ia berasal.

Maaf kalau dada Mama harus disensor ya :)

Kampung Adat Tarung, Sumba Barat


‘Tarung’ sendiri berarti tempat yang tinggi dan memang, kampung ini terletak di bukit tengah-tengah kota Waikabubak. Di Kampung ini, saya bertemu dengan Nene Loda Goko yang bercerita tentang kepercayaan tradisional ‘Marapu’ dan juga kubur-kubur batu.

Hampir sama dengan kampung adat lainnya, di Kampung Tarung, kita akan menjumpai tanduk-tanduk kerbau raksasa yang ada di teras rumah dan merupakan lambang kemakmuran. Tak lupa saya mencoba dendeng kerbau asap asin pedas khas Sumba yang dimasak di rumah keluarga Nene Loda Goko. Luar biasa rasanya.

Tanduk kerbau di Kampung Tarung

Kampung Adat Wunga, Sumba Timur

Masyarakat Wunga mengenal Kampung Adat Wunga sebagai tempat dimana Nenek Moyang mereka mendirikan pemukiman, tak berapa lama setelah mereka mendaratkan perahu di Tanjung Sasar. Meski harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari pusat kota Waingapu, saya merasa senang bisa melihat langsung kampung pertama di Sumba.




Kampung Wunga sebagai kampung tertua di Sumba
Sayangnya, setibanya di sana saya melihat kampung ini sangat sepi. Ternyata kebakaran tahun 2010 telah membumihanguskan 9 rumah dari 12 rumah yang ada dan kini hanya 3 rumah yang tersisa. Meski panas menyengat di kulit, saya senang bisa berbincang dengan Nene Lingga, Mama Anabaya dan Kaka Yubi yang menyambut saya dengan ramah di teras rumah.


Kampung Adat Raja Prailiu, Sumba Timur


Jika tidak punya banyak waktu untuk mengelilingi Sumba Timur, datanglah ke Kampung Raja / Kampung Prailiu yang letaknya di pinggir Kota Waingapu, tidak jauh dari bandara. Mampirlah ke rumah Tamu Rambu Margaretha yang hangat serta luwes bercerita tentang adat-isitiadat di Kampung Raja. Di halaman rumahnya ada pohon yang dihiasi dengan rahang babi dan tulang belulang. Ada beberapa kuburan batu di sekitarnya. Sarah, menantu Tamu Rambu Margaretha, juga dengan antusias mengenalkan budaya Sumba kepada siapa pun yang datang berkunjung.


Tamu Rambu Margaretha, Tetty, saya dan Sarah

Memakai pakaian tradisional Sumba - Kampung Adat Raja / Prailiu

Kampung Adat Prayawang / Rindi, Sumba Timur


Bisa saya katakan bahwa kampung ini adalah favorit saya. Kampungnya tidak besar, namun punya nilai budaya yang begitu luar biasa. Saya beruntung bisa bertemu langsung dengan Rambu Ana Intan, seniman tenun asli Sumba. Dari beliau lah saya belajar makna setiap motif yang ada di kain, sambil menyesap kopi. Saya begitu terpukau dengan setiap karyanya. Tentu saja kain-kain itu bisa dibeli. Saya juga mau kalau ada uangnya. Harganya memang mahal namun sebanding dengan kualitasnya.




Kain ikat tenun khas Sumba hasil tangan Rambu Intan
Berkunjunglah ke Sumba dan dapatkan kejutan menyenangkan dan tak terlupakan, apalagi buat yang senang belajar budaya. Untuk menuju kesana, bisa dengan jalur laut atau jalur udara naik pesawat ke Waitabula atau Waingapu. Pesawat yang paling sering melayani penerbangan ke Sumba dari Jakarta adalah Lion Air. Coba cek langsung tiket pesawat ke Sumba.

Jadi, siapa yang mau ke Sumba dan mengenal budayanya lebih dekat? Yuk ;)

Aku Cinta Indonesia!

Keluarga yang menyenangkan di Kampung Tarung

Salam sayang dan damai dari Sumba. <3

10 comments:

  1. Berkumpul, menyatu dan berinteraksi dengan warga setempat membuat kita seperti keluarga sendiri tanpa ada sekat. Seperti inilah seharusnya tiap wisatawan yang datang, tak hanya datang lalu mengabadikan saja tanpa ada interaksi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap! Tul banget Nas! Aku nanti mau share cerita lengkap dari masing-masing kampung ini. Ditunggu ya. Hihihi ;)

      Delete
  2. Bagus sekali tulisan ini......thankyou for sharing yow..

    ReplyDelete
  3. Berbaur dengan masyarakat lokal adalah hal yang jarang sekali dilakukan oleh para traveler. Dgn berbaur dan berinteraksilah kita bisa melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Semoga menang tulisannya :) dan bisa dapat tiket pesawat gratis dari airpaz.

    ReplyDelete
  4. selamat...artikelnya menang lomba ^^

    ReplyDelete
  5. mantappp skali perjalanannya... smoga suatu saat nnti bisa trip k sni jga.. :)

    ReplyDelete
  6. mantappp skali perjalanannya... smoga suatu saat nnti bisa trip k sni jga.. :)
    lucky patcher download

    ReplyDelete
  7. asyiknya disana, duh Satya jadi pengen ke Sumba juga

    ReplyDelete

Apa yang terpikir di benakmu setelah membaca tulisan ini? Share dong :)

Follow Us @satyawinnie