Friday, July 29, 2016

Mendaki Gunung Ciremai (Yang Katanya Mistis) via Apuy Majalengka

Friday, July 29, 2016 65 Comments

“Ciremai Neng, Kang, ojek ojek”, ujar beberapa Mamang Ojek begitu saya dan Janatan turun dari elf yang membawa kami dari Cileunyi ke Terminal Maja, Majalengka.

Kami berdua berencana untuk mendaki Gunung Ciremai, spontan saja. Meski sudah mendengar cerita-cerita mistis tentang pendakian Gunung Ciremai, kami tetap ingin mendaki titik tertinggi di Jawa Barat ini.Toh kita niatannya baik, pasti di sepanjang jalan juga akan baik-baik saja. Dulu sempat baca cerita blog tentang pendaki yang “disesatkan” di Ciremai dan baca blognya Acen Jalan Pendaki ke Ciremai via Linggarjati. Dua cerita itu sempat membuat saya bergidik dan ciut nyali untuk mendaki Ciremai. Namun pada akhirnya jadi juga saya ke sana dan memilih jalur Apuy ketimbang Linggarjati atau Palutungan.

Saya tolak dengan halus tawaran Mamang Ojek tadi dan melipir ke satu warung samping terminal, meletakkan carrier, duduk menyantap nasi kuning dan menyesap teh tawar hangat sambil menunggu langit cerah. Kami berencana mencari rombongan lain yang mungkin bisa diajak patungan membayar pick-up ke basecamp Apuy.

Namun hingga langit berubah warna dari biru, jingga, emas, kami tidak menjumpai rombongan lain di terminal. Mungkin karena hari itu hari Minggu sehingga sepi pendaki. Pada akhirnya kami mengiyakan Mamang Ojek yang sedari awal tak berhenti membujuk kami untuk naik ojek. Toh, tak ada salahnya berbagi rejeki dengan mereka. Harga yang diminta juga tidak terlalu mahal, Rp 60.000,- per orang untuk satu jam perjalanan dari Maja ke Basecamp Apuy. Kami juga tidak mau kesiangan karena rencana pendakian hanya dua hari, jadi harus berangkat sepagi mungkin, mendaki sampai pos terakhir dan langsung summit attack keesokan paginya dan langsung turun. Begitu rencana awalnya.



“Ayo Neng taruh di depan aja tasnya”, ujar si Mamang. Saya berikan dan naik ke boncengan dengan kamera terkalung di leheer. Pemandangan dari Maja menuju Basecamp wajib diabadikan. Apalagi pagi itu cuaca cerah dan udaranya sejuk.

Motor bebek digas terus oleh si Mamang menyusuri tanjakan yang kadang berlubang. Setelah jalan aspal habis, kita melintas di jalan tanah dimana beberapa kali kami harus turun karena takut tergelincir jatuh.




Sampai sekitar jam 7 di Basecamp Apuy, kami langsung registrasi di Pos 1 atau Pos Berod. Biaya registrasinya Rp 50.000,- per orang. Lumayan mahal juga ya. Kami sempat bertanya apakah boleh lintas jalur, misalnya naik via Apuy (Majalengka) dan turun via Palutungan (Kuningan) dan jawabannya adalah tidak. Alasannya agar semua pendaki dapat terorganisir data naik dan turunnya, meminimalisir angka pendaki yang tersesat karena naik dan turun dari jalur yang sama. Kata Bapak petugas Taman Nasional Gunung Ciremai ini, banyak sekali pendaki yang tersesat di Ciremai dan penyebab utamanya adalah karena mereka lintas jalur naik dan turun.

Fyi, gunung tertinggi di Jawa Barat ini memiliki tingkat kesulitan pendakian yang lumayan jadi harus mempersiapkan fisik dari jauh-jauh hari. Meski pun katanya mendaki gunung itu lebih kepada ujian mental, tetap saja kalau fisiknya lemah ya zonk. Jadi harus tahu betul kapasitas diri masing-masing saat mendaki gunung.

Ditambah lagi tidak adanya sumber air di jalur pendakian Apuy, akan membuat pendakian lebih berat karena beban air. Untuk pendakian dua hari, kami membawa air 4 botol 1,5 liter, 1 botol minum kapasitas 1 liter dan 1 botol kapasitas 700ml. Pun kami mengatur menu makanan yang tidak membutuhkan banyak air seperti sup atau mie instan berkuah.


Sehabis melakukan pemanasan, kami mulai berjalan pelan. Dari pos 1 menuju pos 2 (Pos Arban) memakan waktu sekitar 30 menit saja dan jalurnya bisa dilewati motor. Berjalan pelan sambil mengatur nafas, kami tertawa-tawa sepanjang jalan. Tidak banyak pendaki yang kami jumpai di jalur dan itu membuat saya senang.


Namun sempat kami berjumpa dengan pendaki yang tidak mengenakan alas kaki, sedang berjalan turun. Saya tanya baik-baik kenapa dia tidak memakai alas kaki, katanya enak begitu daripada pakai sepatu. Saya kecewa dengan pendaki yang abai keselamatan diri seperti dia. Kalau porter okelah kita maklum mereka memang terbiasa memakai sandal jepit atau bahkan bertelanjang kaki. Lah kalau pendaki biasa? Tergelincir lalu kakinya patah? Hanya akan menyusahkan dirinya dan orang lain juga kan? Menurut petugas TNGC, pendaki yang ketahuan tidak mematuhi peraturan pendakian, akan ditarik asuransinya dan pihak Taman Nasional tidak akan bertanggung jawab atas apa pun yang menimpa pendaki nakal itu.

Perjalanan dilanjut lagi dari Pos 2 menuju Pos 3 (Tegal Masawa), jalurnya sudah mulai “yahud” dengan estimasi waktu pendakian 2 jam. Tanjakan dengan elevasi 45 hingga 80 derajat sudah menanti. Beberapa kali kami harus memanjat dengan berpegangan pada akar-akar kayu. Sampai di Pos 3 ternyata ada beberapa pendaki yang sedang isthirahat. Karena sudah hampir jam 12 siang, kami mengeluarkan kompor dan memasak makan siang dan menyeduh susu.


Hujan turun tepat saat kami hampir selesai makan. Dengan sigap kami packing, memasang rain cover dan memakai rain coat lalu bersiap berjalan lagi. Saat hujan, kami berjalan lebih pelan dan hati-hati agar tidak tergelincir. Perjalanan dilanjutkan ke Pos 4 (Tegal Jamuju) dengan estimasi waktu 1 jam. Hujan masih terus mengguyur hingga perjalanan menuju Pos 5 dan syukurlah hujan berhenti dan kami bisa melepas rain coat.

Saya menyenangi perjalanan  dari Pos 4 menuju Pos 5 karena menjumpai banyak sekali pohon-pohon besar yang tidak cukup dipeluk satu orang saja. Selain pohon, akar-akaran juga semakin memperindah jalur pendakian. Saking senang dan terpesonanya, kami tak sadar sudah sampai di Pos 5 (Sanghyang Rangkah) yang ternyata kami tempuh dalam waktu 1,5 jam. Kami berencana untuk mendirikan camp di Pos 6 agar dekat dengan puncak. Di Pos 5 kami berjumpa dengan pendaki yang hendak turun, berbincang sebentar dan melanjutkan perjalanan.



Saya sudah lelah namun seperti biasa Janatan selalu kelihatan santai, nggak ada capeknya. Perjalanan menuju Pos 6 dari Pos 5 memakan waktu 2 jam, dengan jalur sempit, berbatu dan cukup terjal. Apalagi setelah ketemu percabangan jalur Apuy dan Palutungan, jarak ke Pos 6 sudah dekat tapi kki rasanya berat bener.



Senangnya selama di jalur, kami dihibur oleh burung jalak hitam yang ada garis orange ikut berjalan melompat dan sesekali terbang di dekat kami. Masyarakat lokal percaya bahwa burung-burung ini bukan sembarang burung. Jangan sesekali mengganggu, menyakiti atau membawa mereka pulang kalau tidak mau mendapat malapetaka. Ya percaya nggak percaya yaaaaa…. Tapi memang benar bahwa kita sebaiknya tidak mengganggu makhluk hidup lain.

“Yok, udah kelihatan itu Goa Waletnya”, kata Janatan, membuat saya semangat. Ternyata lokasinya ada di bawah dan kita harus menuruni jalur. Hanya ada satu tenda biru yang kami jumpai. Kami sapa mereka berdua yang bernama Abi dan Nopri. Hanya kami berempat yang ada di Goa Walet waktu itu.


Goa Walet ini memang agak membingungkan karena katanya banyak walet di sini sehingga dinamai seperti itu, padahal tidak satu pun walet yang saya lihat atau dengar suaranya. Yang ada hanya potongan botol Aqua yang ditinggalkan pendaki untuk menampung air dari stalaktit di dalam goa, meski hanya tetesan-tetesan kecil. Pun air hanya akan menetes saat musim hujan. Jika musim kemarau mungkin tidak ada tetesan air sama sekali. Jadi jangan bergantung dengan air tetesan dari gua, persiapkanlah dengan baik logistik pendakian.


Kami memilih camp di dalam goa, mencari bagian yang rata dan membangun tenda. Habis berganti pakaian hangat, kami memasak makan malam. Malam itu dingin sekali sehingga saya terus-terusan ingin meminum susu. Kami makan banyak sekali agar badan hangat. Tapi tetap saja dingin. Akhirnya kami keluar dan mengajak Abi serta Nopri untuk ngobrol dan membuat api unggun kecil dari ranting kecil yang berserakan namun sayangnya gagal. Hampir sejam kami berusaha tapi tidak berbuah apa-apa. Kami masuk ke tenda masing-masing dan bersiap untuk tidur. Kami berempat berjanji bangun setengah lima pagi untuk berjalan bersama-sama ke puncak.

Seperti biasa, setiap tengah malam pasti saya terbangun karena kedinginan, sehangat apa pun pakaian dan sleeping bag. Seperti biasa juga, Janatan pasti bangun untuk memasak susu hangat, menyendokkan roti dan susu, membuka kaus kaki tebal saya dan menggosok kaki agar hangat lalu tidur lagi. Janatan surely my best travel/hike mate ever.

Menuju Puncak Ciremai


“Bi, Pri udah bangun belum?” panggil saya kepada teman di tenda sebelah kami saat bunyi alarm bersahut-sahutan. Dari Pos 6 (Goa Walet), hanya dibutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke puncak. Kami bangun pukul setengah lima dan segera bersiap ke puncak dengan membawa air minum, snack dan tripod.

Suhu di luar dingin sekali, membuat enggan bergerak. Namun begitu terbayang dalam imajinasi cantiknya sunrise dari puncak gunung membuat saya tergiur dan ingin cepat berjalan, memanaskan badan.

Kami menyusuri jalanan berbatu dengan perlahan-lahan. Dinginnya udara dan tipisnya oksigen, membuat saya menarik nafas sedalam-dalamnya, sebanyak-banyaknya. Sesekali melihat ke belakang dan melihat pemandangan berlampu Kota Majalengka dan Kuningan.

“Puncak, puncak”, teriak Nopri. Iya, puncak sudah dekat. Sambil menyeret kaki yang berat, saya  begitu senang ketika kami berempat berhasil mencapai Puncak. Hanya ada kami berempat, tidak ada pendaki lain. Langit sudah mulai terang dan mulai mengeluarkan semburat jingga. Nopri dan Abi bilang mereka ingin berjalan-jalan ke sisi lain kawah dan tinggallah kami berdua, Janatan dan saya.


Begitu langit sudah sangat cerah, di kejauhan kita bisa melihat Gunung Cikuray dan Gunung Slamet di kejauhan. Puncak Gunung Ciremai yang sebenarnya adalah bibir kawah cukup luas sehingga saya terpikir untuk terbang dari puncaknya memakai parasut paralayang. Terdengarnya seru ya? Semoga bisa terwujud. Amin!




Kawah Gunung Ciremai yang merupakan Gunung Stratovolcano ini masih aktif hingga sekarang sehingga setiap pagi kita bisa melihat belerang membumbung dari dasar kawah. Kita bisa duduk santai di tepi kawah asal selalu melihat jarak aman agar tidak terpeleset ke dalam kawah.








Kami bersantai di Puncak jam delapan pagi, turun ke Pos 6, menyiapkan makan siang untuk dibawa, membereskan tenda dan packing. Kami sempat kaget karena ada tenda lain di dekat kami yang cuma terdiri dari tenda tanpa rangka. Itu tidurnya di dalam bagaimana ya, pikir saya. Abi dan Nopri yang sudah lebih dulu selesai packing, pamit untuk turun duluan dan kami berjanji untuk bertemu di Pos 1 saja untuk sama-sama naik pick-up ke Terminal Maja.

Butuh waktu empat jam untuk turun dari Pos 6 ke Pos 1, itu pun sudah berjalan cepat bahkan setengah berlari. Sedap banget rasanya dengkul begitu sudah sampai di Pos 1. Sempat kecapean juga pas di jalur turun dan kami bobok di jalur. Sepanjang jalan turun kami hanya berjumpa pendaki lain di Pos 5 dan Pos 2. Sisanya kita cuma berdua di jalur dan pas kabut turun berasa lagi ada di film “Silent Hill”.

Sampai di Pos 1, sampah kami diperiksa dan setelah membereskan administrasi, kami mendapatkan sertifikat dan badge dari Taman Nasional Gunung Ciremai. Asooooyyy… Ternyata kalau dulu, biaya pendakian sebesar Rp 50.000,- itu sudah termasuk compliment satu kali makan dan es teh manis, namun kini diganti dengan sertifikat. Lucu juga ya, seumur-umur saya naik gunung tidak pernah dapat “hadiah”. Rasanya jadi gimana gitu…

Jadi, kalian mau mendaki gunung yang katanya mistis ini? Tenang, selama kita berniat baik dan tidak macam-macam di alam, niscaya kita akan aman dan selamat. Jangan lupa berdoa ya.



Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mendaki Ciremai :

  • Transportasi ke Basecamp Apuy, bisa naik bus dari Kampung Rambutan dengan jurusan Garut / Tasikmalaya, turun di Cileunyi, lanjut naik elf jurusan Bandung – Cikijing dengan ongkos sekitar Rp 20.000,-, turun di Terminal Maja.
  • Bawa persiapan air yang cukup karena tidak ada sumber air di jalur. Minimal 2 botol x 1,5 liter per orang untuk pendakian 2 hari 1 malam. Jika harinya lebih, ya bawa airnya lebih banyak.
  • Biaya pendakian Ciremai via Apuy adalah Rp 50.000,- per orang. Begitu juga dengan jalur Linggarjati dan Palutungan. 
  • Dulu orang-orang percaya bahwa tidak boleh buang air kecil di tanah dan harus di botol. Tapi sayangnya sang emppunya tidak mau membawa turun dan malah jadi nyampah kan. Tidak apa-apa untuk buang air di tanah asal permisi pamit dulu ya dan jangan buang air di jalur ya. 

Friday, July 1, 2016

Satu Malam Menegangkan Naik Kapal Kayu ke Sumba

Friday, July 01, 2016 38 Comments

“Dik, dik, kapalnya sudah sandar. Makan dulu yuk”, ujar Pak Iwan, salah satu awak kapal KM Cakalang yang saya tumpangi dari Labuan Bajo menuju Sape, Sumbawa.

Kulirik ia dari balik selendang yang menutupi muka selama tidur sambil mengumpulkan nyawa. Saya lirik jam sudah pukul empat petang. Cukup lama juga saya tertidur. Syukurlah karena kebaikan awak kapal, saya diperbolehkan tidur nyenyak di sofa yang ada di deck paling atas, ruang TV di deck khusus awak kapal, dekat ruang kemudi.

Dianter teman-teman baru ke pelabuhan. Teman baru tapi jadi kesayangan sekarang. Ada Kadal, Tinae dan Bang Ito
KM Cakalang ini akan membawa saya menuju Waikelo, Sumba. 7 jam dari Labuan Bajo – Sape dilanjutkan 7 jam lagi dari Sape menuju Waikelo. Namun jadwal itu belum pasti karena tergantung dengan kondisi cuaca. Apalagi melintas samudera Hindia, rentan dengan ombak tinggi yang biasa membuat kapten kapal ciut nyali, terutama kapal ferry.

“Jadi kita lanjut ke Sumba nggak Pak?” tanya saya pada Pak Iwan.

“Wah, sepertinya nggak berangkat Satya. Syah Bandar nggak kasih izin. Berangkat ke Waikelo mungkin 3 hari lagi, besok kapal ini ke Labuan Bajo dulu”, jawabnya sambil menyantap makanan yang ada di piring.

Hah?! 3 hari lagi? Doh, mau ngapain saya tinggal di Sape 3 hari. Pun bertambah sedih karena waktu saya untuk eksplorasi Sumba berkurang. Saya harus bagaimana? Pikiran saya berkecamuk.

Saya ambil tas kecil saya dan pergi ke buritan kapal. Senja sore itu cantik dan sayang jika tidak diabadikan. Saya duduk termenung sembari menikmati pendar-pendar jingga yang mulai memudar. Saya harus apa, harus kemana? Salah satu bagian yang kurang enak ketika berjalan sendirian adalah tidak adanya teman berbagi saat kebingungan.

Saya kembali masuk ke ruang tamu dan masih ada Pak Iwan di sana.

“Pak Iwan, apa tidak ada alternatif kapal lain ke Waikelo?” tanya saya.

“Kamu mau naik kapal barang? Soalnya kalau kapl ferry nggak jalan ke Waikelo, kapal barang pasti jalan”, jawab Pak Iwan.

Kapal barang. Kapal barang. Kapal barang. Kapal barang.

Naik kapal barang?

Ya, lebih baik naik kapal barang daripada tiga hari terdampar di Sape ya, pikir saya.

Kapal barang beda tempat dengan kapal ferry. Pak Iwan berbaik hati mengantarkan saya naik motor ke pelabuhan yang jaraknya sekitar 10 menit. Hari sudah mulai gelap, Pak Iwan menyapa petugas pelabuhan dan terus melaju ke bibir dermaga.

Terima kasih Om Iwan!
Saya melihat satu kapal kayu berukuran tidak terlalu besar sedang dijejali barang-barang seperti keranjang tomat, karung-karung bawang dan peti-peti berisikan sayur mayur. Pak Iwan tampak mengobrol dengan satu orang perempuan paruh baya yang sedang mencatat seluruh barang yang dimasukkan ke dalam kapal. Dari kejauhan saya melihat Pak Iwan menunjuk saya dan si Ibu mengangguk-angguk.

Begitu Pak Iwan kembali, dia memberitahu bahwa saya diizinkan ikut di kapal dan tidak perlu bayar katanya. Waaa, lucky me!

Ada dua mobil pick up dan satu truk colt diesel yang muatannya sedang dipindahkan oleh kuli panggul. Sambil menunggu, kami menghampiri pedagang pentol keliling yang ada di dermaga. Saking lapernya, saya ganyem lebih dari 2 lusin pentol sepertinya. Hahahaha. Sekaligus menyiapkan amunisi untuk perjalanan menyeberangi samudera.

Kapal sudah siap untuk berangkat. Saya mengoper carrier ke awak kapal. Saya inginnya duduk di bagian atas kapal, namun dilarang karena takutnya seaktu gelombang tinggi, saya terlempar ke laut. Mak! Seram kali!

Saya pun menuruti kata awak kapal dan turun ke bagian bawah. Saya pilih pojokan yang sekiranya enak buat goleran. Ada satu pasangan suami istri dengan anak perempuan mereka yang masih berumur 2 tahun melempar senyum kepada saya. Ada pula satu bapak yang duduk di dekat sisi belakang, dekat dengan pelampung bulat keras berwarna oranye. Saya sempat terdiam ketika bapak itu bilang kalau nanti kapal ini pecah di tengah lautan, setidaknya dia bisa langsung meraih pelampung. Nyali saya seketika ciut. Yang tadinya sudah berhasil untuk menenangkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, langsung keder mendengar pernyataan Bapak tadi.

Saya beringsut masuk ke dalam sleeping bag, mencari posisi nyaman untuk merebahkan diri. Kapal mulai bergerak, lampu-lampu kota terlihat menjauh. Saya berdoa supaya sang kapten bisa membawa kapal ini mendarat dengan selamat di Waikelo. Amin!

Baru 40 menit kapal berjalan, tiba-tiba awak kapal berbicara dengan suara keras dan terdengar bunyi katingting (kapal kecil) dari kejauhan. Mereka berbicara dengan Bahasa Bima yang saya tidak mengerti. Tak lama ada dua katingting yang merapat di sisi kiri dan kanan kapal. Ada belasan orang di masing-masing katingting dan lalu melompat masuk ke bagian atas dan bawah kapal. Seketika tempat itu jadi penuh sesak.

Ternyata banyak penumpang yang ingin ikut di kapal barang ini karena tidak ada kepastian jadwal keberangkatan ferry.

Saya kembali memejamkan mata dan berusaha untuk tidur meski tidak mengantuk. Saya pasang earphone dan memutar lagu kesukaan saya. Meski kappa sudah mulai goyang-goyang, saya masih merasa aman dan mengikuti ritme goyangan. Itu salah satu tips agar kita tidak mabuk laut. Jangan dilawan guncangannya.

Lau tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara keras awak kapal. Mereka berteriak-teriak dan dalam waktu cepat kapal kami dihantam ombak. Guncangannya luar biasa. Saya langsung duduk, jantung saya berdegup keras. Beberapa kali muka saya kena tampias ombak. Tampaknya kapal kami sedang menghadapi masalah. Tak henti saya mengucap doa dalam hati agar sang kapten bisa mengemudikan kapal ini selamat sampai tujuan.

Apakah waktu itu saya takut?

Iya, takut banget.

Tapi selalu saya percaya bahwa Tuhan baik dan selalu punya rencana terbaik. Pasrah adalah pilihan terbaik.

Sambil terguncang-guncang, saya masih mendengarkan musik sambil melihat ke langit. Ada jutaan bintang dan milky way terlihat dengan sangat jelas oleh mata. Tak sadar ada air menumpuk di pelupuk. Rasa di hati berkecamuk. Betapa kecilnya manusia, betapa kecilnya saya, kamu, kita di dunia.

Ombak sudah mulai sedikit tenang meski masih lumayan goyangannya. Dan saya baru menyadari bahwa tempat (lahan) saya tidur direbut oleh bapak-bapak. Why Pak, whyyyyyy?

Kondisi di dalam kapal waktu itu. karena kapalnya goyang-goyang dan penerangannya minim, jadilah dapat fotonya blur...
Saya terjepit di antara bapak-bapak dan tidak bisa rebahan. Saya lirik dan jam memperkirakan masih sekitar 2 jam lagi tiba di Waikelo. Capek juga kalau posisi duduknya seperti ini terus. Huhuhuhuhu. Yah kalau misalkan di commuter line saya bisa tidur sambil berdiri, seharusnya tidur posisi duduk tak jadi masalah, kata saya untuk menghibur diri sendiri.

Dan saya benar tertidur…

****

Saya terbangun lagi karena suara awak kapal. Di kejauhan sudah tampak lampu-lampu. Ah daratan! Akhirnya…

Langit sudah mulai mengeluarkan rona merah. Ternyata sudah jam 5 pagi. Kapal kami sandar setelah sedikit ombak yang mempersulit kapal mendekat ke dermaga. Saya bersiap untuk turun.

“Waingapu nona, Waingapu?” tawar satu kenek travel di pelabuhan.

Saya tolak dengan senyuman dan mencari sudut agak lapang tempat saya bisa meletakkan carrier. Goyangan kapal masih terasa. Saya duduk menghadap timur dan menenggak air mineral.

Satu malam menegangkan itu sudah terlewati dan kini di hadapan saya adalah sang surya yang hangat menyapa selamat pagi.


Halo, Sumba….






Follow Us @satyawinnie