Kembali ke Wae Rebo Bersama Terios

Friday, June 10, 2016


Satu tahun yang lalu, saya melakukan perjalanan sendiri ke Wae Rebo, kampung adat di dalam hutan Manggarai, dimana kita harus trekking sejauh 9 kilometer atau sekitar 4 jam untuk mencapainya. Waktu itu, sepanjang perjalanan mendaki, selama di Kampung Wae Rebo dan di perjalanan turun menuju Desa Denge tempat saya menitipkan motor, saya tak henti-hentinya diguyur hujan. Saya tidak benci hujan, namun rasanya sedih juga ketika tidak bisa menikmati perjalanan seutuhnya karena terkendala cuaca.

Begitu Tim Terios 7 Wonders mengabari bahwa salah satu dari 7 destinasi yang akan kami kunjungi selama eksplor lintas Flores adalah Wae Rebo, saya bahagia tidak terkira. Akhirnya ucapan saya dulu di dalam hati terkabul.

“Tuhan, saya ingin kembali ke Wae Rebo, tapi maunya cerah ya”, ucap saya waktu itu.

Benar saja. Semesta mendukung perjalanan kami. Mulai dari Ruteng hingga Denge, cuaca cerah menemani. Meski jalanan menuju ke sana kecil, sempit, berbelok-belok dan banyak lubang, Terios dengan lincah melibas jalanan tapi tetap bikin nyaman.


Jam menunjukkan pukul 3 sore ketika kami tiba di homestay Pak Blasius. Tadinya saya mau menyempatkan diri mampir ke rumah Papa Vincent dan Mama Maria yang berbaik hati menampung saya tahun lalu di rumahnya. Namun niat itu saya tunda untuk keesokan harinya setelah turun dari Wae Rebo saja. Takut kemalaman jika mampir-mampir dulu. Pun tidak disarankan naik ke Wae Rebo jika hari sudah terlalu sore. Jalurnya licin dan sedikit berbahaya jika tidak membawa headlamp. Karena masih jam 3 sore, ya pasti bisa lah sampai di Wae Rebo sebelum hari gelap.

Pak Aloysius, yang juga masih bersaudara dengan Papa Vincent, menjadi pemandu kami. Senang sekali rasanya bertemu lagi dengan beliau yang masih mengingat muka saya dan Yudha, yang dulu juga menginap di tempat Pak Vincent.

Ternyata jalur menuju Wae Rebo sudah banyak berubah. Jalanan batu yang dulu saya tempuh sekitar 4,5 kilometer sekarang sudah diaspal, sehingga memperpendek jalur trekking dari 9 kilometer menjadi 4.5 kilometer saja. Padahal saya sudah membayangkan lelahnya membawa carrier yang berisi buku-buku ini melintas batu-batuan besar dengan jalur menanjak. Jujur saja, setiap mendaki gunung, saya tidak terlalu suka jalur batu. Hahaha.

Mobil diparkirkan di ujung jalan aspal sebelum sungai yang ada di Pos 1 dan kami memulai perjalanan trekking. Dengan ritme teratur, kaki melangkah, menapaki jalur tanah yang padat. Di awal-awal, jalur menanjak terus dengan sedikit saja bonus jalan datar. Semua terengah-engah tapi tetap semangat. Barulah setelah di Pos 2, Poco Roko, jalur sudah mulai landau dan cenderung menurun untuk kemudian sampai di ‘Rumah Kasih Ibu’, tempat kita membunyikan kentungan sebelum masuk ke kampung.

Kami tiba di ‘Rumah Kasih Ibu’ sekitar pukul setengah 7. Berarti memakan waktu kurang lebih 2,5 jam sejak awal pendakian. Seperti biasa, setiap wisatawan yang akan memasuki kampung, tidak boleh beraktivitas di sekitar kampung dan mengambil gambar dengan kamera, sebelum upacara adat penerimaan tamu / penghormatan leluhur yang disebut dengan “Waelu’u” di Mbaru Niang Gendang selesai diadakan.

Setelah Upacara Waelu'u

Bagian dalam Mbaru Niang Gendang yang diisi oleh delapan KK
Saat memasuki “Mbaru Niang Gendang”, beberapa tetua adat sudah duduk tenang berjejer menyambut kami. Dengan Bahasa lokal Manggarai, Pak Aloysius mengatakan beberapa kalimat dan memberikan seserahan berupa uang kepada tetua adat. Setelah Tetua Adat berbicara membalas pak Aloysius, barulah kita boleh beraktivitas di kampung. Artinya mereka sudah memberi tahu kepada leluhur tentang kedatangan kami.

Kami dengan teratur keluar dari Mbaru Niang Gendang dan masuk ke Mbaru Niang Gena Maro, tempat kami akan menginap satu malam. Ternyata sudah ada enam wisatawan asing selain rombongan kami. Seperti biasa pula, ada Kasih Manja (nama aslinya Kasius) yang sudah ada di tengah bercakap-cakap dengan wisman meski dengan Bahasa Inggris yang terbatas. Ah, rindu sekali dengan si Kasih Manja yang jenaka itu. Berpura-pura dia tidak mengenal saya tetapi setelahnya kami tertawa terbahak-bahak mengenang kejadian-kejadian lucu yang kami alami tahun lalu.

Kasius, the best local guide ever! Seringnya dipanggil Kasih Manja...
Secara bergantian kami membersihkan diri, mandi di kamar mandi yang ada di bagian belakang, berganti pakaian hangat dan berkumpul di ruangan tengah rumah sambil menunggu makan malam disiapkan, menyesap kopi Manggarai panas yang disajikan.

Saya pergi ke bagian dapur dan mencari Mama Poly yang tahun lalu jadi kawan karib saya selama di kampung. Saya tidak bisa memberi tahu tentang kedatangan saya karena memang tidak ada sinyal di kampung. Sayangnya Mama Poly sedang ada di Kampung Kondo untuk memanen sawahnya sekitar satu minggu. Ah, sedih betul tidak bisa bersua.

Menu makan malam yang saya tunggu-tunggu adalah ayam semur dengan sambal manggarai yang padis (pedas) nya luar biasa itu. Makanlah kami dengan lahap. Bukan hanya karena lapar berjalan cukup jauh, tetapi karena memang makanan apa pun terasa lezat di Wae Rebo.

Selepas makan, saya meminta Mas Iqbal untuk mengajarkan saya memotret Wae Rebo di malam hari. Kami keluar dan melihat bulan bulat terang dan membuat bintag-bintangnya tidak terlalu kelihatan. Mas Iqbal menyarankan untuk bangun sekitar jam 4 untuk mengambil night shot. Katanya, itu waktu yang terbaik untuk memotret langit malam. Kami pun masuk menggelung tidur di dalam selimut hangat.

Saya terbangun sekitar jam 4 dan dengan mengenakan sarung, keluar untuk melihat langit. Ternyata bulan masih ada di sana. Jadilah niat untuk memotret Wae Rebo di malam hari, diurungkan. Mungkin lain kali. Saya pun kembali tidur.

Sekitar jam setengah enam, Mas Iqbal membangunkan saya untuk memotret matahari terbit. Begitu keluar Mbaru Niang, semburat merah sudah tampak di balik-balik bukit. Dalam udara dingin, kami bergegas naik ke Rumah Baca yang ada di atas bukit dan tentunya tidak lupa membawa kopi panas.
Satu jam berikutnya kami habiskan dengan menunggu matahari pagi sambil menyesap kopi. Begitu matahari keluar dari balik bukit dan cahaya hangatnya menerpa wajah, rasa syukur tak henti terucap dalam hati. Berkat Tuhan yang sangat baik.

Langit memerah pertanda pagi sudah tiba...



Tim blogger Terios 7 Wonders Tour De Flores, Mas Iqbal, Bang Farchan, dan saya. Minus Yudha yang masih tidur...


Lewat lensa kamera, saya menangkap aktivitas warga Kampung Wae Rebo. Para Bapak duduk di depan rumah sambil menyesap kopi. Para Ibu sudah mulai menumbuk kopi dan memasak makan pagi. Anak-anak dengan senangnya bermain bola sepak. Harmoni pagi yang indah sekali.

Saat dapur mulai mengepul dan asapnya membumbung dari Mbaru Niang. Cantik sekali!




Setelah matahari cukup tinggi, kami turun lagi ke kampung dan menyantap makan pagi yang sudah disiapkan. Yang paling membuat senang adalah cahaya pagi yang menelisik masuk lewat jendela. Tentu saja momen itu tidak kami lewatkan untuk diabadikan.


Selesai makan pagi, saya keluar membawa buku-buku, ada sekitar 70 buku bacaan anak-anak dan spidol warna-warni yang kami bawakan untuk anak Wae Rebo. Saya pernah dititipkan pesan oleh Kasih, jika datang lagi, tolong bawa buku untuk menambah pengetahuan mereka. Jangan memberikan permen, apalagi uang. Jangan membentuk mental anak-anak menjadi pengemis. Ya, saya setuju sekali.

Dan Kasih, saya memang datang lagi untuk memenuhi janji saya.

Dikarenakan hari itu hari Senin, anak-anak yang bersekolah tidak ada di Kampung Wae Rebo, melainkan di Kampung Pombo dikarenakan sekolah terdekat dari Wae Rebo adanya di sana. Mereka kembali ke Wae Rebo saat akhir pekan saja.

Jadilah buku-buku itu diberikan kepada anak-anak kecil berusia 3-6 tahun, yang belum bersekolah. Dengan antusias mereka menyerbu buku-buku itu bahkan adu mulut karena berebut. Saya usahakan untuk tetap adil membagi buku-buku bacaan itu dan sebagian lagi dikasih untuk ditaruh di perpustakaan atas. Sekedar saran untuk teman-teman, tolong bawa buku jika berkunjung ke Wae Rebo ya. Satu dua pun tak apa. Mereka pasti senang betul.

Yeaaaay dapat buku baru buat dibaca ya adik-adik ;)


Setelah anak-anak kembali ke rumah masing-masing, saya pergi mengambil handuk dan alat mandi lalu pergi ke pancuran kampung, sekitar 200 meter saja jaraknya. Saya mandi pagi dengan air dingin nan segar. Aktivitas pagi yang tidak sempat saya lakukan tahun lalu karena hujan. Akhirnya bisa saya rasakan juga mandi di pancuran Wae Rebo. Meski sudah ada kamar mandi yang disiapkan untuk wisatawan, rasanya sangat berbeda ketika mandi di pancuran. Cobalah jika kalian ke sana dan rasakan bedanya.

Sisa waktu sebelum turun kembali ke Denge, saya habiskan dengan bercengkerama dengan mama-mama sekitar kampung. Ada yang sedang menenun, ada yang sedang bersiap turun untuk menjual hasil bumi, ada yang memilih biji kopi yang sudah dijemur, ada yang sedang asyik ngobrol saja. Senang betul rasanya jadi mereka ya. Hidup sederhana saja dan tidak sekompleks pikiran orang-orang kota. No phone signal, happies life.

Sebelum pulang, saya sempat bertemu Pak Rafael, tetua adat yang tahun lalu saya cari tapi tidak berjodoh karena beliau sedang turun ke kampung Pombo mengurus ladang. Saat saya sedang berkeliling, beliau memasuki kampung dan segera saya sambut dengan gembira. Meski sudah sangat sepuh dan punya 15 cucu, Pak Rafael tetap jenaka.

Sebelum hari terlalu panas, kami berpamitan untuk turun. Semua anggota tim Terios 7 Wonders bahagia sekali akhirnya bisa menjejakkan kaki ke Wae Rebo, disambut dengan keramahan yang luar biasa, cuaca cerah diberkati semesta. Kami pulang dengan luapan rasa gembira.


Saya tak sabar mau kembali lagi. Mohe Wae Rebo!




Perjalanan ini adalah sponsor dari Daihatsu Indonesia dengan tajuk #Terios7Wonders #TourDeFlores.

Cerita lainnya bisa dibaca di :

You Might Also Like

21 comments

  1. Ahh, Kenapa sih setiap baca tulisanmu tentang keindahan NTT, saya selalu terbayang pengen cepat-cepat kesana. Waerebo, salah satu desa yang ingin saya kunjungi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuti Lebaran ini dipakai ke Wae Rebo apa mudik Bar? Hihihihihi :p Terima kasih sudah mampir ya Bar!

      Delete
  2. Replies
    1. Iya, harus trekking 4,5 kilo. Bisa ditempuh trekking sekitar 2 - 3 jam ;)

      Delete
  3. Haseik jalan kaki nya sudah semakin dekat, semoga tahun depan mobil langsung bisa parkir di depan nya biar ngak capek jalan hahaha #Ngarep

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau Kak Cumi mah tinggal sewa helikopter, langsung mendarat di Wae Rebo yaaaa~ Biar membahana! Hahahahha :p

      Delete
    2. Kalau Kak Cumi mah tinggal sewa helikopter, langsung mendarat di Wae Rebo yaaaa~ Biar membahana! Hahahahha :p

      Delete
  4. Yuuk kak datang lagi saat Penti dan semoga langit malam cerah tanpa purnama.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk Mas! Tapi kamu kan masih di Australia pas Penti tahun ini. Huhuhuhuhu :'(

      Delete
  5. setuju banget dengan pemikiran Kasih Manja untuk tidak memberikan permen atau uang. :)

    ReplyDelete
  6. Duh impian banget ke waerebo! Soon deh pokoknya

    ReplyDelete
  7. Duh impian banget ke waerebo! Soon deh pokoknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir ya Aji. Iya didokan cepat ke sana yaaaa. Amin :)

      Delete
  8. ini keren banget nih. wisata budaya. hayang kaditu. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayuuuu ka Wae Rebo Kang. Nabung nabung ;)

      Delete
  9. bagus banget ya, udaranya masih terlihat sangat segar, dan sejuk..

    ReplyDelete
  10. Wow mantap mbak winnie.. jadi pengen cepet2 main kesana. Tapi ya ga tau kapan haha
    Eh mbak boleh tau biaya yang harus dikeluarin buat tetua adat di tradisi waelu'u? Thank you:)

    ReplyDelete
  11. wahh seru banget ya pergi ke wae rebo, bukan hanya untuk wisata tapi untuk mengenali suku disana juga..

    ReplyDelete
  12. Wae Rebo. destinasi impian banget nih..

    ReplyDelete

Subscribe