“Sat, kalau ke gunung itu mandi nggak sih?” tanya seorang teman, suatu waktu.

Ya nggak lah. Mau mandi di mana? Hahahaha. Selain karena keterbatasan toilet, airnya juga dingin banget. Makin ciutlah niat untuk membasuh satu tubuh dengan air.

Jadi, bersihin badannya gimana? Kan nggak enak pas naik gunung, berkeringat, lengket terus langsung tidur?

Ya memang! Oleh karena itu, saya selalu bawa pembersih dan tissue basah untuk “mandi kucing”, istilah untuk membersihkan diri dengan tissue basah, yang dilakukan setiap tiba di tenda, berganti baju dari pakaian jalan ke pakaian tidur.

Penting lho untuk berganti pakaian kering setiba di lokasi camp. Lebih baik berganti pakaian kering dan hangat setelah mendirikan tenda, baru melanjutkan aktivitas seperti masak, menyiapkan makanan.


Oke, balik ke masalah bebersih diri di gunung.

Biasanya di ‘kotak bencong’, saya selalu membawa pembersih all in one, kapas pembersih, pelembab, sunblock, lipbalm. Itu barang-barang yang wajib dibawa kalau mau tetap bersih dan cantik di gunung. Hehehehe.

Laluuuu, bertemulah saya dengan satu produk yang kini jadi favorit! Namanya Cetaphil!!!!!

Isi 'kotak bencong' saya kalau ke gunung. Pelembab, baby oil, light foundation, hair cologne dan tentu saja CETAPHIL

Saya baru coba satu produk yaitu Cetaphil Gentle Skin Cleanser yang tidak hanya bisa membersihkan wajah tetapi juga tubuh. Aman dipakai untuk semua usia dan segala tipe kulit. Di bagian belakang botol ada tertulis manfaat dari Cetaphil Gentle Skin Cleanser ini. Apa saja yaaaa? Ini diaaaaa....

  • Fragrance, soap and lanolin free


Waktu saya pakai, memang warnanya putih bening, tidak berbau, tidak berbusa. Kata seorang teman, memang baiknya sabun pembersih muka itu tidak banyak sabunnya, yang berarti minim kandungan deterjen. Pantas banyak yang pakai sabun pencuci muka dari dokter spesialis kulit jarang berbusa ya. Selain itu Cetaphil itu juga ‘lanolin free’ aka bebas dari lanolin yang merupakan zat yang terbuat dari ekstrak wol hewan / ekstrak domba. Biasanya kalau ada yang alergi lanolin dan memakai produk yang ada lanolin-nya, kulitnya jadi ada ruam kemerahan. Nah kalau Cetaphil sudah teruji lanolin free lho!

Tampilan cairan Cetaphil Gentle Skin Cleanser, bening ya.

  • Gentle on Baby’s Skin


Nah, karena kandungannya minim deterjen dan lanolin-free, Cetaphil aman dipakai untuk segala usia, termasuk bayi. Jadi aman juga buat yang kulitnya sensitif seperti kulit bayi.

  • Removes Light Make Up


Naaaah ini penting nih! Karena setiap hari saya cuma pakai pelembab dan sedikit foundation (kalau di gunung sih pelembab dan sunblock), saya cukup memakai Cetaphil sebagai pembersih, tanpa harus membersihkan pakai make up remover sebelum cuci muka. Ya tapi kalau habis kondangan, tetap pakai make up remover sih.

  •  Non-comedogenic (won’t block pores)


Artinyaaaaa Cetaphil ini tidak menutup pori-pori kulit kita, yang membuat kulit kita bisa lebih bernafas bebas dan mencegah timbulnya komedo. Enak bangettttt!

  • Helps skin retain moisture


Saya kira awalnya karena tidak ada deterjennya, habis pakai Cetaphil ini kulit bakal terasa kesat. Eh ternyata saya salah. Kulit saya malah terasa lembut, kenyal dan lembab. Rasanya gemas sama kulit sendiri, pengen dicubit-cubit terus. Hahahaha. Apalagi pas di gunung. Semakin dingin suatu tempat, kulit kita rentan sekali menjadi kering. Sejak pakai Cetaphil, kulit saya berasa lembab, enak dan tentunya dibantu sama pelembab juga.

  •  pH Balanced


Nih, semua harus tahu bahwa apa pun yang kita pakai ke tubuh, sebaiknya pH-nya seimbang (tingkat asam dan basa seimbang). Jika pH nya seimbang kulit kita akan terhindar dari ruam atau iritasi.

  •  Won’t Sting Eyes


Tentu saja karena Cetaphil tidak mengandung deterjen, tidak akan pedih jika terkena mata.

  • Can be use for Face an Body


Yaaaaa ini juga jadi kelebihan dari Cetaphil. Bisa dipakai untuk wajah dan tubuh. Asyik banget cuma beli satu produk dengan fungsi ganda. Tadinya mau dipakai buat bebersih badan di gunung tapi karena harganya mahal, jadi sayang. Akhirnya cuma wajah yang dibersihin pakai Cetaphil Gentle Skin Cleanser, kalau badan cukup pakai tissue basah saja *irit* hahahaha.

Selain khasiat di atas, yang bikin saya makin jatuh hati sama Cetaphil adalah bisa dibilas pakai air, bisa juga pakai kapas. Praktis banget! Jadi pas di gunung, karena dingin pastinya buat cuci muka pakai air, saya hanya oleskan Cetaphil di seluruh wajah dan lalu dilap pakai kapas wajah. Meski nggak pakai air, rasanya bersih, lembab dan kenyal. Jadi cleanser all in one yang biasa saya pakai dulu, sudah ditinggal saja di kamar, jadi cadangan kalau Cetaphil-nya habis dan belum diisi ulang.

Cetaphil bisa dibersihkan pakai kapas maupun air. Praktis kan? 

Sukaaaaaaaa banget deh sama Cetaphil ini. Jadi pengen pakai rangkaian produknya yang lain. Detail produk-produknya bisa dilihat langsung di website Cetaphil ya.

Saya pribadi sangat merekomendasikan produk ini untuk semua teman-teman yang suka naik gunung karena kadang ribet ya urusan bersih-bebersih di gunung. Pun kalau ada sumber air di gunung yang kita daki, sebaiknya tetap tidak cuci muka pakai sabun atau sikat gigi pakai pasta gigi di sumber air karena akan mengotori sumber airnya. Sebaiknya pakai produk yang praktis dan juga ramah lingkungan semacam Cetaphil. Pakainya kan nggak harus pakai air. Produk ini juga bisa dipakai sama laki-laki lho. Ini kan pembersih kulit, bukan kosmetik. Jadi aman dipakai untuk semua orang!




Untuk naik gunung dan travelling, saya pakai yang botol kecil berukuran 125 ml yang praktis dibawa kemana-mana. Harga satu botolnya sekitar Rp 112.000,- bisa didapat di Century, Watson, Guardian dan toko-toko kesehatan. Pas kemarin di Watson lagi ada diskon lho jadi Rp 75.000,- kalau tidak salah. Lumayan banget kan?

Coba lirik akun social media-nya Cetaphil deh, ada Twitter Cetaphil @cetaphil_id,  InstagramCetaphil @cetaphil_id Facebook Page Cetaphil Indonesia dan  Youtube Cetaphil. Banyak banget tips-tips merawat kulit agar tetap sehat dan tentunya kalau kulit kita sehat, tampak lebih cantik yaaaa. Bisa subscribe mailing list nya juga di http://cetaphil.co.id/id/langganan

Jadi, terjawab kan pertanyaan kalau mau bebersih di gunung pakai apa?


Pakai CETAPHIL GENTLE SKIN CLEANSER sajaaaa~ Teman terbaik untuk kulit pendaki gunung! Senang banget akhirnya ketemu Cetaphil, semacam ketemu jodoh, untuk kulita saya yang senang naik gunung, bertualang dan panas-panasan di bawah matahari.

Di bawah ini ada video 3 langkah mudah membersihkan kulit. Monggo ditonton ya ;)


Whale Shark and Diver. Photo Credit : @audreyjiwajennie
Sejak kecil, saya dibekali buku-buku cerita bergambar karakter biota laut. Dan dari seluruh karakter, saya paling suka paus dan hiu paus, dua makhluk terbesar seantero samudera. Meski sama-sama punya nama paus, hiu paus sebenarnya bukan paus, melakinkan jenis hiu. Karena ukurannya besar seperti paus dengan panjang 6 - 18 meter, disebutlah hiu paus (whale shark). Adalah satu mimpi dimana saya ingin sekali melihat mereka di lautan bebas, bukan di akuarium. Tapi sampai sekarang keinginan itu belum terpenuhi. Tak apa. Satu waktu kita pasti jumpa ya.

Untuk berjumpa dengan paus memanglah susah. Paus biasa berenang di perairan dalam dan hanya sesekali naik ke permukaan laut. Satu-satunya yang mungkin bisa dilihat dari dekat adalah hiu paus atau whale shark, yang memang dikenal sebagai perenang yang lambat dan sering naik ke permukaan untuk makan plankton dan ikan-ikan kecil. Acap kali dia disebut sebagai ‘raksasa lembut’. Dulu, satu-satunya titik yang saya tahu untuk melihat hiu paus di Indonesia hanya di Taman Nasional Cenderawasih yang ada di Kwatisore ,Teluk Cenderawasih, Papua.

Saya baru tahu bahwa hiu paus juga bisa ditemui di perairan Sabang, Situbondo, Bali, Nusa Tenggara, Alor, Flores, Sulawesi Utara, Maluku dan Papua. Lalu satu-dua tahun belakangan diketahui keberadaan sekelompok ikan hiu paus di Talisayan, Berau, Kalimantan Timur dan di Botubarani, Bone Bolango, Gorontalo.

Hiu paus dikenal dengan bentuk kepalanya yang lebar dan gepeng dengan mulut, garis insang dan sirip punggung (dorsal) pertama yang besar serta pola totol-totol putih dan garis di kulitnya yang cenderung berwarna keabu-abuan. Ada hipotesa yang menyatakan bahwa pola tersebut merupakan bentuk kamuflase dan adaptasi untuk memfilter sinar ultraviolet (UV) karena hiu paus termasuk jenis ikan yang banyak menghabiskan waktu di dekat permukaan laut (Colman, 1997).

Sama seperti jenis hiu lainnya, hiu paus tumbuh dan berkembang dan proses menjadi dewasa-nya berjalan lambat dan cenderung berumur panjang, Karakteristik ini yang menjadikan hiu paus rentan terhadap eksploitasi karena kemampuan reproduksinya yang rendah (Colman, 1997).

Oleh karena itulah dikeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 18/Kepmen-KP/2013 Tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus (rhincodon Typus). Berdasarkan keputusan itu, hiu paus dinyatakan resmi telah dilindungi secara penuh di perairan Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa segala bentuk eksploitasi terhadap ikan ini dilarang.

Pariwisata dan Whale Shark


Kemunculan Whale Shark yang terkenal “ramah” kepada manusia ini dan dikombinasikan dengan social media power membuat wisatawan berbondong-bondong ingin berenang dan berinteraksi langsung dengan hiu paus.  Siapa sih yang tidak ingin melihat hiu paus dari dekat? Saya pribadi pun ingin sekali berjumpa dengan mereka.

Namun, kegiatan wisata berbasis hiu paus yang kurang terkontrol dapat memberikan dampak yang negatif terhadap perubahan perilaku hiu paus. Menurut Craven (2012), pemberian makan di Oslob-Cebu, Filipina dapat menyebabkan hiu paus mengasosiasikan manusia dengan makanan sehingga mereka akan cenderung mendekati manusia. Petunjuk berinteraksi yang sudah ditetapkan, harus dipastikan pelaksanannya melalui pengawasan dan penegakan aturan di lapangan untuk mengurangi dampak kegiatan wisata dan menjaga kealamian interaksi dengan hiu paus (Quiros, 2007).

Seperti itulah kondisi yang terjadi di Talisayan, Berau, Kalimantan Utara. Kemunculan hiu paus di sekitaran kawasan bagan-bagan ikan di Talisayan dimanfaatkan untuk mempromosikan pariwisata bahari dengan atraksi utama berenang dengan hiu paus. Nelayan bagan rutin memberikan makan hiu paus agar mereka selalu mendekat ke bagan lalu para wisatawan dapat berenang berdekatan.

Sayangnya, masih banyak yang belum tahu tentang bagaimana seharusnya berinteraksi dengan hiu paus. Dan sangat disayangkan, tidak hanya wisatawan, tetapi tour organizer juga tidak mengetahui peraturan ini.

Jadi, bagaimana seharusnya berinteraksi dengan Hiu Paus / Whale Shark?


Pada 22 Januari 2013 lalu, Taman Nasional Teluk Cenderawasih mengeluarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) Wisata Whale Shark. Pun begitu dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya dan Pesisir Laut yang kurang lebih sama. Ini yang perlu diketahui oleh kita semua. Semua. Tak terkecuali. Tolong dibaca dengan baik ya.

  1.  Kapal / perahu harus mengurangi kecepatan maksimum 10 knot dalam jarak 1 km dan 2 knot dalam jarak 50 meter dari bagan dengan Hiu Paus.
  2. Kapal / perahu harus diparkir di sisi lain bagan yang tidak ada hiu pausnya.
  3. Kapal / perahu harus menjaga jarak dengan Hiu Paus dan tidak boleh lebih dekat dari 20 meter.
  4.  Hanya boleh ada 1 kapal / perahu dengan 1 grup per bagan.
  5.  Pemimpin tur harus melakukan briefing singkat, 10 – 15 menit sebelum masuk ke air. Isi briefing harus mencakup ucapan selamat datang dan perkenalan diri, pengaturan waktu dan destinasi, pengenalan terhadap Hiu Paus, aturan untuk berinteraksi dengan hiu paus dan undangan untuk bertanya. Briefing dapat dilakukan dalam perjalanan menuju bagan.
  6. Selama kegiatan berlangsung, kapal / perahu harus tinggal di air dengan mesin mati. Siap untuk memberikan bantuan medis.
  7. Tidak diperbolehkan lebih dari 10 orang dalam satu grup per bagan dan 5 adalah angka yang ideal. 
  8.  Durasi kunjungan adalah antara 60 – 90 menit untuk tiap grup.
  9. Pemimpin tur turun pertama kali, diikuti oleh para tamu. Di dalam air, pemimpin tur berperan sebagai pemimpin grup yang harus memperhatikan dan siap membantu semua peserta.
  10.  Snorkeler harus mengikuti instruksi dari pemimpin tur.
  11. Snorkeler harus masuk ke dalam air setenang mungkin.
  12.  Snorkeler harus menjaga jarak untuk memberi ruang kepada Hiu Paus. 2 meter dari tubuh Hiu Paus dan 3 meter dari ekornya.
  13.  Snorkeler tidak boleh mengeluarkan suara keras, melakukan gerakan yang mendadak dan memercikkan air yang dapat memprovokasi atau mengganggu Hiu Paus.
  14.  Tidak boleh menyentuh dan atau mengejar hiu paus secara aktif. Bila snorkeler didekati oleh Hiu Paus, snorkeler harus tetap tenang dan berenang ke samping.
  15.  Snorkeling adalah pilihan yang paling baik untuk mengamati hiu paus, namun penggunaan scuba masih diperbolehkan asalkan jumlahnya dibatasi, hanya 1-2 orang penyelam dalam satu grup dan jarak antara penyelam dengan hiu paus dan snorkeler harus diatur (penyelam harus mengamati dari jarak yang lebih jauh, sementara snorkeler dapat mengamati dari jarak yang lebih dekat. Hal ini penting untuk dilakukan agar setiap pengunjung dapat menikmati kunjugannya. Snorkeler tidak akan terganggu dengan gelembung dari penyelam).
  16.  Penggunaan kamera diperbolehkan namun penggunaan flash harus dibatasi. Flash diperbolehkan bila pengambilan gambar diambil dari jarak empat meter.
  17. Para tamu harus segera berenang kembali ke kapal / perahu sesuai durasi kunjungan.
  18.  Pemimpin tur harus menjadi orang yang terakhir keluar dari air.
  19. Pemimpin tur dapat menanyakan komentar para tamu tentang kegiatan mereka.
  20.  Pemimpin tur harus menyiapkan kuesioner yang harus diisi oleh penyelam berisi tentang hiu paus yang dijumpai. Di koordinat berapa, garis kedalaman berapa dan prediksi ukurannya.
  21.  Setiap pengunjung operator wisata dan kapal / perahu harus mematuhi standar operasional ini demi kelestarian whale shark. Bila melanggar peraturan, maka pihak yang berwenang memiliki hak penuh untuk memberikan sanksi berupa pembatalan tur sampai pencabutan izin operator wisata atau kapal / perahu untuk masuk ke kawasan.
Coba dibaca poin 14 dimana tertulis “Tidak boleh menyentuh dan atau mengejar hiu paus secara aktif. Bila snorkeler didekati oleh Hiu Paus, snorkeler harus tetap tenang dan berenang ke samping”.  Peraturan ini jelas-jelas ada namun seakan diabaikan oleh orang-orang yang sangat ingin eksis dan jadi keren di dunia maya.

Cobalah bandingkan tulisan  Berenang Bersama Whale Shark di Indonesia dengan  Berenang Bersama Whale Shark di Western Australia yang dituliskan Mas Fedi Fianto atau Berenang Bersama Whale Shark di Oslob, Filipina yang ditulis oleh Ismarul Nizam. Untuk menjadi gambaran, bagaimana seharusnya kegiatan berenang bersama whale shark, dilakukan. Coba kalian telaah sendiri ketiga tulisan tersebut.

Ada juga tertulis di website WWF tentang Tips Berinteraksi dengan Hiu Paus :

  1. Jaga jarak. Beri ruang untuk hiu paus sejauh 2m dari badannya dan 3m dari ekornya bila berenang bersama. Walaupun hiu paus bergerak secara perlahan, tapi sangat berisiko terkena hempasan ekornya atau badannya yang besar.
  2. Sebaiknya jangan menggunakan alat selam atau menyelam di sekitar hiu paus. Pun kalau ada, pastikan hanya dua penyelam dalam satu kelompok. Ini karena hiu paus akan mudah terganggu dengan gelembung udara ketika menyelam. 
  3. Mohon antri. Kalau mau snorkeling bersama hiu paus, digilir per kelompok. Satu grup maksimal 6 orang dan satu pemandu. Jadi kalau kamu dan rombongan mau snorkeling, bikin kloter berkali kali ya jangan sekali brek! 
  4. Kamera buat selfie? Boleeeeh asal matikan flash-nya ya! Kilatan cahaya bisa ganggu hiu pausnya loh.
  5. Kalau di dalam air, usahakan setenang mungkin.
  6. Jangan teriak-teriak di dalam air atau nyipratin air bak film India ke hiu paus ya, bakalan mengganggu hiu pausnya.
  7. Ini yang paling penting, jangan memegang dan mengejar hiu paus. Kalau dideketin, usahakan tenang ya.
  8. Ingat, hiu paus adalah satwa liar.


Arogansi Tour Organizer bernama Derawan Fisheries


Kasus ini terjadi kemarin, saat saya dimention oleh teman saya Ruby @rubyperkasa di salah satu foto yang dimiliki akun Instagram @derawanfisheries. Saya melihat sang empunya foto sedang tiduran santai di atas floaties (pelampung berbentuk kasur) dan menyentuh kepala whale shark yang ada di hadapannya. Saya cek akun Instagramnya dan ternyata ada banyak sekali foto-fotonya yang lain berinteraksi sangat dekat dengan whale shark. Saya mencoba menegur dengan baik, namun yang saya dapat malah caci makian kasar. Meski sekarang jika mengecek akun Instagramnya, foto dan komentar-komentar sudah dihapus, namun screencapture-nya masih saya simpan. Seperti yang bisa teman-teman lihat di bawah ini.





Isi percakapan dengan Derawan Fisheries,..




Saya sangat menyayangkan bahwa kalimat kasar tersebut, keluar dari Tour Organizer yang tampaknya cukup terkenal di Derawan. Pun, ia merupakan pemilik dari penginapan yang berbasis “eco” yang dinamakan Derawan Fisheries. Ah, apa iya berbasis “eco” padahal pemiliknya sendiri tidak mengerti apa yang dimaksud dengan istilah “eco”, "eco-tourism" atau “eco-friendly”?

Setelah kata makian “anj**g” yang diketikkannya, saya sudah malas menanggapi. Screencapture tersebut lalu saya upload ke media sosial pribadi, path, yang lalu membuat banyak teman-teman geram. Mereka turut berkomentar dan memberi nasihat di akun tersebut namun teman-teman saya itu juga turut disebut “anj**g”.

Ternyata tidak hanya saya. Ada banyak orang sebelumnya yang sudah berusaha untuk menegur dan menasihati Bapak Harry Gunawan dari Derawan Fisheries tersebut yang hanya dianggap sebagai angin lalu.



Bahkan Om @pinneng seorang master dive yang berekelebat lama di dunia bawah laut ikut berkomentar. 


“Gitu z kok repot, santai z Mba. Gak usah nyampah di IG saya, klw gak suka tinggal unfoll z,, situ macam okay2nya z..”

Begitu jawabannya saat ditegur oleh akun @edelweiss_blogger.



Oh, beginikah perangai dan mental trip operator di Indonesia? Tidak punya etika dan menghalalkan apa saja, termasuk abai pada peraturan lingkungan, untuk jadi keren, terdepan dan selalu kebanjiran wisatawan? Pantaskah pribadi-pribadi seperti ini menjadi pelaku pariwisata? Coba, kalian bantu jawab pertanyaan saya.



                Di salah satu foto yang ia unggah di akun Instagramnya, tertulis bahwa Ia mengucapkan terima kasih atas pemberian buku “Panduan Wisata Hiu Paus” dari BPSPL (Balai Pengelolaan Sumber Daya dan Pesisir Laut) wilayah Kalimantan.



“Semoga dapat bermanfaat untuk semua sebagai salah satu pedoman berwisata di Kepulauan Derawan” ucapnya.

Bukunya kemana Mas? Sudah dibaca atau  cuma dipakai buat ganjel pintu?

Seharusnya jika ia sudah membaca dan menelaah dengan baik isi dari buku tersebut, tentu saja ia malu dan tahu apa yang dilakukan terhadap hiu paus itu salah. Menyentuh dan berenang sambil memegang sirip hiu paus sama sekali tidak dibenarkan. Bagaimana mau memberi contoh baik kepada wisatawan yang dia bawa jika dia sendiri melanggar peraturan?

Tujuan saya menulis ini, bukan semata-mata untuk menyerang Harry Gunawan. Melainkan memberikan gambaran kepada teman-teman tentang apa yang dimaksud pariwisata berbasis lingkungan, apalagi yang terkait dengan interaksi bersama hewan. Tidak hanya hiu paus, tetapi juga penyu, manta, paus, lumba-lumba, pun semua binatang yang ada di darat dan di udara, tidak boleh kita sentuh dan eksploitasi.

Saya mengunggah foto-foto Harry Gunawan hanya untuk menunjukkan bahwa apa yang ia lakukan di dalam foto tersebut adalah salah dan tidak sepatutnya ditiru. Saya yakin teman-teman yang membaca pasti bisa mengerti dengan apa yang saya maksud. Mari sama-sama saling mengingatkan. Pun dia tidak meminta maaf kepada saya atas perkataan kasarnya tak apa. Saya tidak meminta itu. (*update* terhitung tanggal 14 Juni 2016, Pak Harry Gunawan sudah menghubungi saya via jaringan pribadi dan telah meminta maaf. Kami berdua sudah menyelesaikan masalah ini baik-baik. Semoga kedepannya lebih baik lagi. Amin)

Apa tujuan saya membuat tulisan seperti ini? Tak lain hanya ingin berbagi informasi yang baik. Tak ada niatan memboikot Derawan Fisheries atau bagaimana. Sebagai lulusan sarjana Pariwisata, saya pribadi tentu ingin sekali pariwisata Indonesia terus berkembang dan membawa dampak baik dan kesenangan bagi semua kalangan. Saya ingin jumlah wisatawan meningkat tetapi tingkat pengetahuan akan peduli terhadap alam  juga meningkat. Bukan untuk kebaikan pribadi, tetapi untuk seluruh khalayak di bumi. 

Jika ingin tahu lebih lanjut tentang Whale Shark, silahkan kunjungi Facebook Page Whale Shark Indonesia. Bisa juga baca Panduan Teknis Pemantauan Hiu Paus yang dikeluarkan WWF dan Taman Nasional Cenderawasih. Bisa juga baca Leaflet dari WWF tentang Whale Shark.

Mari belajar menjadi pejalan bertanggung jawab, menjadi Tour Organizer yang bertanggung jawab yang paham bagaimana mengelola pariwisata yang berkelanjutan. Semoga kita tidak hanya berorientasi pada profit semata, namun juga mengutamakan konservasi hiu paus di mana pun mereka berada.


“Be kind to nature because nature is not to be raped and conquered. Nature is ourselves, to be cherished and explored”

Satu tahun yang lalu, saya melakukan perjalanan sendiri ke Wae Rebo, kampung adat di dalam hutan Manggarai, dimana kita harus trekking sejauh 9 kilometer atau sekitar 4 jam untuk mencapainya. Waktu itu, sepanjang perjalanan mendaki, selama di Kampung Wae Rebo dan di perjalanan turun menuju Desa Denge tempat saya menitipkan motor, saya tak henti-hentinya diguyur hujan. Saya tidak benci hujan, namun rasanya sedih juga ketika tidak bisa menikmati perjalanan seutuhnya karena terkendala cuaca.

Begitu Tim Terios 7 Wonders mengabari bahwa salah satu dari 7 destinasi yang akan kami kunjungi selama eksplor lintas Flores adalah Wae Rebo, saya bahagia tidak terkira. Akhirnya ucapan saya dulu di dalam hati terkabul.

“Tuhan, saya ingin kembali ke Wae Rebo, tapi maunya cerah ya”, ucap saya waktu itu.

Benar saja. Semesta mendukung perjalanan kami. Mulai dari Ruteng hingga Denge, cuaca cerah menemani. Meski jalanan menuju ke sana kecil, sempit, berbelok-belok dan banyak lubang, Terios dengan lincah melibas jalanan tapi tetap bikin nyaman.


Jam menunjukkan pukul 3 sore ketika kami tiba di homestay Pak Blasius. Tadinya saya mau menyempatkan diri mampir ke rumah Papa Vincent dan Mama Maria yang berbaik hati menampung saya tahun lalu di rumahnya. Namun niat itu saya tunda untuk keesokan harinya setelah turun dari Wae Rebo saja. Takut kemalaman jika mampir-mampir dulu. Pun tidak disarankan naik ke Wae Rebo jika hari sudah terlalu sore. Jalurnya licin dan sedikit berbahaya jika tidak membawa headlamp. Karena masih jam 3 sore, ya pasti bisa lah sampai di Wae Rebo sebelum hari gelap.

Pak Aloysius, yang juga masih bersaudara dengan Papa Vincent, menjadi pemandu kami. Senang sekali rasanya bertemu lagi dengan beliau yang masih mengingat muka saya dan Yudha, yang dulu juga menginap di tempat Pak Vincent.

Ternyata jalur menuju Wae Rebo sudah banyak berubah. Jalanan batu yang dulu saya tempuh sekitar 4,5 kilometer sekarang sudah diaspal, sehingga memperpendek jalur trekking dari 9 kilometer menjadi 4.5 kilometer saja. Padahal saya sudah membayangkan lelahnya membawa carrier yang berisi buku-buku ini melintas batu-batuan besar dengan jalur menanjak. Jujur saja, setiap mendaki gunung, saya tidak terlalu suka jalur batu. Hahaha.

Mobil diparkirkan di ujung jalan aspal sebelum sungai yang ada di Pos 1 dan kami memulai perjalanan trekking. Dengan ritme teratur, kaki melangkah, menapaki jalur tanah yang padat. Di awal-awal, jalur menanjak terus dengan sedikit saja bonus jalan datar. Semua terengah-engah tapi tetap semangat. Barulah setelah di Pos 2, Poco Roko, jalur sudah mulai landau dan cenderung menurun untuk kemudian sampai di ‘Rumah Kasih Ibu’, tempat kita membunyikan kentungan sebelum masuk ke kampung.

Kami tiba di ‘Rumah Kasih Ibu’ sekitar pukul setengah 7. Berarti memakan waktu kurang lebih 2,5 jam sejak awal pendakian. Seperti biasa, setiap wisatawan yang akan memasuki kampung, tidak boleh beraktivitas di sekitar kampung dan mengambil gambar dengan kamera, sebelum upacara adat penerimaan tamu / penghormatan leluhur yang disebut dengan “Waelu’u” di Mbaru Niang Gendang selesai diadakan.

Setelah Upacara Waelu'u

Bagian dalam Mbaru Niang Gendang yang diisi oleh delapan KK
Saat memasuki “Mbaru Niang Gendang”, beberapa tetua adat sudah duduk tenang berjejer menyambut kami. Dengan Bahasa lokal Manggarai, Pak Aloysius mengatakan beberapa kalimat dan memberikan seserahan berupa uang kepada tetua adat. Setelah Tetua Adat berbicara membalas pak Aloysius, barulah kita boleh beraktivitas di kampung. Artinya mereka sudah memberi tahu kepada leluhur tentang kedatangan kami.

Kami dengan teratur keluar dari Mbaru Niang Gendang dan masuk ke Mbaru Niang Gena Maro, tempat kami akan menginap satu malam. Ternyata sudah ada enam wisatawan asing selain rombongan kami. Seperti biasa pula, ada Kasih Manja (nama aslinya Kasius) yang sudah ada di tengah bercakap-cakap dengan wisman meski dengan Bahasa Inggris yang terbatas. Ah, rindu sekali dengan si Kasih Manja yang jenaka itu. Berpura-pura dia tidak mengenal saya tetapi setelahnya kami tertawa terbahak-bahak mengenang kejadian-kejadian lucu yang kami alami tahun lalu.

Kasius, the best local guide ever! Seringnya dipanggil Kasih Manja...
Secara bergantian kami membersihkan diri, mandi di kamar mandi yang ada di bagian belakang, berganti pakaian hangat dan berkumpul di ruangan tengah rumah sambil menunggu makan malam disiapkan, menyesap kopi Manggarai panas yang disajikan.

Saya pergi ke bagian dapur dan mencari Mama Poly yang tahun lalu jadi kawan karib saya selama di kampung. Saya tidak bisa memberi tahu tentang kedatangan saya karena memang tidak ada sinyal di kampung. Sayangnya Mama Poly sedang ada di Kampung Kondo untuk memanen sawahnya sekitar satu minggu. Ah, sedih betul tidak bisa bersua.

Menu makan malam yang saya tunggu-tunggu adalah ayam semur dengan sambal manggarai yang padis (pedas) nya luar biasa itu. Makanlah kami dengan lahap. Bukan hanya karena lapar berjalan cukup jauh, tetapi karena memang makanan apa pun terasa lezat di Wae Rebo.

Selepas makan, saya meminta Mas Iqbal untuk mengajarkan saya memotret Wae Rebo di malam hari. Kami keluar dan melihat bulan bulat terang dan membuat bintag-bintangnya tidak terlalu kelihatan. Mas Iqbal menyarankan untuk bangun sekitar jam 4 untuk mengambil night shot. Katanya, itu waktu yang terbaik untuk memotret langit malam. Kami pun masuk menggelung tidur di dalam selimut hangat.

Saya terbangun sekitar jam 4 dan dengan mengenakan sarung, keluar untuk melihat langit. Ternyata bulan masih ada di sana. Jadilah niat untuk memotret Wae Rebo di malam hari, diurungkan. Mungkin lain kali. Saya pun kembali tidur.

Sekitar jam setengah enam, Mas Iqbal membangunkan saya untuk memotret matahari terbit. Begitu keluar Mbaru Niang, semburat merah sudah tampak di balik-balik bukit. Dalam udara dingin, kami bergegas naik ke Rumah Baca yang ada di atas bukit dan tentunya tidak lupa membawa kopi panas.
Satu jam berikutnya kami habiskan dengan menunggu matahari pagi sambil menyesap kopi. Begitu matahari keluar dari balik bukit dan cahaya hangatnya menerpa wajah, rasa syukur tak henti terucap dalam hati. Berkat Tuhan yang sangat baik.

Langit memerah pertanda pagi sudah tiba...



Tim blogger Terios 7 Wonders Tour De Flores, Mas Iqbal, Bang Farchan, dan saya. Minus Yudha yang masih tidur...


Lewat lensa kamera, saya menangkap aktivitas warga Kampung Wae Rebo. Para Bapak duduk di depan rumah sambil menyesap kopi. Para Ibu sudah mulai menumbuk kopi dan memasak makan pagi. Anak-anak dengan senangnya bermain bola sepak. Harmoni pagi yang indah sekali.

Saat dapur mulai mengepul dan asapnya membumbung dari Mbaru Niang. Cantik sekali!




Setelah matahari cukup tinggi, kami turun lagi ke kampung dan menyantap makan pagi yang sudah disiapkan. Yang paling membuat senang adalah cahaya pagi yang menelisik masuk lewat jendela. Tentu saja momen itu tidak kami lewatkan untuk diabadikan.


Selesai makan pagi, saya keluar membawa buku-buku, ada sekitar 70 buku bacaan anak-anak dan spidol warna-warni yang kami bawakan untuk anak Wae Rebo. Saya pernah dititipkan pesan oleh Kasih, jika datang lagi, tolong bawa buku untuk menambah pengetahuan mereka. Jangan memberikan permen, apalagi uang. Jangan membentuk mental anak-anak menjadi pengemis. Ya, saya setuju sekali.

Dan Kasih, saya memang datang lagi untuk memenuhi janji saya.

Dikarenakan hari itu hari Senin, anak-anak yang bersekolah tidak ada di Kampung Wae Rebo, melainkan di Kampung Pombo dikarenakan sekolah terdekat dari Wae Rebo adanya di sana. Mereka kembali ke Wae Rebo saat akhir pekan saja.

Jadilah buku-buku itu diberikan kepada anak-anak kecil berusia 3-6 tahun, yang belum bersekolah. Dengan antusias mereka menyerbu buku-buku itu bahkan adu mulut karena berebut. Saya usahakan untuk tetap adil membagi buku-buku bacaan itu dan sebagian lagi dikasih untuk ditaruh di perpustakaan atas. Sekedar saran untuk teman-teman, tolong bawa buku jika berkunjung ke Wae Rebo ya. Satu dua pun tak apa. Mereka pasti senang betul.

Yeaaaay dapat buku baru buat dibaca ya adik-adik ;)


Setelah anak-anak kembali ke rumah masing-masing, saya pergi mengambil handuk dan alat mandi lalu pergi ke pancuran kampung, sekitar 200 meter saja jaraknya. Saya mandi pagi dengan air dingin nan segar. Aktivitas pagi yang tidak sempat saya lakukan tahun lalu karena hujan. Akhirnya bisa saya rasakan juga mandi di pancuran Wae Rebo. Meski sudah ada kamar mandi yang disiapkan untuk wisatawan, rasanya sangat berbeda ketika mandi di pancuran. Cobalah jika kalian ke sana dan rasakan bedanya.

Sisa waktu sebelum turun kembali ke Denge, saya habiskan dengan bercengkerama dengan mama-mama sekitar kampung. Ada yang sedang menenun, ada yang sedang bersiap turun untuk menjual hasil bumi, ada yang memilih biji kopi yang sudah dijemur, ada yang sedang asyik ngobrol saja. Senang betul rasanya jadi mereka ya. Hidup sederhana saja dan tidak sekompleks pikiran orang-orang kota. No phone signal, happies life.

Sebelum pulang, saya sempat bertemu Pak Rafael, tetua adat yang tahun lalu saya cari tapi tidak berjodoh karena beliau sedang turun ke kampung Pombo mengurus ladang. Saat saya sedang berkeliling, beliau memasuki kampung dan segera saya sambut dengan gembira. Meski sudah sangat sepuh dan punya 15 cucu, Pak Rafael tetap jenaka.

Sebelum hari terlalu panas, kami berpamitan untuk turun. Semua anggota tim Terios 7 Wonders bahagia sekali akhirnya bisa menjejakkan kaki ke Wae Rebo, disambut dengan keramahan yang luar biasa, cuaca cerah diberkati semesta. Kami pulang dengan luapan rasa gembira.


Saya tak sabar mau kembali lagi. Mohe Wae Rebo!




Perjalanan ini adalah sponsor dari Daihatsu Indonesia dengan tajuk #Terios7Wonders #TourDeFlores.

Cerita lainnya bisa dibaca di :