Thursday, April 28, 2016

Gapura Surya Nusantara, Terminal Penumpang Megah Nan Mewah

Thursday, April 28, 2016 23 Comments
Surabaya North Quay (Photo by : Hafidz Novalsyah)
Masih jelas terekam di ingatan saya ketika menunggu kapal PELNI dari Ambon ke Banda Neira di pelabuhan Ambon. Dengan menggendong ransel besar di punggung dan ransel kecil di bagian depan, peluh tak berhenti mengalir di dahi karena berdesak-desakan dengan penumpang kapal lain yang tumpah ruah.

Jangankan untuk berselonjor, tempat untuk duduk pun tak ada. Saya edarkan pandangan di sekeliling terminal penumpang pelabuhan Ambon. Semua orang juga tampak kelelahan. Banyak penumpang yang membawa anak kecil, kewalahan meladeni anaknya yang menjerit-jerit  karena sesak dan akhirnya diajak jalan atau beli jajan.

Baju saya basah karena keringat yang terus mengucur karena padat dan sesaknya manusia. Tapi itu belum seberapa. Masuk ke kapal juga jadi ujian berat dan membuat saya hampir menangis.

Sakit lho soalnya mau naik didesak, didorong-dorong atau diinjak kakinya. Dan itu yang saya rasakan ketika menaiki KM Tidar. Bersama ribuan orang lainnya, saya naik tangga dengan kondisi seperti itu, tidak ada yang mau antri rapi dan akhirnya kepala saya beberapa kali terbentur barang-barang besar yang diangkat para porter / penumpang di atas kepala mereka.

Saya berpikir kejadian tadi akan jadi pengalaman yang menyenangkan untuk dikenang, namun sampai kapan kondisi pelabuhan di Indonesia seperti ini?  Saya senang naik kapal laut dan ingin juga mengajak teman-teman saya naik kapal. Tapi kondisi seperti itu kalau saya ceritakan pasti bikin beberapa teman ogah. Mending naik pesawat aja, pasti pikir mereka.

Waktu itu saya berangan-angan bahwa Indonesia akan memiliki pelabuhan dengan fasilitas yang baik, mengutamakan kenyamanan dan keselamatan penumpang. Biar kapal laut ke depannya tidak dipandang lagi menjadi transportasi kelas menengah ke bawah.

Daaaaann angan-angan saya menjadi kenyataan.

Saya melihat langsung terminal penumpang di pelabuhan Tanjung Perak, yang diberi nama Gapura Surya Nusantara, sesuai dengan apa yang dulu muncul di benak saya.

Bangunan terminal penumpang Gapura Surya Nusantara (GSN) ini modern dengan interior yang ciamik. Begitu masuk ke dalam gedung, udara sejuk dari pendingin ruangan membuat saya nyaman setelah menghadapi teriknya matahari Surabaya.

Interior Gapura Surya Nusantara ini ciamik ya. (Photo by : Wira Nurmansyah )
Terminal penumpang ini tak ada ubahnya seperti bandara-bandara modern. Ah, Terminal 1 Soekarno Hatta saja masih kalah sama GSN.

Bagian depan pintu masuk terminal GSN
Seluruh penumpang yang akan naik kapal harus melewati mesin X-ray dulu seperti di bandara lalu menuju counter check-in kapal sesuai dengan tujuan masing-masing. Wah, canggih bener.

Lewatin X-Ray dulu ya... Lihat langit-langitnya. Ciamik ya!

Check in counter nya aktif jika ada kapal yang akan diberangkatkan.
Selepas check-in, penumpang bisa bersantai jika masih ada jeda waktu hingga keberangkatan kapal. Dengan eskalator, penumpang bisa pergi ke lantai 3 terminal dimana terdapat food court yang menjajakan ragam makanan yang lezat dan pastinya bersih. Sebut saja beberapa kuliner khas dari Surabaya seperti Lontong Balap Pak Gendut, Bebek Harisa, Rujak Cingur Bu Nur, hingga sajian seperti soto, bakso, dim sum, dan jamu bisa ditemukan di sini. Ada photo booth juga buat yang seneng narsis seru-seruan.

Food Court di GSN

Beragam kuliner khas Surabaya bisa didapatkan di sini ;)

Look at that happy face! Mau naik kapal kemana nih Om? ;)
Masuk ke dalam kapal juga tidak perlu berdesak-desakan karena penumpang akan masuk ke kapal memakai garbarata, seperti layaknya masuk ke pesawat. Dan tentunya malu dong ya kalau masuk pakai garbarata tapi nggak mau ngantri atau dorong-dorongin orang. Semoga dengan adanya garbarata ini, penumpang bisa jadi lebih tertib.

Ruang tunggu di lantai 1

Ruang tunggu di lantai 2
Tapi yang jadi favorit saya adalah roof-top area di Gapura Surya Nusantara. Wow! Pelabuhan mana coba di Indonesia yang punya roof-top seperti GSN? Dan benar saja tempat yang dikenal dengan nama ‘Surabaya NorthQuay’ ini jadi tempat favorit seluruh pengunjung terminal.


Santai sambil menikmati kerlap-kerlip kapal di kejauhan...

Om Boim dan Kak Firsta lagi asyik selonjoran di bean bag.
Lantai rooftop-nya dilapisi dengan rumput hijau sintesis jadi enak dan nyaman untuk anak kecil berlari kesana-kemari. Ya pastinya tetap dalam pengawasan orang tua-nya ya. Lalu ada kursi santai dan meja berpayung untuk santai-santai minum teh atau kopi dengan pemandangan laut. Ada juga bean bag warna-warni untuk yang mau santai selonjoran.

Saking asyiknya, tempat ini jadi tempat favorit nongkrong yang baru bagi arek-arek Suroboyo. Nggak harus jadi penumpang kapal juga bisa masuk kok. Sekedar untuk santai sama keluarga atau teman-teman. Tiap malam minggu juga ada pertunjukan live music lho.

Kami juga nggak mau ketinggalan dong. Kita asyik bersantai-santai dan sudah sah menjadi anak gaul ‘NorthQuay’, *hehehe*



Gapura Surya Nusantara ini dibangun oleh PELINDO III di atas lahan seluas 1,6 hektare dan mampu menampung hingga 4000 penumpang. Tidak hanya kapal PELNI saja yang sandar tetapi beberapa kapal pesiar dari berbagai Negara juga sering bersandar. Salah satu contohnya adalah Cruise MS Rotterdam yang memiliki panjang kapal 230 meter, bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, turun di terminal GSN pada Februari silam.


Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa teman blogger diajak untuk melihat-lihat kawasan kerja Pelindo dan salah satunya adalah Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara ini. Cerita lainnya juga bisa dibaca di sini.

Gapura Surya Nusantara yang lebih dikenal dengan nama Surabaya North Quay ini sudah sepatutnya diterapkan di seluruh pelabuhan Indonesia. Ya mungkin sekarang terdengarnya muluk-muluk tapi bisa saja terealisasikan beberapa puluh tahun lagi. Pembangunan GSN menegaskan bahwa Indonesia siap menghadapi tantangan-tantangan di dunia maritim untuk pengembangan dan peningkatan kualitas pelayanan.


Kadang ada performance dari pemusik grup keroncong lho ;)
Saya pribadi mengharapkan bahwa nantinya seluruh penumpang bersama-sama menjaga kebersihan dan keindahan Terminal GSN yang masih seumur jagung ini. Jangan sampai dirusak dan kotor oleh tangan-tangan jahil. Dijaga bersama ya ;)



Tuesday, April 26, 2016

Pesona Kuliner Nusantara Lezat di HARRIS Hotel #GoodieFoodie

Tuesday, April 26, 2016 3 Comments

Makanan Indonesia itu memang juara kalau masalah bumbu dan rasa. Ya satu menu saja bisa diracik dengan lebih dari 10 bumbu. Gimana nggak beragam rasanya di lidah kita? Dan pastinya itu yang membuat saya bangga jadi orang Indonesia. Kulinernya!

Lalu datanglah email ke kotak masuk saya yang berisi ajakan nyicip menu terbaru dari HARRIS Hotel. Wah ya mauuuuu banget. Dulu saya pernah cerita juga tentang kelezatan makanan yang disajikan HARRIS di blogpost ini. Saya selalu suka dengan HARRIS yang mengusung Healthy Lifestyle Moment dengan menyajikan Healthy Food (tanpa MSG) da Healthy Juice Bar di setiap hotel yang mereka operasikan (ada 21 hotel di 9 kota di Indonesia. Mau reservasi? Ke websitenya langsung ya).

Bareng Kak Rere, Kak Mumun dan Vira Indohoy, Kak Lingling, Kak Innath, Sefin dan Ochoy, kita bersiap untuk menyantap sajian menu baru nan lezat dari HARRIS. Saya sampai irit makan pas siang supaya ruang perut cukup untuk menampung. *hehehe*

Kita berangkat dari K-Link Tower, kantor pusat Tauzia Hotel Management menuju Harris Hotel dan Convention Kelapa Gading Jakarta. Dari Jakarta Selatan ke Jakarta Utara. Jauh juga yaaa. Namun karena melawan arus balik pekerja Ibu kota, kita sampai di Kelapa Gading masih dengan wajah ceria. Jalanannya lengang dan nggak perlu menggerutu macet sambil kelaparan.

Sesampainya di Harris Hotel Kelapa Gading, kita diajak ke ballroom tempat berlangsungnya #HarrisGoodieFoodie. Dari luar ballroom aja sudah tercium wangi makanan yang baru dimasak oleh chef-chef handal Harris. Duh, bikin air liur terbit nih.

Sebelum mencicipi menu-menu baru Harris, kami dikasih kartu passport ala-ala gitu. Jadi nanti kita harus datangin setiap booth makanannya, cobain menunya supaya dapat cap di passport. Seru amat! Berasa ditantangin bisa nggak nyicip semua menu Harris, ayo siapa yang paling jago makan? *hihihi*

Lucu ya Passport #GoodieFoodie nya ;)
Sebelum acara icip-icip dimulai, seperti biasa, karyawan super enerjik-nya Harris Hotel menampilkan tarian hip hip hore supaya seluruh yang ada di ruangan itu ikut ceria sehabis bermacet ria di Ibukota yaaaa.

The most fun hotel crew!
Menu pertama yang saya coba adalah Bebek Sambal Matah. Sebagai pecinta sambal matah garis keras, saya cukup kejam menilai sambal. Tapi sambal matah yang diracik Chef Harris ini nampol enaknya. Kalau kata anak sekarang mah, ‘petjaaaaahhhhh’. Iya enak banget. Disuruh cemilin sambal matahnya saya juga mau. Daging bebeknya juga gak kalah enak, empuk dan juicy. Nyam nyam nyam.

Bebek Sambal Matah. Duh!
Habis dari food stand Bali, saya pindah ke food stand Batam. Di sini Chefnya langsung sumringah menawarkan menu Ikan Gurame Sambal Kemangi.

Ikan Gurame Sambal Kemangi
“Mau nasinya seberapa banyak?” kata Chef sambil mengambilkan piring.

“Nggak usah pakai nasi, Chef. Ikannya aja yang banyak” kata saya.

Ya kan masih banyak nih menu yang mau dicobain. Kalau makan nasi nanti kekenyangan euy.
Sebagai anak yang besar di pesisir (Bengkulu & Sibolga), saya juga agak pilih-pilih kalau makan ikan. Habisnya kalau ikan nggak segar itu nggak manis. Sebel.


Eh setelah dmakan, ikan gurame sambal kemangi-nya manis banget. Apalagi pakai daun kemangi kesukaan saya. Kalau boleh nangis bahagia, nangis bahagia deh. Hmmm ya mungkin terdengar berlebihan. Tapi ini review jujur dari saya.

Stand berikutnya adalah….

JAKARTA!

Saya penasaran kira-kira menu apa yang disajikan di food-stand Jakarta ya.

Sup Timlo

Chef Troy dari Harris Hotel yang menyiapkan menu Jakarta

Ayam Panggang Sere Limo
Oh ternyata Sup Kimlo dan Ayam Panggang Sere Limo. Karena saya penyuka pedas, saya sendokkin sambal yang banyak ke sup kimlo saya. Nyaaaammm. Lezat!

Berikutnya ada menu Penyetan Campur di food stand Surabaya. Wah. Banyak banget menunya. Ada daging ayam, tahu, tempe, gepuk, dan lalapan. Ditambah sama sambal ulek makin maknyuuussss!
Tadi sudah ke Bali, Batam, Jakarta, Surabaya dan kini giliran kita ke Pontianak.

Sajian Penyetan dari Surabaya ;)
Waktu ke Pontianak beberapa bulan lalu,  saya seih nggak sempat ngulik banyak kuliner di Pontianak. Jadilah menu Udang Windu Lada Hitam dari Harris ini jadi pelipur lara. Udangnya besar-besar (ya namanya juga udang windu), dimasak dengan saus rempah lada hitam yang pedasnya enak. Bukan pedas menggigit dan menusuk gitu. Perpaduan yang enak di lidah ketika menyantap daging udang yang empuk dan manis dicampur dengan saus rempahnya. Mau lagi tapi kasihan nanti yang lain nggak kebagian.

Udang Windu Lada Hitam
Selain mengelilingi food stand nusantara yang merupakan menu-menu baru Harris Hotel, saya juga mencicipi menu yang ada di food-stand Signature Food nya Harris. Ada beragam menu lezat seperti sate, sop buntut dll. Tapi yang jadi highlight malam itu adalah Green Veggie Burger yang enak banget!


Green Veggie Burger yang lezat...
Sudah puas makan icip sana-sini, saya melipir ke booth minuman dan memesan Lime Mojito yang segar. Glek…

Selain Lime Mojito, ada juga Red Dragon, Berry Colada, Ginger Lemonade, Red Lips dan Tropical Punch. Semua minuman yang ada di Juice Bar ini tidak pakai gula lho teman-teman. Pas banget buat saya yang sekarang sedang mengurangi konsumsi gula.


Semua makanan dan minuman yang disajikan malam itu sudah saya coba. Begaaaaah banget. Jalan kok rasanya susah saking perutnya kepenuhan. Sambil menunggu makanan turun, MC-nya ngajakin kita main tebak-tebak bumbu. Seru! Nggak cuma bumbu sih tapi ada yang kebagian nyicip pete! Gotcha! Hahahaha.

Muka Ochoy begitu kira-kira lagi nyicip apa....


Kak Vira dan Kak Mumun asyik banget makannya...
Malam itu kami pulang dengan perut kekenyangan dan tentunya penuh kenangan. Pastinya saya merekomendasikan Harris Hotel untuk teman-teman yang mau menginap dengan harga ekonomis tapi dapat bonus makanan lezat dan sehat. ;)

Rombongan blogger hore...

Terima kasih Tim Tauzia Hotel! 

Monday, April 25, 2016

PELINDO 3 dan Impian Pelabuhan Mutakhir Indonesia

Monday, April 25, 2016 11 Comments

Sedari kecil, saya sangat menyukai kapal. Sewaktu tinggal di Bengkulu, Bapak sering mengajak saya naik kapal besar ke Padang. Masih terekam dengan jelas saya berlari-lari gembira di lorong-lorong kapal dan bergelantungan hingga membuat Bapak kewalahan.

Sampai sekarang, kapal laut pun menjadi salah satu transportasi favorit jika ingin berjalan dengan santai dan punya banyak waktu. Tapi jika sedang diburu waktu ya pilihan terbaik memang naik pesawat. Namun jika disuruh memilih, saya lebih suka naik kapal laut.

Indonesia, sebagai Negara Kepulauan atau Negara Maritim dengan luas laut 5,8 juta km2 tentu membutuhkan armada pelayaran dan pelabuhan yang memadai. Sebenarnya ada 1.888 pelabuhan di Indonesia, termasuk di dalamnya 1.134 pelabuhan khusus yang dikelola Badan Hukum Indonesia dan 754 pelabuhan umum yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah. Untuk pelabuhan umum pun dibagi lagi menjadi pelabuhan yang tidak diusahakan dan dioperasikan oleh pemerintah sejumlah 646 pelabuhan dan pelabuhan yang diusahakan dan dioperasikan oleh pemerintah yaitu PT Pelabuhan Indonesia (PELINDO) sebanyak 103 pelabuhan.

ATS terlihat dari ruang operator Teluk Lamong
Pelindo sendiri terbagi lagi menjadi empat yaitu PT Pelindo I yang mengoperasikan 25 pelabuhan, PT Pelindo II yang mengoperasikan 12 pelabuhan, PT Pelindo III yang mengoperasikan 43 pelabuhan dan PT Pelindo IV yang mengoperasikan 23 pelabuhan.

Wah, saya sendiri tidak menyangka bahwa ada sebanyak itu jumlah pelabuhan di Indonesia, lebih banyak dari jumlah bandara yang berjumlah 237.

Berkenalan dengan PELINDO III


Pelindo III adalah salah satu BUMN yang mengoperasikan 43 pelabuhan di Indonesia, tersebar di Bali, NTB, NTT (11 pelabuhan), Kalimantan Selatan – Kalimantan Tengah (21 pelabuhan), Jawa Timur (7 pelabuhan) dan Jawa Tengah (4 pelabuhan).

Kali kesempatan ini, saya dan beberapa teman blogger, Farchan Noor Rachman, Barry Kusuma, Wira Nurmansyah, Sutiknyo Lostpacker, Harris Maulana, Ananda Rasuliah, Firsta, Pungky Prayitno, Dani Rachmat diajak berkunjung ke kantor pusat Pelindo III di Surabaya. Mas Suryo dari Pelindo III menyambut kami dengan sangat ramah di Bandara Juanda. Dikarenakan kami tiba pagi-pagi sekali, Mas Suryo mengajak kami santap pagi di Rawon Pak Pangat yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Bandara.

Mas Suryo yang supeeeerrr ramah!
Kata Mas Suryo, kami akan diajak berkeliling ke beberapa tempat yang merupakan kawasan kerja Pelindo III di Surabaya. Saya kira hanya ada satu lokasi, eh ternyata ada banyak.

Untuk kunjungan pertama, kami diajak ke Terminal Teluk Lamong yang memiliki luas 38,86 Ha yang diperuntukkan khusus untuk aktivitas loading peti kemas. Begitu masuk ke dalam lokasi, saya langsung terperangah dengan truk-truk keren yang ada di lokasi. Semacam truk yang ada di film Transformers, bersih dan terlihat gagah. Ternyata itu adalah truk BBG kepunyaan Pelindo III dan jumlahnya ada 100 truk. Seumur-umur saya belum pernah lihat truk BBG, biasanya bus BBG aja alias Transjakarta. Pelindo III juga punya SPBG sendiri lho. 

ATS nya sedang beroperasi... 
Pelindo III memaparkan bahwa mereka memang sedang  melakukan pengembangan, seperti revitalisasi pelabuhan (rekonfigurasi, klasterisasi dan penataan pelabuhan). Ada lagi modernisasi pelabuhan seperti pembaharuan alat-alat penunjang kegiatan operasional yang memiliki produktivitas tinggi seperti otomatisasi alat bongkar muat, IT system, penyediaan alat berbasis IT di Terminal. Lalu ada program-program peningkatan fasilitas pokok maupun fasilitas pendukung seperti program peningkatan APBS, peningkatan dermaga.

Photo credit : Barry Kusuma
Dipaparkan juga bahwa kini Pemerintah kita bekerja keras melalui BUMN kepelabuhanannya, salah satunya Pelindo III untuk membangkitkan potensi maritim Indonesia. Daya saing bangsa akan meningkat jika tidak terbebani biaya logistik. Apalagi transportasi laut adalah transportasi dengan biaya paling murah dan terjangkau dibandingkan angkutan darat dan kereta api.

Bayangkan saja, biaya  pengiriman ke Hamburg yang jaraknya 11.000 KM dari Jakarta, harganya lebih murah dari pengiriman ke Padang yang hanya berjarak 1.000 KM.


Untuk itu Pelindo III mengembangkan sejumlah terminal modern di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, yakni Terminal Peti Kemas Surabaya, Terminal Teluk Lamong yang beroperasi semi-otomatis, Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara, Java Integrated Industrial & Port Estate (JIIPE). Pelindo III juga sedang melakukan revitalisasi APBS untuk mendatangkan kapal-kapal besar di Indonesia.

Selain di Surabaya, beberapa proyek yang juga sedang dikembangkan oleh Pelindo III adalah Polder Sistem Pelabuhan Tanjung Emas, Terminal Peti Kemas Semarang, Pelabuhan Banjarmasin, Pelabuhan Bagendang, Pelabuhan  Bumiharjo, Pelabuhan Batulicin, Pelabuhan Tenau – Kupang, Pelabuhan Benoa – Bali, Pelabuhan Gilimas – Lembar, dan pembangunan kawasan Boom Marina Banyuwangi.

Pelabuhan Teluk Lamong, Pelabuhan Otomatis Pertama di Indonesia


Saat Pak Ahmad Nizar, Deputi Sekretaris Direktur Pelindo III, memaparkan project-project yang saya sebutkan tadi, saya betul-betul terperangah. Meski belum selesai keseluruhan, namun gambaran tentang pelabuhan mutakhir Indonesia terlihat jelas di benak saya. Alangkah kerennya jika seluruh pelabuhan di Indonesia bisa dikembangkan seperti ini nantinya.

Para  Operator di Terminal Teluk Lamong dan Pak Ahmad Nizar (paling kanan)
Saya sangat mengapresiasi ketika ada BUMN yang buka-bukaan tentang kegiatan mereka. Apalagi pelabuhan peti kemas. Seumur-umur saya tidak pernah mendengar ada blogger yang diundang untuk melihat-lihat pelabuhan. Kalau ke pelabuhan penumpang sih pernah ya, tapi kalau memang mau naik ke kapalnya *hehehe*. Makanya ketika diajak jalan-jalan melihat Pelindo III, saya senang bukan kepalang.

Meski Pak Ahmad Nizar sedang memaparkan tentang Pelindo di ruangan operasional Terminal Teluk Lamong, bukan berarti aktivitas mereka terhenti. Peti-peti kemas itu tetap harus diangkut dan dipindahkan. Di ruangan itu terdapat mesin operator lengkap dengan layar-layar yang memperlihatkan suasana terminal peti kemas.

Mbak nya lagi mainin Joystick ;) 
Kerennya Terminal Teluk Lamong ini adalah menjadi terminal otomatis pertama di Indonesia. Ada 10 unit Automated Stacking Crane yang beroperasi memindah-mindahkan peti kemas di terminal. Fyi, ATS ini baru ada di empat Negara di dunia yaitu Virginia, Catalunya, Abu Dhabi dan Indonesia. Waaaahhhh…

Kami dipertontonkan cara mengoperasikan ATS dan operatornya perempuan! Wah! Keren banget. Saya nggak nyangka kalau ada perempuan yang bekerja menjadi operator Terminal Peti Kemas. Dan ternyata 50 % operatornya perempuan lho.

Dengan cekatan si Mbak menekan tombol ini dan itu. Dari ruangan itu bisa terlihat dengan jelas ATS nya berfungsi memindahkan peti kemas dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Di setiap ATS terdapat kamera yang membuat kita bisa melihat keakuratan ATS saat mengangkat, memindahkan dan menurunkan peti kemas.

Berbeda lagi dengan proses pengangkutan peti kemas. Saya memperhatikan ada satu pengemudi truk yang dengan luwes memarkirkan kendaraannya lalu masuk ke bilik kecil. Ternyata dia akan mengambil dan membawa satu peti kemas. Dalam bilik itu juga ada mesin untuk ATS yang bisa dioperasikan langsung oleh pengemudi. Namun jika sudah mencapai ketinggian 7 meter dari permukaan tanah, si pengemudi harus mengarahkan sendiri peti kemasnya dengan joystick yang ada. Waaaah seru banget macam main di mesin penjepit boneka di Timezone, diarahin, dijepit terus diangkat. Sayangnya kita nggak mencoba joystick ATS di Terminal Teluk Lamong. Ya kalau salah terus peti kemas-nya rusak, harus ganti rugi dong? *Hehehe*.

Terminal Teluk Lamong ini diresmikan oleh Bapak Presiden RI, Joko Widodo pada 22 Mei 2015 silam. Selain dilengkapi dengan 100 truk BBG dan 10 Automatic Stacking Crane, di terminal ini juga terdapat  5 unit Ship to Shore Crane, 5 unit Straddle Carriers, dan 50 Unit Automotive Terminal Trailers. Semuanya peralatan canggih yang memudahkan proses pengelolaan peti kemas yang ada di Terminal Teluk Lamong.

Penampakan Automotive Terminal Trailers...

Sensasi Naik Ke Ship To Shore Crane


Selepas mendengar paparan dari Pak Ahmad Nizar, Mas Suryo mengajak kami melihat langsung Ship To Shore Crane. Ada dua jenis crane yaitu domestik dan internasional. Pembedanya hanya di ketinggian crane-nya saja karena biasanya kapal internasional ukurannya lebih besar daripada kapal domestik.


Oh iya, selama di lapangan, kami diwajibkan untuk memakai rompi dan topi pengaman. Kita merasa sedikit keren karena kelihatan kayak engineer gitu.

Mas Reka memandu kami untuk melihat-lihat lokasi dan menanyakan apakah mau mencoba melihat pelabuhan dari atas, alias naik ke ship to shore crane.

Woaaaahhh, saya langsung bersemangat untuk naik bersama Mas Reka, Nanda, Kang Harris dan Kak Pungky. Kami akan naik ke crane setinggi 45 meter atau setara 14 lantai gedung. Kami masuk ke lift yang super kecil sehingga membuat kami terlihat seperti sarden di dalam kaleng.


Meski saya sudah terbiasa di ketinggian karena terbang paralayang, ternyata naik crane itu bikin deg-deg ser juga. Apalagi pijakannya langsung bisa lihat ke dasar dan anginnya cukup kencang. Nggak disarankan deh yang takut ketinggian buat naik crane.


“Kalau operator crane, ada ujiannya untuk naik ke paling atas sana tuh” kata Mas Reka sambil menunjuk ke bagian teratas crane. Ya ampun tinggi sekaliiiiiii. Tapi ya memang operator crane nggak boleh takut ketinggian karena setiap harinya dia akan bekerja di sana toh.




Selesai berkeliling melihat bagian atas crane, kita bersiap untuk turun lagi dengan lift. Begitu kami sudah masuk dan pintu tertutup, eh lift-nya nggak bergerak turun. Mas Reka mengecek lagi semuanya apa ada yang salah tahap menutup lift-nya. Diulang lagi pelan-pelan tapi tetap saja nggak bergerak. Akhirnya kami memutuskan untuk membagi dua, Kak Pungky dan Nanda turun terlebih dahulu, disusul Mas Reka, aku dan Kang Harris di kloter kedua.

Eh ternyata, liftnya nggak bisa jalan. Liftnya macet…

Hahahahaha…

Mas Reka sudah menghubungi teknisi untuk memperbaiki lift-nya. Namun daripada menunggu terlalu lama di atas dan harus menahan angin kencang, kami memutuskan turun lewat tangga.

Teman-teman yang menunggu di bawah tergelak sambil terus menyemangati kami yang sedang menuruni tangga. Bukannya apa. Kalau tangganya tangga biasa di dalam gedung tertutup sih nggak apa-apa. Lebih dari 20 lantai pun tak soal. Nah kalau yang ini beda. Turunnya di tangga transparan. Sepanjang turun, kita berpegang erat pada pegangan tangga dan turun pelan-pelan.

Begitu akhirnya sampai di bawah, kami menghela nafas panjang. Fyuuuhhhhhh… Masa-masa menegangkan itu sudah lewat. Eh tapi menyenangkan juga sih. Jadi salah satu pengalaman seru yang pastinya tak terlupa.

Ternyata kita nurunin 16 lantai crane. Waw!
Selepas dari Terminal Teluk Lamong, kami sempat mengunjungi Java Integrated Industrial & Port Estate (JIIPE) yang merupakan kawasan industry yang efisien karena terintegrasi dengan fasilitas pelabuhan. Meski belum selesai keseluruhan, saya melihat bahwa kawasan ini akan berkembang dengan pesat.


Tak lupa juga kami berkunjung ke Pelabuhan Peti Kemas Surabaya. Untuk memasuki kawasan ini, kami diharuskan memakai sepatu boots khusus, rompi dan topi keselamatan. Senja menggelayut di langit, menutup hari kami. Senang sekali seharian mengulik dan mendapatkan ilmu dari Pelindo III.



Sebagai orang Indonesia, saya turut bangga atas geliat pemerintah mengembangkan pelabuhan. Hal yang seharusnya sudah kita lakukan sejak dulu. Semua usaha yang dikerjakan oleh Pelindo III ini bertujuan untuk terus meningkatkan integrasi logistik di Tanah Air agar terjadi keseimbangan antara kawasan barat dan timur Indonesia. Diharapkan Surabaya menjadi titik kebangkitan maritim Indonesia yang menjadi jembatan di tengah Nusantara.

Dan tentunya, saya ingin suatu waktu nanti Indonesia memiliki pelabuhan-pelabuhan mutakhir yang tidak kalah dengan Negara lain.

Yuk naik kapal laut ;)



 Untuk lebih kenal dengan Pelindo III, teman-teman bisa ulik di Website PELINDO III  atau di akun social medianya; Twitter @pelindo3 dan Instagram @pelindo3 

Follow Us @satyawinnie