Kopi Nikmat di Kopi Nikmat Singkawang

Thursday, March 03, 2016


Nikmat yang nikmat. Double nikmatnya! Itu yang saya rasakan ketika bertandang ke warung kopi tertua di Singkawang, Toko Kopi Nikmat.

Gelak tawa terdengar menggelegar oleh pengunjung yang memenuhi kedai begitu saya memasuki warung kopi. Kebanyakan mereka memang sudah berumur. Mungkin sedang reunian atau kumpul arisan. Pemandangan yang sangat menyenangkan buat saya karena melihat interaksi dan raut wajah bahagia di kedai kopi. Seruput kopi lalu tertawa lagi. Berbeda sekali dengan kondisi di kota besar dimana orang-orang ngopi hanya untuk wi-fi, sibuk sendiri.


Kedai Kopi Nikmat menyajikan kopi yang nikmat, sama seperti nama kedainya. Kedai ini sudah ada sejak tahun 1930, sejak zaman Belanda masih menjajah Indonesia. Kini yang mengurus adalah generasi ketiga. Bertempat di kawasan kota, tepatnya di Jalan Diponegoro, Kedai Kopi Nikmat tidak pernah sepi pembeli. Setiap wisatawan yang bertandang ke Singkawang pasti direkomendasikan untuk mencoba kopi atau teh di Kedai Kopi Nikmat.

Ya, menu andalan mereka adalah Kopi Hitam, Kopi Susu, Teh Susu, Teh Telor. Cangkir-cangkir kopi terus diisi hari itu karena banyaknya pembeli. Satu hari sebelum perayaan Cap Go Meh, Singkawang dipenuhi wisatawan dan perantau yang pulang kampung.

Dengan cekatan, seorang wanita menciduk air mendidih dan memasukkannya ke dalam teko tinggi berwarna emas. Disendokkannya kopi ke cangkir berwarna putih lalu disiramkannya air panas dengan gaya orang yang sedang membuat teh tarik, tinggi sekali.



Selesai meracik beberapa gelas kopi, ditaruhnya di atas nampan dan menyuruh seorang perempuan untuk mengantarkan kopi ke meja tamu. Dia menyeka keringat di dahi. Cantik sekali Tante ini, pikirku.

Ternyata, Tante itu adalah pemilik Kedai Kopi Nikmat. Alang, biasa dia dipanggil. Di Singkawang, masih sangat lumrah memanggil orang dengan nama Tionghoa-nya.

Meski memiliki beberapa pegawai, Tante Alang meracik sendiri kopinya. Apakah itu kunci dari nikmatnya kopi yang disajikan di Kopi Nikmat? Hanya akan terasa nikmatnya jika diracik oleh keluarga Alang sendiri? Entahlah. Mungkin saja kan.

Satu yang menarik perhatian saya adalah lemari kayu yang berisikan kue-kue buatan Kedai Kopi Nikmat. Lemari antik itu sudah ada sejak pertama kali kedai kopi Nikmat dibuka.


“Sudah banyak yang nawar itu lemari tapi tidak saya kasih” ujar Tante Alang.

Memang, lemari kayu itu sudah menjadi ciri khas Kedai Kopi Nikmat. Kue-kue yang dipajang di dalam lemari itu makin terlihat menarik. Saya mencomot beberapa jenis kue seperti kue bolu, kue soes, pie telur (sumpah yang ini enak parah, sampai nambah), risoles, dan masih banyak kue lainnya.
Saya mencicipi seluruh jenis minuman yang ditawarkan Kedai Kopi Nikmat. Pertama saya menyesap kopi susu, dilanjut kopi hitam dan teh telur sebagai penutupnya. Ah, saya juga minum telur ayam kampung setengah matang.




Secangkir kopi hitam dihargai Rp 8.000,- ; kopi susu Rp 12.000,- dan teh telur Rp 15.000,-. Sedangkan semua kue-kue dihargai Rp 5.000,- per bijinya. Harga yang sangat bersahabat di kantong kan?

Untuk biji kopinya, mereka mendatangkannya dari Jawa dan Sumatera namun diolah dan dipanggang lagi sehingga rasanya berbeda. Resep keluarga. Itulah yang membuat kopi yang disajikan Kedai Kopi Nikmat berbeda dengan kedai kopi lainnya di Singkawang.


Saat saya sendirian menyesap kopi (teman-teman saya pulang duluan), duduklah seorang Bapak tua di dekat saya. Bapak itu memesan kopi hitam yang tidak disaring. Lebih enak katanya.


Kami bercakap-cakap dan si Bapak bercerita tentang kehidupan kota Singkawang yang tidak banyak berubah kecuali satu mall besar yang belum sampai setahun dibangun di sana. Dia lebih menyukai suasana kota yang tenang.

“Janganlah sampai kedai kopi ini tutup. Dari muda sudah terbiasa minum kopi di sini. Aneh rasanya kalau sudah tidak ada lagi”, ujarnya terkekeh.

Memang santer terdengar kabar bahwa Kedai Kopi Nikmat ini akan tutup jika tidak ada yang meneruskan. Anak-anak Tante Alang sudah merantau dan hanya sesekali pulang ke Singkawang.


Ah, semoga jangan jadi ditutup. Kan saya mau kembali kesana lagi. Kalian juga kan? 

Kedai Kopi Nikmat ini setiap hari buka dari jam 06.00 - 15.00 WIB. Karena saya datang satu hari sebelum perayaan Cap Go Meh, mereka buka sampai jam 22.00. Beberapa meja dan kursi sengaja dipindahkan agar muat untuk menaruh keyboard. Mereka ingin bernyanyi sepuasnya malam itu. Saya diundang untuk menyumbangkan satu lagu tapi malu. Hahahaha...


Mampirlah ke kedai kopi ini jika teman-teman pergi ke Singkawang ya.

Cerita lain tentang Kopi di Singkawang dan Pontianak bisa dibaca di ;

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia . Saya dan teman-teman blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Singkawang. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaSingkawang #PesonaPontianak #PesonaIndonesia

You Might Also Like

12 comments

  1. Minum kamu banyak juga Satya, hahaha.
    Teh campur telur itu, gimana rasanya? *Penasaran*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak Bar. Tapi buat yang gak suka telur mentah pasti agak enek sama rasanya. Hehehe. Kamu kudu cobain kalau ke sana ya ;)

      Delete
  2. Menggiurkan banget kopi dan (tentunya) kue-kuenya. Kaya di rumah ya. Beli jajanan pagi, lalu dinikmatin pake secangkir kopi. Otentik. Jadi penasaran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas Iyos. Semua kuenya menggiurkan dan nganenin. Cicipilah kalau berkunjung ke Singkawang ya ;)

      Delete
  3. Aku nyesel gak ikut ke sini! Ternyata ada teh juga! Dan kuenya ternyata kelihatan enak! Damn!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha kamu kan kerja ya waktu itu ya. Iya, berarti itu kode keras supaya Ochoy balik ke sana lagi toh :)

      Delete
  4. Iya, itu yang berbeda antara budaya ngopi di jakarta dan daerah. di daerah ngopi dalam artian minum kopi sambil ngobrol ringan, bersahaja, mempererat kekerabatan. Kalau di jakarta ngopi berarti minum kopi sambil main gadget masing2. Waktu aku ke belitung juga begitu, ngopi terasa banget keakrabannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali. Rasa kekeluargaannya terasa banget ya :)

      Delete

Subscribe