Cap Go Meh dan Tatung Singkawang yang Mendunia.

Wednesday, March 02, 2016


Riuh bunyi lonceng dan tabuhan gong mengagetkan saya dan teman-teman yang sedang mengunjungi Tua Pe Kong (Vihara Dharma Bumi Raya), Klenteng tertua di Kota Singkawang yang terletak di simpang lima.

Lelaki bertubuh besar dengan dandanan serba hitam dan bulu-bulu burung turun dari mobil pick up dan mulai menari di depan Tua Pe Kong sambil menggigit leher ayam hitam. Ternyata ayam itu bukan hiasan, melainkan makanan baginya. Selama ritual, darah ayam itu akan dihisapnya hingga habis.




Saya perhatikan wajahnya lebih seksama, matanya tampak kosong. Diletakkannya semangkuk kecil dupa yang dibakar dan ayam hitam di depan klenteng lalu mulai menari mengikuti tabuhan gendang dari rekan-rekan yang mengantarkannya tadi. Orang-orang yang ada di sekitaran klenteng memberikan jalan kepadanya untuk masuk ke dalam klenteng.

Lelaki tadi adalah tatung, yang dalam bahasa Hakka (etnis Tionghoa yang berasa dari Cina Selatan) berarti orang yang menyediakan dirinya dirasuki roh dewa-dewi atau arwah leluhur.

Apa itu Tatung?

Tatung memiliki ceritanya tersendiri. Pada masa lalu, Singkawang merupakan tempat singgah bagi orang-orang Tionghoa (imigran dari Cina Selatan) yang dipekerjakan sebagai penambang emas oleh Sultan Sambas. Hingga kini, orang lokal Singkawang masih menyebut dirinya sebagai orang Sambas. Saat itu, Singkawang masih dikelilingi oleh hutan belantara dan diyakini banyak roh-roh yang mendiaminya.

Hingga suatu waktu, sekitar 200 tahun yang lampau, wabah penyakit menyerang perkampungan Hakka. Saat itu belum ada pengobatan medis sehingga dilakukanlah ritual tolak bala yang mereka sebut “ta ciau”. Tujuannya tentu saja untuk mengusir roh-roh jahat yang dianggap membawa penyakit. Beberapa orang terpilih mengalami ‘trance’ atau kemasukan arwah roh dewa-dewi dan leluhur. Mereka menjadi kebal terhadap benda tajam dan menunjukkannya dengan menusuk pipi hingga tembus dari kanan ke kiri, duduk di atas kursi paku, berdiri di bilah pedang, menggosok-gosokkan pedang ke leher atau ke lidah dan masih banyak aksi lainnya.


Ritual “Ta Ciau” ternyata berhasil menyembuhkan penyakit yang mewabah waktu itu dan akhirnya ritual tersebut masih dilakukan sampai sekarang di hari perayaan Cap Go Meh, 15 hari setelah perayaan Tahun Baru Imlek.

Bagaimana Cara Menjadi Tatung?

Tidak ada yang tahu bagaimana cara menjadi tatung karena mereka adalah yang terpilih. Tidak hanya lelaki, tetapi juga perempuan baik yang sudah menikah ataupun gadis bahkan anak kecil. Mereka tidak boleh menolak ‘berkat’ itu karena bisa menyebabkan mereka sakit, sakit jiwa bahkan berujung kepada kematian.


Setelah mengetahui bahwa diri mereka terpilih, masih ada proses yang harus mereka lalui untuk menjadi tatung. Mereka harus berpuasa minimal seminggu sebelum perayaan Cap Go Meh seperti tidak makan daging dan tidak berhubungan badan. Tatung harus menjauhkan diri dari hal-hal yang berbau kesenangan duniawi dan satu hari sebelum Cap Go Meh, harus melakukan ritual “Bersih-Bersih Jalan”. Ritual itu dimaksudkan untuk memastikan jalur yang dilewati para tatung terbebas dari hal-hal negatif.

Selama satu hari penuh, para tatung yang jumlahnya mencapai ratusan, turun ke jalan, silih berganti bersembahyang pekong diiringi riuh tabuh gendang dan aroma dupa yang menyengat. Mereka datang untuk meminta berkat dari dewa-dewi. Sayangnya, tidak semuanya mulus. Ada kalanya mereka harus meninggalkan klenteng dengan lesu karena tidak mendapat berkat dan harus berkeliling lagi mencari berkat ke klenteng yang lain. 

Lain cerita dengan tatung yang berhasil mendapat berkat. Tatung tersebut akan mengalami “Trance” yang bisa kita lihat dari tatapan mata yang kadang kosong namun tiba-tiba mengeras. Meski sudah mendapatkan  berkat dari satu klenteng, mereka tetap pergi ke klenteng lain untuk mendapatkan berkat lagi. Semakin banyak berkat yang didapat, tatung pun akan semakin sakti dan mampu melakukan aksi ekstrim tingkat tinggi.


Ternyata seru juga untuk melihat ritual ini selain menyaksikan Parade Cap Go Meh di Singkawang.

Parade Tatung di Cap Go Meh Singkawang

Di perayaan Cap Go Meh, para tatung yang sudah bersiap dengan masing-masing kelompok cetiya nya akan berbaris rapi untuk parade. Rute paradenya dimulai dari Jalan Kalimantan menuju Jalan Setia Budi, tempat dimana panggung besar didirikan. Di sepanjang Jalan Setia Budi inilah, panggung utama dan undakan dibangun bagi para penonton yang ingin melihat tatung dari dekat. Biaya untuk menonton parade di panggung utama adalah Rp 150.000,-.


Saya dan teman-teman sudah tidak sabar menyaksikan parade tatung yang menjadi magnet pariwisata terbesar kota Singkawang. Tidak hanya wisatawan domestik yang tampak, wisatawan mancanegara juga terlihat dan bersiap dengan peralatan fotografi mereka. Saya sempat berbincang dengan Tante dan Om yang duduk di sebelah saya. Mereka datang satu rombongan besar dari Lampung hanya untuk menonton Cap Go Meh ini.

Satu per satu rombongan memasuki Jalan Setia Budhi. Barisan depan menabuh gendang sambil membawa dupa dan menebarkan “uang arwah” atau kertas kuning yang ada gambar dewa ke udara. Jalanan menjadi kuning karena penuh dengan “uang arwah” yang mereka tebarkan.


Biasanya tatung akan diarak menggunakan tandu yang terbuat kayu dan sudah dipasangi bilah-bilah pedang atau tempat duduk beralaskan paku. Para tatung ini akan berdiri di atas bilah pedang dan tidak tembus sama sekali. Kebanyakan dari mereka memakai kostum yang mirip dengan kostum dewa-dewi, Panglima Perang atau Raja. Ada juga yang berpakaian kostum kebesaran Suku Dayak dengan hiasan bulu serta paruh burung di atas kepalanya.






Saya memperhatikan setiap mata para tatung yang lewat. Ada yang menatap kosong, ada yang menatap marah, ada yang terlihat seperti sedang mabuk dan ada juga yang tidak terlihat matanya alias putih semua. Pipi mereka ditusuki benda-benda tajam dan tidak hanya satu. Ada pun yang paling membuat saya bergidik ngeri adalah tatung yang menusukkan pipa besi dengan diameter besar dan bentuknya melengkung. Bagaimana caranya menusukkan benda itu, saya pun tak tahu dan tidak mau membayangkannya.



Jika yang lelaki lebih banyak beraksi, bergerak kesana-kemari, tatung perempuan atau anak kecil kebanyakan duduk diam saja. Namun mereka tetap menunjukkan kesaktian dengan menusukkan benda-benda tajam di pipi. Kebanyakan yang laki-laki membawa parang atau pedang lalu menggesekkannya ke leher, tangan bahkan lidah. Tidak ada parang dan pedang yang melukai mereka. Benar-benar kebal.



Selain tatung, parade ini juga menampilkan arak-arakan jelangkung. Jelangkung berwujud dalam sangkar ayam yang dihiasi baju dan bergerak-gerak liar. Awalnya saya mengira sangkar itu digoyang-goyangkan, eh ternyata bergoyang sendiri. Beberapa kali saya melihat ada tim yang kewalahan menahan gerakan sangkar yang berisi jelangkung itu.


“Itu harus dipegang kuat-kuat karena susah didiamkan dan tidak boleh lepas. Kalau lepas nanti ada hal buruk yang datang” ujar Bapak yang duduk di sebelahku.

Selama menonton parade, kita disarankan untuk terus berpikir atau memusatkan perhatian. Jangan sampai bengong atau melamun. Bisa-bisa kita kemasukan roh, katanya.

Ada sekitar 600 tatung yang menampilkan aksinya di perayaan Cap Go Meh tahun ini. Jumlah peserta setiap tahunnya tidak bisa dipastikan karena tergantung ada berapa roh dewa yang memasuki tatung.



Parade berlangsung selama 2 jam dari jam 9 pagi sampai jam 11. Rasanya masih kurang lama dan kurang puas namun tatung hanya boleh melakukan parade sesudah sholat subuh dan harus selesai sebelum sholat dzuhur.

Percaya atau tidak percaya, kata Bang Rio, dahulu pernah ada tatung yang beraksi di depan masjid dan seketika dia tidak jadi kebal lagi hingga benda-benda tajam itu menembus badan tatung yang malang itu dan meninggal seketika.


“Di sini (Singkawang) kami memang memisahkan yang namanya tradisi dan agama. Sama-sama menghormati. Jadi tatung tidak pernah lagi lewat dari depan Masjid” ujar Bang Rio.

Ya memang benar apa yang dikatakan Bang Rio. Tradisi dan Agama memang berbeda namun tetap bisa harmonis asal saling menghormati. Tradisi “Tatung” memang masih dipercaya sebagai tradisi sesat karena ada campur tangan roh dari dunia lain. Namun tradisi ya tradisi. Selama tidak mengganggu hajat orang banyak, masih sah untuk dilakukan kan?



Setelah acara selesai, Tatungnya bagaimana?

Habis parade, tatung ini akan kembali ke cetiya (klenteng) masing-masing, melakukan sembahyang untuk mengembalikan roh-roh yang memasuki tubuh mereka dan kembali ke semula. Yang ajaibnya adalah mereka akan tersadar tanpa ada bekas luka di pipi mereka meski sudah ditusuk sedemikian banyak benda tajam. Para tatung ini biasanya akan sangat kelelahan dan tertidur untuk waktu yang cukup lama.

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia . Saya dan teman-teman blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Singkawang. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaSingkawang #PesonaPontianak #PesonaIndonesia





You Might Also Like

8 comments

  1. Itu kenapa mulutnya ditusuk-tusuk?
    Sepertinya singkawang menjadi tempat yang harus saya datangi di perayaan Imlek berikutnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk membuktikan kesaktian mereka, bukti bahwa mereka kebal terhadap benda-benda tajam. Dengan begitu, roh jahat akan takut sama mereka, begitu katanya.

      Ah iya banget Bar, Festival Cap Go Meh di Singkawang ini harus ditonton langsung minimal satu kali dalam hidup. Hohohoho :D

      Delete
    2. Iya Sat,
      Masukin wish list dulu lah. Siapa tau tahun depan main ke Singkawang.

      Delete
  2. Satya foto-fotonya makin JOS!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh dipuji sama sekelas Bang Chan itu bikin bahagia. Hahaha. Masih harus belajar banyak padamu Bang :)

      Delete
  3. fotonya keren, walaupun sedikit ngeri liatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ya Sintia sudah mampir. Kalau ngeliat foto aja ngeri gimana kalau lihat langsung ya. Heheehehe...

      Delete

Subscribe