Wednesday, March 30, 2016

[Review] CAPA Maumere, Heavenly Maumere

Wednesday, March 30, 2016 15 Comments

“I left my heart in East Nusa Tenggara” jawab saya acap kali teman-teman bertanya bagaimana perjalanan saya ke Nusa Tenggara Timur. Meski belum menjelajah keseluruhan bagian daerah hingga ke pelosoknya, saya sudah jatuh cinta dengannya sejak pertama kali jumpa. Oleh karena itu saya selalu berharap punya kesempatan untuk kembali ke NTT, lagi dan lagi.

Hingga tibalah kabar gembira bahwa saya mendapatkan hadiah dari CAPA Maumere untuk eksplor keindahan Maumere dan menginap di CAPA Resort, hotel bintang empat yang baru diresmikan 1 Juli 2015 lalu.

Penerbangan jauh dari Jakarta transit Bali lalu ke Maumere benar membuat saya letih dan tertidur selama penerbangan. Apalagi, saya baru pulang dari Ternate saat itu. Tapi rasa letihnya kalah sama rasa senang akan bisa mengeksplor Maumere dan sekitarnya.

Di Bandara Frans Seda Maumere, dua laki-laki sudah menunggu saya, Mbak Fika dan Fadhil, teman seperjalanan saya ke Maumere. Mereka berdua adalah Mas Felix dan Pak Sam dari CAPA.

‘Uhe die dang hading Maumere’, selamat datang di Maumere.

Begitu urusan bagasi selesai, kami meluncur untuk makan siang dan lalu menuju ke CAPA untuk rehat sejenak sebelum berkeliling ke beberapa spot menarik di Maumere.

Bagian lobby CAPA yang didominasi kayu dan batu. Suka! 
Dengan senyum teramat manis, seorang pria muda menghampiri kami dan menyodorkan baki berisi welcome drink dan cold towel di lobby. Langsung saja saya teguk jus jeruk yang segar itu dan menempelkan handuk dingin di wajah.

Manis banget ya Abangnya ya....
Aduh… Enak yang teramat sangat…

Resepsionis dengan ramah menyodorkan kartu kunci dan dengan sigap seorang pria muda lain mengantarkan saya ke kamar 117, tempat saya menginap beberapa hari ke depan. Begitu masuk kamar, semilir sejuk dari pendingin ruangan menyapa kulit. Makin makin deh enaknya.

Kamar Deluxe yang saya tempati ini luas dan jadi bikin sedih karena saya tidur sendirian. Andai saja saya bawa teman (atau keluarga suatu hari nanti) pasti lebih seru ya.

Ruang kamar tidur besar dengan kursi rotan untuk bersantai dan bantal bersarungkan kain tenun. Jatuh cinta deh sama kamarnya.




Saya berkeliling hotel dan dari seluruh bagian CAPA Maumere, saya paling senang dengan infinity pool-nya. Kita bisa menikmati sejuknya berenang di kolam sambil memandang lautan dan pulau-pulau yang ada di seberang.

CAPA Infinity Pool. Yang di kejauhan sana namanya Pulau Pangabatang.



Jika cuaca sedang cerah, kita bisa menyaksikan semburat jingga menghiasi permukaan kolam renang saat matahari terbit. Duh pasti cantik sekali ya. Kalau giliran saya kemarin, dapatnya refleksi langit biru dan gumpanan awan terpantul di permukaan kolam.

Jika dirasa sudah terlalu panas, kita bisa bersantai di ‘Bale Bengong’ yang ada di tepi kolam. Bisa sambil baca buku dan mendengarkan musik. Sekedar menyaksikan perahu nelayan yang lalu lalang juga menyenangkan. Tinggal pesan jus segar ke restoran CAPA biar bersantainya makin asyik!

Kalau cuaca sedang cerah dan panas, enaknya sih berenang di kolam. Segar!

Mas Fadil mah senengnya bertapa dalam air. Hehehehe...
Awalnya saya mengira “CAPA” itu berasal dari bahasa Maumere. Ternyata berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya pelangi. Pelangi itu menggambarkan jembatan yang menjadi penghubung bumi dan langit, merepresentasikan harapan. Pak Melchi Markus Mekeng, sang pemilik hotel, berharap CAPA akan menjadi tempat singgah yang terasa seperti rumah. Mewujudkan keinginan tamunya yang mengharapkan momen liburan yang santai di tepi pantai ujung timur Flores.

Meski tak seberapa luas, namun CAPA benar-benar terasa nyaman sejak pertama kali kaki diinjakkan. Unsur bangunannya banyak menggunakan batu dan kayu. Di depan bangunan terdapat patung lelaki memakai setelan jas yang ternyata kakek dari Pak Melchi Mekeng, Petrus Yakobus Bapa. Di bagian kanan hotel juga terdapat patung Bunda Maria.


Sentuhan budaya di tiap sudut ruangan dan furnitur yang menghiasi CAPA. Jatuh cinta sekali...

Ada 35 ruang kamar di CAPA yang terdiri dari Deluxe, Junior Suite dan Presidential Suite. CAPA juga menjadi hotel yang fasilitasnya paling lengkap di Maumere. Ada 24 Hours Room Service, Executive Lounge, Meeting Room, Laundry Service, Restaurant, Rooftop & Sunken Bar, Drug Store, Doctor On Call, Dive Center, ATM Center, Business Center, Fitness Center, Car Rentals, Returns Transfer, Wireless Internet.

Dari balkon kamar bisa lihat langsung ke pantai.

Restorannya ada di samping kolam. Santap makanan lezat sambil dengar gemericik air di kolam.

Roof Top Bar di CAPA. Tiap malam minggu ada live music nya lho...

Senangnya baca buku sambil leyeh-leyeh di roof-top bar nya CAPA.
Bagi penggemar olahraga diving, bisa langsung berkonsultasi dengan Dive Master di CAPA dan akan dijelaskan spot-spot menarik yang ada di Maumere. Duh, andai kemarin sebelum ke sana, lisensi diving saya sudah jadi, pasti tanpa babibu, langsung pergi menyelam. Artinya, saya harus kembali lagi ke Maumere ya.

Selain kamarnya yang nyaman serta pelayanannya yang ramah, yang paling membuat saya jatuh cinta adalah makanan-makanan yang disajikan di Capa Maumere. Nanti akan ada satu blogpost khusus untuk review masakan yang disajikan Chef Aryo.di CAPA ya Senang juga dikasi kesempatan buat ngulik-ngulik dapurnya.

Saking betahnya di Maumere (dan juga CAPA) saya jadi betah, susah pulang. Tapi sayang juga kalau waktu saya hanya dihabiskan di kamar sedangkan ada banyak tempat yang bisa dieksplor. Maumere ini memang sangat kaya dengan keberagaman wisata alam, budaya, kuliner dan religi. 3 hari rasanya kurang untuk mengeksplor keseluruhan tempat-tempat menarik yang ada di sana.

Nanti akan ada cerita-cerita menarik lainnya tentang ragam pesona Maumere. Ditunggu ya ;)

CAPA Maumere

Nairoa Waipare Street, Maumere 86181Flores, East Nusa Tenggara, Indonesia 

(+62) 821-8883-6909 

(+62) 382-242-5111 

(+62) 382-242-5000 

info@capamaumere.com 

www.capamaumere.com




Sunday, March 13, 2016

Menyederhanakan Hidup dengan Bertualang Bebas

Sunday, March 13, 2016 26 Comments

“Life begins at the end of your comfort zone”.

Kalimat itu tepat sekali untuk menggambarkan saya, penyuka petualangan dan tantangan. Mengarungi derasnya arus sungai, menapakkan kaki ke tanah basah dengan jalur terjal hingga menjajal olahraga paralayang adalah kenikmatan buat saya.


“Kok mau sih melakukan kegiatan yang membahayakan diri sendiri, Sat?”, adalah pertanyaan yang sering sekali saya terima dari lingkungan pertemanan maupun keluarga.

Perempuan itu seharusnya ya ikut kegiatan yang terkait dengan keindahan, bukannya main kotor-kotoran, papar mereka lagi. Kehidupan yang saya jalani ini sering dianggap aneh dan agak keluar dari koridor kodrat perempuan. Tapi apa iya sampai sekarang hal itu masih berlaku? 

Biasanya saya tanggapi seluruh komentar itu dengan mengatakan bahwa pada dasarnya laki-laki dan perempuan itu punya kekuatan yang sama. Seharusnya tidak ada pengkotak-kotakkan antara lelaki dan perempuan. Kalau para lelaki bisa melakukannya, kenapa saya tidak? Bagaimana menurut kalian? Setuju?

Kegemaran saya bertualang tentu saja membawa saya ke banyak tempat di penjuru nusantara. Supaya orang lain merasakan pengalaman perjalanan saya, maka dituliskanlah semua yang saya rasakan di blog ini. Jadi setiap ada yang bertanya bagaimana pengalaman saya bepergian kesana-kemari, tanpa panjang lebar saya katakan “silahkan baca langsung di blog ya”. Simple kan?


Menggabungkan dua hobi (bertualang dan menulis) ternyata sangat menyenangkan. Saya bisa melakukan petualangan sekaligus terus menulis cerita-cerita seru perjalanan. Dua hal yang sudah melekat di diri saya, yang menjadi identitas dan ciri khas.

Dua hobi ini juga ternyata yang membawa saya menjalani hidup sekarang. Saya mengambil kuliah dengan jurusan Pariwisata, jurusan yang sangat menyenangkan karena memang saya penyuka jalan-jalan. Disamping kuliah, saya juga sedang menjalani pekerjaan sebagai “Content Writer” di salah satu Digital Agency di Jakarta Selatan, kantor yang nyaman dan menyenangkan. Di kantor pun, saya difokuskan pada segment Travelling Contents. Semuanya berkaitan dengan jalan-jalan. Kurang asyik apa coba?


Setiap harinya saya disibukkan dengan pikiran bagaimana membagi waktu antara kerja, kuliah dan juga tetap melakukan kedua hobi saya. Meski lelah, saya menyadari bahwa saya suka menjadi sibuk, suka tenggelam di dalam banyak kegiatan yang membuat saya tidak harus bengong dan tidak produktif. Buat beberapa orang mungkin hidup saya terlihat sibuk, rempong. Padahal buat saya, itulah hidup yang sederhana, dimana saya bisa mengontrol sendiri kehidupan saya dengan melakukan kegiatan yang saya suka.

Acap kali saya menerima komentar, “Kok Satya jalan-jalan terus sih? Kuliahnya bagaimana? Kerjaannya bagaimana?”. Yah setiap harinya kita dihadapkan dengan berbagai pilihan-pilihan yang saya rasa kita semua mampu untuk menentukan jawabannya. Kamu memilih A, B atau C pasti ada konsekuensinya. Jadi selain memerlukan keahlian manajemen waktu yang baik, kita harus berani mengambil konsekuensi. And remember! No regrets!

Saya juga masih ingat teman-teman bilang, saya kurang memberi waktu kepada diri sendiri untuk bersantai. But hey, setiap hari saya bersantai kok. Saya menjalani kuliah, kerja dan hobi saya dengan santai. Saya menyukai semuanya. Apakah karena kegiatan yang begitu padat, kalian mengira saya tidak pernah bersantai? Hehehehe…


Semua dikembalikan lagi ke cara kita berpikir, untuk menyederhanakan segala aktivitas yang kita jalani. Dibawa ringan, jangan dijadikan beban pikiran. Kuliah itu enak, kerja itu enak, jalan-jalan bertualang itu enak.

Saya hanya ingin hidup sederhana, melakukan apa yang saya suka dan juga berusaha untuk menjadi orang berguna. Saya tidak hanya ingin terfokus kepada kebahagiaan saya sendiri, tetapi juga kebahagiaan orang lain. Salah satu cara yang saya lakukan adalah berbagi cerita di blog ini. Sharing is caring, they said.

Dengan beragam aktivitas yang padat, saya tahu bahwa kesehatan adalah kunci nomor satu agar saya bisa melakukan semua aktivitas tersebut dengan baik. Jadi kalau ditanya apa kunci saya terlihat bugar dan bisa jalan-jalan terus, jawabannya adalah air putih!


Mountoya adalah air mineral dalam kemasan yang enak untuk dibawa bepergian. Berasal dari mata air Cipaniis, Gunung Ciremai, Jawa Barat, Mountoya dikemas dalam botol yang elegan dan ramah lingkungan (tidak memakai label plastik karena label plastik sulit didaur ulang, tidak sama seperti botolnya).

Saya paling suka membawa Mountoya yang berukuran 600 ml ketika traveling. Botolnya ramping, airnya bening dengan botol cantik tanpa label plastik. Kini, Mountoya tidak hanya hadir di Cirebon, tetapi juga di berbagai kota-kota besar di Indonesia. Bisa langsung dikirim ke rumah masing-masing juga lho!


Slogan #LiveSimply yang diusung oleh Mountoya ini mengingatkan saya lagi tentang bagaimana menjalani hidup yang menyenangkan dengan menjadi diri sendiri. Tak perlu takut berbeda dengan yang lain.

For me, live simply is when you can embrace the moment. Do whatever you like, go travel as far as you can. Go for adventure, push your limits. Make fun of yourself, be happy!

Live simply, remain grateful…

Jadi, apa #LiveSimply versi kamu?

Wednesday, March 9, 2016

Merekam Gerhana Matahari Total di Ternate

Wednesday, March 09, 2016 16 Comments

09.45 WIT. Sesaat sebelum gerhana matahari total di Ternate.
Kota Ternate sudah menggeliat dari pagi-pagi sekali, memadati semua titik-titik terbuka yang ada seperti di alun-alun, halaman Kesultanan Ternate, di banteng-benteng dan juga tepi pantai. Mereka menenteng kacamata plastik seperti roll film zaman dulu alias kacamata khusus untuk melihat gerhana matahari total.


Gunung Gamalama dilihat dari Benteng Toluko, tempat kami menunggu Gerhana Matahari Total.
Dari seluruh tempat tersebut, kami memilih Benteng Toluko untuk menyaksikan gerhana matahari total yang berlangung 350 tahun sekali ini. Banyak yang mengira penyebutan satu kali dalam 350 tahun itu terlalu berlebihan karena tahun 1988 pernah terjadi gerhana juga. Ada baiknya teman-teman meriset apa yang membedakan gerhana biasa dan gerhana matahari total. Referensinya bisa teman-teman baca dari artikel yang bersumber dari NASA ini.

Dalam artikel disebutkan bahwa gerhana matahari total di titik yang sama, hanya berlangsung satu kali dalam 375 tahun. Digarisbawahi ya, di titik yang sama. Jadi bukan gerhana mataharinya yang bisa disaksikan 350 / 375 tahun lagi, melainkan gerhana pada titik yang sama. Jika saya dan masyarakat Ternate menyaksikan Gerhana Matahari Total tahun ini, butuh ratusan tahun lagi agar GMT bisa dilihat di Ternate. Mengerti kan maksudnya? Bisa saja 33 tahun lagi akan ada GMT, namun bukan di titik-titik GMT tahun 2016.



Pagi di Ternate. 05.24 Waktu Indonesia Timur.
Dari jadwal yang kami terima, gerhana matahari total akan bisa disaksikan di Ternate pada pukul 09.55 Waktu Indonesia Timur. Agar tidak kehabisan tempat, kami bersiap dari awal, sejak pukul enam pagi. Meski sedikit mengantuk, saya dan teman-teman merasakan excitement yang luar biasa karena akan menyaksikan fenomena langka. Lantas berdoa agar usaha kami untuk pergi jauh ke Ternate akan berbuah baik.

Saya semakin bahagia ketika sedari pagi, cuaca di Ternate biru cerah. Puncak Tidore, Gamalama dan Maitara terlihat dengan sangat jelas dari Benteng Toluko. Orang-orang mulai berdatangan dan ikut memadati Benteng Toluko bersama kami. Beberapa wartawan juga bersiap-siap dengan kamera dan lensa tele mereka.

Ada beberapa tips untuk memotret gerhana matahari total seperti yang dituliskan Yuki, travelmate saya di Ternate. Di hari H, kami berjumpa dengan beberapa fotografer yang punya inovasi filter baru untuk memotret gerhana matahari total seperti piring sterefoam yang dilubangi dan ditempel kaca film. Bahkan ada yang membawa kantong kresek hitam atau kertas rontgen. Saya tidak membawa filter khusus untuk memotret GMT dan akhirnya menempelkan kacamata khusus untuk melihat gerhana matahari, untuk menjadi filter kamera saya. Bayangkan saja kacamata ditempel untuk menjadi filter. Aneh kan? Iya pastinya. Tapi apapun akan dilakukan untuk menghasilkan gambar yang baik.

Pukul 08.43 WIT, lensa saya pertama kali menangkap gerakan bulan yang mulai menutupi matahari. Saya terus memotret meski tidak dengan interval waktu yang sama dan menyaksikan pergerakan bulan, menanti gerhana matahari total.


08.43 WIT
Panas matahari menyengat sekali dan bulir-bulir keringat terus berjatuhan. Tak lupa kami meneguk air yang banyak dan memakai topi agar tidak dehidrasi dan lemas. Benteng Toluko adalah tempat terbuka dan tidak ada tempat untuk berteduh sama sekali.

Bulan terus bergerak menutupi matahari dan sekitar pukul 09.25 WIT, matahari tertutup setengah bagian. Saya terus-terusan melihat layar kamera dan memperhatikan pergerakan bulan. Saya tidak bisa melihat langsung karena terlalu berbahaya untuk mata jika melihat tanpa menggunakan kacamata khusus.


09.14 WIT

09.31 WIB


09.39 WIT
Langit semakin meredup namun masih menyisakan sedikit rona biru. Langit sedikit berawan dan sesekali menutup matahari. Lucunya, setiap awan menutupi matahari, orang-orang berteriak kecewa dan menyoraki awan agar cepat pergi. Betul menjadi hiburan ketika kami sedang berpanas-panasan.
Matahari mulai terlihat segaris saja, sudah menuju Gerhana Matahari Total. Kami semua semakin gugup menanti. Beberapa menit lagi.


09.45 WIT

09.51

GELAP TOTAL!

Saya memberanikan diri untuk mendongak ke atas dan terlihatlah dengan sangat jelas gerhana matahari total. Tak berlama-lama karena saya harus mengabadikan momen 3 menit yang sangat cepat itu. Kalau bengong justru nanti kelewatan momennya.

Sempat panik awalnya karena saya tidak menangkap gerhana lewat lensa saya. Saya bertanya ke Yuki apakah dia bisa menangkap gerhana, dia bilang juga tidak bisa. Raut wajah kami berubah dan sedikit panik. Duh, masa nggak bisa motret Gerhana Matahari Total nya? Sudah jauh-jauh ke Ternate masa nggak dapat foto.

Tahu-tahu Bapak yang di sebelah saya bilang, “Mbak itu filternya dilepas dulu”. Begitu dilepas, baru deh terlihat lingkaran putih di layar kamera. Ah, itu dia gerhana matahari totalnya. Duh jadi malu sama si Bapaknya.




Sambil terus menekan tombol shutter, saya mengedarkan pandangan dan melihat ekspresi orang-orang yang sedang bersorak dan mengarahkan kamera / ponsel mereka ke langit. Ada yang menyebut-nyebut nama Tuhan, mengucap syukur atas kebesaran-Nya. Dalam hati, saya juga mengucapkan yang sama.


Tepat saat Gerhana Matahari Total, orang sibuk dengan kamera atau ponsel, bahkan sekedar melambai ke kamera.

Saat Gerhana Matahari Total. Gelap!
Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia . Saya dan teman-teman blogger dan media diundang untuk menyaksikan Gerhana Matahari Total di Ternate. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaGMT #GMT2016 #GMTTernate #PesonaTernate

Friday, March 4, 2016

Makan dan Ngopi Enak di Pontianak

Friday, March 04, 2016 3 Comments

Pontianak itu katanya juara untuk wisata kuliner. Tiap sudutnya menyajikan pondok makanan yang menggugah selera. Mau cari makanan apa aja ada, seafood, chinese food dan makanan lokal yang tidak kita temukan di tempat lain.

“Butuh 2 minggu buat puasin diri wisata kuliner di Pontianak, Sat”, komentar salah satu teman di facebook ketika saya posting kuliner di Pontianak.

Iya juga sih ya. Saya sampai kebingungan untuk mengikuti saran siapa, berhubung banyak sekali tempat kuliner yang direkomendasikan teman-teman yang sama doyan makan.

Meski tidak sempat mencoba semuanya karena saya cuma dua hari berada di Pontianak, ini beberapa kuliner yang bisa teman-teman coba ;

  •  Kepiting Asap


Duh, saya lemah sama makanan satu ini. Sebanyak apa pun pasti akan saya sikat. Maklum, sebagai anak yang dibesarkan di pesisir, segala jenis makanan laut adalah favorit saya. Pergilah kami ke Pondok Kakap yang ada foto Presiden Jokowi dibingkai besar di dalamnya. Menu utamanya tentu saja Kepiting Asap khas Pontianak.

Kami memilih kepiting jumbo tanpa lihat-lihat harga dulu. Ternyata harga per kilonya Rp 320.000,-. Setelah kepiting dihidangkan dan disantap bersama-sama, barulah kami sadar bahwa ada harga ada rasa. Daging kepiting jumbo ini enak sekali, tebal dan lembut.




Ada juga beberapa menu lainnya seperti ikan bakar, udang, cumi dan berbagai olahan sayuran dan sup. Menurut saya pribadi agak overprice sih harga makanan di Pondok Kakap ini tapi ya mungkin karena namanya sudah sangat terkenal.




Sedikit catatan jika teman-teman makan di sini, kalau mau membayar, telitilah untuk melihat struk bonnya. Kemarin, harga makanan yang harus kami bayarkan mahal sekali sampai membuat kita mengernyit “Memangnya kita makan sebanyak itu ya?”. Setelah dilihat lebih teliti ternyata jumlah pesanan kami di struk jauh lebih banyak dari yang terhidang di meja. Kasir Pondok Kakap sudah meminta maaf atas kesalahan tersebut. Ini hanya sedikit cerita dan saran untuk teman-teman agar lebih teliti dan nggak langsung asal bayar.


  •  Es Krim A Ngi


Pontianak terkenal panas sekali. Wajarlah jika tengah hari, semua orang mencari pemuas dahaga dan jawabannya adalah es krim!


Es Krim A Ngi yang kami coba ini ada di depan sekolah Santo Petrus. Tak ayal orang mengenal Es Krim A Ngi ini dengan nama Es Krim Petrus. Saat kami datang, antriannya sudah mengular dan semua pegawai es krim A Ngi terlihat begitu sibuk melayani pembeli. Yang menjadikan es krim A Ngi ini unik adalah wadahnya berupa batok kelapa muda yang dibelah dua seperti mangkok. Sepertinya model-model macam ini sudah mulai menjamur di Jakarta dan sekitarnya ya. Jauh sebelum itu, A Ngi sudah memakai batok kelapa untuk es krimnya.



Ada beberapa varian rasa yang ditawarkan di Kedai A Ngi yakni Coklat, Strawberry, Durian, Green Tea dan Cempedak. Iya Cempedak! Yang bentuknya mirip buah nangka itu lho. Pernah makan nggak? Rasanya enak!

Selain es krim, di dalam batok kelapa juga ada kacang merah, cincau dan agar-agar. Kenyal-kenyal enak gitu. Kita bisa minta es krimnya digabung, misalkan mau 3 rasa dalam satu batok. Boleh kok. Satu porsi Es Krim A Ngi ini dihargai Rp 20.000,- saja.

  • Choi Pan / Chai Kue


Duh, saya akui ini enak banget. Biasanya, saya mengenal makanan ini dengan nama Choi Pan, sedangkan di Pontianak dikenal dengan nama Chai Kue.


 Meski yang menjual Chai Kue ini tidak memakai nama kedai yang otentik semacam “Pondok Chai Kue” atau “Chai Kue 88” dan sebagainya, rasa Chai Kue di sini memang enak. Oh ya, nama kedainya “Gleam Café”. Namanya kebarat-baratan sekali kan ya? Hehehe.

Chai Kue ini adalah penganan ringan yang terbuat dari tepung beras dan isian bengkuang, sayur dan daging. Di atasnya dioleskan minyak dan bawang putih goreng. Ada chai kue kukus yang disajikan dalam loyang bulat dan chai kue goreng dengan berbagai saus. Untuk chai kue kukus, harganya cuma Rp 1.000,- per biji.



Untuk chai kue goreng ada beberapa jenis; chai kue goreng kriuk-kriuk, chai kue goreng seafood, chai kue goreng ayam, chai kue goreng sapi, chai kue saus tiram, chai kue goreng pedas dan chai kue lada hitam. Harga per porsinya Rp 8.000 – Rp 12.000. Murah tapi enak! Kita bahkan masuk ke dapur untuk melihat pembuatan Chai Kue ini.








  •  Kopi Paraboss


Mampirlah ke Jalan Hijas jika bertandang ke Pontianak karena banyak sekali kedai kopi dan kedai makanan berjeran di kiri-kanan jalan. Salah satu kopi yang saya coba adalah kopi spesial di Warung Kopi Paraboss. Meski harga per cangkirnya hanya Rp 5.000,-  tapi rasanya enak sekali. Kopinya wangi dan waktu dicecap ada sedikit rasa moka. Saya sampai ingin membeli bubuk kopinya tapi tak dibolehkan oleh sang pemilik. Kopi itu memang hanya disajikan untuk diminum langsung di warung.





  •  Pisang Srikaya dan Kopi Susu Utama Rasa


Saya suka pisang, saya suka srikaya. Ketika dua-duanya berpadu, bahagia sekali rasanya. Seperti itulah perasaan saya ketika menyantap Pisang Goreng Sanggau Kapuas yang juga dikenal dengan Pisang Goreng Srikaya. Pisangnya digoreng lalu dipotong kecil-kecil dan diolesi srikaya di atasnya. Manisnya pas! Enak sekali menjadi teman minum kopi. Satu porsinya Rp 10.000,- saja. Tak lupa saya memesan kopi susu enak seharga Rp 6.000,-.





 Andai saya tidak sedang diburu waktu, banyak kuliner yang masih bisa saya cicipi. Sebenarnya sih itu kode untuk kembali ke Pontianak lagi. Siapa yang mau ikut? ;)

Baca juga cerita tentang kuliner di Pontianak versi teman-teman yang lain ;)



Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia . Saya dan teman-teman blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Singkawang. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaSingkawang #PesonaPontianak #PesonaIndonesia

Follow Us @satyawinnie