Menyongsong Gerhana Matahari Total di Jembatan Ampera

Thursday, February 25, 2016


Siapa yang tidak tahu Jembatan Ampera? Jembatan berwarna merah yang menjadi ikon Bumi Sriwijaya atau Kota Pempek, Palembang.

Jembatan Ampera sangat melekat erat di masyarakat karena menjadi penyambung antara dua kawasan di Kota Palembang. Kawasan Hulu Sungai Musi yang lebih sering disebut “Ulu” dan kawasan hilir atau “Ilir”. Jika menanyakan alamat kepada masyarakat Palembang, pasti akan terselip kata “Ulu” dan “Ilir”.

Melihat Palembang sangat akrab dengan sungai, diberikanlah julukan “Venesia Van Sumatera”. Tahu kan Venesia? Kota yang terkenal dengan kanal-kanal indahnya dan  biasa dilalui kano romantis. Jadi di Indonesia tidak hanya Paris Van Java (Bandung) atau Africa Van Java (Baluran). Kita juga punya “Venesia Van Sumatera”.

Malam hari adalah waktu paling favorit untuk menikmati Ampera. Dihiasi lampu berwarna-warni, saya menikmati cahayanya yang berubah-ubah setiap menit. Pantas saja bagian bawah jembatan Ampera dan tepian Sungai Musi yang dekat jembatan  menjadi tempat favorit muda-mudi Palembang untuk memadu kasih. Andai saya ke Palembang membawa pacar, pastinya lebih asyik ya. Hahahaha...


Tahukah kalian bahwa ide pembangunan Jembatan Ampera muncul meski waktu itu DPRD hanya punya modal Rp 30.000,- pada tahun 1956. Tentu saja modal itu terlalu nekat untuk membangun jembatan sebesar itu. Ide untuk membuat jembatan sebenarnya sudah ada sejak ‘Le Cocq de Ville’, walikota Palembang saat itu, memimpin sekitar tahun 1924. Namun ide itu hanya tinggal ide, tidak pernah direalisasikan.

Jembatan Ampera zaman dulu kala bisa diangkat setinggi itu (Sumber Foto)
Barulah pada tahun 1956, masyarakat Palembang, tepatnya para anggota DPRD, Walikota dan Gubernur Sumatera Selatan, mengadakan sidang pleno pembangunan Jembatan Ampera. Dari hasil sidang tersebut, mereka memutuskan untuk mendekati Bung Karno agar mendukung rencana pembangunan jembatan.

Usulan tersebut berbuah manis karena Bung Karno mengabulkan permohonan dan mulai melakukan pembangunan jembatan, dimulai dengan penandatanganan kontrak biaya sebesar USD 4.500.000,- (kurs waktu itu, 1 USD = Rp 200,-) pada tanggal 14 Desember 1961. Barulah April 1962, pembangunan jembatan benar-benar dimulai.

Butuh empat tahun untuk membangun jembatan yang dulunya dinamai Jembatan Bung Karno ini. Nama Bung Karno dijadikan nama jembatan atas dasar rasa terima kasih masyarakat Palembang terhadap beliau, sudah membantuk mewujudkan jembatan impian. Namun sayangnya, jembatan yang sempat menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara ini, harus diganti namanya karena pergolakan politik (gerakan anti-Soekarno) sekitar tahun 1966 menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Jembatan Ampera zaman dulu (Sumber Foto)
Namun, ada juga sumber yang menyatakan lain. Katanya, Bung Karno justru menolak jembatan itu diberikan nama dirinya dan menyarankan untuk memakai nama lain. Terpilihlah ‘Amanat Penderitaan Rakyat’ yang pada masa itu menjadi slogan yang akrab di telinga masyarakat.

Jembatan Ampera memiliki panjang 1.117 meter dengan lebar 22 meter serta tingginya 11,5 meter dari permukaan air. Jarak antara menara merahnya 75 meter dan tinggi menaranya 63 meter dari permukaan tanah.

Saking lebarnya Sungai Musi, dari dulu hingga sekarang, baik kapal kecil maupun kapal besar masih sering melintas. Jadi tak heran jika sepanjang Sungai Musi, kita akan menemukan kapal yang parkir berjejer dan juga “Pom Bensin” apung khusus untuk kapal-kapal.

Dahulunya, Jembatan Ampera ini bisa turun naik lho. Dibangun dengan bantuan dari tenaga ahli Jepang, Jembatan Ampera didesain untuk bisa diangkat di bagian tengah, belakang dan bagian depan jembatan dengan peralatan mekanis. Ada dua bandul pemberat yang ditaruh di di masing-masing menara dengan berat sekitar 500 ton per bandulnya. 

Wah kapal sebesar itu bisa muat lho.... (Sumber Foto)
Tentu saja tujuannya agar kapal-kapal besar yang ingin melintas dari bawah Jembatan Ampera tidak tersangkut. Saat masih beroperasi dengan baik, jembatan yang memiliki berat 944 ton ini diangkat dengan kecepatan 10 meter per menit dan butuh waktu 30 menit untuk mengangkat jembatan penuh. Nah, coba hitung berapa seberapa tinggi jembatan diangkat?

Sayangnya, pada tahun 1970, pengangkatan jembatan ini diberhentikan. Alasannnya karena waktu jembatan diangkat, maka seluruh kendaraan yang akan melintas di jembatan akan berhenti dan menunggu kira-kira satu jam hingga jembatan turun ke posisi semula. Bayangkan macetnya seperti apa? Menunggu kereta melintas saja sudah merasa bosan, apalagi menunggu jembatan dinaikkan dan diturunkan, kan? Berati sudah 46 tahun ya, Jembatan Ampera ini berhenti beroperasi. Padahal waktu itu, masyakarat Palembang pastinya senang sekali melihat proses naik turunnya Jembatan Ampera.

Dikarenakan usia Jembatan ini sudah mencapai 51 tahun dan tingginya arus lalu lintas setiap harinya di atas Jembatan Ampera, dikhawatirkan jembatan ini tidak akan bertahan lama. Oleh karena itu, pemerintah daerah Sumatera Selatan mengajukan usulan agar Jembatan Ampera dijadikan Cagar Budaya dan hanya memperbolehkan kendaraan tanpa mesin yang boleh melintas di atasnya, seperti sepeda dan becak. Atau sekedar tempat bersantai di sore hari sambil berjalan kaki. Wah, itu ide yang bagus sekali ya. Bagaimana menurut kalian?

Dan akhirnya pada tanggal 9 Maret mendatang, untuk pertama kalinya Jembatan Ampera akan ditutup untuk lalu lintas kendaraan. Ide ini datang dari Dinas Pariwisata Sumatera Selatan yang menjadikan Jembatan Ampera sebagai spot untuk menyaksikan fenomena Gerhana Matahari Total di Palembang. Ya, Palembang adalah salah satu dari 12 kota yang dilalui fenomena alam yang berlangsung satu kali dalam 350 tahun ini.

Pastinya seru bisa memotret fenomena alam ini, berlatar belakang Jembatan Ampera yang tersohor itu ya. Kalau tidak bisa memotretnya pun, menonton langsung dari Jembatan Ampera adalah salah satu kegiatan yang sayang untuk dilewatkan. Kapan lagi Jembatan Ampera ditutup?


Yuk nonton Gerhana Matahari Total di Palembang ;)



festival-gerhana-matahari-total-palembang

Perjalanan ini adalah undangan dari Dinas Budaya Pariwisata Sumatera Selatan . Saya dan teman-teman blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Palembang. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaSriwijaya #WonderfulSriwijaya #PesonaPalembang #PesonaIndonesia

You Might Also Like

15 comments

  1. Wuhhh... bagus banget... gerhana matahari total kali ini cuma ada di indonesia...

    Anggialmedia.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Anggi. Iya, berbanggalah kita sebagai orang Indonesia ya. Rencanan mau nonton Gerhana Matahari di mana?

      Delete
  2. Wah tampaknya bakal seru dan rame banget nih pas hari itu ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi Kak Timo! Kamu rencana mau mengejar Gerhana Matahari Total ke mana Kak?

      Delete
  3. Barusan dr palembang tapi ga kemana2, ga ada yg nemenin *tjurhat*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha kok sedih gitu Bang. Padahal Ayuk-ayuk di sana cantik-cantik lho ;)

      Delete
  4. Setuju sekali dengan penutupan jembatan ampera kalau di buat cagar budaya. Terus lalu lintas kendaraan bermesin gimana sat? apa mau bikin jembatan lagi, atau di alihkan?

    ReplyDelete
  5. Ada juga Venesia van Sunda di Kawasan kota Bunga Puncak.

    ReplyDelete
  6. Gak sabaran nunggu momen gerhana matahari nya,
    Berhubung gak bisa ke Palembang, saya lebih memilih menyaksikan momen ini di Luwuk, sulawesi tengah.

    ReplyDelete
  7. mantap mas artikelnya dan salam kenal ya

    ReplyDelete
  8. makasih gan buat infonya dan salam sukses

    ReplyDelete
  9. makasih gan buat infonya dan salam sukses

    ReplyDelete

Subscribe