Bermain Bersama Gajah Gemas di Way Kambas

Wednesday, February 03, 2016

Photo by : Janatan
Tahun baru ini kami rayakan dengan perjalanan seru dari Jakarta menuju Way Kambas. Setelah berkendara sekitar 3 jam dengan motor dari Bandar Lampung, kami tiba juga.

Di gerbang, Bapak-bapak berseragam hijau membagi selebaran yang berisi pemberitahuan bahwa tidak ada lagi atraksi gajah maupun safari gajah.

Saya memandangi kertas itu dengan muka sedih. Tujuan utama saya ke Way Kambas adalah saya ingin ikut aktivitas gajah-gajah itu, ikut mereka mandi, makan, patroli sambil safari. Lalu tiba-tiba dapat pengumuman begitu. Bagaimana nggak sedih ya kan.

Tapi, perjalanan tetap dilanjutkan. Yah minimal bisa bertemu langsung dengan gajah-gajah Sumatera. Taka pa jika memang hanya bisa melihat dari jauh.

Dari pintu gerbang utama Way Kambas kita masih harus berkendara jauh ke pusat konservasi gajah. Kalau jauh saja sih nggak apa-apa asal jalannya mulus. Sayangnya jalannya rusak, berlubang serta berpasir. Pengunjung harus berkendara dengan hati-hati.


Satu yang menghibur saya adalah kupu-kupu kuning yang banyak sekali berterbangan di sepanjang jalan menuju pusat konservasi. Sesekali saya merasa kupu-kupunya menabrak muka. Tentu saja tidak sakit, tapi mood saya menjadi lebih baik karena dihibur oleh kupu-kupu cantik itu.

Dengan lihai Janatan dan Wahyu mengendarai motor dengan lincah di tepian pasir jalan. Itu jauh lebih baik dibandingkan menghantam lubang-lubang berbatu.

Tak lama kami melihat kerumunan dari kejauhan. Pengunjung Way Kambas hari itu banyak sekali. Riuh bunyi pedagang yang menjual balon dan mainan serta celotehan anak-anak menunjukkan banyaknya keluarga yang mengajak anak kecil piknik ke Way Kambas.

Setelah memarkirkan motor, kami berjalan mencari petugas TNWK yang bisa kami tanyai bagaimana cara menjumpai gajah-gajah yang tidak terlihat di manapun. Ini kan Pusat Konservasi, kok gajahnya nggak ada?

Kami cari cari petugasnya tetapi hasilnya nihil. Akhirnya ada seorang Bapak yang memberitahu kami kalau gajah-gajahnya sedang dilepas ke hutan. Jadi tidak ada di kandangnya. Setiap pagi mereka dibawa ke hutan dan begitu sore, mereka digiring pulang ke kandang oleh pawang.



Bapak itu juga membenarkan bahwa tidak ada lagi atraksi atau safari gajah di Way Kambas.

“Ya begitu Mbak, karena sudah tidak ada atraksi gajah, nggak ada biaya yang dipungut dari orang-orang yang datang. Mau lihat apa mereka. Kasihan banyak yang kecewa sudah jauh-jauh datang tapi nggak bisa lihat gajah” ujar si Bapak.

Katanya, gajah-gajah akan pulang sore hari ke kandang. Saat itu jam masih menunjukkan pukul 10 pagi. Kami akhirnya bersepakat untuk menunggu gajah-gajah pulang sampai sore. Ya masa balik ke Bandar Lampung. Sia-sia dong kalau ke Way Kambas tapi nggak ketemu gajahnya.

Kami lalu mencari tempat yang agak sepi untuk beristhirahat dan makan cemilan. Tentunya harus jauh dari keramaian. Setelah berjalan sedikit, kami merebahkan diri di rumput, di bawah pohon besar yang rindang. Dari kejauhan terdengar suara gajah “ngrrghhhhh” begitu terus-terusan. Pasti mereka sedang senang tuh bermain di hutan dan makan rumput sepuasnya.

Photo by : Wahyu
Tak lama, seorang Bapak dengan motor bebek berhenti di depan kami, menanyakan kami dari mana. Ternyata beliau adalah seorang pawang gajah. Pak Sodiq namanya. Beliau sudah 16 tahun menjadi pawang gajah di Way Kambas lho.


Cukup lama kami berbincang tentang perubahan kebijakan Taman Nasional Way Kambas, termasuk dihentikannya atraksi dan safari gajah.

“Yang saya dengar, sementara dihentikan karena alur pemasukan dan keuntungannya belum jelas. Biar nggak ada korupsi Mbak” ujar Pak Sodiq.

“Terus kita nggak bisa jalan-jalan atau ikut beraktivitas sama gajahnya lagi dong Pak?” tanyaku.
“Sementara ini memang tidak bisa sambil menunggu kebijakan baru. Tapi pengunjung tetap bisa lihat gajah dan foto bersama sore hari pas gajahnya digiring pulang”, lanjut Pak Sodiq.





Pak Sodiq juga bercerita bahwa dia bertugas untuk menggiring gajah dari kandang mereka ke hutan untuk dilepaskan. Setelah selesai, beliau akan melakukan aktivitas lain sampai tiba sore hari untuk menjemput gajah-gajah untuk mandi dan pulang lagi ke kandang. Begitu setiap hari selama 16 tahun. Hebat sekali!

Taman Nasional Way Kambas ini pertama kali pada tahun 1937 oleh Belanda dan merupakan Taman Nasional tertua di Indonesia. Way Kambas adalah pusat konservasi gajah atau yang dikenal dengan ‘Sekolah Gajah’. Sudah ada 300 gajah yang sudah lulus dari sekolah gajah Way Kambas. Semuanya adalah gajah jinak karena sudah terlatih. Ada gajah yang memang berkembang biak di TNWK dan ada juga gajah yang terluka di hutan bebas ditemukan warga dan ditaruh di konservasi gajah ini. Saya juga baru tahu bahwa ada rumah sakit gajah di Way Kambas yang digadang-gadang sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, tetapi melihat bentuknya, saya tidak yakin.

Photo by : Janatan
Maraknya perburuan gading gajah adalah penyebab utamanya populasi gajah Sumatera terus menyusut. Pak Sodiq mengiyakan hal ini. Beliau bercerita bahwa beberapa waktu lalu ada tiga gajah yang mati diburu di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, yang tidak jauh dari Way Kambas. Padahal gajah-gajah itu dipinjamkan TNWK ke TNBBS. Salah satunya adalah Yongky, gajah yang popular karena muncul di video klip Tulus yang berjudul “Gajah”.

“Sekarang pemburu sudah nggak kenal takut. Mereka berani untuk berburu gajah siang hari. Saya sering mendengar bunyi letusan, tapi ya namanya juga pencuri, susah sekali dicari” ujar Pak Sodiq.
Beliau juga lanjut bercerita tentang ketidakberdayaan mereka sebagai pawang untuk melindungi gajah-gajah di Lampung. Para pencuri itu memakai senapan canggih dan memang cerdik mengelabui para petugas di TNWKS.

Shame on you, elephant hunters! May your soul burn in hell… L

Begitu sore tiba, kami melihat rombongan gajah mulai mendekat bersama pawang masing-masing. Pak Sodiq juga terlihat dengan empat gajah, dua besar dan dua kecil. Beliau membolehkan kami untuk berfoto dengan gajah-gajah lucu itu, Khardijah, Yeti, Dita, Joni. Yang paling tua adalah Khardijah, 38 tahun dan yang termuda adalah Yeti, 7 bulan.


Terdapat tali-tali di leher mereka dan rantai yang menggabungkan mereka berempat. Gajah-gajah ini berjalan beriringan dipandu Pak Sodiq. Gemas melihat mereka yang terus-terusan berhenti untuk makan rumput. Mungkin belum puas seharian makan.

Ada alasan mengapa gajah-gajah ini dirantai. Kekurangan SDM pawang adalah salah satu alasannya. Satu pawang bisa membawa dua sampai empat gajah. Untuk memudahkan pergerakan, mereka lalu dirantai beriringan. Namun begitu mereka sudah tiba di kandang masing-masing, rantainya dilepaskan.

Pak Sodiq menggiring gajah-gajah ke kolam pemandian gajah dengan posisi gajah masih dirantai satu sama lain. Lucu sebenarnya melihat Yeti, gajah yang paling kecil tenggelam seluruh tubuhnya di air dan hanya belalai kecil menyembul di permukaan. Kedalaman kolamnya sekitar 3 meter. Dengan cekatan, Pak Sodiq menggosok-gosok kulit gajah yang penuh dengan tanah.



Ya, gajah ternyata suka sekali menaburkan tanah ke badannya untuk mengademkan diri. Jika diperhatikan seksama, di mata mereka terlihat ada bekas aliran air mata. Mereka tidak menangis melainkan memang karena kepanasan sehingga air itu secara alami mengalir dari mata mereka.

Sehabis mandi, Pak Sodiq mengajak kami untuk memberikan susu kepada Yeti, si gajah cilik berusia 7 bulan itu. Yeti adalah gajah yang ditemukan di hutan bebas, terluka karena jerat pemburu. Ibunya entah kemana sehingga Yeti sebatang kara. Masyarakat membawa Yeti ke TNWK untuk dirawat dan Pak Sodiq menjadikan Khardijah menjadi Ibu Susu. Yeti harus tetap berada di dekat gajah betina dewasa untuk membantu dia bertumbuh sehat fisik dan mentalnya.

Setiap hari, Yeti minum enam liter susu formula yang dikocok di botol dot besar. Makin-makinlah saya gemas melihat Yeti dengan rakusnya ngedot botolnya dan tidak mau didekati. Mungkin dia merasa saya mau mengambil susunya. Lucu banget!

Photo by : Wahyu


Pak Sodiq lalu menggiring gajahnya pulang ke kandang. Beliau menawarkan salah satu dari kami untuk naik ke punggung gajah sebentar. Dina terlihat girang sekali dan segera naik ke punggung Khardijah. Tak lupa dia langsung selfie dan update di snapchat-nya. Kami terkikik geli melihat tingkahnya yang lucu sekali.


Melihat muka mupeng saya, Pak Sodiq akhirnya menawarkan saya dan Janatan juga untuk naik ke punggung gajah. Bukan Khardijah, tetapi Leo. Meski hanya lima menit, saya senang sekali! Terima kasihhhhhhhh…


Janatan juga sempat mencoba motor trail teman-teman motocross Lampung yang sedang main di sana. Ternyata kawasan Way Kambas ini punya rute untuk motocross. Wah! Boleh tuh menjajal treknya di kunjungan berikutnya.


Sampai jumpa gajah-gajah gemas Way Kambas.

Terima kasih untuk perayaan tahun baru yang menyenangkan.

You Might Also Like

6 comments

  1. Wah nampaknya seru juga ya! Jadi kalau mau lihat gajah mesti sore ya datangnya :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kak Timo. Atau sekalian bisa kemping di sana aja ;)

      Delete
  2. Hi Winny, blognya bantu bgt :) baru tahu kalau Way Kambas engga ada atraksi lagi. Kira-kira sorenya jam brp ya Gajah balik dari hutan? Rencana mau trip kesana bulan Mei :)

    ReplyDelete
  3. wah seru banget ! aku mau deh kesana. tapi mesti di planning baik-baik karena pasti malem banget pulang dari way kambas nya. Btw kalo kemping mesti ijin kemana ?

    ReplyDelete
  4. Wadduh mbak, beneran ga ada safari gajah lagi? ga bisa keliling hutan sama gajah dong? itu mulai berlaku per bulan apa mbak? :(

    ReplyDelete
  5. Halo mba winnie. Saya sedang browsing info ttg way kambas dan akhirnya berlabuh disini. Seru sekali ceritanya bisa bermain2 dg gajah, terlebih anak gajah yang menggemaskan. Mba winnie, save kontaknya pak sodiq tidak? sepertinya seru ikutan jemput mereka di hutan sampai memandikannya. Kalau langsung datang kesana takutnya tdk bisa bertemu pawang dan tdk bertemu gajah2nya. Kalau ngesave dan berkenan utk dishare. Terimakasih

    Salam,
    Kukuh Dwi

    ReplyDelete

Subscribe