Monday, February 29, 2016

Cerita dan Sketsa di Klenteng Kwan Im Kiung Singkawang

Monday, February 29, 2016 8 Comments
Vihara Budi Dharma / Kwan Im Kiung / Kwan Im Tang / Kwan Im Tong
  ( Sketched by : Vira Indohoy)
Bau hio dan bau hujan yang membasahi aspal, mengiringi kami memasuki kuil besar yang terlihat mencolok di antara bangunan-bangunan ruko (rumah toko) di Kota Singkawang.

Di depan kuil dibangun satu tenda pesta berwarna merah untuk melindungi barang-barang sajian untuk perayaan Cap Go Meh keesokan hari. Ada keranjang berisi buah-buahan, patung-patung berwarna emas yang dikemas dalam kotak kaca dan diberi pita merah serta lilin besar dengan aksara cina.


Semua orang tampak sibuk mempersiapkan perayaan terbesar di Singkawang itu. Lebih meriah daripada perayaan tahun baru Imlek-nya sendiri. Layaknya perempuan, kuil-kuil dipoles, didandani agar cantik dan menarik. Tak terkecuali Vihara Budhi Dharma atau yang dikenal dengan nama Vihara Kwan Im Kiung. Kuil ini belum ada setahun diresmikan alias baru dibangun. Pantaslah megah sekali.


“Datang dari mana Mbak?”, ujar seorang lelaki yang melihat saya asyik dengan kamera di depan klenteng.

“Dari Jakarta Pak”, balas saya.

“Wah, mau nonton Cap Go Meh ya. Setiap Cap Go Meh memang banyak turis di Singkawang”, ujar Bapak itu lagi.

Saya mengangguk dan berujar bahwa saya tidak datang sendiri melainkan bersama beberapa teman.
“Akhirnya impian saya terkabul buat nonton Cap Go Meh di Singkawang Pak, biasanya saya nonton di Bogor”, kata saya lagi.

“Segitu terkenalnya ya kota kami ini”, celoteh si Bapak sambil terkekeh.

“Klenteng ini cantik sekali ya detilnya. Bapak tahu siapa arsiteknya?” tanya saya.

“Namanya tidak ingat, tapi yang bikin ini orang Jawa. Mereka kalau bikin klenteng memang detil sekali”, jawab si Bapak.

Wah yang buat orang Jawa toh. Awalnya saya mengira orang Bali karena keahlian mereka dalam memahat tidak perlu diragukan lagi.

Saya lalu pamit untuk masuk ke dalam Klenteng. Siapa pun pasti terkagum dengan setiap detil yang ada di tangga, tiang, langit-langit, jendela, dinding, ah semuanya cantik. Beberapa lampion ditambahkan di sudut-sudut kuil untuk menambah semarak perayaan tahun baru Imlek dan Cap Go Meh.

I love every details of this temple...

Dewi Kwan Im di Altar Utama



Vihara Budi Dharma nan megah ini juga dikenal dengan nama Vihara Kwan Im Kiung / Kwan Im Tong oleh masyarakat Singkawang. Vihara ini dibangun oleh pengusaha sukses, Bapak Djong Siaw Khiang, Putra asli Singkawang yang tinggal di Jakarta. Meski tidak sempat bertemu langsung dengan beliau, saya mendapatkan ceritanya oleh seorang teman seperjalanan yang mengunjungi klenteng ini tepat sebelum kami datang ke sana. Ah, mereka sungguh beruntung bisa bertemu dan bercerita langsung dengan Bapak Djong Siaw Khiang.

Every corners just Instagramable! In frame : Sefin
Saat saya dan Sefin sedang asyik berkeliling klenteng yang cantik ini, Ka Vira asyik duduk di bangku plastik di depan klenteng dan berkutat dengan buku sketsanya. She’s so talented! I envy her, in positive way. Saya mengagumi semua orang yang bisa menggambar dengan bagus. Rasanya menyenangkan memperhatikan Kak Vira yang menggoreskan pulpennya di atas buku sketsa.

Kak Vira and her skecth book...

Ngegambar sambil diliatin Kokoh-Kokoh...

Hasil sketsa oleh Kak Vira. Bagus banget ya?
Silahkan baca cerita Cap Go Meh versi Kak Vira di "Cap Go Meh in Singkawang, A Parade of The Possessed"
Selain memperhatikan Kak Vira asyik dengan sketsa, saya juga melihat orang lalu-lalang di vihara. Ada yang membawa hio dan berdoa. Ada juga yang meletakkan kantung kresek berisi telur atau jeruk kunci di depan kuil kecil. Saya lupa untuk bertanya apa maksud dari kantung kresek tersebut. Apakah itu persembahan resmi? Ah entahlah. Apakah kalian tahu?



Simbok Venus sempat bercerita tentang perjumpaannya dengan Bapak Djong Siaw Khiang di akun Instagramnya.

Percakapan yang membuat Simbok dan saya yang membacanya, terhenyak.

“Kenapa Bapak mau ngeluarin milyaran rupiah buat bikin klenteng?” tanya Simbok.

“Kita lahir tidak membawa apa-apa, mati pun tidak membawa apa-apa”, jawab Bapak Djong singkat.

Ah, terima kasih Pak, sudah mengingatkan kami.

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia . Saya dan teman-teman blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Singkawang. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaSingkawang #PesonaPontianak #PesonaIndonesia


Kuliner Khas Singkawang yang Bikin Lidah Bergoyang

Monday, February 29, 2016 33 Comments


Ngomong-ngomong tentang plesiran ke suatu tempat, mencicipi kuliner khas agaknya wajib masuk dalam rencana perjalanan. Iya nggak sih?

Kan sayang ya kalau ditanya sama teman, “Eh, kamu pernah ke kota ini kan? Makanan yang enak apa saja?”. Lah ya bingung jawabnya kalau belum mencicipi sendiri toh.

Kunjungan saya dan teman-teman ke Kota Singkawang beberapa waktu silam dipenuhi dengan makan, makan dan makan. Kota yang dijuluki ‘Kota Seribu Klenteng’ atau ‘Kota Amoy’ ini punya ragam kuliner lezat yang sayang untuk dilewatkan.

  •  Bubur Paddas


“Beneran pedas nggak?” tanya seorang teman yang melihat saya menyantap bubur berwarna keabu-abuan ini (biasanya kan bubur warna putih ya).  Buat saya yang penyuka pedas, bubur ini tidak ada pedas-pedasnya, tidak seperti namanya. Malahan rasanya gurih dan sedikit asam karena perasan ‘jeruk asam’ atau ‘jeruk kecil’.

Bubur ini dicampur dengan kaldu, jagung, pakis, kangkung, toge, dan ditaburi kacang tanah dan ikan teri. Paduan rasa asam dari jeruk dan asin dari ikan teri inilah yang membuat bubur ini terasa gurih. Penampilan Bubur Paddas agak sedikit mirip dengan Bubur Tinutuan khas Manado karena banyak sayurannya tapi rasanya jauh berbeda.

Tidak terlalu banyak kedai yang menjual Bubur Paddas karena memang ini menu khas rumahan. Kami sempat mencoba di Rumah Makan Benareh di samping Bank Mandiri Singkawang. Kami santaplah Bubur Paddas dengan Es Shanghai yang besar dan segar. Nyam nyam nyam… Cocok untuk udara Kota Singkawang yang panas.




  •  Mie Tiaw Asu


Waktu saya mengunggah foto Mie Tiaw Asu ini di akun sosmed saya, banyak yang bilang ngiler namun juga mempertanyakan apakah Mie Tiaw ini halal atau tidak. Pertanyaan yang wajar sekali karena Singkawang ini didominasi kuliner Tionghoa alias non-halal. Tapi tenang saja, Mie Tiaw Asu ini halal kok karena kita bisa lihat  Asu (Paman) memasak langsung Mie nya di bagian depan kedai.


Kami juga mampir ke tempat ini karena saran driver kami yang juga seorang Muslim. Dia dengan yakin bilang Mie Tiaw ini halal. Kami pun tancap santap Mie Tiaw yang kata Bang Rio (driver kami) paling enak di kota Singkawang.

Dapurnya ada di bagian depan sehingga saat masuk, kami bukannya duduk melainkan memperhatikan Asu memasak Mie Tiaw yang wanginya membuat air liur menetes.

Bentuk Mie Tiaw ini berbeda dengan mie atau kwetiau, berwarna kuning, tidak terlalu tipis tekstur mie-nya. Ditaburi toge yang melimpah (orang Singkawang suka banget sama toge), Mie Tiaw yang masih mengebul panas dikucuri dengan perasan jeruk kunci, siap untuk disantap. Rasanya? Bingung mendeskripsikannya karena buat saya Mie Tiaw ini enak banget! Mie Tiaw Asu ini ada di Jalan Yos Sudarso. Coba saja tanya orang lokal Singkawang, pasti mereka tahu.



  • Bubur Gunting


Agaknya Singkawang ini juga bisa dapat julukan ‘Kota Bubur’, sangking banyaknya varian bubur yang bisa kita santap (masih ada bubur-bubur berikutnya). Salah satu favorit kami adalah Bubur Gunting, bubur yang terdiri dari kacang hijau yang sudah dikupas, dicampur dengan air gula, tepung kanji yang kental, daun pandan dan cakwe kering yang digunting kecil-kecil. Cakwe yang digunting inilah yang membuat kuliner ini dikenal dengan nama ‘Bubur Gunting’.



Tidak ada kedai khusus yang menjual Bubur Gunting. Pun kami menemukan bubur ini dijual di gerobak kecil yang ada di tepi jalan, di bawah pohon besar. Bubur Gunting biasanya disantap untuk makan pagi. Jadi kita bisa menjumpainya dari jam 8 pagi hingga 12 siang.



  •  Bubur Tahu


Nah! Bubur lagi kan!. Saya sebagai pecinta tahu, langsung senang sekali begitu mencicipi bubur tahu. Yang pertama menemukannya adalah Sefin, sewaktu kami blusukan ke Pasar Turi (pasar tradisional di Singkawang) pagi hari. Tekstur tahunya benar-benar lembut, disiram dengan rebusan jahe yang hangat. Enak banget disantap pagi-pagi. Sama seperti Bubur Gunting, Bubur Tahu ini disantap untuk sarapan sehingga kita tidak akan bisa menemukannya di atas jam 10 pagi. Lokasi gerobak Bubur Tahu ini ada di depan kedai Bubur Babi Aloy. Tanya saja pada orang lokal, mereka pasti tahu dimana bubur tahu!



  •  Mie Kering Haji Aman


Buat yang pengin menyantap Bakmi yang pasti halal, cobain Mie Kering Haji Aman aja. Jelas-jelas dari judulnya sudah terbukti makanan yang dijual, halal. Meski baru dibuka tahun 2010, Mie Kering Haji Aman ini menjadi favorit masyarakat Singkawang.



Kami mencicipi Bakmi Spesial yang terdiri dari Bakmi Kering, bakso sapi, daging sapi, potongan daging ayam, tahu, toge, cakwe, dan suwiran telur dadar. Harga satu porsinya Rp 25.000,- saja. Untuk Bakmi biasa, harganya berkisar Rp 13.000,- sampai dengan Rp 18.000,-. Bersahabat di kantong kan?


Jika tidak terlalu suka kering, disajikan semangkok kuah kaldu yang lezat untuk disiram ke atas Bakmi Kering. Buat saya, kering atau basah sama saja enaknya!


  •  Bubur Babi


Kalau yang ini jelas-jelas makanan non-halal ya dari judulnya. Saya dengan berbinar-binar memasuki kedai Bubur Babi Aloy yang ada di Pasar Turi. Riuh orang-orang berbicara dalam bahasa Tionghoa, membuktikan tempat ini juga menjadi tempat favorit masyarakat lokal untuk sarapan pagi.


Yang membuat saya makin kegirangan adalah Bubur Babi ini disajikan dengan telur setengah matang. Porsinya besar dan dihargai Rp 18.000,- saja per mangkuknya. Karena saya masih ingin mencicipi makanan yang lain, saya mengurungkan untuk menyantap dua mangkok untuk memberikan ruang kepada perut saya (tapi minta telornya ditambah dua, hehehe). Ada banyak kedai Bubur Babi di Singkawang. Salah satu yang favorit katanya Bubur Babi Ajie, namun belum sempat saya cicipi. Ini sebenarnya adalah kode untuk kembali lagi ke Singkawang ya.

  •  Rujak Ebi


Pecinta rujak pasti senang mencicipi Rujak Ebi ini. Tidak terlalu berbeda dengan rujak pada umumnya, hanya ditambahkan serutan ebi kering di atasnya. Rasanya jadi gurih. Enak disantap di siang hari yang terik!



  •  Bakso 68


Ini dia yang tidak sempat kami cicipi karena antriannya ampun. Maklum, saat weekend dan Festival Cap Go Meh di Singkawang, tempat ini padat sekali. Saat kami datang, sudah banyak orang yang mengantri di depan kedai. Teman saya yang sudah pernah kesana tahun lalu mengatakan dia menunggu selama 1 jam untuk mendapatkan tempat duduk dan 1 jam untuk menunggu hingga hidangannya datang. Wah, memang terkenal sekali ya. Jadi, meski saya tidak sempat mencicipi, saya tetap memasukkan Bakso 68 ini ke daftar kuliner yang wajib dicoba di Singkawang. Beritahu saya nanti bagaimana rasanya ya, beneran enak atau tidak.



  •  Choi Pan


Hmmmm, kalau kuliner yang satu ini, banyak ditemui di setiap pojok Kota Singkawang. Choi Pan yang lezat juga bisa kita temui di Pontianak. Makanan satu ini terbuat dari tepung beras yang diisi dengan bengkuang yang diiris tipis dicampur dengan udang, ayam, ikan atau babi. Di atasnya ditaburkan bawang putih yang digoreng. Lezat sekali disantap saat baru selesai dikukus. Nyam!



  •  Limun Khas Singkawang


Bukan makanan tapi minuman. Minuman bukan sembarang minuman. Ini Limun, Bung!

Saya serasa kembali ke masa SD ketika masih sangat mudah menemukan limun aneka rasa di depan gerbang sekolah. Senang sekali ketika saya menemukannya di Singkawang, tepatnya di Kedai Mie Tiaw Asu. Masih dikemas dalam botol kaca, limun khas Singkawang ini tersedia dalam tiga rasa, Jeruk, Pisang Ambon dan Sarsaparila. Cukup membayar Rp 9.000,- kita bisa membeli limun dengan botolnya. Kalau nggak pakai botol, harganya Rp 8.500,-. Beda Rp 500,- saja!


  • Es Nona


Selain Limun dan Es Shanghai, jajanan es yang saya suka adalah Es Nona yang dijual memakai gerobak oleh seorang Paman yang ceria. Waktu itu kami sedang menyusuri toko-toko di ruas jalan Singkawang. Ketika kami kegerahan dan ingin minum yang segar, si Paman gerobak Es Nona ini lewat. Pucuk di cinta, ulam pun tiba.

Satu gelas Es Nona ini dihargai Rp 10.000,-. Isinya tape, pacar cina, roti, susu kental manis. Enak! 

Credit Photo : Teh Nita Sellya

Ragam makanan dan minuman yang saya ceritakan di atas, dijamin membuat lidah bergoyang. Rasa yang memanja. Saya tidak sabar untuk kembali lagi ke Singkawang untuk mencicipi kuliner-kuliner lain yang belum sempat dicoba.

Ada yang pernah ke Singkawang? Kuliner apa lagi ya yang patut dicoba? Tulis di kolom komentar di bawah ya.

Sila dibaca juga review tentang kuliner Singkawang dari teman-teman seperjalanan saya ;

1. Simbok Venus "Icip-Icip Kuliner Singkawang"

2. Teh Nita Sellya "Makan Apa di Singkawang?"

3. Rere "Cari Kenyang di Singkawang"

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia . Saya dan teman-teman blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Singkawang. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaSingkawang #PesonaPontianak #PesonaIndonesia


Thursday, February 25, 2016

Menyongsong Gerhana Matahari Total di Jembatan Ampera

Thursday, February 25, 2016 13 Comments

Siapa yang tidak tahu Jembatan Ampera? Jembatan berwarna merah yang menjadi ikon Bumi Sriwijaya atau Kota Pempek, Palembang.

Jembatan Ampera sangat melekat erat di masyarakat karena menjadi penyambung antara dua kawasan di Kota Palembang. Kawasan Hulu Sungai Musi yang lebih sering disebut “Ulu” dan kawasan hilir atau “Ilir”. Jika menanyakan alamat kepada masyarakat Palembang, pasti akan terselip kata “Ulu” dan “Ilir”.

Melihat Palembang sangat akrab dengan sungai, diberikanlah julukan “Venesia Van Sumatera”. Tahu kan Venesia? Kota yang terkenal dengan kanal-kanal indahnya dan  biasa dilalui kano romantis. Jadi di Indonesia tidak hanya Paris Van Java (Bandung) atau Africa Van Java (Baluran). Kita juga punya “Venesia Van Sumatera”.

Malam hari adalah waktu paling favorit untuk menikmati Ampera. Dihiasi lampu berwarna-warni, saya menikmati cahayanya yang berubah-ubah setiap menit. Pantas saja bagian bawah jembatan Ampera dan tepian Sungai Musi yang dekat jembatan  menjadi tempat favorit muda-mudi Palembang untuk memadu kasih. Andai saya ke Palembang membawa pacar, pastinya lebih asyik ya. Hahahaha...


Tahukah kalian bahwa ide pembangunan Jembatan Ampera muncul meski waktu itu DPRD hanya punya modal Rp 30.000,- pada tahun 1956. Tentu saja modal itu terlalu nekat untuk membangun jembatan sebesar itu. Ide untuk membuat jembatan sebenarnya sudah ada sejak ‘Le Cocq de Ville’, walikota Palembang saat itu, memimpin sekitar tahun 1924. Namun ide itu hanya tinggal ide, tidak pernah direalisasikan.

Jembatan Ampera zaman dulu kala bisa diangkat setinggi itu (Sumber Foto)
Barulah pada tahun 1956, masyarakat Palembang, tepatnya para anggota DPRD, Walikota dan Gubernur Sumatera Selatan, mengadakan sidang pleno pembangunan Jembatan Ampera. Dari hasil sidang tersebut, mereka memutuskan untuk mendekati Bung Karno agar mendukung rencana pembangunan jembatan.

Usulan tersebut berbuah manis karena Bung Karno mengabulkan permohonan dan mulai melakukan pembangunan jembatan, dimulai dengan penandatanganan kontrak biaya sebesar USD 4.500.000,- (kurs waktu itu, 1 USD = Rp 200,-) pada tanggal 14 Desember 1961. Barulah April 1962, pembangunan jembatan benar-benar dimulai.

Butuh empat tahun untuk membangun jembatan yang dulunya dinamai Jembatan Bung Karno ini. Nama Bung Karno dijadikan nama jembatan atas dasar rasa terima kasih masyarakat Palembang terhadap beliau, sudah membantuk mewujudkan jembatan impian. Namun sayangnya, jembatan yang sempat menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara ini, harus diganti namanya karena pergolakan politik (gerakan anti-Soekarno) sekitar tahun 1966 menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Jembatan Ampera zaman dulu (Sumber Foto)
Namun, ada juga sumber yang menyatakan lain. Katanya, Bung Karno justru menolak jembatan itu diberikan nama dirinya dan menyarankan untuk memakai nama lain. Terpilihlah ‘Amanat Penderitaan Rakyat’ yang pada masa itu menjadi slogan yang akrab di telinga masyarakat.

Jembatan Ampera memiliki panjang 1.117 meter dengan lebar 22 meter serta tingginya 11,5 meter dari permukaan air. Jarak antara menara merahnya 75 meter dan tinggi menaranya 63 meter dari permukaan tanah.

Saking lebarnya Sungai Musi, dari dulu hingga sekarang, baik kapal kecil maupun kapal besar masih sering melintas. Jadi tak heran jika sepanjang Sungai Musi, kita akan menemukan kapal yang parkir berjejer dan juga “Pom Bensin” apung khusus untuk kapal-kapal.

Dahulunya, Jembatan Ampera ini bisa turun naik lho. Dibangun dengan bantuan dari tenaga ahli Jepang, Jembatan Ampera didesain untuk bisa diangkat di bagian tengah, belakang dan bagian depan jembatan dengan peralatan mekanis. Ada dua bandul pemberat yang ditaruh di di masing-masing menara dengan berat sekitar 500 ton per bandulnya. 

Wah kapal sebesar itu bisa muat lho.... (Sumber Foto)
Tentu saja tujuannya agar kapal-kapal besar yang ingin melintas dari bawah Jembatan Ampera tidak tersangkut. Saat masih beroperasi dengan baik, jembatan yang memiliki berat 944 ton ini diangkat dengan kecepatan 10 meter per menit dan butuh waktu 30 menit untuk mengangkat jembatan penuh. Nah, coba hitung berapa seberapa tinggi jembatan diangkat?

Sayangnya, pada tahun 1970, pengangkatan jembatan ini diberhentikan. Alasannnya karena waktu jembatan diangkat, maka seluruh kendaraan yang akan melintas di jembatan akan berhenti dan menunggu kira-kira satu jam hingga jembatan turun ke posisi semula. Bayangkan macetnya seperti apa? Menunggu kereta melintas saja sudah merasa bosan, apalagi menunggu jembatan dinaikkan dan diturunkan, kan? Berati sudah 46 tahun ya, Jembatan Ampera ini berhenti beroperasi. Padahal waktu itu, masyakarat Palembang pastinya senang sekali melihat proses naik turunnya Jembatan Ampera.

Dikarenakan usia Jembatan ini sudah mencapai 51 tahun dan tingginya arus lalu lintas setiap harinya di atas Jembatan Ampera, dikhawatirkan jembatan ini tidak akan bertahan lama. Oleh karena itu, pemerintah daerah Sumatera Selatan mengajukan usulan agar Jembatan Ampera dijadikan Cagar Budaya dan hanya memperbolehkan kendaraan tanpa mesin yang boleh melintas di atasnya, seperti sepeda dan becak. Atau sekedar tempat bersantai di sore hari sambil berjalan kaki. Wah, itu ide yang bagus sekali ya. Bagaimana menurut kalian?

Dan akhirnya pada tanggal 9 Maret mendatang, untuk pertama kalinya Jembatan Ampera akan ditutup untuk lalu lintas kendaraan. Ide ini datang dari Dinas Pariwisata Sumatera Selatan yang menjadikan Jembatan Ampera sebagai spot untuk menyaksikan fenomena Gerhana Matahari Total di Palembang. Ya, Palembang adalah salah satu dari 12 kota yang dilalui fenomena alam yang berlangsung satu kali dalam 350 tahun ini.

Pastinya seru bisa memotret fenomena alam ini, berlatar belakang Jembatan Ampera yang tersohor itu ya. Kalau tidak bisa memotretnya pun, menonton langsung dari Jembatan Ampera adalah salah satu kegiatan yang sayang untuk dilewatkan. Kapan lagi Jembatan Ampera ditutup?


Yuk nonton Gerhana Matahari Total di Palembang ;)



festival-gerhana-matahari-total-palembang

Perjalanan ini adalah undangan dari Dinas Budaya Pariwisata Sumatera Selatan . Saya dan teman-teman blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Palembang. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaSriwijaya #WonderfulSriwijaya #PesonaPalembang #PesonaIndonesia

Menyambut Parade Cap Go Meh di Singkawang

Thursday, February 25, 2016 1 Comments


Menjelang perayaan Cap Go Meh 2016, kota pecinan yang tersohor di Kalimantan Barat, Singkawang, menggeliat. 

Di tahun 2016, Tuhan mengabulkan doa saya untuk bisa menyaksikan Festival Cap Go Meh langsung di Singkawang. Setiap tahun, saya tidak pernah absen menghadiri festival ini tapi biasanya Cap Go Meh-an di Bogor. Ingin sekali lihat kemeriahan festival Cap Go Meh di Singkawang tapi selalu terbentur waktu dan dana. 

Siapa sangka tahun ini saya beruntung diundang untuk melihat langsung parade Cap Go Meh di Singkawang. Aihhh Mak, senang betul!

Perayaan puncak Cap Go Meh akan dilangsungkan tanggal 22 Februari 2016 alias hari ini. Dimulai jam 5 pagi nanti, wisatawan domestik dan mancanegara akan berduyun-duyun memenuhi jalur parade Cap Go Meh. Wow! Dari jam 5 pagiiii!

"Iya Mbak, biasanya festival baru dimulai jam 5 pagi setelah adzan sholat subuh selesai. Memang begitu dari dulu", ujar Bang Erwin, pemandu kami di Singkawang. 

Apa sih yang membuat Singkawang begitu terkenal padahal Cap Go Meh dirayakan oleh seluruh warga Tionghoa di dunia? 

Jawabannya adalah parade "Tatung", orang-orang yang melakukan aksi debus. Itu dia yang dinanti-nanti. Alasan hotel-hotel di sekitar Singkawang (bahkan Pontinak yang 3 jam perjalanan jauhnya) habis dibooking sejak 1 tahun sebelumnya. 


Para "tatung" atau penampil debus ternyata tidak sembarangan. Mereka dipercaya sebagai orang-orang yang terpilih untuk melakukan ritual yang membahayakan nyawa. Namun karena mereka dirasuki roh, mereka menjadi kebal dan tidak kesakitan sama sekali. 

Malam sebelum Cap Go Meh adalah malam paling hidup di Kota Singkawang. Seluruh gerbang klenteng dibuka dan bau dupa menyeruak ke setiap sudut kota. Persiapan ritual "tatung" sudah dimulai. 

Kami berjalan kaki melewati Ta Pe Kong, klenteng tertua di Singkawang yang di depannya ramai orang lalu lalang. 

Tak terasa sudah jam 3 pagi namun kota masih ramai dengan para pendoa. Sebentar lagi jam lima. Mari isthirahat sejenak sebelum menyaksikan langsung parade "Tatung".


Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia . Saya dan teman-teman blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Singkawang. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaSingkawang #PesonaPontianak #PesonaIndonesia


Tuesday, February 16, 2016

Launching Iklan Pesona Indonesia di Bioskop

Tuesday, February 16, 2016 0 Comments
Photo by : Wira Nurmansyah
Pak Menteri Pariwisata Indonesia, Ir Arief Yahya yang datang dengan kemeja putih berlogo Pesona Indonesia di dada kiri, terlihat sumringah menyapa kami dan awak media yang sudah hadir di Cinemaxxx, f(X) Senayan Jakarta.

Didampingi Pevita Pearce, Melody - Haruka - Kinal JKT48, Andien dan Marcella Zalianty, Pak Arief membuka acara launching iklan pariwisata "Pesona Indonesia". Sudah lihat iklan-iklan pendeknya di TV atau banner di CommuterLine kan? Nah, sekarang iklannya ada di bioskop. Strategi yang baik untuk mengenalkan potensi pariwisata Indonesia kepada masyarakat kita sendiri dan semoga seiring dengan bertumbuhnya cinta kita pada keragaman pesona dan budaya Indonesia.

Photo by : Wira Nurmansyah
Ada 3 TVC yang diluncurkan yaitu "Ini Cara Kita", "Wonderful Indonesia" dan TVC pendek 15 destinasi Pesona Indonesia. Tema yang diangkat untuk tvc tahun ini adalah adventure, business, family and love. ((love))

TVC ini akan ditayangkan di 55 bioskop yang tersebar di 14 kota antara lain Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, Bali, Batam, Medan, Palembang dan Makassar.

Photo by : Wira Nurmansyah
Kementerian Pariwisata sendiri meluncurkan branding '"Pesona Indonesia" sejak Januari 2015 lalu sebagai padanan "Wonderful Indonesia" untuk promosi luar Negeri. Branding berbahasa Indonesia itu juga dibuat karena tuntutan nasionalisme serta memperkuat nilai agar mudah melekat di masyarakat. Kata "pesona" dalam branding tersebut diadaptasi dari "Sapta Pesona" yang telah dijalankan sebelumnya. 7 nilai yang terkandung dari Sapta Pesona meliputi aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan.

Foto by : Wira Nurmansyah
Nah, bersiap ya untuk menyaksikan keindahan Indonesia (meskipun baru secuilnya saja) di bioskop-bioskop kesayangan kamu ;)  

Kampung Al-Munawar, Rekam Jejak Arab di Palembang

Tuesday, February 16, 2016 16 Comments
Photo by : +Swastika Nohara 
Mengunjungi kampung adat atau kampung budaya selalu menggairahkan untuk saya. Di kunjungan ke Palembang bersama tim Pesona Indonesia kali ini, saya beruntung diajak mengenal kebudayaan masyarakat di Kampung Al-Munawar atau yang sering disebut Kampong Arab. Letaknya yang berada di daerah 13 Ulu sering membuat kampung ini disebut dengan nama lain Kampong 13 Ulu atau Kampong Arab 13 Ulu.



Di Palembang, kita pasti akan sering mendengar istilah nama daerah Ulu dan Ilir. Katanya, Jembatan Ampera itu adalah titik tengahnya, jadi setengah bagian Palembang disebut ‘Ulu’ untuk bagian hulu Sungai Musi dan ‘Ilir’ untuk bagian hilir sungai.

Saat itu Jumat siang, kampong terlihat sepi karena para pria sedang pergi ke Masjid untuk menjalankan ibadah sholat Jumat dan para perempuan ada di dalam rumah. Kami lalu duduk di halaman rumah, menghalau matahari yang terik.


Kuarahkan pandangan ke sekeliling lapangan yang sepertinya menjadi pusat Kampung Al Munawar dan memperhatikan bentuk-bentuk rumah. Ada yang berbentuk rumah limas, rumah adat Sumatera Selatan. Ada juga rumah yang kental dengan sentuhan Timur Tengah dan Eropa. Kita bisa melihat rumah dengan pintu tinggi berlantai marmer dan ukiran-ukiran kayu di bagian atas rumah.


Terasa kan sentuhan Eropa-nya?
Ada delapan rumah yang ada di Kampung Al Munawar berusia lebih dari 250 tahun. Wow! Sudah tua sekali dan sampai sekarang masih kokoh berdiri. Tidak terlihat dari penampakan depan rumahnya yang dicat putih bercampur hijau, ungu dan merah jambu. Rumah itu sudah tidak terkesan “tua” lagi. Andai kata rumah itu dicat dengan warna yang lebih kalem seperti coklat kayu, mungkin lebih enak dipandang mata dan kesan tua-nya masih melekat. Eh tapi kalau coklat doang, nggak Instagramable dong ya? Hehehehe…


Tak ayal rumah-rumah kayu ini masih berdiri meski sudah berselang ratusan tahun sejak dibangun. Ternyata rahasianya adalah kayu yang dipakai adalah kayu Ulin (kayu Unglen disebutnya dalam bahasa Palembang). Begitu pula dengan lantai marmernya yang cantik sekali, didatangkan langsung dari Italia, katanya.

Untuk memasuki perkampungan ini, kita akan melintasi jalan kecil atau bisa disebut gang yang bisa dilewati satu mobil. Sangat disayangkan tidak ada gapura ala-ala yang menunjukkan bahwa pengunjung memasuki Kampung Wisata Arab, padahal jika ada pastinya menarik sekali.

Meski tak ada gapura, dari bagian depan gang, sudah terlihat banyak spot / sudut untuk mengambil potret yang bagus. So Instagramable! Mulai dari dinding kayu tua, jendela kayu besar yang terbuka, lorong kecil itu dengan langit biru di atasnya.

Gedung tua bekas hunian yang kini menjadi Madrasah Ibtidaiyah.
Kampung Al Munawar merupakan Kampung pemukiman Arab pertama di Palembang, terletak di tepian Sungai Musi yang sering kali disebut “Laot” atau laut oleh masyarakat. Mungkin karena begitu lebarnya Sungai Musi itu ya.

Habib Abdurrahman Al Munawar adalah tokoh yang dihormati, dan juga menjadi asal muasal nama kampung ini. Beliau adalah salah satu tokoh yang menyebarkan agama Islam mula-mula di kawasan ini.

Ada sekitar 30 kepala keluarga (kira-kira 300 penduduk) yang mendiami Kampung Al Munawar. Mereka semua mempunyai tali darah persaudaraan karena aturan yang tidak membolehkan mereka untuk menikah dengan orang di luar kampung. Namun aturan itu hanya berlaku untuk para perempuannya saja. Para pria tetap boleh menikahi perempuan di luar kampung namun tetap saja darah Arabnya masih kental dari garis keturunan Ayah.

Jika kalian berkunjung kesana, berasa nggak lagi di Indonesia karena bertemu dengan wajah-wajah yang Arab banget dengan hidung mancung, wajah tampan rupawan. Para wanitanya pun tak kalah cantik meski bebeberapa mengenakan cadar. Tampak mata saja mereka sudah sangat mempesona, bagaimana jika tampak semuanya ya?

Sayangnya para perempuannya malu-malu saat diajak berfoto bersama. Malah satu gambol anak kecil bernama Bagir, Nizom, Maliki dan Ridho yang senaaaaaaaang sekali difoto. Bahkan karena saya sempat mengambil video untuk snapchat-an (live video) dari Kampung Al Munawar, mereka mendekat dan berkata “Ayo, rekam lagi Ayuk (panggilan untuk kakak perempuan)”. Adegan yang paling mereka suka adalah adegan bersin. Semuanya bermula saat saya bersin besar sekali (oh ya kalau yang sudah pernah ketemu langsung dengan saya pasti tahu kalau saya bersin, pohon mungkin bisa roboh, hahahaha). Jadilah mereka Cuma mau adegan itu aja, gak mau diajak foto manis.

Difoto juga posenya mau bersin ajah...
Seru-seruaaaaann :D
Mereka berpakaian baju rumah dan membawa yoyo. Ketika saya tanya kenapa mereka tidak sekolah, katanya sekolahnya sedang libur. Lho ini kan hari Jumat, saya bingung. Eh ternyata di Kampung Al Munawar ini, sekolah diliburkan di hari Jumat tetapi hari Minggu tetap masuk. Wah, unik sekali. Pendidikan Agama memang sudah ditanamkan sejak dini di kampung Al-Munawar, tepatnya di Madrasah Ibtidaiyah Al-Kautsar (setara Sekolah Dasar). Sayangnya karena sekolah libur, kami jadi tidak bisa melihat bagian dalam sekolah padahal saya tertarik sekali.

Ketika para lelaki sudah kembali dari masjid, kami diundang masuk ke rumah oleh Ami (dalam bahasa Arab artinya Paman dari garis keturunan Ayah). Ternyata hidangan di atas kain sudah tersedia. Ada beragam menu yang wanginya menggugah selera.



Ummi yang memasakkan makanan menjelaskan bahwa yang terhidang adalah hidangan yang biasanya disajikan saat “munggahan” atau acara perkawinan. Ada Nasi Minyak sebagai menu utama yang lalu disantap dengan beberapa lauk yaitu Kari Kambing, Ayam Gulai, Selado, Sambal dan Acar Nanas. Nggak butuh lama, semua piring-piring itu tandas. Eh buset ini semua pasukan pada lapar dan gragas.

Photo by : Sutiknyo Lostpacker

Photo by : Sutiknyo Lostpacker

Eh tapi jangan lupa untuk cuci tangan sebelum makan ya. Tidak perlu jauh-jauh ke kamar mandi untuk cuci tangan karena di samping hidangan sudah tersedia teko berwarna perak untuk cuci tangan.


Selain menu “munggahan”, Ummi juga menyediakan kopi khas Palembang (yang terkenal dengan merek “Sendok Mas”) di teko kecil berwarna emas dan dituang ke gelas sloki kecil. Kopinya harum dan enak banget. Katanya sih itu pengaruh teko mas kecil itu. Hahaha. Saking enaknya, kami menanyakan dimana bisa membeli kopi itu dan menitipkan kepada teman untuk membelikannya di Pasar Cinde. Hore!


Perut masih terasa begah (kebanyakan makan sih) sewaktu kami diajak untuk pindah ke rumah sebelah dan menyaksikan ‘Gambus’, salah satu seni tradisional dari Arab. Rebana ditabuh bertalu-talu, diiringi petikan gitar khas, menghasilkan alunan musik Timur Tengah. Lalu masuklah dua orang Bapak yang dengan kompak menari, mengikuti irama music yang semakin lama semakin bersemangat. Tampak beberapa kali mereka saling pandang dan tertawa. Ah, ingin sekali saya bergabung namun tak boleh. Tarian ini hanya dibawakan oleh para pria. Meski begitu, badan saya tak tahan ikut bergoyang-goyang kecil sambil merekam tarian mereka.

Penabuh rebana

Ami

Ruangan tua dengan dinding kusam itu seketika berubah menjadi ballroom mewah dengan tari-tarian gembira di dalam imajinasi, alunan rebana memberi semangat, lirik Arab meski tidak saya mengerti namun mampu menjadi penghangat hati.


Semoga dengan segala pesona yang dimiliki, Kampung Al Munawar ini akan mendunia ya. Rekam sejarah dan budaya, penduduk yang ramah serta jamuan lezatnya pasti bisa menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Tentu saja perlu peran saya, peran kamu dan peran kita untuk mengenalkannya kepada dunia ya ;)

Foto keluarga besar dulu ya.

Dinding dan jendela ini Instagramable banget kan? ;) Taken by : +Firsta DYI 

Tips ke Kampung Al Munawar :

  • Untuk mencapai Kampung Al Munawar ini bisa via darat dan sungai. Untuk via darat, bisa naik angkutan umum berwarna biru dari Tangga Takat atau dari Pasar 7 Ulu atau 10 Ulu (dekat jembatan Ampera).
  • Jika teman-teman memilih untuk ke Kampung Al Munawar via sungai, bisa naik perahu dari Benteng Kuto Besak ke tepian Kampung langsung.
  • Jika teman-teman butuh local guide untuk kesana bisa kontak Pak Latief di 0813-7333-2436.


Beberapa cerita lainnya tentang Kampung Al Munawar :




Gerhana Matahari Total di Palembang akan diadakan pada tanggal 9 Maret 2016 mendatang. Pesan tiket ke Palembang sekarang dan jangan lewatkan fenomena alam yang terjadi satu kali dalam 350 tahun ini.




Perjalanan ini adalah undangan dari Dinas Budaya Pariwisata Sumatera Selatan . Saya dan teman-teman blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Palembang. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaSriwijaya #WonderfulSriwijaya #PesonaPalembang #PesonaIndonesia

Follow Us @satyawinnie