Menjelajah Sabang, Titik Nol Kilometer Indonesia

Wednesday, January 06, 2016


Sabang itu santai banget. Akronim yang awalnya berawal dari celetukan Om Bolang, menjadi slogan perjalanan kami menjelajah Pulau Weh, salah satu pulau di titik paling utara Indonesia.

Pulau Weh adalah pulau paling besar dari beberapa pulau yang ada di sisi utara Provinsi Aceh. Ada lagi beberapa pulau lain seperti Pulau Klah, Pulau Rondo, Pulau Rubiah dan Pulau Seulako. Kebanyakan orang mengira Pulau Weh adalah titik terluar paling utara meski sebenarnya Pulau Rondo lah yang menjadi pulau terluar ditilik dari segi geografisnya.


Transportasi dari Banda Aceh untuk menuju Sabang ada dua yakni transportasi udara dan transportasi laut. Kami memilih naik kapal cepat dari Pelabuhan Ulee Lheue ke Pelabuhan Balohan, Sabang, dengan waktu tempuh kurang lebih 45 menit. Ada juga kapal ferry dengan waktu tempuh sekitar 1.5 jam.

Harga tiket kapal cepat bervariasi sesuai kelas kapal. Kelas eksekutif / VIP Rp 60.000,- untuk dewasa dan Rp 48.000,- untuk anak. Kelas bisnis Rp 49.000,- untuk dewasa dan Rp 38.000,- untuk anak. Kelas ekonomi Rp 27.000,- untuk dewasa dan Rp 17.000,- untuk anak. Harga yang bersahabat di kantong kan?

Lelah menempuh perjalanan sekitar 22 jam dari Pulau Banyak, Aceh Singkil membuat saya langsung terlelap begitu menghempaskan badan ke kursi kapal. Rasanya baru sebentar sekali tertidur ketika kapal berbunyi lagi, pertanda akan segera merapat ke pelabuhan.

Cuaca mendung ketika berangkat dari Banda Aceh membuat saya tidak mau berkekspetasi tinggi bahwa cuaca akan cerah di Sabang. Apalagi kami datang di bulan Desember, musim penghujan. Jikalau hujan terus ya nasib, pasrah saja.

Tak disangka-sangka, begitu keluar kapal, matahari begitu terik dengan awan kapas menggantung di langit biru cerah. Wah! Mestakung! Semesta mendukung, kami gembira luar biasa.

Begitu menginjakkan kaki di pelabuhan, saya langsung terpana dengan air lautnya yang biru bening. Tidak ada sampah sama sekali. Sambutan yang menyenangkan bukan?

Di pintu gerbang keluar, mata saya langsung terpaku pada seorang lelaki besar, kekar, berkepala botak dan memakai celak (eyeliner) hitam di bawah mata, berkalung rantai dan memakai cincin batu akik besar di semua jari (semua jari). Awalnya saya kira Abang ini preman pelabuhan. Tak lama, si Abang datang menghampiri rombongan kami dan tersenyum lebar sekali.

Lah, ternyata dia Local Guide kami di Sabang. Another surprise! Hahahaha…


Kami berjabat tangan dan dengan ramah si Abang memperkenalkan dirinya.

“Halo, saya Effendi. Kita naik mobil dan ke penginapan dulu ya” ujarnya.

Tanpa babibu, kami naik ke mobil yang sudah disiapkan dan bergerak menuju penginapan kami selama 2 hari ke depan, Anoi Itam.

Penginapan Anoi Itam ini adalah resort di tepi pantai yang berpasir hitam. Tak ayal tempat ini disebut warga lokal dengan nama Anoi Itam (pasir hitam). Jika cuaca sedang bagus, kita bisa melihat matahari terbit dari sini.

Kamar yang kami tempati adalah Family Room dengan 1 Twin Bed dan 1 Single Bed. Kamarnya luas dilengkapi dengan AC, toilet duduk, hot shower. Recommended! Tarif per malamnya sekitar Rp 700.000,- per night. Meski tidak ada free wi-fi, penginapan kami menjual voucher wi-fi id seharga Rp 5.000,- untuk pemakaian selama 12 jam. Sinyal internetnya cukup stabil dan kencang kok.

Makanan-makanan yang disajikan di Penginapan Anoi Itam juga enak-enak. Makan siang yang sudah disiapkan untuk kami, tandas seketika. Ibu yang memasak di dapur memang jago!

Cuaca yang cerah membuat kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu! Bang Effendi langsung mengajak kami bergegas untuk berjalan-jalan menuju beberapa tempat menarik di Sabang. Apa saja?

  • Graffiti Stadion Sabang – Merauke

Ini tempat favorit di kota yang instagram-able menurutku. Beneran keren! Graffiti hasil kreasi anak-anak Sabang asli. Begitu kental kesan patriotisme yang ditunjukkan di setiap graffiti. Kesan bahwa Aceh adalah daerah penuh konflik langsung sirna. Aceh masih bagian utuh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.



  • Bunker Jepang

Sayang sekali bunker ini sedikit terbengkalai dan terletak di ujung pantai sepi yang jarang dilewatin orang. Masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan nama Pantai Tapak Gajah. Bunker ini dibuat sekitar tahun 1942 yang dilengkapi dengan meriam 180 derajat. Sayangnya meriamnya sudh dipindahkan dan yang tersisa hanya bangunan dengan coretan vandalisme. Sayang sekali.


  • Danau Aneuk Laot

Danaunya memang tidak terlalu luas tapi tetap menjadi salah satu tempat favorit masyarakat Sabang untuk bersantai dan memancing. Datanglah sore-sore ke Danau yang arti namanya Anak Laut ini untuk bersantai. Mau coba hal yang seru? Ikutan mancing deh.



  •  Bukit Labu

Bukit Labu ini adalah tempat untuk menikmati kota Sabang dari atas. Tempatnya tidak terlalu tinggi dan mudah diakses dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.



  •  Pantai Gapang

Pantai yang relatif sepi ini enak banget buat bersantai. Dengan banyak warung serta penginapan yang berjejer rapi di sepanjang pantai, tempat ini juga bisa menjadi alternative teman-teman yang ingin bersantai tidak jauh dari tempat menginap.
Serunya, di pantai ini kita bisa berayun-ayun dengan ban bekas besar yang beralih fungsi menjadi ayunan. Swing swing swing…



  • Pantai Sumur Tiga

Pantai ini jadi favoritku untuk leyeh-leyeh. Pasir halus dengan laut biru jernih jadi daya tarik utama Pantai Sumur Tiga ini. Kamu tahu kenapa tempat ini dinamakan Pantai Sumur Tiga? Karena ada sumur yang lokasinya tepat di tepi pantai ini namun airnya tawar. Lho kok bisa? Ya itu keunikannya. Bang Effendi mengajak kami untuk langsung menimba air dan mencicipi airnya dan benar airnya tawar dan segar.






  • Sabang Hill

Sebeanarnya ini lokasi penginapan namun tenar juga sebagai objek wisata, tempat kita bersantai menikmati pemandangan sebagian kecil kota Sabang. Kita juga menjumpai beberapa keluarga kera di sini. Meski terlihat jinak dan diam, sebaiknya tidak usah didekati dan memakai barang-barang mencolok yang berkilau ya karena akan menarik perhatian para monyet.


  • Pantai Iboih & Pulau Rubiah

Kalau ditanya lokasi mana yang paling asyik untuk menikmati pemandangan bawah lautnya Sabang, ya Iboih dan Rubiah jawabannya. Bagi penggemar snorkelling dan diving, kalian bisa menyewa boat dengan harga Rp 100.000 – 300.000 untuk berkeliling ke beberapa titik penyelaman dan snorkelling. Spot yang terkenal di sini itu karang batik dan spot mobil (ada dua mobil yang ditenggelamkan khusus untuk atraksi bawah laut). Sayang sekali karena air lautnya sedang keruh dan banyak ubur-ubur merah, kami tidak bisa snorkelling ke spot mobil itu. Nanti mau cerita lebih banyak tentang snorkelling seru di Sabang di postingan berikutnya ya.


  • Monumen Kilometer Nol

Nggak lengkap kalau berkunjung ke Sabang tanpa berfoto di monumen ini katanya. Jadilah kita menyempatkan diri melihat monument ini dan ternyata sedang dalam proses renovasi. Nantinya akan ada menara pandang. Wihhh, makin bagus ya!


  • Keliling Kota Sabang

Saya pribadi menyukai sekali kota Sabang ini. Kota kecil penuh dengan pepohonan rindang, ditinggali oleh orang-orang yang ramah. Meski menjunjung tinggi syariat Islam, kota ini sangat ramah kepada pendatang yang non-Muslim seperti saya. Asalkan sama-sama mengerti dan menghargai ya. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan pastinya berpakaian sopan jika sedang di darat dan tempat umum. Kalau mau memakai baju renang ya begitu nyebur ke laut saja. Balik ke pantai sebaiknya pakai baju sopan lagi. Toleransi J



Kita juga sempat mencicipi kuliner-kuliner lezat di Pulau Sabang. Apa saja ya? Silahkan baca di Kuliner Lezat di Sabang yang Wajib Dicoba.

Hal-hal seru apa yang bisa kita lakukan saat bertandang ke Sabang? Tunggu blogpost berikutnya yaaaa.

Perjalanan ini adalah undangan dari Dinas Budaya Pariwisata Aceh . Saya dan teman-teman media serta blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Sabang, Aceh. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaWeh #PesonaSabang #PesonaAceh #PesonaIndonesia







You Might Also Like

7 comments

  1. jadi, kapan balik lagi ke sabang kak? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti balik sama Suami Bang. Kalau sama Pacar nggak deh. Hahahaha. :p

      Delete
  2. Hai mba Sat.. mau tanya,blh di share contact nya pak effendi kah? terima kasih, selamat malam :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh Winni, aku share kontaknya ya... 0813-2158-1881 atau kalau kamu butuh rekomendasi operator lain yang bagus, ada @keliling_aceh dengan Pak Hasbie Azhari, 085260618428

      Delete
  3. Ngebayangin 22 jam perjalanan nya bikin aku lelah ...
    Kmrn aja kuala namu - singkil sekitar 8 jam bikin pantat gw tepos hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ih tapi kan kamu lebih berpengalaman waktu Road Trip Sulawesi dan Kalimantan lalu Kacum :*

      Delete

Subscribe