Kampung Bena dan Secangkir Kopi Bajawa

Thursday, January 28, 2016


Apakah kalian percaya bahwa setiap kita memiliki niat baik dalam perjalanan, niscaya perjalanan kalian diberkati, dilancarkan, dimudahkan?

Saya percaya.

Itu modal saya untuk ketika bepergian ke tempat asing. Percaya saja semua akan baik-baik saja. Walaupun kadang kita mengalami kebalikannya, tak selamanya hal buruk itu buruk kan?

Beberapa waktu lalu, saya menjelajah beberapa daerah di Pulau Flores dan mendatangi satu tempat yang ingin saya kunjungi yaitu Kampung Adat Bena. Kampung yang tersohor dengan bebatuan megalitikum dan terkenal juga sebagai penghasil kopi terbaik di Flores, kopi Bajawa.

Pagi itu saya sedang dalam perjalanan dari Riung menuju ke Ruteng, tempat terakhir sebelum saya trekking ke Wae Rebo keesokannya. Saya harus menempuh perjalanan selama empat jam dari Riung ke Bajawa dengan naik mobil travel. Rencananya, dari Bajawa, saya akan melanjutkan perjalanan ke Ruteng.

Jalan menuju Bena dari Bajawa.
 Travel yang akan mengantarkan saya ke Ruteng baru berangkat pukul dua siang, sehingga saya punya waktu kosong sekitar 3 jam di Bajawa. Asyik! Itu artinya saya punya waktu cukup untuk menyambangi Kampung Adat Bena yang terletak tidak jauh dari pusat kota Bajawa. Padahal meski awalnya saya kepengen banget ke Bena, saya sempat mengira saya tak punya cukup waktu dan mengikhlaskan Bena untuk dikunjungi pada trip ke Flores berikutnya.

Bang Dus, supir travel Riung - Bajawa yang saya tumpangi tadi pagi menanyakan tujuan saya di Flores. Begitu saya bercerita ingin ke Kampung Bena, dia langsung antusias bercerita bahwa dia punya sanak keluarga yang sudah lama tidak  dikunjungi. Bang Dus lalu bertanya apakah aku mau diantarkan ke Kampung Bena sambil dia berkunjung ke keluarganya? Tentu saja boleh Bang! Dengan sangat senang hati.

Perjalanan dari Bajawa menuju Bena melewati hutan-hutan dengan Gunung Inerie mengintip di kejauhan terasa menyenangkan. Angan-angan saya terbang membayangkan berdiri di puncak Gunung Inerie yang begitu cantik, gunung Ibu, gunung pelindung Bajawa. Suatu hari nanti ya, satu waktu ya Ibu Inerie, kita pasti bersua.

Gunung Inerie yang cantik sekalie...
Bang Dus memarkirkan mobilnya dan mengajak saya berjalan kaki menuju pintu masuk kampung Bena. Kampung ini memanjang dari utara ke selatan. Pintu masuk ada di sebelah utara karena di bagian selatan adalah tebing terjal yang tidak bisa dilewati.

Pintu masuk ke Kampung Bena
Ciri khas dari Kampung Bena ini adalah Nga’du dan Bhaga, dua bangunan simbol leluhur Kampung Bena yang ada di pekarangan. Nga’du yang berbentuk payung adalah simbol leluhur laki-laki dan Bhaga yang berbentuk rumah kecil adalah simbol leluhur perempuan.

Setelah mengisi daftar buku tamu dan memberi sumbangan sekedarnya (tidak ada biaya tiket masuk resmi), Bang Dus dan saya berjalan terus ke selatan dan berhenti di depan rumah paling pojok sebelah kanan. Tampak seorang Ibu tua yang sedang menenun di teras rumah tersenyum lebar menyambut Bang Dus dan memanggil anak gadisnya yang ada di dalam.

Sebelum masuk kampung, isi buku tamu dulu dan beri sumbangan seikhlasnya...
Saya lepaskan sepatu dan menyalami Mama Yuli dan anak gadisnya, Kak Vina. Saya dipersilahkan duduk di teras rumah dan tak lama kemudian terhidang empat gelas kopi Bajawa untuk saya, Bang Dus serta Papa Paulus dan Bang Poli yang baru keluar dari rumah dan ikut bergabung duduk di teras.
Awalnya saya kikuk karena mereka bercakap-cakap dengan bahasa lokal. Saya seruput kopi Bajawa yang wangi itu sambil tersenyum-senyum memerhatikan mereka.

Tahu-tahu Mama Yuli memanggilku untuk mendekat dan memberikan setangkup sirih untuk aku makan.

“Air kunyahan pertamanya dibuang ya. Baru setelahnya boleh kamu makan” ujar Mama dalam bahasa lokal yang diterjemahkan Bang Dus.

Ah, saya suka sekali dengan sirih. Mirip dengan beberapa daerah di Indonesia, pemberian sirih merupakan pernghormatan sang empunya rumah kepada tamu dan begitu juga sebaliknya. Saya merasa diterima dengan hangat sekali.

Jika kamu tidak suka sirih, kunyah saja, telan sedikit demi sedikit lalu dibuang. Tak harus berlama-lama, yang penting kita sudah menunjukkan rasa hormat kepada tuan rumah. Kalau saya sih, ngunyah terus sampai gigi berubah warna jadi merah.

Kampung Bena terletak di kaki Gunung Inerie (2.245 mdpl) sehingga udaranya sejuk meski matahari tepat di atas kepala. Udara yang sejuk itu juga yang membuat penduduk Kampung Bena, terutama Ibu-Ibu, senang menghabiskan duduk di teras, entah itu menenun atau memintal benang. Sedangkan para Bapak biasanya bekerja ke ladang.

Coba tebak ini biji apa?

Benang yang akan dipakai untuk menenun.

Nenek dan cucu bercengkerama di teras rumah.
Penduduk di Kampung Bena juga percaya kepada Dewa Zeta, dewa pelindung desa yang berdiam di Gunung Inerie. Itulah mengapa mereka sangat menghormati gunung ini dan para leluhurnya.

Yang juga membuat saya tertarik dengan Kampung Bena adalah batu-batu megalitikum dan  ‘Batu Nabe’. Batu Nabe adalah tumpukan batu-batu  dimana terdapat makam para leluhur Kampung Bena di bawahnya. Di kompleks ‘Batu Nabe’ inilah sesaji diletakkan saat ingin berkomunikasi dengan leluhur saat upacara adat.

Ada sekitar 45 rumah yang ada di Kampung Bena dengan ciri khas masing-masing di bagian depan rumah. Ciri khasnya adalah tanduk kerbau, rahang dan taring babi sebagai lambang status sosial keluarga. Rumah yang ada patung yang memegang parang dan lembing di atapnya adalah rumah lelaki dinamakan ‘Sakalobo’. Sedangkan rumah perempuan dinamakan ‘Sakapu’u’.


“Di Bena ada sembilan suku, Khopa, Ago, Ngada, Deru Solamae, Deru Lalulewa, Wahto, Dizi dan Dizi Azi. Kami semua hidup berdampingan dengan damai di sini” ujar Papa Paulus masih dengan bahasa lokal yang diterjemahkan Bang Dus. Keluarga Papa Paulus sendiri berasal dari suku Ago.

Sembilan suku yang mendiami Kampung Bena memiliki rumah masing-masing dan berbeda-beda tingkatannya. Oleh karena itu ada sembilan tingkatan dari utara ke selatan dan juga sembilan pasang Nga’du dan Bhaga.

Setiap ada upacara adat satu suku, suku-suku yang lain dengan senang hati membantu dan ikut bersuka ria. ‘Kisanatapat’ adalah nama tempat untuk mengadakan upacara adat di Kampung Bena.
Sambil masih menikmati kopi di teras rumah, Papa Paulus dan Bang Poli bercerita tentang pengalaman mereka berkali-kali menginjakkan kaki di puncak Gunung Inerie.

“Bagus sekali melihat matahari terbit dari atas sana. Satya nanti harus kembali kesini dan kita naik sama-sama” ujar Bang Poli.

Tentu saja tawaran itu saya sambut dengan riang. Saya berjanji kembali lagi ke Kampung Bena dan melihat matahari terbit dari puncak Inerie.

Sambil mengobrol, Mama Yuli masih asyik dengan kain tenun yang sedang dikerjakan. Beliau bercerita tentang motif tenun yang khas dari Bena yaitu Nga’du, Bhaga, gunung dan kuda. Motif-motif ini dikreasikan dengan benang warna-warni dan jadilah kain tenun Bena yang cantik.

Kak Vina, saya, Mama Yuli

Bang Poli, Bang Dus dan Papa Paulus
Kain-kain tenun cantik ini dipajang di teras rumah, digantung di bilah-bilah bambu. Jadi ketika ada wisatawan melintas dan tertarik, bisa langsung melakukan transaksi dengan si empunya rumah, empunya tenun.

Harga yang ditawarkan cukup bersahabat di kantong. Untuk satu lembar kain tenun berukuran besar sekitar Rp. 300.000,- hingga jutaan rupiah. Untuk kain tenun berukuran kecil, kisaran harganya Rp 75.000,- hingga Rp 200.000,-.

Menenun menjadi aktivitas sehari-hari wanita di Kampung Bena.
Saya sebenarnya tertarik dengan semua tenun-tenun ikat itu. Ingin sekali beli semuanya.

Sayangnya…

Saya nggak punya duit…

Uang yang saya bawa sudah pas sekali untuk transportasi dan akomodasi trip Wae Rebo beberapa hari ke depan. Maklum, saya memang tipe orang yang jalan dengan budget minim dan sebisa mungkin nggak belanja oleh-oleh macam-macam. Selain karena tasnya gak muat nampung oleh-oleh, duitnya nggak ada. Mau bilang apa? Hahahaha…

Saya minta izin sebentar untuk berkeliling Kampung Bena sambil Bang Dus bercengkerama asyik dengan keluarganya. Saya pergi ke tingkat paling atas di Kampung Bena dan menemukan gua kecil berisi patung Bunda Maria. Tempat ini adalah tempat berdoa bagi masyarakat Bena yang seluruhnya beragama Katolik. Saya salut bahwa sudah memeluk agama yang diakui Negara, masyarakat di Bena tetap memegang teguh adat dan tradisi dari leluhur mereka. 

Goa Maria yang ada di puncak Kampung Bena.
Dari atas, kita bisa melihat jelas seluruh rumah-rumah di Kampung Bena dan lembahan kaki Gunung Inerie dengan puncak kerucutnya yang menggoda.



Setelah mengambil beberapa potret kampung, saya kembali ke rumah dan bertemu 3 anak kecil yang tersenyum malu-malu melihat saya tapi meminta gula-gula (permen). Saya memang selalu membawa permen di dalam tas dan saya berikan kepada mereka. Tidak banyak-banyak kok. Wajah mereka bertiga yang tadi malu-malu berubah menjadi ceria dan mengulum permen dengan bahagia.

Anak-anak lucu Kampung Bena. Cium kangen buat kalian :*
Saat masih asyik bermain bersama tiga anak kecil lucu, Nancy, Viola dan Lalon, saya dipanggil oleh Bang Dus dan mengingatkan agar kami segera kembali ke Bajawa agar tidak ketinggalan travel ke Ruteng.

Saya menyalami Papa Paulus dan Mama Yuli yang dibalas dengan kecupan di pipi kanan dan kiri.

“Mulai sekarang, rumah ini rumahnya Satya juga. Datang lagi ke sini ya Nak” ucap Mama Yuli.

Janji Ma, saya pasti kembali lagi.

See you when I see you, Bena…



---

Cara Menuju Kampung Bena :

1.  Terbang dengan pesawat ke Labuan Bajo, lalu naik travel ke Bajawa selama kurang lebih 8 jam. Di Bajawa bisa sewa motor dan mobil ke Bena. (Kontak Bang Dus, Travel Bajawa 0812-38256903 )

2.   Terbang dengan pesawat ke Ende (transit Kupang) lalu naik travel ke Bajawa sekitar 5 jam. Di Bajawa bisa sewa motor dan mobil ke Bena.





You Might Also Like

10 comments

  1. Cantiknya Gunung Inirie, kapan2 kalau kesana lagi harus nanjak itu gunung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tahun ini aku janji akan nanjak Gunung itu Git! Yuk ;)

      Delete
  2. Replies
    1. Iya mampir dong Ai. Menarik sekali kampungnya :)

      Delete
  3. Dah ke Bena tapi tau cerita n makna dri simbol2 dirumah adatnya malah dari Satya..
    Jdi malu diriku..
    Hahhahha

    ReplyDelete
  4. Dah ke Bena tapi tau cerita n makna dri simbol2 dirumah adatnya malah dari Satya..
    Jdi malu diriku..
    Hahhahha

    ReplyDelete
  5. kalo ke flores lagi mampir di kampungku mba, kampung Jopu di kaki Gunung Kelimutu ... sekalian nginap dirumah orangtuaku

    ReplyDelete

Subscribe