Blusukan ke Pasar Tradisional Bima

Tuesday, January 26, 2016

Tawa pagi di pasar. Photo by : efenerr.com
Pasar!

Tempat dimana jantung kota atau desa berada. Lalu lalang pedagang yang menjajakan barang, mimik muka pembeli yang getol melakukan tawar menawar sana sini, benar menjadi pemandangan favorit saya. Lambat laun bermain ke pasar menjadi kebiasaan. Ketika bepergian ke suatu daerah, saya berusaha untuk mendatangi pasar tradisionalnya.

Ibu-ibu penjaja ikan segar.
Saat berkunjung ke Bima, saya dan Bang Chan ( efenerr.com ) memutuskan untuk bangun lebih awal dan berjalan-jalan ke pasar pagi, tak jauh dari tempat kami menginap. Kami memilih jalan kaki ke pasar mumpung udara masih segar.

Tak sampai 20 menit kami sudah tiba di Pasar Bima yang masih tampak sepi. Hanya terlihat segelintir pedagang sedang bertransaksi dengan pembeli yang mayoritas Ibu-Ibu. Mirip dengan pasar tradisional pada umumnya, pasar di Bima becek dan agak sempit. Meski begitu, tidak sedikit pun mengurangi minat saya dan Bang Chan untuk mengeksplorasi setiap sudutnya.

Sudut favorit saya adalah tempat kue-kue tradisional. Ibu-ibu di pasar menyadari keberadaan kami berdua yang tidak tampak seperti orang Bima. Salah satu Ibu, Ibu Suhada mempersilahkan kami mencicipi kue-kue yang beliau jajakan. Masih hangat pula.




Ada ‘Bingka Dolu’, ‘Biruas Telur’, ‘Biruas Coklat’, ‘Kue Kacang’, ‘Kacang Sembunyi’, ‘Jinta’, ‘Ote’.  Maklum ya masih pagi, jadi perut kosong terus-terusan mengeong minta diisi. Lahaplah saya memakan semua kue-kue yang saya ingat dan catat namanya tapi begitu disuruh tunjuk yang mana kuenya, lupa. Hahahaha…

Pada saat kami akan mengeluarkan uang untuk membayar kue-kue yang sudah masuk ke dalam perut, Ibu Suhada bilang tidak usah.

Lha, jadi nggak enak (harusnya tadi makan lebih banyak ya). Hahahaha…



Ini enak lho. Renyah! Tapi saya masih bingung kenapa diikat pakai tali rafia. Hahaha...

Tawa Ibu ini lucu sekaliiii~
Supaya sama-sama senang, saya boronglah kue-kuenya untuk dimasukin ke dalam kardus dan dibawa ke Jakarta yang ujung-ujungnya langsung ludes dalam beberapa menit oleh rekanan kantor. Enak banget katanya.

Selain kue-kue enak, ada lagi makanan unik yang kita temui di Pasar Bima. Buah 'Loka' namanya. Bentuknya seperti buah pinang tapi merah dan dalamnya berbiji seperti markisa.

Seikat ini dijual seharga Rp 15.000,-  Photo by : efenerr.com

Buah Loka
Cara makan buah Loka juga cukup unik. Kita disuruh untuk menggigit ujungnya dan diseruput seluruh isi buahnya. Sampai biji-bijinya juga ditelan.

It was like a mini passion fruit but with bigger seeds and made me little bit afraid to swallow it.

Lagi-lagi kami dipersilahkan untuk mencoba buah Loka dengan gratis. Beruntung sekali. Tadinya saya juga mau beli tapi niat itu akhirnya diurungkan karena susah dibawa ke Jakarta. Jadilah kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak penjual Loka dan berlalu ke sudut pasar berikutnya.

Pasar ikan!

Ikannya besar yaaa... Photo by : efenerr.com


Jangan meragukan kesegaran ikan-ikan yang ada di Bima. Semua penduduk Bima pastinya senang bisa makan ikan segar yang baru ditangkap dari laut setiap harinya. Saya jadi teringat kampung halaman saya di Sibolga yang menghasillkan ikan yang tidak kalah segarnya.

Saat berkeliling pasar ikan, saya dan Bang Chan sampai ngiler ingin membeli ikan-ikan itu dan memasaknya. Sayangnya, itu adalah hari terakhir kami di Bima dan siang hari kami sudah harus take off ke Jakarta.

Pagi itu kami puas sekali sampai-sampai lupa waktu. Sudah waktunya untuk pulang ke hotel dan berkemas menuju bandara. Supaya tiba lebih cepat di hotel, kami memilih naik delman di Bima yang lebih dikenal dengan nama ‘benhur’. Bedanya dengan delman adalah benhur memakai ban mobil sebagai penggeraknya, bukan roda kayu seperti delman. Tentu saja kuda adalah penariknya.

Sensasi naik benhur ini sama kayak naik becak. Pendek soalnya. Pasti si kuda jadi cepat capek karena putaran roda yang kecil itu ya. Ah tapi kan kuda binatang kuat. Pasti mampu menarik beban empat orang penumpang plus barang.

'Benhur' nya pakai ban mobil kecil. Jadinya pendek banget. Photo by : efenerr.com

Photo by : efenerr.com
Menulis postingan ini dibarengi rasa rindu untuk kembali ke Bima, Sumbawa. Semoga bisa segera kesana. Kamu mau ikut? ;)

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia . Saya dan teman-teman media serta blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Sumbawa. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaTambora #PesonaSumbawa #PesonaIndonesia


You Might Also Like

14 comments

  1. bima... banyak mendengar cerita bagus tentangnya tapi belum pernah ke sana sama sekali. kayaknya yang namanya pasar tradisional dalam negri itu dimana2 sama yak.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya hampir sama di semua daerah. Yang membedakan adalah barang-barang dagangannya yaaa. Pasti setiap daerah beda-beda tuh ;)

      Delete
  2. BIMA, semoga suatu hari aku juga bisa kesana.

    Salam Blog Walking.

    Wahyu Budi Argo (semesta-berbicara.com)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mas Wahyu salam kenal yaaaa. Iya, cobalah ke Bima dan kau pasti suka. ;)

      Delete
  3. Replies
    1. Terima kasih Dian. Iya cobain deh blusukan ke pasar terus cobain makanan-makanan enak. Nyam! ;)

      Delete
  4. sbenernya emang lbih enak belanja di pasar tradisional drpd dipasar modern

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kamu juga suka ke Pasar Tradisional ya? Iya Pasar Tradisional itu bisa diekplor banyak sekali. Seru! ;)

      Delete
  5. pasar Bima harus selalu dikembangkan . terimakasih artikelnya bang ..

    ReplyDelete
  6. kue-kuenya sangat menarik, jadi penasaran untuk mencobanya,..

    ReplyDelete

Subscribe