Saya pilih kursi di bagian belakang rumah yang menghadap halaman dengan buku “Perempuan di Titik Nol” di tangan. Tak lama seorang lelaki membawakan teh tarik kesukaan dan diletakkan di atas meja. Sore yang santai seperti sedang berada di rumah.

Mungkin bagi orang luar kota Bandung, perpustakaan atau taman bacaan bukan tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan akhir pekan. Deretan café di kawasan Dago, Lembang agaknya lebih menarik perhatian.

Janatan adalah orang yang pertama mengajak saya ke tempat ini, toko buku di dalam rumah kecil nan apik, bernama Kineruku. Dari depan, pasti tidak ada yang mengira bahwa rumah tua bercat putih gading itu adalah surga penuh buku. Lokasinya juga ada di kawasan pemukiman berhawa sejuk di Jalan Hegarmanah.



Di pintu masuk terdapat beberapa loker untuk menyimpan barang. Tercium bau buku-buku yang menarik aku agar segera masuk. Di dalam berjajar rak-rak buku dengan label masing-masing. Ada filsafat, sastra, budaya, seni, desain, fiksi dan beberapa buku anak.

DI Kineruku, buku-buku ini boleh dibaca sesukanya tanpa harus bayar. Tetapi jika ingin menyewanya untuk dibaca di rumah, bisa juga (ada biayanya). Tiba-tiba terlintas di ingatan dulu saya suka sekali menyewa buku di taman baca dekat pasar. Sewa per buku-nya seribu perak saja. Ada juga beberapa buku yang bisa dibeli di Kineruku namun jumlahnya tidak banyak.



Selain rak buku, ada juga rak berisi CD dan film yang bisa disewa atau dibeli serta beberapa notes yang dikemas lucu. Album yang dijual kebanyakan adalah album band-band indie. Bandung sih memang terkenal sebagai tempat terlahirnya banyak musisi-musisi berbakat ya.


Ada lebih dari 1000 judul buku yang ada di Kineruku. Saya suka sekali dengan pojokan buku novel berbasa asing yang kalau mau dibeli harganya selangit. Di Kineruku saya bisa baca dengan gratis. Senang sekali!


Selain Kafe Baca yang menyenangkan, ada juga “Garasi Opa”, toko barang antik yang ada di pavilion kecil tepat di halaman belakang Kineruku. Sebagai pecinta buku dan barang antik, saya merasa super gembira karena bisa mendatangi dua tempat favorit saya sekaligus.





Di “Garasi Opa”, barang-barang antiknya bervariasi dan terawat dengan baik. Wajar saja jika harganya agak sedikit berat di kantong. Contohnya saja frame-frame kacamata antik, harganya berkisar Rp 200.000,- - Rp 500.000,-. Tetapi kualitasnya masih sangat bagus. Selain itu ada cangkir, radio, cermin, telepon, mesik tik antik dan masih banyak lagi. Kalau kalian juga penyuka barang antik, bolehlah mampir sejenak untuk melihat koleksi “Garasi Opa”. Siapa tahu kalian tertarik kan.

Saya rasa saya sih betah banget seharian di Kineruku untuk baca buku dan menyesap teh tariknya yang enak sekali itu. Sempatkanlah untuk mencicipi menu-menu enak yang dimasak oleh koki di Kineruku.

Oh ya, Kineruku juga sering menjadi tempat untuk diskusi buku, peluncuran album. Kalian bisa pantau jadwalnya di website KINERUKU langsung ya. Kineruku buka setiap hari (Senin - Sabtu 10.00 - 20.00 WIB) (Minggu 11.00 - 18.00 WIB).

Jadi, kapan kita membaca buku bareng di Kineruku?



Apakah kalian percaya bahwa setiap kita memiliki niat baik dalam perjalanan, niscaya perjalanan kalian diberkati, dilancarkan, dimudahkan?

Saya percaya.

Itu modal saya untuk ketika bepergian ke tempat asing. Percaya saja semua akan baik-baik saja. Walaupun kadang kita mengalami kebalikannya, tak selamanya hal buruk itu buruk kan?

Beberapa waktu lalu, saya menjelajah beberapa daerah di Pulau Flores dan mendatangi satu tempat yang ingin saya kunjungi yaitu Kampung Adat Bena. Kampung yang tersohor dengan bebatuan megalitikum dan terkenal juga sebagai penghasil kopi terbaik di Flores, kopi Bajawa.

Pagi itu saya sedang dalam perjalanan dari Riung menuju ke Ruteng, tempat terakhir sebelum saya trekking ke Wae Rebo keesokannya. Saya harus menempuh perjalanan selama empat jam dari Riung ke Bajawa dengan naik mobil travel. Rencananya, dari Bajawa, saya akan melanjutkan perjalanan ke Ruteng.

Jalan menuju Bena dari Bajawa.
 Travel yang akan mengantarkan saya ke Ruteng baru berangkat pukul dua siang, sehingga saya punya waktu kosong sekitar 3 jam di Bajawa. Asyik! Itu artinya saya punya waktu cukup untuk menyambangi Kampung Adat Bena yang terletak tidak jauh dari pusat kota Bajawa. Padahal meski awalnya saya kepengen banget ke Bena, saya sempat mengira saya tak punya cukup waktu dan mengikhlaskan Bena untuk dikunjungi pada trip ke Flores berikutnya.

Bang Dus, supir travel Riung - Bajawa yang saya tumpangi tadi pagi menanyakan tujuan saya di Flores. Begitu saya bercerita ingin ke Kampung Bena, dia langsung antusias bercerita bahwa dia punya sanak keluarga yang sudah lama tidak  dikunjungi. Bang Dus lalu bertanya apakah aku mau diantarkan ke Kampung Bena sambil dia berkunjung ke keluarganya? Tentu saja boleh Bang! Dengan sangat senang hati.

Perjalanan dari Bajawa menuju Bena melewati hutan-hutan dengan Gunung Inerie mengintip di kejauhan terasa menyenangkan. Angan-angan saya terbang membayangkan berdiri di puncak Gunung Inerie yang begitu cantik, gunung Ibu, gunung pelindung Bajawa. Suatu hari nanti ya, satu waktu ya Ibu Inerie, kita pasti bersua.

Gunung Inerie yang cantik sekalie...
Bang Dus memarkirkan mobilnya dan mengajak saya berjalan kaki menuju pintu masuk kampung Bena. Kampung ini memanjang dari utara ke selatan. Pintu masuk ada di sebelah utara karena di bagian selatan adalah tebing terjal yang tidak bisa dilewati.

Pintu masuk ke Kampung Bena
Ciri khas dari Kampung Bena ini adalah Nga’du dan Bhaga, dua bangunan simbol leluhur Kampung Bena yang ada di pekarangan. Nga’du yang berbentuk payung adalah simbol leluhur laki-laki dan Bhaga yang berbentuk rumah kecil adalah simbol leluhur perempuan.

Setelah mengisi daftar buku tamu dan memberi sumbangan sekedarnya (tidak ada biaya tiket masuk resmi), Bang Dus dan saya berjalan terus ke selatan dan berhenti di depan rumah paling pojok sebelah kanan. Tampak seorang Ibu tua yang sedang menenun di teras rumah tersenyum lebar menyambut Bang Dus dan memanggil anak gadisnya yang ada di dalam.

Sebelum masuk kampung, isi buku tamu dulu dan beri sumbangan seikhlasnya...
Saya lepaskan sepatu dan menyalami Mama Yuli dan anak gadisnya, Kak Vina. Saya dipersilahkan duduk di teras rumah dan tak lama kemudian terhidang empat gelas kopi Bajawa untuk saya, Bang Dus serta Papa Paulus dan Bang Poli yang baru keluar dari rumah dan ikut bergabung duduk di teras.
Awalnya saya kikuk karena mereka bercakap-cakap dengan bahasa lokal. Saya seruput kopi Bajawa yang wangi itu sambil tersenyum-senyum memerhatikan mereka.

Tahu-tahu Mama Yuli memanggilku untuk mendekat dan memberikan setangkup sirih untuk aku makan.

“Air kunyahan pertamanya dibuang ya. Baru setelahnya boleh kamu makan” ujar Mama dalam bahasa lokal yang diterjemahkan Bang Dus.

Ah, saya suka sekali dengan sirih. Mirip dengan beberapa daerah di Indonesia, pemberian sirih merupakan pernghormatan sang empunya rumah kepada tamu dan begitu juga sebaliknya. Saya merasa diterima dengan hangat sekali.

Jika kamu tidak suka sirih, kunyah saja, telan sedikit demi sedikit lalu dibuang. Tak harus berlama-lama, yang penting kita sudah menunjukkan rasa hormat kepada tuan rumah. Kalau saya sih, ngunyah terus sampai gigi berubah warna jadi merah.

Kampung Bena terletak di kaki Gunung Inerie (2.245 mdpl) sehingga udaranya sejuk meski matahari tepat di atas kepala. Udara yang sejuk itu juga yang membuat penduduk Kampung Bena, terutama Ibu-Ibu, senang menghabiskan duduk di teras, entah itu menenun atau memintal benang. Sedangkan para Bapak biasanya bekerja ke ladang.

Coba tebak ini biji apa?

Benang yang akan dipakai untuk menenun.

Nenek dan cucu bercengkerama di teras rumah.
Penduduk di Kampung Bena juga percaya kepada Dewa Zeta, dewa pelindung desa yang berdiam di Gunung Inerie. Itulah mengapa mereka sangat menghormati gunung ini dan para leluhurnya.

Yang juga membuat saya tertarik dengan Kampung Bena adalah batu-batu megalitikum dan  ‘Batu Nabe’. Batu Nabe adalah tumpukan batu-batu  dimana terdapat makam para leluhur Kampung Bena di bawahnya. Di kompleks ‘Batu Nabe’ inilah sesaji diletakkan saat ingin berkomunikasi dengan leluhur saat upacara adat.

Ada sekitar 45 rumah yang ada di Kampung Bena dengan ciri khas masing-masing di bagian depan rumah. Ciri khasnya adalah tanduk kerbau, rahang dan taring babi sebagai lambang status sosial keluarga. Rumah yang ada patung yang memegang parang dan lembing di atapnya adalah rumah lelaki dinamakan ‘Sakalobo’. Sedangkan rumah perempuan dinamakan ‘Sakapu’u’.


“Di Bena ada sembilan suku, Khopa, Ago, Ngada, Deru Solamae, Deru Lalulewa, Wahto, Dizi dan Dizi Azi. Kami semua hidup berdampingan dengan damai di sini” ujar Papa Paulus masih dengan bahasa lokal yang diterjemahkan Bang Dus. Keluarga Papa Paulus sendiri berasal dari suku Ago.

Sembilan suku yang mendiami Kampung Bena memiliki rumah masing-masing dan berbeda-beda tingkatannya. Oleh karena itu ada sembilan tingkatan dari utara ke selatan dan juga sembilan pasang Nga’du dan Bhaga.

Setiap ada upacara adat satu suku, suku-suku yang lain dengan senang hati membantu dan ikut bersuka ria. ‘Kisanatapat’ adalah nama tempat untuk mengadakan upacara adat di Kampung Bena.
Sambil masih menikmati kopi di teras rumah, Papa Paulus dan Bang Poli bercerita tentang pengalaman mereka berkali-kali menginjakkan kaki di puncak Gunung Inerie.

“Bagus sekali melihat matahari terbit dari atas sana. Satya nanti harus kembali kesini dan kita naik sama-sama” ujar Bang Poli.

Tentu saja tawaran itu saya sambut dengan riang. Saya berjanji kembali lagi ke Kampung Bena dan melihat matahari terbit dari puncak Inerie.

Sambil mengobrol, Mama Yuli masih asyik dengan kain tenun yang sedang dikerjakan. Beliau bercerita tentang motif tenun yang khas dari Bena yaitu Nga’du, Bhaga, gunung dan kuda. Motif-motif ini dikreasikan dengan benang warna-warni dan jadilah kain tenun Bena yang cantik.

Kak Vina, saya, Mama Yuli

Bang Poli, Bang Dus dan Papa Paulus
Kain-kain tenun cantik ini dipajang di teras rumah, digantung di bilah-bilah bambu. Jadi ketika ada wisatawan melintas dan tertarik, bisa langsung melakukan transaksi dengan si empunya rumah, empunya tenun.

Harga yang ditawarkan cukup bersahabat di kantong. Untuk satu lembar kain tenun berukuran besar sekitar Rp. 300.000,- hingga jutaan rupiah. Untuk kain tenun berukuran kecil, kisaran harganya Rp 75.000,- hingga Rp 200.000,-.

Menenun menjadi aktivitas sehari-hari wanita di Kampung Bena.
Saya sebenarnya tertarik dengan semua tenun-tenun ikat itu. Ingin sekali beli semuanya.

Sayangnya…

Saya nggak punya duit…

Uang yang saya bawa sudah pas sekali untuk transportasi dan akomodasi trip Wae Rebo beberapa hari ke depan. Maklum, saya memang tipe orang yang jalan dengan budget minim dan sebisa mungkin nggak belanja oleh-oleh macam-macam. Selain karena tasnya gak muat nampung oleh-oleh, duitnya nggak ada. Mau bilang apa? Hahahaha…

Saya minta izin sebentar untuk berkeliling Kampung Bena sambil Bang Dus bercengkerama asyik dengan keluarganya. Saya pergi ke tingkat paling atas di Kampung Bena dan menemukan gua kecil berisi patung Bunda Maria. Tempat ini adalah tempat berdoa bagi masyarakat Bena yang seluruhnya beragama Katolik. Saya salut bahwa sudah memeluk agama yang diakui Negara, masyarakat di Bena tetap memegang teguh adat dan tradisi dari leluhur mereka. 

Goa Maria yang ada di puncak Kampung Bena.
Dari atas, kita bisa melihat jelas seluruh rumah-rumah di Kampung Bena dan lembahan kaki Gunung Inerie dengan puncak kerucutnya yang menggoda.



Setelah mengambil beberapa potret kampung, saya kembali ke rumah dan bertemu 3 anak kecil yang tersenyum malu-malu melihat saya tapi meminta gula-gula (permen). Saya memang selalu membawa permen di dalam tas dan saya berikan kepada mereka. Tidak banyak-banyak kok. Wajah mereka bertiga yang tadi malu-malu berubah menjadi ceria dan mengulum permen dengan bahagia.

Anak-anak lucu Kampung Bena. Cium kangen buat kalian :*
Saat masih asyik bermain bersama tiga anak kecil lucu, Nancy, Viola dan Lalon, saya dipanggil oleh Bang Dus dan mengingatkan agar kami segera kembali ke Bajawa agar tidak ketinggalan travel ke Ruteng.

Saya menyalami Papa Paulus dan Mama Yuli yang dibalas dengan kecupan di pipi kanan dan kiri.

“Mulai sekarang, rumah ini rumahnya Satya juga. Datang lagi ke sini ya Nak” ucap Mama Yuli.

Janji Ma, saya pasti kembali lagi.

See you when I see you, Bena…



---

Cara Menuju Kampung Bena :

1.  Terbang dengan pesawat ke Labuan Bajo, lalu naik travel ke Bajawa selama kurang lebih 8 jam. Di Bajawa bisa sewa motor dan mobil ke Bena. (Kontak Bang Dus, Travel Bajawa 0812-38256903 )

2.   Terbang dengan pesawat ke Ende (transit Kupang) lalu naik travel ke Bajawa sekitar 5 jam. Di Bajawa bisa sewa motor dan mobil ke Bena.





Tawa pagi di pasar. Photo by : efenerr.com
Pasar!

Tempat dimana jantung kota atau desa berada. Lalu lalang pedagang yang menjajakan barang, mimik muka pembeli yang getol melakukan tawar menawar sana sini, benar menjadi pemandangan favorit saya. Lambat laun bermain ke pasar menjadi kebiasaan. Ketika bepergian ke suatu daerah, saya berusaha untuk mendatangi pasar tradisionalnya.

Ibu-ibu penjaja ikan segar.
Saat berkunjung ke Bima, saya dan Bang Chan ( efenerr.com ) memutuskan untuk bangun lebih awal dan berjalan-jalan ke pasar pagi, tak jauh dari tempat kami menginap. Kami memilih jalan kaki ke pasar mumpung udara masih segar.

Tak sampai 20 menit kami sudah tiba di Pasar Bima yang masih tampak sepi. Hanya terlihat segelintir pedagang sedang bertransaksi dengan pembeli yang mayoritas Ibu-Ibu. Mirip dengan pasar tradisional pada umumnya, pasar di Bima becek dan agak sempit. Meski begitu, tidak sedikit pun mengurangi minat saya dan Bang Chan untuk mengeksplorasi setiap sudutnya.

Sudut favorit saya adalah tempat kue-kue tradisional. Ibu-ibu di pasar menyadari keberadaan kami berdua yang tidak tampak seperti orang Bima. Salah satu Ibu, Ibu Suhada mempersilahkan kami mencicipi kue-kue yang beliau jajakan. Masih hangat pula.




Ada ‘Bingka Dolu’, ‘Biruas Telur’, ‘Biruas Coklat’, ‘Kue Kacang’, ‘Kacang Sembunyi’, ‘Jinta’, ‘Ote’.  Maklum ya masih pagi, jadi perut kosong terus-terusan mengeong minta diisi. Lahaplah saya memakan semua kue-kue yang saya ingat dan catat namanya tapi begitu disuruh tunjuk yang mana kuenya, lupa. Hahahaha…

Pada saat kami akan mengeluarkan uang untuk membayar kue-kue yang sudah masuk ke dalam perut, Ibu Suhada bilang tidak usah.

Lha, jadi nggak enak (harusnya tadi makan lebih banyak ya). Hahahaha…



Ini enak lho. Renyah! Tapi saya masih bingung kenapa diikat pakai tali rafia. Hahaha...

Tawa Ibu ini lucu sekaliiii~
Supaya sama-sama senang, saya boronglah kue-kuenya untuk dimasukin ke dalam kardus dan dibawa ke Jakarta yang ujung-ujungnya langsung ludes dalam beberapa menit oleh rekanan kantor. Enak banget katanya.

Selain kue-kue enak, ada lagi makanan unik yang kita temui di Pasar Bima. Buah 'Loka' namanya. Bentuknya seperti buah pinang tapi merah dan dalamnya berbiji seperti markisa.

Seikat ini dijual seharga Rp 15.000,-  Photo by : efenerr.com

Buah Loka
Cara makan buah Loka juga cukup unik. Kita disuruh untuk menggigit ujungnya dan diseruput seluruh isi buahnya. Sampai biji-bijinya juga ditelan.

It was like a mini passion fruit but with bigger seeds and made me little bit afraid to swallow it.

Lagi-lagi kami dipersilahkan untuk mencoba buah Loka dengan gratis. Beruntung sekali. Tadinya saya juga mau beli tapi niat itu akhirnya diurungkan karena susah dibawa ke Jakarta. Jadilah kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak penjual Loka dan berlalu ke sudut pasar berikutnya.

Pasar ikan!

Ikannya besar yaaa... Photo by : efenerr.com


Jangan meragukan kesegaran ikan-ikan yang ada di Bima. Semua penduduk Bima pastinya senang bisa makan ikan segar yang baru ditangkap dari laut setiap harinya. Saya jadi teringat kampung halaman saya di Sibolga yang menghasillkan ikan yang tidak kalah segarnya.

Saat berkeliling pasar ikan, saya dan Bang Chan sampai ngiler ingin membeli ikan-ikan itu dan memasaknya. Sayangnya, itu adalah hari terakhir kami di Bima dan siang hari kami sudah harus take off ke Jakarta.

Pagi itu kami puas sekali sampai-sampai lupa waktu. Sudah waktunya untuk pulang ke hotel dan berkemas menuju bandara. Supaya tiba lebih cepat di hotel, kami memilih naik delman di Bima yang lebih dikenal dengan nama ‘benhur’. Bedanya dengan delman adalah benhur memakai ban mobil sebagai penggeraknya, bukan roda kayu seperti delman. Tentu saja kuda adalah penariknya.

Sensasi naik benhur ini sama kayak naik becak. Pendek soalnya. Pasti si kuda jadi cepat capek karena putaran roda yang kecil itu ya. Ah tapi kan kuda binatang kuat. Pasti mampu menarik beban empat orang penumpang plus barang.

'Benhur' nya pakai ban mobil kecil. Jadinya pendek banget. Photo by : efenerr.com

Photo by : efenerr.com
Menulis postingan ini dibarengi rasa rindu untuk kembali ke Bima, Sumbawa. Semoga bisa segera kesana. Kamu mau ikut? ;)

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia . Saya dan teman-teman media serta blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Sumbawa. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaTambora #PesonaSumbawa #PesonaIndonesia




Sebagai anak perempuan yang merantau jauh dari keluarga, orang tua menaruh kekhawatiran yang besar terhadap saya yang hidup sendiri di Jakarta (tinggal di Depok, kerja dan kuliah di Jakarta).

Kekhawatiran Mamak terkadang berlebihan jika saya bilang ke Mama kalau saya lembur di kantor, tidak dengan terpaksa, namun karena memang saya senang melakukannya. Entahlah, saya merasa lebih produktif di malam hari ketimbang pagi, siang atau sore.

Agar Mama tidak khawatir melulu, saya katakan kepada beliau bahwa saya selalu pulang lembur dengan aman karena memakai Uber.

“Apa pulak itu Uber?” tanya Mama dengan logat Bataknya yang khas.

“Itu lho Ma, aplikasi pelayanan transportasi secara online”, jawab saya singkat.

“Bah, nggak bahaya rupanya itu? Mamak sering kali nonton di berita tentang supir taksi yang suka iseng sama penumpangnya kalau lewat tengah malam. Apalagi perempuan”, ujarnya lagi.

Pada akhirnya saya harus membeberkan kepada Mamak bahwa memesan kendaraan lewat aplikasi Uber ini adalah opsi untuk memesan kendaraan yang paling aman, nyaman dan hemat.

Ada beberapa keunggulan aplikasi Uber yang membuat saya selalu senang menggunakannya.

  • Keamanan



Memesan kendaraan online di Uber memberikan kepastian keamanan bagi si penumpang maupun driver Uber. Sebagai penumpang, kita diberitahu nama dan kontak drivernya, serta mobil apa yang ia pakai untuk menjemput kita (lengkap dengan plat mobilnya). Bapak driver juga mengetahui dengan jelas bahwa ia akan pick-up penumpang betulan, bukan penumpang ‘siluman’, karena ia juga mendapatkan informasi nama dan kontak kita sebagai penumpang. Jika ada yang janggal, misalkan nama drivernya tidak sesuai kita bisa langsung kontak support.jakarta@uber.com yang selalu direspon dengan cepat.



Selain itu, Uber juga punya fitur “Send Status” yang berfungsi untuk mengirimkan info rute perjalanan dan waktu tiba kepada teman atau keluarga kita. Biasanya saya kirimkan infonya ke pacar. Namun setelah percakapan dia atas, saya pakailah fitur itu untuk memberi tahu Mamak setiap saya lembur agar beliau tidak khawatir dan nggak protes lagi. Kita juga memasukkan kontak orang-orang terdekat kita menjadi Emergency Contacts lho.



  • Kenyamanan


Saya kadang merasa tidak nyaman ketika naik kendaraan dengan driver yang (maaf) bau badan atau bau rokok. Pusing duluan sebelum mobilnya jalan. Berbeda jauh dengan kendaraan yang saya pesan via aplikasi Uber yang entah sudah berapa kali saya tumpangi, semua mobilnya bersih, Bapak driver-nya pun wangi. Hmmmm, enak banget pokoknya.

Tentunya agar sama-sama nyaman, penumpang (kita) juga turut menjaga kebersihan ya. Dianjurkan untuk tidak membawa binatang peliharaan ke dalam kendaraan, tidak makan, minum dan menggunakan obat / zat terlarang.

  • Harga Hemat


Selain aman dan nyaman, harga tentunya jadi pertimbangan saya. Naik kendaraan via aplikasi Uber itu jauh lebih hemat dari naik taksi-taksi biasa. Bisa setengah lebih murah dari tarif normal yang biasa saya bayarkan kepada taksi lain. Sempat bingung, dengan harga murah seperti itu, drivernya dapat untung nggak sih? 

Akhirnya setiap saya menumpang kendaraan yang saya pesan via Uber, saya pasti bertanya langsung kepada driver tentang suka duka bekerja dengan Uber dan semuanya menyatakan senang. Keuntungan mereka jauh lebih baik dibandingkan menjadi supir taksi biasa atau supir mobil rental. Namun, karena melihat tarif yang murah, saya berinisiatif untuk memberikan tip sekedarnya, semampunya. Hitung-hitung menambah pendapatan harian mereka. Tidak ada salahnya membuat orang lain senang kan? ;)   




Banyak juga lho yang belum tahu kalau Uber itu punya fitur yang namanya ‘Fare Split’ dimana kita bisa berbagi dengan teman yang naik kendaraan bareng. Jadi nggak harus bayar sendirian. Asyik!

Cara melakukan Fare Split :
·         Geser tombol info pengemudi ke atas dan pilih “Fare Split.“
·         Pilih teman-teman yang ikut bersama dan tekan tombol “Send.”
Teman-teman yang juga merupakan pengguna Uber tersebut akan menerima pesan dan langsung diarahkan ke aplikasi untuk konfirmasi.
·         Teman-teman yang belum menggunakan Uber akan diminta untuk download aplikasi, mendaftar dan konfirmasi untuk membagi perjalanan.

Sistem pembayaran Uber yang memakai kartu kredit juga membuat transaksi lebih aman dan nyaman karena saya pribadi tidak suka membawa banyak uang tunai di dalam dompet. Kalau sedang kepepet dan nggak bisa pulang karena nggak bawa duit, ya pakai Uber aja ;) (Terkecuali parkir dan tol, itu tetap harus pakai uang tunai ya. Tapi ya bisa minta ditalangin Bapaknya dulu, lalu kita ganti begitu tiba di tempat tujuan).


  •  Penolong


Aplikasi Uber itu selain menjadi penolong untuk mengantarkan kita ke tempat tujuan dengan aman dan selamat plus harga hemat, aplikasi Uber juga membantu jika ada barang yang tertinggal di dalam kendaraan.

Nah ini nih!

Saya termasuk orang yang sering ceroboh. Pernah satu waktu saya ketinggalan ponsel di dalam taksi waktu sedang traveling di Manado. Bodohnya saya nggak mencatat nama supirnya ataupun nomor taksinya. Sedih banget rasanya waktu itu. Namun karena memang masih berjodoh dengan ponsel tersebut, si Bapak pengemudi taksi kembali lagi ke titik saya turun dan mencoba mencari saya untuk mengembalikan ponsel. What a bless!!



Tapi tidak semuanya bisa begitu kan? Nah, di aplikasi Uber, ada fitur “report” yang sangat membantu kita jika ada barang yang tertinggal di dalam mobil.

Waaaah, saya senang sekali aplikasi Uber benar-benar menjadi malaikat penolong saya. Sejauh ini saya belum pernah sih ketinggalan barang lagi di dalam kendaraan. Namun setidaknya saya sudah merasa sangat aman jika (semoga nggak kejadian lagi) ketinggalan barang nanti.

Selain itu kita bisa report beberapa topik lain seperti complain tentang driver atau kendaraan yang kita tumpangi ada masalah. Sejauh ini sih saya belum pernah memakai fitur itu karena perjalanan saya selalu menyenangkan.

Sekarang, Uber sudah menjadi andalan saya untuk bepergian kemana-mana. Pulang lembur selalu aman dengan Uber. Mamak saya juga tidak perlu was-was lagi dengan anak perempuannya yang satu ini bisa pulang dengan aman atau tidak jika pulang lewat tengah malam.

Jadi, teman-teman mau mencoba berkendara memakai aplikasi Uber? Selain di Jakarta, Uber juga sudah hadir lho di Bandung, Surabaya dan Bali.

Kalau kalian ingin mencoba berkendara gratis dengan Uber, silahkan download dan  register di Uber (ada di App Store Apple dan Google Playstore Android), lalu masukkan kode 3fckanbpue untuk mendapatkan free rides. Mudah dan enak kan?