Thursday, December 29, 2016

Asyiknya #JNENgajakJalan ke Nusa Lembongan!

Thursday, December 29, 2016 22 Comments

Sewaktu saya mengunjungi Nusa Penida beberapa waktu yang lalu, banyak teman yang menanyakan dimana letak Nusa Penida. Ternyata masih banyak yang belum tahu bahwa Nusa Penida merupakan bagian dari Bali. Ada tiga pulau di gugusan tenggara pulau Bali yaitu Nusa Lembongan, Nusa Ceningan dan Nusa Penida yang merupakan pulau terbesar dari ketiganya.

Tapi yang mau saya ceritakan bukan Nusa Penida lagi melainkan Nusa Lembongan karena #JNENgajakJalan saya dan beberapa teman media dan blogger dari Lampung, Jakarta dan Jawa Tengah. Meski mereka sudah sering ke Bali, beberapa dari mereka baru pertama kali mengunjungi Nusa Lembongan, termasuk saya. Hehehehe…

Dari Bandara Ngurah Rai, kami naik bus yang langsung membawa ke pelabuhan Sanur. Tidak ada transportasi umum seperti angkot untuk mengarah ke Sanur. Teman-teman bisa naik taksi atau ojek yang ada di bandara. Bisa juga naik Uber, Gojek, Grab tetapi harus berjalan ke arah luar bandara karena transportasi online tidak boleh menjemput penumpang dari Ngurah Rai.

Sempat berhenti di Kemangi Resto yang ada di Jalan Bypass Ngurah Rai, kami tiba di Pelabuhan Sanur sekitar pukul 1 siang. Kapal yang akan kami naiki ke Nusa Lembongan bernama Rocky dengan harga tiket Rp 100.000,- per orang. Berhati-hatilah dengan calo yang ada di sekitar sanur karena mereka bisa menaikkan harga tiket hingga Rp 350.000,- per orang.




***

Kapal fiber yang kami naiki dihantam ombak yang lumayan saat menuju Nusa Lembongan. Guncangan kapal membuat perut terguncang-guncang juga dan Kak Pungky knocked out. Perjalanan laut memang selalu ia hindari tetapi karena kepengen jalan ke Lembongan, muntah-muntah sedikit tidak apa ya Kak?

Wajah Kak Pungky yang tadinya sedikit pucat karena mabuk laut langsung berubah menjadi sumringah ketika kami memasuki Tjendana Resort Nusa Lembongan Beach Club (namanya panjang amat ya?), tempat kami menginap beberapa hari ke depan.

“Waaaa….waaaaa….ada private poolnya” pekik Kak Pungky saat roomboy membukakan pintu kamar kami. Saya juga nggak kalah histerisnya. Maaf untuk ke-norak-an kami berdua ya. Siapa sih yang nggak senang dikasih menginap di resort untuk honeymoon, ya kan? Kak Pungky pasti berharap suaminya yang menginap bareng sama dia, bukan saya. Hahahaha…

Kamar kami di Nusa Lembongan Beach Club 
Di hari pertama kami tiba di Nusa Lembongan, jadwal kami hanya greetings dinner bersama jajaran JNE Indonesia, teman-teman media dan blogger. Dalam kesempatan itu, Pak Johari selaku Komisaris JNE yang turut serta bersama istri dan anak perempuannya, menyambut seluruh rombongan dengan ramah dan juga bercerita tentang 26 tahun tumbuh kembangnya JNE di Indonesia.



“Inovasi dan adaptasi adalah kunci terus berkembangnya JNE selama ini”, ujar beliau saat itu. Saya mengangguk setuju dengan apa yang beliau paparkan malam itu. Saya turut mengagumi kinerja JNE yang selama 26 tahun ini merajut Indonesia, membantu menyalurkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Connecting happiness. Thank you JNE!

Ke Nusa Lembongan Asyiknya Ke Mana ya?


Pantai berpasir putih dan laut serta langit biru. Apa yang kurang? Kamu...
Selain mendapatkan pertanyaan Nusa Lembongan itu ada di mana, pertanyaan yang sering saya dapat juga adalah tempat-tempat menarik apa saja yang bisa dikunjungi di sana. Tentu dengan senang hati saya memberikan rekomendasi. Sayang karena keterbatasan waktu, tidak semua tempat kami kunjungi waktu itu. Okay here we go!

Let’s go Snorkeling!

Semuanya gembira bersiap mau snorkeling!

Kalau ke Bali, nggak komplit kalau nggak main air kan? Jadilah kami diajak snorkeling ke beberapa spot di sekitar Nusa Lembongan dan Nusa Penida. Sayang sekali, spot andalan untuk snorkeling seperti Manta Point dan Buddha Underwater Statue tidak bisa kami sambangi karena ombak dan arus yang kuat sekali hari itu. Padahal saya sudah membayangkan betapa asyiknya berenang bersama manta-manta (bukan mantan), the ocean dancer. See you next time dear Manta!




Masukkan dua tempat itu dalam bucketlist jika berkunjung ke Nusa Lembongan ya. Jika datang di pertengahan tahun saat cuaca sedang baik, pasti bisa bertemu dengan manta dan juga berenang melihat patung-patung yang ditenggelamkan ke laut, yaitu Buddha Statue point itu.

Jadilah kami dibawa ke spot lain yaitu “The Wall” di sekitaran Nusa Penida. Saya tadinya agak skeptis bahwa pemandangan lautnya akan bagus. Eh ternyata saya salah. Airnya biru jernih dan banyak sekali ikan karangny, pertanda perairannya sehat. Kapal-kapal di sana juga sudah terlatih untuk tidak buang jangkar ke laut karena akan merusak karang. Mereka sudah punya tali tambang yang diikatkan ke pelampung bulat / buoy, sehingga tak ada karang yang rusak.

Tapiiiiiii, saya sedih ketika melewati satu karang besar yang digores bentuk hati. Apa sih kerennya? Vandalisme itu nggak keren. Nggak keren sama sekali! Jangan ditiru ya teman-teman. Foto di dalam air bersama ikan-ikan dan karang yang sehat lebih keren kan?


Vandalism is not cool!

Ketika Ombak Mengamuk di Devil’s Tears



Jangan terlalu dekat ke tepian karang-nya ya!
Spot lain yang bisa teman-teman datangi ketika di Nusa Lembongan adalah Devil’s Tears. Dinamakan begitu karena sudah banyak sekali wisatawan yang meninggal di lokasi ini, terhempas dan terseret ombak ketika sedang asyik bersantai di tepian karang. Oleh karena itu, dihimbau untuk tidak dekat dengan bibir karang. Saya benar-benar ngeri ketika melihat ombak besar menghantam karang dan cipratannya terasa meski kita sudah berdiri cukup jauh.

Paling asyik datang ke sini saat menjelang matahari terbenam. Jika posisi matahari pas, kita bisa mendapatkan foto sunset yang dramatis dengan deburan ombak yang super besar itu. Tapi sekali lagi, keselamatan diri adalah yang terpenting, jadi berhati-hati ya.

Santai Sore di Dream’s Beach Hut


Seorang teman merekomendasikan tempat ini karena pool-nya asyik buat bersantai sore sambil melihat matahari terbenam. Sayangnya sore itu senja sepertinya tidak akan ciamik karena langit berawan sehingga saya urung masuk ke dalam. HTM untuk masuk ke dalam Dream’s Beach Hut adalah Rp 50.000,- per orang. Jadi, saya bersantai di Dream’s Beach saja dan puas-puasin main ayunan.

Ini bukan karena masa kecil kurang bahagia. Pas kecil bahagia banget kok ;)


Dream Beach!

Sisi lain dari Devil's Tears ini asyik buat santai sore sambil nunggu sunset!

Santai sore bareng Mas Riyan, Abah dan Mas Fin. Langit sore itu nggak nahan! (Photo by : Pungky)
***

Untuk kuliner, tidak banyak pilihan di Nusa Lembongan. Teman saya Eaz, yang sudah dua tahun ini menetap di sana memberikan rekomendasi namanya ‘Nyoman’s Warung’. Tanya saja orang lokal pasti tahu lokasinya. Makanannya enak dan tidak terlalu mahal. Tentu saja highlight’s Nyoman’s Warung adalah ikan bakar dan sambalnya. Juwarak!

Jika teman-teman sudah ada di Nusa Lembongan, asyiknya sih keliling juga ke Nusa Ceningan dan Nusa Penida. Di Nusa Ceningan ada Blue Lagoon, di Nusa Penida ada banyaaaaak seperti yang aku ceritakan di sini. Liburan 3 hari cukup kok buat mengunjungi semuanya. Ayo pilih-pilih tanggal mulai dari sekarang buat liburan ke Nusa Lembongan tahun depan ya.

Terima kasih buat JNE yang sudah ngajak kita jalan-jalan ke Nusa Lembongan ya! Semoga terus menginspirasi dan selalu terdepan di jasa pengiriman barang. Terima kasih sudah banyak membantu kami mengantarkan barang kepada orang-orang terkasih kami. 


Terima kasih JNE sudah ajak kami jalan-jalan. Tahun depan lagi ya!



Monday, December 26, 2016

Menjejak Puncak Gunung Kinabalu, Batu Persemayaman Dewa

Monday, December 26, 2016 9 Comments
Road to Low's Peak. Photo by Rivan Hanggarai
Layaknya kita di Indonesia memercayai bahwa gunung adalah tempat bersemayamnya dewa-dewa, begitu pula di Sabah, Malaysia. Telah berabad-abad lamanya, kaum Kadazandusun yang menetap di wilayah Kundasang, Ranau (kaki Gunung Kinabalu), menghormati betul Gunung Kinabalu sebagai lokasi menetapnya roh-roh leluhur mereka yang telah berpulang.

Mitosnya, ada seekor Naga juga yang mendiami Kinabalu dan menjaga mutiara dewa. Mungkin saja mitos itu tercipta karena jika puncak Kinabalu sedang tertutup lingkaran awan, terkadang bentuknya mirip dengan seekor naga.

Di kawasan puncak Kinabalu juga terdapat beberapa kolam kecil yang diyakini sebagai kolam suci tempat dewa-dewi mandi. Konon katanya jika membawa air kolam ini dan diminum, akan membuang sial. Jadi apakah saya membawa air kolamnya juga kemarin?

Tidak.

Hahahaha.

***

Grasak-grusuk orang lalu lalang membangunkan saya. Lirik jam, ternyata sudah hampir pukul dua pagi. Saatnya bersiap untuk summit attack ke Low’s Peak, puncak Gunung Kinabalu. Berat sekali rasanya keluar dari selimut hangat. Tapi masa sudah jauh-jauh sampai ke Laban Rata tidak ke puncak? Yuk yuk bangun!

Saya kenakan pakaian untuk summit ; baselayer, jaket lapis polar dan down jacket. Bawahannya memakai legging latex dan jogging pants. Tak lupa memakai buff di leher dan kupluk. Sehabis cuci muka, gosok gigi dan mengepak barang bawaan seperti kamera, cemilan dan air mineral, saya turun ke restoran dan bersiap untuk makan pagi bersama teman-teman. Penting sekali untuk sarapan sebelum mendaki ke puncak agar energi kita terisi penuh meski harus memaksa tubuh untuk makan jam 2 pagi.


Situasi sebelum summit attack. Muka masih ngantuk semuaaaa...
Rombongan pendaki lain terlihat sedikit tergesa-gesa menghabiskan makanan mereka. Tampaknya mereka ingin cepat-cepat berangkat agar tidak melebihi Cut Off Time dan bisa melihat sunrise dari puncak Kinabalu.

Bobby, local mountain guide kami mengajak semuanya untuk segera bersiap-siap. Tak lupa ia memberikan briefing sebelum mendaki ke puncak seperti kami harus berjalan dalam satu grup dan tidak boleh terpisah. Jika angin kencang, kita harus tetap berjalan pelan dan fokus pada langkah, dan sebagainya.

Pendakian ke puncak Kinabalu dimulai pukul 02.30 dan kami berangkat pukul 03.00. Langit cerah bertaburan bintang, pertanda aman untuk mendaki ke puncak. Kaki kami menapaki tangga kayu satu per satu, seiring dengan nafas yang juga satu-satu. Di ketinggian lebih dari 3000 meter di atas permukaan laut, kadar oksigen mulai menipis dan akan membuat kita agak sulit untuk bernafas. Jadi, atur nafas sebaik mungkin, seiring dengan ritme kaki.


Capek di tengah jalan? Ya isthirahat dulu.
Tujuan pertama kami adalah Pos Sayat-Sayat, di mana seluruh rombongan harus melakukan check-in sebelum naik ke puncak. Cut Off Time (COT) untuk tiba di  Pos Sayat-Sayat ini adalah pukul 05.00 pagi. Jika kita tidak berhasil, kita tidak diperbolehkan melanjutkan perjalanan ke puncak.

“Tuh Pos Sayat-Sayatnya sudah kelihatan, yang ada merah-merah” ujar Kak Abex selaku ketua rombongan dan sudah berkali-kali mendaki Kinabalu.

Rasanya kaki berat sekali, namun karena Kabex bilang sudah dekat, kakinya dipaksa untuk terus melangkah. Ayo ayo ayo! Sebentar lagi jam 5 pagi.

Syukurlah sebelum jam 5 pagi, kami sudah tiba di pos Sayat-Sayat. Di dalam bilik kecil ditemani temaram cahaya lilin, seorang bapak mengecek dan mencatat name tag kami. Kami memutuskan untuk rehat sejenak, makan snack (favoritku itu Oat Chocolate Munchy’s, enak dan ngenyangin, kalau kalian sukanya snack apa pas naik gunung? Ini bukan iklan sungguh! xD) dan juga mengisi ulang botol minum yang kami bawa lalu mulai berjalan lagi.

Lepas dari Pos Sayat-Sayat, tibalah saat yang menegangkan buat saya.

Apa itu?

Memanjat batu andesit memakai tali tambang.

Sebelum tangan saya patah 5 bulan, memanjat itu perkara mudah. Tapi dengan adanya pen tertanam di lengan kanan, memanjat dengan tali itu jadi momok besar. Benar-benar takut saya waktu itu.

Bisa nggak ya bisa nggak ya?
Bisa, bisa, bisa, bisa, batin saya dalam hati.

Saya pindahkan tali ke sisi tangan kiri. Saya tarik badan dengan memusatkan beban di tangan kiri. Berhasil!

Rasa lega membuncah. Ternyata bisa kok pakai tangan kiri juga. Dan untuk titik-titik panjat berikutnya saya sudah tidak takut lagi. What doesn’t kill you makes you stronger right? ;)

Jalur tangga kayu, berganti menjadi jalur batu-batu andesit. Syukurlah ada safety line (tali tambang putih) yang menjadi pengaman jalur, menjaga-jaga agar kita tidak terpelanting jika angin kencang datang. Bergidik juga mendengar cerita dari local guide kami bahwa kecepatan angin bisa mencapai 80km per jam. Tak ayal jika Kinabalu atau Sabah mendapat julukan “The Land Below The Wind”, “Negeri Di Bawah Bayu”, negeri di bawah angin.


Ada safety line di sepanjang jalur. Jadi aman! Credit to : Abex
Meski terlihatnya datar, Low’s Peak itu jauhhhhhh. Karena ada banyak puncak di Kinabalu, kita terus menerka-nerka yang mana Low’s Peak itu. Tapi tak ada gunanya mempertanyakan, jalan saja terus pokoknya.

Dan ketika capek, saya selalu melihat ke belakang dan menikmati lautan awan yang terbentang luas layak samudera. Entah mengapa rasa capeknya jadi berkurang. Ketika tiba saatnya sholat subuh, Rizal, buddy saya, berhenti untuk menunaikan ibadah. Ada rasa haru saat memandang Rizal sholat di jalur. Damai betul rasanya saat itu.

Sembari menunggu Rizal selesai ibadah, saya duduk di batu sambil mengabadikan rona-rona merah yang mulai menghiasi langit, menunggu sang surya bangun. Benar saja, tak lama saya duduk, sinar-sinar hangat mulai menyapa pipi.

Selamat pagi!


Colourful morning sky!





What a bright warm morning it was!

***


Oh ya, salah satu tips saat mendaki Kinabalu adalah jangan terlalu terlena untuk mengambil gambar. Ingat waktu ya! Cut Off Time ke puncak itu pukul 07.00 pagi. Jika kita tidak berhasil, kita harus turun lagi ke Laban Rata. Nggak mau kan gagal ke puncak gara-gara keasyikan berfoto? Waktu itu local guide kami terus-terus mengingatkan sisa waktu yang kami punya. Tentu saja agar kami mempercepat langkah agar segera sampai ke puncak.



Bagian tersulit dari pendakian ke Kinabalu ini adalah saat sudah sekitar 200 meter dari puncak. Setelah berjalan tertatih-tatih dari jam 3 pagi, ini langkah final untuk sampai ke puncak dan harus memanjat batu-batu lagi. Mental kita benar-benar diuji di sini. Meski nafas tersengal-sengal, saya seakan mendapatkan suntikan semangat yang besar. Demang dan Anggey si anak tupai yang sudah duluan tiba di puncak menyemangati dari puncak.

“Ayo sedikit lagi Sat, semangat” teriak Anggey.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, saya panjat tali terakhir dan…

Sampai…

Di Puncak…

Kinabalu…

4095 meter!

Yeaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh!!!

Menetes air mata haru. Siapa sangka saya bisa berdiri di puncak tertinggi Borneo!

God, thank you, thank you, thank you!

***


Kami saling mengucapkan selamat dan berpelukan. Semua tim tiba di puncak dengan selamat tanpa kekurangan apa pun. Terima kasih tim #SabahSkwad! Kalian super keren! Meski area puncaknya kecil, kami masih muat kok dalam satu frame foto.


Complete Team of #SabahSkwad Proficiat!

Thanks Eiger Adventure yang jadi sponsor perjalanan kami!


Hari itu, kami menjadi “penutup gerbang Kinabalu” alias turun paling terakhir. Karena kami akan stay satu malam lagi di Laban Rata Resthouse, kami masih bisa bersantai untuk foto-foto. Biasanya pendakian ke Kinabalu itu 2 hari 1 malam, sehingga para pendaki harus lekas turun dari puncak dan harus check out jam 12 dari Laban Rata Resthouse. Breakfast tersedia hingga pukul 10 pagi saja.


Jalurnya berkabut ketika kami berjalan turun.



Habis summit ya makan sebanyak-banyaknya! Photo credit by : Anggey @her_journeys

Kami baru turun dari Laban Rata Resthouse ke Timpohon Gate keesokan harinya. Perjalanan turun kami tempuh dalam waktu 4 jam dan seluruh tim dalam kondisi sehat dan selamat. Sungguh kami terberkati sekali dengan cuaca baik selama pendakian, langit cerah, dapat sunrise ciamik dan tidak ada angin kencang. It was totally smooth…Wondering how lucky we were…

Sampai jumpa lagi Kinabalu!

Perjalanan ini disponsori oleh Sabah Tourism Board dan Basecamp Adventure. Jika kalian ingin mendaki Kinabalu, boleh kontak Instagram @basecamp.adventure atau email ke info@basecampadventureindonesia.com ya !

Sunday, December 25, 2016

Laban Rata Resthouse Kinabalu, Sensasi Tidur di Hotel 3000 mdpl

Sunday, December 25, 2016 17 Comments


“Nanti kita akan tidur di Laban Rata, di Sutera Sanctuary Lodge. Kita akan bermalam di sana sebelum  ke puncak” ujar Bobby, local guide kami di Kinabalu yang super ramah.

Wah. Baru kali ini aku naik gunung, tidur di penginapan dengan ketinggian 2972 mdpl, hampir 3000! Itulah alasannya kami tidak perlu membawa peralatan camping seperti tenda, alat masak dan lainnya. Sudah baca kan Persiapan Mendaki GunungKinabalu?

Kami tiba di Laban Rata sekitar pukul setengah enam sore. Beruntung pula bisa melihat semburat senja, pertanda cuaca baik untuk mendaki ke puncak keesokan hari. Semoga benar-benar cerah, batin saya sambil mengucap syukur atas sore itu.


Sunset dari Laban Rata di hari pertama kami tiba. Wuwuwuwuw!
Untuk bisa mendaki sampai ke Low’s Peak (Kinabalu Summit), kita harus tiba di Laban Rata sebelum pukul 07.00 setempat (waktu di Sabah lebih cepat satu jam dari Waktu Indonesia Barat). Selepas jam 7 malam, seluruh pendaki bersiap untuk isthirahat sebelum mendaki ke puncak pukul setengah tiga subuh keesokan harinya.

“Hangat banget di dalam sini”, pekik saya begitu kami masuk ke area restoran. Meja-meja bundar penuh dengan pendaki yang sedang menikmati makan malam. Rombongan kami termasuk yang paling terakhir yang sampai di sana. Dikarenakan jam tutup restoran sudah tinggal sebentar lagi, kami bergegas meletakkan carrier di pojok restoran dan mengantri mengambil makanan yang disediakan prasmanan.



Menu yang tersedia malam itu ada nasi, mie goreng, beef, olahan kambing, sosis dan menu lainnya. Jadi bingung jadinya mau makan apa. Yang jelas, kita harus mengisi asupan gizi agar kuat mendaki ke puncak. Asal jangan berlebihan supaya nggak mules ya. Favoritku di sini adalah puding mangganya. Enak!

Selepas makan malam, Bobby memberikan briefing lagi tentang jalur perjalanan ke puncak. Jam pendakian ke puncak akan dibuka jam 02.30 AM waktu setempat. Oh ya, di Gunung Kinabalu ada peraturan khusus tentang Cut Off Time lho.

Jadi, jarak dari Laban Rata ke Low’s Peak sekitar 3 KM dengan elevasi 1123 meter. Kita akan melewati satu pos sebelum ke puncak yaitu Pos Sayat-Sayat. Cut Off Time untuk tiba di Pos Sayat-Sayat adalah jam 5 pagi. Jika lewat dari COT, kita tidak diperbolehkan melanjutkan perjalanan ke puncak. Jika berhasil, kita masih harus terus berjalan agar tidak melewati COT di puncak Kinabalu yaitu jam 7 pagi. Jika jam 7 pagi kita masih jauh dari puncak, guide akan membawa para pendaki turun dan artinya gagal ke puncak. Duh, rombongan kami jadi was-was apakah bisa memenuhi target waktu.

Bagian samping Laban Rata Resthouse. Credit Photo by Rizal Agustin @mrizag

Oh ya, pasti dari teman-teman ada yang bertanya kok ada COT begitu di Kinabalu? Alasan terbesarnya adalah faktor cuaca. Di atas jam 7 pagi, cuaca susah diprediksi, biasanya tertutup kabut tebal dan tentunya tidak aman untuk pendaki. Saya pribadi setuju dengan pemberlakuan COT ini demi alasan keselamatan. Sama seperti waktu saya mendaki ke Gunung Semeru, COT Puncak Mahameru itu jam 9 pagi.

Begitu briefing selesai, kami dipersilahkan untuk beristhirahat di kamar dan akan dibangunkan pukul 02 pagi nanti. Syukurlah kami mendapatkan satu kamar yang berisikan 12 tempat tidur bertingkat sehingga seluruh rombongan ada di satu ruangan. Lebih nyaman untuk menyimpan barang-barang dan mudah berkoordinasi.

Kok perempuan sama laki gabung kamarnya? Ya sama saja dengan kita tidur di tenda bisa campur antara perempuan dan laki-laki ya. Tak ada bedanya. Kita memilih satu kamar ya karena alasan di atas tadi.

Sebenarnya ada beberapa jenis kamar di Laban Rata ini yakni :

Laban Rata Resthouse Room 1 yang terdiri dari twin bed dan juga penghangat ruangan.
Laban Rata Resthouse Room 2 yang terdiri dari twin bed dan juga penghangat ruangan.
Laban Rata Resthouse Room 3 yang terdiri dari enam tempat tidur bertingkat dengan penghangat ruangan.
Laban Rata Resthouse Bunk Beds yang terdiri dari 60 tempat tidur bertingkat (bunkbeds) tanpa penghangat ruangan.

Kondisi kamar rombongan kami. Maaf nggak punya foto kamar yang rapi. Hahahaha... (Photo by : Anggey @her_journeys )
Fasilitas yang disediakan ada Kamar Mandi pakai shower dengan catatan air panas tersedia jika ada matahari karena sumber listriknya dari Solar Panel. Selama dua hari saya stay di Laban Rata, saya sama sekali tidak mandi karena setiap mau mandi, airnya dingin kayak es alias mataharinya ngumpet. Jadi ketika teman-teman lain berani mandi air dingin dan keramas sampai sakit kepala, saya hanya lap-lap badan saja.

Kamar mandinya hanya ada empat bilik. Dua bilik dengan shower dan dua bilik toilet. 
Lalu ada toko kelontong kecil di bagian resepsionis yang menjual obat dan penganan kecil, restoran dan juga toko souvenir. Oh ya, masing-masin tamu juga diberikan satu handuk tebal yang bisa diambil saat registrasi kedatangan. Jangan dibawa pulang ya handuknya. Hihihihi…

Waktu paling favorit di Laban Rata ini ya pas pagi hari. Santap pagi dengan langit biru cerah dan memandang bebatuan andesit Gunung Kinabalu dan lembahan yang diselimuti awan, rasanya tiada duanya.

Breakfast wih a view like this. Breathtaking isn't it? Photo Credit by : Rizal Agustin @mrizag
Dan yang aku suka dari laban Rata Resthouse adalah interiornya yang sweet peach & eyecatchy. Kalau kata anak zaman sekarang, "instagramable" banget. Hehehehe... 

Waktu di sana, saya pandang-pandangi semua bingkai kata-kata motivasi yang ada di dinding. benar-benar memotivasi pendaki-pendaki untuk sampai di puncak dan tentu saja pulang ke rumah dengan selamat.



Eye catchy banget kan interiornya?

Berapa Harga Penginapan Laban Rata?


Menginap di Laban Rata ini ratenya sekitar Rp 1.500.000 – 3.000.000,- per malam tergantung jenis kamar. Ratenya bisa berubah-ubah tergantung season. Begitu pula dengan ketersediannya karena Laban Rata resthouse ini hanya bisa menampung sekitar 75 pendaki. Untuk booking di peak season yakni pertengahan tahun, harus sudah dari enam bulan atau setahun sebelumnya.


Perjalanan ini disponsori oleh Sabah Tourism Board dan Basecamp Adventure. Jika kalian ingin mendaki Kinabalu, boleh kontak Instagram @basecamp.adventure atau email ke info@basecampadventureindonesia.com ya !

Tuesday, December 20, 2016

Persiapan Mendaki Gunung Kinabalu, Puncak Tertinggi Borneo

Tuesday, December 20, 2016 18 Comments

Tinggi-tinggi Gunung Kinabalu,
tinggi lagi sayang sama kamu
biru biru hujung Kinabalu,
tengok dari jauh, hati saya rindu

Sepenggal lirik lagu di atas kerap terngiang-ngiang di kepala. Lagu dengan lirik genit itu jadi warna dalam pendakian ke Gunung Kinabalu yang ada di Sabah, Malaysia, yang juga merupakan puncak tertinggi di tanah Borneo.

Bisa nggak ya saya sampai di puncak Kinabalu? Batin saya berulang-ulang di dalam hati. Berada di ketinggian lebih dari 4000 meter di atas permukaan laut bukanlah persoalan mudah. Fisik dan mental benar-benar diuji dan terkadang, meski sudah latihan dengan cukup baik, saya masih jiper. Apalagi dengan kondisi tangan kanan yang habis dioperasi pasang pen 4 bulan sebelumnya.

“Lo gila ya mau naik gunung dengan tangan kayak gitu? Kinabalu cuy?” tanya salah seorang teman dekat.

Ya juga ya. Gila memang. Dokter sudah bilang bahwa saya harus meninggalkan aktivitas outdoor selama setahun pemulihan. Tapi kesempatan mendaki Kinabalu dari Sabah Tourism Board mungkin tidak datang dua kali. Jadilah saya mengiyakan ajakan tersebut satu bulan sebelum keberangkatan dan mempersiapkan fisik semaksimal mungkin. Jogging dan berenang adalah dua jenis olahraga yang saya lakukan rutin menjelang pendakian.

Puncak Gunung Kinabalu dari Kinabalu Park Head Quarter. Clear banget sampai jam 8 pagi ajah!
Teman-teman yang ikut di pendakian kali ini ada Abex, Billy, Kak Gemala, Om Pinneng, Anggey, Rizal, Demang, Rivan, dan Mario. Bersama dengan saya, total rombongan kami ada 10 orang berangkat bersama-sama dari Jakarta menuju KK, Kota Kinabalu. Ada maskapai AirAsia yang melayani direct flight Jakarta – KK. Dengar-dengar, rute direct flight dari Jakarta ke Kinabalu akan dihapuskan. Duh jangan dong, kan banyak pendaki di Indonesia yang dipermudah dengan adanya direct flight ini. Semoga tetap ada ya.

Ki - Ka : Rizal, Rivan, Wahyu Demang, Mario, Om Pinneng

Ki - Ka : Gemala, saya, Anggey dan Abex
We named ourselves as SabahSkwad! Buli bah kalo kau!

Apa yang harus disiapkan untuk ke Kinabalu?


Nih penting nih. Pasti banyak yang penasaran barang-barang apa yang harus dibawa untuk mendaki Gunung Kinabalu. Berbeda dengan pendakian gunung yang harus bawa carrier berkapasitas besar, untuk mendaki Kinabalu, kita cukup membawa ransel kecil aja berisikan barang-barang pribadi yang kecil-kecil saja.

Eh beneran?

Iya.

Lupakan bawa tenda, trangia, flysheet, tramontina, sleeping bag. Tak dibutuhkan itu sama sekali di Kinabalu.

Gambaran jalur pendakian Kinabalu. Photo by :  Rizal @mrizag | Psst, saya cuma bawa ransel sekecil itu lho!
Yang perlu kamu bawa hanya setelan pakaian jalan, setelan pakaian tidur, jaket polar, jaket windbreaker, buff, sarung tangan, kaos kaki, headlamp, sepatu trekking, sandal, botol air minum, trekking pole, sunglasses, “kotak bencong” yang berisikan pembersih dan pelembab. Itu rincian isi dari ransel kecil saya kemarin. Ringkas banget kan?

Nantinya kita akan beristhirahat, tidur di penginapan “Sutera Sanctuary Lodge” yang ada di camp Laban Rata dengan ketinggian sekitar 2972 meter di atas permukaan laut. Waw, ada penginapan di ketinggian hampir 3000 meter? Ya ada dong di Kinabalu. Itulah kenapa kita nggak butuh bawa perlengkapan tenda dan perintilannya.


Jom Mendaki Kinabalu!


Gunung Kinabalu tercatat sebagai World Heritage Site oleh UNESCO. Oleh karena itu, pengelolaannya sangat baik dan professional. Untuk mendaki saja kita harus mendaftar dari berbulan-bulan sebelumnya karena ada kuota per hari yang diberlakukan. Saat peak season, kita bahkan harus mendaftar 6 bulan atau satu tahun sebelumnya supaya mendapatkan slot.

Jika barang-barang bawaan kita sudah lengkap dan fisik kita sehat, berarti kita sudah siap untuk mendaki Kinabalu. Eits, nggak langsung naik ya. Kita harus mengisi beberapa formulir perizinan di Kinabalu Park Head Quarter. Kita harus mengisi data diri sesuai yang tertera di passport, mengisi emergency contact, membaca seluruh ketentuan yang berlaku dan menandatanganinya.

Tak berapa lama setelah menyerahkan formulir, kita akan diberikan name tag yang harus dijaga baik-baik. Jangan sampai hilang karena kalau hilang saat mendaki, kamu tidak bisa naik ke puncak dan juga tidak bisa keluar. Lah susah juga ya? Jadilah name tag-nya dikalungkan di leher biar aman. Di name tag itu tertera nama kita, kode negara dan kode grup kita.

Selain mendapatkan nametag, kita juga menerima satu lunchbox makan siang yang berisi sandwich, ayam, telur dan air mineral. Coba, di Indonesia ada nggak gunung yang kasih bekal makanan ke pendaki? Hahaha…

Setelah menyelesaikan proses administrasi dan cek kelengkapan, kita akan ditransfer ke Timpohon Gate, titik awal pendakian Gunung Kinabalu yang ada di ketinggian 1.866 mdpl. Target hari pertama adalah mencapai Laban Rata Camp yang berada di ketinggian 3272 mdpl. Jarak tempuh normal biasanya sekitar lima hingga delapan jam saja.

Pemanasan dan doa dilakukan bersama-sama sebelum pendakian dimulai. Jangan lupa juga menandatangani formulir di Timpohon Gate. Nanti sepulangnya, kita harus tanda tangan lagi. Sangat rapi dan terorganisir ya.

Pada pendakian ini pun, seluruh pendaki diwajibkan memakai jasa mountain guide. Satu orang guide memegang tanggung jawab atas lima pendaki. Kemarin kami bersebelas orang, sehingga harus membawa tiga orang guide. Untuk anak yang di bawah 16 tahun dan ingin mendaki Kinabalu, diwajibkan membawa satu orang guide juga. Contoh jika ada satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak berusia 20 tahun dan anak berusia 13 tahun, jumlah mereka memang empat namun tetap harus membawa dua orang guide karena ada satu anggota yang berusia di bawah 16 tahun.

Bersama dua porter perempuan tangguh yang menemani kami ke Gunung Kinabalu. Hai Aunty!
Selain mountain guide, jasa yang sering digunakan di Gunung Kinabalu adalah porter. Mereka adalah penduduk lokal Sabah yang menjual jasa menjadi porter. Jasa mereka tidak dibayar per hari melainkan per kilogram barang. Harga per kilo nya sekitar RM 13 atau Rp 40.000,-. Jadi jika kita menitipkan tas seberat 10 kilogram kepada porter, berarti tarifnya adalah RM 130 atau Rp 400.000,-. Di Indonesia, seberat apa pun bebannya, tarif normalnya Rp 200.000,- per hari ya.


Bawa tabung gas, digendong!
Untuk menuju Laban Rata Camp, kita akan melewati sepuluh pos pendakian yakni : Timpohon Gate – Pondok Kandis – Pondok Ubah – Pondok Lowii – Pondok Mempening – Layang-Layang – Villose – Paka Shelter dan sampailah di Laban Rata Camp.

Masing-masing pos berjarak kurang lebih 0,5-1 km. Kita akan menempuh jarak total 6 kilometer dari Timpohon Gate ke Laban Rata. Bagusnya, di tiap-tiap pos, ada toilet, tempat sampah, tandu dan keran air. Kita tidak perlu bawa air sampai berliter-liter dari bawah. Cukup bawa botol minum satu liter dan di-refill di tiap-tiap pos. Praktis kan?

Coba lihat pos nya, bersih banget kan ya? 
Saat bersantai di pos, saya berandai-andai jika pos ini di Indonesia pasti habis dicoret-coret (vandalism), tandunya diambil orang, toiletnya busuk dan banyak sampah berserakan. Kenapa di Kinabalu sama sekali nggak ada hal-hal seperti itu padahal kita negara yang bertetangga sangat dekat. Entahlah. Kalian mungkin lebih tahu jawabannya.

Jalur pendakian  Gunung Kinabalu cenderung berbatu namun sudah dibuatkan tangga-tangga kayu untuk memudahkan pendaki. Sebenarnya tangga ini membantu agar kita tidak terpeleset di batu-batu. Namun di sisi lain, naik gunung dengan tangga itu terasa beratnya di dengkul, apalagi saat perjalanan turun. Emhhhh….Hahahaha….

Seluruh pendaki harus tiba di Laban Rata sebelum hari gelap untuk registrasi summit attack dan juga mengisi energy. Restoran di Sutera Sanctuary Lodge Laban Rata tutup jam 7 malam. Jadi kalau kita terlambat, nggak dapat makan dan juga nggak bisa ke puncak. Manyun deh…

Syukurlah seluruh tim bisa tiba dengan selamat di Laban Rata sebelum hari gelap. Saatnya beristhirahat beberapa jam sebelum berangkat summit jam 2 pagi.

Akhirnya sampai di Laban Rata sebelum gelap! 
Kita lanjutkan cerita di post berikutnya ya. Masih banyak cerita dan foto-foto serunya…


Perjalanan ini disponsori oleh Sabah Tourism Board dan Basecamp Adventure. Jika kalian ingin mendaki Kinabalu, boleh kontak Instagram @basecamp.adventure atau email ke info@basecampadventureindonesia.com ya J






Follow Us @satyawinnie