Tidak terbayangkan oleh saya betapa dahsyatnya letusan Krakatau pada 132 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1883. Dengan 10.000 kali lipat kekuatan bom yang menghancurkan Hiroshima – Nagasaki, Krakatau meluluhlantakkan apapun yang dekat dengannya, melenyapkan pulau, mendatangkan tsunami setinggi 40 meter dan menewaskan lebih dari 35.000 jiwa.

The Guiness Book of Records bahkan mencatat bunyi ledakan Krakatau sebagai  bunyi paling hebat yang terekam dalam sejarah.



Lampung, sebagai salah satu daerah terdekat dari Gunung Krakatau jelas terkena dampaknya. Bangunan luluh lantak, korban jiwa berjatuhan.

Namun dari sekian banyaknya gedung yang hancur, klenteng Thay Hin Bio adalah salah satu gedung yang masih berdiri. Meski rusak di bagian sana-sini, klenteng masih berdiri dan akhirnya direnovasi. Klenteng ini menjadi saksi dahsyatnya letusan tahun 1883 silam.

Ternyata nama klenteng ini dahulu bukanlah Thay Hin Bio melainkan Cettiya Avalokitesvara / Cettiya Kuan Im Thing, yang berarti tempat persinggahan Dewi Kwan Im. Disebut begitu karena pada awal mula klenteng ini dibangun, seorang bernama Peng Ho membawa patung Dewi Kwan Im dan meletakkannya di dalam klenteng.



Pada tahun 1967, renovasi besar-besaran dilakukan dengan dana yang digalang oleh masyarakat dan umat vihara. Pasca renovasi, nama klenten ini pun diubah menjadi Thay Bin Hio yang berarti vihara yang besar dan jaya.

Memasuki halaman vihara, kami dikagetkan dengan sarang tawon yang begitu besar dengan ratusan tawon sedang terbang mengerubunginya di gapura depan. Persis di atas kepala kami. Dengan sedikit takut kami memasuki vihara pelan-pelan.

Tawonnya banyak sekali...
Di depan vihara terdapat dua patung singa yang katanya simbol dari kewibawaan. Sama seperti vihara lainnya, dominasi warna klenteng adalah merah. Atapnya dihiasi patung naga dan empat Dewa Caturmaharajika.

Di sisi kiri dan kanan bangunan utama, terdapat pagoda kecil yang merupakan “dapur” untuk pembakaran kertas doa.

Begitu mendekati bangunan utama vihara, saya tertarik dengan dua pilar utama yang diukir naga yang melilit tiang. Terdapat pula relief yang katanya bercerita tentang seorang Raja Laut yang congkak.

Sewaktu akan memasuki vihara, saya sedikit ragu-ragu apakah yang non-Buddha boleh masuk. Seorang Bapak Tua yang melihat saya mempersilahkan untuk masuk sambil tersenyum. Vihara Thay Hin Bio terbuka untuk siapa saja, kata beliau.

Langit-langit ruang utama vihara begitu tinggi sehingga memberi kesan ruangan lebih besar dari ukuran sebenarnya. Di tengah ruangan terdapat patung Buddha Sakyamuni dan rupa-rupa persembahan di altarnya. Bau dupa wangi menguar di tiap sudut vihara.

Buddha Sakyamuni

Dewi Kwan Im

Meski masuk beramai-ramai, kami tahu bahwa vihara adalah ruang ibadah. Sudah sepatutnya kita menjaga perilaku dan volume suara agar tetap tenang dan tidak mengganggu yang lain.

Saya tertarik dengan banyaknya patung di bagian kanan dan kiri vihara. Dari info yang saya dapatkan, ada 18 patung arahat, antara lain Pindola Bharavaja, Chota Panthaka, Vanavasa, Khanaka Bharadvaja, Tamra Bhadra, Angida, Nandi Mitra, Kanaka Vatsa, Vakula, Pindola ke II, Rahala, Kalika, Ajita, Naga Sena, Vajra Putra, Gobaka, Panthaka, dan Agida.


Selain 18 patung itu, di altar utama terdapat Patung Dewi Kwan Im (Avalokiteswara), Patung Satya Dharma (Kuan Tie Kong), dan Dewa Bumi (The Tie Kong). Di ruangan sebelah kiri ada altar senopati dan leluhur vihara dan di ruangan sebelah kiri ada patung Ma Cho Po atau Dewi Pelindung Samudera dan Anjing Langit (Tien Kou).



Saya juga baru tahu bahwa gedung Vihara Thay Hin Bio ini dibangun dengan arsitektur khas yang membuat tidak ada air yang menggenang di atap dan jika ada api tidak cepat merambat. Mereka menyebutnya dengan filosofi “Sopi-sopi”.

Meski fungsi utama dari Klenteng Thay Hin Bio adalah tempat beribadah bagi umat Buddha, klenteng ini selalu terbuka untuk kunjungan wisatawan. Jam kunjungannya mulai dari 06.30 – 17.00 WIB. Tidak ada retribusi untuk masuk ke dalam klenteng. Namun bukan berarti karena tidak ada entrance fee, kita boleh berlaku seenaknya ya.



Klenteng Thay Hin Bio ini terletak di Jalan Kakap No 35, Teluk Betung, Bandar Lampung. Lokasinya bersebalahan dengan pusat oleh-oleh terkenal di Lampung. Jadi setelah berkeliling di klenteng, kita bisa membeli buah tangan khas Lampung seperti kripik pisang dengan berbagai bumbu (yang paling tersohor ya).

Jika ingin melihat suasana klenteng yang lebih meriah, datanglah saat perayaan Imlek atau Cap Go Meh, hari dimana klenteng dan sekitarnya akan penuh dengan orang tumpah ruah.

Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Betapa beruntungnya kita bisa tinggal dan hidup di Negara Bhinneka Tunggal Ika. Keselarasan dan keharmonisan beragama adalah daya tarik Indonesia Raya.

Jadi, kapan mau eksplor nusantara?

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Saya dan teman-teman media serta blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Lampung. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaLampung #PesonaIndonesia #SaptaNusantara



Bau kopi menguar kuat begitu kami membuka pintu café El’s Coffee. Aromanya menyenangkan, menenangkan.

Ya bagaimana baunya tidak menguar kuat jika ada mesin roaster berukuran besar di dekat pintu masuk. Heran juga kenapa mesin itu ada ditempatkan di situ. Namun ternyata itulah misi pemilik El’s Coffee. Agar pengunjung yang datang ke tempatnya bisa melihat langsung biji kopi yang diolah langsung. Elkana, sang pemilik ingin pengunjungnya memahami proses setiap cangkir kopi yang diminum. Mulai dari biji, digiling menjadi bubuk dan disajikan oleh barista.

Roasting Machine di El's Coffee Cafe
Pandangan saya langsung tertuju ke sebelah kanan pintu masuk dimana ada toples-toples kaca besar berisikan biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia.

Ragam biji kopi dari berbagai penjuru Nusantara.
Ada Kopi Robusta yang berasal dari berbagai daerah. Ada Lanang Peaberry, Java Mocha, Robusta Flores dan Robusta Lampung.

Untuk Arabica, ada Toraja, Aceh Gayo, Kintamani, Mandheling, Gunung Ijen, Pengalengan Bandug, Bajawa Flores, Wamena Papua, dan Takengon Long Berry.

Selain itu, ada pula Kopi Luwak dan El's Coffee Blend Specialty.

Rupa biji kopi dari berbagai daerah tersebut terlihat sama namun bagi penyuka kopi pasti bisa membedakan dari bentuk, tekstur dan aroma biji kopinya. Kalau saya sudah pasti tidak bisa karena sebenarnya bukan penyuka kopi. Hanya minum kopi sekali-sekali saja.


Barista manis yang sedang sibuk membuat kopi menawarkan untuk membuat latte-art coffee bertuliskan nama saya. Aww… senang betul!

Bergantian memandangi wajah saya dan cangkir kopi, sang barista dengan cekatan menggoreskan magic stick-nya ke atas foam. Ternyata dia tidak hanya membuat nama, tetapi juga melukis rupa saya. I’m so flattered.

Latte-Art Coffee with my name on it. Happy!
Setelah kopi dengan rupa saya jadi dibuat, saya pandangi hingga puas. Kok rasanya nggak tega ya buat meminumnya. Rasanya pengen dibawa pulang dan disimpan jadi kenang-kenangan. Lah ya mana bisa.

Butuh waktu lama untuk akhirnya saya menyesap kopi yang dibuat Mas Barista. Jadi agak dingin karena terlalu lama dibiarkan.

Dan saya takjub ketika saya sesap pelan-pelan kopi dari pinggir gelas dan foamnya nggak berantakan. Masih utuh bentuknya namun makin masuk ke dalam karena kopinya sudah saya minum. Meski pahit, kopinya enak!

Selain suka kopinya, saya juga menyenangi suasana di El’s Coffee café karena interiornya yang ciamik. The owner really has a taste! Segala sudut café begitu menarik. Bahkan ada ruang bermainnya yakni dua electronic dart machines.




Nggak bisa lihat mesin dart nganggur, langsung deh ambil anak panah. Ohohoho, I’m quite good on this. Beat me!



Minum kopi sudah, main dart sudah, berikutnya adalah mencicipi makanan yang diracik khusus oleh salah satu ownernya, Mbak Tia. Di awal, beliau menyambut kami begitu ramah namun segera menghilang dari ruangan. Ternyata beliau masuk ke dapur untuk menyiapkan menu-menu otentik dari El’s Coffee Café.

Pernah makan Spaghetti? Pasti pernah dong ya. Sausnya bermacam-macam seperti Bolognese dan Tuna. Bagaimana dengan ikan asin? Terbayangkah menyantap spaghetti dengan ikan asin?

Spaghetti Ikan Asin Cabe Idjo yang super enak!
Jangan dibayangkan! Makan saja langsung.

Rasanya? Enak parah! Entah racikan bumbu apa saja yang dimasukkan oleh Mbak Tia untuk hidangan Spaghetti Ikan Asin-nya. Saking enaknya, spaghetti-nya lenyap ke perut kami dalam waktu kurang dari lima menit.

Menu berikutnya yang dihidangkan Mbak Tia adalah Chicken Coffee. Ini sih juara banget! Ayamnya benar-benar empuk dengan bumbu rempah yang kuat nan lezat dan ditaburi kopi. Dijamin ketagihan. Porsinya besar hingga bisa disantap dua orang.

Italian Marinated BBQ Chicken. Ini menu juara banget enaknya! 
Saking enaknya, kita sampai merengek supaya Mbak Tia buka restoran di Jakarta saja biar bisa makan menu-menu racikannya tanpa harus pergi ke Lampung dulu. Namun Mbak Tia yang dibesarkan di Lampung ini masih mau memfokuskan bisnis kulinernya di Lampung.

“Kita juga sudah punya beberapa gerai kopi di Jakarta. Ada di Plaza Senayan, Pondok Indah Mall, Mall Alam Sutera dan Living World. Tapi hanya menjual kopi, nggak ada makanannya”, ujar Mbak Tia.


Namun beliau berujar lagi semoga nantinya gerai El’s Coffee Café di Jakarta bisa seperti di Lampung. Wah, senang sekali jika nanti benar-benar kesampaian. Menu masakan Mbak Tia pasti laku keras. Saya pun langsung ngiler lagi membayangkan makanan-makanan yang kita santap di El’s saat menuliskan blogpost ini. Rasanya ingin cepat-cepat ke Lampung lagi. Sempat kepikiran pakai service Go-Food dari Gojek. Ya kali Go-Food nya nganterin makanan dari Lampung sampai Jakarta. Hahaha…

Oh ya, pemilik El’s Coffee Café, Elkana Arlen Riswal ternyata dibesarkan di keluarga pengusaha kopi. Keluarganya merupakan pengumpul kopi di daerah Talang Padang. Hingga pada akhirnya tahun 2010, Pak Elkana berpikir untuk mengembangkan bisnis kopi dan membangun kedai kopi sendiri.

Meski tidak sempat bersua langsung dengan sang pemilik, saya melihat banyak liputan tentang beliau di koran dan majalah yang dipigura, berjejer di dinding café.

Mbak Tia yang cantik, ramah dan jago masak!
Tahukah kamu daerah mana di Lampung yang merupakan daerah penghasil kopi terbesar?

Jawabannya adalah daerah Liwa di Lampung Barat. Selain Kopi Robusta, Kopi Luwak adalah kopi yang juga dihasilkan di Liwa. Kapan-kapan kita pelesiran ke sana yuk untuk lihat perkebunan kopi di Lampung.

Jika tidak sempat ke Liwa, kita bisa kok melihat bijinya langsung di El’s Coffee dan bisa dibawa pulang. Dibeli tentunya, nggak gratis. Kita bisa membeli yang masih berbentuk biji jika memiliki grinder sendiri di rumah. Jika tidak ada, bisa membeli yang sudah menjadi bubuk.

Harganya variatif. Contohnya saja untuk Kopi Lampung, 100gr dihargai Rp 12.000,- ; 250gr dihargai Rp 22.500,- ; 500gr dihargai Rp 40.000,-. Harga yang sangat ramah di kantong, menurut saya.


Oh ya, sang pemilik, Pak Elkana juga memproduksi mesin espresso sendiri yang diberi nama “El Presso”. Mesinnya tersedia dalam tiga warna; hitam, putih dan merah. Tidak hanya mesinnya, isiannya pun dijual langsung di El’s Coffee Café. Hebat sekali!


Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Salah satunya adalah ragam kopi nusantara. Setiap daerah pasti memiliki cita rasa yang berbeda-beda dan pastinya menyenangkan jika bisa mencoba semuanya.

Jadi, kalau ke Lampung, sudah tahu kan harus kemana jika ingin menyesap kopi nusantara? El’s Coffee Café jawabannya…

Jl. MS Batubara 134A, Teluk Betung, Lampung
Open Daily : 10 AM – 10 PM
Website : http://elscoffee.com/ 



Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Saya dan teman-teman media serta blogger mengeksplor beberapa tempat wisata di Lampung. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaLampung #PesonaIndonesia #SaptaNusantara


Berkali-kali berkunjung ke Pahawang tidak ada bosan-bosannya. Tempat ini memang selalu menawan dengan segala keindahan di daratan dan bawah lautnya.

Sebelumnya, daku sudah pernah menulis tentang Pahawang lho, bisa dibaca di "Bersantai Sejenak di Pahawang dan Kelagian"

Perjalanan ke Pahawang kali ini benar-benar menyenangkan. Apalagi tripnya bareng 50 orang teman. Big team!

Cuaca cerah mendukung perjalanan kami. Sehabis makan pagi, kami semua duduk manis di dalam bus dan menuju Pelabuhan Ketapang, sebelum menyeberang ke Pahawang. Paling enak memang kalau menginap dulu di Bandar Lampung agar tidak terlalu jauh ke Pelabuhan Ketapang. Jarak tempuhnya hanya sekitar 1,5 jam. Jika berangkat langsung dari Pelabuhan Bakauheuni akan memakan waktu sekitar 2,5 – 3 jam.

Sama sekali tidak terasa bosan karena guide kami, Bapak Sami Yo Sami bercerita banyak tentang adat dan budaya Lampung. Di bus terasa seru karena semuanya antusias untuk tanya jawab dengan beliau.

Pahawang kini sudah berkembang dengan sangat baik. Setiap tahun ada perubahan yang signifikan dari segi infrastruktur. Beberapa tahun lalu, jalan raya dari Lampung ke Pelabuhan Ketapang sangat rusak namun kini sudah beraspal mulus. Takjub pula daku melihat Pelabuhan Ketapang yang kini ditata rapi, toilet di pelabuhan bersih, perahu-perahu bersandar teratur.


Bersiap jalan-jalan ke Pahawang~ (credit : www.griskagunara.com )
Sebenarnya bulan November bukan bulan yang tepat untuk bermain ke Pahawang karena sudah memasuki musim penghujan. Kami cukup beruntung masih mendapatkan cuaca cerah sepanjang hari meski sedikit berawan. Semesta mendukung!

Dalam kapal kayu yang melaju pelan, kami menikmati pulau-pulau tak berpenghuni, dipenuhi pohon berdaun kemerahan. Rasanya sedang melihat musim gugur di luar negeri. Di tengah riuhnya bunyi mesin kapal, cicit burung yang terbang mengitari perahu kami sambil menukik berburu ikan di permukaan air, masih jelas terdengar.


Semacam musim gugur di luar negeri ya... Pohonnya memerah....

Cantiknya perpaduan air laut kehijauan dan warna-warni pohon...





Berlabuhlah kami di Pulau Kelagian, pulau kecil dengan pasir putih yang memikati hati.

“Yuk nyebur yuk” ajak Tides sambil meloncat dari kapal membawa long fin-nya.

Ya siapa yang tidak tahan untuk menceburkan diri ke air laut yang biru jernih begitu ya kan. Daku pun tak mau ketinggalan untuk mengambil fin, snorkel, underwater camera, bersiap untuk bersenang-senang di dalam air.


Yoga di tepi pantai? Asyik pastinya!

Ternyata tidak semuanya mau bermain air. Ada yang lebih nyaman dan senang duduk di balai-balai tepian pantai, menikmati angin semilir dan seruput kelapa muda. Di Pulau Kelagian kecil yang dulunya tidak ada siapa-siapa, sekarang sudah dikelola bersih dan rapi. Ada satu warung juga yang menjajakan makanan ringan dan minuman segar.

Matahari sudah semakin tinggi, kapal bertolak menuju spot snorkeling berikutnya di dekat Pulau Pahawang Besar. Saya sedikit kaget karena sekarang ada tulisan “I LOVE YOU PAHAWANG” yang sengaja dibuat untuk atraksi bawah laut. Jadi bisa mengambil foto dengan latar belakang tulisan itu. Asal diingat saja untuk tidak memegang karang ya.


Yak! Huruf apa yang hilang di sana? Hahahaha....
Lelah snorkeling, kami diajak Pak Sami untuk menikmati santapan yang sudah disiapkan. Begitu kapal bersandar di dermaga, semuanya langsung bergegas menuju pondokan. Begitu melihat Bapaknya sedang membuka kelapa-kelapa muda, langsung terbayang itu air degan mengalir di kerongkongan.



Begitu melihat menu yang sudah disajikan, duh semuanya menggugah selera. Nasi hangat, lalapan, beragam ikan bakar, seruit (sambal khas Lampung) dan sambal rawit kecap. Sedap betul!

Di bawah pohon kelapa yang rindang, semua menikmati makan siang masing-masing. Memang tiada makan siang yang lebih menyenangkan dari makan di ruang terbuka, dihibur dengan suara gemerisik angin dan ombak.

Perut kenyang, dibuai angin, bawaannya jadi mengantuk ya. Langsung deh pasang hammock di pohon kelapa dan tidurrrrr…




Menjelang sore, Pak Sami, local guide kami mengajak untuk snorkeling ria lagi. Namun karena ombak cukup tinggi, kami diajak ke tempat yang nggak kalah menariknya. Bagan ikan. Whoaaaaaa…

Kebayang nggak ketika 50an orang ingin naik semuanya ke bagan ikan yang terapung di atas laut, hampir tenggelam kakak. Hahahaha…

Namun semuanya antusias ketika jaring-jaring di bagan diangkat dan terlihat banyak ikan kerapu. Sayang masih kecil-kecil. Kalau sudah besar, kita tangkap terus dibakar ya. Sedap!


Main ke Bagan Apung Ikan Kerapu~
Sehabis dari bagan, bertolaklah kami ke Pulau Pahawang Kecil, di mana kita bisa menemukan gusung (gundukan pasir) panjang yang bisa kita lewati saat air surut. Pagi hingga tengah hari adalah waktu yang paling tepat untuk datang ke Pahawang Kecil.

Sayangnya karena kami datang kesorean, gusungnya sudah tertutup air pasang. Meski begitu, semuanya tetap gembira ria berkeliling pulau dan mencari sudut-sudut cantik untuk ditangkap mata lensa.

Hari sudah semakin gelap dan kami harus kembali ke Pelabuhan Ketapang secepatnya. Tak dinyana, kami mendapatkan langit senja begitu indah padahal awalnya langit mendung. Ah penutup perjalanan ke Pahawang yang manis sekali.

Pahawang, ku kan kembali lagi~


Senja di Pelabuhan Ketapang


Cara menuju ke Pahawang :

1.     Naik Bus dari Bakauheni – Terminal Rajabasa : Rp 25000,- (Patas AC)
2.     Naik Angkot dari Terminal Rajabasa – Tanjung Karang : Rp 3000,-
3.     Naik Angkot dari Tanjung Karang – Teluk Betung : Rp 3000,-

4.     Naik Angkot Pick-Up dari Tanjung Karang – Dermaga Ketapang : Rp 8000,-

   Untuk menginap di Pahawang besar, biayanya adalah Rp 400.000,- per malam di satu rumah dengan kapasitas 20an orang.

   Pulau Kelagian Besar merupakan pulau yang dimiliki oleh Angkatan Laut. Per orang dikenai biaya masuk Rp 3000,-. Ada pondok-pondok yang disewakan dengan harga Rp 25000,- per hari dan Rp 50000,- jika ingin bermalam.


Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Pastikan kalian meluangkan waktu untuk mengeksplor Indonesia. Dijamin tak menyesal. Live a life you will remember! Cheers!

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Saya dan teman-teman media serta blogger akan mengeksplor beberapa tempat wisata di Lampung. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaLampung #PesonaIndonesia #SaptaNusantara




Berkali-kali saya mengunjungi Lampung, belum pernah saya menemukan rumah makan yang benar-benar menawarkan makanan khas dari Kota Kain Tapis ini.

“Kau sudah ke Lampung kalau sudah makan Bakso Sony, Sat. Itu yang paling terkenal di sini”, ujar seorang teman ketika saya berkunjung ke Lampung.

Yah, bakso mah dari Sabang sampai Merauke juga ada ya kan.

Sau-satunya makanan lokal Lampung yang saya kenal adalah ‘Seruit’ yaitu daging ikan yang dicampur dengan sambal terasi atau tempoyak dan ditambah terong rebus atau terong bakar. Biasanya ‘Seruit’ dimakan dengan nasi dan lalapan.

Di kunjungan ke Lampung berikutnya, saya diajak ke Rumah Makan Cikwo. Sang pemilik yang baru membuka RM Cikwo selama 9 bulan ini menyambut kami dengan ramah dan sabar menjelaskan tiap-tiap menu yang dihidangkan. Oh ya, nama Cikwo pun ternyata ada artinya. Dalam bahasa Lampung, Cikwo berarti anak perempuan satu-satunya di keluarga. Begitu pula si empunya RM Cikwo, Mbak Isna.


Mbak Isna, pemilik RM Cikwo.
Nah, apa saja sih kuliner khas Lampung?

Ini dia…

Yang paling menarik perhatian saya sejak melihat beberapa makanan yang terhidang di atas meja adalah satu mangkok besar ikan gulai.

“Taboh Iwa Tapa Semalam” ternyata namanya. Tampilannya mirip sekali dengan gulai ikan pada umumnya, namun yang menjadi pembeda adalah ikannya diasapin.

“Ikannya diasapin selama kurang lebih empat jam baru digulai dengan santan. Biasanya supaya enak disantap pagi hari, diasapinnya sewaktu malam. Makanya disebut ‘Tapa Semalam’ yang artinya baru diasapin tadi malam, masih segar” ujar Mbak Isna.


“Taboh Iwa Tapa Semalam”
Saya sendok satu suap ikan dan kuahnya. Nyam. Enak banget dan memang berasa banget aroma ikan asapnya. ‘Taboh Iwa Tapa Semalam’ digulai dengan ‘Tuba’ atau ‘Kluwek’ disebutnya di Jawa. Kluwek itu yang biasa dipakai untuk bahan memasak rawon, lho.

Menu berikutnya yang tidak kalah enak adalah ‘Pandap’. Nama yang unik untuk tampilan makanan dan rasa yang unik pula.

‘Pandap’ ini terbuat dari daun talas muda yang dikukus dengan ikan, kelapa parut dan rempah-rempah. Dibentuk dengan cantik seperti kue sehingga menarik perhatian dan membuat kita berselera. Padahal itu adalah daun dan ikan. Biasanya kan ikan dimasak dengan daun sebagai pembungkusnya. Ya, pepes namanya. Nah yang ini daunnya juga ikut dimasak dan dijadikan sebagai pelapisnya. Ternyata nggak talas goreng yang enak, daun talasnya juga!

Begitu menyantap ‘Pandap’, terasa sesuatu yang lembut memenuhi mulut saya. Benar-benar seperti soft cake. Ummmhhhhh… tidak saya pungkiri, ‘Pandap’ kini menjadi makanan favorit saya di Lampung. Ternyata ‘Pandap’ adalah menu khas dari Krui, salah satu daerah di Lampung, yang sudah ada sejak abad ke-18.


'Pandap'. Menu favorit!
Menu berikutnya yang saya cicipi adalah ‘Cubik Kemas’, ikan mas yang dipanggang dan disiram dengan kuah santan mentah yang dicampur cabaik giling dan daun jeruk purut. Paling enak tuh kalau ikannya baru diangkat dari panggangan, disiram sambal dan dimakan dengan nasi yang masih mengepul hangat. Kebayang kan enaknya kayak apa. Ummmh nyammmm…



Sedap banget itu santan mentah dimakan sama Ikan Mas Panggang. Nyam....

Ada lagi ‘Pindang Baung’, makanan khas yang biasa kita temukan di Sumatera bagian Selatan seperti Palembang, Bengkulu, Jambi, Bengkulu, Lampung. Hampir semua daerah tersebut memiliki menu pindang di setiap restoran yang menyajikan makanan khas daerahnya.

Bagi penyuka jengkol dan pete, menyantap 'Taboh Iwa', 'Pindang Baung' atau pun menu-menu lainnya, jangan lupa untuk mencicipi 'Julang-jaling' yang katanya kakaknya jengkol dan pete. Bentuknya kecil, berwarna hitam namun luar biasa rasa dan baunya. Hahahaha.... Patut dicoba lho.

Yang hitam bulat itu namanya 'Julang-jaling'.
Nah, tadi itu kan hidangan utamanya semua. Bagaimana dengan cemilannya?

Tahu Pisang Coklat? Pasti tahulah ya. Oleh-oleh khas Lampung yang tersohor betul. Favorit saya sih Pisang Coklat-nya ‘Yen-Yen’.

Ternyata ada lagi penganan ringan khas Lampung yang saya temukan di Cikwo.

Ada ‘Buak Tat’, ketan / lemang yang dipotong kecil-kecil dan disajikan dengan tape uli. Kemudian ada ‘Cuchok Mandan’ atau yang kita kenal dengan kue cincin atau kue cucur. Ada lagi ‘Segubal’, kue yang rasanya seperti nastar namun bentuknya kotak-kotak.


Ketan disajikan dengan 'Tape Uli'. 


Di daerah kalian, disebut apakah nama kue ini?

Rasanya persis kayak Nastar.

Yang paling favorit dari semua cemilan itu adalah ‘Kacang Tujin’ yaitu kacang merah yang digoreng dan diberi bumbu sesuai selera. Kalau suka pedas manis bisa dibikin balado. Kalau suka yang original, rasanya asin namun tetap enak. Duh, nggak bisa berhenti ngunyah kacangnya. Enak!


Kacang Tajin yang enyaaaakkk.

Kalau tadi kita bahas makanan, sekarang minumannya. Tapi ini sih bukan minuman khas Lampung, melainkan menu minuman khas racikan RM Cikwo. Jika berkunjung ke sana pastikan kamu cobain Kopi Jelly dan Serbet Kweni. 


Favoritku! Kopi Jelly! Nyam!
Aku paling suka Kopi Jelly! Kalian pasti berpikir kalau itu adalah kopi yang dikasi jelly. Eits, salah! Ini kopinya yang dijadikan jelly dan dicampur dengan susu. Aduh enak banget, kayak makan permen kopi tapi lembut. Kopi yang dipakai adalah kopi Robusta yang ditanam di bagian Lampung Barat. Sedangkan Serbet Kweni adalah menu minuman segar yang terbuat dari Mangga Kweni dan gula aren.

Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Kuliner khas pun termasuk di dalamnya. Yuk, siapa yang mau icip-icip santapan lezat dari Lampung? ;)

Jl. Nusa Indah No.1, Teluk Betung Utara,
Kota Bandar Lampung, Lampung 35213

0812-7327-6777

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Saya dan teman-teman media serta blogger akan mengeksplor beberapa tempat wisata di Lampung. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaLampung #PesonaIndonesia #SaptaNusantara