Friday, July 31, 2015

Wolotopo, Kampung Megalitikum di Atas Batu

Friday, July 31, 2015 7 Comments


Hari sudah sore ketika kami memarkirkan kendaraan di depan gereja. Sekumpulan anak-anak sedang bernyanyi bersama guru sekolah minggu mereka. Mereka antusias sekali melihat kakak-kakak yang datang membawa kamera. Dinyanyikanlah satu lagu untuk kami.

“Di sini senang, di sana senang, dimana-mana hatiku senang

  Di sini senang, di sana senang, dimana-mana hatiku senang
  Lalala la la la la, lalala la la la la, lalala la la la, la la la la…”

Menggemaskan sekali.


Tujuan kami adalah Kampung Adat Wolotopo yang terletak 12 kilometer ke arah timur Ende. Perjalanan selama kurang lebih 30 menit terasa singkat karena kami asyik menikmati pemandangan. Abang driver kami juga berbaik hati memberhentikan mobilnya untuk mengajak kami naik ke satu bukit mengambil beberapa gambar. Duh, memang amik pemandangan dari atas bukit itu. Kita bisa melihat Gunung Meja dan Gunung Ia di kejauhan serta hamparan garis pantai berpasir kecokelatan.


Laut Sawu dan Gunung Meja di kejauhan

Teman seperjalanan di #PesonaEnde yang super seru!

Di perjalanan menuju Kampung Wolotopo

Sebelum tiba di Kampung Adat Wolotopo, kami melintasi kampung dengan rumah-rumah semi permanen. Saya sempat terkesima dengan keberadaan pohon beringin yang ada di sebelah kiri jalan. Besar sekali.

Kampung adat di Nusa Tenggara Timur memang memiliki kekhasan. Setiap akan membangun kampung, mereka juga menanam satu atau beberapa pohon beringin yang dianggap sebagai “penjaga kampung”.

Pohon beringin "penjaga kampung"

Senang sekali melihat keramahan seluruh penduduk kampung. Sudah lewat pukul empat sore waktu itu sehingga banyak perempuan sudah wangi berdempul, duduk bersantai di depan rumah. Anak-anak berlari-larian, bermain seperti tak kenal waktu. Ada yang sudah mandi, namun ada juga yang belum. Tapi begitu melihat kamera diarahkan kepada mereka, senyumnya terkembang, semanis kembang gula.

Kakek dan cucu yang manis sekali ya

Gadis-gadis Wolotopo yang nggak kalah manus


Mama menunggu antrian mandi

Dari kejauhan sudah terlihat bahwa di atas tebing yang terbuat dari batu yang disusun rapi, terdapat dua rumah kayu besar.

Dua Sa'o Ria yang tersisa di Wolotopo

“Nah, itu namanya Sa’o Ria. Kita mau masuk kesana” ujar pemandu kami, Bang Vincent

Dulunya ada empat Sao Ria (rumah besar) di Kampung Wolotopo ini, yakni Sa’o Tarobo, Sa’o Ata Laki, Sa’o Sue dan Sa’o Taringgi. Namun yang tertinggal kini hanya Sa’o Ata Laki dan Sa’o Sue.

Untuk masuk ke kampung adat, kita akan menaiki beberapa anak tangga kemudian berbelok ke kanan. Di rumah yang pertama kali kami lihat, ada tiga Mama yang sedang duduk bersantai. Kami beri salam namun hanya ditanggapi dengan tatapan bingung.

Batunya disusun rapi sekali...


Duh rambut keritingmu bikin gemes, dek...
Saya meminta izin untuk mengambil foto di depan pintu rumah tersebut namun dilarang karena rumah itu baru direnovasi dan belum diadakan upacara adat (seperti acara pemberkatan rumah) jadi orang asing tidak boleh masuk sekalipun hanya duduk di teras.

Tidak lengkap rasanya datang ke Kampung Adat namun tidak mendapat cerita tentang sejarah kampung tersebut. Sambil menunggu Bapak Yakobus, salah satu tetua adat di Wolotopo, datang, kami berkeliling kampung dulu.

Saya tertarik dengan satu bangunan kayu kecil beratap rumbia yang ada di atas batu. Kami menaiki tangga dan melihat dari dekat dan seksama bangunan apakah itu. Pemandu kami memberitahu bahwa itu namanya “Kedha Kanga”, bangunan yang digunakan untuk menyimpang tulang-belulang leluhur di Wolotopo.

"Kedha Kanga"
“Kamu lihat batu-batu yang bertumpuk di sana? Itu namanya “Tubu Musu”, perlambang lelaki. Karena itu batunya ditancapkan” jelas pemandu kami.

"Tubu Musu"
Di tengah kampung juga terdapat makam leluhur yang dibuat dari batu yang bersusun dan mereka sebut “Bhaku”.

"Bhaku"

Senja menggelayut dan langit semakin gelap. Satu per satu rumah menyalakan lampu. Kami diberitahu bahwa Pak Yakobus sudah datang dan sudah siap menyambut kami.

Sebelum masuk ke rumah, saya sempat bercakap dengan Mama Theresia Soi, salah satu penghuni rumah. Kami bertanya tentang ukiran yang ada di depan dinding rumah. Apa filosofi dari ukiran-ukiran tersebut.

Mama Theresia Soi

Salam dari Wolotopo, di sebelahku itu Kak Lucia Nancy
Mama Theresia bercerita bahwa bagi masyarakat Wolotopo, rumah adalah perlambang Ibu. Oleh karena itu terdapat ukiran buah dada kecil dan gong di bagian kiri, perlambang wanita muda yang belum menikah. Di sebelah kanan terdapat ukiran buah dada besar dan tempat sirih, perlambang wanita yang sudah menikah.

Perlambang wanita muda yang belum menikah

Perlambang wanita yang sudah menikah. Spot the difference?
“Tadi tidak tersandung kan sewaktu masuk ke rumah?” tanya Pak Yakobus.

“Tidak Pa. Kenapakah?” tanyaku lagi.

“Ya kalau ada yang tersandung sewaktu masuk ke rumah ini, berarti harus tinggal dan dibuatkan upacara adat agar tetap selamat” ujar Pak Yakobus

Kami langsung saling bertatapan, memastikan tidak ada yang tersandung saat memasuki rumah tadi. Merasa yakin tidak ada yang tersandung, Pak Yakobus mengajak kami melihat isi dalam rumah.

Ada enam dapur di dalam rumah ini untuk enam keluarga
Di dalam rumah ini, tinggal enam keluarga. Masing-masing memiliki satu bilik dan satu dapur. Jadi ada enam tungku di dalam rumah.

“Kalau pemuda-pemuda tidurnya di luar, setiap hari” ujar Pak Yakobus lagi

“Beneran Pak? Nggak kedinginan mereka tidur di teras terus?” tanyaku

“Sudah biasa. Dari dulu juga begitu” jawab Pak Yakobus singkat

Ya ampun, apa rasanya ya tidur di teras terus ya? Dan katanya nanti para pemuda ini akan tidur di dalam kamar di rumahnya sendiri setelah menikah. Kalau masih lajang ya tidur di teras. Kesian…

Hal yang paling unik di rumah ini adalah satu gantungan kayu di tengah rumah yang bentuknya seperti jantung. Memang benar adanya jika kayu itu adalah jantung rumah, jantung seluruh penghuninya.

"Jantung" rumah
“Jadi jika ada anak dari rumah ini yang mau merantau ke luar kampung, dia akan membawa sedikit irisan dari kayu ini untuk pelindungnya. Agar dia juga ingat pulang ke rumah” ujar Pak Yakobus

Saya sebagai anak rantau langsung terharu. Langsung kangen rumah.

Di dalam rumah juga terdapat gong dan beberapa benda yang digunakan untuk “memberi makan” para leluhur. Jika tidak sedang ada upacara adat, perkakas itu disimpan di bagian atas rumah.

Perkakas untuk memberi makan leluhur

Gong yang dipakai untuk upacara adat di Wolotopo
Saat melihat-lihat rumah, kami sangat berhati-hati saat melangkah. Lantainya terbuat dari anyaman bambu dan sudah reot di beberapa bagian. Jadi kalau berjalan bunyi “krek…krek..krek…”. Was-was juga kalau tiba-tiba kakimu terperosok. Syukurlah aman-aman aja. Ya wong jalannya pelan-pelan banget.

Kami tidak bisa berlama-lama di dalam rumah karena ada acara yang harus kami hadiri. Setelah berterima kasih kepada Pak Yakobus, Mama Theresia dan seluruh masyarakat yang ikut menemani kami selama berkeliling kampung, kami kembali menuju mobil dan melanjutkan perjalanan ke kota Ende.

Pak Titus dan Pak Yakobus
Tadinya kami mengiri datang kesorean membuat kami ketinggalan banyak momen yang bisa diabadikan. Eh ternyata dengan datang sore, kami mendapat suguhan pemandangan sore yang menakjubkan dari atas bukit batu. Teduh rasanya melihat semburat senja menghiasi langit dengan Gunung Meja dan Gunung Ia sebagai pemanisnya.


Sampai jumpa lagi, Kampung Megalitik yang menarik. Kampung Wolotopo.


Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Saya dan teman-teman media serta blogger akan mengeksplor beberapa tempat wisata di Ende. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaEnde

Monday, July 13, 2015

Hangatnya Berbuka Bersama di Grand Zuri Hotel BSD

Monday, July 13, 2015 22 Comments

Rombongan kami disambut dengan senyum ramah pegawai Hotel Grand Zuri setibanya kami di pelataran lobby. Interior hotel yang didominasi warna putih dan coklat langsung menawan hati saya. Kesannya hangat, seperti masuk ke dalam rumah sendiri.


Sore itu kami akan menghadiri acara Buka Bersama Grand Zuri BSD Hotel Management dan adik-adik dari Panti Asuhan Al-Ikhwaniyah. Sambil menunggu waktu berbuka, kami dihibur dengan tausiyah dan marawis oleh adik-adik panti yang manis. Walaupun saya tidak menjalankan ibadah puasa, saya merasakan kehangatan berbagi di bulan suci penuh berkah ini. Semoga berkahnya dirasakan oleh semua pihak ya, kamu, aku, kita semua. Terima kasih Grand Zuri yang sudah mengadakan acara berbuka bersama adik-adik Panti, semoga amal baiknya diterima ya.


Keluarga besar Grand Zuri BSD dan adik-adik Panti Asuhan Al-Ikhwaniyah
Begitu adzan maghrib berkumandang, semuanya langsung berbaris rapi mengantri takjil. Ada kolak pisang (enak banget sampai saya nambah dua), es buah, kurma, gorengan, teh manis hangat. Setelah perut sedikit terisi, kami diajak pindah ke ruangan sebelah dimana sudah tersaji makanan, lauk-pauk dan lalapan di atas daun pisang yang biasanya disebut makan “bancaan”.

“Kalau anak pecinta alam, kayaknya sering banget makan di atas daun pisang begini ya”, celetuk salah satu temanku. Sebenarnya saya belum pernah sih makan bancaan begini di gunung. Kalau makan pakai alas daun sih pernah, tapi kalau makan rame-rame belum kayaknya *sambil mengingat-ngingat lagi*


Makan Bancaan bareng teman-teman blogger. Kenyang banget!
Sambil makan, semuanya bersenda gurau, menikmati suap demi suap nasi liwet dan lauknya yang sungguh menggoda. Yummm…. Lucu kan, makan bancaan di hotel bintang empat. Kapan lagi coba? Cuma di Grand Zuri BSD City pastinya.

“Nyuapnya sih dikit-dikit ya kita Sat, tapi nggak berhenti ngunyah”, celetuk Mas Wira sambil terkekeh. Jelas banget kelihatan siapa yang malam itu begitu lahap makannya *lirik perut Om Bolang, Mas Wira dan Ochoy*

Buat nurunin perut yang rasanya begah banget, Mbak Dhini selaku Executive Secretary Grand Zuri BSD mengajak kami mall hopping (biasanya kan Island Hopping kalau keliling pulau-pulau, ini keliling mall-mall makanya namanya jadi mall hopping).

Terakhir saya ke BSD rasanya 2 tahun yang lalu dan ternyata kota ini sudah sangat besar, berkembang maju. Mobil kami melaju menuju salah satu pusat perbelanjaan yang katanya lagi ngetrend di BSD City, namanya AEON Mall. Saya yang bukan anak mall lebih memilih duduk di teras mall, mengunyah Beard’s Papa dan menonton dancing fountain. Saya akui banyak sudut-sudut mall ini yang instagramable. Cantik banget.



Rencana awal untuk Mall Hopping tiba-tiba berubah karena katanya Chef di Grand Zuri sudah menyiapkan menu spesial untuk kami. Wahhh, yah kita lebih memilih untuk pulang ke hotel dan menyantap makanan lezat di Grand Zuri dong. Nggak sampai 10 menit, kita sudah sampai lagi ke hotel. Enak ya di Grand Zuri ini, dekat kalau mau kemana-mana. Banyak pusat perbelanjaan, dekat gedung-gedung perkantoran. Strategis!

Chef Roby Mardeta yang berperawakan tinggi besar menyambut kami hangat dengan seragamnya yang berwarna hitam emas. Tertulis di bawah namanya, “Executive Chef”. Whoa, terhormat sekali kami bisa menikmati hidangan spesial oleh Executive Chef Hotel Grand Zuri langsung.

Ada 3 menu yang jadi andalan Chef Roby yaitu Ayam Sambal Mangga, Rawon dan Buntut Goreng Madu. Buntut Gorengnya ini nih yang endeussss bambang, enak banget, bikin nagih. Menu ini memang andalan banget di Grand Zuri BSD. Chef Roby emang top markotop deh!

Ayam Sambal Mangga! Yummm....

Buntut Bakar yang enaknya tak terperi...

Fresh Lychee Strawberry Grand Zuri. Segerrrr....
Keesokan paginya, Mbak Dhini mengajak kami untuk berkeliling hotel. Kondisi badan saya yang kurang sehat waktu itu membuat rencana saya untuk berenang dan sauna di Grand Zuri harus ditunda dulu. Padahal sudah nggak sabar pengen nyebur begitu pertama kali lihat kolam renangnya. Di samping kolam renang juga ada fitness centre dan sauna. Duh, enak banget kan kalau bisa jogging dulu, berenang terus sauna. Namun, apalah daya kalau badanmu sedang tidak mendukung kan ya. Tapi fitness centre, sauna dan kolam renangnya bersih banget lho. Patut dicoba jika teman-teman menginap di Grand Zuri BSD.

Kolam renangnya bikin pengen nyebur banget nggak sih? Segerrrr...

Ruang Gym 

Ruang Sauna
Grand Zuri BSD sendiri memiliki kamar sebanyak 132, terdiri dari lima macam tipe kamar yaitu superior (115 rooms), deluxe (2 rooms), executive (8 rooms), junior suite (6 rooms) dan president suite (1 rooms). Setiap kamar didominasi dengan warna putih dan coklat serta interior kayu. Kesan yang sama seperti yang saya dapatkan begitu memasuki lobby hotel Grand Zuri BSD pertama kali, hangat.

Dominasi kayu dan warna coklat, hangat...

Deluxe Room. Lucu ya TV nya bisa diputar gitu. Mau nonton di tempat tidur boleh, di sofa boleh.


Junior Suite, ada pantry tapi nggak ada kompornya. Kalau di President Suite, ada kompornya.

Ruang tamu dan pantry Junior Suite

Junior Suite Room

Santai ala-ala gitu sama si Kakak cumilebay.com
Selain memiliki 132 kamar yang modern, Grand Zuri BSD juga memiliki beberapa fasilitas untuk memanjakan Anda yaitu Cerenti Restaurant (buka dari 06.00 – 23.00 WIB), Zuri Lounge (buka dari 09.00 – 23.00 WIB), 8 meeting rooms, Wellness Centre (Gym, In room Spa, Swimming Pool), Mushalla.

Breakfast time adalah saat yang saya tunggu-tunggu. Saya mencicipi hampir semua menu yang disajikan, mulai dari western hingga eastern food dan semuanya enak-enak. Kalau dimasukin semuanya di blog, nanti penuh banget. Jadi ditunjukin sebagian ya. Hehehe...

Our Breakfast...




Sebelum pulang kami diajak untuk mengikuti cooking class yang diadakan Chef Roby. Kita diajarin yang simple-simple aja sih (kelihatannya doang tapi). Diajarin cara bikin omelette, scrambled egg dan sunny side-up. Chef Roby sih meragainnya kayak gampang banget, eh pas dicoba sendiri pada kacau. Hahahaha… Selain itu kita juga diajakin main tebak rempah dengan mata ditutup. Jadi kita cuma boleh megang dan membauinya. Kalau sekedar menebak merica, lada gampanglah ya. Ini dikasihnya bumbu Pekak, Kapulaga, Jintan, Cengkeh, Kayumanis. Agak susah ya nebaknya. Tapi seru banget sih…

Mz Wira menang loh kompetisi bikin Omelette. Sudah siap jadi suami nih ;)
Ah, nggak terasa sudah menjelang tengah hari yang berarti kami harus kembali ke tempat masing-masing. Rasanya masih pengen leyeh-leyeh di Grand Zuri BSD (ini kode :p ) sampai beberapa hari ke depan. Terima kasih banyak ya Grand Zuri BSD untuk undangannya dan jamuannya. Semoga sukses terus! ;)

Terima kasih Mbak Dhini, segenap karyawan Grand Zuri BSD dan teman-teman blogger ceria. *hugs and kisses*

Penawaran Khusus Selama Bulan Ramadhan :

  •  Room Promotion Ramadhan  (Sale Up To 70%)  Free Buka Puasa for 2 Persons (Valid 14 June – 16 July 2015) *T&C Applied*
  • Room Promotion Lebaran (Sale Up To 65%) Free Buffet Dinner only on 17 & 18 July (Valid on 17 – 31 July 2015) *T&C Applied*
  • Jajanan Festival Ramadhan. Starts from IDR 30.000,- net (Valid on 16 June – 16 July 2015) *T&C Applied*
  • Bukber (Buka Bersama) Package. Starts from Rp 108.000,- nett *T&C Applied*
  • Halal Bihalal Package. Starts from Rp 135.000,- net (Buy 5, get 5 Free) (Valid on 20 – 31 July 2015) *T&C Applied*
  • Lebaran Hampers. Starts from Rp 178.000,- nett *T&C Applied*

Untuk menikmati semua layanan dari Grand Zuri BSD Hotel, silahkan kontak langsung nomor di bawah ini ya. Have a pleasant stay with Grand Zuri…

Grand Zuri BSD Hotel

Jl.Pahlawan Seribu Kavling Ocean Park Blok CBD Lot. 6 

BSD City, Banten – Indonesia

Telp : 021 – 2940 4966

www.grandzuri.com 






Follow Us @satyawinnie