Sunday, June 21, 2015

Pesona Ende - 8 Tempat yang Menarik Dikunjungi

Sunday, June 21, 2015 16 Comments
Jika kamu berwisata ke Ende, ini adalah tempat-tempat menarik yang bisa kamu kunjungi...

1. Kampung Adat Wolotopo

Kampung adat yang terletak 14 kilometer dari pusat Kota Ende ini adalah kampung adat megalitikum dengan adat-istiadat yang masih kental. Kita bisa berkeliling kampung, melihat rumah adat Wolotopo dan kuburan-kuburan batu. Jika kita berkunjung di sore hari, kita bisa melihat indahnya Teluk Sawu dan Gunung Meja dari atas bukit. Cerita lengkap tentang Kampung Adat ini akan segera saya tulis ya




2. Danau Kelimutu, Danau Tiga Warna


Danau ini sudah tersohor ke penjuru dunia. Merupakan satu-satunya danau yang memiliki tiga warna dan tidak dapat diprediksi kapan warnanya akan berubah-ubah. Waktu yang tepat untuk mengunjungi danau ini adalah waktu subuh agar bisa menikmati pemandangan matahari terbit yang berpadu dengan keindahan Danau Kelimutu. Cerita tentang Danau Kelimutu bisa kalian baca di "Danau Kelimutu dan Cerita Rakyatnya" & "Pesona Ende, Pesona Danau Tiga Warna, Kelimutu".



3. Taman Renungan Bung Karno


Apakah kamu tahu bahwa Bung Karno pernah diasingkan selama empat tahun (1934-1938) di Ende? Apakah kamu tahu bahwa Pancasila merupakan buah pemikirannya di bawah pohon sukun bercabang lima? Baca cerita lengkapnya di "Menelusuri Jejak Bung Karno di Ende".



4. Rumah Pengasingan Bung Karno


Tanya saja kepada penduduk di Ende, tidak ada yang tidak tahu dimana Rumah Pengasingan Bung Karno berada. Berlokasi di Jalan Perwira, rumah kecil nan sederhana ini menyimpan banyak barang bersejarah ketika Bung Karno diasingkan di Ende bersama keluarganya. Mau lihat isi rumahnya? Silahkan baca di "Menilik Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende".



5. Museum Tenun Ikat


Kita sama-sama tahu bahwa Nusa Tenggara Timur terkenal sekali dengan kain tenun ikatnya. Di Ende kalian bisa belajar tentang pola tenun dan belajar asal dari tiap-tiap warna dan arti tiap motif di kain tenun. Menarik sekali...





6. Pantai Ria dan Pantai Ende


Kalau ditanya, tempat paling gaul se-Ende, ya Pantai Ria. Kita bisa duduk santai di tepi pantai, menikmati es kelapa muda dan teduhnya Laut Sawu. Di Sepanjang Pantai Ria terdapat banyak pondokan untuk bersantai yang juga menjajakan berbagai jenis makanan olahan laut.





7. Kampung Adat Jopu

Walaupun rumah adat Sao Ata Mosa Lakitana yang tersisa di Kampung Adat Jopu hanya satu (karena kebakaran), kalian akan terkesima dengan cerita adat yang dibawakan oleh Mama Maria. Menjadi satu-satunya orang yang mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris, Mama Maria dikenal oleh seluruh wisatawan yang datang ke Kampung Adat Todo. Beliau mampu menjelaskan secara detil makna dari setiap benda dan guratan yang ada di rumah adat tersebut. Cerita lengkapnya akan saya tulis segera ya. 




8. Pasar Tradisional Ende


Mau mencari beragam kain tenun ikat dengan harga yang bersahabat? Pasar tradisional adalah jawaban yang tepat. Jangan lupa untuk berkunjung ke Pasar Ende jika kalian ingin memanjakan mata dengan warna-warni tenun ikat dan membawanya sebagai buah tangan. 




Karena keterbatasan waktu yang kami miliki untuk mengeksplor Ende, baru tempat-tempat di atas yang bisa kami kunjungi. Jika kalian memiliki rekomendasi tempat yang menarik dikunjungi di Ende, silahkan berikan komentar di bawah ya. Siapa tahu, saya bisa kembali lagi ke Ende dalam waktu dekat. *Amin*


Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Saya dan teman-teman media serta blogger akan mengeksplor beberapa tempat wisata di Ende. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaEnde


Pesona Ende - Pesona Danau Tiga Warna, Kelimutu

Sunday, June 21, 2015 25 Comments

Malam itu Moni dingin sekali. Dengan menggigil, kami beringsut menuju mobil dari kamar. Kami harus bergegas agar tidak ketinggalan momen matahari terbit di Danau Kelimutu. Di sela rasa dingin yang menggigit, rasa senang akan mendaki Kelimutu lebih kuat  sehingga lama-kelamaan dinginnya tak lagi terasa.

Danau Kelimutu yang dulunya kita kenal ada di lembaran uang lima ribuan, terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Jaraknya sekitar 66 kilometer dari Kota Ende dan 83 kilometer dari Kota Maumere. Moni adalah nama daerah yang paling dekat dengan Kelimutu. Jarak Moni dan Kelimutu hanya 15 kilometer.

Butuh waktu berkendara sekitar 30 menit dari Moni untuk menuju pintu masuk pendakian Taman Nasional Kelimutu. Naik mobil sih enak ya, masih hangat di dalamnya. Coba kalau naik motor. Wihiiii, pasti merinding disko.

Kalau sudah tahu begitu, kamu pasti mengerti dong pakaian seperti apa yang harus kamu kenakan untuk mendakinya? Wajib pakai celana panjang, baju hangat, jaket windbreaker dan lebih baik lagi kalau mengenakan kaos kaki tebal, sepatu trekking dan sarung tangan.

Pintu masuk Taman Nasional Kelimutu
Sebelum masuk, kita harus membayar biaya sebesar Rp 5000. Coba bandingkan dengan wisatawan asing yang harus membayar sebesar Rp 150.000, tiga puluh kali lipatnya. Wow. Harga yang cukup mahal menurut saya untuk atraksi alam seperti Danau Kelimutu. Bagaimana menurut kalian?

Biaya masuk Taman Nasional Kelimutu.
Oh iya, Danau Kelimutu ini masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Kelimutu yang merupakan Taman Nasional yang paling kecil diantara enam Taman Nasional di Bali dan Nusa Tenggara.

Ketika kami akan mendaki, tiada pemandu yang tersedia untuk menemani. Karena kami sudah menyiapkan peralatan kami sendiri seperti headlamp, kami berangkat sendiri saja. Jalurnya sudah terlihat jelas kok.

Jalur ke puncaknya sekitar 2 kilometer dari parkiran Taman Nasional dan butuh waktu 30 menit berjalan kaki untuk menuju ke sana. Sepanjang jalan kami bergurau dan tahu-tahu tidak terasa sampai di perhentian terakhir. Tempat dimana kami akan menunggu sang surya bangkit dari peraduannya.


Bertemu pasangan yang lagi prewedding di Danau Kelimutu. Mereka bahkan memakai pakaian adat NTT
Sambil menunggu, kita bisa menyesap kopi dan teh hangat. Banyak yang jualan kok. Tapi sebaiknya kita sudah mempersiapkan minimal satu botol air mineral 600 ml untuk di perjalanan.

Kami diselimuti harap-harap cemas, apakah pagi itu kami bisa melihat matahari terbit karena langit sedikit mendung. Semuanya sibuk dengan kamera masing-masing, siap untuk mengabadikan momen matahari terbitnya.

Oh iya, masyarakat lokal di Kelimutu hampir tidak ada yang memakai jaket padahal suhu begitu rendah. Mereka hanya mengenakan sarung “Lawo”, sarung tenun khas Ende. Karena penasaran, kami juga ingin memakai sarung ini. Eh ternyata benar, sarung “Lawo” lebih hangat dari jaket yang kami pakai. Ukuran sarungnya lebih panjang dari sarung biasa karena bisa menutupi hingga kepala. Serba guna karena bisa menjadi jaket dan kantong tidur (sleeping bag) sekaligus. Hehehe…

Ngomong-ngomong, kalian sudah tahu cerita rakyat terbentuknya Danau Kelimutu belum? Kalau belum, ceritanya bisa kalian baca di sini ya.

Di Danau Kelimutu ini terdapat tiga kawah yang warnanya bisa berubah sewaktu-waktu. Ketika berkunjung kesana, warna yang saya lihat adalah putih, hijau toska dan hijau kehitaman. Jika kita datang beberapa bulan kemudian, warna danaunya bisa saja sudah berubah menjadi biru, merah atau hitam.

Ada pula yang bercerita bahwa jika Danau Kelimutu berubah warna menjadi warna merah, berarti Negara kita, Indonesia sedang dalam masalah. Namun jika warnanya biru, artinya Negara kita aman-aman saja.

Secara ilmiah, penjelasan tentang mengapa Danau Kelimutu ini bisa berubah-ubah warnanya adalah pengaruh batuan, kandungan mineral, lumut di dalam kawah dan cahaya matahari. Para ilmuwan percaya bahwa Danau ini terbentuk karena letusan gunung vulkanik pada zaman purba. Danau Kelimutu menarik perhatian banyak ilmuwan dan ahli geologi dari seluruh dunia yang mencari tahu bagaimana letusan dari gunung yang sama bisa menghasilkan tiga danau dengan warna yang berbeda.

Danau yang paling pertama kita jumpai di jalur adalah Tiwu Ata Polo, kawah yang diyakini sebagai tempat roh-roh jahat bersemayam. Yang kedua adalah Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, kawah yang diyakini sebagai tempat roh muda-mudi bersemayam. Yang terakhir adalah Tiwu Ata Mbupu, kawah yang diyakini sebagai tempat roh leluhur bersemayam.

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai

Tiwu Ata Polo

Tiwu Ata Mbupu
Orang Ende Lio memang mempercayai Danau Kelimutu sebagai tempat peristhirahatan orang-orang yang sudah pergi. Setiap tahunnya, mereka mengadakan ritual adat yang dikenal dengan nama Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata. Ritual ini dimaksudkan untuk mengucap syukur untuk seluruh yang sudah dilewati selama satu tahun kemarin dan memohon berkat untuk tahun yang akan datang.

Jika kita berjalan mengarah ke Puncak, cobalah lihat ke bagian kiri. Kalian akan mendapatkan satu lahan terbuka dimana ada susunan batu di tengah-tengahnya. Disanalah ritual Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata dilangsungkan. Kalian pernah dengar Festival Kelimutu? Festival Kelimutu biasanya diadakan pada bulan Agustus setiap tahunnya. Jika kalian ingin melihat ritual tersebut, silahkan datang ke festivalnya ya.


Tempat "memberi makan" leluhur
Kopi dan teh di gelas kami sudah dingin namun sang surya tak kunjung menampakkan diri. Kulirik jam di tangan, sudah menunjukkan pukul enam lewat. Yah, nggak dapat sunrise deh, pikirku dalam hati.

Namun, sekonyong-konyong cahaya berwarna keemasan menyinari wajah. Ah, mataharinya muncul juga. Rasa dingin yang menempel di kulit sirna tergantikan dengan rasa hangat yang menyapa.

Selamat pagi Kelimutu!





Waktu yang terbaik untuk mengunjungi Kelimutu adalah di pagi hari. Usahakan berangkat jam 03.30 agar bisa tiba di puncak dan melihat matahari terbit. Biasanya, sekitar pukul 07.00 – 09.00, kabut akan turun dan kita akan kesulitan melihat Danau Kelimutu dengan jelas. Namun, di atas jam tersebut biasanya kabut sudah hilang.

Ah ya! Di Danau Kelimutu juga masih terdapat banyak kera yang berkeliaran bebas. Mereka tidak akan mengganggu kita jika kita tidak mengganggu mereka.



Selain menikmati kopi dan teh hangat, teman-teman juga bisa mencoba penganan ringan yang dijajakan oleh masyarakat lokal di sekitar tugu pandang. Salah satu yang saya temui adalah Bang John dan istrinya. Mereka sudah berdagang selama 9 tahun, setiap hari (jika tidak hujan). Jika kalian bertemu dengan mereka, sampaikan salamku pada mereka ya.



Sampaikan juga salam rinduku pada “Tiwu Telu Mera Meta Bara, Sare Iwa Sama”, satu-satunya danau yang memiliki tiga warna, Danau Kelimutu.



Tips dan Cara Menuju  Danau Kelimutu :
1. Pilihan pertama adalah menginap di Ende lalu berkendara ke Moni sekitar 3 jam. Jika ingin mengejar matahari terbit, berarti kalian harus berangkat dari Ende sekitar jam 1 pagi.

2. Pilihan kedua adalah menginap di Moni. Terdapat banyak homestay, eco-lodge dan guest house dengan harga mulai Rp 150.000,-. Dari Moni kalian bisa menyewa motor atau mobil untuk naik ke Kelimutu. Tentu saja pilihan ini lebih enak dibandingkan pilihan yang pertama. Lumayan kan menghemat waktu di jalan.

3. Untuk menuju Moni dari Ende, kalian bisa naik Oto Kol, transportasi umum yang bentuknya truk namun diberi kursi. Jika kalian ingin menghemat waktu, ya silahkan menyewa kendaraan pribadi.

4. Jangan lupa memakai pakaian yang hangat untuk mendaki. Pakailah sepatu yang nyaman Bawa persediaan air mineral dan headlamp atau senter.

5. Berlaku sopan selama pendakian dan tidak mengambil apapun selain foto, meninggalkan apapun selain jejak.


Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Saya dan teman-teman media serta blogger akan mengeksplor beberapa tempat wisata di Ende. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaEnde



Saturday, June 20, 2015

Danau Kelimutu dan Cerita Rakyatnya

Saturday, June 20, 2015 1 Comments
Danau Kelimutu. Kawah yang berwarna putih bernama "Nuwa Muri KoO Fai", tempat roh baik dan masih muda bersemayam.
Pernahkah terbayangkan kalian akan mendatangi tempat yang dulunya hanya kalian lihat di uang kertas dan akhirnya pemandangan itu benar adanya, terpampang jelas di depan mata?

Uang kertas lima ribu rupiah adalah uang kertas yang sewaktu kecil membuat saya penasaran (sudah beda ya dengan uang lembar lima ribu yang sekarang). Memangnya benar ya ada danau yang memiliki tiga warna dan bisa berubah-ubah warnanya?



Saya yang waktu itu masih kecil dan suka membaca buku dongeng, percaya bahwa pasti ada penyihir di Danau Kelimutu (iya, penyihir). Bagaimana bisa dia mengubah warna danau kalau dia tidak punya kekuatan ajaib?

Yah namanya juga anak kecil ya…

Akhirnya tahun ini saya bisa pergi ke Danau Kelimutu dan melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri. Waktu itu warnanya ada tiga, putih, hijau toska dan hijau kehitaman. Dalam beberapa bulan ke depan warna masing-masing danau itu bisa berubah menjadi merah, biru, hijau, putih, hitam.

"Mbupu Ata Lae" tempat para leluhur bersemayam
"Atapolo" tempat roh jahat bersemayam


Ketika saya sedang membaca postingan tentang asal usul terbentuknya Danau Kelimutu, saya membaca cerita rakyat terbentuknya Danau Kelimutu bersumber dari blog ini

Cerita Rakyat Ende Lio:

Dikisahkan, pada jaman dahulu kala, di puncak gunung Kelimutu yang disebut Bhua Ria (hutan lebat yang selalu berawan), bermukim Konde Ratu bersama rakyatnya. Di kalangan rakyat kala itu, terdapat dua tokoh yang sangat disegani, yaitu Ata Polo si tukang sihir jahat dan kejam yang suka memangsa manusia, dan Ata Bupu yang dihormati karena sifatnya yang berbelas kasih serta memiliki penangkal sihir Ata Polo. 

Walaupun memiliki kekuatan gaib yang tinggi dan disegani masyarakat, keduanya berteman baik serta tunduk dan hormat kepada Konde Ratu. Ata Bupu dikenal sebagai petani yang memiliki ladang kecil di pinggir Bhua Ria, sedangkan Ata Polo lebih suka berburu mangsa berupa manusia di seluruh jagat raya.

Pada masa itu, kehidupan di Bhua Ria berlangsung tenang dan tenteram, sampai kedatangan sepasang Ana Kalo (anak yatim piatu) yang meminta perlindungan Ata Bupu karena ditinggal kedua orang tuanya ke alam baka. Karena sifatnya yang berbelas kasih, permintaan kedua anak yatim piatu tersebut dikabulkan oleh Ata Bupu namun dengan satu syarat, yaitu mereka harus menuruti nasehatnya untuk tidak meninggalkan areal ladangnya agar tidak dijumpai dan dimangsa oleh Ata Polo.

Pada suatu hari, Ata Polo datang menjenguk Ata Bupu di ladangnya. Setibanya di ladang Ata Bupu, Ata Polo mencium bau menusuk (bau mangsa) dalam pondok Ata Bupu. Segera meleleh air liur Ata Polo yang kemudian hendak mencari mangsanya di dalam pondok tersebut. Niat jahat Ata Polo tersebut diketahui oleh Ata Bupu yang segera menahan langkah Ata Polo sambil menyarankan kepadanya untuk datang kembali kelak setelah anak-anak tersebut sudah dewasa, karena saat ini mereka masih anak-anak, lagi pula dagingnya tentu tidak sedap untuk disantap.

Saran ini diterima oleh Ata Polo, yang kemudian pergi meninggalkan Ata Bupu yang sedang kebingungan memikirkan cara terbaik menyelamatkan dua anak manusia tadi.

Ancaman Ata Polo tadi begitu menakutkan bagi kedua anak manusia tersebut, sehingga ketika mereka mulai beranjak remaja atau menjadi Ko’ofai (gadis muda) dan Nuwa Muri (pemuda), mereka memohon izin pada Ata Bupu untuk mencari tempat persembunyian di gua-gua yang ada di luar ladang Ata Bupu.

Mereka akhirnya berhasil menemukan sebuah gua yang terlindung tumbuhan rotan dan akar beringin.

Ketika tiba saatnya, sesuai waktu yang telah disepakati, Ata Polo mendatangi pondok Ata Bupu untuk menagih janji. Namun karena ketika tiba di pondok Ata Bupu, dilihatnya kedua anak tersebut tidak berada di tempat, maka Ata Polo pun marah dan menyerang Ata Bupu dengan ganasnya. Menanggapi serangan Ata Polo yang tidak main-main, Ata Bupu segera membalas serangan itu dengan ilmu andalannya “magi puti” untuk menangkal “magi hitam” Ata Polo. 

Pada awalnya perkelahian keduanya berjalan seimbang karena keduanya memiliki ilmu yang tinggi dan setingkat. Namun, lama kelamaan tenaga Ata Bupu yang sudah tua kian melemah, sementara gempuran semburan api Ata Polo semakin gencar dan menjadi-jadi. Ata Bupu hanya bisa mengelak dengan gempa bumi. Akibatnya timbul gempa bumi dan kebakaran besar hingga kaki gunung Kelimutu. Ketika merasa tak mampu lagi menandingi kekuatan Ata Polo, Ata Bupu memutuskan untuk raib ke perut bumi. Akibatnya Ata Polo menjadi semakin murka dan menggila.

Ketika mencim bau dua remaja yang tengah bersembunyi di dalam gua, Ata Polo pun bertambah beringas. Namun takdir akhirnya menentukan bahwa Ata Polo harus tewas di telan bumi karena sepak terjangnya yang kelewatan. Kedua remaja yang tengah bersembunyi juga turut menjadi korban. Gua tempat persembunyian Ko’ofai dan Nuwa Muri runtuh akibat gempa dan menguburkan keduanya hidup-hidup.

Beberapa saat setelah kejadian itu, ditempat Ata Bupu raib ke perut bumi, timbul danau berwarna biru. Di tempat Ata Polo tewas ditelan bumi terbentuk danau yang warna airnya merah darah yang selalu bergolak. Sedangkan di tempat persembunyian Ko’ofai dan Nuwa Muri, terbentuk sebuah danau dengan warna air hijau tenang.

Ketiga danau berwarna tersebut, masing-masing oleh masyarakat setempat diberi nama sesuai dengan sejarah terbentuknya tadi, yaitu Tiwu Ata Polo (dipercayai sebagai danau tempat berkumpulnya arwah-arwah para tukan tenung atau orang jahat yang meninggal), Tiwu Nuwa Muri Ko’ofai (dipercayai sebagai danau tempat berkumpulnya arwah muda mudi yang meninggal), dan Tiwu Ata Mbupu (dipercayai sebagai danau tempat berkumpulnya arwah-arwah para tetua yang sudah meninggal).

Hingga kini, penduduk sekitar gunung Kelimutu percaya bahwa mereka dapat melakukan kontak dengan arwah orang tua atau leluhur mereka dengan memanggil nama orang tua atau leluhurnya sebanyak tiga kali di depan Tiwu Ata Mbupu.
Menurut kepercayaan, setelah pemanggilan dilakukan, biasanya arwah orang tuanya atau leluhur akan datang dan memberikan petunjuk melalui mimpi. Kontak dengan orang tua/leluhur tersebut biasa dilakukan untuk mendapatkan petunjuk apabila terjadi musibah, seperti kehilangan barang atau ternak.

Seru ya membaca cerita rakyatnya? Lalu bagaimana dengan cerita pendakiannya? Dibaca di blog post yang berikutnya ya ;)

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Saya dan teman-teman media serta blogger akan mengeksplor beberapa tempat wisata di Ende. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaEnde

Meriahnya Parade Kebangsaan di Ende

Saturday, June 20, 2015 2 Comments

“Pancasila Rumah Kita, Dari Ende Untuk Indonesia”

Sepenggal kalimat itulah yang menjadi tema perayaan Hari Lahirnya Pancasila ke-70 di Kota Ende, Flores, 1 Juni kemarin.

Bersama-sama dengan seluruh masyarakat Ende, kami berkumpul di Pantai Pelabuhan Ende untuk menyambut parade laut. Kapal-kapal kayu penuh sesak dengan orang, dhiasi bendera warna-warni sambil memperdengarkan lagu-lagu kebangsaan lewat pengeras suara kapal. Riuh, meriah sekali.



Tanggal 1 Juni 2015 memang menjadi hari yang spesial di Kota Ende. Pemerintah Kabupaten menggelar festival parade kebangsaan dimana seluruh masyarakat, tua dan muda turut serta. Bapak Menteri Pariwisata, Ir Arief Yahya datang khusus ke Ende menghadiri perayaan ini.



“Kita senang sekali Bapak Menteri mau mengunjungi Ende, kota kami yang kecil ini”, ujar Mama Maria yang saya temui di Pelabuhan Pantai Ende.

“Semoga Ende jadi terkenal dan banyak orang yang mau datang berwisata ke Ende”, lanjutnya lagi.
Dalam parade kebangsaan ini, ada dua jenis parade yaitu parade laut dan parade darat. Seluruh kecamatan di Kabupaten Ende berpartisipasi. Untuk parade laut, masyarakat berlayar dengan kapal-kapal nelayan yang lalu disambut oleh masyarakat di tepi pantai. Setelah mereka tiba, barulah prosesi parade darat dimulai.


Seluruh peserta parade darat mengenakan pakaian adat. Anak-anak juga ikut serta dan bahkan mengenakan pakaian adat selain daerah Nusa Tenggara Timur. Ya memang pas dengan peringatan Hari Kelahiran Pancasila. Senang sekali menonton parade kebangsaan yang sarat nilai kerukunan hidup berbudaya dan beragama di Indonesia.

Diiringi oleh kelompok pemusik daerah ‘Rendo Ate’, beberapa perempuan berbaju merah menari dengan kain tenun khas Ende. Kain bawahannya disebut “Lawo” dan kain atasnya disebut “Lambo”. Mereka menari mengikuti irama gendang dan suling, sambil membawa Garuda Pancasila. Garuda ini diserahkan oleh perwakilan masyarakat Ende kepada Bapak Menteri Pariwisata. Setelah menyerahkan Garuda sebagai tanda simbolis, Pak Menteri Arief Yahya juga memberikan hadiah untuk pemenang kontes mirip dengan Bung Karno.



Saat itu Pak Menteri didampingi oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya, Bupati Ende, Marselinus Y.W Petu beserta para petinggi daerah di NTT. Acara simbolik ini tak berlangsung lama. Iring-iringan Bapak Menteri beserta jajaran serta petinggi daerah NTT berkeliling kota bersama seluruh peserta parade darat. Seru banget!



Rencananya, parade ini akan selalu diadakan saat peringatan Hari Kelahiran Pancasila setiap tahunnya. Saya sarankan jika teman-teman ingin berkunjung ke Ende, silahkan datang saat tanggal 1 Juni agar dapat turut serta menyaksikan parade kebangsaan ini.



 Sekilas foto-foto dari Parade Kebangsaan, Hari Kelahiran Pancasila di Ende kemarin ;)






Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Saya dan teman-teman media serta blogger akan mengeksplor beberapa tempat wisata di Ende. Silahkan juga cek foto-fotonya di Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaEnde

Follow Us @satyawinnie